Should I Write in English?

I've really-really wanted to write in English for my blog posts.

But the thing is my English writing super sucks! I have limited English vocabulary and do not know how to make the sentences to be interesting and fun to read.

I did try to make other blog and planned to write there only in English, but totally failed. But here, in this blog, I've been using it for almost 9 years (I signed up my blogger account in September 2009, if you see posts from 2007 I imported from Multiply) and I've written almost 900 trash diary posts.

Of course, I want people around the world can read my blog but I just realised that in my Facebook account prolly my one-third of friends are foreigners I met in school and here in Australia. But more important thing for me is that I want that my friends can read my posts here since I write about my daily life on my blog.

So.. start from today, I'm gonna write in English.
I'll try my best!
Even though, I'm only gonna use simple words and sentences with incorrect grammar also. πŸ˜†

Picture from last night. Nick (the tallest guy)'s farewell party. Too lazy to blur face now. If you (talking to people in this picture) want me blur your face or take down this picture please tell me, hahaha. But serious I really respect someone's privacy.

Ketemu Orang Indonesia di Ayr!

Throwback abis sih, alias setahun yang lalu tapi ngga apa-apa lah ya.

Saat pertama kali tiba di Australia dengan visa work and holiday, kota pertama yang kutuju adalah Perth. Alasannya cuma satu, karena tiketnya paling murah dari Jakarta. Aku cuma bayar sekitar 1,1 juta untuk tiket pesawatnya, ya meskipun tentu saja dengan low cost carrier yang harus transit dulu ke Kuala Lumpur. Di Perth aku sempat tinggal di salah satu suburb-nya Fremantle selama 4 hari dan di kota Perth selama empat minggu. Di apartemenku di Perth aku serumah dengan 10 orang lainnya dan dua di antaranya berasal dari Indonesia.

Setelah dari Perth aku terbang menuju Brisbane dan dengan bus aku menuju ke sebuah desa kecil bernama Stanthorpe. Jaraknya sekitar tiga jam perjalanan darat dari Brisbane. Pergi ke sana juga cuma gara-gara housemate-ku di Perth yang memberiku informasi kalau kerja farm di Stanthorpe oke juga dan dia punya teman di sana. Sebelumnya mana aku tahu kalau ada desa namanya itu.

Sampai Stanthorpe, aku tinggal di bilik kecil di sebuah caravan park bernama Blue Topaz Caravan Park. Di masa puncaknya mungkin ada lebih dari 150 backpackers yang tinggal di sana. Tapi nggak ada satu pun yang berasal dari Indonesia kecuali aku! Kalau di desa Stanthorpe-nya aku kurang tahu sih, maklum kurang gaul. Wah pokoknya hampir tiga bulan di sana blas nggak ngomong Bahasa Indonesia deh.

Setelah dari Stanthorpe, aku sempat transit sebentar di Brisbane buat jalan-jalan dan belanja. Kemudian aku terbang ke Queensland bagian utara tepatnya ke kota Cairns. Tujuanku selanjutnya adalah desa bernama Ayr, yang bisa ditempuh sekitar tujuh jam menggunakan bus dari Cairs. Sebenarnya nggak desa-desa banget sih, town. Tapi town terjemahannya apa yaaa... kota kok kayaknya nggak kota, sebut saja desa aja lah. Eh bukannya langsung pergi ke Ayr, aku malah jalan-jalan ke Jepang dulu. Random banget 'kan hidup gue. Setelah dari Jepang aku baru pergi ke Ayr.

Ferrero Raffaello

Pada tahu cokelat Ferrero Rocher kan?

Aku nggak ingat kapan pertama kalinya aku makan Ferrero Rocher. Yang jelas (seingatku), aku nggak pernah beli sendiri. Kayaknya sejak aku kecil Ferrero Rocher sudah ada di supermarket di Indonesia. Yang aku ingat, kalau lihat harganya rasanya kayak nggak mampu beli. Mau beli pun rasanya sayang banget karena mahalnya minta ampun. Tapi aku lupa sih dulu harga tepatnya kisaran berapa.

Ditambah lagi ada Ferrero Rocher KW alias Roka buatan Malaysia. Pada tahu kan? Dan setelah dewasa baru ngeh kalau rasanya beda banget, lol.

Ferrero Collection

Belajar Bahasa Mandarin

Gini-gini aku punya target yang rada ambisius, salah satunya bisa bercakap-cakap dengan lebih dari lima bahasa asing sebelum umur 30 tahun. Sekarang baru bisa dua, dan dua target bahasa yang kudu dikuasai secepatnya yaitu Mandarin dan Korea. Alasannya karena aku bisa sedikit berbahasa Jepang dan bisa baca beberapa kanji. Bahasa Mandarin memang susah baca karakternya tapi grammar-nya gampang macam Bahasa Indonesia, sementara Bahasa Korea grammar-nya mirip Bahasa Jepang dan 60% vocabulary-nya berasal dari karakter Cina.

