Menginap di Jjimjilbang

Kalau berwisata ke Jepang, salah satu penginapan alternatif yang unik ialah internet café. Sedangkan di Korea, maka jjimjilbang adalah jawabannya.

Secara literal, jjimjilbang (찜질방) berarti ruang ‘memanaskan’ atau tempat sauna. Di jjimjilbang biasanya terdapat pemandian umum berupa beberapa kolam dengan suhu yang berbeda-beda, barisan shower, layanan pijat, area sauna beraneka tingkat kepanasan, kios yang menjual minum dan makanan ringan, restoran, bahkan layanan internet dengan PC. Sebagian besar jjimjilbang buka 24 jam dan kita dapat tidur di ruang yang tersedia.

Kolam pemandian jjimjilbang, tiap kolam beda suhunya. Tentu saja terpisah laki-laki dan perempuan. Foto: blog.thearrivalstore.com

Jjimjilbang biasa dikunjungi para keluarga untuk bersantai-santai dan menjadi tempat menginap bagi para pekerja yang pulang larut malam maupun para turis frugal karena tarifnya yang lumayan murah. Tapi sebenarnya tidak jauh dari harga semalam menginap di shared room. Beberapa jjimjilbang lebih mahal malah.

Di Korea, aku menginap di jjimjilbang tiga kali. Pertama, saat di terminal bus ekspres Seoul karena busku berangkat pukul 06.30 pagi dan kereta metro baru ada pukul enam pagi dan bus tak mungkin terkejar. Jadilah aku menginap di jjimjilbang terminal. Semalam 13.000 won. Lebih mahal dari ongkos menginapku di hostel di Seoul yang hanya 10.000 won. Kedua kalinya aku menginap di jjimjilbang di kota Mokpo dengan tarif 8.500 won. Karena kota kecil, aku tidak bisa menemukan hostel di situs web. Terakhir, di Pulau Jeju karena awalnya niatku menginap di bandara –karena pesawatku pagi hari dan nggak mau rugi booking hostel-- eh, tapi bandara nggak 24 jam. Yang kali ini, ongkos jjimjilbang 9000 won.

2015 Instagram Best Moments Video

Bagi para pengguna Instagram, akhir tahun 2015 ini sebagian besar membuat #2015bestnine-nya deh. #2015bestnine kan bentuknya kolase yang disusun dengan sembilan foto yang memiliki like terbanyak tahun 2015. Ternyata ada lagi 2015 Instagram Best Moments, namun bentuknya video dan ada lima foto yang di-like terbanyak yang terlihat. Awalnya aku melihat di akun instagram seorang teman blog Mbak Bebe, sampai aku gugling loh karena kan aku anaknya labil dan suka ikut-ikutan kekinian. Guglingnya pakai kata kunci: “2015 Instagram Best Moments video” tapi engga nemu. Malah nemu kalimat ini di web Iconosquare:

“Unfortunately the Best Moments video will not be available this year.”

Sebagai anak kepo, akhirnya aku tanya bagaimana caranya, di komentar video instagram temanku. Terima kasih Mbak Be infonya. Ternyata gampang! Caranya:

1. Install app InsTrack dari AppStore
2. Login akun Instagram-mu di app InsTrack
3. Akan muncul pop-up message tawaran untuk men-download fitur video 2015 Instagram Best Moments ini
4. Masukkan alamat e-mail
5. Video 2015 Instagram Best Moments dikirimkan via e-mail dalam bentuk mp4 dan siap diunduh. Ukuran video sekitar 2 MB.

Keliling Tokyo dengan Teman Baru dari Tokyo

Memang ya, kalau jalan-jalan itu sebaiknya bersama teman yang aslinya dari daerah itu. Karena biasanya bakal dapat informasi, sedikit atau banyak, yang bahkan nggak akan ditemukan dengan mudahnya di mesin pencarian. Seperti halnya, saat teman baruku dari Tokyo, Keiko-san, memanduku berjalan-jalan di Tokyo.

Hari sebelumnya ia bertanya, aku sukanya apa. Aku suka apa saja dan yang gratis atau murah. Ke mana saja, aku serahkan seluruhnya kepada Keiko-san. Manut. Malamnya pun via e-mail ia menanyakan kepadaku apakah aku sudah ke tempat ini atau ini. Tak lupa ia pun memberitahuku di mana tepatnya meeting point lengkap dengan petanya. Ia juga mencantumkan informasi kalau beli tiket kereta 1-day lebih murah. Parah komplit abis dah! Trus karena aku nggak bisa baca banyak kanji, ia selalu menuliskan hiragananya apabila ia menulis kanji di dalam e-mail. Aku terharuuu!

Hari H, Keiko-san bercerita kepadaku, ia benar-benar memutar kepalanya untuk mencari tempat yang gratis dan murah tapi menarik. Kami janjian pada pukul 08.50 pagi dan sebelum 14.00 Keiko-san harus pamit karena sudah ada janji dengan temannya. Lokasi meeting point-nya di Exit 1 Stasiun Tsukiji. Karena aku nggak bisa kira-kira berapa lama perjalanan di kereta, jadi aku datangnya kecepetan 15 menit. Sedangkan Keiko-san datang tepat pukul 08.50, nggak pakai kurang nggak pakai lebih.

Tujuan pertama kami adalah Tsukiji Market, pasar ikan yang paling terkenal di Tokyo. Sayangnya, waktu itu adalah hari libur Obon, sehingga sebagian besar kios yang menjual hasil laut segar pada tutup. Beberapa warung makan pun tetap buka, mungkin memang paham ya kalau musim liburan pasti banyak turis datang. Ada warung yang menjual tamagoyaki dan begitu menarik sampai aku ingin membeli. Pas mau keluarin uang, baru sadar antrenya puluhan meter. Oke, cancel.

Teman Baru dari Tokyo

Sampai di Stasiun Bubaigawara, aku langsung bergegas mencari di mana halte shuttle bus yang disediakan pabrik bir Suntory Musashino. Di tiang depan stasiun terdapat informasi yang ditempel mengenai jadwal shuttle. Jadwal yang terdekat hanya tinggal lima menit saja, dan aku pun langsung berlari. Tapi nggak lama, balik lagi ke tiangnya. Bingung baca peta lokasi haltenya dan memastikan lagi. Keringatan.

Lari-lari lagi deh ke arah pemberhentian busnya dan di sana sudah berbaris puluhan orang yang secara statistik lebih banyak lansianya. Syukurlah busnya belum datang. Tapi dasar namanya Jepang, si bus itu datang persis pas jadwalnya. Di tiang shuttle bus stop ada semacam pengumuman, yang aku nggak bisa baca semuanya. Aku cuma bisa membaca bagian: “untuk pengunjung yang tidak melakukan booking.” Hah? Aduh apa ya itu penjelasannya? Aku takut nggak bisa masuk karena aku nggak reservasi sebelumnya untuk berkunjung ke pabrik bir itu.

Tapi ya sudah lah, kalau nggak boleh ya balik lagi ke stasiun. Kemudian aku masuk ke busnya dan duduk di bangku paling depan. Sebelahku ibu-ibu 30-an tahun yang sepertinya pergi sendiri. Karena aku tetap was-was karena nggak reservasi, aku bertanya kepada ibu itu. Katanya, memang harus booking lewat situs webnya tapi mungkin karena aku pergi sendiri pasti bakal dibolehin masuk. Katanya lagi, kalau nggak boleh masuk, mohon-mohon melas aja sampai dibolehin.

Japan vs. Korea vs. Taiwan vs. Hong Kong

Setelah menghabiskan waktu tiga bulan di Jepang, aku menyusuri Korea Selatan, Taiwan, dan Hong Kong sebelum kepulanganku ke Jakarta. Salah satu persamaan tiga negara terakhir adalah sama-sama bekas jajahan Jepang. Luas sekali ya jajahannya. Keempat negara tadi termasuk dalam wilayah Asia Timur, bertetangga, namun sangat berbeda. Di postingan ini, aku ingin bercerita tentang perbandingan keempat negara ini dalam beberapa aspek yang berbeda dan dari sudut pandang turis. Mulai dari mengenai soal wi-fi gratis, PDA, dan populasi orang ganteng. Ingin nulis tentang perbandingan harga dan service/hospitality, tapi banyak sub-aspeknya, kapan-kapan saja lah ah.

Maklumin aja semua foto di post ini nggak nyambung sama tulisannya.

Musholla di Kansai Airport

Siang tadi, telunjukku cukup tergelitik untuk meng-klik tautan video yang diunggah oleh pengguna Youtube: kanadajin3. Video itu berjudul Japan is NOT anti - muslim - Rumours. Dalam video tersebut, Mira, si kanadajin3 itu membantah rumor-rumor mengenai susahnya mendapatkan izin tinggal/visa Jepang bagi muslim. Ia menyebutkan kalau di Jepang terbuka sekali untuk orang Islam karena ada masjid, banyak restoran halal, bahkan penginapan khusus muslim yang dibuka dekat masjid.



Aku nggak ngerti lah bagaimana bisa ada rumor-rumor itu beredar. Tapi ya kalau rumor itu benar, bahwa Jepang tidak terbuka dengan Islam dan orang-orang Jepang anti Islam, kok rasanya enggak mungkin. Abisnya... aku bertemu dengan orang Jepang dan pemilik restoran Indonesia yang mengkhawatirkanku tidak makan makanan halal -karena masakan di restorannya menggunakan daging yang tidak berlabel halal. Sementara padahal aku nggak peduli, hihihi. Aku juga bertemu dengan tante-tante yang penasaran kok aku boleh makan takoyaki (gurita) sedangkan temannya dari Uzbekistan bilang kalau muslim nggak boleh makan gurita. Dan lagi... kalau rumor itu benar... nggak mungkin di Kansai International Airport menyediakan prayer room sampai tiga ruang gitu!

