Berhati Bunga θŠ±εΏƒ

Di minimarket tempatku bekerja yang letaknya tidak jauh dari salah satu World Heritage Site, Kiyomizudera Temple, banyak staf yang sekolahnya sama denganku. Ada satu orang Cina, perempuan, umurnya sama dengan aku, cuma lebih tua dua bulan, tapi aku sangat respek sama dia. Sekarang sih aku tidak pernah se-shift sama dia, tapi kalau satu shift atau ketemu pas pergantian shift, kami selalu ngobrol. Meskipun dia cuma dua bulan lebih tua, aku merasa dia tuh sangat dewasa sekali dan aku belajar banyak tentang kehidupan dari temanku ini.

Aku kira aku nggak bakal akrab sama temanku ini. Tapi tiap ketemu dan ngobrol pasti ada aja yang diketawain atau nggak karena dia ngetawain aku sih. 😏 Biasanya karena customer yang kutaksir datang ke toko dan aku nggak berhenti tersipu-sipu. 😌Obrolan kita pun sangat bervariasi, dari hal sepele semacam tentang cowok ganteng, tentang obat jerawat yang bagus, tentang bagaimana overrated-nya hubungan intim (menurut dia πŸ˜‚ ) sampai ke politik.

Suatu hari, kita mengobrol soal kebiasaan belanja. Minimarket di Jepang kan menjual dessert/sweets ya. Produk-produk sweets-ini mostly dijual dalam waktu tertentu. Ada yang selalu tersedia setiap saat seperti sus krim biasa. Tapi ada juga sus krim yang hanya dijual dalam waktu tertentu, misalnya sus krim keju atau matcha, pernah juga ada rasa blueberry. Sweets minimarket pun ngga cuma sus, ada macam-macam lainnya seperti crepes, eclair, pudding, cake, macam-macam. Seru deh sweets minimarket di Jepang mah. 

Pas saat itu, Seven-Eleven lagi mengeluarkan produk sus matcha. Temanku ini suka banget sampai hampir tiap hari beli terus. Kalau beli cemilan pun, kalau sudah tahu apa yang disukai, dia akan rajin beli itu, tidak pernah ganti. Lalu aku cerita, kalau aku sih nggak bisa kayak gitu. Apalagi barang minimarket tuh selalu ganti, bawaannya selalu pengen beli produk baru. Seenak-enaknya roti, cemilan, atau sweets yang aku beli di minimarket, aku hampir nggak pernah beli hal yang sama dalam dua kunjungan berturut-turut. Kalau pun di kunjungan berikutnya, aku membeli hal yang sama, aku biasanya tidak membeli lagi di kunjungan ketiga.

Waktu kerja pun biasanya aku membeli satu botol minuman, aku pasti akan re-buy apa yang aku pernah beli, tapi tidak pernah aku berturut-turut misal hari ini kerja aku beli mugicha (barley tea), hari kerja berikutnya aku beli mugicha lagi. Bosan! Aku biasanya ganti-ganti antara air putih mineral, ryokucha (green tea), mugicha, oolong cha (oolong tea), jasmine tea, earl grey tea, dan yuzu lemon soda. 

Seperti yang aku ceritakan di postinganku Menaksir Tingkat Kesetiaan Customer dari Cara Belanja,  kalau kamu kerja jadi staf minimarket dan sudah hafal sama customer-mu, kamu tuh tahu aja pola belanja mereka.

Ada satu customer yang bekerja sebagai host, dia selalu mampir ke minimarketku karena tinggal di apartemen di gedung yang sama. Barang yang biasa dia beli adalah mi instan, jus apel, milk tea merek Lipton, dan rokok nomor 109. Dia jarang beli semua itu dalam waktu bersamaan, tapi kalau dia datang, kita bisa menebak kalau dia akan beli mi instan, kalau ngga rokok nomor 109, kalau ngga ya minuman favorit dia. Ada customer lain yang selalu datang tiap hari, dan tiap pagi selalu membeli bekal lunch seperti bento atau mi dan minuman. Apapun makanannya dia selalu beli bir merek Sapporo.

