Tas Baru Dari Brisbane

I try my best untuk selalu travel light. Bawa baju nggak usah banyak-banyak, malah sepertinya kalau pergi aku selalu nyuci baju. Apalagi kalau pergi sama mamaku, sebisa mungkin koper nggak masuk bagasi. Kalau tujuannya ke luar negeri yang negaranya lebih makmur mah nggak apa-apa, keluar imigrasi biasanya bagasinya udah ada di conveyor belt. Nah di Soekarno Hatta... aku pernah dong nunggu bagasi keluar sampai lebih dari satu jam. Bete nggak tuh? Eh tapi pada praktiknya... terakhir pergi ke Gold Coast pergi sih travel light, isi koper cuma seperempat, masuk kabin. Balik-balik, di sana belanja ini itu, berat juga koper, masuk deh bagasi, hahaha...

Selain itu kalau jalan-jalan, maunya sesimpel mungkin. Nggak mau ribet. Nggak lagi bawa SLR dan cuma bawa poket. Kalau jelek warna gambarnya... ada photoshop. Ruginya poket nggak bisa foto wide, ah tapi nggak masalah.

Stasiun Nerang.

Reborn Your Hair with Ellips Hair Vitamin

Setiap hari manusia menghadapi ribuan masalah. Dari rambut saja, aku bisa menyebutkan setidaknya sepuluh masalah rambut yang kuhadapi. Belum masalah lain, ditambah dari masala(h)lu dan masa depan. Ah... hidup.

Sebelum kuliah, sepertinya aku tidak mengalami masalah rambut yang parah. Pasalnya, aku selalu dipotong pendek seperti potongan laki-laki. Panjang sedikit, dipotong karena sumuk. Selain itu, ke sekolah juga pakai kerudung, jadi kalau bermasalah pun, aku tidak terlalu ngurusin, wong juga ndak kelihatan. Sejak SMA, rambutku tak pernah benar-benar berwarna asli, setiap tahun rambutku bisa mengalami 2-5 kali pewarnaan, tapi lagi-lagi aku tidak menemui masalah yang berarti pada rambutku.

Namun itu semua berubah ketika aku memutuskan untuk memanjangkan rambutku.......

Aku nggak akan pernah tahu kalau rambutku sekeriting itu kalau tidak coba memanjangkannya. Waktu rambut pendek, tidak terlihat kriwilnya, sih. Kemudian baru sadar, kalau rambut panjang + keriting + diwarnai terus sama dengan masalah besar! Bayangkan! Rambutku kalau basah, panjangnya sepunggungku. Tapi kalau kering, sebahuku. Jadi berapa centimeter rambut yang melingker-lingker di rambutku nggak karuan? Itu berarti bisa timbul masalah yang dinamakan = KUSUT.

Cara Mencerahkan Kulit dengan Kojiesan

Saat itu aku usai mengambil produk perawatan rambut yang hendak aku beli, kemudian aku melihat-lihat di bagian perawatan tubuh. Aku kemudian memegang kemasan sabun Skin Lightening Soap Kojiesan karena tertarik dengan gambar desain gambar perempuan Jepang pada kemasannya. Tak lama, mbak-mbak pegawai Guardian itu mendekatiku dan bilang,

“Wah itu bagus lho, Mbak. Banyak yang suka sama produknya.”

Dan mbaknya berlalu begitu saja……… tahu kan biasanya kalau di toko seperti itu biasanya mbaknya mendampingi mulu? Ini kok cuma lewat mau bilang kalau produk itu bagus. Mbaknya sukses deh membuatku membeli Skin Lightening Soap Kojiesan.

Beberapa hari kemudian, aku bertemu temanku, dia membawa tempat makan yang isinya potongan kecil-kecil berwarna oranye. Rupanya, itu Skin Lightening Soap-nya Kojiesan. Temanku juga bilang kalau Kojiesan bagus. Dia membagi sabunnya menjadi potongan kecil-kecil karena menurut dia, sabunnya cepat meleleh. Dia hanya memakai sabun Kojiesan tersebut untuk area wajah dan area yang terpapar matahari seperti tangan dan kaki. Waktu itu aku jadi ingat Kojiesan yang kubeli, belum kucoba…

Sekarang, sudah hampir dua bulan aku pakai Kojiesan.

Bakso IKEA

Tiba-tiba seorang temen gue ngajak jalan. Ke IKEA katanya. Wuaaah tentu saja girang. Tapi katanya... kalau personil nggak lengkap, nggak jadi. Hm? Personil? Gue lupa kali ya mungkin kita dalam satu girlband, hm?

