Apakah Eek Bisa Menyublim?

Sedekat apakah kamu dengan saudara kandungmu?

Aku sih perasaan nggak akrab-akrab amat tapi adekku bahkan sampai PAP eeknya ke aku. πŸ˜“ Aku nggak marah sih cuma males aja ngapusin fotonya. Sudah gitu tadinya setting WhatsApp-ku foto yang diterima tuh otomatis tersimpan di memori hape, jadi harus menghapus foto di galeri, belum lagi yang di folder 'Recently Deleted'.

Pagi ini adekku menelepon saat aku sedang di toilet.

"Jangan PAP lho, Un..."

"Emang kamu mau tak kirimi?"

"Emangnya padat apa cair? Apa eekmu menyublim?"

Gara-gara adekku bertanya tentang bentuk keluaranku, aku langsung berpikir apakah memang mungkin makanan yang kita makan bisa menyublim kali ya. Soalnya, aku tuh bisa nggak buang air besar selama seminggu. Menjijikkan ya?

Aku sadar kalau aku bukan orang yang melakukan defekasi setiap hari. Makanya aku suka sirik sama orang yang lancar defekasinya, uh wow~ metabolismenya lancar sekali. Aku kok nggak lancar sih, makanya aku gendut kali ya? πŸ˜“ Meski nggak sehari sekali setidaknya dalam seminggu 3-4 kali sih. Cuma, aku perhatikan setelah aku mulai mengurangi makan drastis dan melakukan One Meal a Day ala ala sempat aku delapan hari nggak buang air besar.


Meskipun konstipasi, aku tidak merasa perutku bermasalah. Aku pun juga tidak ngedan keras. Makananku menurutku seimbang, aku makan serat yang cukup, dari kacang-kacangan dan sayur-sayuran. Buah jarang makan sih karena di Jepang buah mahal. πŸ˜‘ Aku coba makan laksatif natural seperti prune dan fig, juga tidak melancarkan ususku. Aku mengkonsumsi cairan pun bisa lebih dari dua liter sehari tapi tetap saja. Selain itu, meski aku tidak 'mengeluarkan', beratku bisa turun dua-tiga kilo dalam seminggu. 

Lalu makanan yang kumakan itu pergi ke mana?

Aku jadi merasa kotor deh membayangkan makanan yang seminggu lalu kumakan masih berjalan di ususku. Aku berharap benar sih makanan bisa menyublim 😌 Apalagi setelah aku membaca kalau hasil pembakaran kalori dan lemak dalam tubuh adalah karbondioksida dan air. Makanya, aku seneng banget deh kalau flatulensi (buang angin), aku merasa kalori dan lemakku keluar. Selain itu, aku jadi mencoba mengeluarkan nafas lebih banyak dari menarik nafas supaya karbondioksidaku keluar lebih banyak (ngarang aja).

Apa memang aku ditakdirkan metabolismenya lambat ya πŸ˜“

Terlihat Hepi

Di Jepang, aku punya teman cowok yang tadinya lumayan akrab dan kami berbicara tiap hari. Teman ini lebih muda dan aku anggap seperti little brother. Aku sering mengajaknya jalan-jalan, makan bareng, atau membelikan cemilan kesukaannya. Tapi lama kelamaan, aku capek dan mulai mengurangi komunikasi dengan temanku ini. Alasannya dia selalu mengeluh tentang hidupnya dan keluhannya selalu sama selama hampir setahun.

Keluhannya: selalu dicuekin cewek, susah dapet pacar, capek bekerja tengah malam, tidak punya uang, tidak bisa berbahasa Jepang, dan lain-lain. Setiap ketemu dan telepon selalu mengeluh tentang hal ini sampai akhirnya aku malas mendengarkan. Aku mulai menjaga jarak dan sekarang hanya mengobrol sekitar seminggu atau dua minggu sekali. Meskipun sudah jarang dia tetap mengeluh. Ia selalu menyelingi pembicaraannya dengan, "maaf ya, tiap mengobrol sama kamu aku selalu komplain." Ah, pret.

