Perzooman

Hampir setahun aku sudah tidak pergi ke sekolah. Semua kelas dilakukan melalui Zoom. Aku sih prefer kelas offline, langsung ketemu guru di kelas, apalagi kelasku kebanyakan adalah kelas praktik, jadi susah kalau mau bertanya sama gurunya. Selain itu, jadi berasa tidak punya teman sekolah karena sama sekali tidak bertemu. Ada satu kelas yang memberikan kesempatan kepada murid-murid buat ngobrol di breakout room, tapi itupun hanya sekali dan kelas lainnya tidak ada sama sekali.

Meski prefer kelas offline, kelas online juga ada sisi positifnya seperti tidak perlu menghabiskan waktu untuk naik bus ke sekolah, tidak perlu ganti baju, leyeh-leyeh di tempat tidur juga masih bisa mengikuti. Bahkan jadi memberikanku ide buat ambil kelas bahasa asing di sekolah bahasa asing di Indonesia tapi akunya ngga di Indonesia. Lebih murah. 😜

Di postingan kali ini, aku mau membahas soal sedikit kekecewaanku dengan kelas zoom pelajaran/webinar di Indonesia.

Awalnya, aku pakai zoom hanya untuk mendengar kelas kuliah. Itu pun aku ngga pernah pakai fitur annotate, share screen, jadi sempet kagok waktu ada tugas presentasi dan disuruh share screen. Kayak paling norak satu kelas karena aku nanya gurunya, gimana cara share screen di zoom 😂 Norak. Padahal tombol share screen ada di tengah-tengah.

Kemudian aku pakai zoom buat ikut event job-hunting seminar, webinar-webinar, dan kelas bahasa. Aku merasakan perbedaan yang sangat amat mendalam dari kelas Zoom yang diadakan di Jepang, dan kelas Zoom yang diadakan di Indonesia. Woh, beda banget.

Yang paling membedakan adalah soal ketepatan waktu.

Kelas kuliahku di sini, semua tepat waktu. Kadang aku telat satu menit, ya gurunya sudah mulai ngomong. Bahkan kalau gurunya mau telat, dari seminggu sebelumnya dia sudah minta izin ke murid-muridnya kalau mungkin bakal telat. Meskipun kenyataannya dia tetap tepat waktu mulainya. Ngga ada tuh acara kelas mulai jam setengah dua siang, baru dimulai setengah dua lebih sepuluh menit. NGGA ADA.

Suatu hari, aku ikut webinar yang diadakan oleh temanku. Alasan aku ikut karena aku ingin lihat teman SMA ku yang sudah lama ngga ketemu. Webinar Zoom saat itu adalah webinar Indonesia yang pertama kali aku ikuti.

Moderatornya telat dong, seingatku lebih dari 15 menit. Ujung-ujungnya, webinar dimulai terlambat 45 menit. WOW. Aku cukup culture shock. 😂

Kelas bahasa asing yang aku ikuti pun juga tidak terlalu tepat waktu. Kadang aku join dua menit sebelum dimulai, itu baru ada gurunya dan dua murid. 😂 Ujung-ujungnya kelas dimulai telat sekitar tiga sampai lima menit. 

Hari ini pun aku ikut webinar Indonesia. Telat 10 menit, dong. 😓 Ngga ada apa ya yang tepat waktu?

Cocok di bidang service

Belum lama ini, seorang partner kerjaku di toko bilang kepadaku, "Una-san kayaknya cocok banget deh kerja di bidang (customer) service..."

"Hah? Maksudnya?" sambil kebingungan karena tiba-tiba dia bilang begitu.

"Abis customer-customer pada suka ngobrol dan ketawa-ketawa kalau di kasir Una-san. Una-san baik sih, ramah, customer pada suka sama Una-san."

Dalam hati gua, yang suka ama gua yang tua-tua, kakek-kakek kalau ngga nenek-nenek. 😂 Itupun yang jutek juga ada lah ya.

