Bingung Sama Isu Satu Ini

Isu apa? Yakni isu pencurian budaya.

Waktu tes pertukaran pemuda beberapa minggu lalu, aku ditanya oleh kakak seniornya. Andaikan ada peserta dari Malaysia bercerita kepadaku, "Hey, pembantu di rumahku orang Indonesia lho. Kerjanya nggak bener, susah diajak komunikasi" dan lain-lain, aku bakal menjawab apa. Aku bilang aku biasa saja, nggak bisa dipungkiri memang banyak TKI di Malaysia dan kalau masalah kerja nggak benar, kan nggak semuanya gitu. Paling bakal kujawab, "Wow, really? Emang asalnya dari mana dia?"

Kemudian si kakak senior mengganti kasus. Pertukaran pemuda Kapal ASEAN akan berhenti di beberapa negara ASEAN dan Jepang. Biasanya berhenti di Indonesia setelah berhenti di Malaysia. Kemudian ada satu peserta dari negara ASEAN yang bilang, "Ah ngapain beli batik di Indonesia, toh di Malaysia juga udah beli batik. Sama saja." Apa yang bakal aku lakukan. Lagi-lagi sebenarnya perasaanku biasa saja. Tapi seolah-olah kakak senior itu bilang kalau batik kan punya Indonesia, jadi ya harus dikomentari dan diluruskan.

Ada cerita lagi dari kakak senior lain. Waktu kontingen Indonesia turun di Viet Nam, mereka disambut dengan Halo Halo Bandung. Sedangkan kontingen Malaysia yang turun, mereka disambut dengan lagu Rasa Sayange. Apa pendapatku? Lagi-lagi sebenarnya biasa saja. Toh lagu Rasa Sayange juga sering diperdengarkan di Singapura. Case terakhir nih. Ketika di kapal, ada sesi makan-makanan tradisional masing-masing negara. Dan yang mewakili makanan khas Malaysia adalah rendang. Apa pendapatku? Biasa saja.

Tebak ini siapa.
Apa yang bisa kubilang?

Menurutku masalah budaya tuh nggak bisa dilihat dari batas negara. Yes, Malaysia punya batik. Sejarahnya pengaruh batik ini dibawa dari Indonesia melalui perdagangan. Selain itu memang sejarahnya banyak jejak orang Jawa di Malaysia. Seingatku aku baca artikel bahwa di Selangor ada pelatihan batik dan memang diakui oleh sana kalau batik itu dibawa dari orang Jawa yang migrasi ke sana. Andai peserta kapal ASEAN ada yang udah beli batik di Malaysia dan ogah lagi beli batik di Indonesia... so?

Kalau Rasa Sayange aku masih bingung. Sejak kecil aku tahunya itu lagu Maluku. Tapi setiap ke Singapura pasti sering banget lagu itu diperdengarkan, meski ada bagian dari lirik berbeda. Indonesia mengklaim itu lagu asli Maluku, sementara itu lirik yang bergaya pantun katanya asing kalau itu budaya Maluku. Budaya pantun itu budaya Melayu. Aku belum ngerti sejarahnya piye sih lagu ini, ada yang tahu?

Sedangkan rendang... rendang merupakan makanan yang terlezat sedunia. Nek kataku sih enggak, hihihi. Kita tahu sendiri rendang asalnya dari Minang. Kalau katanya Malaysia punya salah satu makanan khas yaitu rendang, ya emang kenapa. Toh kenyataannya memang banyak orang Minang dulu-dulunya pindah ke Johor Bahru dan Negeri Sembilan. Seperti di awal, budaya tuh bukan masalah negara dan lagipula suatu daerah kan bisa berakulturasi dengan budaya pendatangnya.

Aku berkhayal saja, misal makanan khas Jepang salah satunya adalah kare. Bagaimana dengan perasaan India? Pernah aku baca katanya kare ya memang asli India tapi ya orang Jepang suka makanya ada kare Jepang. Atau lagi ada la mian yaitu mie khas Cina yang ditarik-tarik. Kalau Jepang punya ramen dan Korea punya ramyeon yang asal katanya sama dan andai masing-masing Jepang dan Korea berkata ramen dan ramyeon adalah makanan khas mereka, apakah Cina bakal sakit hati?