Sebagai staf minimarket, kamu akan bisa menerka apa yang regular customer bakal beli. Nah, di dekat rumahku ada minimarket yang selalu aku datangi. Btw, minimarket tempat kerjaku yang aku ceritakan di atas, letaknya 1.5 km dari rumahku dan dulu rumahku dekat sana.

Tiap hari, aku membeli barang yang completely different tiap kunjungan. Misalnya hari ini aku membeli sweets dan es krim, besok aku beli gorengan, hari lain aku cuma beli salad kepiting mayo (yang sampai sekarang aku cuma pernah beli sekali dalam hidupku), hari lain lagi aku beli potato chips dan daun bawang, kadang-kadang aku beli roti dan bento keluaran terbaru (aku lemah sama produk-produk baru 😌). Pola belanjaku tuh, tidak berpola.

Kata temanku, kalau dalam Bahasa Cina aku punya 'hati bunga' alias hua xin θŠ±εΏƒ. Kalau dengar hati bunga kayaknya konotasinya positif gitu ya, padahal ternyata enggak. 😭

Katanya, bunga kan berwarna-warni, nah kalau θŠ±εΏƒ ini ya hatinya berwarna-warni, jadi biasanya sukanya play around dan tidak bisa setia sama pasangannya. πŸ˜‚ Aku sih meneketehe, pernah punya pasangan saja enggak.

Tapi yang aku rasakan selama ini sih, aku ngga pernah suka sama orang lama-lama dan gampang move on. Baru saja aku menyatakan perasaanku ke temanku, nggak sampai seminggu ada teman lain dan aku sudah 'nggak ingat' sama temanku aku suka sebelumnya. πŸ˜‚  Aku masih berteman baik, tapi indifferent, nggak ada feeling apa-apa. Sekarang sama teman yang kedua juga udah nggak apa-apa. Yah nggak tahu lah πŸ˜‚

Cemprengnya Suara Penjaga Toko di Jepang

Kalau kamu pernah ke Jepang, atau lihat di drama atau film, atau di warung makanan Jepang di Indonesia, pasti kamu notice kalau staf toko nya akan menyapamu dengan 'irasshaimase' dengan ceria.

Nah, para staf toko di Jepang, terutama perempuan, banyak yang menggunakan suara hidung (nasal voice/ιΌ»ε£°hanagoe) yang bikin suara mereka cempreng dan tinggi. Sebenarnya kebanyakan tidak seperti itu, tapi kalau kamu ke Jepang, kamu bakal punya kesan kalau para staf toko perempuan di Jepang kebanyakan bersuara cempreng dan terkesan sok imut. Kadang-kadang terlalu cempreng dan irritating, rasanya pengen nyamperin sambil bilang, "Bisa ngga berhenti ngomong cempreng?" πŸ˜‚

Di tempat aku bekerja, meskipun banyak yang menggunakan suara hidung (aku pun termasuk), tapi tidak ada yang cempreng banget. Padahal aku pengen tanya kenapa mereka bicara seperti itu. Aku pernah tanya kepada seorang teman Jepang tentang mengapa staf toko menggunakan suara hidung dan bahkan ada yang cemprengnya berlebihan, kayak palsu banget deh. Temanku sendiri sih tidak tahu cuma dia bilang, kalau staf toko meninggikan suaranya kan bakal lebih menarik pengunjung ketimbang menggunakan suara biasa. Kalau pakai suara biasa, bisa dibilang bakal terkesan lemes.

Aku kurang bisa menjelaskan ya secara biologis bagaimana suara hidung itu terbentuk. Tapi yang jelas suaranya bakal terdengar lebih sengau dan lebih tinggi dari suara biasa.

Aku sendiri kalau lagi jaga toko yang di dekat Kiyomizudera, most of the time bakal ngomong dengan suara biasaku yang rendah meskipun kadang-kadang tone-nya lebih tinggi. Tapi kalau kerja di stasiun yang selalu sibuk, kecenderungan aku bakal pakai suara hidung. Aku merasa kalau pakai suara hidung tuh energi yang dipakai lebih sedikit dan berasa ringan. Bayangin aja dalam dua setengah jam aku harus menyebut 'irasshaimase' hampir seribu kali dan melayani langsung 200 customer di depan mesin kasir. Rata-rata jumlah kata yang diucapkan satu orang dalam satu hari sudah kuhabiskan dalam dua jam pertama aku menjalani hariku. Tapi abis kerja ya aku ngga banyak ngomong sih. (Amaca?)

Kalau aku ngomong pakai suara biasa, aku merasa lebih capek. Dan kalau menyapa customer dengan nasal voice tuh, suaraku bakal lebih tinggi dari normal, dan akan lebih mudah terdengar oleh si customer.

Dan yang pakai suara hidung tuh ngga cuma yang perempuan. Staf laki-laki juga, dan somehow itu sangat amat wagu. 😭 Chief-ku di stasiun sudah bapak-bapak tapi kalau menyapa customer suaranya cempreng 😭 Tolong hentikanlah! Bukan cempreng yang lebay tapi tetap aja kalau laki-laki tuh aneh aja pakai suara hidung.

Ngomong-ngomong tentang menyanyi dan penyanyi, banyak yang menggunakan suara hidung. Dan sebagian besar, enggak banget (menurutku ya). Penyanyi Jepang juga aku perhatikan banyak yang pakai suara hidung dan banyak yang bilang suaranya bagus 😭  Tapi bukan berarti pakai suara hidung pasti jelek, sebagian penyanyi pakai suara hidung, kadang sengau, juga enak-enak aja sih didengar!

Menaksir Tingkat Kesetiaan Customer dari Cara Belanja

Ah panjang amat judulnya.

Maksud aku bukan tingkat kesetiaan customer buat belanja di toko kita. Tapi kesetiaan sama pasangannya. Maksudnya?

Dari pengamatanku selama bekerja di minimarket, mungkin aku bisa menebak bagaimana tingkat kesetiaan si customer terhadap pasangannya. Terutama dari pembelian rokok sih. Ini pendapatku ya, sok tahu aja.

Setiap minggu, aku bekerja tiga kali di minimarket di dalam Stasiun Kyoto. Aku selalu bekerja shift pagi hari kerja dari pukul enam sampai sembilan lebih lima menit (detil kan), yang mana rentang waktu itu adalah rentang waktu paling sibuk stasiun. Orang yang pergi ke kantor kebanyakan pergi dalam waktu yang hampir bersamaan, tapi kalau pulang ada yang agak sore ada yang malaman 'kan? Lembur atau minum-minum dulu, misalnya. Makanya, shift sore atau malam tidak sesibuk shift pagi.

Minimarket buka mulai pukul setengah tujuh pagi. Selama satu shift, sampai jam sembilan itu, kalau aku yang bertugas standby di kasir, aku bisa melayani lebih dari 250 customer dalam dua setengah jam. Bayangkan, aku berhadapan dengan hampir dua customer per menitnya. Bisa dibilang lebih dari 70% adalah regular customer yang datang tiap hari. Beberapa aku sudah hafal, tanpa customer menyebut apa-apa, aku sudah tahu rokok apa yang mau dibeli dan jenis pembayaran apa yang dipakai.

Minimarket kan menjual rokok ya dan jenis rokoknya lebih dari 220 jenis. Yang ada slot raknya hanya sampai 205 atau 206 kalau ngga salah, belum rokok jenis lain yang tidak punya rak. Jadi dipajang di tempat seadanya. Selain yang tidak ada tempat di rak, semuanya ada nomornya, jadi customer hanya tinggal menyebut nomor rokok yang mau dibeli. Tapi kadang ada customer yang penglihatannya kurang baik atau nomornya ketutupan staf atau malas lihat nomor aja, ya mereka menyebutkan merek sekaligus tipe rokoknya. Pusing lah tuh kalau belum apal 😞

Jenis pembayaran yang bisa digunakan pun sangat beragam. Tentu saja uang tunai, kartu debit/kredit JCB, Visa, MasterCard, IC card semacam Suica, Icoca, Manaca, apa lah, dan pembayaran pakai barcode apps smartphone seperti PayPay, WeChat Pay, Rakuten Pay, banyak lah. Oh ya, Seven-Eleven juga punya e-money-nya sendiri, namanya Nanaco. Kalau menyapa customer, staf diwajibkan bertanya, "Apakah Anda punya Nanaco?"

