Susur Gua Pekuburan Londa

Setiap adat punya keunikannya masing-masing, begitu juga dengan Toraja. Kepercayaan dalam adatnya membuat kematian seakan-akan lebih penting dari apapun. Pergi ke sana pun rasanya di mana-mana adalah tentang kematian. Bagaimana tidak? Hampir semua hal yang menarik -kecuali sawahnya yang bagus dan rumah Tongkonan- di Toraja berkenaan dengan kematian. Gua pekuburan, kuburan bayi dalam pohon, dan upacara kematian.

Salah satunya, Toraja punya yang namanya Londa. Londa merupakan gua yang merupakan salah satu tempat pekuburan masyarakat bangsawan Tana Toraja. Resminya tidak dikubur sih. Hanya saja peti mati orang bangsawan itu dimasukkan di dalam gua. Di luar gua terdapat berjejer Tau-Tau yang seakan-akan berdiri di atas balkon. Tau-tau yang berarti orang-orangan adalah patung kayu yang dibuat sedemikian rupa menyerupai si mati.

Narsis dulu depan Londa. Tapi kurang oke fotonya...
Tau-Tau.
Londa sendiri letaknya hanya 7 km dari Rantepao, pusat kota Kabupaten Toraja Utara dan juga merupakan salah satu tempat wisata paling populer di sana. Waktu aku ke sana, Londa pun lumayan ramai. Tak berlama-lama di luar, kami pun segera masuk ke dalam bersama dua bapak ojek yang tak lupa membawa lentera. Di bagian luarnya, juga sudah banyak peti mati yang dijejer-jejer di atas. Bentuk petinya ada yang modern dan ada yang jadul, mungkin umurnya sudah puluhan tahun.

Di dalam gua, tentu saja ada berjejer-jejer peti mati. Ada pula dua tengkorak di tanah yang berdampingan dan ada ceritanya. Konon dua tengkorak itu milik sebuah pasangan yang kisah cintanya tidak direstui. Mereka pun bunuh diri dengan cara menggantungnya. Tak lama, mereka dimakamkan di Londa hingga suatu saat tengkorak mereka dikeluarkan dari peti yang sudah hampir hancur. Katanya, peristiwa gantung diri itu terjadi sekitar 70 tahun lalu.

Masuk ke dalam.

Peti mati di luar.

Sepertinya itu peti mati jaman dulu.
Mungkin turis yang datang bersamaan denganku hanya masuk dan melihat peti mati dan dua tengkorak sohor tadi di dalam. Tapi kami tidak! Sungguh ini nggak ada di dalam bayanganku. Tapi bapak-bapak ojek yang mengantar kami memaksa kami menelusuri Gua Londa.

Ada sebuah lubang untuk menuju ke dalam hanya setinggi jongkokan manusia. Aku pun tak yakin. "Pakkk! Ini seriusan?" Aku pun melangkah ke dalam dengan membungkukkan kepala dan kemudian seakan-akan berada di lorong gua yang sempit. Yang aku takutkan lagi adalah kalau di lorong-lorong gua ini mendadak ada peti mati di selipannya. Namun bapaknya meyakinkanku bahwa tidak ada peti mati. Lagian nggak bisa juga masukin peti mati di lubang yang kecil, hihihi.

Susur Gua Londa benar-benar kayak maze. Labirin. Mending kalau berdiri, ini berbagai gaya sudah kami praktikkan. Jalan jongkok, merangkak, jalan pakai (maaf) pantat (bayangkan saja sendiri hahaha), terpeleset, membungkuk semua kami praktikkan. Saat di lorong ada stalaktit yang membuat jalan semakin sempit, bapaknya pun meyakinkan, "Bule yang besar aja bisa loh masuk." Meh.

Jongkok teruuusss...


Memang batunya sangat menggemaskan untuk dicoret-coret.
Dan di dalam rasanya dingin-dingin keringatan. Dingin karena gelap tertutup dan memang Toraja agak dingin, namun keringatan karena lampu minyak yang bapak ojek bawa. Panas banget! Kami yang di belakang bapaknya aja keringatan, apalagi bapaknya yang membawa lampu minyak itu.

Di dalam mungkin nggak wow ya. Ada stalaktit, stalagmit, dan banyak vandalisme mencoret-coret batu sana sini. Tapi sedikit terkesima melihat ada bagian gua yang mengkristal. Batu yang berkilau karena kristal-kristal kecil yang dihasilkan dari kalsium karbonat karst. Sebenarnya kan kalau ada begituan di gua sebaiknya nggak dipegang-pegang ya, tapi tetep aja aku towel dikit.

Laba-laba pun suka yang berkilauan...
Di dalam gua lumayan agak lama. Rupanya bapaknya salah jalan gitu, benar-benar kayak labirin. Jadi kami sempat lewat ke jalan yang sudah kita lewati, untungnya tak lama kemudian akhirnya keluar juga. Sudah ada peti mati di kanan kiri yang berarti sudah di bagian depan. Sumpah itu rasanya legaaaa banget!

Di luar si bapak ojek bilang, "Ya biar seru makanya kita ajak masuk gua. Kan jadi cerita sendiri, nggak terlupakan.." Iya sih Pak, tapi ya itu capek bokkk! Hihihi... buat teman-teman yang ke Londa, tertarik jalan jongkok di dalam gua?

Referensi:
Londa: Menyambangi Pekuburan dalam Gua Suku Toraja http://www.indonesia.travel/id/destination/477/tana-toraja/article/147/londa-menyambangi-pekuburan-dalam-gua-suku-toraja
https://www.facebook.com/notes/oblong-toraja/tau-tau-ritual-toraja-dalam-suvenir/475372666767
http://fokustoraja.blogspot.com/2013/04/kisah-romeo-dan-juliet-di-pemakaman.html

11 comments:

  1. wahhh, lagi di toraja yah mbak. mampir ke makassar nyicip pisang epe nya. hehe

    ReplyDelete
  2. mbak unaaa.... keren banget tempatnya...
    mupeng.. :D

    ReplyDelete
  3. Una... kamu gak coba merayap gitu kaya kadal? hahaha

    sukses ya Na.........

    ReplyDelete
  4. Una gak takut ya lihat peti mati banyak :)

    ReplyDelete
  5. wow, yg berkilau kristal itu cantik bener yaaa...

    ReplyDelete
  6. Aih, itu ada tengkorak-tengkorak pesugihan?? wkwk

    ReplyDelete
  7. omg Unaaa...syereeem ah goanya banyak peti mati..
    tapi yang kayak kristal itu emang bagus banget yaa..berkilau2... :))

    ReplyDelete
  8. Kamu lagi di Toraja na? wah.. serem ah ke tempat yang banyak peti dan tengkoraknya.. --"
    Have fun ya liburannya! ;)

    ReplyDelete
  9. sangat menarik sekalii perjalanannya dan ceritanyaa..

    ReplyDelete
  10. Batak juga sama. Kalau nguburin seseorang, terutama yang udah punnya anak, cucu, hingga cicit, maka prosesinya bisa ampe seminggu. :(

    ReplyDelete
  11. iihh.. dia ini udah sampe ke toraja aja..

    ReplyDelete

Feel free to comment, criticize, and give suggestion ya!