Bear Story, Animasi Pendek Terbaik Oscar 2016

GUEST POST  

Animasi selalu punya cara menyampaikan pesan yang nyaris mustahil disampein lewat film biasa. Toy Story misalnya, seperti kita tau semua, film ini bercerita tentang mainan yang bukan hanya tampak hidup, tapi bener-bener bisa bergerak, bicara, bahkan bertingkah layaknya Andy, pemiliknya, ketika ngga ada manusia di sekitar mereka.

Walaupun kelihatan kurang nyata, film animasi selalu memberi nuansa berbeda buat para penikmatnya. Boleh jadi ketika dibuat live actionnya, Toy Story bisa jadi film yang menarik atau malah sebaliknya. Terlebih teknologi special effect sekarang terbilang udah mendukung, Elijah Wood yang setinggi 168 cm aja bisa terlihat Cuma setinggi 107 cm sewaktu berperan jadi Frodo Baggins. Menariknya proporsi Elijah di film terlihat pas ketika kudu ketika bersanding dengan Legolas yang konon bertinggi 180 cm. Untuk bikin postur Eljah semungil itu aja bisa apalagi boneka semungil Woody yang konon cuma 40 cm. Cuma ketika sebuah animasi diangkat ke layar kaca, unsur kartunnya jadi ilang, kelucuannya, keluwesannya.

Bear Story mungkin nggak seheboh Toy Story dari segi kehalusan animasi, apalagi durasi. Tapi film pendek selalu punya cara untuk nyampein cerita dengan ringkas dan tetep berkesan, bahkan untuk film tanpa suara sekalipun.


Sekilas, di awal cerita, Bear Story merupakan perpaduan menarik antara Toy Story dan Pinocchio, Cerita boneka yang hidup di sekitar kita, berdampingan dengan manusia kebanyakan ☺. Cuma kali ini tokoh pemiliknya bukan manusia layaknya Andy atau Geppetto melainkan beruang juga (kalo itu mah kaga usah diceritain keleus pan udin keliatan dari gambarnya).

Beruang yang berprofesi sebagai pencerita lewat story box mekaniknya. Terus terang saya penasaran sama cerita yang bakal dalam story box, cerita yang membawa Bear Story jadi film animasi pendek terbaik Oscar tadi pagi, lantaran dua setengah menit pertama bukan bagian favorit saya.

Dan bener aja, nggak salah, juri milih cerita keluarga beruang ini jadi film terbaik animasi terbaik Oscar tahun ini. Cerita yang ditampilkan di box story emang selalu menarik, terasa ringan dan nggak kerasa menggurui. Bener juga kata ini film, perusak alam, penyiksa binatang yang paling berbahaya sejatinya bukan para perambah hutan atau pemburu hewan liar, melainkan kita-kita, manusia yang beli tiket untuk nonton sirkus, tepuk tangan, dan nyorakin aksi hewan-hewan manis ini, entah itu jerapah, beruang, atau mungkin lumba-lumba ☺, terutama jika mereka nggak diperlakukan secara manusiawi.

Terlepas dari bentuknya yang antropomorfik, di mana hewan digambarkan bertingkah layaknya manusia, memiliki foto keluarga, malah tinggal di sebuat flat pula, satu adegan sedikit kurang masuk akal buat saya. Gimana bisa seekor ayah beruang yang hidup layaknya manusia bisa diculik dan disiksa untuk dijadikan hewan tontonan manusia bersama sekumpulan gajah, harimau, hingga jerapah? Keliatan kurang masuk akal deh. Ah mungkin saya mikirnya terlalu belibet untuk sebuah film kartun. Toh dalam cerita Mickey Mouse, seekor tikus bisa memilihara anjing seperti Pluto ☺ . Malah anjing bisa diajak jalan-jalan sama anjing lain. kalok gak percaya tonton aja cerita Goofy bareng Pluto.

2 comments:

  1. haha, aku juga bingung memahami ada anjing sebagai manusia dan anjing sebagai anjing (Goofy dan Pluto)

    ReplyDelete
  2. aku belum nonton filmnya nih una

    ReplyDelete

Feel free to comment, criticize, and give suggestion ya!