Keliling Tokyo dengan Teman Baru dari Tokyo

Memang ya, kalau jalan-jalan itu sebaiknya bersama teman yang aslinya dari daerah itu. Karena biasanya bakal dapat informasi, sedikit atau banyak, yang bahkan nggak akan ditemukan dengan mudahnya di mesin pencarian. Seperti halnya, saat teman baruku dari Tokyo, Keiko-san, memanduku berjalan-jalan di Tokyo.

Hari sebelumnya ia bertanya, aku sukanya apa. Aku suka apa saja dan yang gratis atau murah. Ke mana saja, aku serahkan seluruhnya kepada Keiko-san. Manut. Malamnya pun via e-mail ia menanyakan kepadaku apakah aku sudah ke tempat ini atau ini. Tak lupa ia pun memberitahuku di mana tepatnya meeting point lengkap dengan petanya. Ia juga mencantumkan informasi kalau beli tiket kereta 1-day lebih murah. Parah komplit abis dah! Trus karena aku nggak bisa baca banyak kanji, ia selalu menuliskan hiragananya apabila ia menulis kanji di dalam e-mail. Aku terharuuu!

Hari H, Keiko-san bercerita kepadaku, ia benar-benar memutar kepalanya untuk mencari tempat yang gratis dan murah tapi menarik. Kami janjian pada pukul 08.50 pagi dan sebelum 14.00 Keiko-san harus pamit karena sudah ada janji dengan temannya. Lokasi meeting point-nya di Exit 1 Stasiun Tsukiji. Karena aku nggak bisa kira-kira berapa lama perjalanan di kereta, jadi aku datangnya kecepetan 15 menit. Sedangkan Keiko-san datang tepat pukul 08.50, nggak pakai kurang nggak pakai lebih.

Tujuan pertama kami adalah Tsukiji Market, pasar ikan yang paling terkenal di Tokyo. Sayangnya, waktu itu adalah hari libur Obon, sehingga sebagian besar kios yang menjual hasil laut segar pada tutup. Beberapa warung makan pun tetap buka, mungkin memang paham ya kalau musim liburan pasti banyak turis datang. Ada warung yang menjual tamagoyaki dan begitu menarik sampai aku ingin membeli. Pas mau keluarin uang, baru sadar antrenya puluhan meter. Oke, cancel.

Mbok tolong aku dikasih tahu itu hewan apa saja, hehehe...
Keiko-san sendiri ternyata lulusan fakultas sastra dan punya minat lebih terhadap budaya. Jadi pengetahuannya banyak banget. Banyak banget belajar dari Keiko-san deh. Soal tamagoyaki tadi, Keiko-san bertanya apakah aku pernah makan tamagoyaki di Kansai (area asramaku waktu itu) karena rupanya tamagoyaki Kansai dan Kanto (Tokyo dan sekitarnya) berbeda. Tamagoyaki Kanto lebih banyak menggunakan gula daripada Kansai.

Sayangnya aku cuma pernah coba tamagoyakinya Sushi Tei.

Display di toko wagashi.
Setelah dari Tsukiji Market, kami menuju Rikugien 六義園, sebuah taman khas Jepang yang dibangun pada abad 17. Saat jalan kaki dari Stasiun Komagome menuju taman ini, kami terhenti di sebuah toko wagashi (kue khas Jepang). Lucu banget bentuknya dan aku pun ingin beli. Sayangnya yang aku pengenin, belum mateng dan baru jadi sejam lagi. Ya sudah kami bilang akan kembali lagi yang akhirnya nggak kembali, wkwkwk.

Masuk Rikugien dikenakan tiket masuk 300 yen untuk pengunjung umum. Rikugien ini merupakan salah satu taman yang terkenal untuk melihat lanskap yang cantik seperti saat sakura mekar ataupun kemerahan saat musim gugur. Saat aku ke sana adalah musim panas yang mana berarti semuanya hijau ya kayak taman-taman di sini, wkwkwk. Tapi tetap indah.