Gimana ya... hati nuraniku berkata nggak masalah Malaysia punya batik atau Malaysia punya Rasa Sayange dan rendang juga. Tapi kok seolah-olah seperti seringnya didoktrin kalau batik, Rasa Sayange, dan rendang itu punya Indonesia saja! Trus seandainya Malaysia ngeklaim ya kudu emosi. Aduh, aku jadi bingung deh.

Gimana menurut teman-teman tentang masalah ini? Tolong bantu aku. ^^




NOTE: Aku juga sempat ditanya tentang Pendet yang ada di dalam iklan turisme Malaysia, tapi setelah kugugling memang ada kesalahan pembuatan iklan, karena yang membuat adalah pihak ketiga. Yang jelas Malaysia sendiri jelas mengakui Pendet itu asli Bali.

74 comments:

  1. hehe... :) seniornya pasti emosi nanggepin una. abis seniornya anggap itu masalah serius, eehh una nya anggap santai aja. hehe.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehe aku juga bingung ditanyain ginian, males :P

      Delete
    2. Klo aq yg ditanyain jg bingung njawabnya

      Delete
  2. tidak ada istilah pencurian budaya
    budaya itu hasil budi daya manusia
    siapa saja yang mengembangkan itulah pemilik budaya tersebut

    ReplyDelete
  3. ya, sy juga biasa aja klo ada yg seperti itu. santai saja kita kan memang serumpun dan mengenai rendang juga wajar banget, wilayah terdekat dr sumatra ya memang malaysia. lgipula memang tidak ada klaim ttg rendang. kebiasaan manusia ya (sy gak khususkan orang indo), kalau sesuatu itu akan direbut atau sudah dipindah tangan biasanya ya cuma bs marah, emosian karena direbut atau paling minimal kecewa saja. waktu ada dicuekin, tidak diperhatikan, dianggap biasa saja. beginilah kalo menyangkut citra diri dan materi, manusia akan saling menyalahkan dan berusaha mendapatkan yg terbanyak

    ups kebanyakan bicara xixi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tumben komen banyak :P
      Riplainya dikit ah :P

      Delete
  4. gua setuju 1000% sama lu na!
    ngapain sih gitu aja dibikin berantem, kayak gak ada urusan lain yang lebih penting aja ya.

    bener kayak contoh lu tentang kare dan lamien/ramen. setiap negara punya makanan yang pada dasarnya sama itu wajar2 aja karena emang banyak orang pindah dari negara satu ke yang lain. jadi pasti banyak pengaruhnya ke budaya setempat. gak masalah banget.

    sebenernya gak perlu diklaim punya siapa. dan kalo emang mau pake di klaim, ya salah indo sendiri kenapa selalu telat meng-klaim budayanya sendiri. seolah2 gak merasa bangga/butuh ama budayanya itu. sampe akhirnya diklaim negara lain baru kebakaran jenggot.

    persis kayak anak kecil. anak kecil kan gitu kalo ama mainan lamanya biasanya udah gak diliat, gak dimainin lagi karena bosen. tapi begitu ada anak lain yang ngambil mainannya itu, langsung dah posesifnya keluar. gak ngasih anak lain ngambil mainan yang sebenernya udah gak pernah dimainin lagi itu.

    jadi intinya... kalo orang indo yang terus mempermasalahkan rasa sayange dan rendang yang diklaim sama malaysia, itu artinya orang tersebut childish! :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wakakaka komen terpanjang Om Arman di blogku :P

      Yap setuju banget mas, cuma kayak gitu aja sih... :(

      Delete
    2. rekor nih, patut dapat bintang Na :D

      Delete
  5. Terus lolos tes pertukaran pemuda nya gak?

    ReplyDelete
  6. saya juga gak ngerti. Ya jawab aja sejujurnya Na :D

    ReplyDelete
  7. Aku pribadi sih gak masalah. Selama rendang masih tetep bs dijual bebas di warung padang terdekat, dan rasanya msh tetep enak.... Sok lah klo ada yg ngeklaim. Hihihi.