Tapi aku kalau nggak ada wakil store manager-nya aku ngga pernah nanya. Capek ah mulutnyaaa πŸ˜‚ Langsung aja, ngga pakai basa-basi, "Mau pakai kantong plastik ngga?" Itu pun karena dari awal Juli kantong plastik mulai bayar di Jepang. Sebelumnya juga langsung bilang, "Totalnya... sekian yen." Customer-nya 'kan buru-buru mau ke kantor, ngapain nanya macem-macem. Ya ngga? πŸ˜‚

Btw, ada customer seorang bapak-bapak yang aku love banget lah. Ramah banget, selalu menyapa 'selamat pagi'. Customer satu ini selalu datang di waktu yang sama tiap harinya, dan selalu membeli satu botol air putih dan dua onigiri. Hampir tidak pernah beli yang lain. Itu pun jenis onigirinya selalu sama tiap hari bayangkan! Pernah sesekali ganti jenis onigiri, tapi tetap belinya dua biji. Total belanjaan hampir selalu 383 yen kecuali kalau pas beli jenis onigiri lain. Aku kayaknya ngga perlu lihat mesin kasir, udah tahu ini bapak habis berapa belanjanya.

Udah gitu bapak-bapak ini sugar daddy-able banget. Kalau dari liat penampilan sih. Aku sama teman kerjaku (laki-laki) kalau ngomongin bapak ini tuh nyebutnya 'papa'. Tapi lihat dari belanjanya dia, kayaknya dia tipe yang setia. 😌  Sotoy.

Contoh lainnya dari pembelian rokok ya.

Kebanyakan dari customer minimarket-ku selalu membeli rokok jenis yang sama setiap harinya. Jadi kalau kita sudah hafal sama customer-nya, kita otomatis hafal sama rokok yang bakal dibeli. Kemungkinan besar sih, customer-customer ini tipe yang setia juga.

Aku kan kerja di dua minimarket ya. Di minimarket satunya, ada customer yang cukup lumayan akrab sama aku, jadi aku sudah hafal rokok yang dibeli biasanya yang nomor satu. Dia selalu membeli rokok itu sampai suatu hari dia ganti rokok yang ada di rak nomor sebelas.

"Eh ganti?"

Mungkin dia tipe yang setia tapi bosan jadi cari yang baru. Sampai sekarang masih membeli rokok nomor sebelas, belum ganti juga.

Ada customer yang beli rokok selalu ganti. Dan gantinya tuh ke merek atau jenis yang berbeda, dari yang rokok biasa ke rokok elektrik, nanti ganti lagi ke rokok biasa. Ini sih bisa dipastikan orangnya tidak setia. (Dipastikan dipastikan... siapa gue? πŸ˜‚) Dan temanku pernah nguping orang ini lagi bahas tentang cewek ke temennya. πŸ˜‚

Ada juga beberapa customer yang selalu membeli dua rokok, jenisnya sama, hanya beda rasa. Kemungkinan sih orang ini tipe kalau pacaran pacarnya sekaligus dua. 😜  Ngarang lagi...

Kalau di minimarket di stasiun sih kebanyakan orang beli rokok hanya satu, dua kotak. Tapi kalau di minimarket yang satunya, ngga sedikit orang yang beli satu karton --yang kenyataannya sekarang sudah ngga pakai karton melainkan pakai plastik tapi tetap saja kita bilangnya 'wan kaaton' alias 'one carton'. Ini tipe-tipe setia dan love banget kali ya. Soalnya itu customer juga datang ke minimarket tiap hari, meskipun beli rokoknya ngga tiap hari.

