School Tour: Communica Institute, Kobe, Japan

Sekolah Bahasa Jepangku terletak di pusat Kota Kobe, Prefektur Hyogo. Semacam Yogyakarta yang punya pusat di sekitar Malioboro, kalau Kobe pusatnya ada di Sannomiya. Di kawasan ini terletak balaikota, tempat perbelanjaan besar, dan deretan gedung-gedung perkantoran. Sekolahku, Communica Institute tak jauh dari balaikota dan hanya 7 menit jalan kaki dari Stasiun Sannomiya.

Communica Institute terletak di lantai dua dan tiga sebuah gedung yang tak jauh dari Kobe City Hall. Di lantai dua terdapat tiga ruang kelas serta ruang administrasi guru, sedangkan di lantai tiga terdapat dua ruang kelas dan common area yang bisa digunakan untuk duduk santai, bermain computer, membaca brosur terkait wisata dan pendidikan, serta menggunakan microwave. Awalnya aku kira sekolahnya cukup besar, ternyata kecil, bahkan lebih kecil dari tempat kursus Bahasa Jepangku di Jakarta. Tapi it doesn’t matter at all~ karena sekolah dan guru-gurunya keren abis!

Meskipun di dalam gedung (bukan berdiri sendiri), ada tangga khusus untuk masuk langsung ke Communica Institute.
Ruang kelas lantai dua.
Mesin fotokopi. 
Aku kok lupa ini sudut sebelah mana.
Hari pertama dan kedua adalah hari orientasi. Saat pertama menginjakkan sekolah ini, aku disambut oleh seorang guru dan ia pun menunjukkan letak di mana aku harus duduk. Ia menunjukkan kertas bergambar kotak-kotak berisikan nama murid baru. Rupanya tempat duduk disesuaikan asal negara. Aku melihat ada satu lagi orang Indonesia. Wah!

Seorang guru tadi, Fujisaki Sensei kelak akan menjadi guru favoritku di kelas, yang pelajarannya selalu kutunggu-tunggu.

Orientasi hari pertama dimulai dengan ucapan sambutan kepala sekolah, Okada Junko Sensei, yang sepertinya dalam tiga bulan aku hanya melihatnya dua kali. Kami juga diminta memperkenalkan diri, sebisa mungkin dalam Bahasa Jepang. Kalau tidak bisa pun, ada senior yang berasal dari negara masing-masing yang akan menerjemahkan. Murid baru waktu itu kalau tidak salah ada 18 orang. Ada yang berasal dari Taiwan, Tiongkok, Vietnam, Indonesia, Hong Kong, Amerika, dan Inggris. Menariknya, murid baru dari Amerika dan Inggris merupakan haafu (half), atau setengah Jepang.

Ada laptop yang bebas dipakai, dan meja yang biasanya buat makan siang.
Rak brosur pendidikan dan wisata serta microwave. 
Pintu kelas 302. Pintu di kiri buat keluar ke arah toilet. Toiletnya tidak 'dalam sekolah' tapi bersama dengan pengguna gedung lainnya.
Kemudian kami harus melakukan placement test untuk menentukan kelas mana yang akan kita dapat. Selain berupa tes tertulis, terdapat pula wawancara. Hasil placement test diumumkan hari sesudahnya.

Aku mendapat kelas tingkat 6. Di Communica Institute terdapat delapan tingkat, dengan tingkat 8 adalah paling rendah. Jadi kira-kira tingkatku dasar tapi tidak terlalu dasar.

Dari orientasi, aku langsung kagum dengan sekolah ini. Bagaimana tidak? Kami dijelaskan detil tak hanya mengenai kehidupan di sekolah tapi juga kehidupan di luar dan di tempat tinggal. Seperti kami dibekali beberapa peta wilayah Kota Kobe supaya kami mudah untuk berwisata. Kami juga diberikan panduan apabila terjadi bencana dan sebuah buklet kecil yang di salah satu halaman mukanya terdapat kalimat, supaya apabila terjadi bencana dan ingin minta tolong namun tiba-tiba Bahasa Jepang tidak keluar, tinggal menunjukkan buklet kecil ini.

Disaster response card. Buklet kecil isinya informasi apa yang harus dilakukan kalau ada bencana. Kalau kenapa-kenapa dan bingung tinggal tunjukin tulisan di kotak merah: watashi o hinansho ni tsureteittekudasai. Bawa aku ke tempat evakuasi. 
Kalau masalah disaster management mungkin di segala sekolah dan institusi ya di Jepang. Tapi tetap saja aku kagum. Abis di kampusku yang katanya kampus kelas dunia aja nggak ada tuh kayak gitu, hehehe.

Selain itu, kami disuruh mengisi dan menandatangani surat pernyataan, apakah bersedia/tidak bersedia apabila diambil gambarnya dan diunggah untuk publikasi. Benar-benar menghargai privasi banget ya. Di postingan ini aku juga ngga unggah fotoku dan teman-teman, kan privasi, hahaha ngga sih cuma malu, paling item sekelas euy~ #trus

Kami juga dijelaskan di mana letak toilet dan sampah apa saja yang bisa dibuang di sekolah. Di sini tempat sampahnya cuma satu dan cuma boleh untuk kertas apa ya. #lupa. Sekolah dan sensei  juga menasihati agar kalau terjadi apa-apa, untuk selalu mengabari atau konsultasi. Tak hanya soal pelajaran, kalau ada masalah kerja part-time atau ingin melanjutkan pendidikan pun sensei siap membantu!

