[Macau] Macau, Maxi-Museum yang Memesona

Pernah ada yang menyebutkan kalau kartu pos adalah museum dalam bentuk mini. Kalau Macau kebalikannya, adalah maxi-museum, museum yang besar dalam bentuk kota. Macau punya historic centre yang terdaftar dalam warisan budaya UNESCO dan luasnya sekitar 15 kali lapangan sepak bola, 16 hektar. Bangunan-bangunannya, gereja-gereja kuno, benteng tua, seakan-akan adalah koleksi museum yang sangat berharga. Juga memesona.

Salah satu ikon wisata Macau: Reruntuhan gereja St. Paul (Ruinas de Sao Paulo). Gereja St. Paul dibangun tahun 1602 dan mengalami kebakaran tahun 1835. Hasilnya: hanya tersisa fasade Selatan saja. Itu saja indah. Bagaimana kalau gerejanya masih utuh ya?
Sepotong Sejarah Macau

Asal nama Macau disebut-sebut berasal dari A-Ma Temple. Saat Bangsa Portugis datang melalui pantai yang dekat dengan A-Ma Temple, mereka menanyakan kepada nelayan-nelayan di sana, apakah nama tempat tersebut. Nelayan-nelayan tadi menjawab dengan "媽閣 Maa1 Gok3" yang sebenarnya adalah nama asli A-Ma Temple. Dari penyerapan kata itu, pendatang Portugis kemudian memberikan nama semenanjung itu dengan nama Macau. Orang Tiongkok sendiri menyebut Macau dengan tulisan 澳門 yang dilafalkan dengan ou3mun4*2 (Kanton) atau Àomén (Mandarin).

Cerita tentang Macau bermula saat tahun 1557 Portugis tiba ke Macau. Melalui Luso-Chinese Agreement (1954) dengan pemerintah Guangzhou, Portugis diperbolehkan berdagang di wilayah Tiongkok dengan membayar pajak. Selain itu, Macau disepakati menjadi basis perdagangan bagi Portugis. Sewa tahunannya sebesar 18.9 kilogram perak dan dibayar sampai tahun 1863. Kemudian pada tahun 1631, pemerintah Tiongkok memutuskan Portugis melakukan perdagangan di Tiongkok terbatas pada wilayah Macau saja.

Patung seorang pastor tak jauh dari reruntuhan St. Paul dan Mount Fortress. Abad 16, Paus Gregorius XIII mendirikan keuskupan di Macau. Hampir seluruh pendatang dari Portugis beragama Katolik Roma.
Tahun 1887, Sino-Portuguese Treaty of Peking ditandangani. Sayangnya, interpretasi Tiongkok dan Portugis berbeda. Menurut Tiongkok, yang dipindahkan kekuasaannya kepada Portugis hanyalah hak administrasi Macau. Namun menurut Portugis, kedaulatan Macau berpindah tangan kepada mereka. Kemudian pada tahun 1974, ketika Kerajaan Portugal melepaskan semua wilayah koloninya yang berada di luar negeri, status Macau menurut Portugal adalah teritori milik Tiongkok di bawah administrasi Portugis. Baru pada tahun 1999, Macau resmi menjadi menjadi Special Administrative Region Tiongkok.

Saat masa pendudukan Portugis, dibangun banyak rumah kayu-tanah liat untuk para pendatang, gereja-gereja Katolik, kapel-kapel, teater, hotel, dan lain-lainnya. Tentu saja bergaya arsitektur Barat - Portugis. Sementara itu, penduduk asli Macau tetap membangun rumah atau kuil bergaya Tiongkok. Sehingga ada perpaduan budaya Portugis dan Tiongkok di dalam Macau yang unik dan memesona. Tentunya ini masih kita bisa nikmati sampai sekarang. Tak hanya bangunan, namun juga makanan, dan nama jalan. Di Macau nama jalan ada dua, dalam huruf Hanzi tradisional serta dalam Bahasa Portugisnya. Kombinasi itu... indah, dan membuat Macau begitu berbeda.

