Aceh Rawan Pelecehan Seksual?

Iya.

Dari hasil riset yang dilakukan oleh The Foundation Kita dan Buah Hati, Provinsi Aceh berada di ranking satu dalam jumlah tindak kejahatan pelecehan seksual di Indonesia. Tapi selain itu, saya yang beberapa bulan lalu hanya dua malam menginap di Banda Aceh pun mengalaminya.

Hari terakhir saya dan teman berlibur di Aceh adalah hari Jum’at. Penerbangan yang membawa kami pulang adalah sore hari sehingga siangnya masih bisa jalan-jalan. Seusai check-in, kami menumpangi becak motor untuk singgah ke Museum Aceh, PLTU Apung, dan Kapal di atas rumah, di Lampulo. Ngomong-ngomong, supir becak motornya mirip Teuku Wisnu. Serius.

Karena sudah hampir menjelang shalat Jum’at, akhirnya kami minta diturunkan dekat KFC. Maksudnya biar bisa jajan gitu. Sempat terpikir, kalau Jum’atan kan tutup ya KFC, pas sampai sana eh iya tutup. Akhirnya kami berpisah dengan bapak becak motor. Sambil menunggu Jum’atan kelar dan KFC buka, kami duduk di halte di depan persis KFC.

Yang bisa dijelaskan mengenai suasana jalanan saat Jum’atan di Banda Aceh adalah super sepi abis banget. Mobil motor lewat cuma ada satu dua biji yang padahal jalannya adalah jalan besar. Tidak ada pun orang-orang yang jalan di trotoar. KFC juga ditutup sepintu garasinya (apa ya istilahnya?!). Teman saya kemudian bilang mau ke seberang sebentar karena mau ambil ATM. Eh ambil duit deng. Di seberang ada ATM drive thru.

Saya pun duduk di halte ditemani ransel teman saya dan punya saya sendiri. Saya pun main hape. Nggak lama ada becak motor mendekat, saya menterjemahkannya sebagai penawaran buat naik becak. Saya pun geleng-geleng. Saya lihat bapaknya menggunakan helm dengan kaca yang sangat gelap kalau dilihat dari luar jadi mukanya nggak kelihatan.

Saya pun serius lagi main hape. Sekitar lima menitan, saya pun melihat ke depan, dan baru ngeh kalau becak motor tadi masih di situ. Bapaknya masih juga tidak membuka helmnya dan kepalanya mengarah kepada saya. Pas saya telusuri badannya dengan mata saya (sumpah ini maksudnya apa), saya baru sadar kalau ia sedang memainkan kemaluannya yang ia keluarkan dari celananya. Saya pun yakin dia sedang melihat ke arah saya.

Kaget! Tapi saya tahu saya nggak bisa apa-apa. Saya nggak bisa teriak! Karena di jalan TIDAK ADA SIAPA-SIAPA yang bisa dimintai tolong. Kalau saya teriak, dan terjadi apa-apa. TIDAK APA SIAPA-SIAPA juga yang melihat. Jadi, saya pura-pura tenang, sambil memasukkan hape dan menarik tas teman dan saya dan segera menyeberang untuk menghampiri teman yang masih di ATM.

Sesegera saya menyeberang, si becak motor tadi pun pergi. Saya nggak lihat muka bapaknya maupun plat motornya. Sambil deg-degan saya pun cerita ke teman saya.

Kami pun jalan ke halte yang ada di seberang. Di sana duduklah seorang bapak-bapak yang pincang. Gara-gara kejadian sebelumnya, parno deh lihat laki-laki sendirian. Hahaha…

Hampir dua puluh tahun saya di Jakarta, baru sekali saya melihat seorang ekshibisionis. Itu pun dia sambil naik sepeda dan tidak secara khusus menunjukkan kepada saya. Ini baru dua hari di Aceh sudah lihat kayak begitu.

Oke, itu mungkin penyakit. Tapi yang lebih lagi, saya jadi merasa nggak aman karena nggak ada tempat yang bisa buat berlindung karena semua tutup. Nggak bisa minta tolong karena nggak ada orang sama sekali di jalan.