Di tingkat 6, ada beberapa pelajaran:
1. Output and Expressions (発信表現)
2. Grammar (文法)
3. Reading (読解)
4. Kanji & Vocabulary (感じ。語彙)
5. Listening (聴解)
6. Nihongo Communication/Conversation
7. Intercultural understanding (異文化理解)

Kelas tingkat 6 dimulai pukul 13.30 sampai 17.30 setiap hari Senin-Jumat. Setiap harinya terdapat empat jam pelajaran yang terdiri dari dua jam pelajaran dikali dua pelajaran. Nulis apa sih gue.

Kalau emang suka pelajarannya, ngga berasa banget. Tiga bulan pun berjalan dengan cepat… too short ternyataaa… aku ingin belajar lebih lama di sana! Hari terakhir, ada tiga orang yang ‘diwisuda’ di tingkat 6. Seorang teman berasal dari Shanghai, ia tetap di Kobe karena suaminya bekerja di sini. Seorang lagi dari Hong Kong, ia pindah sekolah bahasa di Osaka. Sedangkan aku… sudah harus cabut dari Jepang, hiks. Mau banget balik ke Communica dan Jepang lagi! Hihihi!

Buat yang mau sekolah bahasa ke Jepang dan suka kota yang tidak terlalu ramai, mungkin Communica Institute cocok untukmu. Semoga ada yang mampir ke sini mencari ulasan dan Communica Institute dan semoga ulasanku bermanfaat.

COMMUNICA INSTITUTE
116-2 Higashimachi, Chuo-ku, Kobe City
6500031 JAPAN
TEL: 078-333-7720
URL: http://www.communica-institute.org/

24 comments:

  1. Wooo 3 bln yo Mbak, asiknya bs blajar langsung ke Jepang

    ReplyDelete
  2. tingkat 6 udah lumayan kak. pingin banget bisa kayak kakak, belajar bahasa langsung ke negara asalnya

    ReplyDelete
  3. Disaster management Jepang memang TOP, Un. Jepang itu sadar banget kalau negaranya rawan bencana. Jadi benar-benar di-manage dengan baik.

    Yang tentang privasi itu keren banget, ya. Mungkin gak, ya, diterapin di negara kita? :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya parah. Tapi kan negara kita juga rawan bencana ya... tapi kok... ah sudahlah... hahaha. Mungkin, tapi susah hahaha. Orang sini suka ngga ngerti privasi :(

      Delete
  4. Un, itu tempat sampahnya kok ditaroh depan pintu? Jangan-jangan waktu ambil foto itu dikau lagi usil ngancingi temen di gudang ya? Tempat sampahnya buat ngganjel pintu biar temennya gak bisa kluar. #imajinasiliar
    Sekolahnya walopun kecil tapi terorganisir gitu ya Un. kece deh.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha, ngga tau kenapa di situ. Biasanya ngga di tempat pintu kok tempat sampahnya. Kece abisss...

      Delete
  5. Aduuhh seandainya aku belum punya buntut, rasanya mau mengexplore diri lebih jauh seperti ini. sekarang banyak challenge dan kesempatan untuk belajar di luar negeri ya mbak.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Mbak, sekarang kan apa-apa lebih cepat dan mudah, hehehe...

      Delete
  6. Microwave berarti dianggap perlu ya Na,kali karena pada bawa bekal dari rumah ya? Ada kantinnya nggak?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ada yang bawa bekal. Ada juga yang beli di convenience store. Butuh banget buat angetin, hehehe... nggak ada kantinnya...

      Delete
  7. Saluuut...bisa menghargai dan menjaga privasi orang lain,..btw itu huruf jepangnya nulis sendirikah? kereen, hasil belajar langsung dari Jepang yaa :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tulisan Jepang yang mana? Yang daftar pelajaran kan tinggal ngetik, hehehe XD

      Delete
  8. selama kerja sama orang jepang memang gitu. khususnya privasi,,,beuhhh..makanya aku hati-hati banget.
    dicatet deh mba Una. soalnya aku lagi pengen belajar soal jepang..selama ini pakai english kalau ngomomg sama mereka

    ReplyDelete
  9. Ayoo nambah sinau lagi ke sana. . .

    ReplyDelete
  10. Walaupun kecil, tapi kelihatan nyaman ya...

    ReplyDelete
  11. bisa belajar sekaligus jalan2 di jepang...wow bangetttt

    ReplyDelete
  12. Umurannya rata rata berapa na? Ada yang udah tua gak? Kali kali aja anak udah gede pengen sekolah kan. Hihihi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Rata-rata 20-an sih. Banyak yang abis lulus SMA, tapi mbak-mbak atau yang udah jadi om-om juga banyak. Adaaa Mbak... ada yang 40-an. Anaknya di negara lainnya lagi =))

      Delete

Feel free to comment, criticize, and give suggestion ya!