Aku punya teman, rokoknya Mevius 1 mg yang harganya 490 yen. Aku ingat sampai-sampai waktu dia ulang tahun aku memberikan kado rokok yang biasa dia konsumsi. Setelah lama ngga ketemu, beberapa hari lalu dia main ke rumah, dia ganti rokok merek Camel. Aku tanya kenapa, soalnya dia nggak punya uang, dan Camel harganya cuma 400 yen, lumayan irit 90 yen. Ini sih ngga tahu setia apa engga, yang jelas temenku ini customer tipe yang kere. πŸ˜‚

Ah tapi ngga valid sih. Ada regular customer yang tiap hari beli rokok yang sama tapi sukanya ngajak nge-date orang dan isunya sih punya istri... ah au ah. πŸ˜‚ Sukaknya ngrasani orang mulu aja ih.

Rasanya Punya Roommate Cowok

Rasanya biasa saja.

Kadang-kadang misal aku cerita kalau aku pernah tinggal sekamar sama laki-laki, atau ada teman laki-laki menginap di rumahku ke tante-tante dan teman di Indonesia, mereka suka kaget. Kok berani sih sekamar sama cowok? Emang nggak takut diapa-apain? Aku benar-benar lupa kalau punya roommate laki-laki tuh bukan hal yang biasa bagi sebagian orang Indonesia.

Waktu aku tinggal di Australia, aku sempat tinggal sekamar dengan roommate laki-laki tapi memang hampir tidak pernah yang cuma berdua. Biasanya sekamar berempat atau berdelapan campur laki-laki dan perempuan. Biasa saja. Ngga ada namanya naksir-naksiran atau kejadian yang membahayakan. Pernah sekali sekamar berdua itu pun cuma beberapa hari. Di Jepang pun, juga udah ada dua teman cowok yang pernah menginap di rumah.

Ya biasa saja.
Nggak ada aneh-aneh.

Mungkin karena aku ngga sexually attractive 😭
Kata adekku, aku tuh orangnya aseksual. Bukan aku yang ngga tertarik sama lawan jenis, tapi lebih ke lawan jenis yang ngga tertarik sama aku πŸ˜‚

Dulu pas di Ayr, di Australia ada teman yang tinggalnya beda kamar, tapi seneng banget tidur sama aku sekasur. Aku juga nggak naksir apa gimana. Dia juga bilangnya males, ngga nafsu. Sampai sekarang kalau kutanya, katanya ngga nafsu πŸ˜‚ Tapi gue yakin pasti love nih anak ama gue. Ngapain coba mau tidur sekasur single sama aku yang gendut ini kalau ngga love πŸ˜‚ Pede aja.

Mungkin karena sebelum-sebelumnya aku sering menginap di mixed dorm kalau traveling, jadi sudah terbiasa gitu. Alhamdulillah sih nggak pernah punya roommate cowok yang bau atau drama (lebih aku yang drama soalnya πŸ˜‚). Semua normal-normal aja. Kalau housemate cowok ada sih yang drama πŸ˜‚ Ada yang punya mental disorder (beneran) selalu bertingkah aneh, ada mantan housemate yang pernah ke rumahku di Jepang menginap dan tiba-tiba memutuskan pertemanan πŸ˜‚  Pas saat itu sih aku sampai nangis segala. Sekarang? Ih, bodo amat πŸ˜‚ Padahal dia salah satu teman cowok terdekat pas di Australia. Tapi ya... people come people go.

Punya roommate cewek pun juga biasa aja πŸ˜‚ Ada dua bekas roommate di Ayr dan mereka orang Kyoto, dan kita ketemu lagi dong di sini! Bahkan yang satu sering membantuku dalam segala hal! Roommate-ku yang paling berkesan sih Man (cewek ya), yang berasal dari Hong Kong. Kita jadi roommate di dua desa berbeda di Australia, pernah ngga sengaja ketemu di tengah-tengah outback South Australia, dan kita udah pernah ketemu Hong Kong dan Jepang juga!

