Ketika Bisnis Salon Terancam

Ketidakmampuan sebuah negara memproduksi suatu jenis barang dengan efisien membuat negara itu mengharuskan mengimpor dari negara lain. Seperti misalnya, kita mengimpor payung, peniti, dan barang elektronik dari Cina. Harganya akan lebih murah jika kita impor ketimbang kita produksi. Kasus lain, rata-rata ongkos potong rambut di New York ialah USD50 sedangkan di sini Rp 15.000 saja sudah bisa. Tapi New York nggak impor tukang cukur rambut dari Indonesia 'kan? Karena standar upah dan 'harga' jasa manusia di NY memang dasarnya tinggi.

Sekarang case-nya adalah: Bagaimana jika di dekat rumah kita banyak salon Thailand yang bersertifikasi internasional? Yang bisa dibilang, juga kompetitif diantara pesaingnya?


Adanya ASEAN Community 2015 menuntun ke arah perdagangan yang lebih bebas. Thailand, negara Asia Tenggara yang tidak pernah dijajah ini, sama halnya dengan kebanyakan negara ASEAN lain, merupakan negara yang berkembang. Rata-rata upah tak jauh dengan di Indonesia dan ongkos potong rambutnya pun hampir sama! Di pelosok masih ditemukan potong rambut dengan tarif 10THB (Rp 3.000) tapi di salon di kota yang lumayan bisa sekitar 300THB (Rp 90.000).

Hampir sama 'kan sama di sini?

Maka dari itu, andai banyak salon Thailand yang masuk ke sini, mereka akan bisa memasang harga yang kompetitif untuk konsumen Indonesia. Belum lagi Thailand terkenal dengan Thai Massage-nya itu. Ancaman dong ya, untuk salon lokal?

Kalau dari sisi konsumen salon, kecenderungan memilih salon utamanya karena kualitasnya, baru kedua harganya. Urusan orang dari negara mana yang punya (nasionalisme) boro-boro deh mikirin, mungkin jadi nomor kesekian. Untuk produk lain saja, kita suka terkecoh dikira merek nasional ternyata merek asing, atau kebalikannya.


Mungkin jumlah konsumen salon lokal akan berkurang dengan banyaknya salon Thailand yang masuk. Akan terjadi segmentasi di mana jenis customer berbeda untuk dua jenis salon ini. Berkurangnya konsumen bukan hal yang mematikan karena pada dasarnya dunia bisnis selalu berkembang, salon yang ada di negara kita secara natural akan tumbuh jumlahnya.

Ancaman untuk salon lokal ini harus dijadikan tantangan bagi mereka untuk terus inovasi service, kreatif dalam promo, guna meningkatkan kualitas. Dan mau nggak mau, salon lokal harus berusaha untuk lebih baik minimum sejajar dengan salon Thailand yang bersertifikasi internasional tadi.

Dan lagian, kenapa harus takut?
  1. Banyak sekali jaringan salon lokal yang populer, Rudy Hadisuwarno, IrwanTeam, Moz5, Martha Tilaar, dan lain-lain.
  2. Tumbuhnya salon-salon lokal yang seiring waktu terus berkembang.
  3. Di Jakarta, sudah banyak salon franchise dari Inggris dan US yang memasang harga tinggi, mereka punya segmen customer sendiri, dan kita nggak kenapa-kenapa tuh.
ASEAN Community 2015 harusnya dijadikan peluang, bukan ancaman. Aku berharapnya sih, kalaupun banyak salon dari negara ASEAN lain masuk ke Indonesia, salon merek lokal berarti punya peluang untuk masuk ke pasar negara ASEAN lain juga 'kan? ^^

16 comments:

  1. Semua itu tergantung dari kesiapan mental anak bangsa Indonesia yang berani mengambil sikap untuk bertahan dan berinovasi dalam mengembagi usahanya. Dengan adanya kemajuan teknologi dunia internet, hal ini juga bisa dapat ikut memperkenalkan produk salon dalam negeri ko, dan indonesia memiliki para kreator yang tangguh dan berkelas internasional untuk masalah ini.

    Asalakan para anak bangsa ini mau membantu dan mempromosikan setiap hasil produk dari bangsa Indonesia dalam setiap kekuatan komunitas media online yang ada, maka hal ini akan berdampak luar bisa bagi pembangunan ekonomi menengah kebawah.

    Dan masih banyak anak-anak bangsa Indonesia yang masih peduli dengan bangsanya sendiri untuk ikut memajukan dan melestarikan yang dimiliki bangsa ini, dengan gaya dan cara mereka masing-masing. Hingga masyarakat internasional sudah mulai gencar melihat potensi yang ada di Indonesia


    Salam wisata

    ReplyDelete
  2. Ketidakmampuan sebuah negara memproduksi suatu jenis barang dengan efisien membuat negara itu mengharuskan mengimpor dari negara lain...
    beugh,pembukaannya manteb,jatuh cinta aku na hahahaa....

    lagi-lagi produk kita g kalah bagus kok sam produk2 luar :D

    ReplyDelete
  3. Tapi bagaimana dgn salon lokal yg memiliki modal kecil? jika ditambah dengan banyaknya salon 'import', maka kemungkinan salon2 yg modal kecil ini akan semakin terjepit

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kok kayak pesimis banget sih Mbak... :D
      Lagian yang punya salon pasti mikirin kan gimana inovasinya... namanya entrepreneur kan memang sudah semestinya banyak ide...

      Delete
  4. Semoga salon Indonesia juga Go ASEAN ya :-)

    ReplyDelete
  5. jarang nyalon seh mbak un, tapi kalau salon2 lokal juga banyak yang di kampung2 tuh pasti beda harganya sama salon2 yang punya "nama" walaupun sama2 lokal beda lagi sama yang kayak thailand yaa -_-

    ReplyDelete
  6. setujuu...smoga kita ga kalah juga, salon2 lokal di Indonesia bakalan menjamur di wilayah Asean..;))

    ReplyDelete
  7. Ini peluang bisnis untuk buka usaha cukur rambut di New York. Hayooo tidak ada yang tidak mungkin. Selama itu masih halal, dan banyak pelanggannya, why not. Yang penting duit, fulus hieiheiheiehiehie. Money, Arto...

    ReplyDelete
  8. Tema Salon Thailand iki kok persis tulisane Mba Esti Na...
    Opo iki tulisan lomba?

    ReplyDelete
  9. Nek kabeh2 bukak salon, trus sing meh nyalon sopo?

    ReplyDelete
  10. Kalo ke salon yang deket dan masih seputaran kompleks, biasanya diajakin ngobrol ngalor ngidul selama potong rambut dst.
    Tapi begitu masuk ke salon yg agak gede, pake embel2 spa, jarang tuh diajakin ngobrol. Jd kadang aku tinggal tidur. Hihihi. Mgk kalo Thai salon masuk sini juga gitu deh... Jd salon lokal kyknya msh bisa bersaing lah.

    ReplyDelete
  11. salon-salon luar negeri memang ada pelanggannya sendiri, na. jadi ya oke2 aja sebenernya, asal ga diserbu ke seluruh penjuru :D

    ReplyDelete

Feel free to comment, criticize, and give suggestion ya!