Toilet Tetangga Tak Pernah Lebih Hijau

"Home is where you can poop peacefully."

Aku percaya kalau rumput tetangga seringnya terlihat lebih hijau... kecuali soal pertoiletan.


Mau sebagus apa toilet rumah temanmu, atau secanggih apa kloset di hotel, paling enak dan nyaman memang eek di toilet rumah sendiri -yang mungkin jauh lebih jelek dibandingkan toilet rumah temanmu atau hotel bintang lima.

Aku mengenal beberapa orang yang nyaman-nyaman saja membuang hasil ekskresinya di toilet manapun tapi jauh lebih banyak yang kukenal sulit untuk eek di toilet tempat umum. Dengar-dengar sih, memang ada kecenderungan pada perempuan untuk menunda eek karena malu dan risih sama toilet umum. Aku pun termasuk yang itu, tapi lebih karena nggak nyaman saja. Kalau tak tertahankan, baru bisa terpaksa eek di toilet di tempat umum. Aku bahkan ingat mal mana saja yang pernah kuberikan 'peninggalan' saking jarangnya melakukan defekasi di toilet umum.

Awalnya aku mengira ini persoalan ada air atau tidaknya di toilet. Tahu kan... orang kita terbiasa ada kran dan gayung atau semprotan saat buang air besar. Risih rasanya kalau harus mengelap bagian kau-tahu-apa dengan tisu kering. Tapi ternyata tidak juga. Mau toiletnya berjenis washlet dengan semprotan pantat yang bisa diatur arahnya dan suara flush palsu untuk menutupi bunyi 'plung' agar tidak malu, tetap saja tidak nyaman.

❤ JNE Ongkir Gratis Loh, Mau? ❤

Ada yang sering pakai JNE?

Kalau aku (nggak ada, lumayan sering menggunakan JNE. Baik mengirim maupun menerima. Selain letak agen JNE dekat dengan rumah, selama ini menggunakan layanan JNE nggak pernah mengecewakan. Sampai-sampai petugas agen JNE-nya mengira aku punya online shop (well sepertinya memang harus mulai untuk buka usaha) dan sampai hafal wajah kurir JNE yang sering datang ke rumah.

Nah bulan ini merupakan bulan yang istimewa buat JNE karena JNE merayakan ulang tahunnya di bulan November. Tahun ini, umur JNE 26 tahun, lho! Asik aku lebih muda dari JNE. Trus?

❤❤❤

Kemarin (22/11), aku hadir di acara JNE Media and Blogger Gathering "Local Heroes Go International" yang diadakan untuk menyambut ulang tahun JNE akhir pekan ini. 

Selfie dulu sama dua tante cantik kita...

♥ The Jones: Jomblo Ngenes ♥

Jomblo ngenes?

Kamu ngerasa?

Ih, kalau aku enggak ya. Meski jomblo, tapi bahagia selalu setiap hari lah ya nggak ngenes. Eh tapi ini nggak bahas status siapapun yang masih jomblo kok. Tapi membahas The Jones: Jomblo Ngenes, pemenang kompetisi penulisan naskah yang diadakan oleh Genflix. 

The Jones: Jomblo Ngenes berbentuk web series atau film pendek dan sekarang tayang tiga episode. The Jones: Jomblo Ngenes bercerita mengenai dua cowok yang selalu apes dalam mengejar cinta mereka. Ceritanya yang ringan dibalut dengan unsur komedi yang dijamin memicu gelak tawa penonton. Serial ini merupakan original series pertama Genflix dan menjadi sebagai pembuka original series dan film selanjutnya yang akan tayang di Genflix.


Penyerahan hadiah secara simbolis dilakukan pada Kamis lalu (17/11) bertempat di Conclave, Jalan Wijaya I, Jakarta Selatan. Acara hari itu juga menghadirkan Titin Wattimena, ketua tim juri kompetisi #ProjecTV, yang membagikan pengalamannya sebagai asisten sutradara dan penulis skrip film.

Indonesia Menuju Destinasi Kesehatan Dunia Bersama International Swam 2016

Meski belum ada seperempat abad, kadang-kadang suka kepikiran bagaimana nantinya kalau wajah dan tubuhku penuh dengan keriput. Atau ketika nanti harus mengubah skin care yang kupunya menjadi seri anti-aging. Tidaaakkk!