My #2015bestnine on Instagram

Tadi aku menggulir linimasa Instagram kok banyak yang mengunggah kolase sembilan foto ber-hashtag #2015bestnine ya. Karena aku sukanya ikut-ikutan, cari tahu lah bagaimana bikinnya. Ternyata hanya tinggal masukan username di situs web 2015bestnine.com. Username yang dimasukkan terserah, bisa punyamu sendiri atau orang lain yang kamu kepo. Website-nya bukan punya Instagram, jadi yaaa.... muncul pop-up iklan-iklan gitu. Nggak sampai 10 detik, jeng jeng... muncullah sembilan foto Instagram-mu yang paling banyak di-like tahun 2015.

Kalau punyaku begini nih:

#2015bestnine indonesia instagram
@u__n__a__'s #2015bestnine
Memang aku melankolis ya, lihat fotonya, aku kok jadi rindu ingin ke sana lagi. Dari sembilan foto, hanya dua yang diambil di kota yang sama. Kalau diberi angka, diurutkan dari kiri ke kanan, lalu ke baris bawahnya, inilah cerita masing-masing dibalik fotonya.

Jangan Menginap di Warnet Akihabara!

Malam kedua di Tokyo, saya belum tahu akan menginap di mana. Namun tiba-tiba teringat Akihabara, salah satu area di Tokyo yang sangat terkenal bagi para otaku. Di sana banyak kios yang menjual game, barang elektronik, dan merchandise girlband Jepang. Tentu saja lah ya, kalau internet café pasti banyak di Akihabara!

Memang tidak susah mencari internet café di Akihabara. Sayangnya, warnet pertama yang aku kunjungi, semua computer dengan kubikelnya penuh! Adanya yang smoking area tanpa kubikel! Ya aku ogah lah, wong niatnya mau tidur, bukan main internet, hahaha… Nggak jauh dari sana, aku menemukan warnet yang ternyata cabangnya warnet yang aku singgahi di Ginza malam sebelumnya. Untungnya, nggak penuh! Dan lagi, aku nggak perlu bikin kartu member lagi.

Kondisi meja komputerku malam itu.
Kalau dibandingkan dengan cabang Ginza, Manga Net Kan Akihabara ini lebih sempit, dan jumlah kubikelnya lebih sedikit. Kalau ukuran dan layout kubikelnya kurang lebih sama. Kamar mandi dan fasilitasnya juga serupa. Karena hari itu lelah sekali, aku sudah sampai warnet sebelum pukul 7 malam. Aku ‘membeli’ paket 12 jam dengan harga 2000 yen saja. Bandingkan dengan cabang Ginza yang 10 jam 2570 yen. Jauh lebih murah kan?

Amankah Cewek Menginap di Warnet Jepang?

Empat bulan lalu, aku menulis postingan dari kubikel warnet yang kuinapi di daerah Ginza, kawasan elite dan mahal di Tokyo, Jepang. Sayangnya, pengalaman pertama menginap di warnet agak kurang beruntung karena malam itu aku menghabiskan sekitar 5000 yen (1 yen = 113 rupiah). Mau irit malah boros. Boros yang disebabkan sok-sok irit.

Jadi begini,

mengapa menginap di warnet begitu populer di Jepang, ya karena jauh lebih murah daripada menginap di hotel, bahkan bila dibandingkan hotel kapsul yang punya fasilitas terbatas pun. Satu malam di hotel kapsul atau satu bed di shared room di penginapan di Jepang, paling murah rata-rata 3000-4000 yen. Sedangkan 12 jam di warnet bisa hanya 2000 yen saja. Fasilitasnya? Nanti aku jelaskan di belakang.

Nah, malam itu, aku baru tiba di Stasiun Tokyo dari Hakodate. Karena awalnya berniat di Tokyo hanya semalam, kuputuskan hari itu menginap di warnet saja. Dari hasil telusur Google, aku menemukan ada warnet di daerah Ginza, yang kalau jalan dari Stasiun Tokyo hanya sekitar satu kilometer. Sambil jalan kaki, aku berharap menemukan penginapan murah di sekitar situ, yah daripada nginep di warnet kan ya. Di situs booking aku tidak menemukan yang murah dan pas jalan hanya menemukan hotel ‘murah’ single bed semalam 7000 yen. Nggak deh ah! Mari lanjutkan jalan ke warnet…

Warnet pertama yang kutemukan… papan iklannya di depan gedungnya agak tidak meyakinkan. Lanjut jalan lagi deh, ada warnet lain nggak jauh dari situ. Jalan sebentar, akhirnya ketemu sebuah warnet namanya Manga Net-kan (マンガ.ネット館). Warnet ini terletak di lantai 8-10 Leisure Building, Ginza. Oya, warnet ini nggak sekadar warnet dan tempat baca manga saja, tapi juga ada tempat biliar, bar, dan main darts.

First World Problems: Visa and Passport

Sebagai pemegang paspor biasa Republik Indonesia, untuk jalan-jalan ke sebagian besar negara di dunia harus membutuhkan visa. Paham lah, kalau untuk mendapatkan visa, terkadang harus menunjukkan sejumlah dokumen, bahkan dari kartu keluarga sampai ke fotokopi buku tabungan. Sudah gitu, kita harus membayar biaya visa yang tidak menjamin kita bisa mengantongi izin masuk negara tersebut atau tidak. Kasus ribet daftar visa dan ditolak, rasanya adalah kisah 'biasa' bagi kalangan warga Indonesia.

Tapi tidak bagi teman-teman yang berasal dari negara dunia pertama (termasuk Eropa Barat, Amerika Serikat, Jepang, Kanada, Australia, New Zealand, Singapura, yang maju-maju lah). Mereka nggak ngerti... wkwkwk.

Di Busan dua bulan lalu, aku sehostel dengan seorang bule Belgia yang pernah kuceritakan makan darah bersamaku di beberapa postingan lalu. Ia berhenti bekerja dan memulai jalan-jalan keliling dunia. Ia datang dari Fukuoka, Jepang sebelum ke Korea, dan selanjutnya akan bertualang ke Vietnam dan negara Indochina lainnya. Mulanya, ia hendak ke Tiongkok, namun syarat-syarat untuk apply visa-nya menahan dia untuk pergi ke sana. Salah satu syarat dokumennya adalah salinan rekening, dan temanku nggak habis pikir kenapa untuk berkunjung ke sebuah negara dan cuma untuk jalan-jalan harus perlu menunjukkan dokumen yang sangat privat.

Dari Bukit Kingkong Ke Pasir Berbisik

Gunung Bromo, merupakan salah satu yang paling diminati para wisatawan dalam melancong ke wilayah Jawa Timur. Yang paling terkenal adalah panorama Gunung Bromo dari beberapa viewpoint dan keindahan matahari terbitnya. Untuk melihat matahari terbit, terdapat beberapa viewpoint di antaranya Penanjakan, Bukit Kingkong, dan Bukit Cinta.

Jadwal partisipan Social Media Trip and Gathering bersama Kementerian Pariwisata ‘berangkat ke Bromo’ alias berangkat ke viewpoint terbagi menjadi dua. Sebagian berangkat jam 12 tengah malam, bagi yang hendak ‘berburu bintang’, sebagian lagi berangkat jam tiga pagi. Aku berangkat jam tiga pagi. Viewpoint yang akan kami tuju adalah Bukit Kingkong.

Viewpoint yang paling ramai adalah Penanjakan, letaknya paling tinggi di ketinggian sekitar 2700 mdpl. Sedangkan Bukit Kingkong berada 100 meter di bawah Penanjakan. Di mana saja, pemandangan matahari terbit di Gunung Bromo tetap fantastis, hanya saja yang membedakan adalah angle-nya.

Perjalanan dari penginapan menuju Bukit Kingkong menggunakan jip yang mampu diisi lima orang penumpang dan supir. Sekitar 30 menit, kami tiba di parkiran jip dan harus berjalan kaki untuk menuju Bukit Kingkong. Tenang saja, jalan kakinya tidak terlalu jauh dan tak sampai membuat nafas tersengal-sengal. Di sana terdapat beberapa kios kecil yang menjual mi dalam gelas, pisang goreng, maupun minuman panas. Pisang goreng yang kalau biasanya mahhh gitu aja enaknya, tapi kalau ditambah dengan dinginnya Bromo, jadi berasa enak banget! *laper*

Siluet para manusia yang menanti-nantikan matahari terbit di Bukit Kingkong.

Kecak Berlatar Senja di Uluwatu

Sudah lama aku ingin sekali melihat matahari terbenam dari desa paling ujung selatan Pulau Bali ini, Desa Pecatu. Akhirnya kesampaian juga… dan tak hanya menikmati senja, namun juga menyaksikan riuh pertunjukan Tari Kecak di sana.

Tepatnya di sebelah Pura Uluwatu, terdapat panggung terbuka yang mampu menampung sampai 1400 orang. Setiap hari, kecuali Hari Raya Nyepi dan Pengerupukan (H-1 Nyepi), pukul 18.00 digelar pertunjukan tari kecak dengan durasi tepat satu jam. Tempat pertunjukan menghadap ke laut dan menyajikan panorama indah yang berasal dari rona matahari terbenam dan senja.

