Benci adalah Kata yang Kuat

Dalam Bahasa Jepang, benci adalah 'kirai'.

Aku benci kamu = anata kirai.
Aku benci kopi = kohii kirai.

Entah perasaanku saja tapi orang-orang sekitarku yang hanya sedikit itu seperti mudah sekali mengatakan kata 'kirai'. Ada seorang teman, orang Jepang, dengan mudahnya bilang, "Aku benci kakekku. Aku pengen dia cepet mati." πŸ‘€ Aku hargai kejujurannya tapi seriusan bisa punya pikiran seperti itu? Wow.

Ada juga seorang teman, bukan orang Jepang. Dia ini perempuan, sedang sekolah S3, dan temanku bekerja di minimarket. Sebut saja namanya Sonia. πŸ‘€ Waktu itu kami membahas soal salah satu staf lain, laki-laki yang berkewarganegaraan sama dengan dia, sebut saja Benjamin. Beberapa orang benci Benjamin, termasuk si Sonia ini. Yang padahal si Sonia ini jarang bekerja dalam shift yang sama dengan Benjamin.

"Dia itu kan bodoh ya. Aku benci banget sama orang bodoh. Udah gitu aku jijik sama dia."

 πŸ‘€ πŸ‘€ πŸ‘€ 

Aku sendiri agak jijik sama Benjamin karena dia pernah mengunggah fotonya hanya dengan pakai celana dalam. Jadi bentuk itunya kelihatan. πŸ˜‚ Tapi selain itu aku merasa Benjamin adalah orang yang baik banget dan tidak egois. Dia bodoh? Menurutku semua orang ada sisi bodohnya dan aku tidak punya alasan apapun untuk membenci Benjamin.

Aku pernah kerja satu shift tengah malam dengan Benjamin dan ia selalu menyuruhku untuk santai dalam bekerja. Ngga usah keburu-buru. Dia selalu membantuku kalau aku tidak paham. Dia juga pernah membelikanku cokelat Godiva. πŸ˜‚ Waktu kami kerja satu shift, kami selalu jalan kaki bersama arah pulang sampai kami berpisah karena rumah kami beda arah. Kami suka bertukar cerita dan menurutku dia orang yang sedikit polos dan jujur. Tapi sejak korona kami tidak pernah kerja satu shift apalagi aku lebih memilih kerja shift pagi.

"Tapi Benjamin baik tau..." begitu kataku ke Sonia.

"Baik itu ngga cukup tahu buat jadi cowok. Aku ngga bisa kalo harus pacaran sama orang yang kaya gitu." Dalam batinku, ya emang iya, tapi kaya Benjamin mau sama kamu aja. πŸ˜‚

Di tempat kerja beberapa orang juga bilang benci sama bos kita. Dan kaya bilangnya hampir setiap ketemu aku kalau mereka ini 'benci' sama si bos.

Ya memang sih dia cerewet tapi orangnya baik, suka ngasih-ngasih. Aku ngga sebel gimana sih sama bos ini.

Ya namanya manusia biasa, aku juga suka kadang kesel sama orang tapi abis kesel ya udah, ngga trus langsung jadi benci apa gimana. Ngapain, kayak buang-buang energi aja.

Baru-baru ini, ada seorang teman yang tadinya lumayan akrab dan saat itu sedang mabok. Kemudian dia mengirimi aku pesan suara yang berkata kalau aku adalah perempuan paling murahan yang pernah ia temui. πŸ‘€

Jujur saja aku ngga sakit hati sama sekali, soalnya sudah beberapa kali dia ngatain aku. Cuma aku jadi jaga jarak dan nggak mau kontak lagi sama temanku ini. Ngapain berteman sama orang yang ngomongnya kasar. Yang ada bikin hati capek, buang-buang energi.

Kalau ditanya benci apa engga, ya bagian itu sih benci tapi selain itu orangnya baik sebenarnya. Tapi ya manusia ya ada sisi baik ada sisi buruknya. Kebetulan saja aku ngga bisa tahan dengan sisi buruknya saja.

Soal makanan, aku juga kayaknya ngga pernah yang benci sama makanan trus jadi sama sekali ngga makan. Jarang sekali makanan yang aku anggap ngga enak sampai-sampai aku ngga bisa makan. Aku yang kurang bisa makan pedas pun sekarang kadang-kadang mulai memasukkan bubuk cabe ke dalam Indomie Gorengku. Kalau export kayaknya bubuk cabe ya bukan sambal. Itu pun nggak masukin bubuk cabe semuanya, separuh pun nggak ada. πŸ‘€

Mungkin ada yang ngga enak banget sampai ngga bisa makan buatku tapi belum kepikiran. Nanti kalau ketemu aku tulis. Meskipun ngga ada yang baca. πŸ‘€

Ngga tahu ya, menurutku benci tuh kata yang kuat banget. Makanya kan banyak yang bilang kalau sama orang atau sesuatu jangan benci-benci banget karena yang ada nanti jatuh cinta.

Mungkin karena itu juga kali ya, sampai sekarang kayaknya aku nggak pernah jatuh cinta-jatuh cinta amat. πŸ‘€

Ngga Sadar Kalau Rasis

"Aku ngga suka kalau kamu bilang aku mirip George."

Begitu yang temanku bilang kepadaku. George itu karakter monyet dari Curious George dan aku punya bonekanya yang sudah menemani hidupku hampir 25 tahun. Aku punya teman kulit hitam yang potongan rambutnya mirip George dan aku pernah melihatnya saat celananya melorot (sedikit doang πŸ˜‚) sehingga menurutku makin mirip dengan boneka George-ku yang pakai baju tapi tidak pakai celana.

Aku ngga sadar kalau aku suka mirip-miripin dia sama boneka George itu menyakiti perasaannya. Dia pun bilang kalau orang kulit hitam tuh sensitif kalau dikatain seperti monyet karena mereka dari sejarahnya memang sering dikatain mirip monyet.

Aku pun bilang kalau aku bilang dia mirip George bahkan ngga kepikiran karena kulitnya hitam. Apalagi di Indonesia perasaan biasa kalau ngatain orang kaya monyet. Dan menurutku manusia kan memang mirip monyet. πŸ‘€

Boneka George-ku merupakan sebuah hadiah dari teman ibuku yang berasal dari Amerika Serikat. Dia membelikanku boneka George karena dia merasa George mirip denganku. πŸ˜‚ Dari kecil sampai sekarang, aku hidup bersama George tidak pernah tersinggung kalau dibilang mirip boneka monyet. Ibuku juga ngga tersinggung anaknya dikatain kaya monyet. Dalam hati ibuku paling, "Emang mirip." πŸ˜‚

Tapi yang menurutmu biasa aja kan belum tentu buat orang lain biasa saja kan. Menurut kita kayak becanda aja tapi ternyata menurut orang lain bikin sakit hati.

Aku jadi belajar untuk lebih berhati-hati dalam berucap.

Aku punya teman yang badannya cukup besar dan kami saling memanggil satu sama lain 'ndud'. Aku pribadi tidak tersinggung dipanggil 'ndud' karena emang gendut. Tapi aku memastikan temanku kalau-kalau dia tersinggung. Karena hati orang siapa tahu kan? Tapi kata dia gimana tersinggung wong aslinya gendut, kalau dibilang kurus malah tersinggung. πŸ˜‚

Semacam juga ada salah satu seleb internet yang 'marah-marah' karena ditanya apa agamanya dan dia tersinggung. Ada yang komen kayak ngapain tersinggung. Tapi menurutku itu kan masing-masing orang ya, ada yang tersinggung ada yang biasa saja.

Hito sore zore, kalau kata orang Jepang.

Orang tuh ya masing-masing, beda-beda.

Rasis Ngga Sih?

"Dong-san lebih hitam dari Vincent-san."

Kira-kira seperti itu kalimat yang dilontarkan oleh teman sekelasku yang berasal dari Taiwan di kelas Bahasa Jepang lima tahun lalu ketika guru menyuruhnya membuat kalimat dengan menggunakan perbandingan. Aku cukup terkejut karena di kelasku yang beragam bangsanya sepertinya melontarkan kalimat seperti itu sangat tidak appropriate.

Untungnya guruku cukup bijak dan memberitahu temanku bahwa kita tidak boleh membandingkan orang dari warna kulit karena itu diskriminasi.

Baru-baru ini aku berpartisipasi dalam acara Nihongo Benkyokai yang kira-kira artinya 'pertemuan belajar Bahasa Jepang'. Di acara ini pelajar-pelajar asing belajar bercakap dalam Bahasa Jepang dengan support staff yang merupakan pelajar Jepang yang belajar Bahasa Jepang untuk menjadi guru. Biasanya kami diberi satu topik kemudian kami dibagi dalam beberapa grup kecil di breakout room. Karena orangnya sedikit jadi satu breakout room isinya hanya dua orang, satu pelajar asing satu pelajar Jepang.

Acaranya hanya satu jam dan cukup terasa cepat hingga penyelenggara acara pun memperpanjang waktu supaya kami dapat mengobrol. Kami dibagi lagi dalam breakout room dengan partisipan yang lebih banyak. Kami dibebaskan untuk bicara apa saja dalam grup. Sampai seorang yang berasal dari Hong Kong menceritakan asal-usulnya kalau ibunya berasal dari Indonesia.

"Tapi ibu saya tidak seperti Una-san, kulitnya putih, mukanya tidak seperti orang Indonesia, lebih mirip orang Asia."

πŸ‘€

Iya emang aku hitam, sih.

πŸ‘€

Kebenaran

Meskipun, aku jarang menikmati karya artis Indonesia, seperti film, sinetron, atau lagu, kadang-kadang ada berita infotainment yang membuatku penasaran sih. Salah satunya, seperti berita artis atau orang terkenal pindah agama. Aku ngga ikut hepi kalau ada artis pindah ke agama yang sama denganku dan ngga sedih juga kalau ada yang pindah agama lain. Soal itu, aku lebih ngga peduli karena menurutku itu pilihan masing-masing.

Cuma aku tetep penasaran.

Kemarin aku bersih-bersih kamar sambil mendengar wawancara kakaknya Alyssa Soebandono yang pindah agama Kristen. Pas dia bilang kalau awalnya keluarganya ngga bisa menerima, trus kemudian ayahnya bilang kalau apapun yang anaknya pilih, dia tetap cinta anaknya, aku terharu. Aku meneteskan air mata sambil ngepel lantai kamar. I feel it's just beautiful meskipun orang tua kecewa sama keputusan anak tapi akhirnya menerima karena ya cinta sama anaknya. Aku pernah mendengar beberapa cerita orang tua ngga menganggap anaknya lagi sebagai anak hanya karena pindah agama. Sedih aja.

Aku jadi merasa beruntung dibesarkan di keluargaku. Mamaku tuh mengakunya sejak umur tujuh tahun ngga pernah meninggalkan shalat. Setahuku mama dulu juga kadang shalat tahajud. Tapi waktu aku kecil pun, aku punya satu buku tebal untuk anak-anak tentang bible yang diceritakan menggunakan gambar-gambar gitu. Waktu aku umur 4 tahun, kami juga pernah pergi ke gereja tempat Yesus lahir. Mamaku paling suka pergi ke candi. Aku juga sering diajak bapakku main ke candi di pelosok, klenteng, atau Buddist Monastery gitu. Aku sama mamaku kalau pergi ke kuil di Jepang ya juga berdoa. Di Jepang aku beberapa kali pergi ke acara salah satu sekte Buddha Jepang gitu yang cukup kontroversial. πŸ˜‚

Tapi ya tidak membuatku pengen pindah agama. Agama yang sekarang aja kurang ibadah, mau pindah agama lain. Buatku, pindah agama itu tidak ada gunanya, no debate, menurutku ya. Karena yang mengajarkan kebaikan ya semua oke, semua indah. Menurutku yang bodoh ini, kebenaran itu ngga hanya satu. Ya ngga tahu lah, males mikir. 😚

Oke, jadi ceritanya kepikiran kayak gini karena beberapa hari lalu heboh Rachel Vennya lepas kerudung. Seru aja bacain komen netizen πŸ˜‚ Tapi menurutku banyak yang jahat sih. Ya suka-suka RV lah mau pakai baju kayak gimana. πŸ˜‚

Menurutku, RV mau pakai kerudung atau enggak ya sama cantiknya. Menurut banyak orang Indonesia sih, katanya perempuan lebih cantik kalau pakai hijab, ah menurutku sih ngga juga. Ada yang lebih cantik kalau pakai hijab, tapi ada yang lebih jelek kalau pakai hijab. πŸ˜‚

Aku tuh dari SD sampai SMA selalu pakai kerudung kalau sekolah. Kalau keluar ngga pakai, tapi kadang pakai juga kalau pergi sama teman sekolah. Waktu SMA, foto Facebookku ngga pakai kerudung, trus pas lagi ulangan umum, guruku nyamperin dong, cuma buat nanya, "Kok foto Facebooknya ngga pakai kerudung?" πŸ‘€

Waktu jaman SMA, beberapa teman memutuskan untuk memakai kerudung. Beberapa teman juga cukup kaget melihatku kalau pergi di luar tidak pakai kerudung. Bahkan ada yang kecewa dan menyayangkan keputusanku, yang bahkan tidak aku putuskan karena dari dulu kalau pergi ngga pakai kerudung. Lalu beberapa tahun kemudian, temanku yang kecewa dan mengomentariku karena aku ngga pakai kerudung ini memutuskan untuk lepas kerudung. πŸ˜‚

I'm like πŸ‘€

Menurut aku sih semua itu tidak apa-apa. Mau pakai kerudung, oke, engga juga, oke, mau pakai lepas pakai lepas, oke. Ngga penting ah. Bahas yang lain aja. πŸ˜‚ *tapi tetep bacain komen netizen di kolom komentar Rachel Vennya*

Ada Rambut di Makanan

Aku tuh geli banget sama rambut. Adalah hal yang menggelikan buatku untuk memakai sisir orang lain. Meski aku sisiran kayak sebulan sekali, sih. Serius. Mungkin pengaruh dari mama juga yang orangnya gelian sama rambut. Jijik kalau lihat sisir orang lain, atau rambut jatuh di lantai kamar mandi tapi ngga dibersihin? Ngomel-ngomel. πŸ˜‚

Berapa tahun lalu ya, aku makan di restoran di Grand Indonesia yang aku lupa namanya. Kalau ngga salah Publik Markette, tapi mungkin bukan di situ. Waktu itu aku makan sama mama dan adikku. Aku pesan sepiring pasta yang aku lupa apa judul makanannya. Maaf lupa mulu, anaknya pelupa. Kayaknya semacam tipe aglio olio dan ada toppingnya sosis. Kalau makan pasta aku lebih suka yang tomato based atau pesto alla genovese tapi kok waktu itu lagi mood makan yang simpel semacam aglio olio. Aku juga ngga suka sosis kok waktu itu pesen itu ya. πŸ˜‚

Di menu ada tanda cabenya yang berarti masakan pasta yang aku pesan bakal pedas. Kalau kamu ngga kenal aku (sok banget gue ngomong kayak gini), aku tuh ngga bisa makan pedas. Aku ngga pernah makan gorengan pakai cabai, aku ngga pernah makan nasi pakai sambal yang diulek. Tapi pas lihat tanda cabai di tulisan pasta yang ingin aku pesan, aku kayak, ya udah lah ya, kayaknya aku bisa handle pedasnya pasta. Kayak bakal sepedas apa sih.

Sialan, ternyata pedes banget. πŸ˜‚ Mau makan rasanya butuh energi lebih banyak ketimbang dapat energi dari makanannya. Mamaku udah kayak, "Kalau ngga kuat ya udah ngga usah diterusin." Tapi kan mubazir ya makanan ngga diabisin, at least coba lagi buat ngga terlalu banyak menyisakan. Sampai akhirnya aku melihat sehelai rambut di piringku.

Ngga yang kesel apa gimana sih, ya menurutku menjijikkan tapi cuma kayak, wih ada rambut. Toh selera makanku sudah hilang dari awal karena ngga kuat pedasnya. Bisa juga itu rambutku meskipun aku menaksir kemungkinannya kecil itu rambutku karena rambutnya lurus. Trus stafnya, entah manager atau kalau waiter tuh kayak kepalanya gitu lah, ngeh dong kita ngomongin rambut. Trus kayak nyamperin dan tanya ada apa. Aku bilang saja kalau di piring ada rambut. Tanpa basa-basi, masnya langsung bilang, "Maaf sekali. Kami ganti yang baru, ya."

Aku langsung terpana sih, wow servisnya bagus sekali. Tapi kalau diganti, aku juga ngga kuat makannya. πŸ˜‚ Akhirnya, kayaknya aku bilang ngga usah ganti. Eh, apa akhirnya diganti ya? Kok aku lupa sih. πŸ˜‚ Yang aku inget servisnya doang sih top. Makanya aku mention tempatnya kok ngga yakin, kayaknya Publik Markette bener sih. πŸ˜‚

Sampai akhirnya aku sekarang tinggal sendiri dan mulai rajin masak. 

Dan aku sering menemukan rambutku di makanan. πŸ˜…

Rambutku tuh hampir sepinggang, kalau direbonding sih, dan yang aku temukan rambut-rambut pendek sekali kayak dua tiga sentimeter. Masalah rambutku saat ini sih sering patah, makanya sering rambut pendek berjatuhan. Apa jangan-jangan itu adalah rambut ketekku? 

Geli, makanya aku kalau masak sekarang selalu mengikat rambut, itu pun sekali dua kali masih menemukan. Tapi kok kayaknya bisa memaafkan kalau masakan sendiri ya.

Pernah aku jajan bakpao di Lawson, pas bungkus bakpaonya aku buka ada rambutnya dong jeng jeng jeng! Tapi aku kayak, ya udah lah ya. πŸ˜‚ Jorok tapi, alah kayak mbaknya ngambil di tempat bakpaonya cuci tangan dulu aja? Emang tangan dia bersih? Paling ngga juga. Rambut doang? Ya udah lah ya. πŸ˜‚

Yang Ingin Aku Ucapkan Kepada Wahai Customerku #2

Saking banyaknya yang ingin kukatakan kepada customer-customer minimarketku, baik yang reguler maupun tidak, mungkin postingan ini bakal berseri banyak. 

♥ Kepada nenek 90 tahun yang punya toko acar yang sepertinya cukup hitz di Kyoto

"Apakah cucunya boleh buat saya?"

Jadi ada satu nenek-nenek yang tiap hari ke minimarketku. Aku pernah tanya umurnya tapi lupa sih kalau ngga 88 tahun ya 92 tahun. Udah tua banget, jalan sudah susah, pelan dan kadang pakai tongkat, agak pikun, kalau mau bayar aja dia tumpahin tuh dompetnya trus suruh aku ngitungin. πŸ˜‚ Tapi masih tampak sehat dan kayaknya dia kayak disuruh anggota keluarganya buat belanja di minimarket, soalnya suka bawa memo, sepertinya sih biar sekalian olahraga juga.

Karena aku suka ngga paham orang ngomong, kadang suka ngga paham dia ngomong apa. Ya aku jujur aja bilang kalau ngga paham dan nenek ini bakal ngomong lagi pelan-pelan. Beberapa kali dia bilang dia sudah mau mati saja, sudah ketuaan πŸ˜‚ Dia juga pernah cerita kalau seminggu dua-tiga kali dia mengepel rumahnya yang lima lantai dengan tangan. Buat exercise, katanya. 

Dia ini punya cucu cowok tinggi banget bahkan hampir setinggi pintu minimarketku. Aku ngga pernah ngomong sama dia selain soal pembayaran. Aku cuma pernah tanya tingginya dia berapa, itu pun aku ngga kedengeran, cuma denger sampai 'seratus sembilan puluh.....' ngga tahu 192 atau 193, tinggi banget yang jelas. Orangnya bukan yang ramah suka nyapa-nyapa, tapi ngga jutek, kayaknya orang baik, ganteng lagi. Ngga naksir sih, cuma seneng aja liat orang ganteng. πŸ˜‚

♥ Kepada om-om yang selalu beli Marlboro Dry Menthol

"Cieee, pernah ngajak date F-san dan ditolak ya."

Om-om ini salah satu customer favoritku. Orangnya kayaknya sudah 60-an, rambutnya banyak yang putih tapi kayak om-om keren gitu, dan ramahnya minta ampun, murah senyum banget sampai di matanya berkerut. Rumahnya deket toko cuma kadang suka naik mobil BMW-nya mungkin pas mau pergi. Denger-denger kerjanya sih fotografer dan pernah ke Jogja juga loh.

Kalau ketemu pasti nanya kabarnya gimana, keluarga di Indonesia gimana, sehat terus kan, dan lain-lain. Cocok dijadikan sugar daddy tapi aku lebih prefer bapak-bapak yang aku ceritakan di postingan pertama. πŸ˜‚ Aku tuh suka sebut-sebut sugar daddy bukan aku lagi mencari sugar daddy beneran loh ya. (Lebih ke pengen jadi sugar mommy sih. Ngga deng.)

Gara-gara ada kakek-kakek yang pernah ajak aku nonton bioskop, aku cerita ke staf lain sebut saja F-san. Eh dia malah cerita kalau dia juga diajak nge-date sama om-om keren ini. πŸ˜‚ Katanya si om ini memberinya surat. πŸ˜‚ Aku kok sirik ya, F-san yang umurnya dua kali aku diajak nge-date sama orang yang lebih keren dari kakek-kakek itu. πŸ˜‚ Tapi tentu saja F-san menolak karena dia juga punya pacar.

♥ Kepada mas-mas host yang selalu membuang napkin yang kuberi

"Parfumnya mereknya apa sih, Mas? Enak banget qusuqa deh."

Banyak customer reguler yang bekerja sebagai host dan hostess yang tinggalnya di lantai atas atau di sekitar minimarketku. Kalau di Jepang, host itu adalah orang yang bekerja di klub malam yang kerjanya menemani tamu minum. Ada satu orang mas-mas host yang setiap hari mampir. Kadang-kadang hanya beli minuman saja, tapi kadang beli makanan atau bento juga.

Di Jepang itu ada yang namanya oshibori atau otefuki, yang merupakan handuk untuk membasuh tangan sebelum makan. Kalau makan di restoran di Jepang, ngga mungkin ngga ada oshibori. Kalau di minimarket kita menyediakannya dalam bentuk tisu basah. Kalau ada customer beli makanan, biasanya kita kasih otefuki.

Mas satu ini tuh kalau beli bakpao, trus aku kasih otefuki, eh trus dibuang dong ke tempat sampah. Udah berkali-kali kaya gitu. Maksud aku, kan bisa dibalikin atuh mas! Kan sayang πŸ˜“ Kalau misal beli bento sih, kadang dia beli tas kresek jadi tisu basahnya aku masukin ke kreseknya jadi ngga dibuang.

Gemes sih tapi ya udah lah. Anyway, masnya ini pake parfum aku suka banget. Baunya manis dan menurutku unisex, buat cewek rasanya juga gapapa. Aku penasaran tapi mau nanya gimana gitu. Orangnya ngga jutek sih cuma host tuh kadang serem kalau marah πŸ˜‚

Yang Ingin Aku Ucapkan Kepada Wahai Customerku

Sebagai manusia yang normal kalau suka komentar tentang orang lain, kadang rasanya aku pengen mengeluarkanku pendapatku atau mengatakan sesuatu kepada customer-customer yang aku hadapi. Entah karena cantik/ganteng, rese, membingungkan, baik, dan lain sebagainya. Kalau misal customer reguler yang datang habis potong rambut sih aku langsung bilang, "Wah, abis potong rambut ya!" Aku menganggap ucapan seperti ini tidak menyinggung privasi dan sedikit berharap customernya senang karena merasa diperhatikan. Kadang-kadang pengen bilang sama customer reguler yang tiba-tiba gendutan, "Gendutan ya?" tapi kan ngga mungkin.

Ini dia beberapa hal yang ingin kuucapkan kepada customer minimarketku.

♥ Kepada customer regulerku seorang laki-laki yang tiap hari membeli air mineral 1.5 liter, selalu menggunakan pembayaran Quicpay, yang mengalami kebotakan dini, tapi tampak muda.

