Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Pelajaran Dari Dua Teman

Kemarin Sabtu, aku menelepon mantan roommate yang berasal dari Cina. Terakhir aku meneleponnya mungkin setahun yang lalu. Aku bertanya bagaimana kabarnya. Katanya ia sangat sedih karena kehilangan uang sekitar 200 juta rupiah.

Dia menanam saham di sebuah perusahaan dengan nilai yang cukup banyak, dan minggu lalu nilainya drop drastis. Dia bilang, dia juga punya saham di beberapa perusahaan lain tapi mostly uangnya ada di perusahaan yang harga sahamnya turun ini.

Dia bilang sebenarnya dia sudah mau menjual pas sudah mulai turun tapi dia tak kunjung menjualnya dan harga sudah jauh rendah. Katanya dia sekarang stres dan depresi tiap hari, bahkan payu*aranya ikut sakit akibat stres berlebihan. Dia sangat menyesal karena merasa rakus, ingin cepat uangnya meningkat. 

Aku meminta maaf karena aku ngga bisa comfort dia. Apalagi aku ngga punya uang segitu, jadi ngga bisa relate. Tapi katanya dia cukup lega karena bisa mengekspresikan kesedihannya. Aku menyarankannya untuk bertemu teman untuk mengurangi stres tapi katanya tidak bisa karena korona — dan karena di Cina.


Keesokannya, hari Minggu, mantan roommate lain yang berasal dari Hong Kong mengirimkanku foto harta-hartanya: amplop berisi 50 ribu HKD, 10 ribu USD, perhiasan emas yang banyak, lembaran AUD dan JPY yang nominalnya tak kecil. Oiya, kami cukup dekat jadi biasa saja mengirimkan pesan semacam ini. Kalau aku sih enggak biasa, karena memang tidak ada harta yang ditunjukkan. 😂

Ditambah lagi dia bilang, ia punya di rekening 950000 HKD, asuransinya 400000 HKD. Aku tidak ingat lagi harta lain apa yang disebutkan. Tapi intinya dia bilang, dia punya uang banyak tapi dia merasa kosong. Dia sudah tidak ingin apa-apa lagi. Dia ngga tahu buat apa dia selama ini bekerja keras. Wah kalau aku jadi dia, aku seneng banget karena bisa beli macem-macem. 😝

Sementara ia mengirim pesan itu aku mencari di Google 950000 HKD tuh sama dengan berapa yen/rupiah. Ya kira-kira hampir dua miliar rupiah. Itu baru yang cash di bank, belum dia punya saham dan forex, dan harta-harta lain yang aku tidak tahu.

Dalam hati gue... pantesan tiap ketemu dia selalu menraktir dan membelikanku. Tiap masuk toko, dia bakal bilang, "Kamu pilih aja, aku bayarin." Dia tahu kalau aku ngga punya uang. 😂 

Aku rasa sih dia hampa karena lonelyness 😄. Anyway, kini dia berencana untuk pindah ke Australia dan aku cuma bisa mendoakan semoga dia cepat ke sana dan lancar semua rencananya.

Aku cuma merenung saja kok dalam dua hari itu aku dicurhati oleh dua teman yang sama-sama sedih tapi penyebabnya berbeda. Yang satu karena hilang uang, yang satu uangnya banyak pun tetap sedih.

Mungkin memang yang paling penting tuh selalu bersyukur ya. Aku mungkin ngga bisa bilang ke mereka, "Coba bersyukur." 😂😂😂 *toxic* But I think, that's the way la. While me, I don't have dua miliar or even 200 juta to lose, but I'm happy now. I'm alone but... I'm happy aku punya teman mereka, masih bisa makan enak, masih bisa tidur nyenyak, dan punya mama sebagai lender of last resort kalo-kalo ada apa-apa 😂😂

Be happy!

4 komentar untuk "Pelajaran Dari Dua Teman"

  1. Tapi bagusan sedih trus ada uang drpd sedih trus ga ada uang ga sih? HAHAHA. Setidaknya bisa fokus sedih dan ga usah stress ini itu blom kebayar.

    BalasHapus
  2. Aku nggak punya 2 miliar dan nggak punya temaaaaan.
    Btw, temenmu beneran curhat atau flexing berkedok curhat?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya mungkin ada pamernya juga tapi kan mau pamer juga bebas wkwkwk.
      Dia temenku tiap hari kita chat jadi emang selalu overshare sih

      Hapus