Ngga Empati

Aku tuh tadinya kerja shift tengah malam di konbini (istilah minimarket di Jepang). Dari pukul 10 malam hingga enam pagi. Kemudian owner konbiniku memutuskan untuk menutup konbini pukul 12 malam, dan buka pukul lima pagi. Jadinya tidak 24 jam buka seperti sebelumnya. Jadilah kemudian shift-ku berubah menjadi shift sore dari pukul lima sore hingga sepuluh malam.

Awalnya, meski tutup pukul 12 malam, tetap ada satu orang yang standby di konbini untuk menerima barang dan menaruhnya di rak. Kadang-kadang aku masuk shift tengah malam kalau ada yang tidak bisa masuk. Serem lah sendirian di toko πŸ˜‚ Mana suara kulkas bunyi banget lagi, takut kalau hantu yang gerakin πŸ˜‚ Senengnya sih bebas makan makanan kadaluarsa (lebih tepatnya lewat dari 'best before'), udah kayak party sendiri πŸ˜„

Hampir semua jenis barang konbini datang di shift malam. Ada yang kami sebut 'daily', yaitu makanan yang datang selalu tiap hari, bahkan sehari tiga kali, seperti roti, onigiri, salad, sandwich, pasta, dan lain-lain. Kemudian ada 'hi-daily', yang artinya 'bukan daily', yaitu makanan seperti cookies, snack, permen, mi instan, energy drink, barang rumah tangga, dan barang keperluan toko seperti cup kopi, sendok, sumpit, dan masih banyak lainnya. Ada juga 'dorinku' alias 'drink' yang mana adalah berkarton-karton minuman dari air mineral, ocha, hingga wine dan bir. Selain itu ada 'chilled', ya pokoknya yang harus diletakkan di temperatur rendah, seperti yogurt, minuman berbasis susu, ocha dalam karton, dan lain-lain. Onigiri, pasta, salad, sweets juga termasuk chilled. Ada juga 'ice', dari es krim, makanan beku yang dijual, dan makanan beku untuk jualan gorengan di toko. Belum lagi ada buku dan majalah. Ditambah lagi ada paket internet shopping customer yang harus dicek. Buanyakkk kerjaannya! 😏 Belum harus menyapu,  mengepel, membuang sampah, dan membersihkan toilet. 😭

Lo kira kerjaan gue cuma jadi kasir? πŸ˜” Ngga ada yang ngira deng. Ngga ada yang peduli juga. πŸ˜’ Suka kasian sama mas mbak Indomaret yang gajinya ngga seberapa. Jangan jutek-jutek sama mereka ya. Sama semua orang sih. 😏

Perfeksionis

Kalau kupikir-pikir, aku tuh kadang suka sok perfeksionis dalam hal tertentu. 

Kayak waktu SMA, aku tuh punya keinginan buat punya nilai di atas 85 di masing-masing pelajaran. Aku bikin tabel tanpa penggaris di halaman buku tulisku dan mendaftar nama pelajaran yang kalau nggak salah lebih dari 12. Aku tulis angka 85 di sebelah nama mata pelajaran, sepertinya kecuali seni rupa dan olahraga. Karena aku ngga suka olahraga dan seni rupa. πŸ˜‹ Asal tahu saja, aku ngga pernah kayak gini, bikin goal, semacamnya, sebelumnya.

Eh, benar saja nilaiku bagus-bagus. Meski nggak ada sistem ranking, suatu hari guruku memberitahuku kalau nilaiku paling bagus satu angkatan. Aku kaget lah, karena dari SD aku nggak pernah ranking satu. πŸ˜„ Sering 10 besar tapi nggak pernah di atas-atas. Nggak sombong atau gimana, tapi aku nggak pernah belajar di rumah, sambil duduk di meja belajar kayak di film-film. Tapi bukan berarti aku nggak berusaha buat mendapatkan nilai bagus. Yang aku lakukan waktu itu adalah membaca ulang dengan teliti setiap ulangan yang telah dikerjakan. Karena biasanya salah mengerjakan soal tuh bukan karena nggak bisa tapi nggak teliti.

Seperti juga saat guru Bahasa Jepang tiba-tiba punya wacana untuk memberikan tugas pidato dalam Bahasa Jepang. Aku bela-belain pergi ke ITC Kuningan untuk membeli DVD bajakan (maaf dulu masih nggak ngerti kalau bajakan itu haram, hahaha dan belum jaman streaming di internet) film dan drama Jepang yang padahal sebelumnya aku bukan penggemar film dan drama Jepang. Aku cuma ingin belajar bagaimana logat orang Jepang berbicara. Saking aku mau kalau benar disuruh pidato, logatku terdengar bagus. πŸ˜‚ Meskipun akhirnya tidak ada tugas pidato sih.

Sama seperti dalam hal menulis blog (tadinya). Awal mula aktif di blog, aku ingin aku menulis hal ringan tapi ada isinya dan asik dibaca. Aku mau banyak yang datang ke blogku. Ini pikiranku sembilan tahun lalu ya, bukan sekarang. πŸ˜‚  Lama-lama aku tidak terlalu aktif lagi menulis. Ditambah aku sempat tinggal di area yang tidak ada internetnya saat working holiday di Australia. Sekarang pun kadang-kadang kalau menulis blog trus kok kayaknya tulisannya nggak enak dibaca ya, langsung hapus semua dan tutup dasbor. Akhirnya nggak jadi nulis. 

Ceritanya aku bikin blog baru sembilan tahun setelah aku beli domain blog sittirasuna.com. Aku beli domain blog baru akhir bulan lalu dan sudah kuiisi postingan sejak awal November. Untuk aturan tampilan, aku dibantu oleh seorang teman. Hampir sekitar setelah dua minggu baru aku mengisi postingan di sana. Karena aku kebanyakan berpikir bagaimana menulis yang enak dibaca, dan blogku kali ini sama juga seperti blog ini berupa cerita-cerita remehku hanya saja temanya makanan. πŸ˜„ Aku kebanyakan berpikir sampai-sampai nggak mulai-mulai nulis.

Sampai suatu hari aku mendengar TedXTalk di Youtube yang aku bahkan lupa intinya apa tapi ada satu kalimat yang diungkapkan si pembicara dan aku pun tersindir. Intinya, perfeksionis itu musuh dari action.

Aku langsung kesindir dan mulai menulis saat itu juga. πŸ˜‚ Bener juga kata beliau.

Aku teringat salah satu teman ibuku menasihatiku untuk tetap nulis. Aku bilang kalau aku bisanya hanya menulis diari saja. Tapi kata dia, ya nggak apa-apa yang penting tetap menulis. Ingat itu, aku jadi semangat lagi.

Kadang, lucu saja karena aku sering menulis cerita-cerita sehari-hari di sini. Dan aku tuh orangnya pelupa banget, jadi suka buka baca cerita dulu, yang pas baca, aku bahkan nggak inget kalau itu pernah kejadian. 😌

Mampir ya ke blogku yang satunya di snackqueen.id. Tampilannya masih berantakan tapi lumayan udah ada postingannya. πŸ˜„

Apakah Eek Bisa Menyublim?

Sedekat apakah kamu dengan saudara kandungmu?

Aku sih perasaan nggak akrab-akrab amat tapi adekku bahkan sampai PAP eeknya ke aku. πŸ˜“ Aku nggak marah sih cuma males aja ngapusin fotonya. Sudah gitu tadinya setting WhatsApp-ku foto yang diterima tuh otomatis tersimpan di memori hape, jadi harus menghapus foto di galeri, belum lagi yang di folder 'Recently Deleted'.

Pagi ini adekku menelepon saat aku sedang di toilet.

"Jangan PAP lho, Un..."

"Emang kamu mau tak kirimi?"

"Emangnya padat apa cair? Apa eekmu menyublim?"

Gara-gara adekku bertanya tentang bentuk keluaranku, aku langsung berpikir apakah memang mungkin makanan yang kita makan bisa menyublim kali ya. Soalnya, aku tuh bisa nggak buang air besar selama seminggu. Menjijikkan ya?

Aku sadar kalau aku bukan orang yang melakukan defekasi setiap hari. Makanya aku suka sirik sama orang yang lancar defekasinya, uh wow~ metabolismenya lancar sekali. Aku kok nggak lancar sih, makanya aku gendut kali ya? πŸ˜“ Meski nggak sehari sekali setidaknya dalam seminggu 3-4 kali sih. Cuma, aku perhatikan setelah aku mulai mengurangi makan drastis dan melakukan One Meal a Day ala ala sempat aku delapan hari nggak buang air besar.


Meskipun konstipasi, aku tidak merasa perutku bermasalah. Aku pun juga tidak ngedan keras. Makananku menurutku seimbang, aku makan serat yang cukup, dari kacang-kacangan dan sayur-sayuran. Buah jarang makan sih karena di Jepang buah mahal. πŸ˜‘ Aku coba makan laksatif natural seperti prune dan fig, juga tidak melancarkan ususku. Aku mengkonsumsi cairan pun bisa lebih dari dua liter sehari tapi tetap saja. Selain itu, meski aku tidak 'mengeluarkan', beratku bisa turun dua-tiga kilo dalam seminggu. 

Lalu makanan yang kumakan itu pergi ke mana?

Aku jadi merasa kotor deh membayangkan makanan yang seminggu lalu kumakan masih berjalan di ususku. Aku berharap benar sih makanan bisa menyublim 😌 Apalagi setelah aku membaca kalau hasil pembakaran kalori dan lemak dalam tubuh adalah karbondioksida dan air. Makanya, aku seneng banget deh kalau flatulensi (buang angin), aku merasa kalori dan lemakku keluar. Selain itu, aku jadi mencoba mengeluarkan nafas lebih banyak dari menarik nafas supaya karbondioksidaku keluar lebih banyak (ngarang aja).

Apa memang aku ditakdirkan metabolismenya lambat ya πŸ˜“

Terlihat Hepi

Di Jepang, aku punya teman cowok yang tadinya lumayan akrab dan kami berbicara tiap hari. Teman ini lebih muda dan aku anggap seperti little brother. Aku sering mengajaknya jalan-jalan, makan bareng, atau membelikan cemilan kesukaannya. Tapi lama kelamaan, aku capek dan mulai mengurangi komunikasi dengan temanku ini. Alasannya dia selalu mengeluh tentang hidupnya dan keluhannya selalu sama selama hampir setahun.

