My (New) Life in Tasmania

Saat aku di Jakarta, travel mate-ku, UU dan Rainie memutuskan untuk pindah dari Tasmania ke Mildura. Mereka mendapatkan pekerjaan grape picking dan sudah membeli tiket feri di jadwal tiga hari setelah aku tiba di Tasmania. Aku tidak pikir panjang saat mereka memutuskan untuk pindah ke Mildura. Tahunya aku ikut saja dengan mereka. Toh, sudah tiga bulan aku tinggal di Tasmania dan ingin mencari suasana baru. Meskipun aku tahu pindah membutuhkan biaya yang tak murah.

Aku tiba kembali di Tasmania seminggu lalu (1/3) dan hari itu aku memesan tiket feri dari Tasmania ke Melbourne. Aku mulai kerja lagi sehari setelahnya. Jadi rencananya aku kembali ke Tasmania, kerja dua hari kemudian cabut dari Tasmania. Hari pertama kerja setelah pulang dari Indonesia kok rasanya nyaman banget ya. Teman-temannya juga asyik, supervisor-nya juga membantu banget. Aku sudah bimbang untuk stay saja di Tasmania. Tapi kalau stay, aku ngga punya mobil, ngga bisa nyetir, lalu bagaimana pergi kerja ya kan. Di hari itu aku sudah bilang ke beberapa teman kalau aku prefer untuk stay.

Sampai H-2 berangkat akhirnya aku memutuskan untuk stay. Aku re-fund tiket feriku H-1 sebelum berangkat.

UU dan Rainie agak syok dengan keputusanku, tapi aku nggak. UU bertanya, kenapa aku nggak jadi ikutan mereka~ aku bilang aku suka di sini dan malas pindah. Mereka sepertinya agak kecewa karena mereka mengharapkan aku mengikuti mereka. Ditambah sebenarnya UU juga ingin tetap stay karena barusan jadian sama cowok Korea tapi harus putus karena akhirnya si cowok Korea memutuskan untuk stay di sini (dan aku sekarang sekamar dengan dia, bednya sebelahan LOL). Alasan utamaku juga sebenarnya pengen pisah sama UU dan Rainie karena sudah tiga bulan bareng. Somehow aku pengen me-time gituuu... #gaya

Meskipun berpisah, aku ngga sedih karena somehow yakin bakal ketemu lagi. Ini merupakan farewell ke-empat kami dan kami pun selalu bertemu lagi. Jadi sudah get used to dan ngga sedih babar blas.

Aku pun segera book hostel yang berada di tengah pusat desa karena bakal lebih convenient buat aku. Rumahku sebelumnya letaknya dua kilometer dari town centre dan kalau jalan kaki ke supermarket bisa 40 menit sendiri. Kalau ngga ada mobil kan susah kan ya bok.

Hanya tiga malam bertahan di hostel itu karena kemudian aku pindah rumah lagi ke rumah temanku yang masih punya satu bed kosong. Rumahnya sudah sangat tua dan antik, kamar mandinya pun jelek udah bocel-bocel kayak rumah di Indonesia gitu deh. Tapi pertimbanganku lebih murah, Cuma 75 dolar per minggu dan temannya tak hanya berbahasa Mandarin. Ada orang Jepang, Korea, dan Jerman.

Yah, dan akhirnya aku pindah ke rumah baruku yang sekarang.

Pakai B612 soalnya mukanya item semua, hahaha. Teman sekamarku yang ngga berhenti bikin gue ngakak.
Aku kira bakal awkward di sini ternyata teman sekamarku kocak abis anaknya. Pas malam pertama ketawa berdua ngga jelas sampai teman kamar sebelah suruh kita diem. 😌

Aku baru pindah tadi malam dan hari ini (8/3) aku day off karena kemarin kecapekan mendaki gunung. Gunungnya tidak terlalu tinggi, puncaknya hanya 1200 m dpl tapi nama pun ngga pernah hiking, hiking 6 jam pulang pergi capeknyaaa... nggak lagi-lagi gua mau diajakin hiking naik bukit atau gunung. Kok ya kemaren aku mau sih... tapi emang bagus banget sih pemandangannya.

Tiga setengah jam daki masih bisa senyum demi foto.
Kapan-kapan aku tulis tentang cerita perdakian gunung yang kemarin aku lakukan. 😊
Sekarang aku berasa sendiri karena sudah tidak tinggal lagi sama travel mate-ku yang mana aku harus masak sendiri sekarang, nyari tumpangan untuk pergi ke farm (sementara sama temanku si Korea tapi mungkin dia bakal pindah picking stroberi -dan aku picking blackberry), dan kudu ngobrol sama teman baru.

Tapi bebas juga sih, bisa datengin kafe di town centre satu-satu sendirian and chill~ karena pas bareng mereka rumah kita jauh dan kalau jalan kaki sendiri pasti diinterogasi dulu mau ngapain dll.

4 comments:

Feel free to comment, criticize, and give suggestion ya!