Silaturahmi Ke Rumah Jim Thompson

Aku mengenal Jim Thompson sudah sejak beberapa tahun lalu, ibuku dan adiknya ibuku pernah menceritakan tentangnya. Dan baru-baru ini aku mendatangi rumahnya di Bangkok, Thailand.

Waktu itu aku dan temanku mencoba menumpangi Express Boat di sungai Chao Phraya dari dermaga Bang Po untuk turun di Central Pier (Sathorn/Taksin). Dari sana, kami jalan kaki sebentar untuk mencapai stasiun BTS Skytrain Saphan Taksin, tentunya untuk naik BTS menuju stasiun National Stadium, stadium terdekat dari rumah Jim Thompson. Tinggal jalan kaki sekitar 200 meter, sampai deh!


Jim Thompson ialah nama sebuah perusahaan sutra Thai. Pertama kali aku tahu Jim Thompson, ibuku suka bercerita dan aku pernah mendapat sebuah dompet koin sutra bergambar gajah bertanda plat Jim Thompson. Pas mau ke Bangkok, dan temanku juga ternyata tahu betapa kerennya produk Jim Thompson, kami memasukkan kunjungan ke museum Jim Thompson dalam itinerary.

Nama pendirinya tentu saja juga Jim Thompson bernama lengkap James Harrison Wilson Thompson, seorang Amerika yang lahir di Delaware, US pada tahun 1906. Ia mengenyam pendidikan arsitektur di University of Pennsylvania. Thompson pernah menjadi tentara sukarelawan hingga suatu saat keluar, ia bercerai dengan istrinya, dan pindah ke Thailand. Ia merevitalisasi keberadaan industri Thai silk membangun sebuah perusahaan bernama Thai Silk Company Limited. Peran dia dalam industri Thai silk, membuat makin tumbuh industri Thai silk yang ada.

Kepompong ulat sutra.
Dan katanya pada zamannya, dia merupakan orang Amerika yang tinggal di Asia yang paling ngetop dah. Dan yang paling seru, Jim Thompson disappeared begitu saja... tak ada yang tahu ia meninggal di mana. Salah satu peninggalan Thompson, adalah rumahnya yang kini dijadikan museum dan galeri.

Kebanyakan yang datang ke sana sih turis asing, dan ramai sekali. Untuk berkeliling rumahnya, kita dikelompokkan dengan turis lain karena bersifat guided tour. Tiketnya 100 THB (30 ribu rupiah) untuk orang dewasa dan untuk siswa 50 THB, sekitar 15000. Nggak mahal kan ya.


Rumah Jim Thompson terdiri dari enam bangunan bercorak Thai tradisional. Beberapa darinya digunakan sebagai kafe, showroom produk, dan toko suvenir. Nah pertama, kami dibawa berkeliling luar rumah utama Jim Thompson. Asri sekali, banyak pepohonan juga ada kolam. Di luar bangunan utama terdapat bangunan lain yang digunakan untuk ruang kerja Jim Thompson, tempat tinggal pekerjanya, dan lain-lain. Di lantai bawah rumah utama terdapat beberapa pajangan seni seperti patung dan ukiran ala Thai serta alat tenun tradisional.

Untuk masuk ke rumahnya, kami diharuskan melepas sepatu dan tidak diperkenankan untuk mengambil gambar di dalam. Kami pun naik tangga, dan whoaaaa..


Dari web Jim Thompson House.

Gilak gue pengen punya rumah kek gini. Sebagai penyuka seni dan kolektor, Thompson memajang patung dan benda tradisional dalam rumahnya. Banyak sekali yang bisa diceritakan dari isi rumahnya, beberapa yang menarik misalnya, ia menggunakan meja mahjong sebagai meja makan. Kemudian di pintu kamar tidur utama, ada penghalang sekitar 15 cm dari lantai. Jadi kalau mau lewat kudu ngelompati gitu. Alasannya adalah supaya tidak ada roh jahat yang masuk kamar. Meskipun sebenarnya ciri rumah Thai seperti itu supaya anak kecil atau tidak bisa mudah keluar.