"Kayaknya aku bisa ngaca deh di jidatmu." 

Jahat ya πŸ˜‚ Tapi sumpah jidatnya lebar dan kinclong banget.

♥ Kepada kakek-kakek 69 tahun yang mengajakku nge-date.

"Astaghfirullah al 'adzim! Ogah! Eh, btw, rambutmu wig bukan sih? Btw lagi, udah lama banget ngga lihat deh, kirain udah meninggal."

Ada satu kakek-kakek yang selalu beli rokok Echo. Kebetulan dia pernah meninggalkan kartu identitasnya di mesin fotokopi berkali-kali jadi aku tahu umurnya. Beberapa kali dia mengajakku nonton bioskop dan makan unagi. Tapi ogah lah, masalahnya dia kakek-kakek yang kesepian gitu, takut lah, serem kalau diapa-apain.

Dia tuh punya rambut yang agak aneh, seperti pakai wig. Makanya aku pengen tanya apa wig atau bukan. Selain itu, sempat sebulan lebih aku ngga ketemu orang ini di toko sempat mbatin apakah sudah tiada. Meskipun aku agak-agak takut dengan customer satu ini, tetap saja aku berharap semoga dia sehat-sehat saja. Eh dia dateng, trus bilang ke aku, "Wih lama banget ngga liat kamu. Pasti kamu kira aku udah meninggal kan?" πŸ˜‚ Tahu aja.

♥ Kepada customer yang selalu datang sekitar pukul tujuh pagi, umur sekitar 50-an, selalu membeli air mineral, dan dua onigiri. Kadang-kadang membeli cokelat Meiji.

"Apa bapak mau jadi sugar daddy-ku?"

Becanda sih tapi bapak ini tuh berwibawa (kok kaya nama gue?) banget dan ramah banget sama aku. Salah satu customer paling ter-love-ku lah. Misal nih ya dia mau bayar ke kasir, ada tiga kasir kosong, dia milih kasirku meski yang bukan di depannya persis. Awww~ 

Ada satu staf cowok di minimarketku yang biasa menyebut bapak ini 'papa'. Kalau bapak ini dateng, dia bakal bilang, "Eh ada papa, ada papa." πŸ˜‚ Saking love-nya sama bapak ini, pernah muncul di mimpiku. πŸ˜‚

Masih banyak lagi, terusin kapan-kapan.

New Cover Israel National Anthem (Hatikvah)

Kalau teman-teman, temanku di Instagram atau Facebook, mungkin udah lihat postingan cover terbaruku. 

Aku punya dua cover lagu kebangsaan Israel, Hatikvah, yang diiringi piano. Yang pertama dibuat tahun lalu, yang baru dibuat beberapa hari yang lalu. Rekamannya direkam terpisah ya, karena yang main piano juga bukan aku. Yang main pianonya seorang remaja Indonesia yang sangat multitalenta. Idolaque lah πŸ˜‚

Ceritanya kan aku kadang suka upload rekamanku ke Youtube, biasanya cuma vocal atau pakai minus one. Maunya sih pakai musik main sendiri tapi kok ya ngga bisa kalau suruh main bagus. Aku pernah upload rekamanku vocal only Hatikvah di Youtube empat tahun lalu. Kayaknya sih ngerekam suaranya udah 5-6 tahun lalu. Waktu masih muda lah rekamnya. Suatu hari, sekitar tahun lalu, ada yang menghubungiku via Instagram untuk minta izin pakai suaraku. πŸ˜‚ 

Becanda, kan? πŸ˜‚

Setelah dia meng-compile suaraku dan permainan pianonya, aku mendengar hasilnya. Dan omaga, aku ternyata kalau nyanyi temponya asal πŸ˜‚ Dari dulu anaknya emang gitu, kalau nyanyi apa main piano (ya nggak sejago adeknya tapi dulu bisa dikit) temponya ke mana-mana. Pernah waktu SMA, trus ikut konser diiringin orkestra, aku lihat rekamannya. Omaga, kasihan yang ngiringin aku. πŸ˜‚ Aku mainnya ngebut. Padahal pas maju nggak deg-degan, cuma bawaannya pengen cepet kelar.

Anyway, orang yang menghubungi aku ini minta aku menyanyi lagi on tempo tapi aku lupa tahun lalu sibuk apa ya kayaknya ngga pernah sibuk trus aku nggak merekam suaraku lagi aja. Sampai akhirnya beberapa hari lalu aku merekam suaraku lagi sesuai tempo 73 trus keesokan harinya dia main pianonya.

Pertama kali aku mendengar rekamannya posisiku lagi di Konsulat Jenderal di Osaka karena aku lagi perpanjang paspor. Pas aku mendengarkan bagian openingnya. Uwooo~ bagus banget. Trus pas suaraku masuk? Harusnya nggak perlu ada suaraku. Pianonya bagus banget 😒 Yang tahun lalu juga bagus tapi yang kali ini lebih keren lagi. Kalau belum denger, denger dong...


Aku sudah tahu sih si adek pianis ini lebih muda tapi nggak nyangka umurnya sedekade lebih muda daripada aku, lol. Udah tua banget ya aku. Udah gitu bisa main harpa, biola jugaaa. Uwooo... aku sirik. 😏 Dulu waktu muda aku ngapain aja ya.

Bagus kaaan rekamannya?

Dosa gue sebagai pegawai minimarket #2

Lupa nge-scan barang

Kalau ada customer mau bayar, sebagai kasir kita harus nge-scan barcode yang ada di kemasan supaya data barang terbaca di mesin cash register. Setiap nge-scan, ada bunyi 'tiiit' yang menandakan kalau barangnya berhasil ter-scan. Nanti muncul lah nama barang dan harga di layar kasir. Biasanya setelah selesai scan aku mengecek ulang apakah jumlah yang aku scan sama dengan yang terdaftar di layar kasir melalui angka. Misalnya barang yang dibeli ada lima, maka aku lihat layar kasir apakah barang yang terscan ada lima. Di layar kasir, di sisi paling kiri tabel yang menunjukkan barang di-scan ada angkanya.

Karena aku agak membutuhkan waktu lama untuk membaca huruf Jepang, biasanya aku pusing kalau, barang yang dibeli hanya enam tapi yang ter-scan ada tujuh! Berarti ada yang kelebihan, entah aku scan dua kali, atau dari customer sebelumnya yang cancel atau pakai uang pas tapi belum ku-clear. Aku harus mencari barang mana yang tidak dibeli atau kelebihan. Sebaliknya aku lebih pusing lagi kalau barang yang dibeli enam, tapi yang ter-scan hanya lima! Berarti aku ke-skip nge-scan salah satu barang. Yang mana? Ini aku terpaksa baca list barang yang ter-scan satu per satu deh.

Aku berusaha tiap scan barang selalu melihat layar kasir, tapi namanya manusia kadang melakukan kesalahan ya. Beberapa kali aku sadar kalau kurang scan setelah orangnya pergi atau setelah orangnya bayar. πŸ˜‚ Pernah suatu hari ada orang beli dua rokok dan dua kopi habisnya dibawah 1000 yen, dalam hati kok murah ya. Orangnya yang beli sudah pergi sih. Pas aku cek journal, tahunya aku hanya memasukkan rokoknya satu kali. πŸ˜‚

Pernah juga ada orang beli roti dan beberapa onigiri, dan aku kurang scan satu barang. Aku sadar tepat setelah dia menarik kartu kreditnya. Karena antrean sangat panjang, trus aku dalam hati kayak, "Ya udah lah ya." πŸ˜‚ Kebetulan minimarket tempat kerja aku yang ini dimiliki oleh perusahaan gede di Jepang. Jadi rugi 100-200 yen, nggak apa-apa lah ya. πŸ˜‚

Tidak mengembalikan uang refund customer

Kalau ini bukan lupa ya, lebih ke waktu itu masih awal-awal kerja, jadi masih belum tahu. Nah, pemilihan pembayaran di minimarket kan jenisnya banyak. Bisa bayar pakai uang tunai, kartu kredit, kartu debit, barcode payment, dan e-money. Kalau misalnya bayar pakai barcode payment tuh, misalnya mau return barang atau refund (misal, karena kelebihan scan), uangnya akan dikembalikan langsung dari aplikasi barcode payment-nya. Kalau misalnya bayar tunai, ya dibalikin uangnya tunai.

Suatu hari, ada orang beli suvenir dan beberapa makanan. Setelah usai membayar ternyata dia ingin receipt yang terpisah, sepertinya karena dia mau minta reimburse kantor. Ya sudah, yang harus aku lakukan pertama kali adalah 'refund' uangnya. Customer tersebut menggunakan e-money Suica. Awalnya aku mengira kalau refund pembayaran menggunakan e-money tuh ya otomatis dikembalikan ke e-money-nya.

Aku tidak sadar kalau salah lah waktu itu.

Beberapa hari kemudian aku baru tahu kalau refund pembayaran dengan e-money tuh dibalikinnya pakai uang tunai πŸ˜‚ Dalam hati, pantesan di mesin kasir angkanya ditunjukkan dengan angka merah dan negatif. πŸ˜‚ Mana lumayan lagi sekitar 1400 yen. Maaf ya, Pak. Kayaknya sih ngga ada komplain dateng. Aku taksir sih bapak ini pegawai kantor yang rata-rata kalau charge e-money tuh bisa 10000 yen sekali charge dan ngga terlalu memonitor penggunaan, jadi kayaknya bapaknya sih nggak sadar. Karena bapaknya pakai Suica, kemungkinan bapaknya tinggal di daerah Kanto (Tokyo dan sekitarnya), jadi ngga balik lagi ke tokoku. πŸ˜‚

Dosa gue sebagai pegawai minimarket

Di postingan kali ini aku mau pengakuan dosa.

Melakukan kesalahan itu sangat amat wajar. Namanya juga manusia. Sebagai pegawai minimarket yang selalu ada barang baru tiap hari, promo ganti tiap minggu, sistem update berkala, customer yang sumbunya terlalu pendek, rasanya ngga mungkin tiap kerja ngga melakukan kesalahan. Pasti ada aja miss, meskipun sedikit. Tapi ada beberapa kesalahan yang bikin aku merasa berdosa banget πŸ˜‚

Menjual makanan mengandung babi ke orang vegetarian

Waktu sebelum masa korona, banyak banget turis asing yang mampir ke minimarketku. Di minimarket kan jualan gorengan yang jenisnya sekitar sepuluh lebih. Suatu hari ada turis asing berkulit putih dan tidak bisa Bahasa Jepang mengaku vegetarian dan bertanya apakah kroket yang dia tunjuk mengandung daging.  Aku pun berjalan ke depan etalase gorengan untuk memastikan, aku membaca judulnya 'Vegetable Croquette' dalam Bahasa Inggris.

"Oh ini kroket sayur, jadi tidak apa-apa."

Terjuallah satu kroket sayur. Berapa menit setelah orang itu keluar, aku melihat papan harga gorengan dan ternyata ada gambar muka babinya. Jadi meskipun dalam Bahasa Inggris judulnya 'Vegetable Croquette' ternyata mengandung hewan juga. 😭😭😭 Aku baru sadar setelah itu kalau di papan harga gorengan itu kita bisa lihat kandungan allergen dan substance seperti jenis daging yang digunakan. Lagian judulnya kroket sayur huhuhu, bisa-bisanya mengandung babi juga.

Gorengan beku jatuh ke lantai tetap dijual

Kadang tuh gripku ngga bagus, meskipun kayaknya menjepit gorengan beku dengan tong itu gampang, kadang kepeleset juga dan akhirnya jatuh ke lantai. Secara common sense sih jorok ya, apalagi ini bukan untuk dimakan sendiri tapi dijual, harusnya mah dibuang saja. Tapi rasanya sayang untuk dibuang dan menjadi kerugian toko.

Akhirnya... aku goreng aja. πŸ˜‚ Jatuhnya belum lima menit ini. Padahal lima menit tuh lama banget ya. Lagian suhu minyak kan panas banget, jadi insyallah kumannya mati. πŸ˜‚ Aku cuma sekali (apa dua kali ya) kayak gitu sih. Sesudahnya ya menjepit gorengan bekunya hati-hati, pernah juga kalau jatuh ya akhirnya aku buang.

