Travel Light

Sudah beberapa orang mengkomentari,

"You don't have much stuff with you."

atau teman sekamar Jepang yang komentar,

"Nimotsu sukunakunai?" (Barang bawaan nggak sedikit tuh?)

atau sepupuku yang lihat bawaanku trus bilang,

"Itu sih kayak aku pergi tiga hari." 

Foxy mau ikut.

My Life is No Fun

"Your life is no fun!" begitu kata teman baruku yang berasal dari Italia. Dia ini temannya temanku, mereka awalnya bertemu melalui aplikasi wechat.

You don't drink
You don't eat pork
You don't go to club
You never date someone
Your life is no fun!

Aku cuma ketawa aja waktu dia bilang kayak gitu. 😂

"Emang kalau kamu lihat cowok ganteng apa nggak tertarik? Nggak pengen nyapa, ngedeketin, jadi pacarnya, gitu?"

Kalau aku lihat cowok ganteng ya udah trus kenapa. Kalaupun aku naksir aku juga nggak trus pengen punya romantic relationship apalah itu. Kayaknya aku juga nggak minat. Hm, atau belum minat.

"Hah, kok bisa sih? Kamu tahu kan, kita manusia kan punya sisi binatang, pasti ada sisi pengen punya pasangan, ada nafsu, emang kamu nggak ada?"

My #2016bestnine on Instagram

Tahun ini rasanya aku jadi suka menggunakan Instagram. Awalnya bikin ya cuma buat punya-punya aja. Sempat juga dua tahun nggak posting foto di Instagram, nggak tahu asyiknya lah. Sekarang jadi rajin upload foto, pakai hashtag, rajin kasih like, dan Instagram-walking.

Tapi ya gitu, kebanyakan #latepost, karena hampir nggak pernah live posting. Latepost-nya pun kadang-kadang foto tahun lalu yang diunggah. Makanya kadang-kadang suka ada yang nanya, "Lagi di Jepang, Na?" atau "Ikut dong!", padahal mah saya di rumah lagi bobok-bobok...

Seperti tahun lalu, aku mau cerita tentang sembilan foto terbaik di akun Instagram-ku. Iseng aja, nggak ada bahan postingan soale.

My #2016bestnine on Instagram

Rasanya Tinggal di Sharehouse

Hari ini tepat delapan hari aku tinggal di sebuah unit apartemen dengan tiga kamar tidur bersama sepuluh orang lainnya. Ini merupakan pengalaman pertamaku tinggal di sharehouse.

Luas rumah ini sekitar 100 meter persegi dengan masing-masing kamar ditempati oleh empat orang (dua bunkbed). Waktu melihat iklan sharehouse ini aku langsung tertarik karena letaknya dekat dengan Perth Central Business District dan lebih murah ketimbang aku harus tinggal di backpacker hostel. Di iklannya terlihat bagus, rapi, dan bersih. Sampai aku datang untuk viewing untuk memastikan... ya ampun, kapal pecah! Ini mah nggak ada bedanya sama tinggal di hostel (baca: pada berantakan). Tapi ya sudahlah aku malas nyari kamar lagi 🙃

Rumah ini menampung 12 orang, namun ada satu orang Jepang yang barusan meninggalkan rumah ini dan jalan-jalan ke Eropa selama tiga minggu sampai nanti balik lagi.

Dari 11 orang yang tinggal di sini, tiga orang dari Korea, tiga dari Jepang, tiga dari Indonesia, satu dari Thailand, dan satu dari Kolombia.

Tidak sesuai iklannya. Di iklan bersih nggak keliatan barang, hahaha...

Kini, Halo BCA Bisa Via Chat

Rasanya mengirim chat penting tapi cuma di-read doang itu gimana?
Sedih kakak (▰˘︹˘▰)

Lebih sedih lagi kalau langsung di archive chat. Ini cuma chat personal ya. Coba kalau misalnya tanya-tanya atau komplain ke sebuah toko atau perusahaan tapi nggak dibalas? Jadi makin malas dan nggak percaya, nggak sih?

Tapi, kalau di Halo BCA itu nggak akan terjadi. Kayak misalnya di Twitter Halo BCA. Kalau kamu mensyen akun @haloBCA, dijamin tidak sampai tiga menit akan dibalas.


