Kamis, 17 Mei 2012

Kebersihan, Modal Positif Kebangkitan

Kebangkitan sebuah bangsa bisa dilihat dari dua hal, yakni perilaku dan ilmu. Perilaku (akhlak) dan pendidikan yang dipunyai para warga negara menunjukkan karakter bangsa tersebut. Maka dari itu, pendidikan karakter menjadi sangat esensial bagi sebuah bangsa. Pendidikan karakter mencetak manusia yang berbudi pekerti, yang peduli terhadap diri sendiri, sesama, lingkungan, dan bersikap mengikuti norma, tata krama, dan budaya yang ada.

Nah, manusia yang berakhlak dan berbudi pekerti contohnya bisa dilihat dari kebersihan dari diri sendiri. Apakah orang Indonesia merupakan orang yang senang kebersihan diri? Aku melihat beberapa fenomena dan mengiyakan pertanyaanku.

Ini buktinya:
1. Beberapa minggu lalu, aku naik angkot dan selain aku terdapat delapan orang yang merupakan satu keluarga. Mereka membeli kacang pistachio berukuran dua kilo, mereka makan dengan asyiknya... dan membuang kulitnya di dalam angkot. 
2. Pernah kulihat seseorang mengeluarkan sampah dari dalam mobil dan ia membuangnya dari jendela mobilnya yang dibuka sedikit. Mobilnya kalau tidak salah harganya berkisar 800 juta rupiah. 
3. Ibu-ibu cantik nan modis meminum air botolnya di dalam Kopaja, setelah tidak tersisa air di dalam botolnya, ia membuangnya di bawah tempat duduk di dalam bus.

Menjaga kebersihan diri?
Jelas IYA!

Tokoh dalam contoh yang aku tulis memang jelas-jelas ingin dirinya bersih, ingin mobilnya tanpa ada sampah, tidak ingin membawa sampah kulit pistachio, atau tidak ingin menaruh botol air kosong di dalam tas. Tapi... mereka ingin bersih di dirinya sendiri tanpa mengindahkan lingkungan sekitarnya.

Padahal... namanya bersih itu indah. Dan aku rasa setiap manusia memiliki insting untuk berbuat baik, dan salah satunya, naluri memiliki rasa senang terhadap yang bersih dan indah. Padahal... tentu kita akan senang kalau sungai di sekitar kita bersih, akan tersenyum kalau terminal bus di sini tidak ada yang kumuh... akan bahagia kalau WC umum tidak ada yang mambu.

Tapi...

Well, sebaiknya aku stop 'tapi'-nya. Sebaiknya kita memikirkan apa yang bisa kita lakukan untuk lingkungan... dari hal yang paling kecil sekalipun. Ada beberapa yang sebaiknya kita lakukan untuk menjaga kebersihan lingkungan:

1. Tanamkan pada diri sendiri untuk lebih mementingkan kepentingan lingkungan daripada diri sendiri.
2. Tanamkan kepada generasi muda di sekitarmu (adik, anak, sepupu, dll) untuk memperhatikan kebersihan.
3. Buang sampah pada tempatnya, even bungkus permen atau bungkus sedotan pun!
4. Tidak karena mindset tempat terkotor ialah kamar mandi, makanya tak menjaga kebersihan kamar mandi. Padahal justru karena terkotor itu, kita harus menjaga kebersihannya. Supaya bersih dan nggak pesing. Huekkk...
5. Dan yang lain-lainnya, aku rasa semua bisa mengetahui hal apa yang bisa kita lakukan untuk menjaga lingkungan (^▽^)


Kenapa kebersihan penting?
Karena menjaga kebersihan menunjukkan kepribadian manusia yang berakhlak, dan manusia yang berakhlak menunjukkan karakter bangsa, dan karakter bangsa yang berakhlak merupakan modal positif kebangkitan bangsa.

Mari jaga kebersihan!
Selamat hari kebangkitan nasional!

♥♥♥


"Artikel ini diikutsertakan pada Kontes Unggulan Indonesia Bangkit di BlogCamp."

Stanley, Di Balik Hutan Beton Hong Kong


Ibuku merekomendasikan kami untuk pergi ke Stanley Island. Katanya, bagus, ada pasar di sana, dan ada pantai. Namun, ibuku salah menyebutkannya. Nggak pake 'island'. Stanley terletak di semacam tanjung di selatan Pulau Hong Kong. Saking selatannya, peta Stanley pun nggak ada di peta yang aku bawa waktu itu. Di insert/omset pun tidak ada... atau aku saja yang nggak perhatiin petanya... huft.


Seusai jalan sedikit di sekitar Causeway Bay, kami pergi ke Victoria Park. Waktu itu masih ragu, mau liat-liat Times Square atau mau ke mana. Akhirnya ya ke Stanley. Kami tanya dengan salah satu TKI asal Sumbawa di sana, yang pakai kacamata berbingkai love love merah, bis apa untuk ke Stanley. Eh alhamdulillah dia tahuuu, katanya naik minibus nomor 40.


Miwww, dan emang jauh banget. Jalannya tipikal macam di Indonesia yang membelah bukit gitu, yah tau lah... berliku-liku dan bikin pusing T.T Kalau nggak salah, hampir sejam dari Causeway Bay ke Stanley. Kami turun dari minibus di Stanley Market. Liat-liat doang, kagak ada yang tertarik. Uang di dompet pun juga tinggal 60 HKD, mau nukerin duit kok nggak nemu Money Changer.

Sampai akhirnya kami menemukan pantai kecil di balik pasar Stanley... aku kira aku tak akan melihat pemandangan alam, hm kecuali alam beton di Hong Kong, tapi ternyata tidak.


Meski pantai bagian belakang Stanley Market, kecil tetap saja kami girang karena sebelum-sebelumnya selalu jalan di antara gedung-gedung mulu. Meski kecil, seru juga kok. Ombaknya nabrak batu-batu dekat pantai, suaranya huuuw huuuw, duduk di kayu ditemani seekor anjing dan serasah sampah daun huuuw huuuw...

Di Stanley ini banyak ekspatriat tinggal, jadi yang kulihat di sana, banyakan bulenya tinimbang orang Hong Kong-nya...


Kami tak berlama-lama di Stanley, karena sore datang terlalu cepat. Sebelum pulang, kami makan BigMac yang lagi diskon jadi cuma 20HKD atau sekitar 22000 sepaket hihihi... di Jakarta aja seingatku 37400. Hm, sempet mikir juga sih, kok diskon kenapa ya, wkwk... tapi ya udah dehhh... :D :D

 ♥