Dosa gue sebagai pegawai minimarket #2

Lupa nge-scan barang

Kalau ada customer mau bayar, sebagai kasir kita harus nge-scan barcode yang ada di kemasan supaya data barang terbaca di mesin cash register. Setiap nge-scan, ada bunyi 'tiiit' yang menandakan kalau barangnya berhasil ter-scan. Nanti muncul lah nama barang dan harga di layar kasir. Biasanya setelah selesai scan aku mengecek ulang apakah jumlah yang aku scan sama dengan yang terdaftar di layar kasir melalui angka. Misalnya barang yang dibeli ada lima, maka aku lihat layar kasir apakah barang yang terscan ada lima. Di layar kasir, di sisi paling kiri tabel yang menunjukkan barang di-scan ada angkanya.

Karena aku agak membutuhkan waktu lama untuk membaca huruf Jepang, biasanya aku pusing kalau, barang yang dibeli hanya enam tapi yang ter-scan ada tujuh! Berarti ada yang kelebihan, entah aku scan dua kali, atau dari customer sebelumnya yang cancel atau pakai uang pas tapi belum ku-clear. Aku harus mencari barang mana yang tidak dibeli atau kelebihan. Sebaliknya aku lebih pusing lagi kalau barang yang dibeli enam, tapi yang ter-scan hanya lima! Berarti aku ke-skip nge-scan salah satu barang. Yang mana? Ini aku terpaksa baca list barang yang ter-scan satu per satu deh.

Aku berusaha tiap scan barang selalu melihat layar kasir, tapi namanya manusia kadang melakukan kesalahan ya. Beberapa kali aku sadar kalau kurang scan setelah orangnya pergi atau setelah orangnya bayar. 😂 Pernah suatu hari ada orang beli dua rokok dan dua kopi habisnya dibawah 1000 yen, dalam hati kok murah ya. Orangnya yang beli sudah pergi sih. Pas aku cek journal, tahunya aku hanya memasukkan rokoknya satu kali. 😂

Pernah juga ada orang beli roti dan beberapa onigiri, dan aku kurang scan satu barang. Aku sadar tepat setelah dia menarik kartu kreditnya. Karena antrean sangat panjang, trus aku dalam hati kayak, "Ya udah lah ya." 😂 Kebetulan minimarket tempat kerja aku yang ini dimiliki oleh perusahaan gede di Jepang. Jadi rugi 100-200 yen, nggak apa-apa lah ya. 😂

Tidak mengembalikan uang refund customer

Kalau ini bukan lupa ya, lebih ke waktu itu masih awal-awal kerja, jadi masih belum tahu. Nah, pemilihan pembayaran di minimarket kan jenisnya banyak. Bisa bayar pakai uang tunai, kartu kredit, kartu debit, barcode payment, dan e-money. Kalau misalnya bayar pakai barcode payment tuh, misalnya mau return barang atau refund (misal, karena kelebihan scan), uangnya akan dikembalikan langsung dari aplikasi barcode payment-nya. Kalau misalnya bayar tunai, ya dibalikin uangnya tunai.

Suatu hari, ada orang beli suvenir dan beberapa makanan. Setelah usai membayar ternyata dia ingin receipt yang terpisah, sepertinya karena dia mau minta reimburse kantor. Ya sudah, yang harus aku lakukan pertama kali adalah 'refund' uangnya. Customer tersebut menggunakan e-money Suica. Awalnya aku mengira kalau refund pembayaran menggunakan e-money tuh ya otomatis dikembalikan ke e-money-nya.

Aku tidak sadar kalau salah lah waktu itu.

Beberapa hari kemudian aku baru tahu kalau refund pembayaran dengan e-money tuh dibalikinnya pakai uang tunai 😂 Dalam hati, pantesan di mesin kasir angkanya ditunjukkan dengan angka merah dan negatif. 😂 Mana lumayan lagi sekitar 1400 yen. Maaf ya, Pak. Kayaknya sih ngga ada komplain dateng. Aku taksir sih bapak ini pegawai kantor yang rata-rata kalau charge e-money tuh bisa 10000 yen sekali charge dan ngga terlalu memonitor penggunaan, jadi kayaknya bapaknya sih nggak sadar. Karena bapaknya pakai Suica, kemungkinan bapaknya tinggal di daerah Kanto (Tokyo dan sekitarnya), jadi ngga balik lagi ke tokoku. 😂

Dosa gue sebagai pegawai minimarket

Di postingan kali ini aku mau pengakuan dosa.