Masih banyak dosa-dosa lain yang aku lakukan di minimarket. Bakal kutulis lagi yang lain kalau nggak males hehe.

Ngga Empati

Aku tuh tadinya kerja shift tengah malam di konbini (istilah minimarket di Jepang). Dari pukul 10 malam hingga enam pagi. Kemudian owner konbiniku memutuskan untuk menutup konbini pukul 12 malam, dan buka pukul lima pagi. Jadinya tidak 24 jam buka seperti sebelumnya. Jadilah kemudian shift-ku berubah menjadi shift sore dari pukul lima sore hingga sepuluh malam.

Awalnya, meski tutup pukul 12 malam, tetap ada satu orang yang standby di konbini untuk menerima barang dan menaruhnya di rak. Kadang-kadang aku masuk shift tengah malam kalau ada yang tidak bisa masuk. Serem lah sendirian di toko πŸ˜‚ Mana suara kulkas bunyi banget lagi, takut kalau hantu yang gerakin πŸ˜‚ Senengnya sih bebas makan makanan kadaluarsa (lebih tepatnya lewat dari 'best before'), udah kayak party sendiri πŸ˜„

Hampir semua jenis barang konbini datang di shift malam. Ada yang kami sebut 'daily', yaitu makanan yang datang selalu tiap hari, bahkan sehari tiga kali, seperti roti, onigiri, salad, sandwich, pasta, dan lain-lain. Kemudian ada 'hi-daily', yang artinya 'bukan daily', yaitu makanan seperti cookies, snack, permen, mi instan, energy drink, barang rumah tangga, dan barang keperluan toko seperti cup kopi, sendok, sumpit, dan masih banyak lainnya. Ada juga 'dorinku' alias 'drink' yang mana adalah berkarton-karton minuman dari air mineral, ocha, hingga wine dan bir. Selain itu ada 'chilled', ya pokoknya yang harus diletakkan di temperatur rendah, seperti yogurt, minuman berbasis susu, ocha dalam karton, dan lain-lain. Onigiri, pasta, salad, sweets juga termasuk chilled. Ada juga 'ice', dari es krim, makanan beku yang dijual, dan makanan beku untuk jualan gorengan di toko. Belum lagi ada buku dan majalah. Ditambah lagi ada paket internet shopping customer yang harus dicek. Buanyakkk kerjaannya! 😏 Belum harus menyapu,  mengepel, membuang sampah, dan membersihkan toilet. 😭

Lo kira kerjaan gue cuma jadi kasir? πŸ˜” Ngga ada yang ngira deng. Ngga ada yang peduli juga. πŸ˜’ Suka kasian sama mas mbak Indomaret yang gajinya ngga seberapa. Jangan jutek-jutek sama mereka ya. Sama semua orang sih. 😏

Perfeksionis

Kalau kupikir-pikir, aku tuh kadang suka sok perfeksionis dalam hal tertentu. 

Kayak waktu SMA, aku tuh punya keinginan buat punya nilai di atas 85 di masing-masing pelajaran. Aku bikin tabel tanpa penggaris di halaman buku tulisku dan mendaftar nama pelajaran yang kalau nggak salah lebih dari 12. Aku tulis angka 85 di sebelah nama mata pelajaran, sepertinya kecuali seni rupa dan olahraga. Karena aku ngga suka olahraga dan seni rupa. πŸ˜‹ Asal tahu saja, aku ngga pernah kayak gini, bikin goal, semacamnya, sebelumnya.

Eh, benar saja nilaiku bagus-bagus. Meski nggak ada sistem ranking, suatu hari guruku memberitahuku kalau nilaiku paling bagus satu angkatan. Aku kaget lah, karena dari SD aku nggak pernah ranking satu. πŸ˜„ Sering 10 besar tapi nggak pernah di atas-atas. Nggak sombong atau gimana, tapi aku nggak pernah belajar di rumah, sambil duduk di meja belajar kayak di film-film. Tapi bukan berarti aku nggak berusaha buat mendapatkan nilai bagus. Yang aku lakukan waktu itu adalah membaca ulang dengan teliti setiap ulangan yang telah dikerjakan. Karena biasanya salah mengerjakan soal tuh bukan karena nggak bisa tapi nggak teliti.

Seperti juga saat guru Bahasa Jepang tiba-tiba punya wacana untuk memberikan tugas pidato dalam Bahasa Jepang. Aku bela-belain pergi ke ITC Kuningan untuk membeli DVD bajakan (maaf dulu masih nggak ngerti kalau bajakan itu haram, hahaha dan belum jaman streaming di internet) film dan drama Jepang yang padahal sebelumnya aku bukan penggemar film dan drama Jepang. Aku cuma ingin belajar bagaimana logat orang Jepang berbicara. Saking aku mau kalau benar disuruh pidato, logatku terdengar bagus. πŸ˜‚ Meskipun akhirnya tidak ada tugas pidato sih.

Sama seperti dalam hal menulis blog (tadinya). Awal mula aktif di blog, aku ingin aku menulis hal ringan tapi ada isinya dan asik dibaca. Aku mau banyak yang datang ke blogku. Ini pikiranku sembilan tahun lalu ya, bukan sekarang. πŸ˜‚  Lama-lama aku tidak terlalu aktif lagi menulis. Ditambah aku sempat tinggal di area yang tidak ada internetnya saat working holiday di Australia. Sekarang pun kadang-kadang kalau menulis blog trus kok kayaknya tulisannya nggak enak dibaca ya, langsung hapus semua dan tutup dasbor. Akhirnya nggak jadi nulis. 

Ceritanya aku bikin blog baru sembilan tahun setelah aku beli domain blog sittirasuna.com. Aku beli domain blog baru akhir bulan lalu dan sudah kuiisi postingan sejak awal November. Untuk aturan tampilan, aku dibantu oleh seorang teman. Hampir sekitar setelah dua minggu baru aku mengisi postingan di sana. Karena aku kebanyakan berpikir bagaimana menulis yang enak dibaca, dan blogku kali ini sama juga seperti blog ini berupa cerita-cerita remehku hanya saja temanya makanan. πŸ˜„ Aku kebanyakan berpikir sampai-sampai nggak mulai-mulai nulis.

Sampai suatu hari aku mendengar TedXTalk di Youtube yang aku bahkan lupa intinya apa tapi ada satu kalimat yang diungkapkan si pembicara dan aku pun tersindir. Intinya, perfeksionis itu musuh dari action.

Aku langsung kesindir dan mulai menulis saat itu juga. πŸ˜‚ Bener juga kata beliau.

Aku teringat salah satu teman ibuku menasihatiku untuk tetap nulis. Aku bilang kalau aku bisanya hanya menulis diari saja. Tapi kata dia, ya nggak apa-apa yang penting tetap menulis. Ingat itu, aku jadi semangat lagi.

Kadang, lucu saja karena aku sering menulis cerita-cerita sehari-hari di sini. Dan aku tuh orangnya pelupa banget, jadi suka buka baca cerita dulu, yang pas baca, aku bahkan nggak inget kalau itu pernah kejadian. 😌

Mampir ya ke blogku yang satunya di snackqueen.id. Tampilannya masih berantakan tapi lumayan udah ada postingannya. πŸ˜„

Apakah Eek Bisa Menyublim?

Sedekat apakah kamu dengan saudara kandungmu?

Aku sih perasaan nggak akrab-akrab amat tapi adekku bahkan sampai PAP eeknya ke aku. πŸ˜“ Aku nggak marah sih cuma males aja ngapusin fotonya. Sudah gitu tadinya setting WhatsApp-ku foto yang diterima tuh otomatis tersimpan di memori hape, jadi harus menghapus foto di galeri, belum lagi yang di folder 'Recently Deleted'.

Pagi ini adekku menelepon saat aku sedang di toilet.

"Jangan PAP lho, Un..."

"Emang kamu mau tak kirimi?"

"Emangnya padat apa cair? Apa eekmu menyublim?"

Gara-gara adekku bertanya tentang bentuk keluaranku, aku langsung berpikir apakah memang mungkin makanan yang kita makan bisa menyublim kali ya. Soalnya, aku tuh bisa nggak buang air besar selama seminggu. Menjijikkan ya?

Aku sadar kalau aku bukan orang yang melakukan defekasi setiap hari. Makanya aku suka sirik sama orang yang lancar defekasinya, uh wow~ metabolismenya lancar sekali. Aku kok nggak lancar sih, makanya aku gendut kali ya? πŸ˜“ Meski nggak sehari sekali setidaknya dalam seminggu 3-4 kali sih. Cuma, aku perhatikan setelah aku mulai mengurangi makan drastis dan melakukan One Meal a Day ala ala sempat aku delapan hari nggak buang air besar.


Meskipun konstipasi, aku tidak merasa perutku bermasalah. Aku pun juga tidak ngedan keras. Makananku menurutku seimbang, aku makan serat yang cukup, dari kacang-kacangan dan sayur-sayuran. Buah jarang makan sih karena di Jepang buah mahal. πŸ˜‘ Aku coba makan laksatif natural seperti prune dan fig, juga tidak melancarkan ususku. Aku mengkonsumsi cairan pun bisa lebih dari dua liter sehari tapi tetap saja. Selain itu, meski aku tidak 'mengeluarkan', beratku bisa turun dua-tiga kilo dalam seminggu. 

Lalu makanan yang kumakan itu pergi ke mana?

Aku jadi merasa kotor deh membayangkan makanan yang seminggu lalu kumakan masih berjalan di ususku. Aku berharap benar sih makanan bisa menyublim 😌 Apalagi setelah aku membaca kalau hasil pembakaran kalori dan lemak dalam tubuh adalah karbondioksida dan air. Makanya, aku seneng banget deh kalau flatulensi (buang angin), aku merasa kalori dan lemakku keluar. Selain itu, aku jadi mencoba mengeluarkan nafas lebih banyak dari menarik nafas supaya karbondioksidaku keluar lebih banyak (ngarang aja).

Apa memang aku ditakdirkan metabolismenya lambat ya πŸ˜“

Terlihat Hepi

Di Jepang, aku punya teman cowok yang tadinya lumayan akrab dan kami berbicara tiap hari. Teman ini lebih muda dan aku anggap seperti little brother. Aku sering mengajaknya jalan-jalan, makan bareng, atau membelikan cemilan kesukaannya. Tapi lama kelamaan, aku capek dan mulai mengurangi komunikasi dengan temanku ini. Alasannya dia selalu mengeluh tentang hidupnya dan keluhannya selalu sama selama hampir setahun.

Keluhannya: selalu dicuekin cewek, susah dapet pacar, capek bekerja tengah malam, tidak punya uang, tidak bisa berbahasa Jepang, dan lain-lain. Setiap ketemu dan telepon selalu mengeluh tentang hal ini sampai akhirnya aku malas mendengarkan. Aku mulai menjaga jarak dan sekarang hanya mengobrol sekitar seminggu atau dua minggu sekali. Meskipun sudah jarang dia tetap mengeluh. Ia selalu menyelingi pembicaraannya dengan, "maaf ya, tiap mengobrol sama kamu aku selalu komplain." Ah, pret.

Beberapa hari lalu dia menelepon dan dia mengeluh kalau ia khawatir dengan hidupnya di Jepang. Dia selalu janjian dengan cewek tapi last minute ceweknya selalu membatalkan. Dia takut bertahan hidup di sini karena tidak bisa berbahasa Jepang. Dia juga sempat bilang, "Kalau aku kayak kamu lancar Bahasa Jepang mungkin aku nggak akan khawatir kayak gini. Kamu sepertinya menikmati hidup banget. Sudah bisa Bahasa Jepang, kamu punya uang bisa jalan-jalan, makan-makan mulu. Kayak nggak ada beban."

"Kamu kira aku tidak punya hal yang aku khawatirkan apa? Ya ada banyak, tapi masak nggak bisa hepi? Nggak bisa seneng-seneng?" 

