Jalan-Jalan #Modal100K: Dari Makam Sampai Gumuk

Aku menanyakan kepada bapak berkaitan dengan tema Giveaway yang di adakan oleh BLOG JALAN-JALAN yang satu ini. Aku bertanya bagaimana caranya jalan-jalan di Jogja hanya dengan 100 ribu rupiah saja. Kata bapak, tinggal naik motor saja bisa pilih mau pergi ke pantai, kekeceh di kali, wisata makam, blusukan ke candi, nggak habis-habis deh tuh 100 ribu. Apalagi kalau ke candinya yang tiketnya cuma 5.000 seperti Candi Ijo atau Barong. Trus puasa. Hahahaha!

Tapi kali ini aku membuat susunan perjalanan dengan asumsi one day trip, berdua, menggunakan sepeda motor, dan tidak puasa pastinya. Rutenya bukan di tengah kota alias tanpa Malioboro, Keraton dan teman-temannya, jadi pilihan menggunakan kendaraan umum sedikit susah karena jarang dan kurang praktis. Mungkin teman-teman berminat pergi ke tempat-tempat di bawah ini? Check them out!

Kotagede, Museum Hidup

Ada yang menyebut Kotagede adalah The Living Museum. Kamu bisa merasakan atmosfir yang sedikit berbeda dari tengah kota Jogjakarta di Kotagede. Kalau aku ya, menurutku sedikit mistis. Karena mudah ditemukan areal kuburan di sana. Bekas pusat Kerajaan Mataram ini, patut dimasukkan dalam jadwal wisatamu di Jogja. Selain punya jalan yang tidak boleh diperlebar, banyak milik Kotagede yang bisa kamu cicipi.

Kamu bisa berkunjung ke Masjid Agung Kotagede, masjid tertua di Jogjakarta yang dibangun pada tahun 1640. Jangan lupa berfoto di depan beringin di halaman masjid. Di kompleks masjid ini, terdapat bangsal dan sendang juga makam Panembahan Senopati. Pengunjung bisa masuk ke makam dengan pakaian tradisional Jawa yang disewakan di sana. Aku sendiri belum pernah masuk makam rajanya. Namun pernah masuk ke makam-makam bangsawannya tak jauh dari kompleks Masjid Agung Kotagede. Tidak perlu menggunakan pakaian Jawa, hanya saja perlu menanggalkan alas kaki.

Akan lebih baik jika datang ke sini dengan orang yang mengerti sejarah Kotagede atau tour guide, untuk tahu lebih jauh sejarah dan mitos-mitos menarik. Oh iya, masuk Masjid Kotagede ini gratis.
Gerbang Masjid Agung Kotagede. 
"Yuk, ikut saya ke Makam Panembahan Senopati!"
"Salah masuk Dek. Itu untuk Putri."
Di Kotagede, terletak sebuah pabrik cokelat yang pastinya tidak asing lagi bagi teman-teman. Yap, cokelat Monggo. Di sana kita bisa melihat bagaimana proses produksi cokelat. Ada juga showroomnya, kita bisa lihat varian Monggo yang komplit di sini. Aku sangat suka cokelat Monggo rasa Marzipan, sayangnya susah sekali dicari di Jakarta atau bahkan di Jogja sekalipun! Maka tiap aku ke pabrik Monggo, aku pasti beli yang Marzipan.


Kamu bisa juga melihat situs Watu Gilang dan Watu Gatheng. Jadi tak jauh dari pabrik Monggo ini ada semacam bangunan kecil di tengah bundaran. Di dalamnya ada sejumlah batu yang bersejarah. Watu Gilang merupakan batu yang memiliki cekungan sedangkan Watu Gatheng adalah batu berbentuk bulat. Aku sendiri ke sini waktu masih kecil, yang kuingat adalah Watu Gatheng itu merupakan bola bekelnya anak raja jaman dulu! Padahal batunya besar, hahaha!

Masuk ke gang-gang di Kotagede juga menyenangkan. Masih banyak rumah-rumah kuno yang sangat fotogenik untuk difoto. Ada juga area di Kotagede yang gangnya sering digunakan untuk lokasi syuting iklan dan sinetron. Mengenai rumah, ada rumah unik mirip Rudy Pesik dan Omah UGM yang juga menarik untuk dilihat. Beberapa toko perak di Kotagede juga memiliki arsitektur yang unik.

Meskipun 'cuma' satu kecamatan di Kota Yogyakarta, Kotagede ini punya banyak makanan khasnya. Sebut saja ukel, yangko, kipo, kembang waru, dan lain-lain. Aku pernah ingat nenekku menyebutkan nama-nama makanan apa saja yang hanya ada di Kotagede dan beberapa sudah jarang ditemukan. Serta namanya sangat asing sampai aku nggak ingat. Satu yang harus dicoba adalah kipo. Namanya berasal dari dua kata 'iki apa' ('ini apa?'), kipo merupakan penganan kecil yang terbuat dari tepung ketan yang di dalamnya berisi kelapa dengan gula merah. Harganya sekitar 1.500 berisi 3-5 buah kipo.

Ayam Goreng Mbah Cemplung

Ini salah satu tempat makan ayam goreng paling nge-hits di Jogjakarta! Semua anggota keluargaku bilang enak banget! Bahkan yang parkir banyak mobil berplatkan non-AB alias dari luar kota. Tapi menurutku biasa saja. Meskipun aku kagum karena ayam yang digunakan adalah ayam kampung tapi besar sekali ukuran ayamnya. Semoga lidah teman-teman tidak seperti preferensi lidahku ya, hahaha. Satu kali makan satu orangnya kira-kira sekitar Rp 25.000-35.000.

