Cerita Tentang Jogja: Berjemur di Ratu Boko

Baru kemarin aku main ke rumah seorang pelukis nggak begitu jauh dari rumah nenekku. Beliau dan beberapa temannya mendiskusikan mengenai Kota Jogjakarta yang kian tidak memiliki ciri khas. Aku nyengir-nyengir geli ketika mendengar salah satu dari mereka berkata, "Jogja ki nek ora ono Keraton karo Tugu ki wis podho wae karo Klaten." (Jogja itu kalau tidak ada Keraton sama Tugu juga sama aja kayak Klaten). Mereka juga prihatin bahwa Keraton di Jogja hanya tinggal fisiknya saja, rohnya sudah hilang entah ke mana.

Mungkin karena Hamengku Buwana IX sudah tidak ada? Mas Ariyanta, penyelenggara kontes yang aku ikuti ini hihihi, menyarikan dari buku yang dibacanya bahwa roh keistimewaan Jogja ada pada HB IX. Dan berbeda dengan Jogja, Bali atau Lombok, sebagai contoh, bangunan-bangunannya memiliki ciri khas. Joglo dan pendopo juga nggak seberapa banyak. Kalau tidak ada Prambanan, Keraton, atau Tugu, Jogja biasa aja kali ya. Aku juga bingung dengan turis yang suka ke Jogja karena budayanya, karena menurutku kalau nilai-nilai budaya kayaknya anjlok drastis je, wehehehe...

Tadi cuma intermezzo-nya. Anyway, kalau ke Jogja kebanyakan teringat Candi Prambanan kan ya. Candi Prambanan sendiri separuhnya masuk dalam Provinsi D.I Jogjakarta sedangkan separuhnya masuk dalam Klaten. Jogja memiliki banyak candi, sebut saja Candi Barong, Ijo, Banyunibo, Gebang, Kalasan, Sari, atau Sambisari. Juga ada Keraton Ratu Boko yang lokasinya hanya empat kilometer dari Candi Prambanan. Sama-sama dikelola oleh Taman Wisata Candi, Candi Prambanan menawarkan tiket kombo sekaligus tiket masuk ke Ratu Boko.

Gapura dua dari gapura satu.
Gapura dua juga.
Aku ke sana karena penasaran. Sering sekali liat foto-foto Ratu Boko yang bagus-bagus dan kebetulan lokasinya nggak susah ditempuh dari rumah, jadi ya tak lakoni pergi ke sana. Aku sendirian ke sana pergi naik TransJogja turun di shelter Prambanan dan kemudian dilanjutkan naik angkot dari depan Pasar Prambanan dan turun di mBoko. Tiket Ratu Boko menurutku lumayan mahal, 25000 dan mendapat air mineral gratis juga sudah tak tawar tapi nggak bisa. Tangga naik ke area situs dari loket tiket atau tempat parkir mobil lumayan marai menggeh-menggeh...

Keraton Ratu Boko memiliki luas sekitar 160 kali luas lapangan sepak bola dan berada di ketinggian ±200 mdpl. Letaknya berada di antara dua desa, Bokoharjo dan Sambirejo, dan masih masuk dalam area Kecamatan Prambanan. Situs ini ditemukan pada tahun 1790 oleh Boeckholtz hingga pada tahun 1814, Makenzic, Junghuhn, dan Brumund melakukan pencatatan peninggalan yang ditemukan di Ratu Boko. Istilah Keraton Ratu Boko sendiri pertama kali dituturkan oleh FDK Bosch sebagai, "Kraton van Ratoe Boko."

Uniknya Ratu Boko ialah perpaduan antara corak Hindu dan Buddha pada dekorasi dan arsitekturalnya. Mulanya, situs ini dibangun pada tahun 8 Masehi untuk kompleks vihara hingga kemudian pada abad 9 Masehi digunakan sebagai istana oleh Rakai Walaing Pu Kumbhayoni, keturunan Dinasti Sanjaya. Ditemukan pula di sana keramik Cina dari Dinasti Ming abad 17 Masehi yang berarti Ratu Boko didiami dalam waktu yang lama.