Tadi-tadinya kalau dia mengeluh, aku selalu omelin. Tapi lama-lama capek karena diomelin nggak pengaruh, ya mending dicuekin aja. Ngapain buang-buang energi kan. πŸ˜„ Dalam hati, dikira sini lancar apa Bahasa Jepangnya? Seringnya aku nggak paham orang ngomong apa πŸ˜„ Dikira sini duitnya banyak apa? Aku kan nggak beli kaos seharga 18000 yen atau parfum 7000 yen. Temanku ini suka mengeluh nggak punya tabungan tapi kalau belanja barang brand mulu. πŸ˜’

Beberapa teman suka bilang kalau hidupku enak, beruntung, dan hepi terus. Yang padahal menurutku mereka lebih beruntung dari pada aku. πŸ˜‚ Tapi yang jelas aku bersyukur, hepi dan merasa beruntung, sih.

Aku jadi ingat ibuku suka cerita waktu kecil aku suka diajakin jalan kaki panas-panas dan aku tidak pernah mengeluh. Orang-orang yang melihat bahkan kasian dan bilang sama ibuku kalau kasian anaknya diajak jalan-jalan panas-panas, tapi kata ibuku, "Anaknya aja nggak apa-apa. Malah seneng." Di umurku yang segini, aku masih bekerja fisik, belum bisa menabung, hobinya cengenges-cengenges, sering menangis dan kurang sabar, dan ya aku hepi. Emang yang penting tuh bersyukur sih ya. πŸ˜„ Mau punya apapun kalau nggak bersyukur ya hidupnya nggak enak, nggak hepi.

Enak ya kamu Un...

Ho oh, enak! Ape loh πŸ˜‚

Cash is (still) the best (in Japan)

Urusan perbankan dan perduitan, menurutku Jepang cukup tertinggal dibanding negara maju lainnya. Kalau di Cina, bahkan kamu dengan mudah bayar pakai QR code di pasar tradisional atau seperti di Australia, mau di toko di dekat gurun pun bisa bayar pakai debit card dengan one tap, di Jepang?

Hampir semua ATM tidak 24 jam, kalau pun 24 jam ada biaya yang tidak murah untuk mengambil uang tunai. Misalnya nih, aku punya akun bank di bank kantor pos Jepang (JP Bank). Kalau aku menarik tunai di ATM JP Bank ya tidak dikenakan biaya apa-apa. ATM JP Bank ada di seluruh kantor pos yang ada di Jepang. Kalau kantor posnya kecil, ATM hanya buka Senin-Jumat sekitar pukul 09.00-17.00 dan Sabtu hanya sampai pukul 12.30. Ini di kantor pos kecil sekitar rumahku ya, mungkin bisa beda di prefektur lain. Kalau hari Minggu butuh uang tunai tapi nggak mau kena biaya ya harus pergi ke kantor pos besar, yang alhamdulillah tidak jauh dari rumah. Opsi lain pergi ke ATM JP Bank yang terinstal di beberapa Family Mart.

ATM di kantor pos utama di Kyoto City pun tidak 24 jam, melainkan buka dari 00:05 - 23:55, jadi dalam sehari tutup 10 menit. Internet banking pun punya jam akses yang sama. Awalnya aku pikir ah becanda kali ya, tahunya beneran πŸ˜‚ Sempat aku mau transfer ke toko Indonesia jam 12 malam, eh benar tidak bisa akses webnya dan harus menunggu sampai pukul 00:05. 

ATM di convenience store semua 24 jam, tapi ada biaya transaksi. Biayanya pun tergantung waktu kita melakukan transaksi. Misalnya, aku pakai kartu ATM JP Bank mau menarik tunai di ATM Seven Bank di Seven Eleven. Kalau aku tarik tunai saat hari kerja dan kerja (09.00-17.00), biaya yang dikenakan sebesar 110 yen atau sekitar 14000 rupiah. Kalau aku ambil uang di jam delapan malam atau hari minggu, biaya yang dikenakan dua kali lipatnya 220 yen atau sekitar 28000 rupiah. Kalau cuma mau ambil 1000 yen trus biayanya 220 yen kan gimana ya πŸ˜“ Beberapa teman sih nggak terlalu peduli soal biaya yang 'cuma' 110 atau 220 yen ini, tapi bagi aku yang belum kaya kok rasanya berat ya.

Sudah gitu, kartu ATM bank di Jepang biasanya hanya bisa digunakan buat tarik tunai saja (atau transaksi lain di ATM). Bukan kartu debit yang bisa dipakai belanja. Jadi kalau mau bikin Visa atau Mastercard Debit Card, harus apply lagi kartu lain. πŸ˜– Bisa tarik tunai pakai kartu debit itu, tapi dikenakan biaya juga meski digunakan di ATM bank yang sama. Au ah lap, capek.

Baru belakangan ini di Jepang mulai digalakkan penggunaan cashless payment. Kalau e-money atau kartu kredit dari dulu sudah digunakan, tapi setahun dua tahun belakangan mulai muncul banyak QR code/barcode cashless payment. Sebut saja Paypay, Line Pay, AU pay, FamiPay, banyak lah. Untuk mengajak orang menggunakan pembayaran non-tunai, pemerintah Jepang banyak melakukan promosi kayak dari Oktober 2019 sampai Juni 2020 kalau bayar non-tunai bisa dapat cashback 2%. Sekarang pun kalau menghubungkan kartu My Number (semacam KTP) dan salah satu pembayaran non-tunai yang digunakan bisa dapat cashback 25% maksimal 5000 yen. 

Cashless payment memang bisa dibilang telat di Jepang, tapi apakah itu hal yang buruk? Nggak tahu, mungkin pembayaran pakai uang tunai lebih baik. Data kita belanja apa ngga tercatat di sistem, hidup kita nggak terlalu 'dikontrol' sama pemerintah atau siapa kek yang mau memakai data kita. Contohnya saja ya, aku pakai e-money bernama ICOCA yang diterbitkan oleh perusahaan kereta, JR West Japan. Di mesin pembelian tiket, dengan ICOCA aku bisa lihat history aku pergi dari stasiun mana dan turun di stasiun mana saja. Kadang-kadang aku lihat nama stasiun yang sampai aku lupa kalau aku pernah ke sana. Ini baru data stasiun yang pernah diinjak, bagaimana kalau pakai cashless payment yang terhubung ke kartu kredit atau akun bank kita misalnya, trus terhubung lagi ke kartu My Number. Seperti di dunia ini sudah tidak ada privasi~ yang benar-benar privasi.

Anyway, aku sempat mencoba Paypay dan menurutku sangat praktis. Untuk men-charge Paypay, aku tinggal menghubungkan akun Paypay-ku dan akun bankku, dan aku bisa charge Paypay dalam hitungan detik di telepon pintarku (yang kelewat pintar makanya aku takut dan sekarang aku mencoba mengurangi penggunaannya). Aku sempat berpikir, uh wow~ urusan pembayaran di Jepang tidak pernah semudah ini. Apalagi Paypay ini bisa digunakan di hampir semua tempat. Tapi beberapa waktu lalu, layanan charge Paypay dengan akun bank yang kupakai tidak tersedia lagi. πŸ˜“ Sepertinya alasan security karena mudah banget charge-nya tinggal sekali klik langsung didebit dari akun bank. Sekarang aku tidak lagi menggunakan Paypay.

Kemarin aku usai membeli blender. Ketika aku mau membayar dengan kartu debit, ditolak dong. Setelah aku cek e-mail ternyata karena melewati limit. Jadi tuh, supaya irit, aku mengatur limit penggunakan kartuku dalam sekali penggunaan maksimal 10000 yen dan harga blendernya 10747 yen. Enaknya kartu debit yang aku gunakan ini, aku bisa mengatur limit-nya via aplikasi atau web. Saat itu aku buka aplikasinya dan 'tidak bisa terhubung dengan server'. Aku pun bingung dan bertanya-tanya kenapa ini harus terjadi di saat aku ingin membeli blender impianku. Aku segera mencari ATM dan tada~ ternyata aku tidak bawa kartu ATM -yang kok ya kemarinnya aku taruh di tempat lain yang padahal biasanya tidak pernah.

Aku memutuskan untuk pergi ke kantor pos besar untuk mengambil uang tunai dengan debit card-ku, ternyata tidak bisa dan slipnya mengatakan 'kartu tidak terafiliasi'. WHAT! Aku cek web ternyata webnya sedang di-suspend. Aku bertanya kepada staf bank bagaimana cara aku menaikkan limit debit card-ku karena aplikasi dan web tidak bisa diakses. Setelah menunggu lama, aku mendapat jawaban: harap telepon ke nomor ini untuk mengubah limit penggunaan. Aku bertanya kenapa aplikasi dan web tidak bisa diakses, kata stafnya karena terjadi banyak penipuan dan penyelewengan dan masalah keamanan sehingga sementara di-suspend.

Aku yang malas menelepon call center (karena biasanya tidak paham πŸ˜‚) memilih untuk pulang, mengambil kartu ATM dan membayar blender dengan uang tunai.

Tahun lalu juga ada kasus 7-Pay, cashless payment-nya Seven Eleven yang baru sehari rilis sudah ada kasus peretesan dan akhirnya layanannya dihentikan tak berapa lama kemudian. Kurang paham, yang katanya Jepang tuh nomor satu teknologinya tapi seperti tidak siap dengan cashless payment. Ah tapi ngga tahu lah, buat aku sekarang kayaknya cash emang masih yang terbaik.

One Meal A Day

Bulan Agustus lalu, aku mencoba melakukan OMAD, One Meal A Day, alias puasa ekstrim di mana aku hanya makan sekali sehari. Dalam 24 jam, hanya sekitar satu - satu setengah jam sehari di mana aku boleh makan. Sisa 23 jamnya ya tidak makan sama sekali. Meskipun tidak makan, aku tetap minum air putih, atau teh dan kopi tanpa gula.

Boong ding.

Yang aku lakukan nggak seekstrim itu sih, tapi aku memang hanya makan besar sekali, biasanya sekitar pukul 2-3 siang. Sebisa mungkin minum air putih atau teh/kopi tanpa gula, tapi sesekali aku masih minum manis. Biasanya sih karena di minimarket ada produk minuman keluaran baru, trus aku nggak bisa tahan nafsu untuk nggak beli. Masih ngemil juga tapi... benar-benar berkurang drastis. Misal aku beli sebungkus ciki atau cokelat, yang kalau biasanya setelah aku buka akan kuhabiskan saat itu juga, akan kuhabiskan dalam waktu tiga hari. Kukaretin gitu biasanya. Olahraga sih tidak selalu, hanya sesekali zumba, tapi bulan itu aku hampir tiap hari jalan kaki minimal 10000 langkah.

Ceritanya, aku sampai beli skipping karena katanya cepat untuk menguruskan badan. Ah, tapi baru 20 kali lompat sudah capek 😜 Trus kata sepupuku yang juga sedang menguruskan badan katanya lompat-lompat, skipping, lari, berbahaya untuk orang gendut 😜 Jadilah tali skipping 13 ribuku (100 yen) hanya digunakan satu kali. Kayaknya udah kubuang juga deh πŸ˜„

Hasilnya, aku turun tujuh kilogram dalam waktu empat minggu. Oya, asal tahu saja, berat badanku itu 20 kilogram lebih dari berat badan ideal, jadi mungkin cukup mudah turun berat badannya dalam waktu singkat.

Sayang sekali, sekitar akhir bulan Agustus aku mendapat teman baru yang selalu mengajakku makan di luar tengah malam πŸ˜‚ Selama bulan September aku jajan di luar tiada henti. Rasanya tuh apa-apa pengen dimakan πŸ˜‚ Diet yang sudah kubangun selama hampir sebulan tiba-tiba hancur berkeping-keping. Belum lagi, aku yang tidak suka dengan alkohol, mendadak rajin mencoba koktail-koktail atau minuman beralkohol lain yang belum pernah aku coba. Soalnya ditraktir. Sudah gitu jam tidur yang makin kacau bahkan sering menghabiskan malam tanpa tidur barang lima menit pun.

Meski begitu, selama sebulan lebih aku hanya naik sekitar 2-3 kg saja πŸ˜„ Alhamdulillah tak kembali ke berat badan awal.