Kemudian di hari H-nya kita menuju IKEA Alam Sutera Tangerang dari kampus kita di Depok. Dan jauh yaaa gileee... Aku excited sekali karena penasaran banget sama bakso yang banyak orang bilang. Si temen gue ini gue tanya kenapa tetiba ngajak ke IKEA, soalnya katanya gue berkali-kali bilang pengen ke IKEA mulu. Emang iya ya? Besok-besok mau coba bilang pengen ke Paris deh, kali aja dia langsung ngajak ke sana...

Let us take a selfie. Diblur demi menghargai privasi teman saya. =))

Birthday Gift For Retno

Gue nggak tahu mau mulainya gimana, hahaha.

Gimana sih kalau ada temen lo yang nggak berhenti pesen, "Tulisin tentang gue dong di blog lo!" Dan pesennya udah dari dua tahun lalu. Mau mungutin bayaran kan nggak enak ya? Hahaha... Belum juga nulis-nulis dan pas kapan tuh, kujanjiin nulis di hari ulang tahunnya. Salah banget yak pakai janji-janji.

Dan hari ini hari ulang tahunnya. Woo-hoo! Ke 24! TUA!

Okay, I'll start now~

Natural Honey Special For Your Skin

Temanku yang lagi ngedandanin diriku tiba-tiba mengeluh.

"Na, muka lo ini kering banget sih?"

"Hmmmm, tangan gue juga, nih liat," seraya mencoret-coret tangan laksana mengerjakan soal matematika di papan tulis hitam pakai kapur. Nggak lama temanku sewot sendiri. Diceramahinnya lah aku, betapa penting menjaga kulit supaya tetap lembab karena kalau nggak, bakal penuaan dini.

Sejak saat itu aku selalu ingat nasihat teman tadi akan pentingnya body lotion. Yeah, setelah itu aku jadi agak rajin pakai body lotion. Agak doang, soalnya kalau males dan pusing suka nggak pake...

Setelah kuperhatikan lagi, sebagian besar produk body lotion yang aku pakai adalah merek asing. Bukan karena apa-apa, soalnya belum nemu body lotion produksi lokal yang baunya pas di hidungku. Meski mungkin khasiatnya mah nggak beda, atau lebih baik malah karena diproduksi sesuai kulit tropis.

Makanya aku excited waktu BBlog dan Natural Honey memberiku satu boks body lotion produksi lokal Indonesia untuk diulas: NATURAL HONEY.

Ngga Semua yang Haram Itu Enak

Aku percaya kalau diharamkannya sesuatu itu bukan tanpa alasan. Misalnya, makan babi. Jaman sekolah sih dulu dibilangnya alasannya babi itu sarang cacing pita. Tapi ternyata babi ini secara genetik mirip manusia (pantesan banyak manusia kayak babi #ngaca), sehingga kalau babinya ada penyakit bakal gampang kena ke kitanya. Ada lagi yang bilang karena secara DNA mirip, babi ini lebih cocok buat jadi obat atau transplan organ ke manusia ketimbang dimakan. Eh tapi katanya obat dari babi haram juga sih.

Atau lagi, kayak mencuri. Mencuri kan mengambil hak orang lain, merugikan orang lain. Atau lagi, kalau teman minjam uang, kasih bunga yang besar? Haram juga kan... Tapi memang yang haram-haram itu banyak yang enak. Kata beberapa temanku, babi itu enak pake banget. Ngomongnya penuh semangat gitu seakan emang beneran enak. Mencuri sama nerima bunga utang banyak juga enak, dapet untung. Oiya, judi juga 'enak'. Kayak aku cerita beberapa waktu lalu...

BZNZ KLZ

Naik pesawat duduk di business class rasanya sudah bertengger di wishlistku dalam beberapa tahun. Apalagi lihat Instagram-nya Syahrini, makin termotivasi. Lebih tepatnya makin sirik sama Syahrini. Pengen juga naik first class. Tapi apa daya yaaa... belum mampu dan belum ada yang mau mbayari jadi ya sabar aja deh sambil usaha dan berdoa.

Bukannya nggak pernah naik business class, pernah sekali dulu 17 tahun lalu nah loh gue juga udah kagak inget. Ingetnya cuma part tivi-nya bisa dinongolin dari pegangan tempat duduk. Sama waktu itu tengah malam, udah pada tidur semua, eh pramugarinya ngajak main aku trus aku digambarin sama dia. Udah. Ya anggep aja belom pernah lah yaaa... But then, belum lama ini akhirnya aku naik business class jugaaa! Sayangnya bukan pengalaman yang memuaskan.