Beberapa hari lalu dia menelepon dan dia mengeluh kalau ia khawatir dengan hidupnya di Jepang. Dia selalu janjian dengan cewek tapi last minute ceweknya selalu membatalkan. Dia takut bertahan hidup di sini karena tidak bisa berbahasa Jepang. Dia juga sempat bilang, "Kalau aku kayak kamu lancar Bahasa Jepang mungkin aku nggak akan khawatir kayak gini. Kamu sepertinya menikmati hidup banget. Sudah bisa Bahasa Jepang, kamu punya uang bisa jalan-jalan, makan-makan mulu. Kayak nggak ada beban."

"Kamu kira aku tidak punya hal yang aku khawatirkan apa? Ya ada banyak, tapi masak nggak bisa hepi? Nggak bisa seneng-seneng?" 

Tadi-tadinya kalau dia mengeluh, aku selalu omelin. Tapi lama-lama capek karena diomelin nggak pengaruh, ya mending dicuekin aja. Ngapain buang-buang energi kan. πŸ˜„ Dalam hati, dikira sini lancar apa Bahasa Jepangnya? Seringnya aku nggak paham orang ngomong apa πŸ˜„ Dikira sini duitnya banyak apa? Aku kan nggak beli kaos seharga 18000 yen atau parfum 7000 yen. Temanku ini suka mengeluh nggak punya tabungan tapi kalau belanja barang brand mulu. πŸ˜’

Beberapa teman suka bilang kalau hidupku enak, beruntung, dan hepi terus. Yang padahal menurutku mereka lebih beruntung dari pada aku. πŸ˜‚ Tapi yang jelas aku bersyukur, hepi dan merasa beruntung, sih.

Aku jadi ingat ibuku suka cerita waktu kecil aku suka diajakin jalan kaki panas-panas dan aku tidak pernah mengeluh. Orang-orang yang melihat bahkan kasian dan bilang sama ibuku kalau kasian anaknya diajak jalan-jalan panas-panas, tapi kata ibuku, "Anaknya aja nggak apa-apa. Malah seneng." Di umurku yang segini, aku masih bekerja fisik, belum bisa menabung, hobinya cengenges-cengenges, sering menangis dan kurang sabar, dan ya aku hepi. Emang yang penting tuh bersyukur sih ya. πŸ˜„ Mau punya apapun kalau nggak bersyukur ya hidupnya nggak enak, nggak hepi.

Enak ya kamu Un...

Ho oh, enak! Ape loh πŸ˜‚

Cash is (still) the best (in Japan)

Urusan perbankan dan perduitan, menurutku Jepang cukup tertinggal dibanding negara maju lainnya. Kalau di Cina, bahkan kamu dengan mudah bayar pakai QR code di pasar tradisional atau seperti di Australia, mau di toko di dekat gurun pun bisa bayar pakai debit card dengan one tap, di Jepang?

Hampir semua ATM tidak 24 jam, kalau pun 24 jam ada biaya yang tidak murah untuk mengambil uang tunai. Misalnya nih, aku punya akun bank di bank kantor pos Jepang (JP Bank). Kalau aku menarik tunai di ATM JP Bank ya tidak dikenakan biaya apa-apa. ATM JP Bank ada di seluruh kantor pos yang ada di Jepang. Kalau kantor posnya kecil, ATM hanya buka Senin-Jumat sekitar pukul 09.00-17.00 dan Sabtu hanya sampai pukul 12.30. Ini di kantor pos kecil sekitar rumahku ya, mungkin bisa beda di prefektur lain. Kalau hari Minggu butuh uang tunai tapi nggak mau kena biaya ya harus pergi ke kantor pos besar, yang alhamdulillah tidak jauh dari rumah. Opsi lain pergi ke ATM JP Bank yang terinstal di beberapa Family Mart.

ATM di kantor pos utama di Kyoto City pun tidak 24 jam, melainkan buka dari 00:05 - 23:55, jadi dalam sehari tutup 10 menit. Internet banking pun punya jam akses yang sama. Awalnya aku pikir ah becanda kali ya, tahunya beneran πŸ˜‚ Sempat aku mau transfer ke toko Indonesia jam 12 malam, eh benar tidak bisa akses webnya dan harus menunggu sampai pukul 00:05. 

ATM di convenience store semua 24 jam, tapi ada biaya transaksi. Biayanya pun tergantung waktu kita melakukan transaksi. Misalnya, aku pakai kartu ATM JP Bank mau menarik tunai di ATM Seven Bank di Seven Eleven. Kalau aku tarik tunai saat hari kerja dan kerja (09.00-17.00), biaya yang dikenakan sebesar 110 yen atau sekitar 14000 rupiah. Kalau aku ambil uang di jam delapan malam atau hari minggu, biaya yang dikenakan dua kali lipatnya 220 yen atau sekitar 28000 rupiah. Kalau cuma mau ambil 1000 yen trus biayanya 220 yen kan gimana ya πŸ˜“ Beberapa teman sih nggak terlalu peduli soal biaya yang 'cuma' 110 atau 220 yen ini, tapi bagi aku yang belum kaya kok rasanya berat ya.

Sudah gitu, kartu ATM bank di Jepang biasanya hanya bisa digunakan buat tarik tunai saja (atau transaksi lain di ATM). Bukan kartu debit yang bisa dipakai belanja. Jadi kalau mau bikin Visa atau Mastercard Debit Card, harus apply lagi kartu lain. πŸ˜– Bisa tarik tunai pakai kartu debit itu, tapi dikenakan biaya juga meski digunakan di ATM bank yang sama. Au ah lap, capek.

Baru belakangan ini di Jepang mulai digalakkan penggunaan cashless payment. Kalau e-money atau kartu kredit dari dulu sudah digunakan, tapi setahun dua tahun belakangan mulai muncul banyak QR code/barcode cashless payment. Sebut saja Paypay, Line Pay, AU pay, FamiPay, banyak lah. Untuk mengajak orang menggunakan pembayaran non-tunai, pemerintah Jepang banyak melakukan promosi kayak dari Oktober 2019 sampai Juni 2020 kalau bayar non-tunai bisa dapat cashback 2%. Sekarang pun kalau menghubungkan kartu My Number (semacam KTP) dan salah satu pembayaran non-tunai yang digunakan bisa dapat cashback 25% maksimal 5000 yen. 

Cashless payment memang bisa dibilang telat di Jepang, tapi apakah itu hal yang buruk? Nggak tahu, mungkin pembayaran pakai uang tunai lebih baik. Data kita belanja apa ngga tercatat di sistem, hidup kita nggak terlalu 'dikontrol' sama pemerintah atau siapa kek yang mau memakai data kita. Contohnya saja ya, aku pakai e-money bernama ICOCA yang diterbitkan oleh perusahaan kereta, JR West Japan. Di mesin pembelian tiket, dengan ICOCA aku bisa lihat history aku pergi dari stasiun mana dan turun di stasiun mana saja. Kadang-kadang aku lihat nama stasiun yang sampai aku lupa kalau aku pernah ke sana. Ini baru data stasiun yang pernah diinjak, bagaimana kalau pakai cashless payment yang terhubung ke kartu kredit atau akun bank kita misalnya, trus terhubung lagi ke kartu My Number. Seperti di dunia ini sudah tidak ada privasi~ yang benar-benar privasi.

Anyway, aku sempat mencoba Paypay dan menurutku sangat praktis. Untuk men-charge Paypay, aku tinggal menghubungkan akun Paypay-ku dan akun bankku, dan aku bisa charge Paypay dalam hitungan detik di telepon pintarku (yang kelewat pintar makanya aku takut dan sekarang aku mencoba mengurangi penggunaannya). Aku sempat berpikir, uh wow~ urusan pembayaran di Jepang tidak pernah semudah ini. Apalagi Paypay ini bisa digunakan di hampir semua tempat. Tapi beberapa waktu lalu, layanan charge Paypay dengan akun bank yang kupakai tidak tersedia lagi. πŸ˜“ Sepertinya alasan security karena mudah banget charge-nya tinggal sekali klik langsung didebit dari akun bank. Sekarang aku tidak lagi menggunakan Paypay.