    ReplyDelete
  8. Kalau saya sih ...
    Simple saja ...
    mereka berhak mengklaim ...
    kita juga berhak mengklaim ...

    hehehe

    salam saya Una

    ReplyDelete
  9. kalau soal lagu Rasa Sayange ada penelitian mencari pola alias DNA lagu ..,
    aku reblogged dari blog Indonesia Proud,
    jadi tiap lagu itu bisa dilacak karya siapa atau dari daerah mana
    http://mondasiregar.wordpress.com/2012/02/26/6039/

    ReplyDelete
    Replies
    1. Thanks mbak sharingnya, udah baca.
      Keren juga ya melacak lagu gitu...

      Delete
  10. Mungkin kasusnya biasa aja, Na. Media yang terlalu mem-blow up. Biasa mah kalau itu.

    ReplyDelete
  11. Nah itu dia yg bikin mumeet Na... Udah deh, terkadang masalah kecil jadi besar... Aku ambil gampangnya aja.. Ini kan masalah hak cipta, naaah... plg gampang ya menghargai seseorang yg sudah punya hak cipta, jgn beli yg bajakan apalg kw.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha, duh aku beberapa kali beli bajakan lagi :P

      Delete
  12. emang susah sih kalo urusan gituan un :D
    kan Malaysia sama Indonesia masih serumpun
    tentu banyak persamaan
    dan satu tidak bisa mengklaim hanya miliknya saja
    contohnya Bahasa Indonesia yang masih kental dipengaruhi oleh bahasa Melayu :D

    ReplyDelete
  13. Duh mau komentar apa ya?
    kalau harus marah-marah karena budaya Indonesia di klaim orang lain. Yang dipertanyakan adalah kok bisa diklaim? emang sebelumnya gak pernah di urus dan dilestarikan?

    jadi ikutan bingung *_*

    ReplyDelete
  14. wawwww Una ikut kapal ASEAN??kereeennnn cerita2 dunk ditunggu postingannya yuaaa....

    hooh bener aku juga biasa aja kalo dah nyinggung2 masalah itu, lha wong memang sejarahnya kita ama mereka asalnya sama kok sekarang ribut-ribut rebutan, hmmm ga penting bangett gituh

    ReplyDelete
  15. nah, bener tuh kata mas rawin.. gak harus emosi ah, biasa aja, udha bener...

    jadi na, lolos ra? lolos niih kayaknyaa..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Una gak lolos karena jawabannya kurang nasionalis menurut seniornya, bener gak Na? *sotoy*

      Delete
  16. Memange pertanyaan-pertanyaan itu berpengaruh pada pertukaran pemuda ?. Saya rasa dalam event seperti ini nggak usah mencari-cari perbedaan, yang ada justru gimana cara meluruskan pandangan yang selama ini kacau balau tentang klaim budaya. Jangan sampai ajang pertukaran pemuda yang penuh kekeluargaan seperti ini malah jadi ajang tukaran

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pertukaran pemuda kan urusannya sama cultural exchange juga.
      Pertanyaan kayak gitu kan diperlukan andai ada kondisi seperti itu dan memang itu ya terjadi di sebelum-sebelumnya.

      Delete
  17. bener na, contoh kasus kayak soto. ada yg bilang soto itu khas kudus, tapi ada juga kan soto bandung, soto lamongan, mungkin aja ada juga soto malaysia atau soto amerika :p

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yap, kalaupun aslinya dari manaaa gitu bisa kesebar ke mana-mana :D

      Delete
  18. Seniornya berjiwa proklamasi,mbak. jadi kesimpulannya??? hehehehe...,ampun mbak...,saya ga ikut-ikutan...,^_^

    ReplyDelete
  19. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  20. bingung mau komen apa.
    suka marah kalo budaya indo di klaim malay. tapi orang indo malah cinta budaya lain ex: kpop. T.T

    ReplyDelete
  21. Menurutku masalah budaya tuh nggak bisa dilihat dari batas negara..