Sebenarnya musim panas pun cantik, tapi pasti kalau musim gugur jauh lebih cakep banget. Penasaran :(
Kami berfoto di depan warung Fukiage Chaya dengan latar kolam Rikugien.
Di tengah taman terdapat warung minum teh Fukiage Chaya yang menghadap ke kolam. Aku lihat menunya… matcha segelas 510 yen (1 yen = 114 rupiah). Huaaa mahal! Keiko-san memesan dua teh yang disajikan dengan wagashi. Alhamdulillah… ditraktir Keiko-san. Aku nggak enak tapi enak sih, hahaha! Terima kasih Keiko-san!

Cantik ya bunganya…

Punyaku yang dengan wagashi bunga warna merah.
Malamnya Keiko-san mengirimkanku e-mail dan memberitahu bahwa nama bunga bentuk wagashi itu adalah Asagao (asa = pagi, kao = muka). Bunga ini bunga musim panas yang mekar sekitar pukul 5-6 pagi.

Lokasi terakhir yang kukunjungi bersama Keiko-san adalah galeri barang seni yang dihasilkan dari berbagai prefektur di Jepang. Mulai dari kerajinan alat makan, perhiasan, hingga kain tradisional. Bodohnya, aku nggak tahu nama lokasinya. Sama sekali nggak foto gedungnya apalagi dalamnya yang mungkin juga nggak boleh. Berhenti di stasiun mana pun aku nggak ingat! Ingatku di seberang kompleks rumah keluarga kaisar tapi pas cari di Google Maps ngga ada nama tempat yang aku sekilas ingat. Nggak gue banget nggak moto blas wkwkwk

Mungkin terlalu fokus dengan penjelasan Keiko-san mengenai berbagai kerajinan di sana. Keiko-san seperti tahu segalanya dan menjelaskanku bagaimana cara membuatnya, dari apa dibuatnya, dan lain-lain.

Usai dari galeri itu, Keiko-san bertanya kepadaku apakah aku suka diajak ke sana. Aku mah suka-suka banget apalagi dapat cerita banyak! Mulanya Keiko-san khawatir aku nggak tertarik tempat itu. Tak jauh dari sana ada 7-Eleven yang menyediakan tempat duduk (jarang-jarang di Jepang). Kami duduk dan minum dan kemudian berpamitan.

Keiko-san memberikanku hadiah, selembar tenugui, yang baru kubuka tiga bulan setelahnya pas sudah di rumah, hahaha. Sedangkan aku harus minta maaf karena aku nggak punya hadiah apapun.

Sesampainya di Jakarta, aku menghubungi Keiko-san via e-mail tapi belum dibalas sudah satu bulan lebih. Aku harap Keiko-san sehat-sehat saja!

10 comments:

  1. Aamiin. Ucapin met tahun baru gih ke ibu Keiko. Tempatnya deket Chidorigafuchi ga?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya ya. Iya ah. Tempat yang mana Mbak? Kayaknya sih semua deket situ, wong di situ-situ doang XD

      Delete
  2. Kok bunganya lucu amat sih. Kek permen gtu. Pengen punya yang pink! :o

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyaaa lucuuu... lebih kayak bakpia sih kalau rasanya XD

      Delete
  3. itu makanan kalau aku yg beli bingung semua, tulisannya gak bisa di baca hahaha. Di hubungi via telp dong Una

    ReplyDelete
  4. itu makanannya unyil bgt yah. Tapi kayaknya gak tega makannya bgs bgt :D

    ReplyDelete
  5. Suka liat asagao...makanan disana tuh disajikan dgn cantik ya, jadi sayang kalo dimakaan 😬

    ReplyDelete
  6. 'Aku suka apa aja yang murah atau gratis'. Mbak Unaa, epic sekali :) hehe

    ReplyDelete
  7. keren2 ... ada yang mau ajak saya ke tokyo? hehe

    ReplyDelete
  8. pengennya sih punya temen dari tokyo juga biar pas ke sana dapet info dan gratisan. tapi bahasa yang menjadi hambatan :(

    ReplyDelete

Feel free to comment, criticize, and give suggestion ya!