Terlihat Hepi

Di Jepang, aku punya teman cowok yang tadinya lumayan akrab dan kami berbicara tiap hari. Teman ini lebih muda dan aku anggap seperti little brother. Aku sering mengajaknya jalan-jalan, makan bareng, atau membelikan cemilan kesukaannya. Tapi lama kelamaan, aku capek dan mulai mengurangi komunikasi dengan temanku ini. Alasannya dia selalu mengeluh tentang hidupnya dan keluhannya selalu sama selama hampir setahun.

Keluhannya: selalu dicuekin cewek, susah dapet pacar, capek bekerja tengah malam, tidak punya uang, tidak bisa berbahasa Jepang, dan lain-lain. Setiap ketemu dan telepon selalu mengeluh tentang hal ini sampai akhirnya aku malas mendengarkan. Aku mulai menjaga jarak dan sekarang hanya mengobrol sekitar seminggu atau dua minggu sekali. Meskipun sudah jarang dia tetap mengeluh. Ia selalu menyelingi pembicaraannya dengan, "maaf ya, tiap mengobrol sama kamu aku selalu komplain." Ah, pret.

Beberapa hari lalu dia menelepon dan dia mengeluh kalau ia khawatir dengan hidupnya di Jepang. Dia selalu janjian dengan cewek tapi last minute ceweknya selalu membatalkan. Dia takut bertahan hidup di sini karena tidak bisa berbahasa Jepang. Dia juga sempat bilang, "Kalau aku kayak kamu lancar Bahasa Jepang mungkin aku nggak akan khawatir kayak gini. Kamu sepertinya menikmati hidup banget. Sudah bisa Bahasa Jepang, kamu punya uang bisa jalan-jalan, makan-makan mulu. Kayak nggak ada beban."

"Kamu kira aku tidak punya hal yang aku khawatirkan apa? Ya ada banyak, tapi masak nggak bisa hepi? Nggak bisa seneng-seneng?" 

Tadi-tadinya kalau dia mengeluh, aku selalu omelin. Tapi lama-lama capek karena diomelin nggak pengaruh, ya mending dicuekin aja. Ngapain buang-buang energi kan. 😄 Dalam hati, dikira sini lancar apa Bahasa Jepangnya? Seringnya aku nggak paham orang ngomong apa 😄 Dikira sini duitnya banyak apa? Aku kan nggak beli kaos seharga 18000 yen atau parfum 7000 yen. Temanku ini suka mengeluh nggak punya tabungan tapi kalau belanja barang brand mulu. 😒

Beberapa teman suka bilang kalau hidupku enak, beruntung, dan hepi terus. Yang padahal menurutku mereka lebih beruntung dari pada aku. 😂 Tapi yang jelas aku bersyukur, hepi dan merasa beruntung, sih.

Aku jadi ingat ibuku suka cerita waktu kecil aku suka diajakin jalan kaki panas-panas dan aku tidak pernah mengeluh. Orang-orang yang melihat bahkan kasian dan bilang sama ibuku kalau kasian anaknya diajak jalan-jalan panas-panas, tapi kata ibuku, "Anaknya aja nggak apa-apa. Malah seneng." Di umurku yang segini, aku masih bekerja fisik, belum bisa menabung, hobinya cengenges-cengenges, sering menangis dan kurang sabar, dan ya aku hepi. Emang yang penting tuh bersyukur sih ya. 😄 Mau punya apapun kalau nggak bersyukur ya hidupnya nggak enak, nggak hepi.

Enak ya kamu Un...

Ho oh, enak! Ape loh 😂

8 komentar:

  1. Di umur segini aku baru tahu happy itu momen bukan goals seh yak. jadi kalau mau bahagia ya dicari terus gimana bisa bahagia hari ini. Apa nonton Netflix, atau makan kue enak, atau bahkan sekelas makan indomie aja bisa happy kan. jadi yang ngeluh kurang bisa cari momen gimana dia bisa happy. hahahaha.

    Buat Una, happy happy terus ya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ih setuju banget, Mbak. Hepi padahal bisa kapan aja ya tergantung diri sendiri.

      Amiin, Mbak Irni juga yaaa...

      Hapus
  2. Ohh kayaknya cowok itu terlalu suka ngeliatin hidup org lain kali yah. Memang kalau kita terlalu fokus liatin idup orang, kita jadi lupa sama apa yg kita punya :) tp yg kayak gitu tuh udh bawaan orok apa gmn ya, soalnya punya jg temen kayak gitu, walau udh dinasehatin gmn juga tetep aje fokus ngiri terus sama org lain hihi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha, iya juga ya, bener bawaan orok lol. Ngga bisa berubah soalnya...

      Hapus
  3. Aku kalau lihat dirimu ki uripe wuenak lho, Na. Santeee dan hepiii terus. Tapi aku tau kamu nek punya keinginan akan berusaha maksimal, contone sregep sinau dadi bijikmu apik2, hehehe.

    Ayo, Na, nabung. Sithik2 rakpopo..:))

    BalasHapus
  4. Pengen bold quote "Di umurku yang segini, aku masih bekerja fisik, belum bisa menabung, hobinya cengenges-cengenges, sering menangis dan kurang sabar, dan ya aku hepi. Emang yang penting tuh bersyukur sih ya" Paling relate deh di bulan ini!

    Bersyukur udah nggak ada duanya deh mbak, dan aku pun masih belajar bersyukur walau masih begini.

    BalasHapus
  5. Kurang bersyukur apa aku ini :v

    BalasHapus

Feel free to comment, criticize, and give suggestion ya!