Saya nggak tahu yang salah apakah karena kebijakan harus menutup tempat dagang saat Jum’atan atau tidak adanya informasi nomor yang bisa dihubungi kalau ada hal darurat (oke ini pasti ada tapi sebagai turis saya tidak lihat informasi ini di mana pun). Apapun saya mohon, buat Aceh supaya lebih aman lagi. !(•̀ᴗ•́)و ̑̑

#curhat #pengenkeacehlagi

25 comments:

  1. Una, aku pernah ngalami kek gitu pas SMP, deket sekolah pula. Rasane mual dan anyep awakku.

    ReplyDelete
  2. orang seperti itu kok banyak ya
    kejadian yg sama di halte bis di Gunung Sahari, duluuu
    menyeramkan
    tapi lebih seram kamu Una, di tempat sepi begitu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Itu kejadiannya gimana Mbak?
      Iya seram :'(

      Delete
  3. Wah saya belum pernah sekalipun ke Aceh nih mba Una
    Piyeee

    ReplyDelete
  4. ya ampun serem banget ya....
    gua kirain orang2 aceh itu religius ternyata gak ya...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ya yang relijius banyak...
      Yang aneh-aneh juga ada T.T

      Delete
  5. Hiiiih, Ada batu bata ngga sih, di sekitar situ, Una?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau dibalang genti piye Mbak? Takuttt...

      Delete
  6. Seriusan itu Na? Ngeri banget. Alhamdulillah aku bertahun2 di Aceh nggak pernah ketemu orang gitu. Mestinya pas itu langsung teriak kenceng2 Na, sapa tahu ada WH, biar ditangkep trus dihukum cambuk. Ben kapok. Malu2in Aceh aja.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nggak berani teriak-teriak. Nyari risiko, hahaha... iya kalau nanti keluar polisinya. Kalau enggak? :'(

      Delete
  7. Aku pernah kejadian kayak gitu jaman masih kerja, tapi aku pura2 cuek ngga ngeliat. Orangnya malah pergi.
    Besoknya, temenku yg kena. Dia heboh teriak2, orangnya malah kesenengan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Didiemin aja ya Bu yang penting...

      Delete
  8. Ya Allah.. Semoga orang-orang seperti bapak ini diberi hidayah oleh-Nya. Amin..
    Dan kita, dijauhkan dari gokongan bapak ini..

    Salam hangat dari Bondowoso..

    ReplyDelete
  9. Di poto kagak?

    resep dari eike yak,
    parani, tendang manuke.
    dijamin klepek2 seketika.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Harus gladi resik duluuu
      Cobain sini Mas

      Delete
  10. Aduh Na, ikut mual dengarnya..Puk..puk.. Aku enam tahun lebih di Banda Aceh belum nemu yang begituan sih. Waktu Jumatan memang sering sepi, mungkin pemerintah kota harus mulai memikirkan keamanan publik lebih serius.

    Jangan kapok ke Aceh ya Na. Padahal Banda Aceh ini kota favorit aku.. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Masalahnya sepinya jadi berasa ngga aman gitu sih, Mbak :'( Ngga kapok, cuma belum tahu kapan ke sana lagi... Ongkos... hahaha!

      Delete
  11. Saya belum pernah ke Aceh dan untungnya belum pernah lihat yang begituan. Ngeri dan horror aja sih ngebayanginnya. Katanya kalau ngelihat orang yang begitu kita harus tenang dan gak boleh panik ya. Semakin kita panik, mereka/pelaku akan semakin senang.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, harus tenang... Nggak di Aceh doang sih ya sebenernya hehehe, harus hati-hati deh XD

      Delete
  12. Astagaa, serem banget Na. Dan iya, keseremannya menjadi berlipat karena tempatnya sepi dan semuanya sedang tutup ya. Jadi mesti gimana coba? Apalagi kalau nomor darurat nggak dipublikasiin secara umum gitu. Eh, kalo dipikir-pikir di Indonesia memang nggak ada sih ya nomor darurat yang universal senegara gitu? Semacam 911 kalo di US atao 112 kalau di Eropa, hmmm

    ReplyDelete

Feel free to comment, criticize, and give suggestion ya!