Blusukan di Gang-Gang Macau

Pertama kali aku tahu bagaimana suasana Macau adalah dari drama Korea berjudul Boys Before Flowers. Tentu saja aku terkesima dengan Venetian Macau yang di dalamnya dibuat mirip Venesia di Italia, dengan langit-langit bergambar langit dan awannya, tak lupa pula dengan gondola. Tapi aku lebih tertarik Macau dengan gang-gangnya yang kecil yang kiri kanannya terdapat bangunan rumah kuno. Rasanya semua sudut 'kampung dengan gang-gangnya' di sana layak untuk difoto.

Dua tahun lalu, aku dan temanku menghabiskan dua malam di Macau. Kami jalan kaki blusukan di area Historic Centre-nya Macau yang terdaftar di World Heritage List UNESCO itu. Yang aku suka dari Macau adalah tidak terlalu luas, dalam walking distance kita bisa temukan banyak hal, dan sangat mudah untuk dikelilingi. Bisa jalan kaki, naik bus, atau naik taksi pun tarifnya tidak mahal.


Banyak penunjuk jalan seperti di atas. Bahkan sudah masuk gang-gang yang sepertinya sudah dalam, ada juga. Jadi enak untuk jalan kaki blusukan di gang-gang Macau.
Pertama kami menuju Senado Square, semacam alun-alun dengan dekorasi ubin bergaya Portugis. Di sana terdapat beberapa kios untuk belanja, tourist office, restoran, museum, dan gereja. Aku mampir ke Museum of the Holy House of Mercy. Isi museum tersebut adalah benda-benda gerejawi dan sejarah uskup pertama di Macau. Di balkonnya, kita bisa lihat dari atas warna-warninya Senado Square. Kami keluar dari museum lalu jalan kaki lagi, kemudian bertemu St. Dominic Church. Di kiri kanan terdapat banyak toko makanan yang produk utamanya adalah pork jerky dan makanan khas Macau.

Tak lama kemudian sampailah di reruntuhan Gereja St. Paul. Di belakang fasade St. Paul terdapat museum kecil berisi benda-benda sakral. Di sebelah St. Paul terdapat Mount Fortress, sebuah benteng yang dibangun untuk menjaga properti para Serikat Jesuit dan kemudian menjadi pusat militer. Di tengah-tengah Mount Fortress terdapat Macao Museum, berisi tentang sejarah awal, tradisi, dan kondisi gaya hidup masa kini di Macau.

Turun dari Mount Fortress, jalan kaki lagi menuju belakang St. Paul yang mana adalah perumahan warga. Benar-benar blusukan, nggak tahu arah, sampai-sampai kami tiba di Old Protestant Cemetery. Kuburan kuno pendatang non-Portugis dan di depannya terdapat Morrison Chapel yang terlihat amat damai.

Bench and the Window.
Bingung jalan arah ke mana lagi, akhirnya kami kembali ke Senado Square dan jalan ke seberangnya. Kebanyakan yang kami datangi adalah gereja kuno, St. Augustine's Church, St. Lawrence's Church, dan Chapel of St. Joseph Seminary. Selain itu terdapat Dom Pedro V Theatre, teater bergaya Barat pertama di Tiongkok dan Perpustakaan Sir Robert Ho Tung, perpustakaan terbesar di Macau. Sayangnya tempat kedua kami tidak lewat.

Selanjutnya kami naik bus ke arah Cotai dan kemudian jalan kaki menuju Taipa Village, sebuah perkampungan bersejarah yang banyak terdapat toko-toko makanan dan Macanese bakery. Rumah-rumahnya, kuno dan cantik-cantik banget. Sepertinya ada adegan di Boys Before Flowers yang berlokasi di Taipa Village. Di sini juga ada Taipa Houses Museum dan Gereja Our Lady of Carmel.