    Saya mendapat pencerahan dari kalimat tsb, dan postingan di atas sedikit membuka pandangan kita bahwa selama ini kita masih culun menanggapi hal2 yg masih simpang siur..

    ReplyDelete
  22. kalo menurutku sih Na, sekalian jadi ajang promosi aja..
    kayak batik, oke emang di malay ada, tapi corak batik khan dipengaruhi oleh budaya setempat. Jadi ga bakalan bisa sama. contoh: batik madura beda ama batik cirebon dll.
    ga ngerti sejarah tuh orang yang menyamaratakan batik :)

    kalo rendang, pasti rasa rendang padang ama rendang malay beda.. biarin aja diklaim ama malay secara emang sama2 orang minang, tapi tetep aja untuk cita rasa, tergantung lidah.
    wong warung padang di jawa ama di jakarta aja rasanya beda

    masalah pembantu sih dimana aja samaa... di Indonesia sendiri juga susah nyari pembantu yang kerjanya bener :)

    so, emang segala sesuatu jgn ditanggapi tll serius biar ga memperuncing masalah, tapi kalo kita bisa melihat dari sisi lain dan bisa dijadikan untuk mempromosikan indonesia,, kenapa tidak??

    semangat na, jadi pertukarannya kemana?
    ditunggu ceritanya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyap.
      Even sama, kan emang pasti ada bedanya...
      Nggak lolos itu seleksinya mbak :D

      Delete
  23. aku juga biasa aja sih na.. paling pikirku kok malaysia itu ga kreatif bgt ya. Mbok kalo ngeklaim tuh yg ga ada di Indonesia.. Biar ga kliatan nyonteknya.. #eh

    ReplyDelete
  24. A nice point of view Na! :-)

    Dan aku setuju. Batas negara kan tidak sama dengan batas budaya ya :-) . Karena budaya itu kan juga karena hasil interaksi orang yang satu dengan yang lain, sementara orang-orang ini kan gak melulu tinggal di tempat yg sama. Ada yang berkelana ke negeri asing sehingga 'budaya' itu jadi dikenal di negeri asing :-) .

    ReplyDelete
  25. Kalau di Disneyland Hong Kong, lagu Rasa Sayange itu buat iringan Singapura. Trus burung Kakak tua itu buat Malaysia. Kalo Indonesia biasanya Bengawan Solo atau Lir-ilir.

    eh, Bengawan Solo itu terkenal banget di Hong Kong lho dan dialihbahasakan pula. Tapi kreditnya tetep buat Indonesia.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wow gimana tuh ya Bengawan Solo Bahasa Kanton @.@

      Delete
  26. Jujur awal2 masalah ini muncul aku sempet emosi juga loh Na.. hahahah.. biasa deh kebawa2 euphoria yang lain. Tapi setelah dipikir2 mah aaah sutralah.. Emang gitu adanya. Kayak yang dirimu bilang, masalah budaya tuh nggak bisa dilihat dari batas negara.

    Btw, kartu posmu udah sampeeeee ^_^ makasih yaaaaaah..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah sama-sama, kirain lebih dari dua minggu :D

      Delete
  27. buat aku sih kalo emang mau jadi identits suatu bangsa yah harus dijaga dan dilestarikan dong... Selain itu juga diperkenalkan kepada bangsa lain. Jangan dicuekin tapi begitu dipake bangsa lain baru pada kebakaran jenggot

    ReplyDelete
  28. Mungkin jadi sentilan untuk bangsa kita sendiri Un kenapa sampai budaya itu ada yang berani klaim.. Yah, mungkin saja bangsa kita sudah tak cinta lagi dengan budayanya.

    ReplyDelete
  29. Kalau kita semua menerima dan gak ada yang emosi gitu, gak bakal ada keributan apalagi perselisihan kepemilikan budaya.. Lagipula, walaupun sama jenisnya, pasti deh ada bedanya, kan suatu karya seni/budaya itu beda tangan yang membuatnya, beda juga hasilnya..