Sebagai bank swasta terbesar di Indonesia, BCA selalu berusaha memberikan pelayanan terbaik bagi para nasabahnya. BCA selalu menghadirkan inovasi-inovasi demi kepuasan konsumen. Seperti misalnya gerai digital myBCA, dompet digital Sakuku, dan Tahapan XPresi, tabungan praktis tanpa buku tabungan.

Ada Apa Dengan Blue Bird?

Nope. Surat ini bukan surat terbuka mau komplain ke Blue Bird atau apa. Lebih tepatnya bahkan aku tidak berada di posisi untuk komplain. Kalau soal satu ini, yang harusnya komplain ke Blue Bird ya supir Blue Bird-nya.

Cuma mau cerita saja, hal yang menurutku kocak yang terjadi pagi ini.

Ceritanya aku hari ini pesan taksi Blue Bird menggunakan aplikasi di ponsel. Tapi tidak seperti biasanya, map di dalam aplikasi tidak bisa mendeteksi alamat rumahku. Kalau karena sinyal atau GPS rasanya enggak deh karena di rumahku hapeku selalu 4G sinyalnya. Itu pun sampai akhirnya aku juga mencoba dengan menggunakan wi-fi rumah. Ternyata tetap tidak bisa, mungkin aplikasinya error. Sampai aku mencoba lagi dengan sinyal hape dan bisa mendeteksi alamat rumahku. Memasukkan destinasi pun lancar. Sampai creating booking-nya lama banget.

Ya sudah akhirnya kuklik cancel. Itu juga loadingnya lama banget. Ya sudah akhirnya aku memutuskan untuk telepon saja. Apalagi aku butuh taksinya dua jam dari waktu aku memesan. Mepet. Sudah pesan telepon, sudah nih ya.

Aku memesan taksi untuk pukul 10.20. Biasanya setengah jam sebelumnya, taksi sudah sampai. Benar saja, sekitar pukul 09.45 seorang supir taksi menelepon bertanya lewat jalan mana untuk ke rumahku. Akhirnya ia sampai rumah pukul 10 kurang dan kuminta tunggu dulu karena aku belum siap.

Pukul sepuluh lebih sedikit ada yang menelepon aku lagi, tapi nomor landline. Aku angkatlah tapi benar-benar nggak kedengaran kresek-kresek ngunu. Aku bilang nggak kedengaran trus kututup telepon lagi lah sana. Tetap kresek-kresek tapi aku mencoba mendengarkan *alah*

Toilet Tetangga Tak Pernah Lebih Hijau

"Home is where you can poop peacefully."

Aku percaya kalau rumput tetangga seringnya terlihat lebih hijau... kecuali soal pertoiletan.


Mau sebagus apa toilet rumah temanmu, atau secanggih apa kloset di hotel, paling enak dan nyaman memang eek di toilet rumah sendiri -yang mungkin jauh lebih jelek dibandingkan toilet rumah temanmu atau hotel bintang lima.

Aku mengenal beberapa orang yang nyaman-nyaman saja membuang hasil ekskresinya di toilet manapun tapi jauh lebih banyak yang kukenal sulit untuk eek di toilet tempat umum. Dengar-dengar sih, memang ada kecenderungan pada perempuan untuk menunda eek karena malu dan risih sama toilet umum. Aku pun termasuk yang itu, tapi lebih karena nggak nyaman saja. Kalau tak tertahankan, baru bisa terpaksa eek di toilet di tempat umum. Aku bahkan ingat mal mana saja yang pernah kuberikan 'peninggalan' saking jarangnya melakukan defekasi di toilet umum.

Awalnya aku mengira ini persoalan ada air atau tidaknya di toilet. Tahu kan... orang kita terbiasa ada kran dan gayung atau semprotan saat buang air besar. Risih rasanya kalau harus mengelap bagian kau-tahu-apa dengan tisu kering. Tapi ternyata tidak juga. Mau toiletnya berjenis washlet dengan semprotan pantat yang bisa diatur arahnya dan suara flush palsu untuk menutupi bunyi 'plung' agar tidak malu, tetap saja tidak nyaman.

❤ JNE Ongkir Gratis Loh, Mau? ❤

Ada yang sering pakai JNE?

Kalau aku (nggak ada, lumayan sering menggunakan JNE. Baik mengirim maupun menerima. Selain letak agen JNE dekat dengan rumah, selama ini menggunakan layanan JNE nggak pernah mengecewakan. Sampai-sampai petugas agen JNE-nya mengira aku punya online shop (well sepertinya memang harus mulai untuk buka usaha) dan sampai hafal wajah kurir JNE yang sering datang ke rumah.

