Ngomong Campur-Campur

Pukul sepuluh pagi, saya naik ojek dari tempat les Bahasa Jepang saya menuju rumah. Hari itu, saya ke sana cuma ingin membayar uang piknik.

O: "Dari mana, Bu?" Cedih deh dipanggil ibu.
U: "Dari tempat kursus tadi Bang..."
O: "Nganterin anaknya ya?"

*jorokin abangnya dari jok penumpang*
*maunya sih gitu*
*waktu pun berlalu*

O: "Asalnya mana Bu?"
U: "Hmmm, bapak ibuku sih dari Jogja, Bang."
O: "Tapi kalau ngomong Bahasa Inggris nggak keliatan Bu kalau dari Jawa."
U: "Hah? Kapan aku ngomong Inggris?"
O: "Barusan."

Hah? Masak? Kapan? Ngomong apa gua?

❤❤❤

Menyanyi Lagu Kebangsaan Israel

Menyanyikan lagu kebangsaan Israel
... berdua dengan orang Israel, di Tokyo.

Salah satu kejadian yang mengesankan bagiku saat di Tokyo bulan lalu. Tapi yang bikin lebih berkesan adalah, ketika Yoav, orang Israel itu, berkata bahwa menyanyi Hatikvah denganku adalah salah satu fenomena surealis dalam hidupnya!


Surealis artinya apa sih?


♫♫♫

Saat di Tokyo, aku dan temanku menginap di Inno Hostel tak jauh dari daerah Ueno. Di hostel milik orang Korea ini terdapat lounge dan bar yang digunakan para tamu untuk bersantai-santai. Barnya pun melayani untuk orang yang tidak menginap di hostelnya.

Asiknya di hostel, adalah bisa mengobrol dengan sesama tamu yang menginap. Aku sempat mengobrol dengan beberapa orang asing di sana tapi ternyata sebagian bukan tamu, melainkan volunteer yang bekerja di hostel. Rata-rata, mereka sedang internship di Tokyo, dan untuk menghemat ongkos ngekos, mereka memilih untuk bekerja di Inno Hostel dengan imbalan penginapan gratis.

Saat itu, aku duduk di bar sambil menikmati sesloki gelas air kran (ya di Jepang kan minum air putih dari kran), aku berkenalan dengan seorang perempuan dari Italia, yang sedang dalam studi S2 terkait Bahasa Jepang di universitas di Italia, namun sedang magang di Jepang untuk beberapa bulan. Seorang laki-laki kemudian duduk di kursi sampingku dan menyapa. Mirip Adam Levine tapi dengan brewok sedikit lebih lebat, sedikit saja.

Gombalan Paling Ampuh Untuk Ibu-Ibu

dan perempuan pada umumnya...

Aku lupa mendengar atau membaca tips gombal ini dari mana. Tapi sampai sekarang masih selalu aku gunakan. Apalagi temanku banyak yang sudah ibu-ibu, baik yang mamah muda hingga ibu-ibu bercicit. Dengan gombalan ini, percakapan menjadi lebih lancar.

Nah, aku merasa gombalan ini selalu kena! Setidaknya reaksi paling buruk adalah 'biasa aja'. Setiap gombalan ini dilontarkan ke ibu-ibu, pasti raut mukanya langsung berbeda, langsung berefek senyum mengulum dan pipi tersipu. Geer. Serius.

Mau tahu nggak gombalan yang pastinya sebenarnya semua orang tahu?

Intinya, kalau ingin bikin ibu-ibu kenalan baru Anda senang, di awal-awal percakapan ungkapkanlah bahwa beliau awet mudah atau terlihat muda dibandingkan umurnya!

Ah serius udah segitu umurnya?
Eh, tapi mbak kayak masih 20-an lho!
Lho, kirain kita seumur?
Anaknya udah empat? Kayak masih kuliah lho...
Eh? Udah punya tiga cucu? Kirain masih SMA lho... (Yang ini lebay banget sih maaf).

Yang semacam itulah.

Meskipun gombal bisa berarti bohong, tapi kalau aku memuji dengan gombalan ini biasanya aku jujur. Tapi seringnya agak lebay juga sih akunya.

Misalnya pernah nih, nimbrung ke ibu-ibu blogger yang sedang mengobrol. Ada salah satu ibu blogger yang bercerita tentang anaknya, eh tahunya sudah besar. Lalu aku nanya berapa umurnya si ibu itu, ternyata sudah 35 tahun. Kalau dari wajah, kalau dia bilang masih 28 tahun pun orang nggak akan mengira dia muka boros.

Lalu kubilang saja, "Eh yang bener Mbak? Tapi kelihatan kayak 21 lhooo..."

Oke ini lebay dikit.

Mau Kasih Hadiah Untuk Teman. Enaknya Apa Ya?

Advertorial

Beberapa tahun lalu, saya punya dua teman dekat. Sekarang sih sudah tidak terlalu dekat karena sudah jarang bertemu.

Tak hanya saat ulang tahun, tanpa 'dalam rangka-dalam rangka' pun, kami bertiga sering saling memberikan hadiah kecil. Kadang-kadang hanya makanan kecil oleh-oleh dari kampung, namun pernah juga tas cantik, boneka, kosmetik, dan lain-lain.