Kemarin aku usai membeli blender. Ketika aku mau membayar dengan kartu debit, ditolak dong. Setelah aku cek e-mail ternyata karena melewati limit. Jadi tuh, supaya irit, aku mengatur limit penggunakan kartuku dalam sekali penggunaan maksimal 10000 yen dan harga blendernya 10747 yen. Enaknya kartu debit yang aku gunakan ini, aku bisa mengatur limit-nya via aplikasi atau web. Saat itu aku buka aplikasinya dan 'tidak bisa terhubung dengan server'. Aku pun bingung dan bertanya-tanya kenapa ini harus terjadi di saat aku ingin membeli blender impianku. Aku segera mencari ATM dan tada~ ternyata aku tidak bawa kartu ATM -yang kok ya kemarinnya aku taruh di tempat lain yang padahal biasanya tidak pernah.

Aku memutuskan untuk pergi ke kantor pos besar untuk mengambil uang tunai dengan debit card-ku, ternyata tidak bisa dan slipnya mengatakan 'kartu tidak terafiliasi'. WHAT! Aku cek web ternyata webnya sedang di-suspend. Aku bertanya kepada staf bank bagaimana cara aku menaikkan limit debit card-ku karena aplikasi dan web tidak bisa diakses. Setelah menunggu lama, aku mendapat jawaban: harap telepon ke nomor ini untuk mengubah limit penggunaan. Aku bertanya kenapa aplikasi dan web tidak bisa diakses, kata stafnya karena terjadi banyak penipuan dan penyelewengan dan masalah keamanan sehingga sementara di-suspend.

Aku yang malas menelepon call center (karena biasanya tidak paham πŸ˜‚) memilih untuk pulang, mengambil kartu ATM dan membayar blender dengan uang tunai.

Tahun lalu juga ada kasus 7-Pay, cashless payment-nya Seven Eleven yang baru sehari rilis sudah ada kasus peretesan dan akhirnya layanannya dihentikan tak berapa lama kemudian. Kurang paham, yang katanya Jepang tuh nomor satu teknologinya tapi seperti tidak siap dengan cashless payment. Ah tapi ngga tahu lah, buat aku sekarang kayaknya cash emang masih yang terbaik.

One Meal A Day

Bulan Agustus lalu, aku mencoba melakukan OMAD, One Meal A Day, alias puasa ekstrim di mana aku hanya makan sekali sehari. Dalam 24 jam, hanya sekitar satu - satu setengah jam sehari di mana aku boleh makan. Sisa 23 jamnya ya tidak makan sama sekali. Meskipun tidak makan, aku tetap minum air putih, atau teh dan kopi tanpa gula.

Boong ding.

Yang aku lakukan nggak seekstrim itu sih, tapi aku memang hanya makan besar sekali, biasanya sekitar pukul 2-3 siang. Sebisa mungkin minum air putih atau teh/kopi tanpa gula, tapi sesekali aku masih minum manis. Biasanya sih karena di minimarket ada produk minuman keluaran baru, trus aku nggak bisa tahan nafsu untuk nggak beli. Masih ngemil juga tapi... benar-benar berkurang drastis. Misal aku beli sebungkus ciki atau cokelat, yang kalau biasanya setelah aku buka akan kuhabiskan saat itu juga, akan kuhabiskan dalam waktu tiga hari. Kukaretin gitu biasanya. Olahraga sih tidak selalu, hanya sesekali zumba, tapi bulan itu aku hampir tiap hari jalan kaki minimal 10000 langkah.

Ceritanya, aku sampai beli skipping karena katanya cepat untuk menguruskan badan. Ah, tapi baru 20 kali lompat sudah capek 😜 Trus kata sepupuku yang juga sedang menguruskan badan katanya lompat-lompat, skipping, lari, berbahaya untuk orang gendut 😜 Jadilah tali skipping 13 ribuku (100 yen) hanya digunakan satu kali. Kayaknya udah kubuang juga deh πŸ˜„

Hasilnya, aku turun tujuh kilogram dalam waktu empat minggu. Oya, asal tahu saja, berat badanku itu 20 kilogram lebih dari berat badan ideal, jadi mungkin cukup mudah turun berat badannya dalam waktu singkat.