Melakukan kesalahan itu sangat amat wajar. Namanya juga manusia. Sebagai pegawai minimarket yang selalu ada barang baru tiap hari, promo ganti tiap minggu, sistem update berkala, customer yang sumbunya terlalu pendek, rasanya ngga mungkin tiap kerja ngga melakukan kesalahan. Pasti ada aja miss, meskipun sedikit. Tapi ada beberapa kesalahan yang bikin aku merasa berdosa banget 😂

Menjual makanan mengandung babi ke orang vegetarian

Waktu sebelum masa korona, banyak banget turis asing yang mampir ke minimarketku. Di minimarket kan jualan gorengan yang jenisnya sekitar sepuluh lebih. Suatu hari ada turis asing berkulit putih dan tidak bisa Bahasa Jepang mengaku vegetarian dan bertanya apakah kroket yang dia tunjuk mengandung daging.  Aku pun berjalan ke depan etalase gorengan untuk memastikan, aku membaca judulnya 'Vegetable Croquette' dalam Bahasa Inggris.

"Oh ini kroket sayur, jadi tidak apa-apa."

Terjuallah satu kroket sayur. Berapa menit setelah orang itu keluar, aku melihat papan harga gorengan dan ternyata ada gambar muka babinya. Jadi meskipun dalam Bahasa Inggris judulnya 'Vegetable Croquette' ternyata mengandung hewan juga. 😭😭😭 Aku baru sadar setelah itu kalau di papan harga gorengan itu kita bisa lihat kandungan allergen dan substance seperti jenis daging yang digunakan. Lagian judulnya kroket sayur huhuhu, bisa-bisanya mengandung babi juga.

Gorengan beku jatuh ke lantai tetap dijual

Kadang tuh gripku ngga bagus, meskipun kayaknya menjepit gorengan beku dengan tong itu gampang, kadang kepeleset juga dan akhirnya jatuh ke lantai. Secara common sense sih jorok ya, apalagi ini bukan untuk dimakan sendiri tapi dijual, harusnya mah dibuang saja. Tapi rasanya sayang untuk dibuang dan menjadi kerugian toko.

Akhirnya... aku goreng aja. 😂 Jatuhnya belum lima menit ini. Padahal lima menit tuh lama banget ya. Lagian suhu minyak kan panas banget, jadi insyallah kumannya mati. 😂 Aku cuma sekali (apa dua kali ya) kayak gitu sih. Sesudahnya ya menjepit gorengan bekunya hati-hati, pernah juga kalau jatuh ya akhirnya aku buang.

Masih banyak dosa-dosa lain yang aku lakukan di minimarket. Bakal kutulis lagi yang lain kalau nggak males hehe.

Ngga Empati

Aku tuh tadinya kerja shift tengah malam di konbini (istilah minimarket di Jepang). Dari pukul 10 malam hingga enam pagi. Kemudian owner konbiniku memutuskan untuk menutup konbini pukul 12 malam, dan buka pukul lima pagi. Jadinya tidak 24 jam buka seperti sebelumnya. Jadilah kemudian shift-ku berubah menjadi shift sore dari pukul lima sore hingga sepuluh malam.