Kadang-kadang pun suka sirik melihat perempuan yang sudah matang, baik tante-tante atau nenek-nenek namun kulitnya bisa masih kencang gitu. Caranya gimana ya? Aku 'kan juga pengen! Ini aja perasaan kulitku sudah mulai berkeriput……… aku nggak mau tuaaa... eh tapi nggak mungkin ya.

Sementara aku ngeributin penuaan kulitku sendiri, bulan depan bakal ada acara seminar estetika se-Asia Tenggara yang bertemakan: Defeating Aging. Acara yang bertajuk ‘7th International SWAM – Anti Aging Exhibition 2016 ini akan berlangsung pada tanggal 2-4 Desember 2016 di ICE – BSD, Tangerang. Seminar bertaraf internasional yang diselenggarakan oleh PT Perdesti Global Medicom ini akan dihadiri oleh 2000 dokter (dalam dan luar negeri) dan menjadikannya sebagai seminar ke-3 terbesar di dunia dalam bidang estetika.


Social Shopping Tak Ragu Lagi dengan Uangku

Sebenarnya aku jarang belanja online *pencitraan* Namun belakangan lumayan sering, apalagi mamaku sering banget minta belikan sesuatu di internet tapi malas browsing sendiri. Kemarin mama minta dibelikan kopi hijau yang katanya bisa buat ngurusin badan. Aku pun mencari kopi hijau di situs e-commerce yang terkenal. Karena e-commerce pun juga 'hanya' menghubungkan antara penjual dan pembeli, jadi aku memilih online shop yang terlihat aman dan dapat dipercaya.

Online shop yang kupilih pun yang member premium e-commerce itu, yang biasanya punya badge atau tanda tertentu seperti bintang. Meskipun aku tahu e-commerce akan bertanggung jawab kalau ada apa-apa (misal barang tidak diterima), tapi tetap saja ada rasa tidak aman. Apalagi kalau belanja via Facebook atau Instagram. Baru dua hari yang lalu, temanku posting status di LINE kalau ia tertipu beli baju di online shop di Instagram. Tuh...

Kamu punya pengalaman tertipu saat belanja online?

Di Indonesia, terjadi sekitar 2,7 juta transaksi belanja online setiap harinya. Delapan puluh persennya merupakan Social Shopping alias belanja online dengan media sosial seperti Facebook atau Instagram bukan via situs e-commerce. Padahal, Social Shopping berisiko tinggi. Risiko fraudnya besar, jaminan hukumnya tidak ada, dan tidak ada pihak ketiga yang dapat menengahi apabila terjadi apa-apa. Tapi kenyataannya orang lebih prefer Social Shopping karena ada personal touch dalam transaksinya.

Social Shopping tak hanya menghadirkan risiko bagi sisi pembeli, namun juga sisi penjual. Salah satunya saja kasus bukti transfer yang diedit oleh pembeli.

Persoalan Deodoran

Dari minggu lalu mau bahas ini.
Meski topik ini paling tidak penting sedunia.
Maafkan aku ya...
Cuma masalah obat ketek alias deodoran saja kok dipersoalkan.

Aku kan demen menulis status di timeline LINE ya. Suatu hari aku curhat mengenai deodoranku yang sudah berbulan-bulan tapi tidak kunjung habis juga. Namun sayang, tidak ada yang komentar bahkan like yang tiba di statusku. Kasian deh aku. Sampai beberapa bulan kemudian, tepatnya sekitar minggu lalu, aku menulis kembali status mengenai deodoran yang sama. Tapi kali ini di Twitter. Begini cuitanku...

"Deodoran tuh habisnya dalam berapa bulan? Kok punyaku setaun lebih gak entek-entek. "(Entek = habis)

Kiri: deodoranku. Kanan: deodoran oleh-oleh dari kerabat hasil jarahan dari hotel.
Bulan lalu, deodoran milikku berulang tahun satu tahun. Umurnya bahkan lebih tua dari kucingku Ping Ping yang baru lahir sekitar bulan Mei tahun ini. Kalau diterawang, sepertinya belum ada 30% pun berkurang. Untuk informasimu (fyi, informasi paling ngga penting sedunia), deodoranku berjenis stick dengan merek Nivea Anti-Perspirant Dry Comfort Plus Extra Protection 48h Gentle Care *panjang bok*