Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Dari Kang-Yu Menjadi Mas-Mbak

Beberapa hari lalu, aku menonton sebuah video di Instagram unggahan seorang selebgram muda Indonesia bernama Bunga Salsabila. Bunga merupakan penyanyi cilik yang berasal dari Boyolali dan masih berusia 12 tahun. Yang aku kagumi darinya adalah ia bisa berbahasa Jawa halus. Pada zaman sekarang, sepertinya sudah jarang generasi muda yang bisa berbahasa Jawa halus.

Di video yang tak sengaja kulihat dari halaman Explore Instagram, Bunga bersama adiknya bercakap-cakap. Adiknya memanggil Bunga dengan panggilan Yu. Aku cukup terkejut dan seakan-akan bertanya, “Masih ada generasi sekarang yang menggunakan Yu?”

Dalam bahasa Jawa, panggilan untuk kakak laki-laki dan perempuan adalah Kangmas dan Mbakyu. Dari kata-kata tersebut, kita biasa memanggil orang yang tidak dikenal atau teman yang berumur lebih tua dengan Mas atau Mbak.

Aku mencoba mengingat panggilan yang digunakan di dalam keluargaku. Tidak ada yang memanggil kakak laki-laki dan perempuan dengan sebutan Kang atau Yu. Semuanya memanggil dengan Mas dan Mbak. Bahkan, aku sebagai cucu perempuan tertua di keluarga nenek dari ibuku, hampir tidak dipanggil Mbak oleh adik-adik sepupu yang lebih muda dari umurku. Nama saja. Kok, pada tidak sopan, ya, kepadaku?


Namun, aku mendengar anggota keluarga besar yang memanggil Kang dan Yu di generasi nenekku. Misalnya, adik nenekku memanggil nenekku Yu, dan nenekku memanggil kakak laki-lakinya Kang. Sebaliknya, tidak ada sama sekali yang memanggil dengan sebutan Mas dan Mbak.

Aku pun bertanya kepada ibuku via WhatsApp–ya, sebenarnya aku ingin bertanya langsung tapi apa daya jarak yang sangat jauh ini–mengapa tidak ada lagi orang yang memanggil dengan sapaan Yu dan sejak kapan semua berubah menjadi Mas dan Mbak.

Ibuku menjawab bahwa panggilan Yu terkesan ndeso sehingga orang beralih ke panggilan Mbak. Menurutnya, panggilan Mas dan Mbak dimulai sejak generasi ibuku yang lahir di tahun 1960-an. Saat ibuku masih muda, ia biasa memanggil temannya Yu hanya sebagai ledekan saja.

Aku pun mencari di mesin pencari Google tentang sejarah perubahan panggilan ini. Aku malah menemukan sebuah blog milik dinayuuhuu, yang juga bertanya-tanya tentang transformasi penggunaan Kang Yu menjadi Mas Mbak ini. Ayah ibunya yang kelahiran tahun 1961 dan 1965 masih menggunakan panggilan Kang dan Yu, sedangkan tantenya yang kelahiran 1968 sudah menggunakan Mas dan Mbak.

Aku juga mengangguk-angguk membaca tulisan bahwa ia bingung mengapa yang digunakan Kang–Yu dan Mas-Mbak. Padahal, kata aslinya Kangmas dan Mbakyu. Kenapa bukan Kang–Mbak dan Mas–Yu agar sama sumber suku katanya.

Saat ini, malah Mas dan Mbak sudah dianggap ndeso dan rendahan sehingga panggilan Kakak lebih banyak digunakan. Menurutku, ya, sangat wajar karena bahasa selalu berubah seiring dengan waktu. Mungkin di masa depan panggilan Kakak yang akan dianggap ndeso dan bisa tergantikan dengan panggilan lain. Engga tahu juga.

Sebelum panggilan Kang dan Yu punah, aku jadi ingin menyapa teman-teman semua: Piye kabare, Kang, Yu?

2 komentar untuk "Dari Kang-Yu Menjadi Mas-Mbak"

  1. Kabarku apik, Yu. Heheh. Iya bener, Kang dan Yu dianggap ndeso padahal yo rakpopo yo.

    Anakku sing mbarep rak gelem lho diundang mbak. Deknen njaluke kakak. Padalo aku rak ngajari. Pengenku sih mbak. Yak e deknen ndelok sekitare yak e ya do nyeluk kakak.

    BalasHapus