Aku sempat was-was, karena lokasi tari Kecak masih searea dengan Pura Uluwatu dan saat itu aku sedang berhalangan. Syukurlah, ternyata tidak masalah melewati tangga sebelah pura, asal tidak masuk pura. Oya, seperti masuk pura di Bali lainnya, harus menggunakan baju sopan dan selendang yang diikatkan di pinggang. Kami juga diingatkan untuk berhati-hati karena di area pura banyak sekali kera yang lebih bandel daripada kera di Monkey Forest Ubud. Sehingga disarankan untuk melepas kacamata, anting-anting, dan ikat rambut. Aku tidak melepas kacamata~ hihi dan untungnya tidak apa-apa.

Karena sudah dekat pukul 18.00, kami langsung menuju ke panggung tari kecak untuk mencari tempat duduk yang kosong, karena sudah ramai sekali.

Ngomongin Budaya Sasak, Yuk!

Diambil di Pantai Mawun, Lombok. Cantik ya warna lautnya...
Keragaman alam dan budaya merupakan salah satu Pesona Indonesia. Setelah sebelumnya postinganku tentang alam Indonesia, tepatnya Pantai Merah atau yang biasa dikenal dengan Pink Beach di Taman Nasional Komodo, kali ini mari diskusi tentang salah satu budaya Indonesia, yuk!

Saya sebagai orang Jawa, jujur saja tak banyak mengenai budaya Jawa yang saya pahami. Sebut saja soal Batik. Motif selain parang dan kawung, saya sudah tak mengenalinya. Belum soal yang lainnya. Belum budaya suku-suku lain di Indonesia. Ya, memang Indonesia itu benar-benar kaya soal budaya.

Indahnya Pantai Merah (Pink Beach Komodo)

Keragaman alam dan budaya merupakan salah satu Pesona Indonesia. Dan kali ini, tentang salah satu pesona alamnya: Pink Beach.

Sudah sering mendengar cerita orang pergi ke Pink Beach, tapi baru tahu kalau pantai yang biasa disebut Pantai Merah oleh masyarakat local ini, ternyata terletak di pulau yang sama dengan tempat melihat komodo, Pulau Komodo.

Trip Taman Nasional Komodo hari itu dimulai dengan susur jalur medium trek di Loh Liang, dan kemudian dilanjutkan dengan perjalanan ke Pink Beach. Horeee… Aku penasaran sekali dengan pantai yang punya pasir berwarna merah ini.

Siang itu, hampir jam 12 siang, benar-benar panas. Bodohnya, aku tidak membawa sandal jepit, dan aku pun menyeker di pantai Pink Beach. Aku hanya bawa sepatu, dan turun dari perahu kan tidak benar-benar sampai di area yang berpasir, jadi bakalan basah. #curhat. Garis Pantai Pink Beach tidak terlalu panjang, di pantai pun tidak ada apa-apa, maksudnya bangunan apaaa kek gitu, hanya ada sebuah gazebo kecil.

Jalan menanjak ke atas bukit.

One of the Best Private Museums in Indonesia

Saya sering melihat di linimasa jejaring sosial, teman-teman check-in di Antonio Blanco Renaissance Museum. Saya sama sekali tidak tahu mengenai museum tersebut kecuali tentang Antonio Blanco yang merupakan seorang pelukis. Sampai akhirnya saya sendiri terkagum-kagum dengan museumnya… dan memang, museum ini menurut saya salah satu yang terbaik di negeri ini!

Museum Antonio Blanco terletak di kawasan Campuhan, Ubud. Dari Ni Rondji, restoran dalam area museum yang dinamai dengan nama istri mendiang Antonio Blanco, kita dapat melihat pemandangan rumah-rumah dan bukit yang sangat indah. Memasuki gerbang kecil ke arah bangunan utama museum, kemudian di sebelah kanan terdapat beberapa ekor burung cantik yang sedang bertengger. Jenis burungnya antara lain Makaw/Makau, Kakaktua, dan Jalak Bali. Harganya di pasaran pun bukan main-main, kisaran 100 hingga 250 juta rupiah per ekornya. Museum Antonio Blanco tak sekadar ‘mengkoleksi’ burung-burung cantik itu, melainkan juga menjadi konservator karena rupanya dahulu hanya memiliki tiga pasang Jalak Bali, hingga kini menjadi 250 ekor.



#PesonaIndonesia: Kelagian Lunik, Cantik… Cantik…

“Risiko punya pacar cantik… cantik… cantik…” lirik lagu Syahrini seringkali terdengung di kepalak saat perjalanan waktu itu. Padahal aku bukan fansnya loh. Well~ entah menurutmu beliau cantik atau tidak, tapi salah satu pulau kecil di Lampung ini, menurut semua orang pasti… cantik deh! Paragraf pembuka sumbang banget biarin lah ya, hihihi!

Salah satu destinasi wisata andalan Provinsi Lampung yang lagi heitz-heitz-nya adalah Pulau Pahawang. Sering banget deh lihat info open trip tujuan ke pulau satu ini. Nah, salah satu pulau utamanya memang Pahawang, tapi di sekitarnya banyak pulau-pulau kecil yang juga cantik. Salah satunya, Kelagian Lunik.

Perjalanan ke Pulau Pahawang dan pulau-pulau sekitarnya dapat ditempuh menggunakan perahu dari Pelabuhan Ketapang. Trip kami kali itu, destinasi pertamanya adalah Pulau Kelagian Lunik dan perjalanannya memakan waktu satu jam. Seperti namanya, pulaunya memang cilik – 'Lunik' berarti kecil. Meskipun aku tak berkeliling pulau secara penuh, yakin deh, tak sampai sejam udah bisa buat tawaf pinggir pulau Kelagian Lunik beberapa kali.

#PesonaIndonesia: Lagi Mens Ke Komodo, Boleh Nggak?

“Kak, ke komodo kan katanya nggak boleh kalau lagi mens. Ntar lo dikejar loh sama komodonya.”

Yang bener? Esoknya ialah jadwal kami pergi ke Pulau Komodo, dan hari itu aku masih visitor langganan bulananku. Masa’ jauh-jauh sampai Taman Nasional Komodo aku nggak bisa bertemu dengan si ora –nama lokal makhluk yang kerap disapa Komodo ini-? Aku pun mencari informasi di mesin pencarian. Ternyata hasilnya… sebagian bilang tidak boleh, sebagian bilang tidak masalah. Jadi boleh nggak sih?

♥♥♥

Nyaman Perjalanan Wisata Ke Luar Negeri Bersama Cathay Pacific

Kamu suka menjelajah tempat wisata di luar negeri? Bagaimana memilih perjalanan yang nyaman dan aman untuk sampai di tempat wisata yang diinginkan? Salah satu cara yang mudah dan cepat untuk berlibur di luar negeri adalah dengan pesawat. Jika kamu ingin pergi ke Hongkong untuk berlibur saat ini, memilih maskapai Cathay Pacific adalah pilihan yang tepat. Selain tiketnya yang mudah didapat melalui website Traveloka. Cathay Pacific adalah maskapai penerbangan internasional yang berada di Hongkong dan didirikan tahun 1946. Maskapai ini merupakan maskapai penerbangan internasional yang memiliki pelayanan sangat memuaskan. Cathay Pacific menawarkan jasa kargo dan juga penumpang untuk 162 destinasi yang ada di 42 negara di dunia.

Maskapai penerbangan Cathay Pacific ini merupakan maskapai penerbangan besar di dunia. Untuk mendapatkan layanan terbaik dari maskapai ini maka kamu bisa melakukan check-in dengan sangat mudah. Saat ini kamu bisa check-in dengan maskapai Cathay Pacific secara online maupun dengan mobile check-in. Layanan check-in ini bisa dilakukan kapan saja dan dimana saja namun kamu bisa melakukan check-in secara online 48 jam hingg 1,5 jam sebelum waktu keberangkatan. Cara online ini tentu sangat memudahkan penumpang yang tidak memiliki waktu untuk datang ke counter Cathay Pacific. Kamu bisa juga check-in dengan datang langsung pada counter Cathay Pacific setidaknya 2 jam sebelum keberangkatan.

Armada Cathay Pacific. source: thedrinksbusiness.com

Konspirasi Alam Semesta

Aku lagi nonton televisi di common area tempat aku menginap di Taipei. Seingatku, saat itu aku nonton Channel News Asia dan berita saat itu ada hubungannya tentang sepeda.

Om-om dari Kanada yang pernah sekamar denganku (minggu pertama beliau tidur di bawah bed-ku, minggu selanjutnya aku pindah female room), lewat dan menyapaku. Dia sudah hampir membuka pintu kamarnya tapi terhenti melihat televisi.

"Kamu tahu? Beberapa turis yang menginap di sini ada lho yang naik sepeda. Mereka keliling Taiwan, bersepeda, bahkan ada yang datang juga dari Cina Daratan. Kamu lihat kan di lobi, ada sepeda di atas resepsionis? Katanya itu punya salah satu tamu di sini."

"Hu um?"

"Engga, aku hanya tetiba terpikir itu dan kok beritanya sedang tentang sepeda. Mungkin bagian dari konspirasi,” lanjut beliau dan kemudian benar-benar membuka pintu dan masuk kamar.

Hah? Otakku nggak mampu mencerna perkataan random si om peneliti bidang farmakologi itu. Pas aja kan dia lagi kepikiran sepeda, eh berita kok muncul tentang sepeda. Bagian konspirasi mananya? Tapi sih ya… memang alam semesta berkonspirasi sih kalau kita mikir sesuatu.