Gapura satu.
Tembok miringnya kayak candi suku Maya di Mexico.
Ratu Boko dibagi menjadi Bukit Boko Barat dan Bukit Boko Timur. Di barat terdapat peninggalan jalan setapak, kolam, dan penemuan gerabah. Di timur dibagi lagi menjadi kelompok barat, tenggara, dan timur. Di kelompok barat terdapat Gapura satu dan dua, paseban, dan kolam. Di tenggara terdapat candi kecil, kolam, dan keputren. Sedang di timur terdapat Gua Lanang dan Wadon.

Waktu aku ke sana, bulan puasa lalu, panas terik sekali dan mengharuskanku seperti berjemur. Tidak semua bagian kujamahi karena saking luasnya dan saking capeknya sampai jalan aja ngos-ngosan. Aku lupa kalau foto-foto yang biasa kulihat seringnya foto sunset, bahkan disebut-sebut senja di sana sangat cantik hingga Ratu Boko pun menawarkan paket foto pranikah ketika sunset. Sedangkan aku ke sana jam satu siang, pas panas-panase, pekok... yo wis tak baleni kapan-kapan nek ada yang ngajak deh.

Lalalala... Pendopo Ratu Boko.
Tripodnya batu candi.
Berminat ke Ratu Boko? ^^

❤❤❤
“Artikel ini diikutsertakan dalam Giveaway Cerita tentang Jogja

Referensi: Papan penjelasan sejarah di Ratu Boko.
Foto: pribadi.

63 comments:

  1. Pengen Mbak..
    Tapi panas ya Mbak :)

    ReplyDelete
  2. Terima kasih atas partisipasinya
    artikel ini telah tercatat dalam daftar peserta

    ReplyDelete
  3. Mohon banner "Giveaway-nya" dipasang mbak una, terima kasih :D

    ReplyDelete
  4. opo meneh cewek e ayu2.jarene ngono..jogja gitu loh...kakakakabor

    ReplyDelete
  5. emangnya ada tripod batu candi hehehe.
    kau tau un, saya mau ke jogja karena langitnya. kamu juga suka langitnya kaaan.
    lain kali pose jadi batu candi ya un, lebih artistik

    ReplyDelete
    Replies
    1. Keren kalo pas panas mbak wkwkwk
      Ada dong, tu fotoku pake batu candi T.T

      Delete
  6. aku belum pernah ke Ratu Boko nih... kalau ke Prambanan sih pernah sekali
    Biasanya jalan2 ke area candi memang melelahkan karena tempatnya yang luas ya?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Prambanan gak seluas Boko mbak, jalan masuk ama keluarnya doang yang panjang makanya lelah hihihi :D

      Delete
  7. Dari Sumsel ongkosnya berapa lah t ya :O
    Pengen euy.

    Maaf oot Ini web saya! My Web << tugas akhir saya semster ini. Bisa tolong isiin guestbooknya gak kak bar rame

    ReplyDelete
  8. wah mbak una kayaknya emang familiar sekali dengan jogja. Sampai tahu candi sambisari segala. tempatnya kan pelosok itu mbak. sayang sekarang sudah nggak keurus ya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sambisari gak pelosok banget, pelosokan Barong.
      Kayak arung jeram deh jalannya wkwkwk...

      Delete
  9. lagi2 fotonya di blur....wajah eksotik una jadi nggak ketok noo...

    ReplyDelete
  10. Kalau jogja mah jangan ditanya,..
    Emang T.O.P
    o iya, moga sukses ya,..
    :)

    ReplyDelete
  11. cuman kurang satu lagi Na,...aku belum pernah langsung kesana hehehe...
    ulasan panjang lebar sudah cukup menggambarkan dengan jelas keadaan keraton Ratu Boko ini. ya itu tadi, tinggal live aza yang belum!

    ReplyDelete
  12. wahh sayang aku gak sempet mampir...jalannya jauh rek dari prambanan....keliatan gersang banget yah na? puanaassss.....di prambananan aja panas je

    ReplyDelete
    Replies
    1. Cuma 4 km sih mbak, jalan ya jauh hihihi~
      Iya kurang pohonnn

      Delete
  13. Minat banget aku Na, tapi sama kamu yaaa! hihi...
    Candi dimana-mana kok keliatan gersang dan menyedihkan gitu ya Na? Apa karena udah ga terawat? Padahal dulunya, pasti sangat hidup deh suasananya....

    btw, sukses untuk ngontesnya yaaa!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ayo kapan ke Jogja mbak :P
      Lumayan terawat ko mbak cuma emang gak banyak pohon aja...
      Iya dong kalo dulu kan pasti ada atap non batunya...