Keluhannya: selalu dicuekin cewek, susah dapet pacar, capek bekerja tengah malam, tidak punya uang, tidak bisa berbahasa Jepang, dan lain-lain. Setiap ketemu dan telepon selalu mengeluh tentang hal ini sampai akhirnya aku malas mendengarkan. Aku mulai menjaga jarak dan sekarang hanya mengobrol sekitar seminggu atau dua minggu sekali. Meskipun sudah jarang dia tetap mengeluh. Ia selalu menyelingi pembicaraannya dengan, "maaf ya, tiap mengobrol sama kamu aku selalu komplain." Ah, pret.

Beberapa hari lalu dia menelepon dan dia mengeluh kalau ia khawatir dengan hidupnya di Jepang. Dia selalu janjian dengan cewek tapi last minute ceweknya selalu membatalkan. Dia takut bertahan hidup di sini karena tidak bisa berbahasa Jepang. Dia juga sempat bilang, "Kalau aku kayak kamu lancar Bahasa Jepang mungkin aku nggak akan khawatir kayak gini. Kamu sepertinya menikmati hidup banget. Sudah bisa Bahasa Jepang, kamu punya uang bisa jalan-jalan, makan-makan mulu. Kayak nggak ada beban."

"Kamu kira aku tidak punya hal yang aku khawatirkan apa? Ya ada banyak, tapi masak nggak bisa hepi? Nggak bisa seneng-seneng?" 

Tadi-tadinya kalau dia mengeluh, aku selalu omelin. Tapi lama-lama capek karena diomelin nggak pengaruh, ya mending dicuekin aja. Ngapain buang-buang energi kan. πŸ˜„ Dalam hati, dikira sini lancar apa Bahasa Jepangnya? Seringnya aku nggak paham orang ngomong apa πŸ˜„ Dikira sini duitnya banyak apa? Aku kan nggak beli kaos seharga 18000 yen atau parfum 7000 yen. Temanku ini suka mengeluh nggak punya tabungan tapi kalau belanja barang brand mulu. πŸ˜’

Beberapa teman suka bilang kalau hidupku enak, beruntung, dan hepi terus. Yang padahal menurutku mereka lebih beruntung dari pada aku. πŸ˜‚ Tapi yang jelas aku bersyukur, hepi dan merasa beruntung, sih.

Aku jadi ingat ibuku suka cerita waktu kecil aku suka diajakin jalan kaki panas-panas dan aku tidak pernah mengeluh. Orang-orang yang melihat bahkan kasian dan bilang sama ibuku kalau kasian anaknya diajak jalan-jalan panas-panas, tapi kata ibuku, "Anaknya aja nggak apa-apa. Malah seneng." Di umurku yang segini, aku masih bekerja fisik, belum bisa menabung, hobinya cengenges-cengenges, sering menangis dan kurang sabar, dan ya aku hepi. Emang yang penting tuh bersyukur sih ya. πŸ˜„ Mau punya apapun kalau nggak bersyukur ya hidupnya nggak enak, nggak hepi.

Enak ya kamu Un...

Ho oh, enak! Ape loh πŸ˜‚

Cash is (still) the best (in Japan)

Urusan perbankan dan perduitan, menurutku Jepang cukup tertinggal dibanding negara maju lainnya. Kalau di Cina, bahkan kamu dengan mudah bayar pakai QR code di pasar tradisional atau seperti di Australia, mau di toko di dekat gurun pun bisa bayar pakai debit card dengan one tap, di Jepang?

Hampir semua ATM tidak 24 jam, kalau pun 24 jam ada biaya yang tidak murah untuk mengambil uang tunai. Misalnya nih, aku punya akun bank di bank kantor pos Jepang (JP Bank). Kalau aku menarik tunai di ATM JP Bank ya tidak dikenakan biaya apa-apa. ATM JP Bank ada di seluruh kantor pos yang ada di Jepang. Kalau kantor posnya kecil, ATM hanya buka Senin-Jumat sekitar pukul 09.00-17.00 dan Sabtu hanya sampai pukul 12.30. Ini di kantor pos kecil sekitar rumahku ya, mungkin bisa beda di prefektur lain. Kalau hari Minggu butuh uang tunai tapi nggak mau kena biaya ya harus pergi ke kantor pos besar, yang alhamdulillah tidak jauh dari rumah. Opsi lain pergi ke ATM JP Bank yang terinstal di beberapa Family Mart.

ATM di kantor pos utama di Kyoto City pun tidak 24 jam, melainkan buka dari 00:05 - 23:55, jadi dalam sehari tutup 10 menit. Internet banking pun punya jam akses yang sama. Awalnya aku pikir ah becanda kali ya, tahunya beneran πŸ˜‚ Sempat aku mau transfer ke toko Indonesia jam 12 malam, eh benar tidak bisa akses webnya dan harus menunggu sampai pukul 00:05. 

ATM di convenience store semua 24 jam, tapi ada biaya transaksi. Biayanya pun tergantung waktu kita melakukan transaksi. Misalnya, aku pakai kartu ATM JP Bank mau menarik tunai di ATM Seven Bank di Seven Eleven. Kalau aku tarik tunai saat hari kerja dan kerja (09.00-17.00), biaya yang dikenakan sebesar 110 yen atau sekitar 14000 rupiah. Kalau aku ambil uang di jam delapan malam atau hari minggu, biaya yang dikenakan dua kali lipatnya 220 yen atau sekitar 28000 rupiah. Kalau cuma mau ambil 1000 yen trus biayanya 220 yen kan gimana ya πŸ˜“ Beberapa teman sih nggak terlalu peduli soal biaya yang 'cuma' 110 atau 220 yen ini, tapi bagi aku yang belum kaya kok rasanya berat ya.

Sudah gitu, kartu ATM bank di Jepang biasanya hanya bisa digunakan buat tarik tunai saja (atau transaksi lain di ATM). Bukan kartu debit yang bisa dipakai belanja. Jadi kalau mau bikin Visa atau Mastercard Debit Card, harus apply lagi kartu lain. πŸ˜– Bisa tarik tunai pakai kartu debit itu, tapi dikenakan biaya juga meski digunakan di ATM bank yang sama. Au ah lap, capek.

Baru belakangan ini di Jepang mulai digalakkan penggunaan cashless payment. Kalau e-money atau kartu kredit dari dulu sudah digunakan, tapi setahun dua tahun belakangan mulai muncul banyak QR code/barcode cashless payment. Sebut saja Paypay, Line Pay, AU pay, FamiPay, banyak lah. Untuk mengajak orang menggunakan pembayaran non-tunai, pemerintah Jepang banyak melakukan promosi kayak dari Oktober 2019 sampai Juni 2020 kalau bayar non-tunai bisa dapat cashback 2%. Sekarang pun kalau menghubungkan kartu My Number (semacam KTP) dan salah satu pembayaran non-tunai yang digunakan bisa dapat cashback 25% maksimal 5000 yen. 

Cashless payment memang bisa dibilang telat di Jepang, tapi apakah itu hal yang buruk? Nggak tahu, mungkin pembayaran pakai uang tunai lebih baik. Data kita belanja apa ngga tercatat di sistem, hidup kita nggak terlalu 'dikontrol' sama pemerintah atau siapa kek yang mau memakai data kita. Contohnya saja ya, aku pakai e-money bernama ICOCA yang diterbitkan oleh perusahaan kereta, JR West Japan. Di mesin pembelian tiket, dengan ICOCA aku bisa lihat history aku pergi dari stasiun mana dan turun di stasiun mana saja. Kadang-kadang aku lihat nama stasiun yang sampai aku lupa kalau aku pernah ke sana. Ini baru data stasiun yang pernah diinjak, bagaimana kalau pakai cashless payment yang terhubung ke kartu kredit atau akun bank kita misalnya, trus terhubung lagi ke kartu My Number. Seperti di dunia ini sudah tidak ada privasi~ yang benar-benar privasi.

Anyway, aku sempat mencoba Paypay dan menurutku sangat praktis. Untuk men-charge Paypay, aku tinggal menghubungkan akun Paypay-ku dan akun bankku, dan aku bisa charge Paypay dalam hitungan detik di telepon pintarku (yang kelewat pintar makanya aku takut dan sekarang aku mencoba mengurangi penggunaannya). Aku sempat berpikir, uh wow~ urusan pembayaran di Jepang tidak pernah semudah ini. Apalagi Paypay ini bisa digunakan di hampir semua tempat. Tapi beberapa waktu lalu, layanan charge Paypay dengan akun bank yang kupakai tidak tersedia lagi. πŸ˜“ Sepertinya alasan security karena mudah banget charge-nya tinggal sekali klik langsung didebit dari akun bank. Sekarang aku tidak lagi menggunakan Paypay.

Kemarin aku usai membeli blender. Ketika aku mau membayar dengan kartu debit, ditolak dong. Setelah aku cek e-mail ternyata karena melewati limit. Jadi tuh, supaya irit, aku mengatur limit penggunakan kartuku dalam sekali penggunaan maksimal 10000 yen dan harga blendernya 10747 yen. Enaknya kartu debit yang aku gunakan ini, aku bisa mengatur limit-nya via aplikasi atau web. Saat itu aku buka aplikasinya dan 'tidak bisa terhubung dengan server'. Aku pun bingung dan bertanya-tanya kenapa ini harus terjadi di saat aku ingin membeli blender impianku. Aku segera mencari ATM dan tada~ ternyata aku tidak bawa kartu ATM -yang kok ya kemarinnya aku taruh di tempat lain yang padahal biasanya tidak pernah.

Aku memutuskan untuk pergi ke kantor pos besar untuk mengambil uang tunai dengan debit card-ku, ternyata tidak bisa dan slipnya mengatakan 'kartu tidak terafiliasi'. WHAT! Aku cek web ternyata webnya sedang di-suspend. Aku bertanya kepada staf bank bagaimana cara aku menaikkan limit debit card-ku karena aplikasi dan web tidak bisa diakses. Setelah menunggu lama, aku mendapat jawaban: harap telepon ke nomor ini untuk mengubah limit penggunaan. Aku bertanya kenapa aplikasi dan web tidak bisa diakses, kata stafnya karena terjadi banyak penipuan dan penyelewengan dan masalah keamanan sehingga sementara di-suspend.

Aku yang malas menelepon call center (karena biasanya tidak paham πŸ˜‚) memilih untuk pulang, mengambil kartu ATM dan membayar blender dengan uang tunai.

Tahun lalu juga ada kasus 7-Pay, cashless payment-nya Seven Eleven yang baru sehari rilis sudah ada kasus peretesan dan akhirnya layanannya dihentikan tak berapa lama kemudian. Kurang paham, yang katanya Jepang tuh nomor satu teknologinya tapi seperti tidak siap dengan cashless payment. Ah tapi ngga tahu lah, buat aku sekarang kayaknya cash emang masih yang terbaik.