Aku paling sebel kalau gini…

Nyinyir-Menyinyir

nyinyir/nyi·nyir/ a mengulang-ulang perintah atau permintaan; nyenyeh; cerewet: nenekku kadang-kadang -- , bosan aku mendengarkannya;

Masa terus bergulir, semua hal berubah, berevolusi, berkonversi. Yang dulu pernah ada sekarang tiada, yang dulu tiada sekarang teramat sohor. Ngomong apaan sih gue.

Ya intinya semua berubah seiring waktu, warna rambutmu, penampilanmu, kondisi negaramu, tak terkecuali penggunaan kata-katamu, kata-kata kita. Mungkin dulu kata ‘ogut’ sering digunakan para anak gawl Jakarta, tapi sekarang tak pernah dengar lagi tuh. Seperti pula, lima tahun lalu sepertinya aku belum pernah mendengar orang bilang ‘baper’, yang sekarang, andai percakapan lisan ada daftar trending topic-nya, ‘baper’ dah tuh salah satunya.

Juga… kata ‘nyinyir’.

Mungkin 10 tahun lalu, aku sudah tahu ada kata nyinyir dalam perbendaharaan kata Bahasa Indonesia, tapi mendengarnya jarang-jarang. Tapi tidak untuk hari-hari ini. Rasanya kalau buka linimasa jejaring sosial, scroll scroll, biasanya nemu kata nyinyir. Kalau nguping orang ngomongin orang pun, suka mendengar terselip kata ‘nyinyir’ dalam kalimat.

Tadinya aku nggak mengerti betul apa arti kata 'nyinyir'. Tapi imej dalam otakku tuh kayak begini.

Syok Harga (Pembalut)

Syok harga yang gue maksud bukan terjemahan betulan dari price shock, yang kita tahu adalah harga yang ujug-ujug berubah karena ada kondisi tertentu. Syok harga yang gue maksud… maksudnya ya gue syok sama harga-harga!

Jadi gini… yah maklum, karena mental masih mental miskin, waktu tiba di Jepang lima bulan lalu, aku merasa semuanya mahal banget di sana. Kayak misalnya, paket burger L***otteria yang harganya di atas 100.000, ongkos buka pintu taksi sekitar 60.000, atau tiket masuk museum kecil aja 70.000. Semua mahal!

Secara keseluruhan memang harga barang-barang di Jepang jauh lebih mahal dari di Indonesia, tapi tentu saja ada yang lebih murah, seperti, barang toko 100 yen, cat rambut, dan Kitkat Green Tea *pastinya* Seorang teman bercerita, saat ia tinggal di Jepang selama dua bulan, ia bawa persediaan pembalut wanita dari Indonesia, soalnya mahal. Saat mendekati waktu mens, aku pun mencari pembalut di drugstore, ternyata ada juga tuh pembalut 240 yen (± 26000) sebungkus isi 14. Nggak mahal-mahal banget kan? Temanku lebay~~~ tapi memang yang lebih mahal juga banyak.

Setelah visa Jepangku habis, aku cabut ke Korea. Harga-harga di Korea Selatan secara garis besar lebih murah daripada di Jepang. Dari segi penginapan misalnya, sangat mudah menemukan dorm bed kisaran 10.000 won (± 120.000), layanan laundry di hostel sangat murah, mulai gratis sampai 2.000 won (± 24.000), ongkos naik subway pun setengahnya Jepang. Makanan, tiket masuk museum, kosmetik apalagi, lebih murah di Korea deh. Yang mahal tuh… pembalut!

LINE FRIENDS Cafe & Store Seoul

Via LINE Messenger, my friend messaged me that I should pay a visit to Line Friends Store in Gangnam, Seoul. I didn't know about this Line Store before and I guessed yeah... should visit lah since I love cute stuffs and Line characters.

When I was in Korea, it was chuseok days, one of biggest Korean holiday. Thailand girl who was staying in the same room with me also planned to visit Line Store, but unluckily, the store was closed that day. I went to Gangnam Area on the next day, and the store was open... hm but wait, what line is that? Need to queue or what to enter the store?

They were queueing...

Kuil Cinta Osaka (Tsuyu no Ten Jinja/Ohatsu Shrine)

Ingat Osaka, maka yang muncul di kepala adalah area Nanba, dengan distrik belanja Shinsaibashi yang super panjang dan baliho Glico yang terkenal. Tapi hari itu, saya dan teman saya berniat untuk menghindari tempat perbelanjaan, selain sudah pernah, pasti ramai sekali. Kami ingin menikmati Osaka ‘yang lain’.

Perjalanan hari itu, kami mulai dari Shinsekai, lalu berjalan kaki ke arah Nipponbashi (Den Den Town) alias Akihabara-nya Osaka. Kemudian kami tiba di sebuah mal di daerah Nanba, yang tidak ingin kami jelajahi lebih lanjut. Kami bingung hendak ke mana lagi sedangkan hari masih panjang. Sebenarnya ada sebuah kuil yang ingin sekali saya datangi. Tetapi, untuk mengajak teman saya, ada rasa sedikit malu, mengingat teman saya ini adalah lawan jenis... dan cukup menarik. Oops.

Hmmm… mau tidak kalau ke Tsuyu no Ten Jinja?”

"Kuil spesial kah?" begitu tanya teman saya.

"Iya, kuil tempat berdoa untuk cinta. Katanya cocok untuk orang yang sering mengalami kataomoi. Tahu kataomoi nggak? Itu lho cinta bertepuk sebelah tangan. Aku ingin berdoa di sana."

♥♥♥

Menginap di Dorm Campur #3

Karena sampai sekarang, kalau jalan-jalan harus ngepres budget, seringnya menginap di shared room. Aku prefer female only tapi apa daya yang mixed kadang jauh lebih murah, jadi malah seringnya di mixed dorm.

Shared room-nya dari yang cuma empat bed sekamar, seringnya delapan bed, tapi pernah juga dua belas bed, dan bednya tingkat tiga! Tanah mahal banget ya sekarang. Meskipun kurang dari segi privasi, tapi senangnya dapat teman ngobrol dan tambah pengetahuan yang sebelumnya nggak tahu sama sekali. Kayak ada teman sekamar dari Singapura yang cerita kalau darah binatang untuk dimakan, di-ban sama pemerintah kalau alasan higienis. Atau pas kapan itu ada peneliti dari Kanada yang cerita tentang teori kalau nenek moyang orang Indonesia asalnya dari Taiwan.

Ada senengnya... ada pula enggaknya... beberapanya kayak tiga ceritaku di bawah ini.

Ada Bule Bau Badan

Yang ini aku menginap di mixed 12 bed room di sebuah hostel di Taipei, Taiwan. Untuk bednya, best yang pernah aku singgahi. Kayak di hotel 'betulan' gitu lah, makanya di situ aku bangun siang terus. Nyalahin bednya yang enak...

Di kamar ini, pertama kalinya aku menginap di kamar yang bednya tiga level. Tangganya pun bukan tangga biasa kayak bunkbed pada umumnya, tapi tangga betulan, stair gitu loh bukan ladder di pinggir bednya, jadi nggak susah naiknya. Meskipun nyaman banget bed-nya, apesnya, ada satu orang di kamar yang baunya minta ampun. Baunya tuh kayak bau orang keringetan yang mengendap lama, jadi gitu deh. Aduh enek banget.

Kayak gini nih kamar dengan bed level tiganya. Foto: Angels Hostel Taipei

Taco-Rice dan Tofu Chanpuru (Masakan a la Okinawa)

Di asrama, setiap akhir bulan, kepala asrama menempel daftar menu sarapan dan makan malam bulan berikutnya di dinding ruang makan. Daftar menu selalu aku foto, jadi kalau lagi di kamar atau di sekolah, penasaran nanti makannya apa, tinggal lihat di foto. Suatu hari, sedang jalan kaki arah asrama, aku lihat menu makan malamnya, "タコライス 豆腐チャンプルー" Takoraisu, tofu chanpuru. Eh? Nasi gurita? (Tako = jp. gurita, raisu = rice) Tahu campur? HE? Makanan apaan tuh?

Sampai asrama, rak makan malam terdapat sebuah mangkuk yang dibungkus plastic wrap dan mangkuk side dish berisi sayur tahu, sesuai namanya memang 'tahu campur'. Di dalam mangkuk besar dari tampak luar, terlihat nasi, potongan tomat, keju, dan olahan daging cincang menyerupai saus bolognese. Di mana guritanya?

Taco-rice dan tofu chanpuru bulan Agustus. Manggaaaa... barang mewah!
Takoraisu yang tampaknya seperti nasi bolognese ini memiliki rasa slightly mirip kare... dan pas dirasain, rasanya kayak familiar deh. Ditambah keju, aduh gimana ya, enak bangettt, plus selada dan tomat, segerrr. Sayangnya segitu buatku nggak kenyang, mau nambah kan nggak boleh, hahaha. Pas makan sambil bertanya-tanya ini masakan negara mana sih ya. Masak masakan Jepang sih?

My Dorm Tour! (Dorm Ashiya-L, Ashiya-shi, Japan)

Hari ini tepat sebulan setelah aku keluar dari Jepang, dan sebulan sehari setelah keluar dari asramaku di Kota Ashiya. Waktu terbang begitu cepat... nggak berasa banget.

Karena aku tinggal di Jepang untuk tiga bulan, aku harus cari tempat tinggal dong. Sekolah punya beberapa daftar asrama maupun apartemen yang tersedia untuk siswanya. Ada puluhan pilihan deh, tinggal pilih dan sesuaikan dengan kemampuan dan keinginan. Pas lihat daftar harganya... aduh tinggal di Jepang mahal banget ya. Kamar paling murah sekitar 38.000 yen (1 yen=114) dan bahkan yang 92.000 yen sebulan pun juga ada dalam list.