      Delete
  14. aku liat foto2 pertama dari mas gaphe mbak, lha kok sampeyan manas2 ning kunu garai ireng :p


    ciyee ikutan kontes terus rek :p

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wahahaha ben luwih seksi kulitku mbak :P

      Delete
  15. mayan murah timbang borobudur prambanan
    tur lebih enak buat ngadem

    kui ratune boko kok raine burem sih..?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kacek 5 ewu wae...
      Kuwi dudu ratu ning reco gupolo...

      Delete
    2. bukane 35..?
      lha aku nek dolan sak erte melu kabeh je un
      mangewu ping....

      Delete
    3. 25 perasaan,
      aku gak punya perasaan ding

      Delete
  16. mb Una apal bgt pojokan Jogja hihi
    Sukses Buat GAnya :D
    Kapan aq ke Jogja??? ^^

    ReplyDelete
  17. header baru ya na??
    Aq bsru ngeliat..
    Hehehe..

    ReplyDelete
  18. aku malah baru tahu soal Ratu Boko ini.. Terima kasih Una sudah memposting hal-hal yang sangat bermanfaat dan menambah pengetahuan... Jempol

    ReplyDelete
  19. Keren2 fotonya Na. Trus wajahmu kenapa diblur begitu? :D

    ReplyDelete
  20. aku udah 3 kali ke jogja, tapi kok gak pernah tahu yang ini ya mbak Blitser??
    heemmm :(
    ehh kok tumben ya aku mampir hahahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Huuu ke sana lagi dong...
      He em tumben mampir :p

      Delete
  21. hmm, kangen deh ke jogja lagi... :(
    tapi belum sempat ke ratu boko-nya sih~ :P

    ReplyDelete
  22. kayane ora pekok kok Na....anggep wae turis...pingin kulit ireng njuk panas panasan... :)

    Sukses ngontesnya yaaa....

    ReplyDelete
  23. BElum pernah kesana, tapi pengen kesana :)

    ReplyDelete
  24. iya yogya memang kayak kehilangan rohnya... entah deh nanti setelah HB X diganti, siapa coba yang bakal gantiin.?

    ReplyDelete
  25. Betul banget Un, Yogyakarta sebagai kota Budaya masih diselamatkan oleh Keraton dan Borobudur. Kalau itu hilang gak tahu lah apa cocoknya sebutan Yogyakarta itu..Habis sembrawutnya sudah sama dengan kota2 lain di Indonesia..

    ReplyDelete
  26. Pengen banget Na ke Jogja. Sukaak sama poto-potonya.
    Masak sih Jogja udah kehilangan rohnya? sayang banget ya Na kalo gitu

    ReplyDelete
  27. Jogja gak ada matinya......

    pinjgin ke Jogja lagi Saya Mbak :(

    ReplyDelete
  28. udah ke sri gethuk belum mba un?
    mumpung banjir sudah reda, kunjungin tuh sekalian mandi di sungai. :)

    ReplyDelete
  29. aku malah ke jogja gak pernah berfikir nyari nilai sejarahnya na. wong aku gak terlalu suka wisata budaya kok. kemaren pas ke jogja sama sekali gak mau ke kraton (walaupun akhirnya ke alun-alun juga). Tapi kalau candi seh boleh lah yak, buat nambah koleksi foto dan foursquare, :P

    ReplyDelete
  30. Ratu Boko ya, pernah sekali datang kesana.

    Info Giveaway : http://joogjacircles.blogspot.com/2013/02/giveaway-1-me-and-jogja.html

    ReplyDelete
  31. Pemenang Giveaway: Cerita Tentang Jogja sudah saya postingkan. Silakan lihat di blog saya. Matur Suwun.

    ReplyDelete

Feel free to comment, criticize, and give suggestion ya!