Akhirnya Ketahuan Jawabannya...

Yeah, captured by iMac. Jangan percaya kulitku secerah itu.
Beberapa minggu ini aku ngerasa kok kayaknya banyak yang ngeliatin aku. Geer? Emang iya sih. Tapi suer deh, paling enggak tiga detik ada mereka-mereka melihat aku. Aku kenapa ya? Auraku cerah kah? Apakah aku kharismatis? Atau cantik? Kok kayaknya aku barusan berkhayal ya. Apa justru karena auraku gelap jadi orang pada nengok atau ada magnet kah dari diriku? Huekcuh, malah makin ngaco.

Dan hari ini kutemukan jawabannya!
Hari ini aku buka di luar sama ibu, dan ibu tiba-tiba bilang, "Kok banyak yang ngeliatin kamu sih?"
Yeah, hubungan batin ibu - anak sangat dekat bahkan tanpa sadar ibuku bisa bilang apa yang aku pikirkan.
"Oh iya, rambutmu jewowok, owog-owog, ratau sisiran, jelas wae pada mengo ke kamu. Cen kok, kowe ki koyo wong pemad sing nang ndalan kae lho. Sing sok wudo nang pinggir dalan. Rambute koyo kowe." (Translate: Oh iya, rambutmu berantakan, nggak pernah sisiran, jelas aja pada nengok ke kamu. Emang kok, kamu tuh kayak orang gila yang di jalan itu. Yang suka telanjang di pinggir jalan. Rambutnya kayak kamu.)
Hell yeah, ini jelas bukan masalah hubungan batin.

Bisa dilihat di foto rambutku memang jewowok. Rambutku keriting tebal dan masih kurencanakan untuk menggondrongkannya. Jujur aku nggak pernah sisiran. Terakhir sisiran serius tanggal 18 Juni waktu kawinan tanteku. Dua minggu lalu sisiran karena nyoba sisir baru khusus rambut keriting yang jaraknya jauh-jauh. Yah tapi sisirnya sekarang juga digeletakin. Jenis rambutku enggak bisa disisirin karena akan makin jewowok dan solusinya cuma pake kondisioner.

Oh ya, jadi hipotesisku salah semua. Aku tetap nggak akan rajin sisiran dan mengikat rambut.

Best National Anthem: İstiklâl Marşı

Seminggu ini, playlistku di iTunes isinya lagu kebangsaan negara-negara. Buka youtube pun yang dilihat channel VocalNationalAnthems. Buka buka link lagu negara, dari Cuba, Azerbaijan, Israel, Jepang, yang enak di telinga baru lima lagu. Negaraku (Malaysia), Majulah Singapura (Singapura), Deutschland Lied (Jerman), Hatiqvah (Israel), dan Lupang Hinirang (Filipina). Membaca artikel Wikipedia, National Anthem, kuketahui bahwa rata-rata lagu kebangsaan berkunci mayor, namun beberapa bukan. Misalnya Hatiqvah (Israel), Mila Rodino (Bulgaria) dan İstiklâl Marşı (Turki) yang berskala minor. Ada juga yang berskala pentatonis.

Lagu Israel bahkan aku sudah hapal. Berbeda dengan lagu nasional negara lain, lagu ini sendu sekali. Isi lagunya bercerita bahwa jiwa Yahudi ingin kembali ke Tanah Zion dan Yerushalayim (Yerusalem). Sedangkan lagu Mila Rodino malah terkesan horor, seperti bukan lagu kebangsaan, melainkan liturgi. Aku yang mendengarnya malam-malam langsung menutup jendela youtube-ku. İstiklâl Marşı dari negara Turki malah enak didengar, meski minor, namun tidak sendu dan horor. Meski minor tetap semangat. Kudengar-dengar mirip lagu RRI yang akhirnya, "Bersama kami RRI..." İstiklâl Marşı artinya mars kemerdekaan. Dan lagu ini menurutku menjadi salah satu lagu national anthem terbaik yang pernah kudengar selain Lupang Hinirang. Ngga tahu ya kalau nanti aku nemu national anthem yang enak lainnya... :)


Being a Railfan

Setasiun Senen
Tahun ini saya jadi suka satu hal baru, yaitu penggemar kereta. Meskipun saya nggak gitu-gitu amat, nggak ikut komunitas pecinta kereta, hunting foto nunggu kereta atau hapal nomor seluruh kereta. Tapi ya, gemar. Saya menikmati sekali perjalanan dengan kereta. Tahun ini saya banyak naik kereta yang sebelumnya belum pernah saya naiki.