Per kemarin aku memulai One Meal A Day ala ala lagi. Kemarin dan hari ini pun menunya sama: prata + rffisa ( Ψ±ΩΩŠΨ³Ψ© ) Minum manis Lipton Oolong Milk Tea, ngemil Snickers fun size dua biji dan seperempat tempolong Pringles rasa Fish and Chips. Sisanya minum ocha, air putih, dan mugicha saja.

Rfissa, masakan asal Maroko
Rfissa, masakan asal Maroko

Aku ngga makan sebanyak itu kok. Aku makan itu dua hari lalu sebelum memulai OMAD yang tidak ekstrim periode kedua ini. Seorang teman asal Maroko menyuguhkanku Rfissa dan bahkan aku dikasih sangu bekal buat bawa pulang πŸ˜„ Jadilah kumakan kemarin dan hari ini.

Rfissa ini merupakan masakan yang bahan utamanya adalah ayam, lentil, dan fenugreek (halba). Bahan lainnya adalah bawang bombay, jinten, lemon yang diawetkan (bahan masakan khas Maroko), dan kismis. Biasanya ditaruh di atas roti pipih yang bernama m'semen (Ω…Ψ³Ω…Ω†) tapi karena tidak mudah ditemukan dan butuh waktu lama untuk membuatnya, frozen prata dijadikan penggantinya. Kata temanku, roti prata itu yang paling menyerupai m'semen. 

Balik lagi ke OMAD, yang paling aku sukai dari one meal a day ini sih: menghemat waktu.

Karena makan hanya satu kali (anggap saja aku nggak pakai ngemil πŸ˜‹), aku cukup menentukan apa yang akan aku makan sekali dalam sehari. Aku nggak perlu tuh, setelah makan siang, trus mikir nanti malam makan apa ya. Selain itu, cuci piring, panci segala rupa hanya sekali sehari. Nah kalau misal asupan karbohidrat kurang, kemudian tubuh akan mengalami ketosis, yaitu ketika tubuh akan membakar lemak untuk energi dalam tubuh. Tubuh tuh 'makan' dirinya sendiri, yang mengakibatkan turunnya berat badan. Selain itu, badan lebih segar dan nggak ngantukan, karena tubuh bekerja keras membakar lemak.

Berasa banget sih beberapa minggu lalu kerjaanku tidur mulu 😌 Sering banget mengantuk, apalagi pas kerja.

Waktu yang kuhemat dari waktu makan + waktu mikir makan apa selanjutnya + waktu cuci piring + waktu menyiapkan makan + waktu karena nggak tidur mulu tuh bisa kugunakan untuk, misalnya, menulis postingan ini, nonton film, membaca buku, jalan-jalan, atau mendengarkan musik.

Selain mengurangi makan, aku juga mulai memperhatikan apa yang kumakan, mulai sedikit demi sedikit menjauh dari telepon genggam dan social media (average activity-ku di Instagram hanya 13 menit sehari, aku terharu 😒, di Youtube 3 jam lebih sih), dan juga mulai menghindari penggunaan skincare yang berlebihan. Rasanya pengen kubuang semua itu obat jerawat, penghilang dark circle mata, losion muka, dan lain-lain. Aduh pengen nulis kok sudah panjang banget. Lanjut besok.

JADI PEREMPUAN HARUS KUAT!

Beberapa minggu lalu, aku mengalami hal yang sangat tidak mengenakkan.

Suatu hari, aku sedang kelaparan jadi aku pergi ke 7-Eleven dekat rumah. Ketika aku sedang memilih makanan, seorang penjaga toko menyapa, dan aku hanya menganggukkan kepalaku. Tapi aku tersadar, ia mendekatiku dari sebelah sisi kiriku, dan saat aku menengok, tahunya dia teman sekolahku yang sepertinya baru mulai bekerja di situ. Aku kaget dong, sekaligus senang, apalagi akibat korona aku tidak pernah ke sekolah dan bertemu teman-teman. 

Temanku ini seorang laki-laki berasal Nepal. Dia lebih muda daripada aku, tampangnya lugu sukanya cengengesan, dan sempat gabung di paduan suara sekolah bareng. Sekarang sih paduan suaranya sudah bubar. Rumahnya pun tidak terlalu jauh dari rumahku, tapi pertemanan kita nggak cukup dekat untuk janjian ketemuan. Kita pun juga nggak pernah mengobrol yang dalam banget lah, biasa aja. Tapi kalau di sekolah ketemu ya kita menyapa, mengobrol sedikit, dan saling cengenges-cengenges. Ya ampun aku sudah hampir 30 tahun kok hobinya cekikikan dan cengengesan. 

Setelah aku pulang ke rumah, tak selang berapa lama, temanku menghubungiku via LINE. Katanya dia ingin mampir ke rumah dan mengobrol denganku. Mungkin saat itu ia sedang istirahat makanya bisa memegang hape. Shift dia berakhir pukul 10 malam, dan aku oke oke saja. Apalagi aku sudah lama tidak bertemu dengan temanku ini. Kali saja dapat info terkini tentang sekolah dan kehidupan di Jepang. 

Tepat pukul sepuluh malam, ia menyapaku di LINE. Aku memastikan kalau ia jadi ke rumah atau tidak, soalnya aku ternyata sudah mengantuk. Ia bilang jadi, dan menanyakanku apakah aku ingin sesuatu dari minimarket. Ia bilang ia sedang di Ministop (minimarket lain, bukan tempat dia bekerja) dan sedang berbelanja. 

Sempat bertanya-tanya dalam hati, kenapa ia tidak beli di 7-Eleven tempat dia bekerja? Kecuali kalau Ministop itu supermarket yang harganya lebih murah dan ia harus mengirit. Tapi Ministop itu sama-sama convenience store (minimarket) yang biasanya harganya sedikit lebih mahal dibanding supermarket biasa. 

Aku pun menghampiri dia di Ministop dan ia sedang membayar belanjaan. Ia memasukkan kotak rokok ke dalam sakunya. Aku melihat di layar kasir yang mengarah ke customer dan menunjukkan tulisan dalam katakana: 

“OKAMOTO SUKINRESU 0.3MM.” 

Aku langsung mengalihkan kepalaku dan berjalan ke luar minimarket sambil berpikir. Sebentar, Okamoto kan merek kondom? Sukinresu itu apa? Skinless? OMG. 

Rasanya jantungku mau jatuh ke trotoar. Jadi kotak yang dia masukkan dalam sakunya itu bukan rokok, tapi kondom? 

Tidak pernah terbayangkan kalau temanku ini terpikirkan untuk mengajakku melakukan hal itu. Aku selalu melihatnya sebagai laki-laki muda yang lugu. Aku pun tidak pernah 0,0000001% pun tertarik secara seksual dengan temanku ini. Mataku berkaca-kaca dan rasanya aku ingin melarikan diri tapi aku memilih untuk bersikap tenang. Bodohnya aku tidak melarang dia ke rumahku saat itu dan pura-pura tidak tahu kalau sebenarnya aku sudah tahu kalau dia membeli karet pelindung itu. 

Sampai rumah, aku berusaha tenang, dan dia langsung to the point saja, bertanya padaku apakah dia boleh duduk di sebelah futonku. Aku langsung bilang, “Aku tahu kamu mau apa. Tapi aku tidak bisa.” 

“Sekali saja, kumohon.” 

“Apaan sekali saja, sekali saja. Nope. Aku punya pacar.” Padahal sih, tidak. πŸ˜‚

Aku berusaha tenang dan nge-pukpuk dia, dan menyatakan kalau aku tidak bisa melakukannya. Aku mengancam akan teriak kalau dia terus memaksaku. 

“PULANG KAU SANA!” Akhirnya dia pun pulang dan aku pun tak kunjung lega. 

Aku menelepon temanku di Indonesia untuk cerita dan chat teman satu sekolah tentang apa yang terjadi. Akhirnya aku pergi ke pub menemui temanku yang lain untuk mengalihkan kesedihanku, dan aku tidak menceritakan ke temanku yang satu ini karena baru beberapa hari lalunya ia berpesan kepadaku untuk tidak pernah memasukkan laki-laki yang kurang dikenal ke dalam rumah. 

Selama ini aku cukup santai ‘memasukkan’ teman lawan jenis ke rumah karena tidak pernah ada kejadian yang tidak mengenakkan. Ada dua teman laki-laki pernah menginap beberapa hari pun, ya biasa saja. Selama di Australia, tinggal serumah, bahkan sekamar dengan teman laki-laki juga biasa saja. 

Aku terlalu polos untuk tidak cukup mengetahui kalau ada teman lawan jenis yang punya pikiran seperti ini. 

Yang aku sesali sih, bukan soal aku memasukkan temanku ini, tapi aku merasa kurang tegas waktu menolak, dan aku harusnya teriak dari awal. Atau bahkan menolaknya sejak melihat layar kasir di minimarket. 

Beberapa minggu kemudian, akhirnya aku tidak tahan dan menceritakan hal sebenarnya kepada temanku yang kuhampiri di pub. Dan ia memarahiku habis-habisan karena aku memasukkan teman yang kurang akrab ke rumah. 

Sudah sedih, cerita, eh malah dimarahin. Memang jadi perempuan harus kuat deh, harus bisa jaga diri sendiri. 😌

Berhati Bunga θŠ±εΏƒ

Di minimarket tempatku bekerja yang letaknya tidak jauh dari salah satu World Heritage Site, Kiyomizudera Temple, banyak staf yang sekolahnya sama denganku. Ada satu orang Cina, perempuan, umurnya sama dengan aku, cuma lebih tua dua bulan, tapi aku sangat respek sama dia. Sekarang sih aku tidak pernah se-shift sama dia, tapi kalau satu shift atau ketemu pas pergantian shift, kami selalu ngobrol. Meskipun dia cuma dua bulan lebih tua, aku merasa dia tuh sangat dewasa sekali dan aku belajar banyak tentang kehidupan dari temanku ini.

Aku kira aku nggak bakal akrab sama temanku ini. Tapi tiap ketemu dan ngobrol pasti ada aja yang diketawain atau nggak karena dia ngetawain aku sih. 😏 Biasanya karena customer yang kutaksir datang ke toko dan aku nggak berhenti tersipu-sipu. 😌Obrolan kita pun sangat bervariasi, dari hal sepele semacam tentang cowok ganteng, tentang obat jerawat yang bagus, tentang bagaimana overrated-nya hubungan intim (menurut dia πŸ˜‚ ) sampai ke politik.

Suatu hari, kita mengobrol soal kebiasaan belanja. Minimarket di Jepang kan menjual dessert/sweets ya. Produk-produk sweets-ini mostly dijual dalam waktu tertentu. Ada yang selalu tersedia setiap saat seperti sus krim biasa. Tapi ada juga sus krim yang hanya dijual dalam waktu tertentu, misalnya sus krim keju atau matcha, pernah juga ada rasa blueberry. Sweets minimarket pun ngga cuma sus, ada macam-macam lainnya seperti crepes, eclair, pudding, cake, macam-macam. Seru deh sweets minimarket di Jepang mah. 

Pas saat itu, Seven-Eleven lagi mengeluarkan produk sus matcha. Temanku ini suka banget sampai hampir tiap hari beli terus. Kalau beli cemilan pun, kalau sudah tahu apa yang disukai, dia akan rajin beli itu, tidak pernah ganti. Lalu aku cerita, kalau aku sih nggak bisa kayak gitu. Apalagi barang minimarket tuh selalu ganti, bawaannya selalu pengen beli produk baru. Seenak-enaknya roti, cemilan, atau sweets yang aku beli di minimarket, aku hampir nggak pernah beli hal yang sama dalam dua kunjungan berturut-turut. Kalau pun di kunjungan berikutnya, aku membeli hal yang sama, aku biasanya tidak membeli lagi di kunjungan ketiga.

Waktu kerja pun biasanya aku membeli satu botol minuman, aku pasti akan re-buy apa yang aku pernah beli, tapi tidak pernah aku berturut-turut misal hari ini kerja aku beli mugicha (barley tea), hari kerja berikutnya aku beli mugicha lagi. Bosan! Aku biasanya ganti-ganti antara air putih mineral, ryokucha (green tea), mugicha, oolong cha (oolong tea), jasmine tea, earl grey tea, dan yuzu lemon soda. 