Tapi memang sih, aku tuh seneng 'melayani' orang, seneng aja kalau customerku senyum dan bahagia. Sudah gitu, aku kan orangnya suka mendengarkan cerita orang dan suka kepo sama kehidupan orang, jadi customerku yang kebanyakan tua-tua itu senang. Kepo di sini bukan yang ngulik-ngulik gitu ya, ingin tahu aja tapi trus ngga nanya nyerocos. Karena menurutku aku tiap orang punya cerita dan pengalaman yang berbeda yang bisa kita pelajari.

Mungkin lebih tepatnya, aku juga suka kalau aku disukai sama orang. Jadi kalau aku bikin customer senyum, otomatis customernya bakal 'suka' sama aku. Aku tuh ngga suka dijutekin. Siapa yang suka kan ya? Makanya aku mau customerku juga 'baik' sama aku.

Kata partnerku yang lain, aku pintar mengobrol. Padahal ngga juga, tergantung ngobrol sama siapa. Sering aku berada di situasi yang mengharuskanku berhadapan sama orang trus yang ada jadinya awkward banget.

Sudah gitu, aku merasa kurang bisa handle customer yang komplain dan marah-marah. Biasanya aku panik sendiri kebingungan. 😓 Kalau pas lagi oke sih, kadang bisa menghadapi dengan tenang tapi seringnya enggak. Makanya aku masih suka cemas kalau berpasangan sama partner yang masuk kerjanya lebih belakangan dari aku. Takut sama-sama ngga bisa handle. 😂

Mau cerita itu aja. 👀

Jadi orang harus baik

Tahun 2019, aku sempat pindah apartemen. Saat itu aku tidak punya furnitur, jadi barangku bisa dipak dalam koper. Lagian apartemen baruku, yang sekarang aku tinggali, letaknya hanya satu kilometer dari apartemen yang lama. Jadi kalau bolak-balik ngga masalah. Masalahnya, aku punya kulkas.

Kulkasku cuma kulkas kecil tapi kulkas hanyalah kulkas, mau kecil beratnya minta ampun. Dan pindahan di Jepang, kalau harus pakai layanan pindahan pakai truk itu lumayan mahal ya. Aku belum cari-cari layanan pindahan banget soalnya yang 'menyusahkan'-ku hanya seonggok kulkas cuma kalau harus bayar, ya udah lah ya mau gimana lagi. Aku juga mikir mungkin bisa pakai taksi.

Suatu hari, aku bertemu dengan dua teman orang Jepang. Kami bertemu di izakaya sambil nostalgia kehidupan kami di Ayr, Australia. Lalu aku bercerita kalau aku mau pindah apartemen. Temanku bertanya bagaimana aku pindahan, aku bilang ngga tahu, karena ngga punya barang banyak kecuali hanya kulkas satu. Eh dia menawarkan bantuan dong buat bantuin pindahan aku. 😭

Baik banget. Dia juga memberiku sebuah coffee table yang sebenarnya punya kakaknya tapi sudah tidak dipakai. Oh ya, buang barang besar seperti furnitur dan alat elektronik di Jepang itu tidak mudah. Harus booking ke kota untuk sampahnya dijemput dan harus bayar. Aku juga baru tahu kalau payung (bukan yang lipat) juga termasuk 'barang besar' jadi kalau buang ya harus bayar. 

Jadi kalau punya furnitur atau barang elektronik yang ingin dibuang, mending dikasih orang yang membutuhkan saja.

Setelah pindahan, aku telepon ibuku dan cerita kalau pindahan dibantu oleh temanku dan orang tuanya. "Baik banget Bu, orangnya."

Ibuku bilang, "Ya memang gitu, jadi orang memang harus baik kan."

Temanku ini baiknya keterlaluan. Suka kasih macam-macam, semacam masker waktu cari masker susahnya minta ampun, kemarin ke rumahnya juga dikasih masker sedus, suka traktir, padahal orang Jepang seringnya kalau makan ya bayar sendiri-sendiri.