One Meal A Day

Bulan Agustus lalu, aku mencoba melakukan OMAD, One Meal A Day, alias puasa ekstrim di mana aku hanya makan sekali sehari. Dalam 24 jam, hanya sekitar satu - satu setengah jam sehari di mana aku boleh makan. Sisa 23 jamnya ya tidak makan sama sekali. Meskipun tidak makan, aku tetap minum air putih, atau teh dan kopi tanpa gula.

Boong ding.

Yang aku lakukan nggak seekstrim itu sih, tapi aku memang hanya makan besar sekali, biasanya sekitar pukul 2-3 siang. Sebisa mungkin minum air putih atau teh/kopi tanpa gula, tapi sesekali aku masih minum manis. Biasanya sih karena di minimarket ada produk minuman keluaran baru, trus aku nggak bisa tahan nafsu untuk nggak beli. Masih ngemil juga tapi... benar-benar berkurang drastis. Misal aku beli sebungkus ciki atau cokelat, yang kalau biasanya setelah aku buka akan kuhabiskan saat itu juga, akan kuhabiskan dalam waktu tiga hari. Kukaretin gitu biasanya. Olahraga sih tidak selalu, hanya sesekali zumba, tapi bulan itu aku hampir tiap hari jalan kaki minimal 10000 langkah.

Ceritanya, aku sampai beli skipping karena katanya cepat untuk menguruskan badan. Ah, tapi baru 20 kali lompat sudah capek 😜 Trus kata sepupuku yang juga sedang menguruskan badan katanya lompat-lompat, skipping, lari, berbahaya untuk orang gendut 😜 Jadilah tali skipping 13 ribuku (100 yen) hanya digunakan satu kali. Kayaknya udah kubuang juga deh πŸ˜„

Hasilnya, aku turun tujuh kilogram dalam waktu empat minggu. Oya, asal tahu saja, berat badanku itu 20 kilogram lebih dari berat badan ideal, jadi mungkin cukup mudah turun berat badannya dalam waktu singkat.

Sayang sekali, sekitar akhir bulan Agustus aku mendapat teman baru yang selalu mengajakku makan di luar tengah malam πŸ˜‚ Selama bulan September aku jajan di luar tiada henti. Rasanya tuh apa-apa pengen dimakan πŸ˜‚ Diet yang sudah kubangun selama hampir sebulan tiba-tiba hancur berkeping-keping. Belum lagi, aku yang tidak suka dengan alkohol, mendadak rajin mencoba koktail-koktail atau minuman beralkohol lain yang belum pernah aku coba. Soalnya ditraktir. Sudah gitu jam tidur yang makin kacau bahkan sering menghabiskan malam tanpa tidur barang lima menit pun.

Meski begitu, selama sebulan lebih aku hanya naik sekitar 2-3 kg saja πŸ˜„ Alhamdulillah tak kembali ke berat badan awal.

Per kemarin aku memulai One Meal A Day ala ala lagi. Kemarin dan hari ini pun menunya sama: prata + rffisa ( Ψ±ΩΩŠΨ³Ψ© ) Minum manis Lipton Oolong Milk Tea, ngemil Snickers fun size dua biji dan seperempat tempolong Pringles rasa Fish and Chips. Sisanya minum ocha, air putih, dan mugicha saja.

Rfissa, masakan asal Maroko
Rfissa, masakan asal Maroko

Aku ngga makan sebanyak itu kok. Aku makan itu dua hari lalu sebelum memulai OMAD yang tidak ekstrim periode kedua ini. Seorang teman asal Maroko menyuguhkanku Rfissa dan bahkan aku dikasih sangu bekal buat bawa pulang πŸ˜„ Jadilah kumakan kemarin dan hari ini.

Rfissa ini merupakan masakan yang bahan utamanya adalah ayam, lentil, dan fenugreek (halba). Bahan lainnya adalah bawang bombay, jinten, lemon yang diawetkan (bahan masakan khas Maroko), dan kismis. Biasanya ditaruh di atas roti pipih yang bernama m'semen (Ω…Ψ³Ω…Ω†) tapi karena tidak mudah ditemukan dan butuh waktu lama untuk membuatnya, frozen prata dijadikan penggantinya. Kata temanku, roti prata itu yang paling menyerupai m'semen. 

Balik lagi ke OMAD, yang paling aku sukai dari one meal a day ini sih: menghemat waktu.

Karena makan hanya satu kali (anggap saja aku nggak pakai ngemil πŸ˜‹), aku cukup menentukan apa yang akan aku makan sekali dalam sehari. Aku nggak perlu tuh, setelah makan siang, trus mikir nanti malam makan apa ya. Selain itu, cuci piring, panci segala rupa hanya sekali sehari. Nah kalau misal asupan karbohidrat kurang, kemudian tubuh akan mengalami ketosis, yaitu ketika tubuh akan membakar lemak untuk energi dalam tubuh. Tubuh tuh 'makan' dirinya sendiri, yang mengakibatkan turunnya berat badan. Selain itu, badan lebih segar dan nggak ngantukan, karena tubuh bekerja keras membakar lemak.

Berasa banget sih beberapa minggu lalu kerjaanku tidur mulu 😌 Sering banget mengantuk, apalagi pas kerja.

Waktu yang kuhemat dari waktu makan + waktu mikir makan apa selanjutnya + waktu cuci piring + waktu menyiapkan makan + waktu karena nggak tidur mulu tuh bisa kugunakan untuk, misalnya, menulis postingan ini, nonton film, membaca buku, jalan-jalan, atau mendengarkan musik.

Selain mengurangi makan, aku juga mulai memperhatikan apa yang kumakan, mulai sedikit demi sedikit menjauh dari telepon genggam dan social media (average activity-ku di Instagram hanya 13 menit sehari, aku terharu 😒, di Youtube 3 jam lebih sih), dan juga mulai menghindari penggunaan skincare yang berlebihan. Rasanya pengen kubuang semua itu obat jerawat, penghilang dark circle mata, losion muka, dan lain-lain. Aduh pengen nulis kok sudah panjang banget. Lanjut besok.

JADI PEREMPUAN HARUS KUAT!

Beberapa minggu lalu, aku mengalami hal yang sangat tidak mengenakkan.

Suatu hari, aku sedang kelaparan jadi aku pergi ke 7-Eleven dekat rumah. Ketika aku sedang memilih makanan, seorang penjaga toko menyapa, dan aku hanya menganggukkan kepalaku. Tapi aku tersadar, ia mendekatiku dari sebelah sisi kiriku, dan saat aku menengok, tahunya dia teman sekolahku yang sepertinya baru mulai bekerja di situ. Aku kaget dong, sekaligus senang, apalagi akibat korona aku tidak pernah ke sekolah dan bertemu teman-teman. 

Temanku ini seorang laki-laki berasal Nepal. Dia lebih muda daripada aku, tampangnya lugu sukanya cengengesan, dan sempat gabung di paduan suara sekolah bareng. Sekarang sih paduan suaranya sudah bubar. Rumahnya pun tidak terlalu jauh dari rumahku, tapi pertemanan kita nggak cukup dekat untuk janjian ketemuan. Kita pun juga nggak pernah mengobrol yang dalam banget lah, biasa aja. Tapi kalau di sekolah ketemu ya kita menyapa, mengobrol sedikit, dan saling cengenges-cengenges. Ya ampun aku sudah hampir 30 tahun kok hobinya cekikikan dan cengengesan. 

Setelah aku pulang ke rumah, tak selang berapa lama, temanku menghubungiku via LINE. Katanya dia ingin mampir ke rumah dan mengobrol denganku. Mungkin saat itu ia sedang istirahat makanya bisa memegang hape. Shift dia berakhir pukul 10 malam, dan aku oke oke saja. Apalagi aku sudah lama tidak bertemu dengan temanku ini. Kali saja dapat info terkini tentang sekolah dan kehidupan di Jepang. 

Tepat pukul sepuluh malam, ia menyapaku di LINE. Aku memastikan kalau ia jadi ke rumah atau tidak, soalnya aku ternyata sudah mengantuk. Ia bilang jadi, dan menanyakanku apakah aku ingin sesuatu dari minimarket. Ia bilang ia sedang di Ministop (minimarket lain, bukan tempat dia bekerja) dan sedang berbelanja. 

Sempat bertanya-tanya dalam hati, kenapa ia tidak beli di 7-Eleven tempat dia bekerja? Kecuali kalau Ministop itu supermarket yang harganya lebih murah dan ia harus mengirit. Tapi Ministop itu sama-sama convenience store (minimarket) yang biasanya harganya sedikit lebih mahal dibanding supermarket biasa. 

Aku pun menghampiri dia di Ministop dan ia sedang membayar belanjaan. Ia memasukkan kotak rokok ke dalam sakunya. Aku melihat di layar kasir yang mengarah ke customer dan menunjukkan tulisan dalam katakana: 

“OKAMOTO SUKINRESU 0.3MM.” 

Aku langsung mengalihkan kepalaku dan berjalan ke luar minimarket sambil berpikir. Sebentar, Okamoto kan merek kondom? Sukinresu itu apa? Skinless? OMG. 

Rasanya jantungku mau jatuh ke trotoar. Jadi kotak yang dia masukkan dalam sakunya itu bukan rokok, tapi kondom? 

Tidak pernah terbayangkan kalau temanku ini terpikirkan untuk mengajakku melakukan hal itu. Aku selalu melihatnya sebagai laki-laki muda yang lugu. Aku pun tidak pernah 0,0000001% pun tertarik secara seksual dengan temanku ini. Mataku berkaca-kaca dan rasanya aku ingin melarikan diri tapi aku memilih untuk bersikap tenang. Bodohnya aku tidak melarang dia ke rumahku saat itu dan pura-pura tidak tahu kalau sebenarnya aku sudah tahu kalau dia membeli karet pelindung itu. 

Sampai rumah, aku berusaha tenang, dan dia langsung to the point saja, bertanya padaku apakah dia boleh duduk di sebelah futonku. Aku langsung bilang, “Aku tahu kamu mau apa. Tapi aku tidak bisa.” 

“Sekali saja, kumohon.” 

“Apaan sekali saja, sekali saja. Nope. Aku punya pacar.” Padahal sih, tidak. πŸ˜‚

Aku berusaha tenang dan nge-pukpuk dia, dan menyatakan kalau aku tidak bisa melakukannya. Aku mengancam akan teriak kalau dia terus memaksaku. 