Nah bulan ini merupakan bulan yang istimewa buat JNE karena JNE merayakan ulang tahunnya di bulan November. Tahun ini, umur JNE 26 tahun, lho! Asik aku lebih muda dari JNE. Trus?

❤❤❤

Kemarin (22/11), aku hadir di acara JNE Media and Blogger Gathering "Local Heroes Go International" yang diadakan untuk menyambut ulang tahun JNE akhir pekan ini. 

Selfie dulu sama dua tante cantik kita...

♥ The Jones: Jomblo Ngenes ♥

Jomblo ngenes?

Kamu ngerasa?

Ih, kalau aku enggak ya. Meski jomblo, tapi bahagia selalu setiap hari lah ya nggak ngenes. Eh tapi ini nggak bahas status siapapun yang masih jomblo kok. Tapi membahas The Jones: Jomblo Ngenes, pemenang kompetisi penulisan naskah yang diadakan oleh Genflix. 

The Jones: Jomblo Ngenes berbentuk web series atau film pendek dan sekarang tayang tiga episode. The Jones: Jomblo Ngenes bercerita mengenai dua cowok yang selalu apes dalam mengejar cinta mereka. Ceritanya yang ringan dibalut dengan unsur komedi yang dijamin memicu gelak tawa penonton. Serial ini merupakan original series pertama Genflix dan menjadi sebagai pembuka original series dan film selanjutnya yang akan tayang di Genflix.


Penyerahan hadiah secara simbolis dilakukan pada Kamis lalu (17/11) bertempat di Conclave, Jalan Wijaya I, Jakarta Selatan. Acara hari itu juga menghadirkan Titin Wattimena, ketua tim juri kompetisi #ProjecTV, yang membagikan pengalamannya sebagai asisten sutradara dan penulis skrip film.

Indonesia Menuju Destinasi Kesehatan Dunia Bersama International Swam 2016

Meski belum ada seperempat abad, kadang-kadang suka kepikiran bagaimana nantinya kalau wajah dan tubuhku penuh dengan keriput. Atau ketika nanti harus mengubah skin care yang kupunya menjadi seri anti-aging. Tidaaakkk!

Kadang-kadang pun suka sirik melihat perempuan yang sudah matang, baik tante-tante atau nenek-nenek namun kulitnya bisa masih kencang gitu. Caranya gimana ya? Aku 'kan juga pengen! Ini aja perasaan kulitku sudah mulai berkeriput……… aku nggak mau tuaaa... eh tapi nggak mungkin ya.

Sementara aku ngeributin penuaan kulitku sendiri, bulan depan bakal ada acara seminar estetika se-Asia Tenggara yang bertemakan: Defeating Aging. Acara yang bertajuk ‘7th International SWAM – Anti Aging Exhibition 2016 ini akan berlangsung pada tanggal 2-4 Desember 2016 di ICE – BSD, Tangerang. Seminar bertaraf internasional yang diselenggarakan oleh PT Perdesti Global Medicom ini akan dihadiri oleh 2000 dokter (dalam dan luar negeri) dan menjadikannya sebagai seminar ke-3 terbesar di dunia dalam bidang estetika.


Social Shopping Tak Ragu Lagi dengan Uangku

Sebenarnya aku jarang belanja online *pencitraan* Namun belakangan lumayan sering, apalagi mamaku sering banget minta belikan sesuatu di internet tapi malas browsing sendiri. Kemarin mama minta dibelikan kopi hijau yang katanya bisa buat ngurusin badan. Aku pun mencari kopi hijau di situs e-commerce yang terkenal. Karena e-commerce pun juga 'hanya' menghubungkan antara penjual dan pembeli, jadi aku memilih online shop yang terlihat aman dan dapat dipercaya.

Online shop yang kupilih pun yang member premium e-commerce itu, yang biasanya punya badge atau tanda tertentu seperti bintang. Meskipun aku tahu e-commerce akan bertanggung jawab kalau ada apa-apa (misal barang tidak diterima), tapi tetap saja ada rasa tidak aman. Apalagi kalau belanja via Facebook atau Instagram. Baru dua hari yang lalu, temanku posting status di LINE kalau ia tertipu beli baju di online shop di Instagram. Tuh...

Kamu punya pengalaman tertipu saat belanja online?