Temanku ini seperti 'berterima kasih' kepadaku karena aku suka bantu dia kalau dia ada masalah yang berhubungan dengan Bahasa Inggris sejak dari Australia hingga sekarang. Kayaknya misalnya urus pajak dia, teleponin bank karena dia ngga bisa Bahasa Inggris, dan lain-lain. Dia merasa 'merepoti' yang padahal ngga juga.

Aku merasa cuma membantunya sedikit, tapi aku dapat bantuan lebih banyak. 

Natal kemarin, tiba-tiba aku pengen kasih hadiah ke owner dan ibunya (store manager) tempat aku bekerja. Sebenarnya pengen kasih pas ulang tahun, Agustus dan September, tapi waktu cepat berlalu, aku sampai lupa. Sampai akhirnya natal, baru ingat lagi dan bisa kasih dalam waktu bersamaan.

Owner toko aku bekerja ini baik banget. Sempat aku diliburkan karena suhu badanku tinggi banget, yang padahal karena termometernya saja, aku tidak merasa sakit sama sekali. Di termometer lain suhuku normal. 👀 Dunia ini memang penuh dengan bullshit. Anyway, si owner bahkan mengantarkanku makanan yang banyak banget dan masker satu dus. Dia sering kasih aku makanan dan buku juga tapi aku kok merasa ngga pernah kasih apa-apa. Masa korona gini yang membuat sales toko jadi turun drastis, membuat ownerku juga rada-rada cemas. Mungkin dikasih hadiah natal, bisa bikin seneng sedikit kali ya.

Aku jadi keliling mal bawah tanah Stasiun Kyoto untuk membeli hadiah untuk owner dan store manager. Aku membeli beberapa produk dari Body Shop untuk ownerku dan handuk plus teh untuk store manager-ku.

Eh kok ya, ownerku mengajak minum kopi di Starbucks dan saat itu aku memberi hadiah natalnya. Keesokan harinya aku memberi hadiah natal ke store managerku.

Minggu depannya, store managerku bilang kalau mau membalas hadiah natal dariku. Aku bilang ngga usah karena ngga perlu (sudah terlalu banyak barang di rumah!). Dia bertanya apakah aku mau pencuci rambut atau pencuci muka. Aku bilang rambut saja.

Aku disuruh milih sendiri dari rak toko. 😂 Akhirnya aku ambil sampo dan kondisioner merek Lux. Eh dia keukeuh membelikanku sabun muka juga (soalnya kusem kali ya. 👀). Akhirnya aku juga dibelikan sabun muka dan moisturizer Fancl. Banyak banget. Aku terharu. 😭

Lux dan Fancl.

Gara-Gara Corona

Sejak corona, sekolahku jadi online. Tinggal di Jepang sih iya, tapi ngga berasa yang namanya 'lagi sekolah di Jepang'. Teman sekolah pun rasanya ngga punya.

Tapi, setelah semua-semua menjadi online. Aku kepikiran, kenapa ngga kursus bahasa asing aja di sekolah bahasa di Indonesia, dengan harga Indonesia, tapi akunya di Jepang?

Aku tuh aslinya suka banget belajar bahasa tapi kalau ngga ikut kelas, ngga semangat belajarnya. Kalau ikut kelas, lebih termotivasi, lebih disiplin, dan di luar kelasnya pun jadi semangat belajarnya. Waktu awal sampai di Jepang, aku berniat ikut les bahasa asing. Tapi namanya di Jepang ya, mahalnya minta ampun. Kayak sayang aja, mending pakai duolingo. 

Gara-gara corona, sekolah bahasa asing di Indonesia juga jadi online kan. Trus kebetulan aku punya junior saat kuliah (yang lulusnya duluan, jadi itu junior atau senior?) dan hobinya sama kayak aku, belajar bahasa asing. Dulu kami pernah satu kelas, belajar Bahasa Rusia di Pusat Kebudayaan Rusia di Jakarta. Dia ini rajin share informasi bukaan kursus bahasa asing gitu dan dia menyarankan tempat kursus Spanyol tempat dia belajar.

Yaudah aku daftar. Dan minggu ini sudah minggu kelima. Setiap kelas waktunya tiga jam termasuk 15 menit istirahat dan tiga jam selalu berasa pendek sekali. 