Sampai-sampai sudah berencana ambil tes HSK dan TOPIK, semacam IELTS/TOEFL untuk Bahasa Mandarin dan Korea.

Tapi ya dasar namanya target doang. Ngga ada belajar-belajarnya. πŸ˜”

Sampai akhirnya mulai bekerja di sebuah perkebunan di Tasmania. Kemungkinan pekerjanya sekitar 100 orang dan hampir 90% berbahasa Mandarin. Kalau ngga dari Taiwan, ya dari Cina. Ada juga beberapa yang dari Hong Kong (mereka native Cantonese tapi semua bisa Mandarin). Aku juga pernah menyebut di postinganku sebelumnya kalau aku sempat tinggal di sharehouse dan ada 10-11 orang yang tinggal di sana dan hanya aku yang tidak paham Bahasa Mandarin.

Sejak saat itu aku merasa Bahasa Inggris tak lagi penting. Bahasa Mandarin jauh lebih penting. Apalagi sebagian dari mereka yang berbahasa Mandarin di sini tidak lancar berbahasa Inggris. Sampai-sampai supervisor menyuruhku menerjemahkan ucapan supervisor kepada mereka. Sampai-sampai aku kudu minta maaf kepada supervisor karena aku ngga bisa Bahasa Mandarin. πŸ˜”

Meski di sharehouse sebelumnya semuanya berbahasa Mandarin, aku juga tidak mulai belajar. Hanya jadi mengerti beberapa vocabulary yang mudah seperti 吃ι₯­ (chi fan = makan nasi),εΎˆηƒ­ (hen re = panas banget),dan 很ι₯Ώ (hen e = lapar banget).

Tashinami ε—œγΏ

Waktu pulang ke Indonesia kemarin, aku bertemu dengan temanku yang berasal dari Jepang. Temanku ini bapak-bapak umurnya hampir 60 tahun. Bukan sugar daddy loh ya. πŸ˜† Nah, dia memberiku oleh-oleh sebuah lipstik bermerek Chanel.

Segera aku mengecek harga lipstiknya, sekitar 400 ribu rupiah. Sebenarnya ngga terlalu mahal, misalnya dibanding lipstik Kylie. Tapi ini pertama kalinya aku punya lipstik mahal, LOL. Aku kayaknya cuma pernah punya 4-5 kali lipstik dan harganya paling mahal cuma 150 ribu. Lagi pula pun aku ngga pernah lipstikan, kapan makenya, kerja di kebon gini 'kan. 

Waktu temanku memberikannya kepadaku dia berkata dalam Bahasa Jepang, "Ini supaya tashinami."

"Tashinami? Apaan tuh?"

"Hmmm... sangat susah untuk menjelaskannya. Tapi kira-kira semacam manners, mungkin?"

Dalam hati gua, gua ngga ber-manner kali ya soalnya ke mana-mana pake baju butut ngga dandan sama sekali.

Enaknya Merokok

Hari ini pulang kerja sekitar 1.30 siang, pulang-pulang langsung mandi, dan keluar teras buat sisiran. Rontok soalnya, biar gampang buang rambutnya. *apaan sih*

Pas lagi asik-asik sisiran, dua housemate-ku orang Jepang keluar teras untuk merokok. Salah satunya, sebut saja namanya Ken, menawariku rokok. Aku pun tak menolak. Itu pun langsung dua tokes (tarikan). Baru dua tarikan saja aku sudah pusing sebelas keliling. Sudah berkali-kali aku merokok tembakau, entah kenapa tiap tarikan pertama langsung sakit kepala.

Kata housemate Jepang-ku yang satu lagi, Yami (sebut saja begitu), katanya aku anak baik. Soalnya merokok sedikit langsung pusing. Ken pun menyetujui.

Pas lihat aku merokok, dua-duanya komentar, "Wah, Una-chan pintar ya. Jago merokoknya."

WTF pujian macam apa itu.

"Nggak kayak Yunis (teman Taiwan yang tidak pernah merokok), merokok sedikit langsung batuk-batuk," kata mereka.

"Kalo kamu, abis ngisep dimasukin di paru-paru, dan di-keep bentar."

Yaelah -,-
Kebetulan dua housemate Jepangku tadi pertama kalinya mereka lihat aku merokok.

πŸ’™πŸ’™πŸ’™