Awalnya, meski tutup pukul 12 malam, tetap ada satu orang yang standby di konbini untuk menerima barang dan menaruhnya di rak. Kadang-kadang aku masuk shift tengah malam kalau ada yang tidak bisa masuk. Serem lah sendirian di toko 😂 Mana suara kulkas bunyi banget lagi, takut kalau hantu yang gerakin 😂 Senengnya sih bebas makan makanan kadaluarsa (lebih tepatnya lewat dari 'best before'), udah kayak party sendiri 😄

Hampir semua jenis barang konbini datang di shift malam. Ada yang kami sebut 'daily', yaitu makanan yang datang selalu tiap hari, bahkan sehari tiga kali, seperti roti, onigiri, salad, sandwich, pasta, dan lain-lain. Kemudian ada 'hi-daily', yang artinya 'bukan daily', yaitu makanan seperti cookies, snack, permen, mi instan, energy drink, barang rumah tangga, dan barang keperluan toko seperti cup kopi, sendok, sumpit, dan masih banyak lainnya. Ada juga 'dorinku' alias 'drink' yang mana adalah berkarton-karton minuman dari air mineral, ocha, hingga wine dan bir. Selain itu ada 'chilled', ya pokoknya yang harus diletakkan di temperatur rendah, seperti yogurt, minuman berbasis susu, ocha dalam karton, dan lain-lain. Onigiri, pasta, salad, sweets juga termasuk chilled. Ada juga 'ice', dari es krim, makanan beku yang dijual, dan makanan beku untuk jualan gorengan di toko. Belum lagi ada buku dan majalah. Ditambah lagi ada paket internet shopping customer yang harus dicek. Buanyakkk kerjaannya! 😏 Belum harus menyapu,  mengepel, membuang sampah, dan membersihkan toilet. 😭

Lo kira kerjaan gue cuma jadi kasir? 😔 Ngga ada yang ngira deng. Ngga ada yang peduli juga. 😒 Suka kasian sama mas mbak Indomaret yang gajinya ngga seberapa. Jangan jutek-jutek sama mereka ya. Sama semua orang sih. 😏

Perfeksionis

Kalau kupikir-pikir, aku tuh kadang suka sok perfeksionis dalam hal tertentu. 

Kayak waktu SMA, aku tuh punya keinginan buat punya nilai di atas 85 di masing-masing pelajaran. Aku bikin tabel tanpa penggaris di halaman buku tulisku dan mendaftar nama pelajaran yang kalau nggak salah lebih dari 12. Aku tulis angka 85 di sebelah nama mata pelajaran, sepertinya kecuali seni rupa dan olahraga. Karena aku ngga suka olahraga dan seni rupa. 😋 Asal tahu saja, aku ngga pernah kayak gini, bikin goal, semacamnya, sebelumnya.

Eh, benar saja nilaiku bagus-bagus. Meski nggak ada sistem ranking, suatu hari guruku memberitahuku kalau nilaiku paling bagus satu angkatan. Aku kaget lah, karena dari SD aku nggak pernah ranking satu. 😄 Sering 10 besar tapi nggak pernah di atas-atas. Nggak sombong atau gimana, tapi aku nggak pernah belajar di rumah, sambil duduk di meja belajar kayak di film-film. Tapi bukan berarti aku nggak berusaha buat mendapatkan nilai bagus. Yang aku lakukan waktu itu adalah membaca ulang dengan teliti setiap ulangan yang telah dikerjakan. Karena biasanya salah mengerjakan soal tuh bukan karena nggak bisa tapi nggak teliti.

Seperti juga saat guru Bahasa Jepang tiba-tiba punya wacana untuk memberikan tugas pidato dalam Bahasa Jepang. Aku bela-belain pergi ke ITC Kuningan untuk membeli DVD bajakan (maaf dulu masih nggak ngerti kalau bajakan itu haram, hahaha dan belum jaman streaming di internet) film dan drama Jepang yang padahal sebelumnya aku bukan penggemar film dan drama Jepang. Aku cuma ingin belajar bagaimana logat orang Jepang berbicara. Saking aku mau kalau benar disuruh pidato, logatku terdengar bagus. 😂 Meskipun akhirnya tidak ada tugas pidato sih.

Sama seperti dalam hal menulis blog (tadinya). Awal mula aktif di blog, aku ingin aku menulis hal ringan tapi ada isinya dan asik dibaca. Aku mau banyak yang datang ke blogku. Ini pikiranku sembilan tahun lalu ya, bukan sekarang. 😂  Lama-lama aku tidak terlalu aktif lagi menulis. Ditambah aku sempat tinggal di area yang tidak ada internetnya saat working holiday di Australia. Sekarang pun kadang-kadang kalau menulis blog trus kok kayaknya tulisannya nggak enak dibaca ya, langsung hapus semua dan tutup dasbor. Akhirnya nggak jadi nulis. 

