Lost In Mecca


Tak terasa dalam perjalanan darat meninggalkan Makkah menuju Jeddah saya menitikkan air mata. Saya menangis bukan karena apa-apa, bukan karena saya berpisah dengan kota yang disebut-sebut sebagai Baitullah. Atau pula, bukan karena saya memikirkan dosa-dosa saya. Masalahnya, sudah terlalu banyak dosa untuk dipikirkan, hahaha. Apalagi karena meninggalkan Ka'bah. Bukan, bukan. Kurasa, saya menangis karena saya khawatir akan merindukan kenangan-kenangan saya di Makkah. Dalam keluarga inti saya, saya pergi sendirian untuk melaksanakan umroh. Namun dalam rombongan terdapat tiga adik nenek saya dan keluarganya. Tapi saya tetap merasa sendiri, ke masjid sendiri, thawaf sendiri, jalan-jalan sendiri, sa'i sendiri. Tapi itu pula yang membuat saya menemukan tranquility...

Burung Dara di Makkah saya rindu mengejar-ngejar gerombolan burung dara supaya mereka terbang. Well, yang sebenarnya menginterupsi mereka yang sedang makan. Kalau saya adalah orang lain yang melihat saya, saya akan mengira diri saya adalah orang gila. Karena sendirian mengejar-ngejar burung. Ya, saya rindu itu.

Biryani dan Tiga Potong Ayam karena tidak suka makan-makanan catering hotel, saya iseng-iseng membeli nasi biryani di warung-warung di luar Hilton shopping mall. Harganya 10 riyal, memang mahal kalau dibandingkan nasi bungkus di Indonesia. Tetapi dengan porsi nasi yang sangat besar dan tiga potongan ayam, itu lebih dari mengenyangkan. Sambil menunggu waktu dhuhur, saya melahapnya sendirian dengan kaki sila di tengah-tengah Hilton.

Thawaf dan Sa'i lagi-lagi saya sendirian pula melakukan umrah di Masjidil Haram. Dari awal memang saya keluar dari rombongan. Lagipula, asal tahu jalan pulang, itu sudah beres. Saat thawaf saya mulai untuk menengah ke arah Ka'bah, saya berkesempatan memang kiswah Ka'bah yang sangat wangi itu (dengar-dengan sekali meminyaki butuh satu jerigen). Rukun Yamani juga berhasil saya pegang karena lumayan sepi. Kemudian, leher saya tercekik orang-orang yang berebutan mencium Hajar Aswad. Ya sudah saya pasrah, memutar Ka'bah lagi dan malah ketawa-ketawa. Dalam thawaf ketika sampai sejajar Hajar Aswad disarankan untuk salam, 'bismillahi Allahu akbar.' Saya malah semua sudut saya salami, hahaha... Thawaf tidak begitu berat dibandingkan sa'i. Jalan tiga kilometer tidaklah dekat. Saya iseng-iseng jalan lewat jalur kursi roda, malah ketemu adik nenek saya dan disuruh keluar jalur. Hehehe...

Menginap di Masjidil Haram saya sempatkan diri saya untuk menginap di Masjidil Haram, apalagi buka 24 jam. Tidak seperti Masjid Nabawi di Madinah. Saya tidur di tengah-tengah masjid di section khusus wanita. Tidur beratapkan langit, berpemandangan Abraj Al Bait -jam terbesar di dunia- dan tentunya Ka'bah serta para belalang dan burung yang beterbangan. Ah, damainya hidup ini... Bangun jam empat pagi, di kiri kanan depan belakang saya sudah pada duduk. Sepertinya yang masih tidur hanya saya. Bukannya langsung shalat malam malah kebelet buang air dan pulang ke hotel.

Burj Al Arab
Kebab Barakah Makkah di Makkah saya malas sekali makan makanan hotel dan sebelum ashar itu saya membeli Tazaj Chicken Kebab. Bertemu dengan seorang TKW bercadar di loket ladies only, saya dibantu memesan makanan dan malah dibayari pula. Dia berkata dan bersalaman denganku, "Selamat datang di Makkah, anggap saja ini barakah dari Kota Makkah." Ah, baiknya. Alhamdulillah... Saya membagi kentang gorengku kepada ibu-ibu Aljazair dan seorang ibu dari Kalimantan dan memakan kebabku sambil menunggu ashar.

Dido'akan Masuk Surga setelah ashar saya pun tak pulang, malah beli makanan lagi saking masih laparnya. Beli kentang goreng dan teringat ibu-ibu rombongan Aljazair itu dan akhirnya saya membeli enam bungkus kentang goreng dan kubagian kepada ibu-ibu itu. Ibu-ibu itu mencoba berbicara denganku tapi saya menggelengkan kepala tanda tak mengerti. Kurasa semuanya tidak mengerti Bahasa Inggris dan saya pun hanya bisa bilang, "I don't understand." Tapi ibu-ibu itu masih berusaha berbicara denganku, sampai akhirnya salah satunya bilang sambil tangan menunjuk ke saya lalu menengadahkan tangannya mengucapkan, "jannah~ jannah~." Saya terharu di situ, saya tersenyum dan dalam hati mengamini.

Kakek yang Tersenyum saya iseng-iseng ke tempat sa'i alias bukit Safa dan Marwah. Sekedar jalan-jalan sore saja. Tak jauh dari gerbang Malik Abdul Aziz, duduklah kakek-kakek negro Afrika yang sedang bertasbih sambil bersandar di sebuah tiang. Sampai saya kembali ke hotel, dan malam kembali lagi ke masjid, kakek itu masih duduk di situ membawa tasbihnya. Saya membawa tiga roti untuk sangu menginap di Masjidil Haram dan memberikannya satu kepada kakek itu. Kakek itu tersenyum kepadaku dan kemudian melanjutkan do'anya.

Duh, saya rindu Makkah...

13 comments:

  1. Alhamdulillah akhirnya bisalihat unapakekerudung.
    perjalananyang indah :)

    ReplyDelete
  2. sedekat itu ya, na. bisa liat kabah. jadi pengen.. >.<

    ReplyDelete
  3. subhanallah Una.. udah pernah umroh ya...
    duh, aku jd iri.. aku blm kesampaian kesana Una..
    kebayang pasti rindu sekali ya Una.. :-)

    ReplyDelete
  4. pasi rindu banget, sy yg blom pernah kesana aja terbayang rindunya apalagi yg udah :)

    ReplyDelete
  5. Ah... ngiri sy.
    Jadi pingin lempar jumroh pake kerikil biar nyangkut di rambutmu yg eksotik itu... haha.

    ReplyDelete
  6. amazing! un.. ternyata kau udah bu haji... ckckckck

    ReplyDelete
  7. Waaa...iri saya, Naa... Semoga bisa berkesempatan ke sana jugaa.. Doakan yaaa :'D

    ReplyDelete
  8. dan..kenangan indah disana selalu akan terbayang dan memanggil-manggil kita untuk merasakannya lagi, ya Na.. :)

    ReplyDelete
  9. Subhanallah...Una udah kesana...Dakupun jadi pengen *ini komen luama banget ya,saking rajinnya una apdet*

    ReplyDelete

Feel free to comment, criticize, and give suggestion ya!