Senang kalau hadiah kecil itu bermanfaat, tapi seringnya kami membeli hadiah dan sama sekali tidak melihat kesukaan atau kebutuhan teman yang dikasih. Seringnya kami membeli hadiah ya yang... suka-sukanya kami! Preferensi yang memberi hadiah tanpa melihat preferensi yang dikasih hadiah.

Pernah suatu waktu, salah satu teman saya tadi memberi penghapus bentuk bebek. Senang sih senang. Lucu banget kan. Tapi ya nggak kepakai. Akhirnya masih ada di rumah, sudah hampir tujuh tahun sepertinya, nggak dibuka juga bungkusnya. Waktu lain lagi, teman saya memberikan kaos warna putih oleh-oleh dari kota kampung halaman ibunya. Desainnya 'nggak banget'. Dan teman saya sadar kalau memang 'nggak banget'. Tapi dia bilang... sengaja! Biar bikin kami pake kaos itu... ya akhirnya cuma sekali-dua kali dipakai di rumah aja.

Tapi selain hadiah yang 'tidak penting-tidak penting', yang penting dan berguna sekali juga banyak kok.

Sekarang... sejak saya semakin dewasa, ya kalau memberi hadiah untuk teman atau siapapun pasti melihat banget preferensi si orang yang akan diberikan hadiah. Kira-kira kepakai nggak ya? Bermanfaat nggak ya?

Ketika Tweet Dicopas

Lagi-lagi postingan dari hasil copas timeline LINE (punya sendiri) dengan penyuntingan. Udah nge-draft curhat nggak penting tapi belum kelar juga. Padahal cuma mau bahas kulit ayam. Kali ini mau curhat saat beberapa waktu lalu tweet-ku di-copas. Nggak gimana-gimana sih. Cuma kasian aja sama orangnya yang copas. 

❤❤❤

Kali ini mau cerita.
tentang pengalaman pertama tweet di-copas.
Iya, tweet doang.

Dua akhir pekan lalu, aku pergi ke acara #JakJapanMatsuri2016 dan 'melaporkannya' secara live di Twitter-ku. Acara tersebut dilaksanakan dalam dua hari dan aku datang dua hari berturut-turut. Di hari pertama, sebelum hendak pulang, aku bertemu dengan teman blogger, dan dia memberitahukanku sesuatu.

Katanya, tweet seorang blogger + buzzer bernama Fauzi sama persis sama tweet-ku setitik komanya sefoto-fotonya. Tapi udah aja, akhirnya kita malah jalan-jalan, dan abis itu aku ngga inget dan ngga nanya lagi lebih detilnya.

Sampai keesokan paginya, aku klik hashtag #JakJapanMatsuri2016 buat lihat tweet orang-orang. Di tab top tweets ada tweet orang bernama Fauzi yang kalimatnya setanda serunya sama banget sama tweet-ku. Tweet-nya masuk ke Top Tweets karena di-retweet ada 14 kali.


From Japan to Korea with Peach Airlines

Selain hanya menulis bahasan yang remeh di blog, aku juga sukanya menuliskan hal yang sudah lama lewat. Hahaha... Kayak cerita ini, aku alami hampir setahun yang lalu. Ya sudah lah ya, mohon maklum.

(ノ^ヮ^)ノ*:・゚✧

September tahun lalu, saat aku mencari penerbangan termurah apakah dari Kansai ke Seoul, aku menemukan Peach Airlines. Mendadak teringat cerita teman yang pernah pergi dari Jepang ke Korea dengan Peach Airlines, ia membeli tiket hanya dengan harga sekitar 400 ribu rupiah saja.

(Note: Harusnya namanya Peach Aviation, tapi orang-orang lebih sering menyebutnya dengan Peach Airlines).

Peach merupakan maskapai penerbangan low-cost asal Jepang yang kepemilikan terbesarnya dikuasai oleh All Nippon Airways (ANA). Peach punya rute ke Hong Kong, Korea, dan domestik Jepang. Tarifnya yang murah bikin orang-orang suka naik Peach. Karena aku langganan newsletter-nya, sering dikirimi info promo tarif Peach. Misal Osaka ke Sapporo bahkan bisa cuma 2490 yen (300 ribuan). Kalau naik Shinkansen bisa jutaan! Belum bisa juga sih naik Shinkansen sampai Sapporo...

Waktu aku mau memesan tiket Peach, tidak semurah yang temanku dapatkan. Ada dua pilihan harga, yang pertama Happy Peach Fare, sekitar 5800 yen dan Happy Peach Plus Fare, dengan tarif 8280 yen (belum pajak). Perbedaannya kalau Happy Peach Fare yang benar-benar fasilitas seadanya, hanya cabin baggage 10 kg tanpa checked-in baggage. Kalau mau pilih kursi pun harus bayar. Sedangkan Happy Peach Plus Fare sudah termasuk checked-in baggage dan bisa milih kursi sesukanya. Kalau mau ganti tanggal penerbangan pun free.

Bukti pembayaran tiket Peach Airlines di Lawson.