Berawal dari Bulan Januari, saya pergi ke Solo dari Jogja menggunakan kereta Prameks. Prameks yang kutumpangi tidak seperti KRL yang tempat duduknya hadap-hadapan kiri kanan tapi seperti kereta bisnis, yang joknya sudah buruk dan gerbongnya yang bau. Sembilan ribu rupiah dan waktu satu setengah jam, mengantarkanku dari Stasiun Tugu hingga Stasiun Solo Balapan.

Dari Solo, saya pergi ke Semarang. Kali ini tidak naik kereta. Namun pulang ke Jogja dari Semarang, saya menggunakan kereta Banyubiru. Walaupun tak menggunakan AC, kereta ini sangat bersih. Keretanya memang tampak baru. Sayang rutenya muter-muter sehingga perjalanan dari Semarang ke Jogja hampir mencapai lima jam.

Bulan Februari saya pergi ke Mojokerto menggunakan kereta Bima dari Gambir arah Gubeng. Berangkat jam 17.00 sore. Waktu itu hampir saja saya mau naik kereta Gaya Baru Malam Selatan, namun karena wiken panjang hingga Selasa, saya urungkan naik itu. Dan beruntung teman sebelahku adalah orang yang ramah, kami banyak mengobrol mengenai cita-cita dan kebudayaan Betawi.

Bulan Mei saya pergi ke Jogja dari Jakarta, saya berangkat menggunakan Taksaka yang berarti ular. Perjalanan ini terasa biasa karena dulu sering naik Taksaka, hehehe... pulang dari Jogja ke Jakarta saya iseng naik Gajayana yang berangkat dari Malang dan berhenti sebentar di Tugu jam 12 malam. Kereta argo paling saya suka adalah Gajayana, interiornya bagus, bagasi atas kepala juga lebar.

Terakhir naik kereta bulan Juni, perjalanan Jakarta-Jogja-Jakarta, dua-duanya menggunakan kereta bisnis Fajar Utama. Ini kali pertama aku naik kereta bisnis (waktu kecil pernah, tapi udah lupa hehehe.). Gerbongnya bau sekali, namun sesekali ada yang menawarkan semprotan pewangi ruangan dan kita membayar mereka. Sayang, menurutku malah tambah nggak enak baunya. Tidak seperti kereta eksekutif, kereta bisnis selalu ramai oleh pedagang.

Sampai sekarang belum berhasil naik kereta ekonomi (well, kecuali KRL Jabodetabek), masih penasaran tapi takut sendiri. Ada yang mau nemenin? Hehehe... :)

Uang Bukan Segalanya

Hell yeah, memang uang bukan segalanya.
Tapi aku barusan nangis uang koin koleksi roll BI-ku disobek adekku. Udah dua kali. T___T

Hajar Jahanam

Hajar Jahanam
Lagi ngelamun siang-siang,, tiba-tiba ingat hajar jahanam. Bukannya mikir jorok atau apa, tapi ya kok kepikiran aja sama hajar jahanam.
Aku punya cerita tentang hajar jahanam. Waktu itu, tanggal 7 Maret 2011, aku dan Mbak Lila, anak teman nenekku, muter-muter shopping mall di area depan gate KAA Masjidil Haram sampe mabok. Aku lupa Mbak Lila mau belanja apa aja, sampai akhirnya kami berhenti di depan toko jualan parfum di shopping mallnya Hilton. Waktu itu ada tiga ibu-ibu lagi nawar buat beli parfum, dan si penjual mempersuasi kami untuk mampir.