“PULANG KAU SANA!” Akhirnya dia pun pulang dan aku pun tak kunjung lega. 

Aku menelepon temanku di Indonesia untuk cerita dan chat teman satu sekolah tentang apa yang terjadi. Akhirnya aku pergi ke pub menemui temanku yang lain untuk mengalihkan kesedihanku, dan aku tidak menceritakan ke temanku yang satu ini karena baru beberapa hari lalunya ia berpesan kepadaku untuk tidak pernah memasukkan laki-laki yang kurang dikenal ke dalam rumah. 

Selama ini aku cukup santai ‘memasukkan’ teman lawan jenis ke rumah karena tidak pernah ada kejadian yang tidak mengenakkan. Ada dua teman laki-laki pernah menginap beberapa hari pun, ya biasa saja. Selama di Australia, tinggal serumah, bahkan sekamar dengan teman laki-laki juga biasa saja. 

Aku terlalu polos untuk tidak cukup mengetahui kalau ada teman lawan jenis yang punya pikiran seperti ini. 

Yang aku sesali sih, bukan soal aku memasukkan temanku ini, tapi aku merasa kurang tegas waktu menolak, dan aku harusnya teriak dari awal. Atau bahkan menolaknya sejak melihat layar kasir di minimarket. 

Beberapa minggu kemudian, akhirnya aku tidak tahan dan menceritakan hal sebenarnya kepada temanku yang kuhampiri di pub. Dan ia memarahiku habis-habisan karena aku memasukkan teman yang kurang akrab ke rumah. 

Sudah sedih, cerita, eh malah dimarahin. Memang jadi perempuan harus kuat deh, harus bisa jaga diri sendiri. 😌

Berhati Bunga θŠ±εΏƒ

Di minimarket tempatku bekerja yang letaknya tidak jauh dari salah satu World Heritage Site, Kiyomizudera Temple, banyak staf yang sekolahnya sama denganku. Ada satu orang Cina, perempuan, umurnya sama dengan aku, cuma lebih tua dua bulan, tapi aku sangat respek sama dia. Sekarang sih aku tidak pernah se-shift sama dia, tapi kalau satu shift atau ketemu pas pergantian shift, kami selalu ngobrol. Meskipun dia cuma dua bulan lebih tua, aku merasa dia tuh sangat dewasa sekali dan aku belajar banyak tentang kehidupan dari temanku ini.

Aku kira aku nggak bakal akrab sama temanku ini. Tapi tiap ketemu dan ngobrol pasti ada aja yang diketawain atau nggak karena dia ngetawain aku sih. 😏 Biasanya karena customer yang kutaksir datang ke toko dan aku nggak berhenti tersipu-sipu. 😌Obrolan kita pun sangat bervariasi, dari hal sepele semacam tentang cowok ganteng, tentang obat jerawat yang bagus, tentang bagaimana overrated-nya hubungan intim (menurut dia πŸ˜‚ ) sampai ke politik.

Suatu hari, kita mengobrol soal kebiasaan belanja. Minimarket di Jepang kan menjual dessert/sweets ya. Produk-produk sweets-ini mostly dijual dalam waktu tertentu. Ada yang selalu tersedia setiap saat seperti sus krim biasa. Tapi ada juga sus krim yang hanya dijual dalam waktu tertentu, misalnya sus krim keju atau matcha, pernah juga ada rasa blueberry. Sweets minimarket pun ngga cuma sus, ada macam-macam lainnya seperti crepes, eclair, pudding, cake, macam-macam. Seru deh sweets minimarket di Jepang mah. 

Pas saat itu, Seven-Eleven lagi mengeluarkan produk sus matcha. Temanku ini suka banget sampai hampir tiap hari beli terus. Kalau beli cemilan pun, kalau sudah tahu apa yang disukai, dia akan rajin beli itu, tidak pernah ganti. Lalu aku cerita, kalau aku sih nggak bisa kayak gitu. Apalagi barang minimarket tuh selalu ganti, bawaannya selalu pengen beli produk baru. Seenak-enaknya roti, cemilan, atau sweets yang aku beli di minimarket, aku hampir nggak pernah beli hal yang sama dalam dua kunjungan berturut-turut. Kalau pun di kunjungan berikutnya, aku membeli hal yang sama, aku biasanya tidak membeli lagi di kunjungan ketiga.

Waktu kerja pun biasanya aku membeli satu botol minuman, aku pasti akan re-buy apa yang aku pernah beli, tapi tidak pernah aku berturut-turut misal hari ini kerja aku beli mugicha (barley tea), hari kerja berikutnya aku beli mugicha lagi. Bosan! Aku biasanya ganti-ganti antara air putih mineral, ryokucha (green tea), mugicha, oolong cha (oolong tea), jasmine tea, earl grey tea, dan yuzu lemon soda. 

Seperti yang aku ceritakan di postinganku Menaksir Tingkat Kesetiaan Customer dari Cara Belanja,  kalau kamu kerja jadi staf minimarket dan sudah hafal sama customer-mu, kamu tuh tahu aja pola belanja mereka.

Ada satu customer yang bekerja sebagai host, dia selalu mampir ke minimarketku karena tinggal di apartemen di gedung yang sama. Barang yang biasa dia beli adalah mi instan, jus apel, milk tea merek Lipton, dan rokok nomor 109. Dia jarang beli semua itu dalam waktu bersamaan, tapi kalau dia datang, kita bisa menebak kalau dia akan beli mi instan, kalau ngga rokok nomor 109, kalau ngga ya minuman favorit dia. Ada customer lain yang selalu datang tiap hari, dan tiap pagi selalu membeli bekal lunch seperti bento atau mi dan minuman. Apapun makanannya dia selalu beli bir merek Sapporo.

Sebagai staf minimarket, kamu akan bisa menerka apa yang regular customer bakal beli. Nah, di dekat rumahku ada minimarket yang selalu aku datangi. Btw, minimarket tempat kerjaku yang aku ceritakan di atas, letaknya 1.5 km dari rumahku dan dulu rumahku dekat sana.

Tiap hari, aku membeli barang yang completely different tiap kunjungan. Misalnya hari ini aku membeli sweets dan es krim, besok aku beli gorengan, hari lain aku cuma beli salad kepiting mayo (yang sampai sekarang aku cuma pernah beli sekali dalam hidupku), hari lain lagi aku beli potato chips dan daun bawang, kadang-kadang aku beli roti dan bento keluaran terbaru (aku lemah sama produk-produk baru 😌). Pola belanjaku tuh, tidak berpola.

Kata temanku, kalau dalam Bahasa Cina aku punya 'hati bunga' alias hua xin θŠ±εΏƒ. Kalau dengar hati bunga kayaknya konotasinya positif gitu ya, padahal ternyata enggak. 😭

Katanya, bunga kan berwarna-warni, nah kalau θŠ±εΏƒ ini ya hatinya berwarna-warni, jadi biasanya sukanya play around dan tidak bisa setia sama pasangannya. πŸ˜‚ Aku sih meneketehe, pernah punya pasangan saja enggak.

Tapi yang aku rasakan selama ini sih, aku ngga pernah suka sama orang lama-lama dan gampang move on. Baru saja aku menyatakan perasaanku ke temanku, nggak sampai seminggu ada teman lain dan aku sudah 'nggak ingat' sama temanku aku suka sebelumnya. πŸ˜‚  Aku masih berteman baik, tapi indifferent, nggak ada feeling apa-apa. Sekarang sama teman yang kedua juga udah nggak apa-apa. Yah nggak tahu lah πŸ˜‚

Cemprengnya Suara Penjaga Toko di Jepang

Kalau kamu pernah ke Jepang, atau lihat di drama atau film, atau di warung makanan Jepang di Indonesia, pasti kamu notice kalau staf toko nya akan menyapamu dengan 'irasshaimase' dengan ceria.

Nah, para staf toko di Jepang, terutama perempuan, banyak yang menggunakan suara hidung (nasal voice/ιΌ»ε£°hanagoe) yang bikin suara mereka cempreng dan tinggi. Sebenarnya kebanyakan tidak seperti itu, tapi kalau kamu ke Jepang, kamu bakal punya kesan kalau para staf toko perempuan di Jepang kebanyakan bersuara cempreng dan terkesan sok imut. Kadang-kadang terlalu cempreng dan irritating, rasanya pengen nyamperin sambil bilang, "Bisa ngga berhenti ngomong cempreng?" πŸ˜‚

Di tempat aku bekerja, meskipun banyak yang menggunakan suara hidung (aku pun termasuk), tapi tidak ada yang cempreng banget. Padahal aku pengen tanya kenapa mereka bicara seperti itu. Aku pernah tanya kepada seorang teman Jepang tentang mengapa staf toko menggunakan suara hidung dan bahkan ada yang cemprengnya berlebihan, kayak palsu banget deh. Temanku sendiri sih tidak tahu cuma dia bilang, kalau staf toko meninggikan suaranya kan bakal lebih menarik pengunjung ketimbang menggunakan suara biasa. Kalau pakai suara biasa, bisa dibilang bakal terkesan lemes.

Aku kurang bisa menjelaskan ya secara biologis bagaimana suara hidung itu terbentuk. Tapi yang jelas suaranya bakal terdengar lebih sengau dan lebih tinggi dari suara biasa.

Aku sendiri kalau lagi jaga toko yang di dekat Kiyomizudera, most of the time bakal ngomong dengan suara biasaku yang rendah meskipun kadang-kadang tone-nya lebih tinggi. Tapi kalau kerja di stasiun yang selalu sibuk, kecenderungan aku bakal pakai suara hidung. Aku merasa kalau pakai suara hidung tuh energi yang dipakai lebih sedikit dan berasa ringan. Bayangin aja dalam dua setengah jam aku harus menyebut 'irasshaimase' hampir seribu kali dan melayani langsung 200 customer di depan mesin kasir. Rata-rata jumlah kata yang diucapkan satu orang dalam satu hari sudah kuhabiskan dalam dua jam pertama aku menjalani hariku. Tapi abis kerja ya aku ngga banyak ngomong sih. (Amaca?)

Kalau aku ngomong pakai suara biasa, aku merasa lebih capek. Dan kalau menyapa customer dengan nasal voice tuh, suaraku bakal lebih tinggi dari normal, dan akan lebih mudah terdengar oleh si customer.

Dan yang pakai suara hidung tuh ngga cuma yang perempuan. Staf laki-laki juga, dan somehow itu sangat amat wagu. 😭 Chief-ku di stasiun sudah bapak-bapak tapi kalau menyapa customer suaranya cempreng 😭 Tolong hentikanlah! Bukan cempreng yang lebay tapi tetap aja kalau laki-laki tuh aneh aja pakai suara hidung.

