Saat Nanti Aku Berusia 23...

Masih ada beberapa waktu untukku sebelum berulang tahun ke-23. Dan hidupku sampai sekarang, rasanya kok belum berkontribusi apa-apa untuk orang tua bahkan untuk bangsa, hehehe... Cita-cita masih banyak yang belum terlaksana dan untuk manusia muda sepertiku ya yang terpikir untuk umur 23 nanti ya berkenaan dengan cita-cita. Dan bukannya nikah... *eh. Banyak rencana yang kuangankan, dari rencana A sampai Z.

Tapi kira-kira... ketika aku sudah menginjak usia 23... aku ingin...
1. Aku sudah lulus kuliah.
2. Aku sudah mandiri secara ekonomi.
3. Pasporku sudah terisi cap setengah lebih. *obsesi banget*
4. Punya blog yang menghasilkan banget.
5. dan lain-lainnya.

Tapi plan besarnya adalah:

Plan 1
Saat di umurku 23 nanti, aku sedang mengambil gap year setelah lulus kuliah dan kemudian, keliling dunia! Aku akan memberanikan diri untuk pergi sendiri, aku mau bertemu banyak manusia baru, dan mendewasakan diri. Keliling dunia merupakan salah cita-citaku dan sudah minta izin sama mama untuk pergi jalan-jalan sendiri setelah lulus. Cuma kan masalahnya, punya duit atau kagak ntar pas aku berumur 23... pasti punya, amiin. ^^

Plan 2
Kalau tidak begitu ya, kepengennya aku ikutan Indonesia Mengajar. Setelah aku gagal ikutan Kuliah Kerja Nyata di kampusku ke Maluku atau Papua, aku masih berobsesi untuk tinggal di pedalaman dan melihat kondisi nyata di lapangan. Aku ingin sekali bertemu orang-orang Indonesia yang kehidupannya berbeda sekali denganku. Cuma kan masalahnya, lolos kagak ikutan Indonesia Mengajar. Lihat profil pengajar mudanya saja, aku sudah minder duluan, wahahaha...

Plan 3
Aslinya, aku kepengen sekolah lagi tapi yang nggak berhubungan sama ekonomi-ekonomian lah. Mumet aku dan juga nggak begitu suka. Maunya belajar psikologi atau literatur gitu dan di luar negeri! Cuma kan masalahnya, harus terus berburu beasiswa nih!

Plan 4
Sejenis dengan plan 2, aku tuh punya keinginan untuk menjadi pekerja kemanusiaan. Di umurku yang ke 23 nanti, aku ingin join organisasi PBB atau NGO Internasional yang berhubungan dengan kemanusiaan.

Postingan ini kok rasanya curhat banget tapi itulah yang ingin kulakukan di episode selanjutnya dalam hidupku. Doakan ya ^^

Dan untuk Mbak Ayu... yang mirip Dewi Perssik. Selamat ulang tahun ya, yang ke-23, Mbak. Panjang umur, selalu sehat, makin cakep, makin sukses terutama karirnya dan bisnisnya. Aku ditraktir kripik pisang cokelat juga mau loh... <- ini sarannya. Aku nggak punya kritik. Anyway, kapan kita jumpa lagi, Mbak?

Terharu

Sore ini aku beradu dengan kemacetan Kota Jakarta. Tumben-tumbenan pulang kuliah sore dan aku masih harus berjibaku dengan business district-nya Jakarta. Tadi aku harus mengunjungi suatu tempat di daerah Senayan. Jalanan penuh sekali, macetnya mobil membuat seakan-akan mobil-mobil itu parkir di tengah jalanan aspal. Beberapa kali menyeberang jalan yang mobil berlalu-lalang terus menerus. Susah sekali. Para mobil itu sepertinya susah sekali mengalah. Ah...

Setelah lama tak pernah keluar Indonesia, aku baru ke luar negeri ketika umurku 18 tahun. (Sekarang 19 tahun, hahaha pret). Waktu itu seorang teman mengajakku pergi ke Singapura. Mamaku membolehkanku untuk pergi. Yah bagaimana sih, seperti pertama ke luar negeri, ke negara maju pula, norak gitu deh ya. Di Singapura, seringnya kan jalan kaki kan ya.


Sampai akhirnya, aku dan temanku harus menyeberang jalan. Sebuah mobil Mercedes berhenti sebentar untuk menunggu kami menyeberang. Tak hanya pas itu. Selalu selalu selalu ketika kami menyeberang, kendaraan selalu mengalah. Namanya juga norak kan ya, aku terkagum-kagum sekaligus terharu. Sebagai pejalan kaki, rasanya dihormati banget. Aku senang.

Pas menyeberang di Senayan tadi, aku jadi teringat kondisi nyeberang-menyeberang di Singapura. Padahal, menunggu sebentar untuk mengalah pada pejalan kaki yang menyeberang kan mudah ya. Ah nggak paham lagi...