Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Ngga Empati

Aku tuh tadinya kerja shift tengah malam di konbini (istilah minimarket di Jepang). Dari pukul 10 malam hingga enam pagi. Kemudian owner konbiniku memutuskan untuk menutup konbini pukul 12 malam, dan buka pukul lima pagi. Jadinya tidak 24 jam buka seperti sebelumnya. Jadilah kemudian shift-ku berubah menjadi shift sore dari pukul lima sore hingga sepuluh malam.

Awalnya, meski tutup pukul 12 malam, tetap ada satu orang yang standby di konbini untuk menerima barang dan menaruhnya di rak. Kadang-kadang aku masuk shift tengah malam kalau ada yang tidak bisa masuk. Serem lah sendirian di toko 😂 Mana suara kulkas bunyi banget lagi, takut kalau hantu yang gerakin 😂 Senengnya sih bebas makan makanan kadaluarsa (lebih tepatnya lewat dari 'best before'), udah kayak party sendiri 😄

Hampir semua jenis barang konbini datang di shift malam. Ada yang kami sebut 'daily', yaitu makanan yang datang selalu tiap hari, bahkan sehari tiga kali, seperti roti, onigiri, salad, sandwich, pasta, dan lain-lain. Kemudian ada 'hi-daily', yang artinya 'bukan daily', yaitu makanan seperti cookies, snack, permen, mi instan, energy drink, barang rumah tangga, dan barang keperluan toko seperti cup kopi, sendok, sumpit, dan masih banyak lainnya. Ada juga 'dorinku' alias 'drink' yang mana adalah berkarton-karton minuman dari air mineral, ocha, hingga wine dan bir. Selain itu ada 'chilled', ya pokoknya yang harus diletakkan di temperatur rendah, seperti yogurt, minuman berbasis susu, ocha dalam karton, dan lain-lain. Onigiri, pasta, salad, sweets juga termasuk chilled. Ada juga 'ice', dari es krim, makanan beku yang dijual, dan makanan beku untuk jualan gorengan di toko. Belum lagi ada buku dan majalah. Ditambah lagi ada paket internet shopping customer yang harus dicek. Buanyakkk kerjaannya! 😏 Belum harus menyapu,  mengepel, membuang sampah, dan membersihkan toilet. 😭

Lo kira kerjaan gue cuma jadi kasir? 😔 Ngga ada yang ngira deng. Ngga ada yang peduli juga. 😒 Suka kasian sama mas mbak Indomaret yang gajinya ngga seberapa. Jangan jutek-jutek sama mereka ya. Sama semua orang sih. 😏

Waktu konbini masih buka 24 jam, dengan shift dua orang aja tuh kerjaannya ngos-ngosan. Belum tentu kelar sampai jam enam pagi. Apalagi sendirian, ya meski nggak perlu melayani tamu sih.

Sekarang sih konbiniku tidak ada yang standby lagi saat tengah malam kecuali dua hari seminggu. Lainnya bener-bener no-man. Supir truk yang mengantar barang bisa masuk dengan sidik jari. Tapi barang yang datang saat tengah malam sekarang tidak banyak. Minuman, makanan kecil, mi instan, dan makanan daily jadi datang sekitar pukul 10 malam. 

Karena sekarang malam-malam ngga ada orang yang tunggu di toko, jadilah tugas yang biasanya dikerjakan tengah malam, harus dikerjakan oleh staf yang kerja di shift lain. Gampangnya, tugas kita makin banyak. Dengan kondisi korona kayak gini yang membuat penjualan turun drastis, owner konbini-ku rasa juga ngga mampu hire orang lebih. Tokoku yang ini setiap shift hanya dua orang. Kalau kamu lihat minimarket lain di Jepang bisa satu shift lebih dari tiga orang.

Barang yang datang malam hari tuh banyak banget, sampai-sampai toko tuh udah kayak maze, mau lewat di gangnya aja kiri kanan penuh kardus bertumpuk. Untungnya setelah pukul sepuluh malam, tidak terlalu banyak customer. Kasian sih customernya harus jalan di dalam toko terganggu dengan kardus yang banyak.

Dengan sebanyak itu barang, orang yang kerja shift malam hingga toko tutup hampir tidak bisa membuka semua kardus barang untuk ditaruh di rak. Kadang-kadang ada barang yang tidak sempat ditaruh di rak karena tidak ada waktu. Biasanya staf yang kerja keesokannya bertugas menyelesaikannya.

Selain shift sore dari pukul lima sore hingga sepuluh malam, aku juga bekerja di shift pagi dari pukul lima pagi hingga satu siang di hari Minggu. Yang biasanya shift pagi tuh santai, sekarang jadi tambah tugas menyelesaikan barang-barang yang belum dibuka dari kardus.

Partner kerjaku dari pukul sembilan hingga satu siang tuh hampir setiap minggu mengeluh karena tugasnya jadi lebih banyak.

"Yang kerja shift malam tuh ngapain aja sih kerjanya? Kok selalu ada aja barang yang tersisa? Pasti K-san (nama orang yang tadinya kerja tengah malam, sekarang kerja shift sampai toko tutup) banyak menganggur. Dia kan pernah ketahuan main hape sama manajer toko kita."