Di Indonesia, terjadi sekitar 2,7 juta transaksi belanja online setiap harinya. Delapan puluh persennya merupakan Social Shopping alias belanja online dengan media sosial seperti Facebook atau Instagram bukan via situs e-commerce. Padahal, Social Shopping berisiko tinggi. Risiko fraudnya besar, jaminan hukumnya tidak ada, dan tidak ada pihak ketiga yang dapat menengahi apabila terjadi apa-apa. Tapi kenyataannya orang lebih prefer Social Shopping karena ada personal touch dalam transaksinya.

Social Shopping tak hanya menghadirkan risiko bagi sisi pembeli, namun juga sisi penjual. Salah satunya saja kasus bukti transfer yang diedit oleh pembeli.

Persoalan Deodoran

Dari minggu lalu mau bahas ini.
Meski topik ini paling tidak penting sedunia.
Maafkan aku ya...
Cuma masalah obat ketek alias deodoran saja kok dipersoalkan.

Aku kan demen menulis status di timeline LINE ya. Suatu hari aku curhat mengenai deodoranku yang sudah berbulan-bulan tapi tidak kunjung habis juga. Namun sayang, tidak ada yang komentar bahkan like yang tiba di statusku. Kasian deh aku. Sampai beberapa bulan kemudian, tepatnya sekitar minggu lalu, aku menulis kembali status mengenai deodoran yang sama. Tapi kali ini di Twitter. Begini cuitanku...

"Deodoran tuh habisnya dalam berapa bulan? Kok punyaku setaun lebih gak entek-entek. "(Entek = habis)

Kiri: deodoranku. Kanan: deodoran oleh-oleh dari kerabat hasil jarahan dari hotel.
Bulan lalu, deodoran milikku berulang tahun satu tahun. Umurnya bahkan lebih tua dari kucingku Ping Ping yang baru lahir sekitar bulan Mei tahun ini. Kalau diterawang, sepertinya belum ada 30% pun berkurang. Untuk informasimu (fyi, informasi paling ngga penting sedunia), deodoranku berjenis stick dengan merek Nivea Anti-Perspirant Dry Comfort Plus Extra Protection 48h Gentle Care *panjang bok*

✗ STREAM ON, MY NEW ADDICTION ✗

Akhir-akhir ini, aku merasa harus memulai untuk hidup minimalis.

Jadi aku mulai membuang barang-barang yang sudah tidak lagi digunakan. Daripada menuh-menuhin kamar aja ya kan. Salah satu jenis barang yang aku buang adalah: DVD bajakan.

DVD bajakan milikku memenuhi tiga laci yang cukup besar. Setelah aku sadari, memang sejak SMP, karena suka menonton film, aku rajin membeli DVD bajakan yang harganya saat itu hanya 5000.

Makin gede, aku tahu kalau menonton DVD bajakan berarti ilegal. Aku pun semakin jarang menonton film. Aku sudah tidak lagi membeli DVD bajakan dalam lima tahun belakangan. Tapi tidak lantas aku segera membuang cakram-cakram itu. Sampai akhirnya, beberapa bulan lalu, tergerak niatku untuk membuangnya.

Kini sudah tidak tersisa lagi di laci-laci rumahku dan lacinya jadi legaaa… Selain itu, aku pun relatif jarang pergi ke bioskop. Tapi kini aku sudah tahu solusinya. Yaitu: nonton di iflix – yang pastinya legal dan safe.

♫♫♫

Duh gendut banget aye sebelah Mbak Lidya ---“

BCA Prima Amazing Experience yang Colorful


Aku nggak tahu kata apalagi yang tepat untuk menjelaskan acara BCA Prima Amazing Experience yang terselenggara minggu lalu. Pokoknya seru, heboh, kece, asyik banget deh! Yang bener? Ya bener dong, ikutin keasyikannya di postinganku ini yaaa…

♫♫♫

Foto dulu sebelum berangkat.
Kami berkumpul di Menara BCA pada pagi hari (25/10) untuk berangkat ke Bandung. Yap! Acara BCA Prima Amazing Experience diselenggarakan di kota kembang. Perjalanan menggunakan bus Big Bird dalam waktu tempuh sekitar tiga jam. Teman sebangkuku di bus adalah Bena Bernavita, seorang blogger yang sepertinya sedang memiliki masalah rambut. Karena sejak berkenalan ia bercerita tentang rambutnya.