Kelas Spanyol-ku.

Harapanku tahun 2021 sih salah satunya semoga bisa percakapan lancar dengan Bahasa Spanyol. 😄

Nihonjin no Shiranai Nihongo

Salah satu toko favoritku di Jepang adalah toko 100 yen. Yang paling terkenal ada Daiso, Can Do, dan Seria. Di toko-toko ini hampir semua barang yang dijual harganya 100 yen atau sekitar 14000 rupiah dengan kurs sekarang. Ada beberapa barang yang harganya lebih dari 100 yen tapi jelas tertulis di kemasan atau tag-nya.

Di toko 100 yen beragam jenis barang di jual, mulai dari alat bersih-bersih, peralatan dapur, peralatan mandi, alat tulis, alat bercocok tanam, kosmetik, bahkan sampai bahan makanan. Bayangin aja, kamu bisa beli mangkok cantik, pisau dapur, alumunium foil gambar Hello kitty, atau spidol 30 warna dengan harga 14000 rupiah! Di Jepang yang apa-apa serba mahal, tentunya kesannya jadi murah banget kan ya. Sedangkan lima tahun lalu 1 yen bahkan ngga sampai 100 rupiah, kebayang kalau dulu murahnya kayak apa kan. 😓

Di mal dekat rumah ada Daiso yang katanya paling besar di Kyoto. Bagian yang selalu aku datangi sih paling bagian dapur, alat bersih-bersih, dan character goods. Di Daiso ada bagian rak character goods, biasanya ada Hello Kitty, Mickey Mouse, Doraemon, dan lain-lain. Misal nih Hello Kitty, macem-macem ada, mulai sendok, card case, eco bag, tempat kacamata, macem-macem lah. Dan semua bisa dibeli dengan harga 100 yen. 

Kadang-kadang kepengen beli gelas Mickey Mouse, murah ini, tapi mikir lagi. Menuh-menuhin rumah, wong tinggal juga sendiri, gelas satu aslinya cukup. Aku punya empat yang dipake ya yang itu-itu aja. 

Aku cukup jarang lihat bagian alat tulis kecuali emang lagi butuh. Kemaren aku mampir ke bagian alat tulis dan melihat ada rak yang berisi buku-buku. Kebanyakan buku anak, tapi ada sudoku, dan ada satu komik yang pas lihat aku ngga pakai mikir, langsung angkut. Judulnya Nihonjin no Shiranai Nihongo. Kira-kira artinya Bahasa Jepang yang tidak diketahui oleh orang Jepang.

Baru satu sisi rak. Ada eco bag, pouch, dompet koin Sanrio. 

Dulu aku pernah menonton versi dramanya. Ceritanya tentang seorang guru Bahasa Jepang yang mengajar Bahasa Jepang untuk orang-orang asing. Dramanya lucu banget karena memotret bagaimana perbedaan budaya antara Jepang dan negara lain, dan keingintahuan murid asing mengenai perbendaharaan Bahasa Jepang yang bahkan gurunya ngga yakin buat jawabnya. Karena dulu aku les Bahasa Jepang jadi bisa relate aja.

Benci adalah Kata yang Kuat

Dalam Bahasa Jepang, benci adalah 'kirai'.

Aku benci kamu = anata kirai.
Aku benci kopi = kohii kirai.

Entah perasaanku saja tapi orang-orang sekitarku yang hanya sedikit itu seperti mudah sekali mengatakan kata 'kirai'. Ada seorang teman, orang Jepang, dengan mudahnya bilang, "Aku benci kakekku. Aku pengen dia cepet mati." 👀 Aku hargai kejujurannya tapi seriusan bisa punya pikiran seperti itu? Wow.

Ada juga seorang teman, bukan orang Jepang. Dia ini perempuan, sedang sekolah S3, dan temanku bekerja di minimarket. Sebut saja namanya Sonia. 👀 Waktu itu kami membahas soal salah satu staf lain, laki-laki yang berkewarganegaraan sama dengan dia, sebut saja Benjamin. Beberapa orang benci Benjamin, termasuk si Sonia ini. Yang padahal si Sonia ini jarang bekerja dalam shift yang sama dengan Benjamin.

