Toponimi Jakarta

Beberapa waktu yang lalu aku menghadapi sebuah interviu bertemakan kebudayaan Betawi dalam sebuah seleksi pertukaran pemuda - yang aku nggak lolos. Si bapak penguji ini menanyakanku apa nama asli Patung Pancoran dan mendadak aku nggak ingat saat itu. Kemudian, ia bertanya lagi, apa yang aku ketahui mengenai kebudayaan Jakarta. Ia tambahkan, kebudayaan itu nggak musti seni, tari, alat musik, ras lho ya, apa saja boleh. Budaya itu luas. Kemudian aku menjawab dengan memaparkan mengenai toponimi Jakarta. Setelah menjawab, ia memujiku, "Wah, menarik, jarang sekali anak sekarang mengangkat tema ini. Kamu sebagai pemuda harusnya memperjuangkan mengenai ini."

Padahal, aku baru tahu istilah toponimi semalam sebelum hari itu. Bapakku menjelaskannya kepadaku, mehehehe! *nyolong ide bapak*

Apa sih toponimi itu? Toponimi itu ialah ilmu yang mempelajari mengenai asal-usul nama sebuah tempat. Nama sebuah tempat bisa dari unsur geografinya, demografi, sejarah, dan lain-lain. Sedangkan di Jakarta, sangat menarik. Sebut saja daerah Kampung Melayu, Cawang, Ancol, Angke, Jatinegara, atau Kelapa Gading. Nama-nama daerah itu memiliki asal-usulnya masing-masing.

Do you know? *sok buku banget* Ondel-ondel, salah satu budaya Betawi, dulunya dibuat untuk menolak bala.
Semalam sebelum tes interviu itu aku menelepon bapakku. Menanyakan apa saja yang menarik di Jakarta. Maklum belasan tahun di Jakarta, ternyata aku nggak banyak tahu tentang daerah ini. Bapak mengelaborasi tentang Untung Surapati lah, Ridwan Saidi lah, dan kemudian tentang toponim di Jakarta. Bapakku mengutarakan keprihatinannya mengenai nama-nama unik daerah di Jakarta yang mulai tergusur. Misalnya saja, nama-nama gedung tinggi di Jakarta saja malah sok keminggris. Beberapa di antaranya misal, Equity Tower, Sampoerna Strategic Square, The Plaza, kok ya nggak Jakarta banget gitu. Pembangunan di Jakarta seakan-akan melupakan asal-usul.

Waktu aku menjawab ini kepada Bapak penguji, ternyata ia juga prihatin. Ia menceritakan kepadaku mengenai Jalan Solitude. Letaknya nggak jauh dari Jatinegara dan Matraman. Nama jalan ini berarti kesunyian. Karena dulu banyak pasukan Perancis yang mati diserbu pasukan Inggris di sana dan yang bersisa adalah mayat-mayat yang berserakan. Jadilah suasana di sana hening dan sepi. Itu kenapa jalan itu dinamai Solitude. Sayangnya, jalan itu diganti namanya menjadi Jalan Ahmad Dahlan. Maksudnya baik untuk mengenang pahlawan, sayangnya malah merusak sejarah.

Do you know? Berapa tinggi Monas? Aku sih nggak tahu. Do you know? Ronce melati yang di sanggul ala Betawi melingkar dari kiri ke kanan seperti dari jam 11 sampai jam 5. Filosofinya perempuan Betawi kalau udah sore kudu udah pulang ke rumah. ^^
Kata si bapak itu, ada beberapa kalangan yang protes (mungkin kalangan yang peduli dengan kebudayaan Betawi) tapi ya susah untuk menahan pemerintah daerah untuk tidak mengganti nama jalan itu. Pesan si bapak lagi, sebagai pemuda Jakarta harusnya menjaga sejarah Jakarta ini dan menyerukan betapa pentingnya asal-usul Jakarta.

Banyak daerah di Jakarta dengan toponimi nama tumbuhan seperti Menteng, Grogol, Bintaro, Marunda, dan Bidara Cina. Ada juga yang berasal dari unsur demografi seperti Kampung Melayu karena dulunya banyak orang Melayu, Kampung Bali banyak orang Bali, atau Kampung Bandan karena banyak orang Banda, Maluku yang tinggal di sana. Daerah lain, Jatinegara memiliki nama itu karena pada zaman Pangeran Jayakarta di sana adalah hutan yang penuh dengan pohon jati.

Atau Tebet, yang dulunya merupakan daerah penduduk yang digusur dari Senayan karena pembangunan megaproyek stadion. Tebet berasal dari kata tebat yang berarti tambak. Namun ada yang menyebut Tebet adalah singkatan dari ‘telah betah’ yang berarti orang yang dulunya tinggal di Senayan sudah betah tinggal di sana. Menarik kan? Setiap nama daerah di Jakarta punya asal-usulnya. Dan semua daerah pastinya begitu. Toponimi daerah menurutku menarik untuk dipelajari.

Aku sih cuma ngarep aja, semoga nggak lagi-lagi Pemerintah DKI Jakarta ganti nama daerah atau jalan yang bakal menghilangkan sejarah karena rasa lokalnya bakal hilang dan padahal ini juga salah satu bagian dari Kebudayaan Betawi juga lho…

37 comments:

  1. Aq yo lagi ngerti toponimi ini, Na
    Thx infone. Btw foto Srikandi ne ciamik cah :)

    ReplyDelete
  2. mlm sobat trmkas,ni infonya sangat menarik narik sob hehehe

    ReplyDelete
  3. istilah baru, una..
    makasih dah dikasih tau. *buka sejarah gresik*

    ReplyDelete
  4. perempuan kalau sudah sore harus pulang kerumah soalnya diluar gelap dan banyak angin ya Una :)

    ReplyDelete
  5. Huahaha, baru tahu istilah toponimi nih Na :D

    ReplyDelete
  6. ouu.. itu namanya topomini ya?
    klo jamanku kecil dulu sering di majalah anak2 ada cerita asal usul kek gt. Keknya bagus juga tuh klo asal usul daerah di jkt dibukukan :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Topomini temennya taman mini :P
      Ada mbak yang ngebukuin tapi gak oke sejarahnya kebanyakan 'mungkin'-nya...

      Delete
  7. topomini....ya yaaaa,baru ngeh sekarang na hihihi
    awas aja kl gnti2 nama, lempar bakiak hehehe

    ReplyDelete
  8. Asyik emang kalo ngomongin asal usul nama sebuah tempat, pasti selalu ada filosofinya ya Na...

    ReplyDelete
  9. Wuih keren-keren.. Baru tau aku.. Ternyata nama-nama itu ada sejarahnya. Jadi ingat daerah Penggilingan, kata temenku yang tinggal disana dulu tempat itu adalah tempat buat nggiling orang pas jama Belanda..

    Ga ngerti deh temenku itu bercanda apa beneran ngomongnya. Tapi kalo baca cerita una bisa jadi bener kan.. Serem juga yaa :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah... serem amat mbak :(
      Tapi bisa bener juga itu...

      Delete
  10. ooh setiap nama daerah itu ada sejarahnya yaa... *baru tau saiah....

    ReplyDelete
  11. setuju sama mba una.. kalau saya asli g hapal budaya jakarta.. di jakarta cuma dapat 3 tahun terus pindah ke bogor 3 tahun terus balik lagi ke cirebon hehe

    ReplyDelete
  12. Lama tak pernah kesini ternyata si Una sudah banyak kemajuan nih..
    4 Kemajuan Una versi Kopiah Putih:
    1. Sudah punya blog versi Inggris
    2. Di blog yang ini sudah mulai banyak iklan beterbangan, itu tandanya sudah mulai panen duit dari blog.
    3. Tulisan-tulisannya semakin menarik, meski ditulisan ini saya tidak begitu menyimak karena bukan orang jakarta, hanya lihat foto monas yang cuma setinggi jari saja.
    4. Tampilan blognya semakin user friendly..

    Salam dari sahabat lamamu, Kopiah Putih

    ReplyDelete
  13. Jadi nambah pengetahaun nih mengenai sejarahnya..

    ReplyDelete
  14. wah keren jeng, ini kalo digali dr banyak sumber yg lain bisa jadi buku baru buat pariwisata jakarta lho

    ReplyDelete
  15. Oh, begitu toh ceritanya? :)

    ReplyDelete
  16. Makasih untuk pengetahuan soal toponimi Un.. wah hari ini saya bisa terus omong soal toponimi ini hihihi..

    ReplyDelete
  17. wiiii keren deh ..
    aku aja baru tau :D

    ReplyDelete
  18. kalau ilmu yg mempelajar asal usul namaku apah ya?

    #eh, keren tuh tnggi monas tibak'e gak lebih dari jari jempol dan telunjukmu gituh ya

    ReplyDelete
  19. Waaaahhh... kalau ditelisik satu satu sejarah emang keren ya un.. dan kita kita (kitaaa?? lo aja kali niee) yg gak tahu sejarah ini amat memprihatinkan banget.. merubah seenak jidt gak peduli atau gak tahu asal.usulnya..

    ReplyDelete
  20. sudah banyak yg hilang tentang sejarah Jakarta tergerus sama yang serba modern. Pdhl kan bs dipadu-padanin

    ReplyDelete
  21. baru tahu nih, kalau nama jalan itu ada ceritanya... Tolong tanya ke Bapakmu, apa sejarahnya jalan prof Satrio, diberi nama kasablanka... ada ceritanya tidak? penasaran nih. Masalah dulu pertama kali kenal jakarta diriku taunya jalan itu.

    ReplyDelete
  22. menarik y un...apalagi di jogja pasti lebih banyak kisahnya y dibalik nama daerah d jogja ntar aah cari tau hehe
    Yg udah diganti tu jalan gejayan jd jalan affandi tp ttp aja orang² nyebutnya jalan gejayan hehe

    ReplyDelete
  23. Un...un...postingan ini sungguh menarik, karenz aq sbg keturunan betawi aja ga tau sejarah2 betawi...,*sedihbinnelongso

    Nah yg menarik itu ya....filosofi dr daun melati itu, hehehehe untung suami ku ga baca kalo engga,jgn2 diminta pake melati trus supaya sadar kalo perempuan harus pulang sebelum jam 6 hahahahah.

    ReplyDelete
  24. Waaa temanku ada yang sedang melakukan penelitian mengenai ini..
    Omong-omong, apakah bapaknya Una bisa dijadikan narasumber? Sepertinya beliau tahu banyak mengenai toponimi Jakarta :)

    ReplyDelete

Feel free to comment, criticize, and give suggestion ya!