Aku baru pertama kali bertemu Bena di acara ini. Ada beberapa peserta yang sebelumnya sudah kenal dan pernah bertemu seperti Salman Faris, Uni Dzalika, Timothy, Winda GulanyaGulali, dan lain-lain. Oh iya, tujuan pertama adalah BCA Kantor Cabang Utama Dago. KCU Dago terlihat masih baru, cat di dalamnya pun masih sempurna. Ternyata oh ternyata memang baru diresmikan bulan Maret tahun ini.

Yang Enak Dulu Apa Yang Nggak Enak Dulu?

Saat masih kecil, sepertinya masalah terbesarku adalah saat bingung hendak memakaikan baju yang mana ke boneka Barbie yang sedang dimainkan.

Saat sudah beranjak dewasa, masalah makin banyak (misalnya, masalah berat badan yang tak kunjung turun atau bagaimana caranya supaya kucing peliharaan eek pada tempatnya) ditambah masalah kecil yang dibesar-besarkan, bahkan sampai ditulis di blog. Salah satu masalah kecilnya ini: kalau makan, bagian yang enak dulu apa yang nggak enak dulu yang dimakan?

Flashback sedikit. Dulu waktu aku masih kecil, mama suka mengajakku makan di Texas Fried Chicken, Plaza Indonesia. Dulu mal belum banyak ya, dan Plaza Indonesia kalau tidak salah setahun lebih tua dari pada aku. Kalau ke Texas, senang sekali deh rasanya makan nasi panas dan ayam goreng pakai saos tomat. Bagian ayam goreng, aku paling suka kulit ayamnya. Suka banget. Bahkan sempat berpikir kenapa nggak warung ayam goreng itu jualan paket nasi dan kulit ayamnya aja plz.

Serunya Ber-Xpresi di myBCA

Kartu Xpresi dan Flazz-ku.
Menurut data sensus yang diadakan oleh Badan Pusat Statistik (BPS), dari 250 juta penduduk Indonesia hanya 60 juta saja yang memiliki rekening bank. Padahal sepertinya di masa sekarang rasanya susah kalau tidak punya rekening bank. Sekarang beli pulsa, belanja online, bayar tagihan, bisa menggunakan rekening bank. Bahkan anak kecil pun sudah dibuatkan rekening atas nama sendiri oleh orang tua, bank pun menyediakan tabungan jenis tertentu untuk anak.

Rekening tabungan di bank pun berubah. Dulu kita perlu mencetak buku tabungan untuk melihat mutasi rekening. Sekarang kita bisa melihat via komputer atau smartphone. Zaman semakin mudah ya! BCA pun punya produk tabungan yang praktis, tanpa buku tabungan, yaitu Tahapan XPresi.

Kamu punya Xpresi? Saya pakai lho…

Saya mengetahui mengenai Tahapan Xpresi (selanjutnya disebut Xpresi saja) sejak tahun lalu, ketika melihat kartu ATM teman yang ada foto dirinya sendiri. Wih, saya penasaran dong. Ternyata, itu merupakan produk dari BCA dan ia membuka rekeningnya di myBCA di salah satu mal besar di Jakarta. Sampai kemudian, saya membuka rekening Xpresi juga di kantor cabang dekat rumah.

Ada beberapa pertimbangan ketika memutuskan untuk membuka rekening Xpresi. Pertama, sebagai bank swasta terbesar di Indonesia, sebagian besar menggunakan rekening BCA, ATM-nya di mana-mana, dan fasilitas layanannya banyak, aman, dan nyaman. Kedua, untuk membuka rekening Xpresi hanya perlu setoran pertama minimal 50.000 dan biaya administrasi bulanan 5.000 saja. Ketiga, Xpresi adalah rekening tanpa buku, pengecekan transaksi melalui BCA mobile, dan limitnya sama dengan paspor BCA Silver, limit tarik tunai 7 juta dan transfer 25 juta per hari.

Yang terakhir, desain kartu ATM-nya lucu-lucu!

Suasana BCA Kantor Cabang Tebet Barat.
Di hari saya hendak membuka rekening Xpresi, ada banyak orang mengantre untuk Customer Service. Saat mengantre itu lah, berasa pelayanan di kantor cabang BCA, sangat baik dan memuaskan. Ada seorang pegawai yang mendatangi nasabah yang mengantre dan memberikan air minum serta permen. Pegawai lain beramah-tamah bertanya apa yang bisa dibantu di counter. Ketika saya menjawab mau membuka rekening Xpresi ia pun meminta KTP dan NPWP saya untuk di-scan dan dikopi terlebih dahulu supaya menghemat waktu saat di counter. Berasa diperhatikan banget deh!