Ngomong-ngomong tentang menyanyi dan penyanyi, banyak yang menggunakan suara hidung. Dan sebagian besar, enggak banget (menurutku ya). Penyanyi Jepang juga aku perhatikan banyak yang pakai suara hidung dan banyak yang bilang suaranya bagus 😭  Tapi bukan berarti pakai suara hidung pasti jelek, sebagian penyanyi pakai suara hidung, kadang sengau, juga enak-enak aja sih didengar!

Menaksir Tingkat Kesetiaan Customer dari Cara Belanja

Ah panjang amat judulnya.

Maksud aku bukan tingkat kesetiaan customer buat belanja di toko kita. Tapi kesetiaan sama pasangannya. Maksudnya?

Dari pengamatanku selama bekerja di minimarket, mungkin aku bisa menebak bagaimana tingkat kesetiaan si customer terhadap pasangannya. Terutama dari pembelian rokok sih. Ini pendapatku ya, sok tahu aja.

Setiap minggu, aku bekerja tiga kali di minimarket di dalam Stasiun Kyoto. Aku selalu bekerja shift pagi hari kerja dari pukul enam sampai sembilan lebih lima menit (detil kan), yang mana rentang waktu itu adalah rentang waktu paling sibuk stasiun. Orang yang pergi ke kantor kebanyakan pergi dalam waktu yang hampir bersamaan, tapi kalau pulang ada yang agak sore ada yang malaman 'kan? Lembur atau minum-minum dulu, misalnya. Makanya, shift sore atau malam tidak sesibuk shift pagi.

Minimarket buka mulai pukul setengah tujuh pagi. Selama satu shift, sampai jam sembilan itu, kalau aku yang bertugas standby di kasir, aku bisa melayani lebih dari 250 customer dalam dua setengah jam. Bayangkan, aku berhadapan dengan hampir dua customer per menitnya. Bisa dibilang lebih dari 70% adalah regular customer yang datang tiap hari. Beberapa aku sudah hafal, tanpa customer menyebut apa-apa, aku sudah tahu rokok apa yang mau dibeli dan jenis pembayaran apa yang dipakai.

Minimarket kan menjual rokok ya dan jenis rokoknya lebih dari 220 jenis. Yang ada slot raknya hanya sampai 205 atau 206 kalau ngga salah, belum rokok jenis lain yang tidak punya rak. Jadi dipajang di tempat seadanya. Selain yang tidak ada tempat di rak, semuanya ada nomornya, jadi customer hanya tinggal menyebut nomor rokok yang mau dibeli. Tapi kadang ada customer yang penglihatannya kurang baik atau nomornya ketutupan staf atau malas lihat nomor aja, ya mereka menyebutkan merek sekaligus tipe rokoknya. Pusing lah tuh kalau belum apal 😞

Jenis pembayaran yang bisa digunakan pun sangat beragam. Tentu saja uang tunai, kartu debit/kredit JCB, Visa, MasterCard, IC card semacam Suica, Icoca, Manaca, apa lah, dan pembayaran pakai barcode apps smartphone seperti PayPay, WeChat Pay, Rakuten Pay, banyak lah. Oh ya, Seven-Eleven juga punya e-money-nya sendiri, namanya Nanaco. Kalau menyapa customer, staf diwajibkan bertanya, "Apakah Anda punya Nanaco?"

Tapi aku kalau nggak ada wakil store manager-nya aku ngga pernah nanya. Capek ah mulutnyaaa πŸ˜‚ Langsung aja, ngga pakai basa-basi, "Mau pakai kantong plastik ngga?" Itu pun karena dari awal Juli kantong plastik mulai bayar di Jepang. Sebelumnya juga langsung bilang, "Totalnya... sekian yen." Customer-nya 'kan buru-buru mau ke kantor, ngapain nanya macem-macem. Ya ngga? πŸ˜‚

Btw, ada customer seorang bapak-bapak yang aku love banget lah. Ramah banget, selalu menyapa 'selamat pagi'. Customer satu ini selalu datang di waktu yang sama tiap harinya, dan selalu membeli satu botol air putih dan dua onigiri. Hampir tidak pernah beli yang lain. Itu pun jenis onigirinya selalu sama tiap hari bayangkan! Pernah sesekali ganti jenis onigiri, tapi tetap belinya dua biji. Total belanjaan hampir selalu 383 yen kecuali kalau pas beli jenis onigiri lain. Aku kayaknya ngga perlu lihat mesin kasir, udah tahu ini bapak habis berapa belanjanya.

Udah gitu bapak-bapak ini sugar daddy-able banget. Kalau dari liat penampilan sih. Aku sama teman kerjaku (laki-laki) kalau ngomongin bapak ini tuh nyebutnya 'papa'. Tapi lihat dari belanjanya dia, kayaknya dia tipe yang setia. 😌  Sotoy.

Contoh lainnya dari pembelian rokok ya.

Kebanyakan dari customer minimarket-ku selalu membeli rokok jenis yang sama setiap harinya. Jadi kalau kita sudah hafal sama customer-nya, kita otomatis hafal sama rokok yang bakal dibeli. Kemungkinan besar sih, customer-customer ini tipe yang setia juga.

Aku kan kerja di dua minimarket ya. Di minimarket satunya, ada customer yang cukup lumayan akrab sama aku, jadi aku sudah hafal rokok yang dibeli biasanya yang nomor satu. Dia selalu membeli rokok itu sampai suatu hari dia ganti rokok yang ada di rak nomor sebelas.

"Eh ganti?"

Mungkin dia tipe yang setia tapi bosan jadi cari yang baru. Sampai sekarang masih membeli rokok nomor sebelas, belum ganti juga.

Ada customer yang beli rokok selalu ganti. Dan gantinya tuh ke merek atau jenis yang berbeda, dari yang rokok biasa ke rokok elektrik, nanti ganti lagi ke rokok biasa. Ini sih bisa dipastikan orangnya tidak setia. (Dipastikan dipastikan... siapa gue? πŸ˜‚) Dan temanku pernah nguping orang ini lagi bahas tentang cewek ke temennya. πŸ˜‚

Ada juga beberapa customer yang selalu membeli dua rokok, jenisnya sama, hanya beda rasa. Kemungkinan sih orang ini tipe kalau pacaran pacarnya sekaligus dua. 😜  Ngarang lagi...

Kalau di minimarket di stasiun sih kebanyakan orang beli rokok hanya satu, dua kotak. Tapi kalau di minimarket yang satunya, ngga sedikit orang yang beli satu karton --yang kenyataannya sekarang sudah ngga pakai karton melainkan pakai plastik tapi tetap saja kita bilangnya 'wan kaaton' alias 'one carton'. Ini tipe-tipe setia dan love banget kali ya. Soalnya itu customer juga datang ke minimarket tiap hari, meskipun beli rokoknya ngga tiap hari.

Aku punya teman, rokoknya Mevius 1 mg yang harganya 490 yen. Aku ingat sampai-sampai waktu dia ulang tahun aku memberikan kado rokok yang biasa dia konsumsi. Setelah lama ngga ketemu, beberapa hari lalu dia main ke rumah, dia ganti rokok merek Camel. Aku tanya kenapa, soalnya dia nggak punya uang, dan Camel harganya cuma 400 yen, lumayan irit 90 yen. Ini sih ngga tahu setia apa engga, yang jelas temenku ini customer tipe yang kere. πŸ˜‚

Ah tapi ngga valid sih. Ada regular customer yang tiap hari beli rokok yang sama tapi sukanya ngajak nge-date orang dan isunya sih punya istri... ah au ah. πŸ˜‚ Sukaknya ngrasani orang mulu aja ih.

Rasanya Punya Roommate Cowok

Rasanya biasa saja.

Kadang-kadang misal aku cerita kalau aku pernah tinggal sekamar sama laki-laki, atau ada teman laki-laki menginap di rumahku ke tante-tante dan teman di Indonesia, mereka suka kaget. Kok berani sih sekamar sama cowok? Emang nggak takut diapa-apain? Aku benar-benar lupa kalau punya roommate laki-laki tuh bukan hal yang biasa bagi sebagian orang Indonesia.

Waktu aku tinggal di Australia, aku sempat tinggal sekamar dengan roommate laki-laki tapi memang hampir tidak pernah yang cuma berdua. Biasanya sekamar berempat atau berdelapan campur laki-laki dan perempuan. Biasa saja. Ngga ada namanya naksir-naksiran atau kejadian yang membahayakan. Pernah sekali sekamar berdua itu pun cuma beberapa hari. Di Jepang pun, juga udah ada dua teman cowok yang pernah menginap di rumah.

Ya biasa saja.
Nggak ada aneh-aneh.

Mungkin karena aku ngga sexually attractive 😭
Kata adekku, aku tuh orangnya aseksual. Bukan aku yang ngga tertarik sama lawan jenis, tapi lebih ke lawan jenis yang ngga tertarik sama aku πŸ˜‚

Dulu pas di Ayr, di Australia ada teman yang tinggalnya beda kamar, tapi seneng banget tidur sama aku sekasur. Aku juga nggak naksir apa gimana. Dia juga bilangnya males, ngga nafsu. Sampai sekarang kalau kutanya, katanya ngga nafsu πŸ˜‚ Tapi gue yakin pasti love nih anak ama gue. Ngapain coba mau tidur sekasur single sama aku yang gendut ini kalau ngga love πŸ˜‚ Pede aja.

Mungkin karena sebelum-sebelumnya aku sering menginap di mixed dorm kalau traveling, jadi sudah terbiasa gitu. Alhamdulillah sih nggak pernah punya roommate cowok yang bau atau drama (lebih aku yang drama soalnya πŸ˜‚). Semua normal-normal aja. Kalau housemate cowok ada sih yang drama πŸ˜‚ Ada yang punya mental disorder (beneran) selalu bertingkah aneh, ada mantan housemate yang pernah ke rumahku di Jepang menginap dan tiba-tiba memutuskan pertemanan πŸ˜‚  Pas saat itu sih aku sampai nangis segala. Sekarang? Ih, bodo amat πŸ˜‚ Padahal dia salah satu teman cowok terdekat pas di Australia. Tapi ya... people come people go.

Punya roommate cewek pun juga biasa aja πŸ˜‚ Ada dua bekas roommate di Ayr dan mereka orang Kyoto, dan kita ketemu lagi dong di sini! Bahkan yang satu sering membantuku dalam segala hal! Roommate-ku yang paling berkesan sih Man (cewek ya), yang berasal dari Hong Kong. Kita jadi roommate di dua desa berbeda di Australia, pernah ngga sengaja ketemu di tengah-tengah outback South Australia, dan kita udah pernah ketemu Hong Kong dan Jepang juga!

Padahal dulu kerjaannya berantem πŸ˜‚

Dibeliin segini banyak sama Man 😭 
Sekarang sih ogah punya roommate, mau cewek mau cowok ogah! Males kalau berantem. Udah tua, butuh ketenangan πŸ˜‚

Persapian

"Jadi kamu ngga boleh makan daging sapi? Kalau minum susu sapi boleh?" tanyaku kepada seorang teman sekolah yang berasal dari Nepal.

"Ya boleh lah. Jangankan susu sapi, kita juga minum urin sapi kok!"

WHAAATTT?

"Serius? Trus rasanya kayak apa? Enak?"

"Nggak enak. Rasanya ya... kayak... pipis."

Sangat menjawab pertanyaanku sih jawaban temanku itu. Meneketehe rasa pipis kayak apaan. Kata temanku sih orang Hindu di negaranya minum urin sapi dalam rangka ritual keagamaan. Saat itu aku cuma memikirkan bagaimana orang bisa minum pipis sapi dan tidak punya pertanyaan lain. Apalagi pas lagi bicara tentang itu posisiku lagi makan 😀

Aku baca di Wikipedia kalau urin sapi itu diminum untuk ritual keagamaan atau obat tradisional di beberapa negara seperti India, Myanmar, Nepal, dan Nigeria. Aku langsung tanya temanku orang Nigeria, dia ngga pernah minum sih. Mungkin yang minum orang yang tinggal di pedesaan atau dia ngga sadar kalau pernah minum πŸ‘Ώ

Bentuknya kaya apa? 😭

Belum lama ini aku makan kare sapi Coco Ichibanya. Selama ini ternyata makan yang babi. Btw, yang kare sapi bentuknya sangat tidak menggairahkan. Aku posting kan fotonya di LINE, trus ada teman SMA japri, "Itu kare apa e**?"

Trus random aja, aku bilang ke temanku, "Eh masa di Nepal orang minum urin sapi loh." Kalau kamu teman chatku, siap-siap aja kukirimi pesan fun fact random macam kayak gini. 😌

Eh dia malah banyak pertanyaan. 

Supaya apa?
Minumnya harus berapa ml?
Makan ciki rasa sapi panggang boleh ngga?
Kalau royco sapi?

Aku jadi penasaran juga 😭 Mau tanya teman Nepalku, dia sibuk, aneh aja tahu-tahu aku nanya tentang urin sapi. Dari Facebook Friends-ku yang ada 800-an, kayaknya orang Nepalnya lebih dari 80, cuma masa nggak pernah chat tiba-tiba nanya tentang urin sapi 😭 Kalau pas ketemu langsung nanya sih gapapa. Tiba-tiba aku keingetan satu teman Nepal yang tinggal di Australia yang sudah lama nggak ketemu dan dulu kita akrab, jadi santay lah nanya-nanya random tiba-tiba.

Dia bilang sih, minum urin sapinya tidak sering tapi memang dipercaya sebagai air suci. Selain itu, juga tidak ada ukuran tertentu harus berapa ml minumnya. Orang-orang hanya take a sip dan biasanya menciprati urin sapi di rumah atau ke badan supaya suci. Dan ya, mereka nggak makan ciki rasa sapi πŸ˜…

Gara-gara ngomongin sapi, aku jadi merasa kalau aku ngga bisa Bahasa Inggris deh. Jadi kan orang Hindu ngga boleh makan cow ya, dan aku baru tahu kalau cow itu sapi cewek 😭 Trus kalau sapi cowok boleh makan nggak? Yang kita biasa makan daging sapi tuh cewek apa cowok? Kok aku bingung sendiri sih?

Lactose Intolerance is Real

Belum lama ini, aku baru menyadari kalau sepertinya badanku tidak toleran sama laktosa. Terbukti setelah minum minuman yang mengandung susu, seperti es kopi susu, bubble tea, kadang-kadang es krim, hampir selalu membuatku sakit perut dan mencret. Tidak 100% tapi bisa dibilang lebih dari 90% kemungkinan perutku bakal mules-mules setelah setengah sampai 2-3 jam setelah konsumsi susu.

Padahal sempat suatu waktu, aku lagi gemar minum susu nggak tahu kenapa. Oh ya, aku nggak punya kebiasaan minum susu tiap hari dari kecil, cuma kadang-kadang saja. Bahkan sempat dua tahunan nggak minum susu blas, karena lebih memilih minum susu kedelai. Nah, suatu hari, aku jalan-jalan ke Maizuru, sebuah kota kecil di bagian utara Prefektur Kyoto. Hari itu, aku lagi in the mood banget buat minum susu, dan sebagai orang yang sangat mengikuti feeling, aku membeli satu pak kecil susu sapi di sebuah bakery.

Nggak lama, perutku mulas 😭
Padahal hari itu hujan lumayan deras, dan aku nggak bisa lihat ada toilet umum, atau restoran cepat saji di pandangan mataku. Sedangkan tujuanku, aku masih harus berjalan kaki selama 20 menit. Dalam hati rasanya pengen mengumpat ke diri sendiri, sudah tahu kalau tidak kuat minum susu tapi memaksakan, dan kondisinya lagi jalan-jalan. Kan jadi fokus menahan sakit perut dan mencari toilet.

Sekitar lima menit kemudian, aku melihat Seven-Eleven yang cukup besar dengan parkiran yang luas. Hampir semua Seven-Eleven menyediakan toilet, jadi pas lihat sevel tuh rasanya, terharu ingin menangis 😭

Lega rasanya.
Pas jajan ini nggak inget ke toilet apa engga.
Itu kejadian sebelum masa-masa korona. Kalau sekarang gini, lagi jalan-jalan nggak berani deh minum susu. Masalahnya, gara-gara korona ini, banyak convenience store atau toko yang punya toilet untuk customer, menutup toiletnya untuk umum. Kalau pun nggak ditutup pun, jadi ribet, seperti harus bilang ke stafnya kalau mau menggunakan. Karena sepertinya, setelah toilet digunakan, stafnya harus buru-buru mendisinfek toiletnya.

Sekitar dua-tiga minggu lalu, aku pergi ke sebuah kuil yang terkenal sebagai kuil kelinci. Namanya Okazaki Jinja. Sebelum sampai ke kuilnya, aku jajan eskrim yang berbasis susu dan emang nyusu banget.

Benar saja, tiba-tiba perutku mulas seperti mulas yang kurasakan setiap minum susu. Di kuilnya aku tidak bisa menemukan toilet dan kantornya sudah tutup karena aku datang ke sana sore hari. Kepalaku langsung berputar memikirkan di mana aku bisa pergi ke toilet. Ada banyak fasilitas umum di dekat sana, tapi paling tidak aku harus jalan 15 menit. Aku sudah nggak kuat 😭

Di depan kuil persis ada supermarket, aku tidak berharap banyak sih, tapi coba saja. Alhamdulillah ada! Tapi ya itu, gara-gara korona, kalau mau pakai toilet harus bilang sama stafnya. Waktu itu kok ndilalah stafnya lagi pakai toiletnya, jadi pas dia keluar, aku langsung izin pakai toiletnya. 😭 Capek, mau nangis rasanya.

Udah ah kapok nggak minum-minum susu lagi kalau di luar rumah.

Tapi aku belum kapok juga ternyata πŸ˜‚ Aku pergi ke salah satu mal besar di Osaka, dan membeli Chai Latte ala Jepang dalam pek. Sudah di dalam bus mau ke arah, mulas tak terkira. Mau balik ke malnya, jalannya lumayan jauh dan busnya cuma ada 30 menit sekali. Mau ngga mau kutahan dan yang kulakukan dalam bus adalah melihat Google Maps dan berharap busnya cepat sampai stasiun. 😭

Yang ini lumayan parah, aku sampai rumah masih mual-mual.
Memang harus berhenti minum susu di luar rumah. Perasaan kalau minum di rumah nggak selalu mulas, bingung gue.

Life is Full of Bullshit

Belum lama ini aku pergi ke Kobe dan mampir ke sebuah toko. Toko ini yang punya orang Belanda dan orangnya suka ngobrol banget. Aku ngga beli seberapa, eh dikasih gratisan plus dikasih kuliah berasa satu jam pelajaran sama dia.

Dia ngomongin macam-macam. Dari fisika, komputer, Indonesia, tentang anaknya, dan lain-lain. Tapi yang mau kumention sih kalau dia bilang kalau semua fakultas di universitas itu bullshit. Salah satu contohnya aja ya, kayak misalnya ekonomi. Manusia tuh dari dulu ya bekerja sama tapi di fakultas ekonomi malah diajarin berkompetisi. Di sekolah pun murid-murid dinilai pakai angka. Ya meski pun di luar negeri udah ada yang engga ya, tapi most masih kan. Macam-macam lah kalau diceritain panjang.

Gara-gara si orang Belanda ini ngomong kalau semua itu bullshit, aku keingetan waktu aku kerja beberapa bulan lalu di sevel. Jadi kan harus pakai masker ya. Waktu aku ambil satu masker dari kotak masker yang disediakan di toko, aku melihat ada yang janggal dari maskernya. Pas aku perhatiin ternyata ada serangga di dalam maskernya dong!

Pulang-pulang aku buka maskernya. Kayaknya nyamuk sih.

Kalau di dalam masker ada serangganya berarti maskernya ngga higienis dong?
Di pabriknya juga ngga higienis dong?
Trus fungsinya pakai masker apaan?
Bullshit banget ngga sih?

Waktu itu aku mikir gitu. Aku bilang ke teman sevelku kalau maskerku dalamnya ada serangganya, tapi dia kayak nggak peduli blas, dan cuma bilang dengan muka datar, "Ya ambil masker yang baru aja."

Padahal tuh dia orangnya agak heboh, dan pedulian gitu. Tapi pas aku cerita soal masker berserangga dia kayak cuek.

Pas aku cerita sama teman kuliahku via LINE, temanku komentar, "Mungkin dia sudah paham kalau dunia ini full of BS."

Iya juga ya. Aku ngga tahu sih umur teman sevelku ini berapa, tapi kayaknya lebih tua dan sudah makan banyak asam garam pengalaman.