Ayam Goreng Mbah Ccmplung
JL. Desa Wisata Kasongan, Bantul
(0274) 9261977

Tembi Rumah Budaya

Tak jauh dari Desa Wisata Tembi terdapat Tembi Rumah Budaya yang memiliki museum yang menampilkan benda-benda antik dan yang berkenaan dengan budaya Jawa. Koleksinya sekitar 3.000 buah termasuk keris, pedang, dan tombak. Ada Senthong-Senthong, tata ruang dalam budaya Jawa, yang mana Senthong Kiwa adalah tempat menyimpan padi, Senthong Tengah atau Ruang Dewi Sri adalah tempat untuk berdo'a, dan Sentong Tengen adalah tempat tidur.

Ada pula piano yang sepertinya bebas dimainkan, batik dan alat-alatnya, senjata-senjata, reklame kuno, buku-buku Jawa Kuno, dan lain-lain. Di sebelah museumnya terdapat bale inap, yaitu penginapan berbentuk bungalow dan bergaya Jawa. Serta restoran yang sepertinya menu burung emprit dan bajing menarik untuk dicoba. Aku pengen banget coba, tapi pas ke sana, masih gojag-gajeg. Belum siap mental makan bajing.

Membatik di Museum Tembi. Aktingnya kurang apik.
Tembi Rumah Budaya
Jl. Parangtritis Km 8.4 Tembi, Timbulharjo, Sewon. Bantul
Yogyakarta 55188
(0274) 368000
Masuk museum gratis!

Blusukan di Parangtritis

Dari Museum Tembi kembali ke Jalan Parangtritis kemudian mengarah ke selatan sekitar 17 km, akan ketemu dengan jembatan kretek. Kemudian belok kiri dan akan menemukan jalan menanjak yang tidak bisa dilalui mobil dan kalau dilalui oleh motor lumayan juga bokongnya. Tapi memang perlu usaha untuk mendapatkan hasil yang bagus. Dari hasil melewati jalan yang kurang baik ini, aku bisa melihat Pantai Parangtritis dari atas. Sekaligus blok-blok sawah yang berwarna hijau kuning dan bangunan dari atas. Ini merupakan salah satu cara menikmati Parangtritis dengan cara yang berbeda.

Kita bisa lihat gundukan karst yang menjulang tinggi yang bisa muncul di daratan setelah jutaan tahun berlalu. Kalau mengikuti jalan terus akan tembus ke Pantai Parangtritis di bawah. Namun aku tidak ingin ke pantai, melainkan ingin ke gumuk. Penasaran banget gumuk yang sangat nge-hits ini seperti apa.

Begini jalannya.
Laut selatan.
Gerbang Monumen Alam Gumuk Pasir.
Gumuk merupakan fenomena alam berupa gundukan-gundukan pasir yang terjadi pergerakan angin. Pasir-pasir ini berasal dari material Gunung Merapi yang terbawa aliran Sungai Opak dan Progo ke laut selatan. Terhempas oleh ombak laut selatan, material ini berubah menjadi butiran pasir yang halus. Karena ada angin dari laut ke daratan, pasir tersebut membentuk gundukan-gundukan yang menyerupai gurun. 

I'm in the desert!
Bagus untuk foto-foto sok-sokan seperti di gurun gitu. Sayangnya waktu itu fotoku jelek semuaaa! Mungkin next time bawa sajadah sama mukena seru kali ya, foto di gumuk sambil pose shalat. Berasa shalat di gurun gitu, hahaha!

Okeyyy, matahari pun tenggelam, malam pun tiba! Mari kita hitung pengeluaran perjalananku kali ini!

Kalkulasi Pengeluaran


Sebenarnya bensin 13.000 juga cukup tuh, hahaha *uthil* Sisa 4.000-nya buat beli minum 1.5 liter, soalnya sangu minumnya udah entek karena makan kipo seret!


❤❤❤

19 comments:

  1. kayak kenal yang pake jilbab biru... :P
    belum pernah kesini,apalagi tembi,penasaran bangettt..sisa 4000 buat beli cokelat marzipin,lumayan kan dapet satu gigit hahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hah, siapa emang?
      Hahahaha, abis gigit taruh raknya lagi...

      Delete
  2. Weleeh, 100k bisa sampai PARIS. Gilaa. . .
    Liat orang Gemuk di Gumuk kok ya rasanya sempurna banget picnya. . .

    ReplyDelete
    Replies
    1. Melu nek 100k nang paris hahaha,, pasti parang tritis tuh wkwkkw

      Delete
  3. Lengkap banget Na. Kapan-kapan kami coba deh. Seru kayaknya.

    ReplyDelete
  4. Manaaaa foto ayamnyaaaaa.. *teriak pakek toa*

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wahaha wis ubek-ubek nggak nemu Kak Beb... hiks...

      Delete
  5. Ituh, kenapa budget terbesar diurusan kunyah mengunyah :D
    Ini ke Parisnya nggak bayar tiket masuk pa Un

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha ho oh, :P
      Nggak bayar Mbak, karena aku lewat belakang kali ya. Nggak mudeng :)

      Delete
  6. Berarti kalo di medan kipo itu namanya Lappet na..
    Hhahahahah

    Ahh lappet laahh..
    Hhahahah

    Sebut saja ukel, yangko, kipo, kembang waru <-- satupun aku ga tau ini jenis makanan apa

    ReplyDelete
  7. itu yang ngebatik spt mbak idah ceris ya,,

    ReplyDelete
  8. serunya keliling jogja dengan modal minim ^_^
    rumah tembi budayanya emang bagus, palagi kalau malam hari ^_^

    ReplyDelete
  9. Jogja memang menyenangkan, dan yang penting disana bisa ngirit, hehe...

    ReplyDelete

Feel free to comment, criticize, and give suggestion ya!