"Dia itu kan bodoh ya. Aku benci banget sama orang bodoh. Udah gitu aku jijik sama dia."

 👀 👀 👀 

Aku sendiri agak jijik sama Benjamin karena dia pernah mengunggah fotonya hanya dengan pakai celana dalam. Jadi bentuk itunya kelihatan. 😂 Tapi selain itu aku merasa Benjamin adalah orang yang baik banget dan tidak egois. Dia bodoh? Menurutku semua orang ada sisi bodohnya dan aku tidak punya alasan apapun untuk membenci Benjamin.

Aku pernah kerja satu shift tengah malam dengan Benjamin dan ia selalu menyuruhku untuk santai dalam bekerja. Ngga usah keburu-buru. Dia selalu membantuku kalau aku tidak paham. Dia juga pernah membelikanku cokelat Godiva. 😂 Waktu kami kerja satu shift, kami selalu jalan kaki bersama arah pulang sampai kami berpisah karena rumah kami beda arah. Kami suka bertukar cerita dan menurutku dia orang yang sedikit polos dan jujur. Tapi sejak korona kami tidak pernah kerja satu shift apalagi aku lebih memilih kerja shift pagi.

"Tapi Benjamin baik tau..." begitu kataku ke Sonia.

"Baik itu ngga cukup tahu buat jadi cowok. Aku ngga bisa kalo harus pacaran sama orang yang kaya gitu." Dalam batinku, ya emang iya, tapi kaya Benjamin mau sama kamu aja. 😂

Di tempat kerja beberapa orang juga bilang benci sama bos kita. Dan kaya bilangnya hampir setiap ketemu aku kalau mereka ini 'benci' sama si bos.

Ya memang sih dia cerewet tapi orangnya baik, suka ngasih-ngasih. Aku ngga sebel gimana sih sama bos ini.

Ya namanya manusia biasa, aku juga suka kadang kesel sama orang tapi abis kesel ya udah, ngga trus langsung jadi benci apa gimana. Ngapain, kayak buang-buang energi aja.

Baru-baru ini, ada seorang teman yang tadinya lumayan akrab dan saat itu sedang mabok. Kemudian dia mengirimi aku pesan suara yang berkata kalau aku adalah perempuan paling murahan yang pernah ia temui. 👀

Jujur saja aku ngga sakit hati sama sekali, soalnya sudah beberapa kali dia ngatain aku. Cuma aku jadi jaga jarak dan nggak mau kontak lagi sama temanku ini. Ngapain berteman sama orang yang ngomongnya kasar. Yang ada bikin hati capek, buang-buang energi.

Kalau ditanya benci apa engga, ya bagian itu sih benci tapi selain itu orangnya baik sebenarnya. Tapi ya manusia ya ada sisi baik ada sisi buruknya. Kebetulan saja aku ngga bisa tahan dengan sisi buruknya saja.

Soal makanan, aku juga kayaknya ngga pernah yang benci sama makanan trus jadi sama sekali ngga makan. Jarang sekali makanan yang aku anggap ngga enak sampai-sampai aku ngga bisa makan. Aku yang kurang bisa makan pedas pun sekarang kadang-kadang mulai memasukkan bubuk cabe ke dalam Indomie Gorengku. Kalau export kayaknya bubuk cabe ya bukan sambal. Itu pun nggak masukin bubuk cabe semuanya, separuh pun nggak ada. 👀

Mungkin ada yang ngga enak banget sampai ngga bisa makan buatku tapi belum kepikiran. Nanti kalau ketemu aku tulis. Meskipun ngga ada yang baca. 👀

Ngga tahu ya, menurutku benci tuh kata yang kuat banget. Makanya kan banyak yang bilang kalau sama orang atau sesuatu jangan benci-benci banget karena yang ada nanti jatuh cinta.

Mungkin karena itu juga kali ya, sampai sekarang kayaknya aku nggak pernah jatuh cinta-jatuh cinta amat. 👀