Lao Harus Berkaca Pada Vietnam

Satu-satunya negara tak berpantai di ASEAN, Laos atau Lao PDR, merupakan salah satu dari lima negara yang tersisa yang menganut paham sosialis komunis. Sempat dijajah Perancis dan kemudian merdeka dan dipimpin oleh kerajaan. Namun pada tahun 1975, kelompok komunis melakukan kudeta dan kekuasaannya masih berlangsung hingga saat ini. Hanya ada satu partai di sana, yaitu Lao's People Revolutionary Party.

Ketertutupan kepada negara luar menyebabkan Lao menjadi salah satu yang termiskin di ASEAN. Pendapatan nasionalnya merupakan yang terendah di ASEAN, meski dari sisi pendapatan per kapita, Myanmar dan Kamboja memiliki angka lebih rendah. Ada 33 persen penduduk yang hidup di bawah 1,25USD sehari dan diskrepansi sosial dan ekonomi sangat tinggi.

Produk Thailand yang dijual di Laos. Laos masih menggantungkan impor kebutuhan barang pada negara-negara tetangga.
Satu-satunya alternatif untuk negara komunis menjadi maju adalah reformasi ekonomi, yaitu menyerahkan ekonomi kepada mekanisme pasar, meskipun pemerintah masih campur tangan. Lao menyalin cara yang dilakukan oleh Cina. Selain Cina, Lao punya tetangga yang juga berpaham komunis yaitu Vietnam.

Pada tahun 1986, Lao menerapkan New Economic Mechanism (NEM) dengan membuka peran swasta dan membuat hubungan perdagangan dengan luar negeri. Pada tahun yang sama Vietnam menerapkan Doi Moi (arti harafiah: renovasi), reformasi ekonomi yang tetap menjadikan pemerintah sebagai pengambil keputusan dalam ekonomi, namun pihak swasta diizinkan untuk ambil peran dalam produksi. Vietnam melakukan modernisasi negara dan makin banyak industri yang didirikan di sana.

Vietnam semakin membuka diri setelah normalisasi hubungannya dengan Amerika Serikat dan masuk ke dalam ASEAN pada tahun 1995. Hingga saat ini, Vietnam memiliki hubungan diplomatik dengan 169 negara. Selain itu, banyak perjanjian perdagangan dan ekonomi yang ditandatangani, misalnya AFTA, Pakta Perdagangan Bilateral AS-Vietnam (2001), APEC (1998), dan yang paling utama adalah bergabung dalam World Trade Organization (WTO) pada tanggal 11 Januari 2007.

Ho Chi Minh City. Salah satu dampak perekonomian yang meningkat, makin banyak gedung tinggi. :D
Hasilnya? Nilai ekspor meningkat, pertumbuhan GDP tumbuh besar dari tahun ke tahun, jumlah lapangan kerja meningkat, dan menjadi salah satu negara yang berpengaruh di dunia. (Contoh, kasus kemarin, sebagai penghasil kopi nomor dua di dunia.)

Sementara itu, meski Lao juga menerapkan NEM pada tahun yang sama, sejatinya Lao baru membuka diri sebenar-benarnya pada tahun 2004. Sama seperti Vietnam, yang memiliki sejarah hubungan buruk dengan Amerika Serikat, Lao menormalisasi hubungan diplomatiknya dengan AS baru sejak 2004. Lao bergabung dengan ASEAN pada tahun 1997 dan baru bergabung dengan WTO pada 2 Februari 2013.

Dengan, paham, sejarah yang mirip, dan tetanggaan pula, Lao harus belajar dari Vietnam dalam memajukan kehidupan ekonomi dan eksternal dengan negara lain.

Nok, teman dari Lao. Orangnya pintar dan selalu promosi untuk datang ke negaranya. ^^

1. Menjalin Hubungan Diplomatik dengan Luar Negeri

Sudah tergabung dalam PBB. Check. ASEAN. Check. WTO. Check. Selanjutnya adalah membangun perjanjian perdagangan dan diplomatik dengan negara lain, entah bilateral atau forum regional. Dengan keterbukaan terhadap negara lain, Lao bisa mendapatkan partner untuk menarik investasi ke dalam negara, atau menjadikan partner dalam destinasi ekspor industrinya.

2. Promosi Industri Lao

Salah satu industri yang maju di Lao adalah industri sektor pariwisata dengan atraksi utamanya yaitu Luang Prabang, yang merupakan salah satu UNESCO Heritage Site. Slogan pariwisatanya adalah 'Laos-Simply Beautiful'. Namun kurang terdengar gaungnya, berbeda dengan Malaysia Truly Asia atau Amazing Thailand. Akun sosmed dan media promosi lain harus dipromosikan untuk menjual pariwisata Lao.

3. 'Investasi' Diplomasi bagi Pemuda

Pemuda dianggap menjadi generasi yang penting karena akan menjadi pemimpin di masa depan. Edukasi adalah cara 'investasi' untuk negara bagi masa depan. Selain edukasi, para pemuda harus dihadapkan dengan kondisi negara luar. Salah satunya dengan mengadakan pertukaran pemuda dengan negara lain, pemuda difasilitasi untuk mengikuti forum internasional, juga mengirimkan duta untuk menunjukkan kebudayaan Lao.

4. Mengatasi Korupsi dan Kesenjangan Sosial

Dengan kondisinya, Lao masih bisa meraih pertumbuhan ekonomi sebesar 8%. Lao semakin terbuka dan maju, namun di sisi lain korupsi masih mengintai. Tingkat korupsi di Lao, masih lebih tinggi daripada negara kita. Indonesia peringkat 118/176 sebagai negara paling bersih dan Lao peringkat 160/176. Alias kotor, hihihi. Selain itu, kesenjangan sosial masih tinggi. Ada sebagian kalangan yang kayanya kaya banget, namun masih banyak pula yang miskin sekali. Lao akan lebih maju kalau kesenjangan dan korupsi diperkecil.

Dengan potensinya, Lao bisa tumbuh seperti Vietnam dan maju di kancah ASEAN dan dunia!  

5 comments:

  1. waduh, peringat korupsine tinggi juga yak :( kudu dari pemerintahnya nih yang berbenah selain dari masyarakatnya

    ReplyDelete
  2. berarti Indonesia masih mending yah
    padahal aku kira Indonesia udah parah amat kayak yang dikabarin di media

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mungkin di sana juga lebih gak transparan budgetingnya...

      Delete
  3. Walau telrlihat negara tingkat korupsinya tinggi, namun sektor pariwisata tentang sejarah negara tersebut menjadi daya tarik yang luar biasa. Hal ini akan memberi suatu pembelajaran bahwa tingkat sekator pariwisata merupakan salah satu yang dapat menopak industri masyarakat kecil.

    Daan untu masalah korup, Indonesia hanya terjebak dari suatu sistem SDM nya. Bila sistem SDM kita sudah melalui proses jera, mungkin sekarang akan kapok orang melakukan korup.Bagaimana gak kapok, kalau semua aset dan aharta benda di sita dan dibekukan hingga keluarag adan orang-orang terdekatnya ? he..... he,,,, he,,,,,,


    Salam wisata

    ReplyDelete

Feel free to comment, criticize, and give suggestion ya!