Rafting di Telagawaja

Affi & Una - Telagawaja

Rafting di Telagawaja

Partner perjalanan saya (alias sepupu saya) sangat menyukai permainan air. Saya sih ngga terlalu suka, tapi untuk pengalaman saya tentu mau-mau saja. Dia sudah mencari-cari tempat permainan air yang bagus lengkap dengan harganya di internet. Pertama, water sports di Benoa, yang kedua rafting. Rafting? WHAT? Nggak tau kenapa di otakku kok hal itu terdengar mengerikan. Bagaimana kalau nabrak batu? Kapalnya njempalik? Ketemu ular di sungai? Atau buaya?

Di Bali, untuk arung jeram paling terkenal adalah Sungai Ayung dan Telagawaja. Menurut observasi saudara saya, Sungai Ayung ngga terlalu seru. Nggak tahu atas dasar apa, saya pun juga malas cari di google wong saya juga sibuk sama ujian akhir (tapi bo’ong). Akhirnya, dalam pelaksanaannya, kami melakukan kegiatan arung jeram itu di hari keempat kami di Bali. Kami mendaftar di tourist information stall -yang banyak ditemukan di Kuta-Legian- di depan McDonald’s Kuta Square. Nama orangnya yang jaga, Pak Berlin (nggak penting, plak).

Rafting dikenai harga 300.000 per orang termasuk antarjemput. Yah termasuk mahal *nangis*. Tapi mengingat operator rafting yang kami pakai adalah orang asli Bali dan bukan orang asing, saya mengusap air mata saya. Paling nggak, saya nggak ngasih uang sama orang asing. (sok nasionalis)

Telagawaja adalah sungai level 4 yang terletak di Karangasem, Gianyar, sekitar 90 menit ditempuh dari Kuta. Beruntungnya kami, supir yang menjemput adalah orang yang menyenangkan. Namanya Pak Ketut (saya lupa sudah bertemu berapa orang yang bernama Ketut). Di perjalanan sih saya banyakan tidur :p Sesampainya di sana kami dipakaikan pakaian rafting yaaa dengan stuff-stuffnya begitulah. Kami sekapal dengan orang Cina yang sepertinya pasangan baru.

Rafting menempuh jarak 14 km, dalam waktu 2 jam. Lama juga, mengingat saya hanya pernah lihat teman saya main arung jeram di Taman Matahari yang mungkin jaraknya cuma 2 km :p Kami dipandu oleh Mas Ketut (lagi-lagi namanya Ketut), dan ternyata di arung jeram terdapat banyak instruksi:

Aku dan Mas Ketut

forward paddle: dayung maju
backward paddle: dayung mundur
boom-boom: loncat-loncat di kapal, kalau terkena hambatan
stop: berhenti dayung, dan pegang tali.
leanback: tidur ke belakang, kali aja ada pohon yang rendah.

Saat rafting, barang-barang berharga seperti handphone dan kamera disimpan dalam tas anti air yang diikat di kapal bagianbelakang. Perempuan asal Cina yang sekapal dengan kami dengan berani membawa I-Phone-nya untuk merekam. Saya juga ada lho di videonya, dia juga minta foto sama kami lho (jadi malu).  Dia sangat beruntung, waktu dia jatuh di sungai dia digendong sama suaminya (unyuuu). Nah aku jatuh kebelakang, ga ada yang mau narik. Mas Ketut juga ga mau bantuin, si Affi malah menertawakan -______-“

Saya sangat bersyukur saya masih diberi hidup sehingga dapat menyicipi rasanya arung jeram. Dan main ciprat-cipratan, sama kapal lain. Sayang, kebahagiaan itu selesai ketika kami telah mencapai finish point. Eh bukan-bukan, tetapi ketika kami mesti menaiki 200 anak tangga dari sungai untuk mencapai finish point. Salah satu mas-mas staf operatornya malah bilang begini, pas kita sudah terengah-engah, “Ada eskalator kok, tapi maksimal beratnya 50 kg.” KAMPREET!

1 comment:

  1. hahahahha pantes mas-masnya ga nawarin eskalator. tiwas jebol un :))

    ReplyDelete

Feel free to comment, criticize, and give suggestion ya!