Beberapa hari lalu, aku pergi ke McDonald's dekat rumah. Di McD di Kyoto, biasanya tempat sampahnya dipisah antara sampah kertas, plastik, dan sisa minuman. Pas aku ke sana, yang sedang bekerja bersih-bersih tuh teman sekolahku. Aku melihat dia membuka tempat sampah untuk meng-collect sampahnya kan. Eh... dia mengangkat kotak sampah plastik dan menuangkan ke kotak sampah kertas yang artinya dia menggabungkan sampahnya jadi satu.

Kalau sampahnya ujung-ujungnya dijadikan satu, ngapain sebagai customer kita harus misah sampah kertas dan plastik?

Ah, lagi-lagi memang benar dunia itu penuh dengan bullshit.

Mungkin produsen tempat sampah McDonald's-nya bikinnya satu jenis itu kali ya. Ah, mbuh.

Gara-gara menyadari kalau dunia itu full of bullshit, aku agak lebih santai menghadapi apapun sih. Atau kalau mau nge-judge orang. Ya meskipun tetap masih suka panik ya.

Kemarin saat aku pulang kerja, aku menuntun sepeda karena trotoarnya ternyata 'no riding' dan orang di trotoar penuh. Lalu di depan toko kare, ada seorang laki-laki membuka maskernya dan bertanya aku berasal dari mana.

"Beautiful."

Dalam hatiku, pret. Tapi seiring umurku yang menua, aku ngga ngerasa serem, atau jijik, atau seneng dikatain beautiful. Aku cuma jawab,

"Thank you."

Dia lalu nanya-nanya apakah aku student, umurku berapa, apakah aku punya pacar. Aku bilang aku punya pacar dong, padahal mana ada πŸ˜‚ Bullshit juga πŸ˜‚ Aku cuma males kalau kita tukeran nomor dan sananya meneror mulu, geer. πŸ˜‚ Tapi aku bilang aku bakal mampir ke toko karenya kapan-kapan. Kalau sudah gajian.

Kalau ini aku beberapa tahun lalu, biasanya aku udah ketakutan. πŸ˜‚ 
Sekarang ya udah lah santai aja lah~

Convenience Stories: Can't Read the Air

Dua teman bilang, tulis blog pakai Bahasa Indonesia aja lah. Jadi sekarang aku nulis pakai Bahasa Indonesia πŸ˜‚ Pengen belajar nulis pakai Bahasa Inggris, kok buatku susah ya. Nulis Bahasa Indonesia pun kalau baku juga susah sih. Bisanya apaaa? Emang bisanya cuma nulis pakai Bahasa Indonesia ala lisan sehari-hari. Au ah lap.

Aku mau nggosip soal teman sevel yang bekerja sama aku di shift yang sama, shift pagi dari jam 6 sampai jam 9 pagi. Dia sih kerjanya sampai jam 1 siang, tapi karena aku bekerja hanya satu shift ya ketemunya pagi saja.

Tadinya. Sekarang sih dia ditendang, nggak boleh kerja shift pagi. Dia kerja shift pagi cuma hari Jumat, yang kayaknya karena ngga ada orang lain yang mau kerja hari itu.

Kenapa?
Karena dia tidak bisa membaca udara. Can't read the air. Di Bahasa Jepang ada istilah 'kuuki yomenai' yang secara harfiah artinya 'tidak bisa membaca udara/atmosfer' yang biasa digunakan buat orang yang ngga peka sama lingkungan sekitarnya. Ngga bisa ngeliat atmosfer sekitar gitu deh.

Teman sevelku ini om-om sudah berumur 40-an. Orangnya bukan orang jahat, bahkan pekerja keras, tapi 'kurang bisa bekerja', jadi kurang disukai sama teman-teman yang lain. Aku sih biasa aja, cuma kadang jengkel sih πŸ˜‚ cuma ngga bisa sebel, apalagi dia sering menraktir aku es cafe latte. 

Aku kerja di sevel yang mana letaknya di dalam Stasiun Kyoto. Di dalam stasiun ada banyak sevel, jadi kalau pada main ke Kyoto, trus jajan di sevel, kalo beruntung bisa ketemu aku  πŸ˜‚ Beruntung mananya. Shift itu dibagi menjadi lima shift setiap harinya. Sevelku buka dari jam 06.30 - 23.30. Shift pertama jam 6-9 (kok jorok sih) itu adalah shift paling sibuk setiap hari kerja. Katanya. Aku nggak pernah kerja shift lain.

Jam pagi kan orang-orang pada berangkat kerja, jadi biasanya pada beli roti, onigiri, atau bento buat sarapan atau lunch. Setelah jam tujuh tuh biasanya antrean hampir ngga pernah berhenti. Padahal satu shift ada empat orang, di toko ada empat mesin kasir, dan kerjaan kita ngga cuma ngasirin doang. Biasanya sih ada dua orang selalu stay di kasir, dua lainnya harus kerja menaruh minuman di kulkas, maju-majuin barang, biar keliatan kan, menaruh barang di rak, sibuk deh. Yang stay di kasir pun juga ngga ngasirin doang, ada kerjaan lain kayak refill rak rokok, refill kantong plastik, gelas kopi, dan lain-lain. Belum lagi kalau ada yang in-charge buat order barang-barang. Sambil disambi ngasirin gitu. Kalau antrean panjang banget yang di kasir bakal manggil staf lain yang lagi sibuk hal lain buat bantu di kasir.

Aku paling sebel kalau dapet tugas jadi yang ngerapiin barang-barang di rak. Males bolak-balik kasir rak kasir rak. Udah mana aku pusing baca kanji, jadi bingung kalau harus buka dus mi instan yang mana buat ngisi rak yang kosong, ah pusing ah pala gue.

Meskipun ada kerjaan lain, tapi tetep kerjaan utama itu ya ngasirin. Jadi kita ngga boleh membiarkan customer tuh menunggu lama. Kalau antrean panjang, mau ngga mau kita tinggalin kerjaan lain buat ke kasir. Terutama pas pagi-pagi yang mana orang buru-buru berangkat kerja.

Nah, si om teman sevelku ini, manggilnya om aja ya, orangnya benar-benar tidak bisa membaca atmosfer.

Seringnya dia dapat kerjaan yang stay di kasir. Kayaknya dia hampir nggak pernah dikasih kerjaan masukin minuman-minuman atau naruh barang. Kalau pun iya, nggak pernah dikerjain! Jadinya orang lain yang harus ngerjain.

Yang paling bikin teman-teman jengkel sih, misalnya antrean panjang banget, dia malah sibuk merapikan rak sandwich, kita panggil teriak-teriak enggak dateng-dateng ke kasir, sampai customernya pada nengok-nengok ke arah dia. Ikut gemez juga kali ya. Ngerapiin rak sandwich tuh cuma maju-majuin karena kadang laris sampai barang yang di belakang ngga keliatan, itu dia bisa ngabisin waktu 15 menit. Yang semenit pun juga bisa πŸ˜“

Atau engga, dia di kasir tapi malah sibuk refill sendok sumpit di laci counter kasir. Kita minta dia buka kasir, dia malah, "Ntar dulu, masih masukin sumpit."

Yang padahal itu bukan kerjaan penting πŸ˜‘ Bisa dikerjain ntar, yang bahkan ngga dikerjain ngga apa-apa. Atau ngga sibuk masukin biji kopi ke mesin kopi dan kita panggil-panggil, engga turun-turun dari dingklik buat berdiri. Di saat antrean panjang tuh itu benar-benar bikin emosi. Karena kita harus handle lebih banyak customer, dan kasihan customernya karena kita ngebiarin mereka antre lebih lama.

Pernah suatu hari kerja hari Sabtu, dan satu shift cuma tiga orang. Karena hari Sabtu dan masih era korona jadi biasanya pagi sepi, kalau hari libur kan orang biasa keluar rumah agak siangan. Nah dia ini harusnya stay di kasir eh malah duduk di 'kantor' sambil order sandwich πŸ˜“ yang padahal bisa disambi ngasir.

Orangnya terlalu fokus, ngga bisa mengerjakan lebih satu pekerjaan dalam satu waktu. Harus satu pekerjaan selesai dulu baru mengerjakan yang lain. Ya bagus sih cuma di kerjaan konbini, ngga bisa gitu 😭

Kadang-kadang bikin berantem sama staf yang lain 😌 Sama aku sih engga. Karena aku termasuk baru dibanding yang lain, dan aku ngga paham-paham amat Bahasa Jepang, biasanya sih aku hanya menikmati pertikaiannya aja 😌 Berantemnya tuh bener-bener yang adu mulut gitu di DEPAN CUSTOMER. Aku dibalik maskerku ketawa-ketawa. Si om ini juga ngga bisa dibilangin, jadi dibilangin apa malah balik ngomel. Pernah sampai satu customer laki-laki marah sambil teriak: URUSAI! a.k.a 'berisik! πŸ˜—

Pernah lagi saking dia ngga mau bantuin kasir, satu staf narik tangannya dengan keras kaya main tarik tambang, dan si om ini malah ketawa-ketawa sambil bilang kalau dia mau benerin sandwich. Yang padahal antrean kasir tuh sampai peron... ngga sih boong. Sumpah kaya drama deh. 

Suatu kali ada customer minta dia buru-buru masukin plastik dan handle kasirnya, mungkin karena dia mengejar jadwal keretanya. Eh si om ini bales jawab, "Maaf ini speed-nya sudah max." πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚ Ya Allah ada orang Jepang kayak gini 😭 Kalau orang normal bakal minta maaf.

Capek deh.
Beneran capek πŸ˜‚

Cuma soal kerja aja sih yang kadang bikin emosi, tapi kalau diajak ngobrol lumayan enak.

Convenience Stories: R vs L

Many foreigners are working part-time in convenience stores in Japan. As long as you can speak basic Japanese like greetings and number, you can easily get accepted if you apply for konbini job. Even though, konbini job description is not as simple as pressing buttons on cash register.

Before coming to Japan, I have already been able to speak in conversational Japanese and read a little bit of kanji. My problem is I don't really read, I mean I'm lazy, so I don't read hiragana and katakana fast and don't know difficult kanjis. The first trouble I got is when I was learning to record the numbers of unsold newspaper. It is super easy for me now, but oh my god at the first time, phew, I had to match many times the name of newspaper and the one written in the form. So tired. My eyes. There is a newspaper called スポーツ報ηŸ₯ (supootsu houchi) and I just knew few weeks ago that I always read the kanji wrong, I thought it was supootsu tsuuchi πŸ˜“

Well, konbini job really forces me to read more Japanese. But you know, most difficult thing for me until now, is... differentiate between R and L.