Seperti yang aku ceritakan di postinganku Menaksir Tingkat Kesetiaan Customer dari Cara Belanja,  kalau kamu kerja jadi staf minimarket dan sudah hafal sama customer-mu, kamu tuh tahu aja pola belanja mereka.

Ada satu customer yang bekerja sebagai host, dia selalu mampir ke minimarketku karena tinggal di apartemen di gedung yang sama. Barang yang biasa dia beli adalah mi instan, jus apel, milk tea merek Lipton, dan rokok nomor 109. Dia jarang beli semua itu dalam waktu bersamaan, tapi kalau dia datang, kita bisa menebak kalau dia akan beli mi instan, kalau ngga rokok nomor 109, kalau ngga ya minuman favorit dia. Ada customer lain yang selalu datang tiap hari, dan tiap pagi selalu membeli bekal lunch seperti bento atau mi dan minuman. Apapun makanannya dia selalu beli bir merek Sapporo.

Sebagai staf minimarket, kamu akan bisa menerka apa yang regular customer bakal beli. Nah, di dekat rumahku ada minimarket yang selalu aku datangi. Btw, minimarket tempat kerjaku yang aku ceritakan di atas, letaknya 1.5 km dari rumahku dan dulu rumahku dekat sana.

Tiap hari, aku membeli barang yang completely different tiap kunjungan. Misalnya hari ini aku membeli sweets dan es krim, besok aku beli gorengan, hari lain aku cuma beli salad kepiting mayo (yang sampai sekarang aku cuma pernah beli sekali dalam hidupku), hari lain lagi aku beli potato chips dan daun bawang, kadang-kadang aku beli roti dan bento keluaran terbaru (aku lemah sama produk-produk baru 😌). Pola belanjaku tuh, tidak berpola.

Kata temanku, kalau dalam Bahasa Cina aku punya 'hati bunga' alias hua xin θŠ±εΏƒ. Kalau dengar hati bunga kayaknya konotasinya positif gitu ya, padahal ternyata enggak. 😭

Katanya, bunga kan berwarna-warni, nah kalau θŠ±εΏƒ ini ya hatinya berwarna-warni, jadi biasanya sukanya play around dan tidak bisa setia sama pasangannya. πŸ˜‚ Aku sih meneketehe, pernah punya pasangan saja enggak.

Tapi yang aku rasakan selama ini sih, aku ngga pernah suka sama orang lama-lama dan gampang move on. Baru saja aku menyatakan perasaanku ke temanku, nggak sampai seminggu ada teman lain dan aku sudah 'nggak ingat' sama temanku aku suka sebelumnya. πŸ˜‚  Aku masih berteman baik, tapi indifferent, nggak ada feeling apa-apa. Sekarang sama teman yang kedua juga udah nggak apa-apa. Yah nggak tahu lah πŸ˜‚

Cemprengnya Suara Penjaga Toko di Jepang

Kalau kamu pernah ke Jepang, atau lihat di drama atau film, atau di warung makanan Jepang di Indonesia, pasti kamu notice kalau staf toko nya akan menyapamu dengan 'irasshaimase' dengan ceria.

Nah, para staf toko di Jepang, terutama perempuan, banyak yang menggunakan suara hidung (nasal voice/ιΌ»ε£°hanagoe) yang bikin suara mereka cempreng dan tinggi. Sebenarnya kebanyakan tidak seperti itu, tapi kalau kamu ke Jepang, kamu bakal punya kesan kalau para staf toko perempuan di Jepang kebanyakan bersuara cempreng dan terkesan sok imut. Kadang-kadang terlalu cempreng dan irritating, rasanya pengen nyamperin sambil bilang, "Bisa ngga berhenti ngomong cempreng?" πŸ˜‚

Di tempat aku bekerja, meskipun banyak yang menggunakan suara hidung (aku pun termasuk), tapi tidak ada yang cempreng banget. Padahal aku pengen tanya kenapa mereka bicara seperti itu. Aku pernah tanya kepada seorang teman Jepang tentang mengapa staf toko menggunakan suara hidung dan bahkan ada yang cemprengnya berlebihan, kayak palsu banget deh. Temanku sendiri sih tidak tahu cuma dia bilang, kalau staf toko meninggikan suaranya kan bakal lebih menarik pengunjung ketimbang menggunakan suara biasa. Kalau pakai suara biasa, bisa dibilang bakal terkesan lemes.

Aku kurang bisa menjelaskan ya secara biologis bagaimana suara hidung itu terbentuk. Tapi yang jelas suaranya bakal terdengar lebih sengau dan lebih tinggi dari suara biasa.

Aku sendiri kalau lagi jaga toko yang di dekat Kiyomizudera, most of the time bakal ngomong dengan suara biasaku yang rendah meskipun kadang-kadang tone-nya lebih tinggi. Tapi kalau kerja di stasiun yang selalu sibuk, kecenderungan aku bakal pakai suara hidung. Aku merasa kalau pakai suara hidung tuh energi yang dipakai lebih sedikit dan berasa ringan. Bayangin aja dalam dua setengah jam aku harus menyebut 'irasshaimase' hampir seribu kali dan melayani langsung 200 customer di depan mesin kasir. Rata-rata jumlah kata yang diucapkan satu orang dalam satu hari sudah kuhabiskan dalam dua jam pertama aku menjalani hariku. Tapi abis kerja ya aku ngga banyak ngomong sih. (Amaca?)

Kalau aku ngomong pakai suara biasa, aku merasa lebih capek. Dan kalau menyapa customer dengan nasal voice tuh, suaraku bakal lebih tinggi dari normal, dan akan lebih mudah terdengar oleh si customer.

Dan yang pakai suara hidung tuh ngga cuma yang perempuan. Staf laki-laki juga, dan somehow itu sangat amat wagu. 😭 Chief-ku di stasiun sudah bapak-bapak tapi kalau menyapa customer suaranya cempreng 😭 Tolong hentikanlah! Bukan cempreng yang lebay tapi tetap aja kalau laki-laki tuh aneh aja pakai suara hidung.

Ngomong-ngomong tentang menyanyi dan penyanyi, banyak yang menggunakan suara hidung. Dan sebagian besar, enggak banget (menurutku ya). Penyanyi Jepang juga aku perhatikan banyak yang pakai suara hidung dan banyak yang bilang suaranya bagus 😭  Tapi bukan berarti pakai suara hidung pasti jelek, sebagian penyanyi pakai suara hidung, kadang sengau, juga enak-enak aja sih didengar!

Menaksir Tingkat Kesetiaan Customer dari Cara Belanja

Ah panjang amat judulnya.

Maksud aku bukan tingkat kesetiaan customer buat belanja di toko kita. Tapi kesetiaan sama pasangannya. Maksudnya?

Dari pengamatanku selama bekerja di minimarket, mungkin aku bisa menebak bagaimana tingkat kesetiaan si customer terhadap pasangannya. Terutama dari pembelian rokok sih. Ini pendapatku ya, sok tahu aja.

Setiap minggu, aku bekerja tiga kali di minimarket di dalam Stasiun Kyoto. Aku selalu bekerja shift pagi hari kerja dari pukul enam sampai sembilan lebih lima menit (detil kan), yang mana rentang waktu itu adalah rentang waktu paling sibuk stasiun. Orang yang pergi ke kantor kebanyakan pergi dalam waktu yang hampir bersamaan, tapi kalau pulang ada yang agak sore ada yang malaman 'kan? Lembur atau minum-minum dulu, misalnya. Makanya, shift sore atau malam tidak sesibuk shift pagi.

Minimarket buka mulai pukul setengah tujuh pagi. Selama satu shift, sampai jam sembilan itu, kalau aku yang bertugas standby di kasir, aku bisa melayani lebih dari 250 customer dalam dua setengah jam. Bayangkan, aku berhadapan dengan hampir dua customer per menitnya. Bisa dibilang lebih dari 70% adalah regular customer yang datang tiap hari. Beberapa aku sudah hafal, tanpa customer menyebut apa-apa, aku sudah tahu rokok apa yang mau dibeli dan jenis pembayaran apa yang dipakai.

Minimarket kan menjual rokok ya dan jenis rokoknya lebih dari 220 jenis. Yang ada slot raknya hanya sampai 205 atau 206 kalau ngga salah, belum rokok jenis lain yang tidak punya rak. Jadi dipajang di tempat seadanya. Selain yang tidak ada tempat di rak, semuanya ada nomornya, jadi customer hanya tinggal menyebut nomor rokok yang mau dibeli. Tapi kadang ada customer yang penglihatannya kurang baik atau nomornya ketutupan staf atau malas lihat nomor aja, ya mereka menyebutkan merek sekaligus tipe rokoknya. Pusing lah tuh kalau belum apal 😞

Jenis pembayaran yang bisa digunakan pun sangat beragam. Tentu saja uang tunai, kartu debit/kredit JCB, Visa, MasterCard, IC card semacam Suica, Icoca, Manaca, apa lah, dan pembayaran pakai barcode apps smartphone seperti PayPay, WeChat Pay, Rakuten Pay, banyak lah. Oh ya, Seven-Eleven juga punya e-money-nya sendiri, namanya Nanaco. Kalau menyapa customer, staf diwajibkan bertanya, "Apakah Anda punya Nanaco?"

Tapi aku kalau nggak ada wakil store manager-nya aku ngga pernah nanya. Capek ah mulutnyaaa πŸ˜‚ Langsung aja, ngga pakai basa-basi, "Mau pakai kantong plastik ngga?" Itu pun karena dari awal Juli kantong plastik mulai bayar di Jepang. Sebelumnya juga langsung bilang, "Totalnya... sekian yen." Customer-nya 'kan buru-buru mau ke kantor, ngapain nanya macem-macem. Ya ngga? πŸ˜‚

Btw, ada customer seorang bapak-bapak yang aku love banget lah. Ramah banget, selalu menyapa 'selamat pagi'. Customer satu ini selalu datang di waktu yang sama tiap harinya, dan selalu membeli satu botol air putih dan dua onigiri. Hampir tidak pernah beli yang lain. Itu pun jenis onigirinya selalu sama tiap hari bayangkan! Pernah sesekali ganti jenis onigiri, tapi tetap belinya dua biji. Total belanjaan hampir selalu 383 yen kecuali kalau pas beli jenis onigiri lain. Aku kayaknya ngga perlu lihat mesin kasir, udah tahu ini bapak habis berapa belanjanya.

Udah gitu bapak-bapak ini sugar daddy-able banget. Kalau dari liat penampilan sih. Aku sama teman kerjaku (laki-laki) kalau ngomongin bapak ini tuh nyebutnya 'papa'. Tapi lihat dari belanjanya dia, kayaknya dia tipe yang setia. 😌  Sotoy.

Contoh lainnya dari pembelian rokok ya.

Kebanyakan dari customer minimarket-ku selalu membeli rokok jenis yang sama setiap harinya. Jadi kalau kita sudah hafal sama customer-nya, kita otomatis hafal sama rokok yang bakal dibeli. Kemungkinan besar sih, customer-customer ini tipe yang setia juga.

Aku kan kerja di dua minimarket ya. Di minimarket satunya, ada customer yang cukup lumayan akrab sama aku, jadi aku sudah hafal rokok yang dibeli biasanya yang nomor satu. Dia selalu membeli rokok itu sampai suatu hari dia ganti rokok yang ada di rak nomor sebelas.

"Eh ganti?"

Mungkin dia tipe yang setia tapi bosan jadi cari yang baru. Sampai sekarang masih membeli rokok nomor sebelas, belum ganti juga.

Ada customer yang beli rokok selalu ganti. Dan gantinya tuh ke merek atau jenis yang berbeda, dari yang rokok biasa ke rokok elektrik, nanti ganti lagi ke rokok biasa. Ini sih bisa dipastikan orangnya tidak setia. (Dipastikan dipastikan... siapa gue? πŸ˜‚) Dan temanku pernah nguping orang ini lagi bahas tentang cewek ke temennya. πŸ˜‚

Ada juga beberapa customer yang selalu membeli dua rokok, jenisnya sama, hanya beda rasa. Kemungkinan sih orang ini tipe kalau pacaran pacarnya sekaligus dua. 😜  Ngarang lagi...