Padahal dulu kerjaannya berantem πŸ˜‚

Dibeliin segini banyak sama Man 😭 
Sekarang sih ogah punya roommate, mau cewek mau cowok ogah! Males kalau berantem. Udah tua, butuh ketenangan πŸ˜‚

Persapian

"Jadi kamu ngga boleh makan daging sapi? Kalau minum susu sapi boleh?" tanyaku kepada seorang teman sekolah yang berasal dari Nepal.

"Ya boleh lah. Jangankan susu sapi, kita juga minum urin sapi kok!"

WHAAATTT?

"Serius? Trus rasanya kayak apa? Enak?"

"Nggak enak. Rasanya ya... kayak... pipis."

Sangat menjawab pertanyaanku sih jawaban temanku itu. Meneketehe rasa pipis kayak apaan. Kata temanku sih orang Hindu di negaranya minum urin sapi dalam rangka ritual keagamaan. Saat itu aku cuma memikirkan bagaimana orang bisa minum pipis sapi dan tidak punya pertanyaan lain. Apalagi pas lagi bicara tentang itu posisiku lagi makan 😀

Aku baca di Wikipedia kalau urin sapi itu diminum untuk ritual keagamaan atau obat tradisional di beberapa negara seperti India, Myanmar, Nepal, dan Nigeria. Aku langsung tanya temanku orang Nigeria, dia ngga pernah minum sih. Mungkin yang minum orang yang tinggal di pedesaan atau dia ngga sadar kalau pernah minum πŸ‘Ώ

Bentuknya kaya apa? 😭

Belum lama ini aku makan kare sapi Coco Ichibanya. Selama ini ternyata makan yang babi. Btw, yang kare sapi bentuknya sangat tidak menggairahkan. Aku posting kan fotonya di LINE, trus ada teman SMA japri, "Itu kare apa e**?"

Trus random aja, aku bilang ke temanku, "Eh masa di Nepal orang minum urin sapi loh." Kalau kamu teman chatku, siap-siap aja kukirimi pesan fun fact random macam kayak gini. 😌

Eh dia malah banyak pertanyaan. 

Supaya apa?
Minumnya harus berapa ml?
Makan ciki rasa sapi panggang boleh ngga?
Kalau royco sapi?

Aku jadi penasaran juga 😭 Mau tanya teman Nepalku, dia sibuk, aneh aja tahu-tahu aku nanya tentang urin sapi. Dari Facebook Friends-ku yang ada 800-an, kayaknya orang Nepalnya lebih dari 80, cuma masa nggak pernah chat tiba-tiba nanya tentang urin sapi 😭 Kalau pas ketemu langsung nanya sih gapapa. Tiba-tiba aku keingetan satu teman Nepal yang tinggal di Australia yang sudah lama nggak ketemu dan dulu kita akrab, jadi santay lah nanya-nanya random tiba-tiba.

Dia bilang sih, minum urin sapinya tidak sering tapi memang dipercaya sebagai air suci. Selain itu, juga tidak ada ukuran tertentu harus berapa ml minumnya. Orang-orang hanya take a sip dan biasanya menciprati urin sapi di rumah atau ke badan supaya suci. Dan ya, mereka nggak makan ciki rasa sapi πŸ˜…

Gara-gara ngomongin sapi, aku jadi merasa kalau aku ngga bisa Bahasa Inggris deh. Jadi kan orang Hindu ngga boleh makan cow ya, dan aku baru tahu kalau cow itu sapi cewek 😭 Trus kalau sapi cowok boleh makan nggak? Yang kita biasa makan daging sapi tuh cewek apa cowok? Kok aku bingung sendiri sih?

Lactose Intolerance is Real

Belum lama ini, aku baru menyadari kalau sepertinya badanku tidak toleran sama laktosa. Terbukti setelah minum minuman yang mengandung susu, seperti es kopi susu, bubble tea, kadang-kadang es krim, hampir selalu membuatku sakit perut dan mencret. Tidak 100% tapi bisa dibilang lebih dari 90% kemungkinan perutku bakal mules-mules setelah setengah sampai 2-3 jam setelah konsumsi susu.