Masalahnya, kebanyakan rumah/apartemen disewakan kan dalam jangka panjang >1 tahun, sedangkan aku hanya tiga bulan. Nggak semua yang ada .dalam daftar menyediakan untuk jangka pendek. Singkat cerita, berdasarkan benefit and cost analysis yang telah dilakukan, akhirnya aku memilih menyewa kamar di sebuah asrama milik perusahaan swasta (barusan gugling ternyata perusahaannya ada di list bursa efek lah), yang letaknya di kota sebelah, kota sekolahku berada, Kota Kobe.

Namanya Dorm Ashiya-L, dan L untuk ladies. Yah sayang sekali nggak ada prianya. Ada ding satu, kepala asramanya =)) 

Asrama ini menyediakan kamar untuk jangka pendek dari sebulan sampai enam bulan. Tentu harganya beda bagi yang jangka pendek maupun jangka panjang. Untuk jangka pendek per bulannya 63.000 yen, sedangkan jangka panjang 48.000 yen. Kalau nyewa rumah kan biasanya di awal ada uang deposit (yang nggak dibalikin lah wkwk), uang apa, uang tetek bengek, nah kalau asrama ini bebas ongkos lain khusus untuk yang jangka pendek. Selain itu, air dan listrik nggak perlu bayar sendiri. Ditambah, sudah termasuk sarapan dan makan malam. Kurangnya, toilet dan kamar mandinya shared. Buatku bagus sih, nggak perlu bersihin!

Makan Darah Sapi

Belum ada dua minggu di Korea, berat badanku turun empat kilo. Karena memang nggak banyak makan juga, sih. Untukku, mencari makanan (besar) di Korea lumayan susah. Selain nggak makan babi, aku nggak makan pedas, dan pergi sendirian. Apa hubungannya cobak pergi sendirian? Di Korea, kebanyakan porsi makanan itu adalah porsi sharing untuk berdua atau bertiga. Misalnya ayam goreng, belinya harus banyakan dan jadinya kan harganya mahal kalau aku makan sendiri. Ada kulkas sih di penginapan, kan bisa disimpan trus besoknya dihangatkan... tapi kan tapi kan...

Dua kali aku makan bibimbab. Yang pertama kali, gochujang (pasta cabai merah)-nya sudah ditaruh di tengah nasi dan banyak banget. Nah kalau makan Korea kan biasanya dikasih beberapa banchan (side dish) di piring kecil. Yang pertama itu, semua banchannya pedas semua. Nggak cuma kimchinya aja yang pedas. Untungnya yang kedua kali, kimchinya masih pedas di tahap aku bisa tahan dan gochujang-nya masukin sendiri, jadi bisa ngira-ngira kuatnya sampai mana. Sempat juga aku makan dak bokkeum (ayam tumis) pedas ditambah keju yang banyak. Enak sih enak... pas awalnya masih kuat tahan pedasnya. Beberapa kali suap, udah nggak tahan, sampai minta minum lagi. Pulang dari makan, perutku panasnya minta ampun nggak kelar-kelar. Plus mules lagi... duhhh...

Kejunya banyak banget :(

Penginapan di Korea

Ultra long post! XD

Belum lama ini, aku jalan-jalan ke Korea selama 22 hari 21 malam. Ada enam kota yang aku singgahi: Seoul, Daegu, Busan, Mokpo, Jeju, Seogwipo, namun hanya di empat kota aku menyewa tempat tidur. Di Daegu aku menginap di rumah teman dan di Mokpo aku menginap di jjimjilbang alias pemandian umum. Karena biasanya kalau abis jalan-jalan yang ditulis tetep curhatan, sekali-sekali aku mau nulis ulasan penginapan ah. Jarang-jarang. Selain itu, sekarang aku sudah jarang moto-moto kamar tempat menginap lagi, abis kamar murah, yang sekamar berempat atau berdelapan. Kalau kamar kayak Venetian atau Marina Bay Sands tak foto lah pasti, wkwkwk!

Karena di Korea agak lama, dan statusku yang yah belum jelas occupation-nya apa (baper kalau di arrival card ada isian occupation), aku benar-benar on tight budget. Jadi, milih penginapan ya yang murah-murah saja. Tapi aspek murah juga bukan satu-satunya, ngelihat ulasan juga lah ya, kalau murah banget tapi ulasannya jelek banget, ya ogah. Apalagi aku ke Korea dengan koper berbobot 20 kg, jadi momok sendiri kan tuh. Kalau cuma bawa tas enteng, berani lah go show. Btw, semua penginapan di Korea aku book via situs booking.com dan kali ini aku selalu pilih yang reservation no need credit card, karena aku booking selalu last minute dan hampir selalu dengan public Wi-Fi, yang non-secure, kan serem kalau kenapa-kenapa.

Nah ini dia penginapan-penginapan di Korea yang aku singgahi:

1. Seoul - FOUR SEASONS HOUSE

Di Seoul, penginapan termurah rata-rata sekitar 10000 KRW per tempat tidur. Ada yang 8000-9000 KRW juga sih, bahkan 3000 KRW lho, tapi ulasannya buruk, hehehe. Four Seasons House punya rate 10000 KRW untuk bed di 4-bed female dormitory room-nya. Aku singgah tujuh malam di Four Seasons House, dengan dua harinya buat bobok doang, wkwkwk!

Oplas Demi Pacar

Ceritanya kemarin aku pergi ke Korea sekitar 22 hari. Lama ya? Lama… ya namanya abis operasi plastik kan butuh waktu pemulihan karena setelah operasi nggak jadi langsung cantik, tapi muka bengkak-bengkak dulu. Bikin double eyelid lah, v jaw line, sama sedot lemak. Makin cantik, makin langsing lah…

Maaf, itu tadi fiksi!

Tapi anyway, aku mau cerita tentang pengamatanku dan berdasarkan cerita orang yang aku temui di Korea. Mungkin kalau yang temenan sama aku di LINE udah sempat baca, hehehe…

Di Seoul, aku menginap di sebuah guesthouse yang letaknya tak jauh dari Hongik University (Hongdae) selama tujuh malam. Rata-rata orang kan menginap di guesthouse dan liburan di kota besar kan nggak lama ya, jadi selama tujuh hari itu aku melihat orang yang berbeda-beda. Para tamu guesthouse hampir semuanya adalah wanita (waktu itu hanya satu pria) yang sebagian besar berasal dari Tiongkok. Mau ngapain coba? Ya operasi plastik…

Cewek Tiongkok 16 tahun yang hitz gegara oplas demi pacarnya balik zzzz. Diambil dari: tribunnews.com

Ahjumma-Ahjumma Menyeramkan?

Long time no blog... selama di Korea aku expect wi-fi guesthouse yang aku tempati bakal secepat kilat, tahunya mak plendus. Katanya kalau jalan-jalan itu jangan ekspektasi apa-apa, tapi kan katanya internet Korea paling cepat sedunia, hehehe. Mungkin apes aja dapet guesthouse yang begitu. Yang mau kirim foto di LINE aja harus berkali-kali resend baru ke-sent.

Kali ini aku mau cerita tentang ahjumma-ahjumma (bibi-bibi, ibu-ibu paruh baya) Korea.

Tentang orang Korea, aku nggak tahu banyak, ditambah aku bukan penggemar drama dan film Korea. Mungkin hanya sekitar 30-an judul drama dan film produksi negeri Kimchi yang pernah aku tonton. Yang jelas, dari beberapa hal, salah satu yang aku ingat adalah, kalau di drama-drama, ahjumma-ahjumma di Korea itu suka teriak-teriak, galak-galak, dan menyeramkan.

Aslinya?

Beneran lah. Aku sampe... wih, yang di film-film itu beneran to ternyata. Ceritanya, aku lagi di depan sebuah warung makan, berusaha membaca menu apa saja yang mereka sajikan. Ngomong-ngomong, aku bisa baca hangeul, tapi kalau arti mah kadang-kadang doang tahu. Sambil menganalisis harganya, ahjumma yang sepertinya pemilik warung itu keluar, dan nggak tahu ngomong apa tapi kayak ngomel-ngomel. Aku cuma bilang ke ahjummanya, "Hangukmal mothaeyo." (Nggak bisa Bahasa Korea). Eh dia lanjut nyerocos ngomong apa mbuh keras-keras, yang positive thinking-nya bisa jadi dia aslinya nggak marah-marah tapi sumpahhh serem banget. Nggak jadi makan di situ dehhh...

Pernah lagi, waktu aku lagi duduk-duduk di depan mal di Daegu, ada dua ahjumma naik sepeda di trotoar dari arah yang berlawanan. Nggak lama... mereka tabrakan. Belanjaan salah satu ahjumma menggelinding deh tuh dari keranjang. Udah deh, abis itu berisik sampai 10 menit selanjutnya. Aku nggak tahu mereka membahas apa, yang jelas dari kelihatannya kayak ngotot-ngototan, ngomel-ngomel nggak mau kalah. Nggak ada yang minta maaf deh. Sampai satpam mal nyamperin mereka, nggak tahu lah, akhirnya ahjumma satunya ngambilin belanjaan ahjumma yang satu lagi dan masukin ke keranjang. 

Bisa Ke Korea Tanpa Visa... Asal... Tapi...

Asal…

Mendengar cerita teman-teman yang bilang kalau ke Korea bisa tanpa visa, aku jadi tertarik dong. Apalagi tiket ke Korea dari Jepang lumayan terjangkau. Sama Shinkansen satu arah Tokyo-Osaka jauh lebih murah.

Paspor Indonesia biasa sebenarnya memerlukan visa Korea untuk kunjungan. Namun ada beberapa situasi yang menyebabkan pemegang paspor Indonesia bisa masuk ke Korea tanpa visa. Sesuai dengan regulasi No-Visa Entry Policy yang tertera:
Eligibility for No-Visa Entry for Foreigners in Transit
1. No-Visa Entry for Transit Tourists (Existing Policy)
A. Eligibility
i. A national of one of the countries prohibited from no-visa entry into Korea, except for a national of Macedonia, Cuba, Syria, Sudan and Iran; and
(1) Who holds an entry visa for, and is bound for one of the following countries via Korea: United States, Japan, Canada, Australia or New Zealand (excluding Japanese group visa); or
(2) Who follows under A-i-(1) and is bound for the country of nationality or a third country via Korea, through direct flight from the United States, Japan, Canada, Australia or New Zealand to Korea after staying in these respective countries.
B. Criteria for Permission
The person must hold a reserved airline ticket for a flight that departs within 30 days.
C. Status of Stay and Period: Tourism & Transit (B-2) visa, 30 days
Yang berarti, jika kamu pemegang paspor Indonesia dan punya visa atau re-entry permit dari negara-negara maju di atas, transit dari atau ke negara tersebut, bisa masuk ke Korea tanpa visa selama 30 hari. Waktu tahu ini, aku ragu, misalnya aku punya visa Jepang tapi hanya single entry, kan abis itu ke Koreanya berarti visaku sudah expired, apakah bisa? Tapi kemudian temanku menjelaskan nggak masalah, lagian orang-orang nggak masalah tuh masuk ke Korea. Aku sempat mengintip ‘ensiklopedi’ paspornya maskapai Peach, ada tulisan expired visa is accepted, which means meski visaku habis (dengan catatan langsung terbang dari sana) juga nggak masalah.

Update From KIX

Nggak posting selama 18 hari, kayaknya baru ini deh... padahal ya nggak ngapa-ngapain.

Hari ini, tepat hari terakhir visa turis Jepangku habis. Rasanya pengin perpanjang, tapi kok rasanya belum kuat kalau harus bayar kos-kosan dan ngeluarin ongkos biaya hidup. Mahal, cyin! Makanya, hari ini ya harus cabut dari negara ini. Sekolah tiga bulanku sudah berakhir tepat seminggu yang lalu dan rasanya sedih, karena kok cepat sekali... perasaan baru kemarin masa orientasi.

Lagi-lagi bikin stupid planning. Kontrak asramaku berakhir kemarin (24/9) tapi booking pesawat tanggal 25 September. Jadi kan aku harus mikir menghabiskan semalam di mana dong ya. Ya akhirnya ke bandara malam-malam. Sebenernya aku nggak suka tidur di bandara, lebih suka nginep di Hotel Nikko tapi kok ya 20000 yen banget nggak bisa ditawar, yah cuma beberapa jam inilah. Sebelum berangkat juga sudah cari-cari apakah di Kansai International Airport (KIX) ada shower roomnya nggak, eh ternyata ada, alhamdulillah. Tapi ya cuma nyari aja, nggak mandi. Anyway sekarang aku nulis ini di sebelah shower room. Keren lho, coin-automated. Dari luar kayaknya besar shower room-nya. Di lounge yang satu gedung sama Hotel Nikko ini banyak sofa berbentuk persegi yang bisa buat tidur dan ada layanan selimut. Sayangnya aku mau minjam sudah habis.

Tadi malam sempet main ke prayer room-nya KIX. Najong, keren banget. Bersih banget. Luks abis. Musholla Plaza Indonesia kalah dah. Yah meski di KIX ternyata ada mukena bau juga. Kayaknya orang sengaja ninggalin mukena trus dipakai sama orang banyak. Ada beberapa sarung juga. Dari pengalaman yang lalu-lalu, kalau di KLIA musholla-nya bisa buat tidur, eh tapi di KIX gede-gede peringatannya nggak boleh tidur di situ. Ah sayang sekali.

Akhirnya aku ke lantai 4, lantai untuk keberangkatan internasional. Duduk, buka internet, nimbang koper, duduk, tidur. Sekitar jam empat pagi (02.00 WIB) kebangun, dan kedinginan. Udah deh kalau kedinginan nggak sanggup buat ngelanjutin tidur. Akhirnya bergerak ke vending machine, nyari minuman yang bawahnya warna merah, hangat. Tahunya biru semua, dingin semuaaaa ahhhh… Oke mari kita ke luar gedung.

Eh?

Oya lupaaaa ini bukan negara tropis! Tiap di KLIA, kedinginan sedikit, aku keluar gedung biar hangat. Nah ini, lagi masuk musim gugur, keluar gedung, malah makin kedinginan. Asem. Ya udah akhirnya nyeberang ke Aeroplaza, ke lounge ini. Lumayan lebih hangat lah.

Sebenarnya pesawatku di Terminal 2, harus naik shuttle bus ke sana. Cuma aku di Terminal 1, gegara tadi malam sudah ke Terminal 2, eh wifinya nggak jalan (di hape aku), ya udah balik lagi ke Terminal 1 =)) =))

Ya sudah ya, rencananya abis sampai, aku mau tidur yang puas. Akhir-akhir ini kurang tidur, kurang nafsu makan juga. Belum keluar Jepang aja sudah rindu sama Jepang. Sama rindu yang lain juga sih... 

"Kehidupan Jepang Membosankan..."

Beberapa hari lalu (3/9), bersama tiga teman sekelas, kami pergi ke Prefektur Wakayama. Dari tiga teman tersebut, dua perempuan berasal dari Taiwan, dan satu laki-laki berasal dari Tiongkok. Satu teman dari Taiwan, sudah pernah kutanya tentang pekerjaannya sebelum ia menjadi siswa sekolah Bahasa Jepang. Di kereta dalam perjalanan ke Wakayama, aku bertanya kepada teman Taiwan yang satunya lagi, apa yang dia lakukan saat di Taiwan.

Rupanya, ia bekerja di bidang perdagangan (impor) buku. Ia memiliki sebuah toko buku di Taiwan. Pantesan ia bisa ikut kursus selama enam bulan dan sudah 30-an lho umurnya. Di antara kami berempat, yang akan selesai sekolah terlebih dahulu adalah aku. Lalu temanku si pemilik toko buku, Monmon namanya, ia bilang padaku...

"Wah enak ya sudah mau pulang..." begitu komentar Monmon serius.

"Heee? Ya nggak lah, enakan kalian pulangnya masih lama. Aku masih pengen di Jepang..."

Monmon melanjutkan, "Aku pengen pulang. Kehidupan Jepang sangat membosankan..."

"Eh? Kenapa? Karena sendiri kah?"

"Hu um iya. Di Taiwan lebih enak."

Digodain Kakek-Kakek Jepang

Suatu Sabtu di bulan Juli, aku menghabiskan hariku di Osaka. Aku penasaran banget tuh yang namanya Nanba dan baliho Glico yang paling heitz.

I was walking along di trotoar ke arah Shinsaibashi Shopping Street, but then terdengar...

"Sumimasen, sumimasen."

Aku merasa suaranya persis di belakangku, aku menoleh, dan seorang kakek-kakek melihat ke arahku,

"Ocha shinai?" 

Ha?

"Ocha shinai?" sambil menunjuk ke arah gedung di sebelahnya.

Kakek-kakek itu mengajak minum teh. Aku langsung kembali jalan ke arah yang benar sambil sedikit agak dicepatkan. Ho-rorr!

Not-So-Blessful August?

Tiga minggu lalu, aku berdiri di Ginza, dekat Stasiun Yurakucho dengan kepala yang rasanya isinya berputar, bingung, karena aku menjatuhkan kartu commuter-ku yang nilainya hampir setara dengan uang sakuku di Jepang sebulan. Saat itu, aku merasa bulan Agustusku tidak terlalu blessful-blessful amat. Padahal baru dua hari sebelumnya aku merenungkan ini...

...di tempat aku menginap di Tokyo, di sebuah bilik di ladies area section internet cafe.

Tahun ini, aku mempunyai kesempatan untuk tinggal beberapa bulan di Jepang. Setelah diingat lagi, aku sudah memimpikan ini sejak awal kuliah. Berkesempatan sekali ke Jepang dua tahun lalu, rasanya benar-benar menambahkan keinginanku untuk tinggal di negara yang banyak menjual kawaii stuffs ini. Kemudian aku sadar, aku akhirnya mewujudkannya. Suddenly, aku merasa terharu sendiri. Kalau bermimpi emang pasti bakal dikabulkan. My life is so blessed.

Kinkakuji Temple, Kyoto.

Orang Tokyo Nggak Ramah?

Selain ialah ibukota Jepang, Tokyo merupakan area metropolis paling padat di dunia. Mengenai Tokyo, ada semacam stereotip kalau orang Tokyo memiliki sifat individualis, nggak ramah, dan bahkan kata guru Bahasa Jepangku sendiri, orang Tokyo minim ngomong. Jadi misalnya ada orang salah antre, nggak akan negor... didiemin aja...

Mungkin apple-to-apple sama Jakarta kali ya. Jakarta sebagai pusatnya uang dan urbanisasi, banyak yang bilang orangnya nggak ramah dan sumbunya pendek. Gue nggak gitu lho. Di 'ibukota perekonomian' negara, orang sibuk bekerja, bahkan commute sehari bisa empat jam pulang pergi dari rumah ke kantor, bikin banyak orang yang kayak dibilang banyak orang itu. Ngomong apa sih gue.

Kembali ke Tokyo... Apakah benar?

Jawabannya... gua nggak tahu, hahaha. Tapi di Tokyo, ya, aku menemukan staf-staf toko atau konbini yang juteknya minta ampun. Ngga cuma sekali dua kali. Agak syok, karena mostly di Kansai aku tidak pernah menemukan staf toko yang jutek. Even pun nggak senyum, nggak membuat muka yang galak gitu, dan really helpful. Tapi di Tokyo aku bertemu banyak muka-muka staf toko galak. Seperti saat aku mampir ke konbini (convenience store) di daerah Ginza 1-Chome.

Mas-mas kasirnya tidak banyak bicara seperti kebanyakan staf toko di Jepang. Waktu itu aku membeli nasi bento. Kemudian dia menanyakan kepadaku yang aku nggak tahu artinya. Aku balas, "Ha?"

Breakfast at 1Kara (Solo Karaoke)

Kalau Audrey Hepburn breakfastnya sambil nontonin perhiasan di toko Tiffany's...
Kalau aku breakfastnya di tempat karaokean...

Saat liburan musim panas, di hari ketiga di Tokyo, aku menginap di sebuah net cafe di daerah Akihabara. Malamnya, aku check-in (check-in???) sekitar pukul 19.00 dan memilih paket 12 jam, which means pukul 07.00 aku harus cabut di warnet atau kena charge. Akhirnya kena charge sih, karena keluar lebih dari pukul 07.00.

Setelah check-out, aku mencari coin locker untuk menaruh tasku seharian. Lumayan berat bok ranselku, lagian biar berasa bebas jalan-jalannya. Coin lockernya nggak dekat stasiun pastinya... Mahal, hahaha *pelit* Aku menyewa coin locker seharga 200 yen untuk sehari. Kalau di Stasiun Akihabara bisa 300-400 yen. Lumayan irit 100 yen... Nah, abis ke coin locker, aku langsung mencari lokasi 1Kara cabang Akihabara.

Papan 1Kara di lantai bawah gedung lokasi 1Kara.

Weekend in Korea… (Miyuki-dori Shopping Street)

“Nomimono, mul? Ocha?” "飲み物、물?お茶?"
(Minum apa, air (Bahasa Korea)? Teh?)

Dalam otakku. Mul? I somehow tahu kata ini tapi apa ya…

Ah ya, air dalam Bahasa Korea!

Tiba-tiba aku berasa bingung lagi di negara mana. Ibu yang menyapaku langsung ketawa dengan pegawai (mungkin yang punya) restoran yang lain. Ternyata dia juga heran sama dirinya sendiri pakai bahasa campur-campur.

Yeah, I spent my last weekend in Korea... town, in Japan.

Akhir pekan lalu, mulanya aku hendak silaturahmi dengan domba-domba di Mount Rokko Pasture. Selain karena masuknya gratis dengan Happy Memory Pass, aku juga rindu pegang hewan. Padahal bulan lalu dua kali ke kebun binatang dan sekali ke cat café. Tapi… aku malah bangun siang dan baca akses transportasi umum ke sana harus dua kali transfer, akhirnya aku ganti agenda buat ke Koreatown.

Seperti namanya, Koreatown ya daerahnya orang Korea. Di sana area para Zainichi tinggal. Zainichi adalah istilah yang digunakan untuk orang Korea yang migrasi ke Jepang saat kolonialisasi Jepang di Korea. Sekarang ya sudah ada generasi kedua ketiganya dong ya. I, myself, ada minat dengan sejarah dan sudah beberapa waktu aku tahu mengenai istilah Zainichi. Istilahnya doang, bagaimana ‘dalamnya’ ya belum sampai situ. Aku agak herannya, meski para Zainichi ini sudah menetap di Jepang sejak lebih dari 50 tahun lalu, kewarnanegaraan mereka tetap Korea. Jadi setelah Jepang kalah Perang Dunia, kewarganegaraan Jepangnya dicabut dan ‘hanya’ jadi special permanent resident di Jepang. Tentunya kecuali yang naturalisasi loh ya. Abit weird aja, misal yang generasi belakangan, lahir di Jepang, ngomong Korea juga ngga bisa, nama juga Jepang, tapi paspornya paspor Korea =,=

Makanya pengen ke sana dong, kali aja ada yang bisa ditanya-tanya.

Koreatown yang aku sambangi adalah yang di Osaka. Nggak jauh dari kota tempat aku tinggal. Koreatown di Osaka ini bisa diakses dengan kereta dan turun di Stasiun Tsuruhashi. Ada tiga operator kereta yang punya stasiun bernama Tsuruhashi: JR West Osaka Loop Line, Kintetsu Osaka dan Nara Line, dan Osaka Municipal Subway Sennichimae Line. Waktu itu aku pakainya JR Line.

Koreatown, belok kiri.

Keluar dari pintu utama Stasiun JR Tsuruhashi, belok kanan, lalu ada perempatan yang lumayan besar belok kanan lagi. Aku bingung karena tidak ada tanda-tanda ke Korea-Koreaan, misalnya huruf Hangeul. Nggak lama, aku bertanya kepada mas-mas orang Nepal dan ia menunjukkan arah ke Koreatown, dan ternyata jalannya lumayan juga vrohhh…

Sudah mulai menemukan toko-toko yang menjual merchandise Korean idol nih, berarti sudah dekat. Sudah bau-bau kimchi pula. Eh ada petunjuk ‘jalan masuk Korea town’ ke arah kiri. Waaa… ada spanduk ucapan selamat datang ke Koreatown.

Belum apa-apa aku sudah terhenti di toko kosmetik paling pertama. Borong masker wajah… maklum kurang perawatan, dan masker wajah tuh cocok banget buat pemalas dan orang pelit beli skincare kayak gua. Lha gimana wong selembar masker cuma goceng =)) =)) Bahkan ada juga lho yang cuma 30 yen (1 yen = Rp 117, gila berapa minggu lalu 1 yen masih 108 hahaha *nangis*)

Gapura utama Koreatown.
Setelah belanja, terus jalan... dari ujung ke ujung shopping street, tidak akan capai karena tidak terlalu jauh, hanya 300 meter. Mostly, toko-toko di sana, adalah toko kimchi, kosmetik Korea, baju tradisional Korea, masakan Korea, misalnya kimbab atau chapjae, merchandise artis-artis Korea yang gua kagak paham mana beda mukanya, dan restoran Korea.

Ketika jalan di sana… kalau abaikan suara orang-orang, mungkin berasa nggak kayak di Jepang, karena sepanjang jalan wangi kimchi yang meraba hidung, bendera Korea, dan huruf Hangeul di mana-mana. Tapi dari kicauan orang-orang, I hardly heard people speaking in Korean. Ada… satu dua kali aku mendengar tapi hampir semua orang berbahasa Jepang.

Instant noodlenya Korea...
Kimchi ippaiii~
Kimchiyasan, alias toko kimchi.

Toko baju tradisional Korea.
Usai dari shopping street Koreatown, aku jalan pulang ke arah stasiun. Sempat nyari wi-fi di konbini terdekat, aku mendengar sekumpulan lelaki tampan berbicara Bahasa Korea. Kemudian lagi-lagi mampir ke toko kosmetik Korea, tapi ini di luar shopping street. Kali ini aku sempat ngobrol dengan mbak penjaga tokonya, mukanya Korea banget, tapi dia bicara Bahasa Jepang kayak native banget. Penasaran dong, kutanya apakah Zainichi, ternyata bukan. Melainkan mahasiswa dari Korea… hmmm.

Di dekat Stasiun Tsuruhashi, terdapat shopping street juga. Aku mampir dan rupanya banyak juga toko barang Korea dan warung-warung makan Korea. Hari itu udah sore, dan aku belum makan seharian, jadi aku pengen makan makanan Korea. Biar Korea banget lah hari itu.

Bibimbaaabbb...
Yang di awal post ini, terjadi di restoran tempat aku makan Bibimbab. Semua penjaga restoran berbicara Bahasa Korea sesamanya. Aku tanya dong, lahir di mana… tahunya lahir di Korea dan memang pindah ke Jepang. Yah, kecewa, nggak ketemu Zainichi…

Usai makan aku lihat-lihat shopping street, dan ada ibu-ibu Korea yang trying to lure me (sumpah gue akhir-akhir ini agak keminggris) buat beli barangnya. Gara-gara aku megang sabut cuci piring yang bentuknya lucu, stroberi. Ibu-ibunya bilang itu sabut cucinya bagus banget, bersih, didatangin langsung dari Korea. Trus dia nawarin kimchi juga.

“Kimchi tabeyarou? Tabehen?” ”キムチ食べやろう?食べへん?“
(Coba makan kimchi? Nggak mau makan (kimchi)?)

Ibunya aku tanya apakah orang Korea, ternyata iya. Tapi aku nggak nanya dia Zainichi bukan. Ibunya bicara pakai dialek Kansai banget tapi aksen Bahasa Korea-nya kental... au dah...

Hari sudah malam, akhirnya aku kembali ke stasiun dan pulang... Sebenernya sih mau jalan-jalan lagi ke mal. Tapi pilihan buruk kupilih. Yaitu make rok. Niatnya biar isis sepoi-sepoi tapi ngga tahu diri paha aja nggak kebelah kiri kanan, perih bok... jalan seharian... yah curhat.

Koreatown... yeah, maybe if you want to 'feel' something different in Osaka, bolehlah visit Koreatown. ^^

Koreatown (Miyuki-dori Shopping Street)
544-0222 Area around 3-chome, Momodani, Ikuno-ku, Osaka City
How to get there: JR Tsuruhashi Station (Osaka Loop Line)
Keluar dari Central Exit, belok kanan. Sampai ke perempatan agak besar, belok kanan. Lurus terus sampai menemukan yang ‘bau-bau’ Korea… dan plang Koreatown.

Sexy Samsung Galaxy S6 Edge+ Soon On Lazada

Handphone apa yang kamu pakai sekarang?

Kalau aku, handphone yang aku pakai sekarang adalah Samsung S4. Ingat sekali aku membeli Samsung S4 sekitar akhir tahun 2013. Sebelum-sebelumnya, aku juga memakai produk Samsung. Samsung Galaxy Ace dan sebelumnya lagi Samsung Star. Dulu awal kuliah kepengen punya Samsung Star hanya gara-gara kayaknya keren pakai hape full touchscreen, tanpa tuts. Nonton di drama-drama Korea, semua artisnya pakai handphone full touchscreen asa gimanaaa gitu, berasa elegan gitu, hahaha. Langsung kepengen =,= Korban drama Korea banget.

Samsung Star-ku... ^^
Eh sekarang mah biyasa, wong handphone keluaran baru hampir semua full touchscreen.

The Capsule Hotel Staff Rejected Me! :(

Liburan musim panas kemarin, ibu dan adikku datang ke Jepang. Tapi hanya lima malam saja, sisanya aku jalan-jalan sendiri.

Pas jalan-jalan sendiri itu... ngga di-plan dengan baik dan benar. Aku pergi ke Sapporo, Hakodate, dan Tokyo selama sembilan hari tanpa book hotel atau hostel bed. Yah yang penting berangkat dulu lahhh...

Setelah perjalanan sekitar 16 jam dari Osaka (tiga kali naik kereta + waiting time), sampailah juga di Stasiun JR Sapporo. Kenapa naik kereta? Karena aku masih punya JR Pass yang sayang untuk tidak digunakan karena masih belum expired. Lagi pula aku ngga dikejar waktu. Kalau ngga punya JR Pass ya mending naik pesawat lah, lebih murah, dan lebih cepat.

JR Sapporo Station South Exit.
Di Tourist Information Center Stasiun JR Sapporo, aku menemukan brosur capsule hotel di daerah Susukino, red light district-nya Sapporo. Brosurnya ditulis dalam Bahasa Inggris yang berarti emang udah siap banget buat turis asing. Tapi, informasi mengenai di dalam kapsul ada apa aja ngga tersedia. Selain itu penjelasan mengenai kamar mandi agak mencurigakan, kurang jelas apakah shared atau private. Masalahnya nyebutnya, bathing room. Di bayanganku bak ofuro besar yang dipakai bareng. Trus di lantai berapa yang untuk cowok dan yang mana untuk cewek? Kurang jelas lah informasinya. Ah tapi lupakan dulu, toh masih jam 08.30 pagi, aku mau jalan-jalan di Sapporo dulu, nanti sore baru go-show ke sana.

Aku sendiri belum pernah nyobain nginep di capsule hotel. Pernah sempat mau nginep di capsule hotelnya KLIA2 tapi apa daya penuh, jadi ngga jadi. Pernahnya, hotel rak/lemari, maksudku tempat tidurnya kayak lemari. Yah begitulah.

Susukino, Sapporo. 
Sekitar pukul 16.00, kakiku rasanya udah pegel banget, dan kemudian aku mencari capsule hotel itu. Letaknya sangat strategis, dekat dengan Stasiun Susukino. Selain itu mudah mencarinya karena dengan jelas ditunjukkan di peta di brosurnya. Aku pun masuk dan melepas sepatuku, karena memang harus begitu. Aku pun bertanya apakah ada bed kosong.

"Ada sih..."

"Nggak ada ya Mas?"

"Ada sih... tapi perempuan ya... di sini semua untuk laki-laki."

"He? Hontou desu ka? Shiranakatta..." (He? Beneran? Aku ngga tahuuuu...)

"Iya, namanya juga capsule hotel..."

"Jadi di Jepang, capsule hotel tuh untuk laki-laki doang?"

"Iya."

KYAAAAA~ pantesan kok brosurnya agak-agak mencurigakan, dan nggak komplit informasinya mengenai laki-laki dan perempuan. Tapi bener loh, sepertinya sudah kutelusuri ujung-ujung itu brosur nggak ada kata-kata khusus laki-laki. Mungkin itu pengetahuan umum yang nggak perlu ditulis kali ya?

Setelah aku cari tahu tentang capsule hotel di Jepang, memang mostly adalah men only karena memang ditujukan untuk laki-laki yang ada urusan bisnis dan cuma butuh tidur. Makanya capsule hotel juga menyediakan package yang 3 jam doang atau tidur siang hari. Tapi ada juga capsule hotel yang menyediakan kapsul untuk perempuan (kayak kapsul obat nyeri mens aja), biasanya beda lantai. Tapi tetap, generally MEN ONLY. Jadi teman-teman perempuan yang solo traveling misalnya, mau nginep di capsule hotel di Jepang, dicek dulu apakah ada section untuk perempuannya, biar nggak kecele macam aku =))

Akhirnya aku nginep di hotel yang chainnya level dunia =)) Di daerah yang sama juga. Tapi nggak mahal-mahal amat, nggak sampai 10000 yen. Udah, malam pertama itu aja nginep di hotel agak mahalan. *pelit*

Kali ada yang mau coba menginap (laki-laki) di capsule hotel yang aku ceritakan,
oke juga sih sepertinya.

Capsule Inn Sapporo
Nishi 3-chome, Minami 3-jo, Chuo-ku, Sapporo, 060-0063 Japan.
How to get there:
Subway Namboku Line.
Get off at Susukino Station, then walk 30 second. (No.1 Exit)
http://www.capsuleinn-s.com/english/

I Lost My Rp 2 Million Train Ticket in Tokyo!

Summer holiday sudah selesai! Tentu saja aku sudah kembali ke kamar asrama tercinta.

Minggu lalu, aku menghabiskan empat malam terakhir liburan musim panasku di Tokyo. Pas hari pertama, setelah semalaman di bilik internet cafe, aku memutuskan untuk pergi ke National Diet Building. Paginya, aku merapikan barang-barangku dalam ransel dan tas cangklongku. Di kantong luar tas cangklong, aku memasukkan ticket holder, dan dua ponselku. Sempat membayangkan apakah nanti kalau aku ambil ponselku dari tas, ticket holder-ku akan ikut tertarik keluar dan jatuh.

Eh bener dong kejadian! Nggak sampai tiga jam setelah aku mikir kayak gitu. Aku juga nggak tahu kapan pasnya, cuma yakin kalau jatuh karena aku ambil ponselku. Sigh! Saat aku sadar kalau ticket holderku hilang, aku baru akan naik kereta ke arah National Diet Building. Aku seketika mumet hahaha, masalahnya tiketku senilai sekitar 2,3 juta rupiah. *stres*

Di ticket holderku itu ada dua kartu tiket dan kertas tiket dari perjalanan sebelumnya. Nah dua kartu tiket ini, salah satunya adalah kartu ICOCA commuter (定期券) dari stasiun dekat asramaku ke Kota Kobe selama tiga bulan senilai 18460 yen dan satu lagi kartu ICOCA prepaid card yang saldonya masih 4000-an. Ya tiket commuternya sudah terpakai sebulan sihhh tapi anggeplah nilainya 18460 + 4000 = 22460, dikalikan deh sama nilai yen ke rupiah sekitar 109. Huhuhu gede banget kan?

National Diet Building.

Update From Net Cafe Cubicle

I feel like I want to write something on my blog...

My summer holiday started 10 days ago, and I`ve been to Tokyo, Osaka, Kyoto, Sapporo, and Hakodate, and now I`m sitting in an internet cafe cubicle in Ginza in Tokyo. Actually I was bit tired after sitting in train for almost six hours. Hakodate - Aomori, and transfer to Shinkansen to Tokyo. Then I thought I would sleep in any good hotel and imagined soaking in bathtub, aaa...

But yeah, I didn`t do good planning for travelling, I didn`t reserve any hotel (or hostel dorm) and yupp... it will be very expensive because it`s Tokyo. Well, not because of Tokyo, but because I`m such a cheapskate. I ended up staying in an internet and manga cafe which I think it is much better than staying in shared rooms. Of course, I would prefer Four Seasons Standard Room than this.

This is my first experience spending night in internet cafe... but I think it`s not that bad... WHY?

It`s quite cheap, I paid 1814 yen for 6 hours happy hour internet. Don`t compare it with net cafes in Jakarta, because, we can get free drinks from vending machine, ranging from hot lemon tea, milk tea, hot chocolate, even corn soup. I already finished my third glass. The private space room is spacious, I guess about 1,7 m x 2,2 m, and you can choose which type of seat we want. Like this cafe has some, recliner, sofa, or regular mat. I was confused but the receptionist said it is better mat type if I want to sleep. He knows well about foreigners who come in the late night what they want to do: sleep.

Some cafes provide shower room and some free and some not. I am bit unlucky cause shower room here is 500 yen, and don`t forget the 8% tax so it is 540 yen. But this cafe provides white clean body towel, small towel, body sponge, shampoo, razor, toothbrush and paste, and there`s hair dryer too. I`m amazed... though actually I don`t need them.

Will write more, with some photos.

I planned to see around Tokyo only for one day, but I want to extend and stay in Tokyo for three nights. Maybe this night will migrate to another cheaper net cafe... yeah I already copy the lists of net cafe in Tokyo and put in my phone, hehehe...

Bye!