Katanya, "lihat-lihat saja tak apa." Dia mulai menyodor-nyodorkan parfum dan butter untuk kami baui hingga Mbak Lila bertanya apakah ada parfum hajar aswad.
Kata penjualnya, "hajar aswad, hajar jahanam semua ada!"
Aku yang penasaran, "heh, mau dong bau hajar jahanam."
Setelah si penjual beres dengan transaksi dengan tiga ibu-ibu Indonesia itu, ia mengeluarkan apa yang dibilang dengan hajar jahanam. Awalnya kukira nama wangi-wangian ternyata ya memang hajar alias batu. Bentuknya kecil. Ia pun segera menjelaskan.
"Ini bisa buat tahan dua jam," ia menegakkan telunjuknya, "batu direndam di air tidak lama, lalu dioles-oleskan saja," ia seolah-olah mengoleskan air di telunjuknya.
Batinku, "Heh? Apaan sih?" Ibu-ibu di sebelahku malah ketawa-ketawa saja. Dan aku masih cengok.
"Sudah menikah?" kata penjualnya.
"Belum, single single," jawabku.
"Nanti lah kalau sudah married."

Mbak Lila sepertinya sudah mulai dong dan tertawa, dan aku pun mikir, "HOOOHHH ITU MAKSUDNYA! HAHAHAHAHAHA." Ketawa a la nenek lampirku keluar juga. Tak peduli mas-mas arab jual karpet liatin aku.
...

gambarnya aku ambil di google.

Do's and Don't's in Indonesia

Una in Mangunan
I'm so happy today because my blog is linked in top of the World Nomads page in Facebook. Said there that my blog is one of the first entries for the Blog your Backyard Project. The winner prize is 50AUD gift certificate by Urban Adventure. Urban Adventure is one of the tour agent which serve a-day-tour. Unfortunately there is no Indonesia in its schedule. I realize that my English is very bad lacking grammar and tenses. But it's okay, since my blog is viewed by hundred people, I'm happy. :)

check this link:
http://journals.worldnomads.com/sittirasuna
http://journals.worldnomads.com/sittirasuna/story/75633/Indonesia/Dos-and-Donts-in-Indonesia

Gagal Mlaku-Mlaku Jajan di Kebayoran

Kemarin, 5 Agustus 2011, sehabis mengantarkan sepatu basket ke sekolah adikku, rencananya aku mau wisata jajan di dekat sekolahnya. Bahkan list tempat yang akan kukunjungi masih terngiang-ngiang di kepalaku.
1. Lawson di Kemang - ini gerai pertama Lawson yang ada di Indonesia.
2. Toko Nusa Indah di KH Ahmad Dahlan - mau makan es krim Zangrandi :9
3. Supermarket New Seoul di Jalan Melawai - mau lihat-lihat saja...
4. Mu Gung Hwa di Jalan Senayan.
5. Toko Papaya di sebelah Blok-M Square
... and many more! Hehehe...

New Seoul

Tapi rencana tinggal rencana, adikku yang dijadwalkan pulang jam enam sore ternyata mendadak pulang jam tiga. Aku harus buru-buru ke sekolah untuk menjemputnya pulang. Padahal tempat yang kukunjungi baru satu, yaitu New Seoul di Jalan Melawai. New Seoul itu supermarket yang rasanya memang dikhususkan untuk orang Korea yang tinggal di sekitar Kebayoran. Lebih dari 50% barang-barangnya merek Korea (iya iyalah hahaha). Yah kali aja kalau mau coba mie instan, permen, snack, jus, Kimchi, dan makanan lainnya a la Korea bisa mampir ke sini. Harganya juga ngga gitu mahal. Kemarin aku beli mi instan mbuh apa mereknya, harganya 8000 dan satu buah susu harganya 4000. Dan supermarket ini sungguh adil. Ia memberlakukan diskon 5% bagi pembeli yang membayar kontan. Selama ini kan... kalau lihat-lihat di toko atau restoran, yang ngutang (alias pake kartu kredit) malah yang didiskon... Satu yang disayangkan, supermarketnya agak lethek!

