Sejenak Jumpa Ambtenaar di Kerkhoff

Fiksi

Lupa akan haru dan terenyuh yang kurasakan baru saja di Museum Tsunami Aceh, kini rasa penasaran yang hinggap. Kuburan Belanda yang terletak persis di belakang museum ini mengingatkanku dengan Taman Prasasti di Jakarta. Kini aku berdiri di dekat kolam di tengah museum yang dikelilingi bola-bola berpahat nama negara yang menjadi donatur pasca tsunami dahsyat 2004 silam. Aku penasaran dengan kawasan pemakaman militer Belanda terbesar kedua di dunia. 

Jalan masuk ke kuburan Belanda berada tepat di sebelah museum. Di rerumputan terpasang plang 'Kerkhoff Peutjut'. Mulanya, aku hanya mengetahui kalau kerkhoff berarti kuburan. Di kampungku, orang biasa menyebut area yang dekat dengan gereja tua dan kuburan sebagai 'kerkop'. Kerkhoff merupakan kata dari Bahasa Belanda yang secara literal berarti 'halaman gereja'. Sementara Peutjut sama artinya dengan 'Pocut' yaitu panggilan kebangsawanan. Peutjut dalam nama pemakaman ini merujuk salah satu anak Sultan Iskandar Muda yang dimakamkan di sini.

Yang dihukum mati oleh ayahnya sendiri. Ngeri.

Di gerbang kerkhoff terdapat dinding yang terpahat angka tahun dan nama-nama orang yang dimakamkan di sana. Yang tertulis di dinding adalah yang mangkat sekitar akhir abad 19 dan awal 20 akibat Perang Aceh-Belanda. Tapi jauh sebelum itu dan sesudah itu, juga banyak yang dimakamkan di sini.

Aku mengamati nama-nama yang tertera di dinding. Banyak nama Belanda, yang kemungkinan adalah tentara dan pegawai Belanda, namun juga terdapat beberapa nama khas Perancis, dan banyak pula nama-nama Jawa. Ada Schumacher, Beethoven, sampai Wasijo yang dimakamkan di sini. Aku pun kemudian masuk ke areal pemakaman. Sayangnya hari itu, Banda Aceh benar-benar terik dan panas yang sangat menyengat. Aku yang terlalu manja tak mau dicumbu matahari, hanya menengok sekian tanda pekuburan. Hanya batu nisan Johan Harmen Rudolf Köhler dan seorang Jepang bernama Iwasaki yang berkesan.

Kemudian aku kembali menuju gerbang kerkhoff yang beratap untuk meneduh. Ada sebuah meja kayu, entah biasanya digunakan untuk apa, karena tidak ada penjaga satu pun di gerbang. Aku duduk di sana menunggu matahari bersembunyi di balik awan sambil pula berharap awan terus membayangi matahari di depannya. Ah. Panas.

Mungkin tidak ada yang tertarik datang ke sini. Sangat kontras bila dibandingkan dengan Museum Tsunami Aceh yang ramai pengunjung domestik maupun bule-bule mancanegara. Tidak ada satu pun kecuali aku dan seorang bule putih yang berjalan ke arah gerbang kerkhoff.

Yaaa, dan kemudian ia menyapaku yang sedang duduk asyik di meja, dengan kaki yang tak menyentuh tanah. Ia sangat ramah dan mungkin karena tidak ada turis lain di sana. Aku belum bertanya satu soal pun, ia bercerita dengan panjang lebar. Aku rasa ia tipe-tipe manusia yang suka bercerita bahkan dengan orang yang belum dikenalnya.

Bule yang menurutku lumayan tamvan (ya, pakai 'v', supaya seperti anak kekinian yang lain) ini, menceritakan kepadaku bagaimana tsunami tahun 2004 menghancurkan area sekitar pemakaman ini. Ada sekitar 50-an palang salib penanda kubur yang hanyut terbawa derasnya arus air laut yang mematikan waktu itu. Ia juga bercerita detil bagaimana mulanya Masjid Baiturrahman hanya memiliki satu kubah dan kini berkubah tujuh.

Kira-kira sekitar 15 menit, lelaki yang memakai baju formal ini bercerita. Ia menyebut pula Sentral Telepon Militer Belanda dan Taman Sari Gunongan. Sepertinya ia semacam peneliti sejarah yang mengkhususkan studinya di Banda Aceh. Ia tahu segalanya tentang Banda Aceh.


"Ah, ngomong-ngomong, kamu sudah lulus AMS*?"

Aku tertawa kecil, geli. Ia terbalik menyebutkan 'SMA'. "SMA maksud kamu? Sudah, dua tahun yang lalu. Kamu sendiri masih kuliah kah?"

"Oh tidak, saya bekerja sebagai ambtenaar."

"Am-te-nar?"

"Ya, pegawai negeri Belanda. Saya bekerja di Kantor Asisten Residen Aceh Besar. Dekat sini. Nama kamu siapa?" Aku bingung dengan jawabannya. Residen?

"Nama saya Chika. Dan kamu?"

"Ah, nama saya Louis. Louis van... Sebentar... Kamu lihat di daftar nama tahun 1880? Kamu bisa lihat namaku ada di baris ketiga dari bawah."

Aku terbelalak sembari melihat matanya. Ia tersenyum mengulum. Manis.

"Kalau begitu, saya duluan ya Chika. Saya harus pulang..." Louis pamit dan kemudian berjalan memasuki gerbang kerkhoff.

♥♥♥

Note:
♥ Ambtenaar = pegawai negeri
♥ AMS = Algeemene Middelbare School, sekolah setingkat SMA pada zaman kolonial Belanda.

9 comments:

  1. Clue kaki yang tak menyentuh tanah udah menandakan kalau louis makhluk halus

    ReplyDelete
  2. Clue kaki yang tak menyentuh tanah udah menandakan kalau louis makhluk halus

    ReplyDelete
  3. ngebayanginnya jadi ngeri-ngeri sedaaap :)..tapi kalau tamvan okeee kok Una :)

    ReplyDelete
  4. Wah lumayan Tamvan, tapi nggak menyentuh tanah ya kak? ngeri jadinya, hehehe. Kalau ke Aceh nggak ke Baiturrahman kayaknya ada yang kurang kak, jadi ya mesjid itu selalu ramai

    ReplyDelete
  5. untungnya mas bulenya tamvan hihihihiiiiii kabuuuur...

    ReplyDelete
  6. Ealah, Un. Tak kira kisah nyata dirimu mendapatkan penamvakan bule ganteng. Bahkan samve dialog verkenalan, akyuh cuma membatin "Dasar si Unaaaaa. Ketemu cowok keceh lha kok jenenge diimut-imutin jadi Chika." #eaaaakh

    ReplyDelete
  7. Koq hororr uunnnn 😂 1880
    Fotonya asik bangeet un :D

    ReplyDelete

Feel free to comment, criticize, and give suggestion ya!