Kalau di minimarket di stasiun sih kebanyakan orang beli rokok hanya satu, dua kotak. Tapi kalau di minimarket yang satunya, ngga sedikit orang yang beli satu karton --yang kenyataannya sekarang sudah ngga pakai karton melainkan pakai plastik tapi tetap saja kita bilangnya 'wan kaaton' alias 'one carton'. Ini tipe-tipe setia dan love banget kali ya. Soalnya itu customer juga datang ke minimarket tiap hari, meskipun beli rokoknya ngga tiap hari.

Aku punya teman, rokoknya Mevius 1 mg yang harganya 490 yen. Aku ingat sampai-sampai waktu dia ulang tahun aku memberikan kado rokok yang biasa dia konsumsi. Setelah lama ngga ketemu, beberapa hari lalu dia main ke rumah, dia ganti rokok merek Camel. Aku tanya kenapa, soalnya dia nggak punya uang, dan Camel harganya cuma 400 yen, lumayan irit 90 yen. Ini sih ngga tahu setia apa engga, yang jelas temenku ini customer tipe yang kere. πŸ˜‚

Ah tapi ngga valid sih. Ada regular customer yang tiap hari beli rokok yang sama tapi sukanya ngajak nge-date orang dan isunya sih punya istri... ah au ah. πŸ˜‚ Sukaknya ngrasani orang mulu aja ih.

Rasanya Punya Roommate Cowok

Rasanya biasa saja.

Kadang-kadang misal aku cerita kalau aku pernah tinggal sekamar sama laki-laki, atau ada teman laki-laki menginap di rumahku ke tante-tante dan teman di Indonesia, mereka suka kaget. Kok berani sih sekamar sama cowok? Emang nggak takut diapa-apain? Aku benar-benar lupa kalau punya roommate laki-laki tuh bukan hal yang biasa bagi sebagian orang Indonesia.

Waktu aku tinggal di Australia, aku sempat tinggal sekamar dengan roommate laki-laki tapi memang hampir tidak pernah yang cuma berdua. Biasanya sekamar berempat atau berdelapan campur laki-laki dan perempuan. Biasa saja. Ngga ada namanya naksir-naksiran atau kejadian yang membahayakan. Pernah sekali sekamar berdua itu pun cuma beberapa hari. Di Jepang pun, juga udah ada dua teman cowok yang pernah menginap di rumah.

Ya biasa saja.
Nggak ada aneh-aneh.

Mungkin karena aku ngga sexually attractive 😭
Kata adekku, aku tuh orangnya aseksual. Bukan aku yang ngga tertarik sama lawan jenis, tapi lebih ke lawan jenis yang ngga tertarik sama aku πŸ˜‚

Dulu pas di Ayr, di Australia ada teman yang tinggalnya beda kamar, tapi seneng banget tidur sama aku sekasur. Aku juga nggak naksir apa gimana. Dia juga bilangnya males, ngga nafsu. Sampai sekarang kalau kutanya, katanya ngga nafsu πŸ˜‚ Tapi gue yakin pasti love nih anak ama gue. Ngapain coba mau tidur sekasur single sama aku yang gendut ini kalau ngga love πŸ˜‚ Pede aja.

Mungkin karena sebelum-sebelumnya aku sering menginap di mixed dorm kalau traveling, jadi sudah terbiasa gitu. Alhamdulillah sih nggak pernah punya roommate cowok yang bau atau drama (lebih aku yang drama soalnya πŸ˜‚). Semua normal-normal aja. Kalau housemate cowok ada sih yang drama πŸ˜‚ Ada yang punya mental disorder (beneran) selalu bertingkah aneh, ada mantan housemate yang pernah ke rumahku di Jepang menginap dan tiba-tiba memutuskan pertemanan πŸ˜‚  Pas saat itu sih aku sampai nangis segala. Sekarang? Ih, bodo amat πŸ˜‚ Padahal dia salah satu teman cowok terdekat pas di Australia. Tapi ya... people come people go.

Punya roommate cewek pun juga biasa aja πŸ˜‚ Ada dua bekas roommate di Ayr dan mereka orang Kyoto, dan kita ketemu lagi dong di sini! Bahkan yang satu sering membantuku dalam segala hal! Roommate-ku yang paling berkesan sih Man (cewek ya), yang berasal dari Hong Kong. Kita jadi roommate di dua desa berbeda di Australia, pernah ngga sengaja ketemu di tengah-tengah outback South Australia, dan kita udah pernah ketemu Hong Kong dan Jepang juga!

Padahal dulu kerjaannya berantem πŸ˜‚

Dibeliin segini banyak sama Man 😭 
Sekarang sih ogah punya roommate, mau cewek mau cowok ogah! Males kalau berantem. Udah tua, butuh ketenangan πŸ˜‚

Persapian

"Jadi kamu ngga boleh makan daging sapi? Kalau minum susu sapi boleh?" tanyaku kepada seorang teman sekolah yang berasal dari Nepal.

"Ya boleh lah. Jangankan susu sapi, kita juga minum urin sapi kok!"

WHAAATTT?

"Serius? Trus rasanya kayak apa? Enak?"

"Nggak enak. Rasanya ya... kayak... pipis."

Sangat menjawab pertanyaanku sih jawaban temanku itu. Meneketehe rasa pipis kayak apaan. Kata temanku sih orang Hindu di negaranya minum urin sapi dalam rangka ritual keagamaan. Saat itu aku cuma memikirkan bagaimana orang bisa minum pipis sapi dan tidak punya pertanyaan lain. Apalagi pas lagi bicara tentang itu posisiku lagi makan 😀

Aku baca di Wikipedia kalau urin sapi itu diminum untuk ritual keagamaan atau obat tradisional di beberapa negara seperti India, Myanmar, Nepal, dan Nigeria. Aku langsung tanya temanku orang Nigeria, dia ngga pernah minum sih. Mungkin yang minum orang yang tinggal di pedesaan atau dia ngga sadar kalau pernah minum πŸ‘Ώ

Bentuknya kaya apa? 😭

Belum lama ini aku makan kare sapi Coco Ichibanya. Selama ini ternyata makan yang babi. Btw, yang kare sapi bentuknya sangat tidak menggairahkan. Aku posting kan fotonya di LINE, trus ada teman SMA japri, "Itu kare apa e**?"

Trus random aja, aku bilang ke temanku, "Eh masa di Nepal orang minum urin sapi loh." Kalau kamu teman chatku, siap-siap aja kukirimi pesan fun fact random macam kayak gini. 😌

Eh dia malah banyak pertanyaan. 

Supaya apa?
Minumnya harus berapa ml?
Makan ciki rasa sapi panggang boleh ngga?
Kalau royco sapi?

Aku jadi penasaran juga 😭 Mau tanya teman Nepalku, dia sibuk, aneh aja tahu-tahu aku nanya tentang urin sapi. Dari Facebook Friends-ku yang ada 800-an, kayaknya orang Nepalnya lebih dari 80, cuma masa nggak pernah chat tiba-tiba nanya tentang urin sapi 😭 Kalau pas ketemu langsung nanya sih gapapa. Tiba-tiba aku keingetan satu teman Nepal yang tinggal di Australia yang sudah lama nggak ketemu dan dulu kita akrab, jadi santay lah nanya-nanya random tiba-tiba.

Dia bilang sih, minum urin sapinya tidak sering tapi memang dipercaya sebagai air suci. Selain itu, juga tidak ada ukuran tertentu harus berapa ml minumnya. Orang-orang hanya take a sip dan biasanya menciprati urin sapi di rumah atau ke badan supaya suci. Dan ya, mereka nggak makan ciki rasa sapi πŸ˜…

Gara-gara ngomongin sapi, aku jadi merasa kalau aku ngga bisa Bahasa Inggris deh. Jadi kan orang Hindu ngga boleh makan cow ya, dan aku baru tahu kalau cow itu sapi cewek 😭 Trus kalau sapi cowok boleh makan nggak? Yang kita biasa makan daging sapi tuh cewek apa cowok? Kok aku bingung sendiri sih?

Lactose Intolerance is Real

Belum lama ini, aku baru menyadari kalau sepertinya badanku tidak toleran sama laktosa. Terbukti setelah minum minuman yang mengandung susu, seperti es kopi susu, bubble tea, kadang-kadang es krim, hampir selalu membuatku sakit perut dan mencret. Tidak 100% tapi bisa dibilang lebih dari 90% kemungkinan perutku bakal mules-mules setelah setengah sampai 2-3 jam setelah konsumsi susu.

Padahal sempat suatu waktu, aku lagi gemar minum susu nggak tahu kenapa. Oh ya, aku nggak punya kebiasaan minum susu tiap hari dari kecil, cuma kadang-kadang saja. Bahkan sempat dua tahunan nggak minum susu blas, karena lebih memilih minum susu kedelai. Nah, suatu hari, aku jalan-jalan ke Maizuru, sebuah kota kecil di bagian utara Prefektur Kyoto. Hari itu, aku lagi in the mood banget buat minum susu, dan sebagai orang yang sangat mengikuti feeling, aku membeli satu pak kecil susu sapi di sebuah bakery.

Nggak lama, perutku mulas 😭
Padahal hari itu hujan lumayan deras, dan aku nggak bisa lihat ada toilet umum, atau restoran cepat saji di pandangan mataku. Sedangkan tujuanku, aku masih harus berjalan kaki selama 20 menit. Dalam hati rasanya pengen mengumpat ke diri sendiri, sudah tahu kalau tidak kuat minum susu tapi memaksakan, dan kondisinya lagi jalan-jalan. Kan jadi fokus menahan sakit perut dan mencari toilet.

Sekitar lima menit kemudian, aku melihat Seven-Eleven yang cukup besar dengan parkiran yang luas. Hampir semua Seven-Eleven menyediakan toilet, jadi pas lihat sevel tuh rasanya, terharu ingin menangis 😭

Lega rasanya.
Pas jajan ini nggak inget ke toilet apa engga.
Itu kejadian sebelum masa-masa korona. Kalau sekarang gini, lagi jalan-jalan nggak berani deh minum susu. Masalahnya, gara-gara korona ini, banyak convenience store atau toko yang punya toilet untuk customer, menutup toiletnya untuk umum. Kalau pun nggak ditutup pun, jadi ribet, seperti harus bilang ke stafnya kalau mau menggunakan. Karena sepertinya, setelah toilet digunakan, stafnya harus buru-buru mendisinfek toiletnya.

Sekitar dua-tiga minggu lalu, aku pergi ke sebuah kuil yang terkenal sebagai kuil kelinci. Namanya Okazaki Jinja. Sebelum sampai ke kuilnya, aku jajan eskrim yang berbasis susu dan emang nyusu banget.

Benar saja, tiba-tiba perutku mulas seperti mulas yang kurasakan setiap minum susu. Di kuilnya aku tidak bisa menemukan toilet dan kantornya sudah tutup karena aku datang ke sana sore hari. Kepalaku langsung berputar memikirkan di mana aku bisa pergi ke toilet. Ada banyak fasilitas umum di dekat sana, tapi paling tidak aku harus jalan 15 menit. Aku sudah nggak kuat 😭

Di depan kuil persis ada supermarket, aku tidak berharap banyak sih, tapi coba saja. Alhamdulillah ada! Tapi ya itu, gara-gara korona, kalau mau pakai toilet harus bilang sama stafnya. Waktu itu kok ndilalah stafnya lagi pakai toiletnya, jadi pas dia keluar, aku langsung izin pakai toiletnya. 😭 Capek, mau nangis rasanya.

Udah ah kapok nggak minum-minum susu lagi kalau di luar rumah.

Tapi aku belum kapok juga ternyata πŸ˜‚ Aku pergi ke salah satu mal besar di Osaka, dan membeli Chai Latte ala Jepang dalam pek. Sudah di dalam bus mau ke arah, mulas tak terkira. Mau balik ke malnya, jalannya lumayan jauh dan busnya cuma ada 30 menit sekali. Mau ngga mau kutahan dan yang kulakukan dalam bus adalah melihat Google Maps dan berharap busnya cepat sampai stasiun. 😭

Yang ini lumayan parah, aku sampai rumah masih mual-mual.
Memang harus berhenti minum susu di luar rumah. Perasaan kalau minum di rumah nggak selalu mulas, bingung gue.