Sayang sekali, sekitar akhir bulan Agustus aku mendapat teman baru yang selalu mengajakku makan di luar tengah malam πŸ˜‚ Selama bulan September aku jajan di luar tiada henti. Rasanya tuh apa-apa pengen dimakan πŸ˜‚ Diet yang sudah kubangun selama hampir sebulan tiba-tiba hancur berkeping-keping. Belum lagi, aku yang tidak suka dengan alkohol, mendadak rajin mencoba koktail-koktail atau minuman beralkohol lain yang belum pernah aku coba. Soalnya ditraktir. Sudah gitu jam tidur yang makin kacau bahkan sering menghabiskan malam tanpa tidur barang lima menit pun.

Meski begitu, selama sebulan lebih aku hanya naik sekitar 2-3 kg saja πŸ˜„ Alhamdulillah tak kembali ke berat badan awal.

Per kemarin aku memulai One Meal A Day ala ala lagi. Kemarin dan hari ini pun menunya sama: prata + rffisa ( Ψ±ΩΩŠΨ³Ψ© ) Minum manis Lipton Oolong Milk Tea, ngemil Snickers fun size dua biji dan seperempat tempolong Pringles rasa Fish and Chips. Sisanya minum ocha, air putih, dan mugicha saja.

Rfissa, masakan asal Maroko
Rfissa, masakan asal Maroko

Aku ngga makan sebanyak itu kok. Aku makan itu dua hari lalu sebelum memulai OMAD yang tidak ekstrim periode kedua ini. Seorang teman asal Maroko menyuguhkanku Rfissa dan bahkan aku dikasih sangu bekal buat bawa pulang πŸ˜„ Jadilah kumakan kemarin dan hari ini.

Rfissa ini merupakan masakan yang bahan utamanya adalah ayam, lentil, dan fenugreek (halba). Bahan lainnya adalah bawang bombay, jinten, lemon yang diawetkan (bahan masakan khas Maroko), dan kismis. Biasanya ditaruh di atas roti pipih yang bernama m'semen (Ω…Ψ³Ω…Ω†) tapi karena tidak mudah ditemukan dan butuh waktu lama untuk membuatnya, frozen prata dijadikan penggantinya. Kata temanku, roti prata itu yang paling menyerupai m'semen. 

Balik lagi ke OMAD, yang paling aku sukai dari one meal a day ini sih: menghemat waktu.

Karena makan hanya satu kali (anggap saja aku nggak pakai ngemil πŸ˜‹), aku cukup menentukan apa yang akan aku makan sekali dalam sehari. Aku nggak perlu tuh, setelah makan siang, trus mikir nanti malam makan apa ya. Selain itu, cuci piring, panci segala rupa hanya sekali sehari. Nah kalau misal asupan karbohidrat kurang, kemudian tubuh akan mengalami ketosis, yaitu ketika tubuh akan membakar lemak untuk energi dalam tubuh. Tubuh tuh 'makan' dirinya sendiri, yang mengakibatkan turunnya berat badan. Selain itu, badan lebih segar dan nggak ngantukan, karena tubuh bekerja keras membakar lemak.

Berasa banget sih beberapa minggu lalu kerjaanku tidur mulu 😌 Sering banget mengantuk, apalagi pas kerja.

Waktu yang kuhemat dari waktu makan + waktu mikir makan apa selanjutnya + waktu cuci piring + waktu menyiapkan makan + waktu karena nggak tidur mulu tuh bisa kugunakan untuk, misalnya, menulis postingan ini, nonton film, membaca buku, jalan-jalan, atau mendengarkan musik.

Selain mengurangi makan, aku juga mulai memperhatikan apa yang kumakan, mulai sedikit demi sedikit menjauh dari telepon genggam dan social media (average activity-ku di Instagram hanya 13 menit sehari, aku terharu 😒, di Youtube 3 jam lebih sih), dan juga mulai menghindari penggunaan skincare yang berlebihan. Rasanya pengen kubuang semua itu obat jerawat, penghilang dark circle mata, losion muka, dan lain-lain. Aduh pengen nulis kok sudah panjang banget. Lanjut besok.

