Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Jangan Bermain Dengan Api #3: Diajak Pindah Agama

Baca cerita sebelumnya:
Jangan Bermain Dengan Api #1
Jangan Bermain Dengan Api #2

Singkatnya, aku melakukan kesalahan di konbini (minimarket) tempatku bekerja yang menyebabkan terjadinya kebakaran kecil. Tidak ada yang terluka terkecuali sebuah mesin penggorengan yang rusak dan tidak berfungsi lagi.

💜💜💜

Seminggu berlalu, aku masih dirundungi dengan perasaan bersalah. Memang, tidak ada satupun orang terluka tapi aku masih menyalahkan diriku mengapa aku begitu ceroboh. Seminggu berlalu, aku bertemu dengan manajer yang juga merupakan ibu dari pemilik konbini.



"Saya minta maaf atas minggu lalu," aku meminta maaf lagi kepada sang manajer.

Aku beruntung memiliki manajer yang baik. Ia sama sekali tidak marah bahkan menunjukkan ekspresi kesal sekalipun kepadaku. Mungkin karena ia sudah lansia sehingga ia merasa ini adalah hal yang biasa. Ia bahkan bercerita kalau saat muda ia pernah lupa menaruh setrika sehingga membuat rumah berasap. Ia bilang kepadaku kalau tidak apa-apa dan aku harus bersyukur karena tidak ada satupun yang terluka.

Aku pun berkaca-kaca.

"Kapan Una-san bisa main ke rumah lagi? Una-san suka makan apa? Nanti saya masakin. Daging suka?" kemudian manajerku.

Aku pun menolak dengan halus karena aku kan sudah membakar tokonya masa harus ke rumahnya dan ia menjamuku? Lalu, ia melanjutkan...

"Nanti Una-san di rumah harus tanda tangan surat ya. Nanti Una-san bisa dapat kalung seperti kalung saya ini. Bayarnya 3000 yen. Tapi tenang saja, nanti saya yang bayar."

Aku yang dalam kondisi mata masih berkaca-kaca kebingungan. Aku pun bertanya apa maksudnya aku harus tanda tangan. Manajerku kemudian menjelaskan kalau untuk menjadi member sekte agamanya harus tanda tangan di atas formulir.

Aku yang hendak menangis jadi ingin tertawa. Ini aku lagi diprospek buat pindah agama?

"Una-san harus keluar dari agamanya Una-san. Memang di agama Una-san kalau berdoa pasti dikabulkan? Nggak kan? Kalau di agama saya, SEMUA pasti dikabulkan."

"Menurut saya kalau berdoa, mau agamanya apa ya semua dikabulkan," begitu aku menjawabnya.

"Tidak itu tidak benar. Cuma agama saya yang benar."

Waduh, kalau denger orang ngomong gini di Indonesia sih sering. Tapi ini di Jepang, loh. Dan aku ngga menambah-nambahkan, dia beneran suruh AKU KELUAR dari agamaku dengan lugas. 😂 

Aku pun bertanya lagi, "Kalau benar, kenapa masuk agamanya harus bayar 3000 yen?"

Ia pun kembali menjelaskan kalau harus bayar 3000 yen untuk mendapatkan kalung yang dia pakai dan sesuatu yang aku lupa namanya tapi ini sangat penting di agamanya. Kalau sudah punya itu, katanya semua keinginan pasti terkabul. 

Aduh, capek deh. Aku yang tadinya mau nangis jadi agak kesal. 😂 

Beberapa hari kemudian aku bertanya kepada rekan kerjaku apakah ini hal yang biasa terjadi di Jepang. Kata rekan kerjaku, ya enggak, hanya manajerku yang keras kepala ini saja. Katanya lagi, mungkin karena aku sedang down, jadi manajerku memanfaatkan kesempatan untuk mengajakku pindah ke agamanya. 😔

5 komentar untuk "Jangan Bermain Dengan Api #3: Diajak Pindah Agama"

  1. sepertinya ga memandang negara yah
    orang2 seperti itu akan selalu ada :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyaaa, di mana-mana ada.
      Tapi memang di Jepang jarang aja, hehe.

      Hapus
  2. Sayang ya org baek kaya gini malah ke agama yg kaya cult D:

    BalasHapus
    Balasan
    1. Udah gitu kadang ada yang ga masuk akal kaya harus nyumbang sekian puluh juta per keluarga gitu T___T

      Hapus
  3. Seharusnya kalau masuk agama harus dikasih uang dan dibiayai gitu ya, bukannya malah bayar, hahahaha. Baca ini jadi malah inget drakor hellbond yang sektenya aneh banget.

    BalasHapus