Teman Baru dari Tokyo

Sampai di Stasiun Bubaigawara, aku langsung bergegas mencari di mana halte shuttle bus yang disediakan pabrik bir Suntory Musashino. Di tiang depan stasiun terdapat informasi yang ditempel mengenai jadwal shuttle. Jadwal yang terdekat hanya tinggal lima menit saja, dan aku pun langsung berlari. Tapi nggak lama, balik lagi ke tiangnya. Bingung baca peta lokasi haltenya dan memastikan lagi. Keringatan.

Lari-lari lagi deh ke arah pemberhentian busnya dan di sana sudah berbaris puluhan orang yang secara statistik lebih banyak lansianya. Syukurlah busnya belum datang. Tapi dasar namanya Jepang, si bus itu datang persis pas jadwalnya. Di tiang shuttle bus stop ada semacam pengumuman, yang aku nggak bisa baca semuanya. Aku cuma bisa membaca bagian: “untuk pengunjung yang tidak melakukan booking.” Hah? Aduh apa ya itu penjelasannya? Aku takut nggak bisa masuk karena aku nggak reservasi sebelumnya untuk berkunjung ke pabrik bir itu.

Tapi ya sudah lah, kalau nggak boleh ya balik lagi ke stasiun. Kemudian aku masuk ke busnya dan duduk di bangku paling depan. Sebelahku ibu-ibu 30-an tahun yang sepertinya pergi sendiri. Karena aku tetap was-was karena nggak reservasi, aku bertanya kepada ibu itu. Katanya, memang harus booking lewat situs webnya tapi mungkin karena aku pergi sendiri pasti bakal dibolehin masuk. Katanya lagi, kalau nggak boleh masuk, mohon-mohon melas aja sampai dibolehin.

Eh kita malah jadi ngobrol-ngobrol dan nyambung banget. Ibu ini sudah belasan tahun tinggal di Tokyo, tapi asalnya dari Nishinomiya, Prefektur Hyogo. Waktu itu aku stay-nya juga di Prefektur Hyogo, tepatnya di Ashiya. Eh ibunya bilang, kalau orang tuanya juga pindah ke Ashiya dan letak rumahnya di dekat Daimaru Department Store yang mana itu lokasinya dekat sekali dengan asramaku! Kebetulan banget kan? Si ibu yang belakangan kuketahui namanya Keiko ini sedang belajar Bahasa Inggris dan selalu membawa buku pelajaran Bahasa Inggris tingkat SMP di tasnya. Dia pun sedikit-sedikit mencoba berbahasa Inggris.

Abis registrasi, setiap peserta akan dikasih kalung ini.
Sampai lokasi pabrik, aku pun menuju resepsionis dan bertanya karena aku nggak booking sebelumnya. Kata mbaknya, nggak apa-apa. Aku pun girang dong! Yokattaaa~ lalu, kami pun dipandu ke aula dan disuguhi segelas teh dan setengah gelas bir. Kemudian berkeliling pabrik dan kembali ke aula tersebut untuk tasting bir. Masing-masing peserta diberi tiga gelas bir dengan jenis yang berbeda dan cemilannya. Sudah tahu lemah alkohol, aku menghabiskan full satu gelas pertama. Gelas kedua ketiga nggak habis. Langsung deh nggliyeng~ mampuasss!!! Aku heran itu orang-orang bisa minum dengan ceria…



Keiko-san pun memahamiku dan ia pun membantuku mengembalikan gelasku ke bar dan menghibahkan camilannya untukku supaya aku tidak mabok. Gomennasai, Keiko-san!

Kemudian kami naik shuttle lagi untuk kembali ke Stasiun Bubaigawara. Kami berbincang macam-macam dan seruuu… Keiko-san ini memang unik, makanan favoritnya adalah masakan Sri Lanka dan aku tahu beberapa masakan Sri Lanka karena abis ke sana juga, jadi nyambung abis deh.

Sampai ia pun menawarkan untuk mengantarkan aku jalan-jalan keesokan harinya. Dan kami pun bertemu kembali…

Aku dan Keiko-san di Rikugien.
♥♥♥

Di postingan ini memang mau cerita tentang ketemu Keiko-san saja. Lengkapnya mengenai wisata haram ini wkwk, kapan-kapan tak tulis full XD

11 comments:

  1. Weee nggliyeng. Aku malah ga tau ada gituan. Klo di sana ada musik dangdut koplo, ketoke tambah asyik ya? Hahaha. Rasane bir-re piye chan?

    ReplyDelete
  2. heboooh dong Una hehehe...yang penting ketemu temen barunya yaaa..pasti seru :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyaaa, seneng banget dapet temen baru XD

      Delete
  3. Hadiah pertemanan itu berbuah manis ya. Udh gt mba mba nya cocok sm kamu :*

    ReplyDelete
  4. Enak banget ya Una bisa ketemu orang yang mau nemenin jalan-jalan

    ReplyDelete
  5. kalau una mabok kaya gimana sih gayanya?

    ReplyDelete
  6. Teman barunya baik baik ya, Una...camilannya apa? mau dong..hehe

    ReplyDelete
  7. Keiko-san pemberani ya, ramah dengan orang asing. Kalau Una mah sdh terbukti sangat pemberani

    ReplyDelete

Feel free to comment, criticize, and give suggestion ya!