Hari kedua, kami lebih banyak naik bus untuk mencapai suatu tempat. Meski tetap blusukan jalan kaki juga sih. Pagi-pagi kami mendatangi A-Ma Temple, kuil tertua di Macau, dibangun tahun 1488 saat pemerintahan Dinasti Ming. Fungsinya untuk memuja Mazu, dewi laut. Nama asli A-Ma Temple juga merupakan asal nama Macau. Tak jauh dari A-Ma Temple terdapat Maritime Museum. Kami lalu jalan kaki ke arah atas dan lumayan kemiringannya, seperti naik bukit. Banyak rumah-rumah besar mewah di sana.

Sudah sampai agak puncak, sampailah kami di Gereja Our Lady of Penha. Kalau dari bandara ke arah Macau, kita bisa melihat gereja ini yang terletak di atas bukit. Turun kembali ke A-Ma Temple, kemudian kami masuk ke gang-gang lagi menuju Lilau Square dan Mandarin's House, rumah keluarga terbesar di Macau yang bergaya Guangdong namun memiliki fitur arsitektural barat.

Gereja Lady of Penha.
Hasil dua hari jalan kaki? Aku tidak berasa capai, hanya saja kakiku sangat sakit kalau untuk menuruni tangga. Eh sama saja ya ini capai?

Museum-Museum di Macau

Menurut situs web museum milik pemerintah Macau, terdaftar 23 museum di sana. Baru enam yang pernah aku kunjungi, dan 17 lainnya, menarik semua! Berwisata museum di Macau tak menguras kantong. Kebanyakan tanpa harus membayar tiket dan kecuali Macau Science Center ,paling mahal adalah 15 MOP (Macau Pataca) atau sekitar 22.500 rupiah untuk masuk ke Macao Museum. Untuk Macau Science Center tarif normal adalah 25 MOP dengan tambahan tarif untuk masuk ke planetarium dan menonton 3D show.

Beberapa museum yang menarik (dan belum aku sebutkan sebelumnya) (dan aku pengen ke sana juga, hihihi) antara lain:

1. Grand Prix Museum
Museum ini diresmikan pada bulan November 1993 sekaligus memperingati 40 tahun Macau Grand Prix. Di Macau setiap bulan November diadakan car race grand prix. Di museum ini dipamerkan lebih dari 20 buah mobil balap dan pengunjung bisa belajar sejarah Macau Grand Prix.
Tiket: gratis sampai 31 Desember 2014

2. Wine Museum
Terletak di sebelah Grand Prix Museum, Wine Museum memperkenalkan perkembangan sejarah produksi dan tradisi minum wine dalam tiap kelompok sosial di budaya Portugis. Ada banyak koleksi wine, 1115 merek berasal dari Portugal dan 28 dari Tiongkok.
Tiket: gratis sampai 31 Desember 2014

3. Communications Museum
Museum ini dibagi menjadi dua area ekshibisi. Yang pertama adalah pos dan filateli, yang memuat koleksi benda pos serta mengenalkan evolusi cara komunikasi jarak jauh yang dipakai jaman dahulu. Yang kedua adalah area telekomunikasi yang lebih interaktif. Berisi tentang telegraf, telepon, broadcasting, dan jenis-jenis telekomunikasi masa kini.
Tiket: dewasa 10 MOP, siswa (di bawah 18 tahun) 5 MOP.

Taipa Houses Museum. Museum yang mulanya adalah rumah keluarga kaya Portugis. Dulunya menghadap ke laut namun karena reklamasi, sekarang menghadap ke danau kecil.
Selain Sejarah?

Macau adalah salah satu destinasi yang pas untuk para pecinta sejarah dan budaya dunia. Tapi buat teman-teman yang punya minat khusus dalam wisata lainnya, jangan khawatir karena Macau menyediakan tempat untuk dikunjungi. Misalnya jika teman-teman suka berbelanja, Macau punya Senado Square yang terdapat banyak toko baju, sepatu, dan asesoris. Di hotel-hotel besar seperti Venetian, Lisboa, atau Wynn terdapat toko top-range fashion, kosmetik, maupun duty-free shops.

Selain itu banyak performance dan show yang diadakan di kompleks hotel-hotel besar itu. Seperti misalnya, Tree of Prosperity di Wynn Macau, pohon emas yang memiliki lebih dari 2.000 cabang dan 98.000 daun yang berlapis emas 24 karat. Show-nya dimulai dari pohon ini kecil sampai tumbuh jadi besar. Diiringi musik dan pencahayaan yang apik, Tree of Prosperity ini menggambarkan simbol astrologi Tiongkok dan Barat. Di Galaxy Macau, ada Fortune Diamond. Desainnya berdasarkan bulu merak, kemudian permatanya naik di belakang air terjun dan jatuh ke bawah dalam bentuk air mancur berbentuk roulette. Ini menggambarkan kekayaan dan keberuntungan.

Mengintip Macau Tower. Difoto dari dekat Gereja Lady of Penha.
Macau juga punya Macau Tower Convention and Entertainment Centre. Biasa disebut Macau Tower, menara ini memiliki tinggi 338 meter dengan lantai teratas di ketinggian 223 meter. Kita bisa lihat pemandangan Macau dari observation deck atau kalau teman-teman berani cobalah Tower Climb, mendaki tangga di luar menara selama dua jam. Ada juga SkyJump, seperti bungy jumping namun bukan kepala yang di bawah, melainkan kaki. Atau malah ingin coba bungy jumping by A.J. Hackett di sana?

Aku belum pernah ke Macau Tower tapi kalau disuruh bungy jumping ogah deh, mending santai-santai di observation deck aja deh ya... ^^

Waktu aku buka-buka aplikasi dari MGTO, ternyata Macau memiliki Macau Giant Panda Pavilion. Di balik kemilau hotel-hotel mewah di Macau, ternyata ada panda di sana! Dibangun di bekas kebun binatang, Giant Panda Pavilion ini memberikan kesempatan bagi para pengunjung untuk menikmati melihat panda yang lucu-lucu dengan tarif tiket yang terjangkau. Hanya 10 MOP atau sekitar 15.000 rupiah. Tak hanya panda, di tamannya terdapat beberapa spesies monyet, burung merak, dan jenis-jenis burung eksotis lainnya.

Kalau menyebutkan tempat menarik di Macau rasanya nggak ada habisnya. Kalau teman-teman akan ke Macau dan malas googling tempat-tempat yang menarik, tinggal download aplikasi Macau Government Tourist Office dan tinggal susun itinerary sesuai minat wisata kalian!

Macau Government Tourist Office punya aplikasi untuk smartphone lho. Coba dulu pas aku ke sana sudah ada, memudahkan sekali ini aplikasinya. Bahkan bisa buat itinerary di sini.
Atau teman-teman suka wisata kuliner?

Makan-Makan Macau

Aku akui, waktu aku ke Macau dengan temanku kami kurang berwisata kuliner. Pasalnya, banyak makanan yang mengandung pork sementara kami tidak diperbolehkan. Jadi kebanyakan, kami hanya makan di restoran cepat saji dan tidak mencoba street food di Macau. Kurang asyik ya?

Satu-satunya makanan khas Macau yang kami coba adalah Portuguese Egg Tart. Di gang belakang tempat kami menginap ada salah satu kafe yang lumayan populer di Macau. Namanya Margaret's Café e Nata. Masih hangat kami makan Egg Tartnya, kulitnya crispy dan custard tengahnya creamy dan sangat halus. Enakkk... di kafe itu juga tersedia bermacam-macam roti yang menarik dan sandwich yang dengar-dengar enak juga!

Portuguese Egg Tart
Street food lain yang direkomendasikan untuk dicoba adalah pork chop bun. Yaitu roti piggy bun yang didalamnya berisi potongan daging babi tanpa tambahan lain seperti sayuran. Ada lagi Chinese steamed-milk pudding yaitu hidangan penutup yang katanya sehalus sutra. Penasaran! Untuk oleh-oleh, ada kue almond yang dapat dibeli di pastellaria (pastries shop), yang kalau di Indonesia mirip kue satu. Ini enak banget!

Pengaruh budaya Portugis juga bisa dinikmati dari masakan besar (bukan makanan ringan) di Macau. Pergi ke restoran Portugis atau Macanese bisa dimasukkan dalam itinerary-mu. Beberapa masakan yang paling terkenal di antaranya Galinha a africana, ayam barbeque dengan saus piri-piri pedas, Bacalhau, ikan kod asin, dan udang chilli Macau.

❤❤❤

Jadi, Why Macau?
Kamu sudah tahu jawabannya, 'kan?

❤❤❤






Referensi:
foto koleksi pribadi.
❤❤❤

Batik and Bargain

Beberapa tahun lalu seorang teman pernah menyarankanku untuk belajar berjualan. Nasihatnya, mulailah dari dasar dulu, misalnya jual barang-barangmu yang tidak terpakai melalui forum dan situs jual-beli. Sampai sekarang aku belum pernah berjualan serius hanya kadang-kadang menjual hadiah yang tidak kupakai (seperti tiket Kidzania yang kudapatkan beberapa waktu lalu) dan buku-buku yang sudah kubaca namun aku tidak ingin menyimpannya. Aku punya satu halaman Blog Sale, namun itu pun tidak pernah ku-share, hanya dipasang di bawah artikel.

Ibuku juga sama. Ia berjualan kain batik dan setiap bulan Ramadhan mukena namun belum benar-benar ditekuninya. Apalagi ibuku sibuk bekerja di kantor, jadi belum sempat mengurusi jualan batiknya.

Beberapa dari jualan ibuku.
Katanya, orang kalau berbisnis atau berjualan harus punya produk yang membedakannya dari milik orang lain. Namun aku belum dalam taraf itu lah. Aku masih dalam taraf ingin mempunyai toko online sebagai etalase barang-barang yang aku jual. Tidak perlu lagi upload foto di forum sana forum sini, melainkan hanya tinggal membagi link toko online-ku dan pengguna internet bisa melihat apa saja yang tersedia.

Nantinya toko online-ku akan bernama Batik and Bargain. Aku ingin memasukkan barang jualan ibuku yaitu kain batik sebagai main product dan tentunya barang-barang lain, yang aku suka. Ya, aku ingin menjual barang yang aku suka. Contohnya, kartu pos (bisa cetakan sendiri), buku, makanan kecil, permen, dan segala yang berkenaan dengan Hello Kitty! Aku juga ingin bisa jadi personal shopper. Jadi kan salah satu impianku adalah jalan-jalan teruuus, jadi orang bisa menitip kepadaku apa yang dia ingin beli lalu aku bantu carikan. Tentunya harganya ditambah laba yang layak. 

Kenapa bargain? Bargain kan artinya menawar, tapi bukan bisa menawar gitu. Kadang suka baca bargain item, itu artinya barang yang lebih murah kan ya? Atau salah? Eh ya, maksudku seperti itu. Aku tidak tahu pas atau tidak, tapi Batik and Bargain disingkat Bi-en-bi, jadi terdengar bagus saja, hahaha.

Etalase jualanku di dunia maya alias toko online impianku inginnya bercirikan seperti ini:
1. Memiliki aksen warna pink lembut atau merah marun hangat. Tampilannya simpel tapi memikat.
2. Ada halaman blog juga untuk cerita atau reviu barang yang dijual.
3. Ringan, cepat diakses. Apabila diakses melalui telepon genggam, tampilan tetap rapi.
4. Di tengah Halaman utama terdapat gambar yang bisa diganti bila diklik, nantinya merupakan foto produk dan penawaran tertentu, serta di bawahnya adalah thumbnail-thumbnail foto produk.
5. Di sebelah kiri terdapat pilihan kategori produk.
6. Selalu pasang foto barang yang bagus, supaya menarik.

Kelemahan dari toko online impianku adalah bukan menjual produk sendiri. Tapi tidak apa-apa kan ya? Pastinya nanti akan muncul ide-ide segar untuk meng-upgrade barang jualan yaitu produk sendiri. Pengen banget deh punya situs web toko online sendiri! 


NB: Aku belum punya bukunya Mbak ^^

❤❤❤