    ReplyDelete
  30. aku juga sama Un, bingung kenapa malah jadi pada ribut soal beginian ya..aku mah biasa aja sih sebenernya.. hihihi

    ReplyDelete
  31. wah..ikutan seleksi pertukaran pelajar ya una??

    wah aku juga bingung..tapi bukankah ada budaya indonesia sendiri yang berkembang dari budaya-budaya yang dibawa oleh penjelajah awalnya..

    sepertinya ga mesti di permasalahkan ya..

    ReplyDelete
  32. harusnya sebagai warga indonesia ya ikut melestarikan jangan setelah diclaim baru deh marah2 :)

    ReplyDelete
  33. Aku juga malas debat Un, tapi yah gimana ya? kalau memang budaya asli dari kita yo harus kita akui kan? meski nyebar kemana2....yg penting nggak berantem lah

    ReplyDelete
  34. Oh, jadi argumen mereka tentang Rasa Sayange gitu ya, Na? Kalau menurut aku, Rasa Sayange itu memang punya Indonesia. Lidah Malaysia mana bisa ngomong e kayak yang di lirik sayange-nya itu. Maaf kalau SARA :p
    Kalau pertanyaan-pertanyaan lain, ya tinggal dijelasin aja, batik kan beda-beda motifnya. Enggak usah ribut-ribut bangetlah. Rendang juga. Orang tempoyak aja mereka akuin asli Malaysia, kok. Untung bukan mpek-mpek. Sampe mereka ngakuin mpek-mpek itu asli Malaysia, aku tantangin minum cuko sebotol-botol, berani gk mereka :p
    Hihihi.. aku termasuk yang gerah sih waktu mereka maen comot-ngaku gitu. Tapi lebih gerah lagi sama pemerintah sih, udah tau gitu bukannya langsung dipatenin aja semua budaya kita, ya gk sih? Udah dipatenin negara laen, baru deh ribut. Btw sekarang aja penari kecak itu udah pada tua-tua, yang muda udah gk mo belajar lagi. Gimana coba? 50-50 lah ya "dosanya" :D

    ReplyDelete
  35. ow ini ngomongin negara sama budaya ya ?
    gueh gak ikutan ah ... :p

    ReplyDelete
  36. Kalau lihat pontianak dan kuching itu budayanya hampir semua sama. Jelas kalau baju kurong itu jd baju krbangsaan malaysia, tapi itu juga ada pontianak. toh malaysia gak risih juga mengatakan kita yg mengklaim..

    Emang kadang media yg salah menempatkan kalimat berita. kalau media dariawal tidak berkoar pasti banyak masyarakat yg lebih berfikir jernih toh.. :)

    ReplyDelete
  37. Waah Mba Una lg ikut tes pertukaran pemuda.... smg lolos ya Mba.... Aamiin :)

    capek klo hanya ributin hal2 semacam ini Mba, tidak semuanya sama, klo batik motifnya pasti beda2, di Indonesia saja motifnya tiap daerah byk... pasti motif Malaysia jg beda.... begitu jg rasa rendangnya, pasti beda.... hidup berdampingan dgn saling menghargai akan membuat hidup jadi damai :)

    ReplyDelete
  38. Dr pertanyaan ttg batik, lagu rasa sayange, halo2 bandung, kare,jawabanku yo mari kita dilestarikan bersama biar lbh kaya warna. Tp kl rendang dinobatkan sbg makanan terlezat di dunia, lha aq jg gk setuju. Wong terasa lezat manakala pas makan sdh lapar banget
    kok

    ReplyDelete
  39. Jangan salahkan mereka jika mengakui budaya kita. Pemerintah indonesia aja nggak peduli kok.

    ReplyDelete
  40. Iya bingung yah na....yg penting yg udah ada dipelihara dan dijaga aja kali yah...

    ReplyDelete
  41. Budaya yang saat ini ada adalah karya dari berbagai macam budaya juga. jadi tidak ada yang original dan memilikinya. Hanya saja dijaman komersial seperti ini, semua orang maunya 'punya' dan kemudian diperjual belikan. jadi deh kita semua meributkan hal hal yang tidak penting itu. Siapapun yang mau merawatnya dengan baik, layaklah disebut si empunya...

    ReplyDelete

Feel free to comment, criticize, and give suggestion ya!