Setelah dari New Seoul aku jalan kaki ke KH Ahmad Dahlan. Niatnya beli es krim Zangrandi dulu, tapi berhubung adikku udah keluar kelas, aku ke Labschool dulu. Eh kok ya adikku ngga keluar-keluar, di cari di dalam juga ngga ada, dan akhirnya aku ke Circle-K, yah pengganti Lawson. T___T Cuma minum milo segelas, trus cao lagi deh ke Labschool. Setelah satu setengah jam luntang-luntung akhirnya aku ketemu adikku. Syit, tahu gitu kan bisa jalan lagi... Naik taksi pulang sekolah menuju rumah. Karena jalan pulang lewat Jalan Senopati, aku membujuk adikku agar mau diajak ke Mu Gung Hwa. Yes! Dia mau dan akhirnya kami ke sana. Mu Gung Hwa itu supermarket Korea di Jalan Senayan Blok S dan sudah ada di sana sejak 1990. Supermarketnya lebih besar ketimbang New Seoul, dan menurutku lebih menarik. Sialnya karena riset yang kurang, aku ngga tahu kalau di lantai dua ada jual souvenir-souvenir Korea. Aku sendiri bukan penggemar Korea-Koreaan, tapi aku suka melihat barang-barang aneh, hehehe... Yasudah, di sana kami cuma beli tiga botol jus yang ngga tahu mereknya apaan. Dan kamipun akhirnya pulang...

Yah semoga list sisa rencanaku bisa terchecklist secepatnya. Hehehe...

10 Alasanku untuk ke Solo Lagi!

Di Depan Keraton

1. Ke Dalem Kalitan, kediaman keluarga Bu Tien di Solo.
2. Minum Kawista Punch di Soga Resto.
3. Turun kereta di Stasiun Purwosari.
4. Jalan kaki dari ujung ke ujung Jalan Slamet Riyadi.
5. Ke Keraton Mangkunegaran ketemu Paundra!
6. Pergi ke Museum Danar Hadi, ketemu Mas Najib sama Bu siapa gitu, yang ternyata temen sekolah bapak dan ibuku. -____-"
7. Ke Toko Orion~ liat-liat.
8. Naik kereta dalam kota which is tiketnya 200.000, nabung dulu...
9. Masuk Keraton Pakubuwono.
10. Wisata mall Solo, hahaha... yang depannya ada Hoka-Hoka Bento di bangunan kuno kayaknya bagus tuh mall-nya.

Wisata Marjinal: Candi Barong

Untuk mencapai Candi Barong tidak bisa menggunakan mobil apalagi bus. Jalan menuju candi adalah jalan yang berbatu dan naik turun, naik motor aja rasanya pantat sudah gak tahan! Letaknya tak jauh dari kompleks Prambanan. Sekitar 4 kilometer mungkin. Uniknya candi ini adalah bentengnya yang miring menyerupai candi suku Maya di Mexico, kemudian terdapat pelataran luas, lalu ke bagian candi utama yang musti dicapai dengan tangga. Di depan candi terdapat gapura kecil dan candi terdiri dari dua bangunan yang anehnya nggak simetris. Maksudku, candi utama terletak di tengah-tengah dan candi satunya di sebelah kanannya. Jadi di sisi kiri agak lapang.

Candi Utama Barong
Gapura Candi Barong

Barong on Silhouette

Homestay-Friendship di Karimun Jawa

Renang di Pulau Kecil
Kami akhirnya menginjakkan kaki juga di Pulau Karimun sekitar pukul setengah tiga. Kami diantar ke homestay meeting point untuk makan siang. Ketika anggota lain tur yang sama sudah diantar ke masing-masing homestay, kami berdua masih di sana. Tiba-tiba, dua orang om-om dan dua orang tante-tante datang. Mereka ternyata ketinggalan jemputan. Belakangan kami ketahui, bahwa mereka itu Tante Jane, seorang guru TK yang kalau mandi lama banget, Tante Ely, juga guru TK yang giginya ditempel berlian, Om Candi, kepala sekolah TK yang kocak banget, dan Om Rio, teman mereka yang merupakan dosen multimedia dan komputer dan ternyata kenal sama sepupuku!

Sampai juga giliran kami untuk diantar ke homestay. Di mobil itu, di depan ada Mas Prima, mahasiswa S2 ITB, yang kami nggak ketahui namanya sampai malamnya kami tanya ke Mas Ucup (ups!), yang duduk di sebelahku di bagian tengah mobil, mahasiswa mesin ITB yang hendak lomba ke Malaysia, di sebelah kiriku ada Affi, dan di bagian belakang ada Ajung dan Danti, pasangan yang kayaknya baru lulus SMA. (Merasa tua deh gue...)

Kami bersepuluh tinggal di sebuah rumah milik Pak lupa namanya yang istrinya namanya Umi Kulsum, anaknya namanya Friska, satu lagi lupa. Rumahnya tergolong bangunan baru, dengan arsitektural rumah ndeso dan warna tembok yang mirip permen. Bapak dan ibu ini asli Karimun Jawa, namun nenek moyang si bapak berasal dari Madura dan si ibu berasal dari Mandar, Sulawesi. Anehnya, mereka kalau bicara satu sama lainnya, pake bahasa Krama booo'! Nggak kayak gue, sama simbah aja pake ngoko kasar, hehehe...

Nunggu Kapal Jalan

Pada malam pertama kami di Karimun Jawa, aku dan Affi, Mas Prima, serta Danti dan Ajung, makan di warung dekat dengan homestay kami. Di sana kami bertemu Mas Ucup, Mbak Nisa, dan Mbak Tyas. Awalnya aku mengira mereka sudah kenal sebelum di Karimun, eh ya ternyata juga baru kenal di kapal karena sama-sama menderita di kapal, hahaha... *kami juga menderita kok, hiks.* Hari-hari berikutnya, kami satu homestay hampir selalu bareng. Udah gitu kalau di kapal, kita punya area sendiri yang terletak di depan kapal. Di sana kami bernyanyi, bercerita, tertawa-tawa, tidur, bercanda-canda... Ah rinduuu! Di Pulau Kecil pun kami berenang bersama, nguburin Mas Prima bareng, hahaha, pulang di kapal Muria juga bareng, bareng terus deh. Woo woo, how I miss those moments! *ambil tisu*

Ngidam Sirup Kawista

Sirup Kawista. Aku nggak tahu sumber aslinya, tapi mungkin logo di pojok kanan itu kali ya yang punya. xD

Nasib, nasib, ngidam sirup kawista dari berapa bulan lalu kok nggak kesampean. Jaman aku masih kecil, ibu sama bapakku suka beli nih sirup dan aku suka banget. Tapi nggak sampe kecanduan sih. Beranjak besar, udah jarang-jarang, tapi tentu masih ingat dengan kelezatan sirup ini. Banyak yang bilang rasanya mirip anggur + leci, tapi menurutku lebih mirip rum tapi tidak menyengat. Kalau diminum pun, meski dingin, di dada rasanya hangat, mirip alkohol. Sirup kawista ini dibuat dari buah kawis atau kawista yang anehnya hanya bisa tumbuh di pesisir utara Jawa. Tepatnya di sekitar daerah Rembang. Dan oh ya, produsen sirup kawista memang asalnya dari sana. Buah ini sejarahnya dibawa dari Cina oleh Putri Ong Tien, puteri raja Kerajaan di Tiongkok yang kelak menjadi istri Sunan Gunung Jati.