Padahal sempat suatu waktu, aku lagi gemar minum susu nggak tahu kenapa. Oh ya, aku nggak punya kebiasaan minum susu tiap hari dari kecil, cuma kadang-kadang saja. Bahkan sempat dua tahunan nggak minum susu blas, karena lebih memilih minum susu kedelai. Nah, suatu hari, aku jalan-jalan ke Maizuru, sebuah kota kecil di bagian utara Prefektur Kyoto. Hari itu, aku lagi in the mood banget buat minum susu, dan sebagai orang yang sangat mengikuti feeling, aku membeli satu pak kecil susu sapi di sebuah bakery.

Nggak lama, perutku mulas 😭
Padahal hari itu hujan lumayan deras, dan aku nggak bisa lihat ada toilet umum, atau restoran cepat saji di pandangan mataku. Sedangkan tujuanku, aku masih harus berjalan kaki selama 20 menit. Dalam hati rasanya pengen mengumpat ke diri sendiri, sudah tahu kalau tidak kuat minum susu tapi memaksakan, dan kondisinya lagi jalan-jalan. Kan jadi fokus menahan sakit perut dan mencari toilet.

Sekitar lima menit kemudian, aku melihat Seven-Eleven yang cukup besar dengan parkiran yang luas. Hampir semua Seven-Eleven menyediakan toilet, jadi pas lihat sevel tuh rasanya, terharu ingin menangis 😭

Lega rasanya.
Pas jajan ini nggak inget ke toilet apa engga.
Itu kejadian sebelum masa-masa korona. Kalau sekarang gini, lagi jalan-jalan nggak berani deh minum susu. Masalahnya, gara-gara korona ini, banyak convenience store atau toko yang punya toilet untuk customer, menutup toiletnya untuk umum. Kalau pun nggak ditutup pun, jadi ribet, seperti harus bilang ke stafnya kalau mau menggunakan. Karena sepertinya, setelah toilet digunakan, stafnya harus buru-buru mendisinfek toiletnya.

Sekitar dua-tiga minggu lalu, aku pergi ke sebuah kuil yang terkenal sebagai kuil kelinci. Namanya Okazaki Jinja. Sebelum sampai ke kuilnya, aku jajan eskrim yang berbasis susu dan emang nyusu banget.

Benar saja, tiba-tiba perutku mulas seperti mulas yang kurasakan setiap minum susu. Di kuilnya aku tidak bisa menemukan toilet dan kantornya sudah tutup karena aku datang ke sana sore hari. Kepalaku langsung berputar memikirkan di mana aku bisa pergi ke toilet. Ada banyak fasilitas umum di dekat sana, tapi paling tidak aku harus jalan 15 menit. Aku sudah nggak kuat 😭

Di depan kuil persis ada supermarket, aku tidak berharap banyak sih, tapi coba saja. Alhamdulillah ada! Tapi ya itu, gara-gara korona, kalau mau pakai toilet harus bilang sama stafnya. Waktu itu kok ndilalah stafnya lagi pakai toiletnya, jadi pas dia keluar, aku langsung izin pakai toiletnya. 😭 Capek, mau nangis rasanya.

Udah ah kapok nggak minum-minum susu lagi kalau di luar rumah.

Tapi aku belum kapok juga ternyata πŸ˜‚ Aku pergi ke salah satu mal besar di Osaka, dan membeli Chai Latte ala Jepang dalam pek. Sudah di dalam bus mau ke arah, mulas tak terkira. Mau balik ke malnya, jalannya lumayan jauh dan busnya cuma ada 30 menit sekali. Mau ngga mau kutahan dan yang kulakukan dalam bus adalah melihat Google Maps dan berharap busnya cepat sampai stasiun. 😭

Yang ini lumayan parah, aku sampai rumah masih mual-mual.
Memang harus berhenti minum susu di luar rumah. Perasaan kalau minum di rumah nggak selalu mulas, bingung gue.