Let's Drink UP!

Aku suka minum cokelat.

Sayangnya, ngga semua cokelat yang dijual di pasaran itu enak, bahkan yang desain bungkusnya bagus. Sepertinya juga jarang merek minuman cokelat bubuk yang ditawarkan di supermarket. Atau akunya saja yang nggak tahu ya? Sementara ini, minuman cokelat kesukaanku adalah yang dimiliki salah satu jaringan warung kopi internasional. Yang itu tuh... you-know-what lah. Bahkan aku lebih suka cokelatnya ketimbang kopinya.

Waktu workshop #qfunblogging bersama Mbak Ani Berta, Haya Aliya Zaki, dan Shinta Ries, peserta mendapatkan sampel UP, produk minuman dari CNI. Salah satunya adalah Hot Dark Chocolate.

Kalau ingat CNI ya, dulu jaman SMP setiap hari aku minum Sun-Chlorella, salah satu produk suplemen dari CNI yang terbuat dari ganggang hijau chlorella. Itu satu-satunya produk CNI yang pernah kukonsumsi sampai aku bertemu UP ini. Kemarin yang aku dapat ada dua macam, selain Hot Dark Chocolate, ada juga Ginseng White Coffee. Karena aku lebih suka cokelat, tentu saja yang aku coba si Hot Dark Chocolate ini dulu.


Let me see how this UP can lift UP my mood...
Tuang bubuknya ke gelas, siram dengan air panas 150 ml, aduk, dan nikmati...


Voilaaa!

Tanpa mengetahui fakta mengenai cokelat yang katanya mengandung phenylethylamine yang mampu membuat perasaan senang dan memperbaiki suasana hati, minum cokelat UP ini berasa banget membuat mood makin baik. Berasa tenang dan rileks apalagi dikonsumsinya hangat-hangat 'kan? Selain itu UP Hot Dark Chocolate ini tidak terlalu manis namun tetap nikmat. Manisnya, pas saja gitu...

Lalu bagaimana dengan Ginseng White Coffee-nya ya?


UP Ginseng White Coffee merupakan kopi instan yang dipadukan dari kopi putih, kopi instan, gula, krimer, dan ekstrak ginseng. Yang spesial dari UP Ginseng White Coffee ini adalah tingkat keasamannya yang rendah dikarenakan proses produksi dengan cold drying. Sehingga tidak akan ada masalah dengan asam lambung bagi yang mengonsumsinya. Apalagi ekstrak ginseng juga mampu menjaga selaput lendir lambung.

Rasanya? Tentu saja nikmat... dan mampu memperbaiki mood-ku. Eh sama dong kayak efek minum UP Hot Dark Chocolate? Hmmm, kayaknya aku memang mudah memperbaiki suasana hati dengan minum yang enak-enak sih, hahaha...


Aku masih penasaran varian UP yang lain karena ternyata ada delapan loh! Dua yang tadi sudah aku coba, UP Green Tea, UP Soya, UP Sugar Free, UP Ginseng Coffee, UP Ginseng Tea, dan UP Honey Lemon Tea. Penasaran nggak sih lo? Tiap-tiap varian memiliki kandungan khususnya yang memberikan manfaat bagi tubuh baik kenikmatan karena enak! dan kesehatan. Kalau teman-teman ingin cek lebih lengkapnya bisa buka web GeraiCNI, di sana bisa lihat semua produk UP dan produk CNI lainnya loh.

Let's drink UP!

❤❤❤

Follow me on:


Ketika Manusia Lebih Murah Daripada Sebuah Mobil

Ada yang pernah bilang kalau di Afghanistan, harga kepala kambing bahkan lebih mahal dibanding kepala manusia. Karena kondisi negaranya perang, kepala kambing diperjualbelikan dan ada harganya, nah kalau kepala manusia bahkan bisa ditemukan di sudut-sudut daerah.

Kalau di kotaku, mungkin negaraku juga... Yaaa harga manusia lebih mahal lah... tapi tidak lebih mahal dari mobil atau bahkan sebuah motor bebek. Menurut gua.

Membaca timeline Twitter salah satu teman blog, Ibu Enny Mamito (sekarang aku kok lebih suka manggil yang lebih senior dengan Ibu, peace!) mengeluhkan kondisi lalu lintas di kotanya, Kediri. Tentang kurang menghargainya sebagian pengendara kendaraan bermotor terharap pengendara lainnya dan pejalan kaki.


Minta diajak high-five banget deh ini Ibu Enny!

Toss!

Ceritanya, di jalan besar dekat rumahku ada lampu lalu lintas yang tidak ada pertigaan atau perempatan di sana. Jadi lampu lalu lintas itu memang untuk pejalan kaki yang menyeberang, terlebih lagi ada sebuah kampus di sana. Para pejalan kaki harus memencet tombol supaya diberi lampu hijau untuk menyeberang. Tapi mah, agak percuma sebenarnya. Karena saat lampu merah (bagi pengendara kendaraan bermotor), jarang loh yang seperti niat berhenti, kasih jalan (bukan kasih juga wong ini haknya pejalan kaki!!!) untuk pejalan kaki.

Alhasil, meski lampu hijau untuk menyeberang, tangan untuk melambai-lambai masih diperlukan. Sedih sumpah deh rasanya, nyeberang jalan, tapi mobil motor masih melaju kencang. Berasa nggak dihargai. Berasa nyawa kita lebih murah dari motor mereka. Atau mungkin mereka yang tetap jalan di lampu merah pada kebelet eek semua kali ya, makanya buru-buru. Tapi kok yang kebelet banyak ya...

Sering dengar kan kalau katanya orang kita, tiap lampu kuning bukannya memperlambat malah makin mempercepat biar nggak keburu lampu merah? Bener banget sih. Berasanya kemarin waktu liburan di Gold Coast, aku naik bus. Kalau ada perempatan, lampu sudah kuning, eh si bus memperlambat jalannya dan berhenti. Gemes juga, kok nggak ngebut aja wakwakwakwak. Lagian merahnya masih agak beberapa detik lagi. *sama aja ternyata gue ama yang suka ngebut pas lampu kuning*

Di kawasan SCBD (Sudirman Central Business District) tidak lebih beradab juga urusan perlampumerahan ini. Masih banyak juga yang kalau lampu merah masih jalan. Sempat aku menyeberang jalan dengan teman di kawasan SCBD, lampu untuk pejalan kaki masih merah sebenarnya, tapi kami menyeberang. Sedang sepi mobil melintas, paling dekat hanya satu yang pas saat akan sampai melewati zebra cross, mobilnya dengan tenangnya berhenti memberi jalan kepada kami. Padahal hak dia buat jalan wong lampu hijau...

Eh kok ya kami langsung berceletuk,
"Mesti bule tadi tuh yang nyetir..."
"Bule tuh pasti... Bule."

Padahal mah belum tentu ya. Kami berpikir seperti itu karena jarang yang kasih jalan menyeberang untuk pejalan kaki. Padahal mah bisa saja itu memang orang Indonesia yang punya rasa respek dan menghargai orang lain 'kan?

Sampai sekarang... aku masih suka terharu kalau menyeberang dan dikasih jalan sama kendaraan bermotor. Hiks!

Di samping aku mengkritik, aku pun masih harus belajar menghargai orang lain seperti misalnya datang tidak telat tanpa ada urusan penting, janjian tidak ngaret, antre yang benar, dan lain-lain. Yah gitu deh.

❤❤❤

Blog Ibu Enny Mamito: www.ennymamito.com


Follow me on: