Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Efek Bully Sepanjang Masa

Setelah aku pikir-pikir, aku termotivasi apabila ada pressure. Misalnya, aku merasa terinspirasi kalau sudah dekat deadline. Ya, deadline adalah inspirasi. Ada yang sama denganku?

Selain pressure dan insentif, aku juga kadang termotivasi kalau di-bully. Nggak kadang deng, lebih ke jarang, sih

Sekitar delapan tahun lalu, aku belajar Bahasa Jepang di sebuah lembaga kursus di Pasar Baru. Suatu hari, teman sebangkuku bercerita tentang perjalanannya ke Jepang. Ia mengungkapkan kalau ia pergi ke Kuil Asakusa. Kemudian ia menyebut soal Kaminarimon, salah satu gerbang untuk masuk area Kuil Asakusa.

"Kamu tahu 'kan Kaminarimon?" Ia bertanya.

Aku hanya menggeleng kepalaku. Aku tahu Kuil Asakusa tapi aku ngga tahu apa itu Kaminarimon. Bahkan saat itu, aku belum tahu artinya 'mon' (gerbang).

Kemudian ia menceramahiku, "Kamu kalau belajar bahasa jangan belajar bahasanya aja, belajar budayanya juga!" Yang jelas, saat itu aku merasa dia berbicara dengan nada nyinyir nan julid. Saat itu, aku cuma membatin, "kayak lo udah lancar Bahasa Jepang aja! Trus emang kenapa kalau aku cuma mau belajar bahasanya aja dan ngga ngerti hal mengenai Jepang selain bahasanya?" 

Positifnya, aku jadi lebih banyak belajar mengenai Jepang sih. Dan somehow aku yakin, sekarang lebih lancar Bahasa Jepang-ku dibanding dia. Ngga tahu juga sih, tapi merasa begitu aja. Sebenarnya yang dia bilang ya memang benar, cuma saat itu nada bicara dia bikin sensi aja. Mungkin saat itu aku lagi mens. 😜

Beberapa minggu lalu, aku tiba-tiba curhat dengan seorang teman SD bahwa ada perkataan teman sekolahku yang sampai sekarang masih terngiang dan aku rasa itu mempengaruhi kepercayaan diriku. Ini bukan teman kelas Bahasa Jepang yang tadi ya dan bukan teman SD juga. Rahasia deh teman sekolah apa 😝

Yang menyakitkan bukan lisan melainkan tulisan. Teman sekolahku menulis di sebuah kertas kalau mukaku tua dan aku genit dengan yang laki-laki yang dia suka. 👀  Yang muka tua kayaknya aku ngga gimana-gimana sih, terbukti bukannya lebih merawat muka gitu atau pakai make-up misalnya 😜 Tapi yang belakang...

Dalam hidup, aku ngga pernah punya romantic relationship. Aku ngga pernah mendekati laki-laki (mungkin kecuali yang teman sekolahku suka itu. Itu pun juga ngga ada namanya kebayang pacaran atau gimana 😭). Aku ngga pernah relate sama cerita cinta orang-orang. Sama sekali. Naksir ya naksir, suka sama orang ya suka sama orang, tapi ngga pernah yang gimana. Ngga pernah suka sama orang lama-lama.

Kalau kata beberapa teman terdekat lain sih, aku kurang percaya diri dan kurang love myself gitu. Aku merasa ini termasuk salah satu dampak bully teman sekolahku tapi aku juga tidak bisa menyalahkan dia. Aku rasa dia juga ngga sadar kalau tulisan dia bisa berdampak begitu dalam buat aku.

Kemudian teman SD-ku yang aku curhati juga cerita kalau ia pun sama sepertiku, tidak pernah punya pacar, dan tidak bisa relate dengan love story dengan orang-orang. Bahkan sudah terpikir untuk tidak menikah. Ia juga merasa kurang percaya diri dan ia menyebutkan bahwa ini disebabkan bully yang dihadapinya saat SD. Aku tidak tahu hal ini karena aku baru pindah ke SD yang sama saat kelas tiga.

Katanya, ia sering dibilang 'gajah' dan 'gendut'. Meski sudah 20 tahun lebih berlalu, hal itu masih teringat oleh teman SD-ku. Ia kini rajin berolahraga karena ia tak mau 'gendut'. Menurutnya, efek bully yang dulu dihadapinya terhadap tingkat kepercayaan dirinya tidak sirna hingga sekarang.

Mendengar cerita temanku, aku jadi merasa ada 'temannya'.

Di sisi lain, aku sering dikatain gendut juga tapi aku tidak tersinggung. 😂 Padahal kalau aku sakit hati, mungkin sekarang aku kurus.

Buku catatan saat SMA. Aku meminta temanku untuk tanda tangan dan menulis pesan. "Kurangi makan. Selalu tampak bulat."

Una... gendutt!!!

Ini kalau zaman sekarang udah dibilang body shaming, sih. Aku mengunggah foto di atas ke Facebook setelah lulus SMA dan aku menulis caption: jahat. Yang meskipun saat itu aku merasa itu bukan jahat beneran, tapi bisa jahat untuk orang yang lain.

Setelah curhat sama teman SD-ku tadi, aku sadar kalau efek perkataan tuh bisa tahan lama. Jadi ya sebisa mungkin berkata yang baik-baik saja. Aku yakin temanku atau temannya teman SD-ku yang mem-bully atau mengejek juga tidak berniat menyakiti hati sampai berdekade-dekade. Aku juga mau minta maaf kalau aku ada salah bicara dan menyakiti hati teman-temanku. 😢

8 komentar untuk "Efek Bully Sepanjang Masa"

  1. You smart, you amazing, you sweet, you friendly. Jago nyanyi, bisa banyak bahasa ampe tempat les bisa inget & muji2 kamu, keren bisa telp cust service pake bahasa jepang,keren bisa urusin cari rmh di Jepang (denger2 org bilang ribet), keren udah keliling brp negara, jago nulis blog yg bikin org ketagihan baca. Maju terus! =)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wakwakwak... malu hahahaha. Maju terus dong...

      Hapus
  2. kamu kuat dan kamu tegar :")

    BalasHapus
  3. Aku juga pernah gendut banget na. Ampe ga bisa bawa ransel pas di malang.

    Kerasa engap pas BB ku nyampe 70 an kg. Abis liat foto liburan jadi nyadar, eh kok gendut banget. Tapi dipikir2 ini karena pola makan juga. Abis itu ya biasa aja, ga pengin nurunin bb juga. Turun gara2 apa ya, seingetku karena sakit, jadi pelan2 bb nya turun jadi 60 an.

    Kayaknya una sekarang udah ga gemuk ya. Moga sehat2 selalu, yang penting makannya dijaga aja.

    BalasHapus
  4. Kalau aku gak ingat pernah di bully atau gak, tapi kayaknya pernah ikut2an membully deh, huhuhu. Tapi gak mau minta maaf lagi sekarang karena males >.<

    BalasHapus
  5. Gendut, Gajah, itu pernah saya alamin lho jaman sekolah. Lebih parah lagi dibilang Gajah Bengkak. Trus yang bilang begitu adalah cowok. Udah deh, langsung minder beneran.
    Iya sih seperti yang Una tulis, mungkin mereka ngga niat menyakiti. Kata-kata itu emang bisa bikin orang lain sakit hati sampai lama tanpa kita sadari

    BalasHapus
  6. Nyinyir dan bully memang sepertinya sudah biasa dalam kehidupan ya. Tapi dengan nyinyiran itu kak Una jadi giat belajar bahasa Jepang dan malah lebih fasih bahasanya. Jadi seperti ada semangat kalo apa yang dikatakan orang nyinyir itu tidak benar.😀

    BalasHapus