Hampir tiap minggu kalau ketemu temanku ini pasti dia 'menyalahkan' si K-san yang menurutnya paling 'tidak bisa kerja.' Aku tahu K-san kadang suka memegang hape, di toilet suka lama banget, tapi kerja dia paling berat. Temanku yang mengeluh ini tidak tahu seberapa banyaknya barang yang datang saat malam hari. Karena hanya satu orang saja yang menyelesaikan ini, selalu tidak selesai dalam dua jam. Yang satu orang lagi juga membantu tapi harus lari ke kasir kalau ada customer. Temanku nggak tahu bagaimana kerjaan tengah malam yang awalnya dikerjakan delapan jam jadi harus dikerjakan dalam dua jam saja. 😓

"Barang malam yang datang tuh banyak banget tau. Wajar lah kalau nggak selesai."

"Ya tapi kan dia bisa stay di toko lebih lama buat menyelesaikan tugasnya." 😒

Aku yang bekerja dengan K-san setiap hari Senin pukul lima sore hingga 10 malam pun awalnya mengeluh karena merasa berat. Karena K-san harus stay di kulkas untuk menaruh minuman, dan 'berkeliaran' untuk menaruh barang lain di rak, sedangkan aku stay di kasir sambil mencuci tray gorengan dan peralatan penggorengan yang banyak banget itu. Mau nggak mau aku harus mencuci sambil memperhatikan apakah ada customer yang sedang antre. Itu lumayan ribet karena mencuci penggorengan pakai sarung tangan sedangkan kalau mau pegang kasir harus copot sarung tangan. Bolak balik pasang copot pasang copot capek deh. 😢 Lama kelamaan aku terbiasa, apalagi aku pikir K-san kerjanya lebih berat dari pada aku. Kalau antrean customer panjang banget baru aku panggil K-san untuk datang ke kasir.

Suatu hari aku harus kerja sampai toko tutup karena menggantikan teman yang biasa kerja pukul 9.30 sampai 12 malam yang sedang sakit. Hari itu adalah hari libur nasional Jepang. Jadilah customer banyak banget, sampai cucianku nggak berprogres. Barang yang datang pukul 9.30 sampai 10 malam banyaknya minta ampun. Cuma makanan daily chilled yang sanggup aku taruh ke rak. Lainnya nggak sempat pegang. Sampai pukul setengah satu pagi barang di kardus yang belum dibuka lebih banyak dari biasanya. Sedangkan kardus minuman semua telah diselesaikan oleh K-san. 

Sekali itu aku kerja sampai toko tutup, makin terasa seberat apa orang yang kerja shift malam hingga toko tutup. Aku yang awalnya sedikit suka 'ngrasani' K-san, part dia kalau dipanggil suka nggak denger aja sih, tapi aku nggak kesel yang gimana, jadi memutuskan untuk nggak ngomongin 'keburukan' K-san. 

Dan teman shift siang masih selalu saja 'ngrasani' K-san... meskipun aku bilang kalau malam tuh barang banyak banget. Kalau ngga ngerasain shift malam sendiri, emang nggak tahu kayak apa beratnya sih. 😔

Sekarang kalau temanku mengeluh shift siang tugasnya jadi banyak banget, aku cuma heem heem aja. 😔

10 komentar untuk "Ngga Empati"

  1. Jane sing dirasani (K-San) yo weruh mbak,
    Cuma males aja mungkin dia nanggapin.
    Ternyata daya beli disana jg ikut nurun ya? sama kaya disini.

    Duh aku dah berapa lama ya nggak blogwalking kesini haha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyaaa dia juga sadar kalau anak shift lain pasti bakal ngeluh.
      Pastinya daya beli menurun tapi tokoku berkurang drastis soalnya lokasinya dekat tempat wisata, jadi berasa banget.

      Hapus
  2. Kadang dengan pernah ngerti apa yg dilakukan orang lain, buat kita lebih berempati ya.

    BalasHapus
  3. Aku bayangin kalau sering masuk shift malam gini badan rasanya remek, cape. Ya wajar aja K-San kalau perlu refreshing. Stay healthy ya Una. Semoga wabahnya lekas udahan dan tokonya kembali rame sama pengunjung

    BalasHapus
    Balasan
    1. Capek mbak, dan ngga sehat. Amiin...

      Hapus
  4. Unaaaa kece udah baito aja nih di kombini, hahaha aku bayangin kalo ke jepang ada yang ngelayanin pas malam rata-rata agak unik ternyata gini ya pembagian shiftnya hahaha, jadi kangen sama jepang aku tuh.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Udah lama ya ngga ke Jepang hahaha padahal tahun lalu aja kita ketemu di Jepang

      Hapus
  5. Kalau di minimarket itu jadi semuanya dikerjain sama staf ya na? Aku baru tahu jelasnya di cerita ini deh, selama ini mikirnya kalau kasir ya kasir aja

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semua mbak... tugasnya dibagi. Kalau di toko yang Stasiun Kyoto udah dibagi2 tugasnya apa aja tiap shift, kalau di toko yang satu lagi karena cuma berdua bagi2 tugasnya tergantung kesepakatan antara dua orang aja.

      Hapus