Xpresi bisa digunakan untuk semua umur. Untuk nasabah berusia di atas 17 tahun, hanya dibutuhkan KTP dan NPWP. Apabila tidak memiliki NPWP bisa melampirkan form surat pernyataan tanpa NPWP yang bisa diunduh di web BCA. Untuk nasabah berusia di bawah 17 tahun dibutuhkan beberapa dokumen pelengkap seperti akte kelahiran, NPWP dan identitas orang tua, surat persetujuan orang tua, dan lain-lain. Lebih lengkapnya dapat dibaca di halaman Tahapan Xpresi di situs web BCA.

Counter Customer Service.
Desain kartu Xpresi yang bisa dipilih.
Video Banking Experience untuk Pertama Kali

Sekitar dua minggu lalu, saya datang ke myBCA untuk ganti kartu Xpresi. Seorang mbak pegawai yang bertugas meminta saya untuk memperlihatkan KTP. Eh, saya perhatikan kok mbak pegawainya 'cuma' mondar-mandir dan saya pun sudah menunggu sekitar 15 menit. Padahal 'kan sepertinya ganti kartu cuma begitu doang... Ternyata semua pelayanan di myBCA dilakukan melalui Video Banking yang saat itu sedang melayani nasabah. Maaf ya Mbak saya suudzon. ⌒°(❛ᴗ❛)°⌒

Untuk desain kartu Xpresi tadinya saya tertarik yang tema traveling bergambar traveling items dan di sudut kanan tersedia space untuk foto wajah kita. Duh, tapi rasanya nggak pede kalau harus punya kartu ATM yang ada foto wajah. Akhirnya nggak jadi dan memilih desain nomor 14. Dan saat itu merupakan pertama kalinya aku merasakan yang namanya Video Banking dan terkesima...

Mesin Video Banking.
Sebenarnya sama saja seperti di teller atau Customer Service. Bedanya via video saja. Mana muka saya juga terlihat di bagian pojok kanan layar. Bawaannya pengen senyum-senyum sendiri sambil pose *berasa kamera depan*

Di mesin video banking ada dua layar, layar di atas untuk melihat teller BCA dan yang di bawah adalah layar sentuh untuk menampilkan data, informasi, dan penjelasan untuk nasabah. Di sebelah kanan layar sentuh ada bagian untuk tanda tangan dan memasukkan pin. Di depannya lagi terdapat scanner untuk memindai dokumen seperti KTP dan NPWP. Beberapa pertanyaan juga ditanyakan oleh teller, seperti tanggal lahir, transaksi terakhir, membuka rekening di cabang mana, dan lain-lain.

Usai proses penggantian kartu selesai, kartu baru akan keluar dari bagian Card Issue. Saya cuma mbatin, wah canggih ya... hahaha.

Andai video call-an dari rumah bisa sejernih ini...
Ini dia kartu baru Xpresi saya... lucu kaaan?

Kartu baru Xpresi saya.

Kartu Flazz Edisi Halloween

Saya juga membeli kartu Flazz di myBCA. Karena menjelang Halloween, Flazz menyediakan desain karakter Looney Tunes bertema Halloween. Ada tiga pilihan yaitu Tweety, Sylvester & Tweety, dan Bugs & Daffy. Semuanya lucu tapi akhirnya saya memutuskan membeli yang Tweety.

Flazz merupakan kartu pengganti uang tunai. Lebih praktis karena tinggal tap dan tidak perlu menghitung dan memastikan keaslian uang. Flazz bisa digunakan untuk membayar di minimarket, supermarket, toko buku, dan pokoknya di lebih dari 57 ribu merchant di seluruh Indonesia. Fitur yang paling penting buat saya sih: bisa untuk naik commuter Line dan TransJakarta.


Flazz juga punya desain beraneka macam. Seorang teman, ia kegirangan karena mendapat Flazz edisi McDonald's Bandung. Ia pun bercerita kalau ada Flazz edisi McDonald's dan hanya tersedia di empat kota: Jakarta, Bandung, Bali, dan Surabaya. Jadi ingat dulu ada teman memberitahu kalau ada Flazz bergambar Hello Kitty. Sebagai fans Hello Kitty, sebenarnya saya pengen, tapi apa daya nggak sempat beli. Ada yang punya nggak? Kalau punya buat sayaaa doong~ o(^▽^)o

Kalau Flazz-mu gambarnya apa?