Di kamar tidur tamu, ada pajangan keramik lucuuu banget bentuknya kucing. Eh taunya pispot bayi. Asem. Rumahnya menghadap ke kanal, jadi kalau dulu ke mana-naik perahu tinggal berhenti depan rumah gitu. Oh iya, meski Thompson bukan orang Thai, pembangunan rumahnya mengikuti ritual tradisional Thailand, bahkan pakai tanggal baik segala.



Sesudah tur, kami ke toko Jim Thompson-nya. Di sana menjual berbagai produk dari sutra, dompet, tas, taplak, buku sejarah tentang Jim Thompson, kaos, dan lain-lain. Aaaak, gak ada yang gak menarik. Tapi harganya itu loh... Dan yang aku beli cuma dompet sutra bermotif gajah kecil-kecil berwarna peach. Udah itu thok, dan nggak beliin siapa-siapa. *pelit*

Jim Thompson House
6 Soi Kasemsan 2, Rama 1 Road, Bangkok
Tel: (662) 216-7368 Fax: (662) 612-3744
Kalau naik BTS, turun BTS National Stadium.

Jam buka:
09.00-17.00

Tiket:
100 THB (Adults)
50 THB (Students, tunjukin kartu pelajar/mahasiswa)

41 comments:

  1. keren arsitekturnya.. pajangan berbentuk kucingnya juga seru.. eh pispot bayi...hihi :p

    ReplyDelete
  2. Saya taunya nama Jim Morrisson..

    ReplyDelete
  3. di indonesia ada nggak beginian? rasanya nggak ada. kalopun ada pasti tak akan seperti itu.

    ReplyDelete
  4. itu semacam art house kayak di Borobudur yaa...
    yg memproduksi brang kerajinan..
    btw, tu cakep juga cewek yg lagi menenun tau entah apa itu....
    :)

    ReplyDelete
  5. Wah Una jalan-jalan terus... ikuut dong...

    hem karena bentuknya yang lucu ketipu ya na sama pispot :D

    ReplyDelete
  6. Nggak kenal Jim Thompson Na, hahaha :D .

    Tapi kayaknya rumahnya memang keren ya :)

    ReplyDelete
  7. hehehehhehe ini tempat kesukaan kakakku Una... dan sudah pasti saya akan skip karena saya nggak suka (belanja) dan barang-barang girly lainnya...

    ReplyDelete
  8. kereen ya bangunannya, hampir sama kayak rumah gadang padang.. ;)

    ReplyDelete
  9. tau gak, sebelum meninggal dia ngopi bareng gue ...

    ReplyDelete
  10. kalau mau masuk kamar musti loncat 15 cm, kasihan yang pakai kursi roda

    ReplyDelete
  11. sayang waktu ke Thai, aku gak tahu tempat ini... Taunya malah Khaosan Road :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau itu aku juga tahuuu, rameee :D :D

      Delete
  12. wah,kayak di indonesia ya...jd pengen kesana

    ReplyDelete
  13. wah nambah pengetahuan nih, gue baru tau si Jim Thompson itu.. Kira-kira dia menghilang kemana ya ? Itu kali salah satu daya tarik museum itu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Gatau, dia habis ke Malaysia gitu trus entah deh~

      Delete
  14. duluuu banget pernah baca di Femina ceritanya Jim Thompson ini..senengnya Una bisa lihat museumnya ya..
    catet alamatnya ah..

    ReplyDelete
  15. Bentuk rumahnya kaya rumah panggung di Indonesia ya

    ReplyDelete
  16. Karyanya tak ada yg tak menarik, tetapi harganya alamak.. Lumayan Una pulang tdk tangan kosong. Salam

    ReplyDelete
  17. Meski mahal Una tidak keluar rumah sutra dengan tangan kosong kan. Salam

    ReplyDelete
  18. Sayangnya ga bisa diambil gambarnya ya Una... Jadi hy bisa membayangkan apa yg km ceritain...

    ReplyDelete

Feel free to comment, criticize, and give suggestion ya!