One of the Best Private Museums in Indonesia

Saya sering melihat di linimasa jejaring sosial, teman-teman check-in di Antonio Blanco Renaissance Museum. Saya sama sekali tidak tahu mengenai museum tersebut kecuali tentang Antonio Blanco yang merupakan seorang pelukis. Sampai akhirnya saya sendiri terkagum-kagum dengan museumnya… dan memang, museum ini menurut saya salah satu yang terbaik di negeri ini!

Museum Antonio Blanco terletak di kawasan Campuhan, Ubud. Dari Ni Rondji, restoran dalam area museum yang dinamai dengan nama istri mendiang Antonio Blanco, kita dapat melihat pemandangan rumah-rumah dan bukit yang sangat indah. Memasuki gerbang kecil ke arah bangunan utama museum, kemudian di sebelah kanan terdapat beberapa ekor burung cantik yang sedang bertengger. Jenis burungnya antara lain Makaw/Makau, Kakaktua, dan Jalak Bali. Harganya di pasaran pun bukan main-main, kisaran 100 hingga 250 juta rupiah per ekornya. Museum Antonio Blanco tak sekadar ‘mengkoleksi’ burung-burung cantik itu, melainkan juga menjadi konservator karena rupanya dahulu hanya memiliki tiga pasang Jalak Bali, hingga kini menjadi 250 ekor.



Beruntungnya kami, saat itu kami disambut oleh Mario Blanco, salah satu anak Antonio Blanco, dan dua anaknya Fortunia dan Felicia. Mario Blanco menceritakan dengan detil siapa sebenarnya Don Antonio Blanco ini. Antonio Blanco lahir di Filipina dan berdarah Spanyol-Amerika. Ia tiba di Bali tahun 1950-an dan kemudian menikahi modelnya, Ni Rondji, tahun 1953 dan memiliki empat anak. Ia diberi seluas tanah oleh Raja Ubud saat itu dengan janji untuk mempromosikan Bali ke khalayak dunia. Ada beberapa pelukis asing yang menetap di Bali, namun hanya Antonio Blanco yang memilikii keturunan orang Bali.

Di depan bangunan museum terdapat patung yang berbentuk aneh, menyerupai bentuk makhluk, namun ternyata bukan. Rupanya adalah patung tanda tangan Antonio Blanco yang dicerminkan.

Tanda tangan terbesar se-Indonesia.
Kemudian kami masuk ke dalam bangunan museum yang terdiri dari dua lantai dan rooftop. Lukisan Antonio Blanco sebagian besar bertemakan keindahan wanita, termasuk terdapat lukisan istrinya yang sedang menari. Namun ada lukisan bertema lain semisal wajah Mario Blanco, wajah kecil Meutia Hatta, kelapa, dan lain-lain. Yang sangat unik dari lukisannya adalah tiap lukisan memiliki bingkai yang berbeda-beda. Seperti lukisan kelapa yang dibingkai dengan pigura berbentuk kelapa pula. Selain itu, ada lukisan yang tak hanya menggunakan media cat saja, namun juga ditempeli berbagai potongan koran dan sabun. Penasaran? Mampir dong ke museum ini, hihihi.

Mario Blanco sedang menjelaskan tentang ayahnya.

Di rooftop, kita dapat melihat beberapa patung tari bali yang berwarna emas.



Kemudian kami dipandu ke galeri Antonio Blanco, yang sebelum masuk kita dapat melihat foto keluarga besar Antonio Blanco. Di galeri terdapat banyak lukisan pula yang tidak dipajang di museum, seperti lukisan Michael Jackson. Di depan galeri terdapat toko souvenir, dan apabila teman-teman berminat bisa berfoto ala-ala pelukis seperti ini.

Megang paletnya pelukis banget sumpah =.=
Antonio Blanco telah meninggal pada 10 Desember 1999, namun ketika mengunjungi museum ini, saya merasa beliau merupakan pribadi yang sangat lucu dan unik, melihat hasil-hasil karyanya.

Berkunjung lagi? Tentu saja… kalau berkunjung lagi, aku ingin coba juga makan di restoran Ni Rondji-nya…

Antonio Blanco Renaissance Museum
Campuhan, Ubud, Bali – Indonesia
PO Box 80571
No. Telp: +62361 975502
Fax: +62361 975551

Tiket wisdom: 30.000
Tiket wisatawan asing: 80.000
Jam buka: Senin-Minggu 09.00-17.00
Informasi lebih lanjut tentang Ubud: http://indonesia.travel/sites/site/277/ubud

9 comments:

  1. Jadi inget dulu pernah ada tv seriesnya tentang Antonio Blanco.

    Ide gapura dari tanda tangan yang dicerminkan itu keren banget!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah iya, di museumnya juga diputer tuh sinetronnya. Belum pernah nonton euy :(

      Delete
  2. Museumnya memang keren dan menarik banget ya Na!!

    ReplyDelete
  3. Iihh seru. Jadi kepengen ke bali 😆

    ReplyDelete
  4. wah, pas ke Ubud kok aku ga ke sini kenapa ya... ntar lagi deh

    ReplyDelete
  5. aku gak mampir kesana kemarin cuma lewat aja, udah kemaleman

    ReplyDelete

Feel free to comment, criticize, and give suggestion ya!