In my konbini, we sell coffee and the customer has to buy the cup from cashier and there are two sizes, regular and large. R and L.

In Japanese, there are no 'r' and 'l'. Their own 'r' is not really 'r', it is like between 'r' and 'l'. And they pronunce R as 'aru' and L as 'eru'. They pronounce regular, 'regyuuraa', and large 'raajii'. And I always mix up, until now. 

Sometimes, when the customer said she wants 'eru' cup, I think it is R since Indonesians pronounce R as 'er'. And it's hard for me to say 'regular' and 'large' in Japanese-English way, but if I said in normal English pronunciation way, they sometimes don't understand 😭

So what I do, if I'm not sure what cup they choose, I will just ask,

"So you want the big cup?"

"Is it the small cup?"

Safe.

Hisabisa Odekake δΉ…γ€…γŠε‡Ίγ‹γ‘

It means 'go out for the first time in a while.'

I'm having chuuyagyakuten seikatsu ζ˜Όε€œι€†θ»’η”Ÿζ΄» (life with day and night reversed) right now. For more than a week, I have been only sleeping in day time. Last night, I didn't sleep at all. I forced myself to sleep since I had to go to work at 5.40 am, but I ended up only slept one hour πŸ˜“

Last Sunday, I finished work at 1 pm and I felt so sleepy but then I decided to visit my friend's house. I had a hope also that maybe I could reverse my day and night after I come back home.

We walked around his neighborhood and took some pictures. So happy since I don't have new pictures in last two months. Selfie doesn't count. So happy also that I saw a charming omawarisan γŠγΎγ‚γ‚Šγ•γ‚“ (police officer) 😭 but maybe it's because he was wearing face mask. But happiest since I could see my friend la after so long time πŸ˜„

Here are some pictures we took that day. 

If you know me, this is my favorite picture style. Me standing full body and taken from faraway.







Even though I was so sleepy, I couldn't sleep until 3 or 4 am. Yeah, I didn't succeed to reverse my night owl life. And here I am, 12:53 and preparing to sleep. Not a siesta πŸ˜”

Convenience Stories: Humans Need Contact

I have been planning to write some stories about my experiences working in convenience stores. But too lazy 😀

Okay, here is my first story.

A little introduction about me, so currently I'm working in convenience store (guess what is it) and located near the most famous tourist attraction in Kyoto, Gion and Kiyomizu-dera Temple. Before the pandemic, half  of the customers were foreign tourists. But now I'm not going to talk about the customers. I am going to write about my partner at work.

There is a girl, who is working in my store, from China, she is my schoolmate, we were born in the same year, and we work(ed) (she stopped recently though) in other convenience store located inside Kyoto Station, but different branch. She is only two months older than me but she is way way more mature. She is so smart like she knows a lot of konbini (convenience store) life hacks and other life life hacks. If you want to know if there is any retail store or fast food restaurant giving freebies or discount, just ask her, like really. Since I am always sloppy at work, for example, putting 50 yen coin in 500 yen coin tray, or I dunno how to deal with new things (I am lazy to read kanji), she always help me.

I respect her so much. She is like one of smartest woman I know. As she almost don't use polite form to speak to customers, I always laugh when she serves the customers.

"ATATAME WA?" (Do you want us to heat this?)

"... WA NAI."

"ARIGATOU."

She never give an effort to speak in polite form or putting extra 'desu' in her sentences. I always giggle when I see her speaking like that πŸ˜‚

Even before the Japanese people were concerned about the pandemic, she has already started her preparation. She sent thousand of face masks for her friends in China before shops applied purchase limit. She is always with her stick shape virus blocker and putting gloves on her hands. She even stopped working in Kyoto Station to avoid the infection. She is very updated with the world news.

One day, one of our partner had a fever and had to take a rest for a week. She was more careful since this guy's body temp was 38.5°C while he was at working. (The next day, he was fine though). So the next day, when we were on the same shift, she asked me to do social distance from her. Okay, that's what we should do, right?

I was busy washing fryer machine so I was basically more than 2 meters from her. Only after 15 minutes, we were talking, and I was more than 1 meter away, she touched my shoulder and pat of my hand πŸ˜‚

I was like (I didn't say it out loud), "DID YOU JUST ASK ME TO KEEP OUR DISTANCE? AND NOW YOU TOUCHED ME?" πŸ˜‚

She is type of person who will give light touch when talking to friends. It's her habit so maybe she didn't even realize that she touched me πŸ˜‚

Well, despite of the social distancing rule, after all, humans need contact.

πŸ’™πŸ’™πŸ’™

As I enjoy my video call with my brother, I prefer to have him here, or I go to Indonesia. Currently, I want to go home after my cat who was away for more than two years returned home. Cat is so smart he still know his way home after wandering around... maybe the world?

My cat six years ago. Now he doesn't look like this at all

Hospital Visit in Covid-19 Period in Japan

I went to medical institution twice on March.

So, I have this problem.

In this corona era, everything is getting stricter. In my workplace konbini (convenience store), we have to check our body temperature before we start working. The first day this temperature measurement is applied, my body temperature was 37°C. It was okay since the rule is, if you have 37.5°C, you have to go home. But I remember last year when I worked in a factory my average body temp. was 36.4°-36.6°C. 

The second day, my body temp was 36.8°C. Safe.

After that day, my body temp has been always >37.5°C in the first check. One time, it was 38.1°C. My body was alright, I didn't feel any headache, I was not tired, no cough, no runny nose, no sore throat, I was real fine. After around 10 minutes waiting, my body temp decreased to 37°C. I realized that if I go to work by bicycle my temperature always high. Is it normal? I tried to go by bus and checked my body temp and it is normal.

I bought body thermometer since and check my temp almost every single day πŸ˜‚ I feel lucky I bought thermometer earlier, now it is hard to find thermometer πŸ˜”

Measured at the same time, same brand, different armpit πŸ˜‚
My konbini owner, of course, is worried. So she asked me to go to hospital and I went to hospital near my home in the next day. In the entrance of the hospital, there was an announcement for those who have fever more than 37.5°C more than four days in a row, they should come to receptionist and call Kyoto corona call centre before being examined by doctor.

I talked to the receptionist about my condition and I had to call the corona call centre. The staff from the corona centre asked me a lot of questions such as if I went to foreign country in recent two weeks, or did I meet someone with coronavirus. After he judged that I have low probability of infection, I returned to hospital and they welcomed me.

The doctor checked my body temperature again, and it was 36.9°C. I said what happened but he just said, it is fine. It was my first time to do nasal influenza test as well, and the result was negative.

I was given day offs for almost a week by my boss and I was able to work since then until now. Yokatta!

I had to go to clinic again since I had to submit medical certificate to school. Usually, my school hold medical check-up inside school every year. But since this year is quite different, they cancelled it and we have to go to hospital or health clinic by our own.

It was so surprising that in the clinic, the nurse didn't ask anything about fever and stuff. It was so smooth. I did the lungs x-ray as well, and there is no abnormality.

I feel lucky again that I did my medical check up earlier because now they are getting stricter and have been rejecting patients 😒 My school also extended the submission deadline because of this.

Really, it is not good to get sick in this period. So, we have to eat well, wear mask, wash hands regularly, and refrain from traveling.

By the way, now face mask is not scarce anymore, despite of the high prices. But flour, scarce, now. πŸ˜‚ Apparently everyone now is cooking at home.

Produk Indonesia yang Disukai Orang Jepang

Salah satu produk buatan Indonesia yang diminati oleh orang Jepang --dan saat awal mengetahuinya aku cukup terkejut-- adalah Ellips Vitamin Rambut.

Bisa dibilang Bali adalah salah satu destinasi favorit turis Jepang dan Ellips Vitamin Rambut adalah salah satu oleh-oleh yang paling sering dibawa pulang ke Jepang untuk diberikan kepada para teman dan saudara. Selain harganya terjangkau, tidak memenuhi koper, dan tentunya menawarkan perawatan rambut secara praktis.

Ternyata di Jepang sendiri, cukup mudah untuk menemukan Ellips ini. Bahkan ada vitamin rambut merek lain seperti Sasha dan Miranda. Oh ya tahu kan, gara-gara musim korona pembelian masker dibatasi tiap customer. Sedangkan vitamin rambut buatan Indonesia ini, kalau di toko 100 yen ada pembatasan pembelian juga lho. Saking diminatinya, kali ya. Jujur aja aku sangat proud πŸ˜‚

Dan menurutku produk vitamin rambut ini lebih mudah ditemukan ketimbang Indomie Mi Goreng. Seriusan. At least di daerah tempatku tinggal sekarang.

Kalau merek Ellips dibatasi dua per customer, yang lain bebas.
Waktu aku WHV-an di Australia, aku sempat pulang ke Indonesia, aku juga sempat memberi oleh-oleh Ellips buat dua roommate Jepangku. Aku juga membawa oleh-oleh khas Indonesia lain yang ternyata mereka sangat suka juga.

Tebak apa coba!
Beberapa di antaranya ada di artikel di link ini ya:


Gimana?
Ada yang suka juga produk-produk dalam daftar listku? Semoga bisa jadi referensi buat ngasih oleh-oleh temen Jepangmu ya.

πŸ’™πŸ’™πŸ’™

My latest pic.
Semoga kita semua sehat, ya. Di musim korona ini, alhamdulillah aku masih bisa kerja, bahkan hampir tiap hari kerja karena kalau ada yang punya suhu 37,5 derajat langsung disuruh pulang dan aku diminta gantikan. Mulai minggu ini kerjaku berkurang, sekolahku juga akan mulai besok dan via online. Nggak tahu lah bakal gimana πŸ˜„

Sekarang sebenarnya Golden Week, libur panjang orang Jepang yang biasanya dihabiskan buat traveling domestik atau ke luar negeri tapi tahun ini sepertinya liburannya di rumah dulu ya. Jadilah Kyoto yang kota wisata yang hampir setiap hari ramai, sekarang sangat sepi dan naik bus biasanya cuma ada 2-3 orang penumpang. Senang, tapi sedih. Sedih, tapi senang. Ah au ah. 

Karena aku biasanya keluar cuma buat kerja dan belanja, akhirnya aku main ke rumah teman dua hari lalu, dan jalan-jalan keliling daerah rumahnya πŸ˜‚ sama sekalian foto-foto. Rekor banget lah dua bulan nggak main ke mana-mana (eh main, sih) dan nggak makan mekdi 😒 Semoga cepat berlalu... 

Oh ya, jangan lupa mampir ya...


Barangkali bisa kasih tahu aku produk Indonesia lain apalagi yang digemari orang Jepang. 😘