Pertama Kali Main Judi

Untuk masuk ke area kasino di Macau, pengunjung harus berusia di atas 21 tahun. Tiga tahun lalu, peraturannya usia minimum adalah 18 tahun. Ingat sekali tahun 2012 aku pergi ke Macau, ingin masuk ke area kasino namun dicegat sama satpamnya. Disuruh menunjukkan paspor. Setelah satpamnya melihat pasporku dan umurku di atas 18 tahun, dia bilang, "Beautiful!" HAHAHA, senang sekali diriku... yang ngomong nenek-nenek, padahal. Selain itu agak geer, berarti tampang gue look young yaaa...

Iyain aja udah.

Saat ke Macau terakhir karena lomba dari VIVA.co.id dan MGTO Indonesia, usia minimumnya naik. Tetiba juga ingat kalau tiga tahun lalu umur minimal 21 tahun, aku belum bisa masuk tuh, hehehe... Oiya katanya sih karena banyak kasus teenager main ke sana, jadinya dinaikkan. Sedih deh, waktu masuk ke tempat kasino, satpamnya membiarkanku melenggang masuk ke arena itu. Nggak ada yang mencegat aku! Sediiihhh. Berarti sekarang tampangku sudah tua...

Premonisi

Bulan Januari dua tahun lalu, aku dan temanku Bellita ikut one day tour ke Ha Long Bay, Vietnam. Di dalam bus, kami duduk di depan dua turis Jepang, ibu-ibu yang kira-kira berumur 50-an. Atau 60-an malah. Mereka sudah punya cucu semua. Dengan kemampuan berbahasa Jepang hampir nol, hanya sedikit plus karena di SMA pernah belajar dan dari dorama, serta komik, kami bercakap-cakap dengan dua turis Jepang tersebut.

Dari dua ibu tadi, hanya satu yang bisa Bahasa Inggris itu pun lebih buruk dariku, yang satu sama sekali tak bisa berbahasa Inggris. Tapi kami bisa juga ngobrol-ngobrol. Meski nggak lancar sih ngobrolnya, ada nggak nyambungnya. Kami membahas artis-artis Jepang yang aku dan temanku tahu (yang ibu yang tidak bisa Bahasa Inggris tahu, tapi yang satu tidak tahu), atlet badminton Indonesia yang kata ibu tersebut keren tapi sampai sekarang I can't figure who is him karena dia lupa namanya, dan tentang Indonesia dan Jepang yang lain.

In an 'Aku-Kamu' Relationship

Gara-gara baca tulisan Kak Beby Rischka jadi ingat mau tulis tentang kata ganti orang pertama-kedua ini. Kata Kak Beby, kalau di Medan ada orang bercakap-cakap pakai lo-gue, bakal dikira orang sok/songong. Kalau di Jakarta (di lingkungan sekolah terutama) kalau nggak pakai lo-gue malah dikira ada apa-apa, dan itu aku baru tahu setelah beberapa saat aku pindah ke Jakarta.

Sebelum SMA, aku tinggal di Jogja sekitar enam tahun. Kemudian pindahlah diriku ke rumah mamaku di Jakarta. Semua orang kalau ngobrol (di sekolah) pakai lo-gue. Bukan hal yang susah buat diriku bercakap-cakap pakai lo-gue wong dulu aku SD di Jakarta. Tapi nggak tahu lah keterusan pakai aku-kamu gituuu. Aku kira mah biasa aja ya. Paling cuma dipandang sok imut (kaga ada sumpah yang mikir kayak gini). Eh ternyata...

Thanks to 2014!

In early 2014, I got a 'shock therapy'. My school (academic staff) called my mom asking why I haven't finished my thesis yet. Actually I thought they first tried to call me, but my phone was off because I was in Phiphi Islands, no signal. Then my mom told that I was in Thailand at that time. So honest one, huft. After that I promised I wouldn't travel around after my thesis finished but broke my promise in August. I went to Australia (my mom's fault cos she's the one who asked me to accompany her =)) ) and Macau also in November.

2014, my thesis hasn't been finished yet, failed in Japanese Language Proficiency Test (JLPT), haven't taken TOEFL or IELTS, still not financially independent yet, but very happy laah a whole year! Thanks to 2014! These below are only a few of MANY reasons why I love 2014: