Ketika Wisata Budaya Menjadi Wisata Latihan Fisik

Karena kami tidak membawa kendaraan sendiri, aku dan Mbak Fera pun mencari abang-abang ojek untuk mengantarkan kami ke Kawasan Candi Gedong Songo dari jalan besarnya. Bisa saja sih jalan kaki, tapi emoh ah... lumayan tiga setengah kilometer dan jalannya naik. Akhirnya pun ada yang menawarkan ojek, dan kami pun cenglu alias bonceng telu (tiga). Sungguh kasian si abang ojek plus motornya harus berusaha ekstra di jalan menanjak. Apalagi aku yang paling berat ada di paling belakang. Jadi lebih berat lagi tuh... kasian deh lo bang...

Bukti cenglu.
Candi Gedong Songo ini diperkirakan berdiri abad 8 masehi dan konon digunakan untuk tempat persembahan nenek moyang dan para dewa. Awalnya ditemukan tujuh kompleks, kemudian sembilan hingga namanya berubah dari Gedong Pitoe menjadi Gedong Songo. Sekarang pun tinggal lima kompleks, karena empat lainnya hanya tinggal reruntuhan. Apalagi kalau tidak salah, ketentuannya ialah, ketika candi sudah rusak lebih dari 60% maka tidak harus dipugar/renovasi.

Beberapa hari sebelumnya Mbak Fera mewanti-wanti kalau Kompleks Gedong Songo ini sangat luas. Jarak antar candi pun lumayan jauh ditambah jalannya yang menanjak. Dia tahu kalau aku agak susah jalan mendaki. Perhatian sekali ya, hihihi! Waktu itu sih aku menjawabnya, okelah kalau begitu, nggak masalah. Kalau nggak kuat ya tinggal balik. Memang dasar tipikal golongan darah B, diajak ke mana pun mau-mau aja. Dan ternyata jeng jeng, luas Gedong Songo ini melebihi imajinasiku.

Candi dua.
Kami membayar 6000 rupiah untuk tiap kepala agar dapat masuk ke kompleks candi. Areanya bagus banyak taman dan tanaman warna-warni di sana-sini. Karena candinya ada lima, masing-masing candi disebut candi satu hingga candi lima. Nah, meraih candi satu saja kami harus berjalan 200 meter dari gerbang masuk. Belum candi dua candi tiga yang masih terlihat jauh di mata dan bahkan candi lima belum terlihat dari bawah. Ternyata besar sekali.

Toh, lagipula kami nggak punya target untuk dipenuhi. Nggak ada target untuk mencapai puncak, nggak ada keinginan mengejar sunrise, jadi kami pun jalan kakinya ya benar-benar sesantai-santainya seselow-selownya saja. Eh, tapi tetap ada ding, misi kami, sampai ke semua kompleks candinya, kelima-limanya. Dasar teteuuuppp aja ada pemenuhan ego.

Arca ganeshavati.
Berlatar Gunung Ungaran. 
"Wisata Budaya adalah sarana peningkatan rasa bangga terhadap Bangsa Indonesia."
Yang aku nggak paham, sepertinya pembuatan trek untuk jalan kaki disengaja dibuat jauh. Jadi, bisa saja dari candi satu ke candi dua dibuat trek lurus, tapi tidak, treknya berputar-putar naik turun pula. Baru sebentar jalan ke arah candi dua, nafasku pun sudah berbunyi keras alias tersengal-sengal. Memang, aku ini tidak ada apa-apanya dibanding area Candi Gedong Songo yang seluas 17,724 hektar dan panjang trek yang cuma sekitar 4 kilometer itu. Apalagi dibanding isi dunia ini? T.T

Di kiri kanan trek jalan kaki banyak terdapat plang-plang. Salah satunya bertuliskan, "Wisata Budaya adalah sarana peningkatan rasa bangga terhadap Bangsa Indonesia." Mbak Fera pun berceletuk, "Wisata budaya apanya, ini mah latihan fisik!" Kayaknya itu saja keluhan Mbak Fera, dan ia pun tetap saja meneruskan jalan kakinya. Beda denganku yang mengeluh setiap saat, hahaha!

Jalan-jalan di Kompleks Gedong Songo itu seperti wisata alam, budaya, dan olahraga melebur menjadi satu. Di sana bisa melihat peninggalan budaya Hindu jaman dahulu tapi juga bisa menikmati pemandangan Kota Ungaran dari atas, panorama Gunung Ungaran, dan bisa berteman dengan kesejukan kaki Gunung Ungaran. Sementara itu, kaki bisa pegal-pegal dibuat oleh trek Candi Gedong Songo.

Nenek nenek.
Di sana aku sesekali menghirup bau adas yang mirip eukaliptus tapi kok ya aku nggak tau yang mana pohonnya. Pas pulang-pulang aku lihat di google, ternyata pohon adas itu aku ternyata sempat melihatnya banyak sekali di Gedong Songo. Wuuu!

Di antara candi tiga dan candi empat kami melewati pemandian air panas. Ada asap keluar dari sumber belerang. Aku kira mulanya Gunung Ungaran itu bukan gunung api. Eh ada nggak sih gunung yang bukan gunung api di Jawa? *ora mudeng aku. Anyway, sepertinya menarik mandi di sana apalagi kalau lagi ada penyakit kulit, hehehe...

Sampai di candi empat, kemudian candi lima rasanya puas banget. Duduk duduk dulu sambil menunggu suara si nafas menjadi lebih baik. Selanjutnya kami akan bertemu dengan jalan turunan, yang menurut Mbak Fera ialah combo tapi menurutku combo pegalnya. Kalau kata Esra, gravitasi emang nggak bisa bohong. Terlebih lagi jalannya tuh berasa sepanjang Tembok Cina, nggak ada abis-abisnya.

Asap sulfur.
Titik putih tanda batu baru di candi.

Tuuu sepanjang tembok cinaaa kaaan... padahal tembok Cina mah puluhan ribu kilometer.

Aku nggak tahu itu pohon apa. Keknya yang kanan tembakau. Mbuh ding.
Emang ya, namanya perjalanan kalau perginya sama orang lain kita jadi tahu sifat sebenarnya teman perjalanan kita kan ya. Nah, kalau Mbak Fera ini tipe-tipe setia kawan. Aku kan nggak kuat jalan turun ya, aku persilahkan dia jalan duluan. Dia jalan dulu lah ya, di suatu titik dia menunggu aku dulu sampai di situ baru dia melanjutkan jalan. Atau sebenarnya dia sekalian istirahat aja tuh ya? *suuzon. Kalau aku sifatnya... hmmm... rahasia!

Dengan jalan santai, akhirnya kami mencapai kelima area candi selama dua jam. Yang kalau kata temanku udah bisa bolak-balik naik turun Gunung Ungaran beberapa kali. Seneng juga ternyata kuat juga aku jalan naik turun begono, bisa menaklukkan kawasan Candi Gedong Songo. Eittts, menyunting kutipan Edmund Hillary: "Bukan Gedong Songo yang aku taklukkan, tapi diriku sendiri."

Wehehehe!


Catatan Perjalanan: Popcorn’s 2nd Anniversary

68 comments:

  1. wah pemandangannya bagus ya na...

    btw bonceng bertiga nya itu nyeremin banget.. bahaya tuh lho na...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya apalagi jalannya nanjak :P
      Bahaya abis :P

      Delete
    2. ini lomba ya?
      hue, semoga menang.

      btw Un, emang kalo gunung2 dibuat jalan lurus bisa ya? emejing banget donk? apalagi pak e lift?
      yang ada eskalator kalik..

      Delete
    3. Kalaw dengar nama Ungaran bukannya itu mau mengarah ke Semarang ya Mba Una? Bener ya?

      Delete
    4. @A'i: Tauuu... Tapi tu ya, trek buat jaran masak lebih deket dari trek jalan kaki T.T
      Keren tuh kalo pasang eskalator... :D

      @Kang Asep: Yap yap deket dari Semarang, 40 km apa ya...

      Delete
    5. Soalnya saya ada pengalaman waktu itu saat dari Jogjakarta mau ke Semarang naek Bis. Saya sudah bilang sama kondektur Bisnya agar saya diturunkan di Terminal Terboyo Semarang. Maaf kalaw saya salah tulis.

      Tapi malah diturunkan di Ungaran, dekat taman penelitian Litbang atau instansi apa gitu. Masih jauh sama terminal kata warga setempat. eala . Nyambung bis lagi deh

      Delete
  2. Weeiss mantabb perjalanan wisatanya Una. Jarak segitu jauh tapi kamu berhasil juga ya mengelilinginya meski jalannya selow, kalau saya bisa kehabisan napas kayaknya ... gak kuat ah jalannya :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Cuma 4-5km an tapi munggah mudune weeehhh @.@
      Ahahaha... masak gak kuat :P

      Delete
  3. eeh mbak un kalau batu baru di tandai pake batu putih gitu yaa :D

    itu kayak e tanaman bunga kol deh mbak yang kayak brokoli tapi putih :D

    cepet banget leg nulis, baru juga post dibuat ga mbak mae :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yup yup, biar ada bedanya ditandain :D
      Kayak kol, mbuh hooh po ra... :D

      Delete
  4. selamat siang kyk nya bgus jga,ni pemandangannya @@, postingan nya sob

    ReplyDelete
  5. wah Kompleks Gedong Songo, belum pernah kesana tuh, kayanya mengasiikkan bisa jalan-jalan sambil keluar keringat hihi...

    ReplyDelete
  6. jalannya dibuat ngikutin kontor tanah pengunungan ny sptny Una,
    kl dibuat lurus susah motong bukitny...

    bisa naik kuda jg loh disana :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Lha iya, tapi kayaknya motong taman tengah bisa deh... wokokok...

      Delete
  7. ini Ungaran? Atasnya Semarang?
    kalo bener, padahal ibuku orang semarang, sering main ke semarang juga, aku malah baru tau ada candi Gedong Songo. haha

    ReplyDelete
  8. Trnyata foto poose di candi dieng itu awalnya dari candi ini nih. .. :P

    Asap sulfurnya ngeri punya dieng ya? :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dudu, ada yang lebih lama lagi hihi pas aku masih muda :">
      Ngeri punyamu mbak...

      Delete
  9. turun berapa kilo jadinya..?

    :D

    ReplyDelete
  10. Hahaha,, sebenarnya gak panjang2 amat tulisannya.
    Tapi aku penasaran itu gimana cara fotonya pas ngojek...?? :bingung
    Anyway, lumayan untuk olahraga wisata, hahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aku jarang nulis sepanjang ini wehehe...
      Aku malah bingung kenapa kalian bingung T.T

      Delete
  11. wah sampai juga Una ke gedong songo... di bawahnya itu kota ambarawa kota kelahiranku... pemandangannya mantap ya.... jadi tambah Kangen pengen ke Ambarawa...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya hihihi ada museum keretanya~ ke ambarawa dong :P

      Delete
  12. itu pas yg lagi dibonceng tukang ojek, gimana motonyaaa? o_O

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ada wartawan gitu ngikutin aku moto motoin kita

      Delete
  13. itu yang kamu bilang tembakau, kayak tanaman teh, menurutku.... hehehhe

    ReplyDelete
  14. kesian tukang ojeknya.. motor dia gak bisa dibenerin lagi itu, terpaksa beli motor baru dia!
    hehehe

    bagus pemandangannya ye ..

    Tapi kalo masi 4 kilo kalo jalan" gitu ga masalah ka Un, seru kali.. hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ahahaha denger denger ganti Harley...
      4 kilo sih deket hehe, malesnya part naik turun :P

      Delete
  15. ya ampuun pemandangannya keren banget ya Un..Kamu tau aja ada tempat2 kek begini...;))

    ReplyDelete
  16. mo ikutan ngepopcorn ah...hihihi...

    ReplyDelete
  17. cenglu sopo sing paling mburi kui?kakakaka gokil

    ReplyDelete
  18. nggak ada kerekan ya una, kalau bunda yg naik sana musti ditarik ya..., sehari mungkin baru kelar liat kelimanya

    ReplyDelete
  19. iyooo panjang banget. :D Itu kayaknya memang tembakau deh, yang kiri bunga kol, hehe.
    senengnya una ini jalan2 teruuusss.. :) kepengen

    ReplyDelete
    Replies
    1. Berarti bener tebakanku ya,
      ini udah lama kok mbak jalannya :D

      Delete
  20. mba un, bapak yang diboncengi strong abis yah..
    bonceng 4 masih bisa..
    yng belakang double :D hihihi

    saya kagum sama hijau daunnya..
    bukan hijau yang "hijau" tapi agak kekuningan..
    memang seperti itu apa disana belum hujan sih..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha siallll, apa tuh maksud lohhh @.@

      Waduh, emang kalo ujan ijonya gimana?

      Delete
  21. itu foto yg terakhir sebelah kiri kalau nggak salah kayaknya kembang kol ya Una, sekilas mirip ?

    ReplyDelete
  22. sekali saja saya kesana. dulu ngojek ke atas.

    ReplyDelete
  23. le ngojek seko ngendi un
    emang boleh naik ke atas pake motor
    bukane kudu naek kuda?

    ReplyDelete
  24. Itu nenek - nenek canggih bener.
    Kalah dong sama beliau :))

    Jadi pengen kesana juga

    ReplyDelete
  25. nenek itu kayaknya jomblo hahahaha, wah una bis ni kemana lagi, kayaknya tiap hari postingan jalan2, atau tiap jalan cuma poto dan di posting dikemudian hari

    ReplyDelete
  26. mirip tembok chinanya jalannya... saya baru tahu juga kalau batu baru di beri tanda ya...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya hihi biar tahu mana yang baru mana yang asli :D

      Delete
  27. Huaaaaah.. pemandangannya bagus2 Una.. Mana tempatnya keliatan bersih dan terawat gitu lagi. Seneng liatnya.

    ReplyDelete
  28. wuaduuh, harus kuat-kuat fisik kalau mau menjelajah tempat wisata sampai sebegitu banyaknya, Mbak ..


    Komentar : Ini tumben fotomu terpampang dengan jelas dan tanpa sensor.. hihi :D

    ReplyDelete
  29. stupa candinya udah modern yaa...*pake pakaian lengkap :D

    ReplyDelete
  30. Terimakasih sudah berpartisipasi dalam Popcorn's 2nd Anniversary Una, sudah saya catat... :D

    ReplyDelete
  31. keyeeeennn mbak un candinya.... adem gitu ya mbakkkk....

    ReplyDelete
  32. hiii... trek nya memang persis tembok cina yaa... mbuletisasi gitu... ampun wes

    ReplyDelete
  33. kapan kapan Dija mau jalan jalan ke candi juga aaah... biar keren kayak tante Una

    ReplyDelete
  34. bagus ya tempatya,
    baru tahu juga kalau batu baru itu di beri penanda gitu ...
    sukses ngontesnya ya ...

    ReplyDelete
  35. Peninggalan sejarah indonesia memang keren2 ya... Menurutku Candi2 kita ĵµƍα sekeren piramid2nya mesir... :)

    Sukses utk kontesnya Un.

    ReplyDelete

Feel free to comment, criticize, and give suggestion ya!