Ada Rambut di Makanan

Aku tuh geli banget sama rambut. Adalah hal yang menggelikan buatku untuk memakai sisir orang lain. Meski aku sisiran kayak sebulan sekali, sih. Serius. Mungkin pengaruh dari mama juga yang orangnya gelian sama rambut. Jijik kalau lihat sisir orang lain, atau rambut jatuh di lantai kamar mandi tapi ngga dibersihin? Ngomel-ngomel. 😂

Berapa tahun lalu ya, aku makan di restoran di Grand Indonesia yang aku lupa namanya. Kalau ngga salah Publik Markette, tapi mungkin bukan di situ. Waktu itu aku makan sama mama dan adikku. Aku pesan sepiring pasta yang aku lupa apa judul makanannya. Maaf lupa mulu, anaknya pelupa. Kayaknya semacam tipe aglio olio dan ada toppingnya sosis. Kalau makan pasta aku lebih suka yang tomato based atau pesto alla genovese tapi kok waktu itu lagi mood makan yang simpel semacam aglio olio. Aku juga ngga suka sosis kok waktu itu pesen itu ya. 😂

Di menu ada tanda cabenya yang berarti masakan pasta yang aku pesan bakal pedas. Kalau kamu ngga kenal aku (sok banget gue ngomong kayak gini), aku tuh ngga bisa makan pedas. Aku ngga pernah makan gorengan pakai cabai, aku ngga pernah makan nasi pakai sambal yang diulek. Tapi pas lihat tanda cabai di tulisan pasta yang ingin aku pesan, aku kayak, ya udah lah ya, kayaknya aku bisa handle pedasnya pasta. Kayak bakal sepedas apa sih.

Sialan, ternyata pedes banget. 😂 Mau makan rasanya butuh energi lebih banyak ketimbang dapat energi dari makanannya. Mamaku udah kayak, "Kalau ngga kuat ya udah ngga usah diterusin." Tapi kan mubazir ya makanan ngga diabisin, at least coba lagi buat ngga terlalu banyak menyisakan. Sampai akhirnya aku melihat sehelai rambut di piringku.

Ngga yang kesel apa gimana sih, ya menurutku menjijikkan tapi cuma kayak, wih ada rambut. Toh selera makanku sudah hilang dari awal karena ngga kuat pedasnya. Bisa juga itu rambutku meskipun aku menaksir kemungkinannya kecil itu rambutku karena rambutnya lurus. Trus stafnya, entah manager atau kalau waiter tuh kayak kepalanya gitu lah, ngeh dong kita ngomongin rambut. Trus kayak nyamperin dan tanya ada apa. Aku bilang saja kalau di piring ada rambut. Tanpa basa-basi, masnya langsung bilang, "Maaf sekali. Kami ganti yang baru, ya."

Aku langsung terpana sih, wow servisnya bagus sekali. Tapi kalau diganti, aku juga ngga kuat makannya. 😂 Akhirnya, kayaknya aku bilang ngga usah ganti. Eh, apa akhirnya diganti ya? Kok aku lupa sih. 😂 Yang aku inget servisnya doang sih top. Makanya aku mention tempatnya kok ngga yakin, kayaknya Publik Markette bener sih. 😂

Sampai akhirnya aku sekarang tinggal sendiri dan mulai rajin masak. 

Dan aku sering menemukan rambutku di makanan. 😅

Rambutku tuh hampir sepinggang, kalau direbonding sih, dan yang aku temukan rambut-rambut pendek sekali kayak dua tiga sentimeter. Masalah rambutku saat ini sih sering patah, makanya sering rambut pendek berjatuhan. Apa jangan-jangan itu adalah rambut ketekku? 

Geli, makanya aku kalau masak sekarang selalu mengikat rambut, itu pun sekali dua kali masih menemukan. Tapi kok kayaknya bisa memaafkan kalau masakan sendiri ya.

Pernah aku jajan bakpao di Lawson, pas bungkus bakpaonya aku buka ada rambutnya dong jeng jeng jeng! Tapi aku kayak, ya udah lah ya. 😂 Jorok tapi, alah kayak mbaknya ngambil di tempat bakpaonya cuci tangan dulu aja? Emang tangan dia bersih? Paling ngga juga. Rambut doang? Ya udah lah ya. 😂

1 komentar:

  1. Aku juga geli kalau lihat rambut di makanan. Tapi biasanya tetep makan atau gak jadi makan seh. Tergantung mood

    BalasHapus

Feel free to comment, criticize, and give suggestion ya!