JADI PEREMPUAN HARUS KUAT!

Beberapa minggu lalu, aku mengalami hal yang sangat tidak mengenakkan.

Suatu hari, aku sedang kelaparan jadi aku pergi ke 7-Eleven dekat rumah. Ketika aku sedang memilih makanan, seorang penjaga toko menyapa, dan aku hanya menganggukkan kepalaku. Tapi aku tersadar, ia mendekatiku dari sebelah sisi kiriku, dan saat aku menengok, tahunya dia teman sekolahku yang sepertinya baru mulai bekerja di situ. Aku kaget dong, sekaligus senang, apalagi akibat korona aku tidak pernah ke sekolah dan bertemu teman-teman. 

Temanku ini seorang laki-laki berasal Nepal. Dia lebih muda daripada aku, tampangnya lugu sukanya cengengesan, dan sempat gabung di paduan suara sekolah bareng. Sekarang sih paduan suaranya sudah bubar. Rumahnya pun tidak terlalu jauh dari rumahku, tapi pertemanan kita nggak cukup dekat untuk janjian ketemuan. Kita pun juga nggak pernah mengobrol yang dalam banget lah, biasa aja. Tapi kalau di sekolah ketemu ya kita menyapa, mengobrol sedikit, dan saling cengenges-cengenges. Ya ampun aku sudah hampir 30 tahun kok hobinya cekikikan dan cengengesan. 

Setelah aku pulang ke rumah, tak selang berapa lama, temanku menghubungiku via LINE. Katanya dia ingin mampir ke rumah dan mengobrol denganku. Mungkin saat itu ia sedang istirahat makanya bisa memegang hape. Shift dia berakhir pukul 10 malam, dan aku oke oke saja. Apalagi aku sudah lama tidak bertemu dengan temanku ini. Kali saja dapat info terkini tentang sekolah dan kehidupan di Jepang. 

Tepat pukul sepuluh malam, ia menyapaku di LINE. Aku memastikan kalau ia jadi ke rumah atau tidak, soalnya aku ternyata sudah mengantuk. Ia bilang jadi, dan menanyakanku apakah aku ingin sesuatu dari minimarket. Ia bilang ia sedang di Ministop (minimarket lain, bukan tempat dia bekerja) dan sedang berbelanja. 

Sempat bertanya-tanya dalam hati, kenapa ia tidak beli di 7-Eleven tempat dia bekerja? Kecuali kalau Ministop itu supermarket yang harganya lebih murah dan ia harus mengirit. Tapi Ministop itu sama-sama convenience store (minimarket) yang biasanya harganya sedikit lebih mahal dibanding supermarket biasa. 

Aku pun menghampiri dia di Ministop dan ia sedang membayar belanjaan. Ia memasukkan kotak rokok ke dalam sakunya. Aku melihat di layar kasir yang mengarah ke customer dan menunjukkan tulisan dalam katakana: 

“OKAMOTO SUKINRESU 0.3MM.” 

Aku langsung mengalihkan kepalaku dan berjalan ke luar minimarket sambil berpikir. Sebentar, Okamoto kan merek kondom? Sukinresu itu apa? Skinless? OMG. 

Rasanya jantungku mau jatuh ke trotoar. Jadi kotak yang dia masukkan dalam sakunya itu bukan rokok, tapi kondom? 

Tidak pernah terbayangkan kalau temanku ini terpikirkan untuk mengajakku melakukan hal itu. Aku selalu melihatnya sebagai laki-laki muda yang lugu. Aku pun tidak pernah 0,0000001% pun tertarik secara seksual dengan temanku ini. Mataku berkaca-kaca dan rasanya aku ingin melarikan diri tapi aku memilih untuk bersikap tenang. Bodohnya aku tidak melarang dia ke rumahku saat itu dan pura-pura tidak tahu kalau sebenarnya aku sudah tahu kalau dia membeli karet pelindung itu. 

Sampai rumah, aku berusaha tenang, dan dia langsung to the point saja, bertanya padaku apakah dia boleh duduk di sebelah futonku. Aku langsung bilang, “Aku tahu kamu mau apa. Tapi aku tidak bisa.” 

“Sekali saja, kumohon.” 

“Apaan sekali saja, sekali saja. Nope. Aku punya pacar.” Padahal sih, tidak. πŸ˜‚

Aku berusaha tenang dan nge-pukpuk dia, dan menyatakan kalau aku tidak bisa melakukannya. Aku mengancam akan teriak kalau dia terus memaksaku. 

“PULANG KAU SANA!” Akhirnya dia pun pulang dan aku pun tak kunjung lega. 

Aku menelepon temanku di Indonesia untuk cerita dan chat teman satu sekolah tentang apa yang terjadi. Akhirnya aku pergi ke pub menemui temanku yang lain untuk mengalihkan kesedihanku, dan aku tidak menceritakan ke temanku yang satu ini karena baru beberapa hari lalunya ia berpesan kepadaku untuk tidak pernah memasukkan laki-laki yang kurang dikenal ke dalam rumah. 

Selama ini aku cukup santai ‘memasukkan’ teman lawan jenis ke rumah karena tidak pernah ada kejadian yang tidak mengenakkan. Ada dua teman laki-laki pernah menginap beberapa hari pun, ya biasa saja. Selama di Australia, tinggal serumah, bahkan sekamar dengan teman laki-laki juga biasa saja. 

Aku terlalu polos untuk tidak cukup mengetahui kalau ada teman lawan jenis yang punya pikiran seperti ini. 

Yang aku sesali sih, bukan soal aku memasukkan temanku ini, tapi aku merasa kurang tegas waktu menolak, dan aku harusnya teriak dari awal. Atau bahkan menolaknya sejak melihat layar kasir di minimarket. 

Beberapa minggu kemudian, akhirnya aku tidak tahan dan menceritakan hal sebenarnya kepada temanku yang kuhampiri di pub. Dan ia memarahiku habis-habisan karena aku memasukkan teman yang kurang akrab ke rumah. 

Sudah sedih, cerita, eh malah dimarahin. Memang jadi perempuan harus kuat deh, harus bisa jaga diri sendiri. 😌

Berhati Bunga θŠ±εΏƒ

Di minimarket tempatku bekerja yang letaknya tidak jauh dari salah satu World Heritage Site, Kiyomizudera Temple, banyak staf yang sekolahnya sama denganku. Ada satu orang Cina, perempuan, umurnya sama dengan aku, cuma lebih tua dua bulan, tapi aku sangat respek sama dia. Sekarang sih aku tidak pernah se-shift sama dia, tapi kalau satu shift atau ketemu pas pergantian shift, kami selalu ngobrol. Meskipun dia cuma dua bulan lebih tua, aku merasa dia tuh sangat dewasa sekali dan aku belajar banyak tentang kehidupan dari temanku ini.

Aku kira aku nggak bakal akrab sama temanku ini. Tapi tiap ketemu dan ngobrol pasti ada aja yang diketawain atau nggak karena dia ngetawain aku sih. 😏 Biasanya karena customer yang kutaksir datang ke toko dan aku nggak berhenti tersipu-sipu. 😌Obrolan kita pun sangat bervariasi, dari hal sepele semacam tentang cowok ganteng, tentang obat jerawat yang bagus, tentang bagaimana overrated-nya hubungan intim (menurut dia πŸ˜‚ ) sampai ke politik.

Suatu hari, kita mengobrol soal kebiasaan belanja. Minimarket di Jepang kan menjual dessert/sweets ya. Produk-produk sweets-ini mostly dijual dalam waktu tertentu. Ada yang selalu tersedia setiap saat seperti sus krim biasa. Tapi ada juga sus krim yang hanya dijual dalam waktu tertentu, misalnya sus krim keju atau matcha, pernah juga ada rasa blueberry. Sweets minimarket pun ngga cuma sus, ada macam-macam lainnya seperti crepes, eclair, pudding, cake, macam-macam. Seru deh sweets minimarket di Jepang mah. 

Pas saat itu, Seven-Eleven lagi mengeluarkan produk sus matcha. Temanku ini suka banget sampai hampir tiap hari beli terus. Kalau beli cemilan pun, kalau sudah tahu apa yang disukai, dia akan rajin beli itu, tidak pernah ganti. Lalu aku cerita, kalau aku sih nggak bisa kayak gitu. Apalagi barang minimarket tuh selalu ganti, bawaannya selalu pengen beli produk baru. Seenak-enaknya roti, cemilan, atau sweets yang aku beli di minimarket, aku hampir nggak pernah beli hal yang sama dalam dua kunjungan berturut-turut. Kalau pun di kunjungan berikutnya, aku membeli hal yang sama, aku biasanya tidak membeli lagi di kunjungan ketiga.

Waktu kerja pun biasanya aku membeli satu botol minuman, aku pasti akan re-buy apa yang aku pernah beli, tapi tidak pernah aku berturut-turut misal hari ini kerja aku beli mugicha (barley tea), hari kerja berikutnya aku beli mugicha lagi. Bosan! Aku biasanya ganti-ganti antara air putih mineral, ryokucha (green tea), mugicha, oolong cha (oolong tea), jasmine tea, earl grey tea, dan yuzu lemon soda. 

Seperti yang aku ceritakan di postinganku Menaksir Tingkat Kesetiaan Customer dari Cara Belanja,  kalau kamu kerja jadi staf minimarket dan sudah hafal sama customer-mu, kamu tuh tahu aja pola belanja mereka.

Ada satu customer yang bekerja sebagai host, dia selalu mampir ke minimarketku karena tinggal di apartemen di gedung yang sama. Barang yang biasa dia beli adalah mi instan, jus apel, milk tea merek Lipton, dan rokok nomor 109. Dia jarang beli semua itu dalam waktu bersamaan, tapi kalau dia datang, kita bisa menebak kalau dia akan beli mi instan, kalau ngga rokok nomor 109, kalau ngga ya minuman favorit dia. Ada customer lain yang selalu datang tiap hari, dan tiap pagi selalu membeli bekal lunch seperti bento atau mi dan minuman. Apapun makanannya dia selalu beli bir merek Sapporo.

Sebagai staf minimarket, kamu akan bisa menerka apa yang regular customer bakal beli. Nah, di dekat rumahku ada minimarket yang selalu aku datangi. Btw, minimarket tempat kerjaku yang aku ceritakan di atas, letaknya 1.5 km dari rumahku dan dulu rumahku dekat sana.

Tiap hari, aku membeli barang yang completely different tiap kunjungan. Misalnya hari ini aku membeli sweets dan es krim, besok aku beli gorengan, hari lain aku cuma beli salad kepiting mayo (yang sampai sekarang aku cuma pernah beli sekali dalam hidupku), hari lain lagi aku beli potato chips dan daun bawang, kadang-kadang aku beli roti dan bento keluaran terbaru (aku lemah sama produk-produk baru 😌). Pola belanjaku tuh, tidak berpola.

Kata temanku, kalau dalam Bahasa Cina aku punya 'hati bunga' alias hua xin θŠ±εΏƒ. Kalau dengar hati bunga kayaknya konotasinya positif gitu ya, padahal ternyata enggak. 😭

Katanya, bunga kan berwarna-warni, nah kalau θŠ±εΏƒ ini ya hatinya berwarna-warni, jadi biasanya sukanya play around dan tidak bisa setia sama pasangannya. πŸ˜‚ Aku sih meneketehe, pernah punya pasangan saja enggak.

Tapi yang aku rasakan selama ini sih, aku ngga pernah suka sama orang lama-lama dan gampang move on. Baru saja aku menyatakan perasaanku ke temanku, nggak sampai seminggu ada teman lain dan aku sudah 'nggak ingat' sama temanku aku suka sebelumnya. πŸ˜‚  Aku masih berteman baik, tapi indifferent, nggak ada feeling apa-apa. Sekarang sama teman yang kedua juga udah nggak apa-apa. Yah nggak tahu lah πŸ˜‚