Ceritanya aku bikin blog baru sembilan tahun setelah aku beli domain blog sittirasuna.com. Aku beli domain blog baru akhir bulan lalu dan sudah kuiisi postingan sejak awal November. Untuk aturan tampilan, aku dibantu oleh seorang teman. Hampir sekitar setelah dua minggu baru aku mengisi postingan di sana. Karena aku kebanyakan berpikir bagaimana menulis yang enak dibaca, dan blogku kali ini sama juga seperti blog ini berupa cerita-cerita remehku hanya saja temanya makanan. 😄 Aku kebanyakan berpikir sampai-sampai nggak mulai-mulai nulis.

Sampai suatu hari aku mendengar TedXTalk di Youtube yang aku bahkan lupa intinya apa tapi ada satu kalimat yang diungkapkan si pembicara dan aku pun tersindir. Intinya, perfeksionis itu musuh dari action.

Aku langsung kesindir dan mulai menulis saat itu juga. 😂 Bener juga kata beliau.

Aku teringat salah satu teman ibuku menasihatiku untuk tetap nulis. Aku bilang kalau aku bisanya hanya menulis diari saja. Tapi kata dia, ya nggak apa-apa yang penting tetap menulis. Ingat itu, aku jadi semangat lagi.

Kadang, lucu saja karena aku sering menulis cerita-cerita sehari-hari di sini. Dan aku tuh orangnya pelupa banget, jadi suka buka baca cerita dulu, yang pas baca, aku bahkan nggak inget kalau itu pernah kejadian. 😌

Mampir ya ke blogku yang satunya di snackqueen.id. Tampilannya masih berantakan tapi lumayan udah ada postingannya. 😄

Apakah Eek Bisa Menyublim?

Sedekat apakah kamu dengan saudara kandungmu?

Aku sih perasaan nggak akrab-akrab amat tapi adekku bahkan sampai PAP eeknya ke aku. 😓 Aku nggak marah sih cuma males aja ngapusin fotonya. Sudah gitu tadinya setting WhatsApp-ku foto yang diterima tuh otomatis tersimpan di memori hape, jadi harus menghapus foto di galeri, belum lagi yang di folder 'Recently Deleted'.

Pagi ini adekku menelepon saat aku sedang di toilet.

"Jangan PAP lho, Un..."

"Emang kamu mau tak kirimi?"

"Emangnya padat apa cair? Apa eekmu menyublim?"

Gara-gara adekku bertanya tentang bentuk keluaranku, aku langsung berpikir apakah memang mungkin makanan yang kita makan bisa menyublim kali ya. Soalnya, aku tuh bisa nggak buang air besar selama seminggu. Menjijikkan ya?

Aku sadar kalau aku bukan orang yang melakukan defekasi setiap hari. Makanya aku suka sirik sama orang yang lancar defekasinya, uh wow~ metabolismenya lancar sekali. Aku kok nggak lancar sih, makanya aku gendut kali ya? 😓 Meski nggak sehari sekali setidaknya dalam seminggu 3-4 kali sih. Cuma, aku perhatikan setelah aku mulai mengurangi makan drastis dan melakukan One Meal a Day ala ala sempat aku delapan hari nggak buang air besar.


Meskipun konstipasi, aku tidak merasa perutku bermasalah. Aku pun juga tidak ngedan keras. Makananku menurutku seimbang, aku makan serat yang cukup, dari kacang-kacangan dan sayur-sayuran. Buah jarang makan sih karena di Jepang buah mahal. 😑 Aku coba makan laksatif natural seperti prune dan fig, juga tidak melancarkan ususku. Aku mengkonsumsi cairan pun bisa lebih dari dua liter sehari tapi tetap saja. Selain itu, meski aku tidak 'mengeluarkan', beratku bisa turun dua-tiga kilo dalam seminggu. 

Lalu makanan yang kumakan itu pergi ke mana?

Aku jadi merasa kotor deh membayangkan makanan yang seminggu lalu kumakan masih berjalan di ususku. Aku berharap benar sih makanan bisa menyublim 😌 Apalagi setelah aku membaca kalau hasil pembakaran kalori dan lemak dalam tubuh adalah karbondioksida dan air. Makanya, aku seneng banget deh kalau flatulensi (buang angin), aku merasa kalori dan lemakku keluar. Selain itu, aku jadi mencoba mengeluarkan nafas lebih banyak dari menarik nafas supaya karbondioksidaku keluar lebih banyak (ngarang aja).

Apa memang aku ditakdirkan metabolismenya lambat ya 😓

Terlihat Hepi

Di Jepang, aku punya teman cowok yang tadinya lumayan akrab dan kami berbicara tiap hari. Teman ini lebih muda dan aku anggap seperti little brother. Aku sering mengajaknya jalan-jalan, makan bareng, atau membelikan cemilan kesukaannya. Tapi lama kelamaan, aku capek dan mulai mengurangi komunikasi dengan temanku ini. Alasannya dia selalu mengeluh tentang hidupnya dan keluhannya selalu sama selama hampir setahun.

Keluhannya: selalu dicuekin cewek, susah dapet pacar, capek bekerja tengah malam, tidak punya uang, tidak bisa berbahasa Jepang, dan lain-lain. Setiap ketemu dan telepon selalu mengeluh tentang hal ini sampai akhirnya aku malas mendengarkan. Aku mulai menjaga jarak dan sekarang hanya mengobrol sekitar seminggu atau dua minggu sekali. Meskipun sudah jarang dia tetap mengeluh. Ia selalu menyelingi pembicaraannya dengan, "maaf ya, tiap mengobrol sama kamu aku selalu komplain." Ah, pret.

Beberapa hari lalu dia menelepon dan dia mengeluh kalau ia khawatir dengan hidupnya di Jepang. Dia selalu janjian dengan cewek tapi last minute ceweknya selalu membatalkan. Dia takut bertahan hidup di sini karena tidak bisa berbahasa Jepang. Dia juga sempat bilang, "Kalau aku kayak kamu lancar Bahasa Jepang mungkin aku nggak akan khawatir kayak gini. Kamu sepertinya menikmati hidup banget. Sudah bisa Bahasa Jepang, kamu punya uang bisa jalan-jalan, makan-makan mulu. Kayak nggak ada beban."

"Kamu kira aku tidak punya hal yang aku khawatirkan apa? Ya ada banyak, tapi masak nggak bisa hepi? Nggak bisa seneng-seneng?" 

Tadi-tadinya kalau dia mengeluh, aku selalu omelin. Tapi lama-lama capek karena diomelin nggak pengaruh, ya mending dicuekin aja. Ngapain buang-buang energi kan. 😄 Dalam hati, dikira sini lancar apa Bahasa Jepangnya? Seringnya aku nggak paham orang ngomong apa 😄 Dikira sini duitnya banyak apa? Aku kan nggak beli kaos seharga 18000 yen atau parfum 7000 yen. Temanku ini suka mengeluh nggak punya tabungan tapi kalau belanja barang brand mulu. 😒

Beberapa teman suka bilang kalau hidupku enak, beruntung, dan hepi terus. Yang padahal menurutku mereka lebih beruntung dari pada aku. 😂 Tapi yang jelas aku bersyukur, hepi dan merasa beruntung, sih.

Aku jadi ingat ibuku suka cerita waktu kecil aku suka diajakin jalan kaki panas-panas dan aku tidak pernah mengeluh. Orang-orang yang melihat bahkan kasian dan bilang sama ibuku kalau kasian anaknya diajak jalan-jalan panas-panas, tapi kata ibuku, "Anaknya aja nggak apa-apa. Malah seneng." Di umurku yang segini, aku masih bekerja fisik, belum bisa menabung, hobinya cengenges-cengenges, sering menangis dan kurang sabar, dan ya aku hepi. Emang yang penting tuh bersyukur sih ya. 😄 Mau punya apapun kalau nggak bersyukur ya hidupnya nggak enak, nggak hepi.

Enak ya kamu Un...

Ho oh, enak! Ape loh 😂