Terakhir aku minum sirup kawista, tanggal 6 Juni malam di Kotagede. Bapakku punya sirup kawista satu jerigen dan sayangnya sudah mau kadaluarsa tanggal 10 Juni. Pengen kubawa ke Jakarta, kok ya mau expired. Akhirnya aku puas-puasin minum sirup itu di sana. Aku tiba-tiba memang kepengen sirup ini, gara-garanya waktu itu ke Resto Soga di area Museum Danar Hadi. Rumah makan itu menyediakan menu minuman yaitu kawista punch. Sirup kawista dicampur sedikit sirup leci, ditambah selasih dan nata de coco serta potongan agar-agar. Duh sedapnya! (Cih, jadi kebayang kan gue...) Oke, dan kini aku kepengen banget sirup itu. Cari-cari di kaskus, ketemu di forum FJB. Eh disms sananya nggak bales. Ah apa memang ngga jodoh ya sama sirup kawista. Ada lagi situs toko online yang memang jual khusus produk yang terbuah dari buah kawista, tapi harganya jauh banget dari sirup yang sama dengan merek yang berbeda.

Dan gobloknya, udah tahu lagi kepengen, eh Juni lalu aku ke toko Orion di Solo, dan itu sirup kawista berjejer-jejer, ada yang warna merah (karena dicampur apa gitu lupa) dan ada yang hitam, dan aku nggak beli karena kukira di Jogja ada. Eh udah sampai Jogja, ngga nyari juga karena keburu pulang. Hah! Kemarin aku googling lagi barangkali ada yang jual sirup ini di Jakarta (karena dengar-dengar susah nyarinya). Eh nemu arsip milis apa gitu, infonya ada yang jual sirup ini di sebuah toko di Jalan KH Ahmad Dahlan, Kebayoran. Dan 'kebetulan', lokasi toko itu dekat sekali dengan sekolah adikku. Dan besok aku mau ke sana! Duh semoga beneran ada... dan, yang jadi masalah, arsip milis itu tahun 2010... ah positive thinking aja, toko itu pasti masih jualan sirup kawista!

Pengen, :9

Pasrah = Latihan Mati?

Dalam penerangan lanjutan di Subud, seorang mbak-mbak menceritakan mimpinya. Ia bermimpi diperintah oleh sebuah suara untuk masuk ke liang lahat. Ia tak segera masuk, karena ia tak percaya bahwa ia mati. Tapi kemudian ia menangkap bahwa apa yang harus dilakukan sebenarnya adalah pasrah, dan menurutnya pasrah adalah latihan kematian. Kematian di mana kita tak menggunakan lagi sukma (akal, pikiran, dan nafsu) melainkan hanya jiwa yang dilepaskan dari raga. Banyak cerita-cerita tentang orang yang mati namun jiwanya masih berada di dunia tak terangkat, ada yang bilang bahwa orang itu tidak pasrah kepada Tuhan.

Ada hal yang sebenarnya membingungkan saya.
Beberapa waktu lalu, saya lupa lagi chatting topik apa, sampai akhirnya saya bilang "Doain gue panjang umur ya." Eh dia malah komentar, "Ah ngakak gue bacanye, berasa orang bener lu." Kujawab lagi, "Loh? Emangnya gue bukan orang bener ya?" Topik itu memang nggak berlanjut karena kami segera ber-hahahihi dengan topik lain. Namun kenyataannya, topik itu masih ada di kepala saya sampai saat ini.

"Apakah yang cepat mati hanya orang yang bener?"
"Apa sih maksudnya orang yang bener?"
"Kalau orang yang bener itu orang yang pasrah, berarti saya belum pasrah dong ya."
"Berarti saya nggak khawatir sama adik saya yang suka marah-marah, karena dia belum pasrah, dan berarti belum akan mati?"
"Tapi bukannya yang mati ada orang yang ngga bener?"
"Orang yang panjang umur bukannya malah orang yang bener?"
"Apakah benar pasrah itu sama aja kayak latihan mau mati?"
"Dan, bukannya orang yang mau mati biasanya disuruh ikhlas dan pasrah?"

Dan ya, pertanyaan-pertanyaan itu muncul di benak, hati, dan sukma saya. Ah bingung ah...