Ber-Xpresi di myBCA

Karena sedang suasana Halloween, tak hanya kartu Flazz saja, myBCA juga didandani dekorasi ala Halloween. Seperti dinding yang ditempeli stiker gambar kelelawar, gantungan bernuansa oranye, dan frame Instagram yang bisa digunakan untuk berfoto.

Saya pun juga narsis di frame Instagram-nya dong.


Oh iya, lipstikku bukan ungu kok. Itu hanya iseng edit warna di Photoshop, hihihi

Kamu nasabah BCA juga?
Pakai produk yang mana? Ceritakan dong di kolom komentar ♬


Inside The Ferry From Mokpo To Jeju Island

Menuju Pulau Jeju bisa dengan dua cara, menggunakan pesawat atau kapal. Saat itu, aku menggunakan kapal feri menuju Pulau Jeju namun kembali ke Busan naik pesawat. Aku berangkat dari Mokpo, kota di Provinsi Jeollanam-do, menggunakan kapal feri. Harga tiketnya 24300 KRW dan perjalanan ditempuh sekitar empat jam.

Yang sempat bingung, aku berhenti di halte bus Terminal Feri Domestik, eh tahunya feri menuju Jeju berada di Terminal Internasional. Untungnya jalannya tidak jauh jadi nggak perlu lari-lari. Setelah sampai terminal, aku menukarkan print-out bukti pembelian tiket dengan boarding pass. Untuk masuk ke feri, akan ada pengecekan boarding pass dan identitas (paspor).

Sepertinya baru beberapa kali naik feri, jadi aku excited banget! Aku cuma pernah naik feri Merak-Bakauheni, Ketapang-Gilimanuk, sama Kartini-Karimun Jawa (ï¼´_ï¼´ ) Naik cruise macam di Titanic juga belum keturutan. Soon, lah soon. <- nggak tahu pernah berapa kali menulis begini di postingan. Tapi doa yha, kan?

Tampak depan gedung Terminal Feri Internasional Kota Mokpo.

Hobiku: Cuci Piring

Hobiku cuci piring, kayak Bill Gates gitu lah.
Tapi boong. *evil smirk*

Tapi seriusan, aku suka yang namanya bersih-bersih. Aku tuh suka gemas kalau ada banyak debu di rumah, meja berantakan, lantai kotor, tapi gemas doang ding nggak langsung dibersihin. Kalau misal harus belajar untuk ujian pun, yang pertama dilakukan adalah beresin kamar. Kalau nggak rapi dan bersih, bawaannya males belajar.

Alesan aja sih.

Somehow, aku sangat menikmati kalau sedang bersih-bersih, baik mencuci baju atau menyapu lantai. Akhir-akhir ini juga lumayan rajin mencuci piring. Setelah makan, langsung cuci piring sendiri. Ternyata mencuci piring dengan tangan banyak manfaatnya, loh. Pantes saja Bill Gates suka cuci piring!

Menurut artikel yang kubaca, ketika mencuci piring dengan tangan, fokus pada bau sabun, merasakan piring dan gelas, dan suhu air keran, mampu mengacu pikiran supaya lebih positif. Selain itu, mencuci piring dipercaya dapat mengurangi kegelisahan, meningkatkan kualitas tidur, dan mengurangi risiko depresi.

Tapi ingat, mencuci piringnya juga harus mindful. Harus ikhlas dan dinikmati. Gimana? Yuk, mulai mencuci piring sendiri!

Hmmm... mungkin aku belum rajin mencuci piring tapi aku selalu memerhatikan wastafel di dapur. Kalau sabut cuci piring sudah rusak atau warnanya sudah iyuuuhhh, langsung kuganti dengan yang baru. Biasanya kalau di supermarket aku selalu membeli beberapa sabut cuci piring Scotch-Brite buat stok di rumah.

Craving For Durian?

Sponsored Post

Aku nggak gila durian, sih. Melainkan tipe yang kalau pengen baru makan. Beberapa minggu belakangan rasanya pengeeennn makan durian. I'm craving for durian!

Long time no see banget sama durian rasanya. Karena kepengen makan doang, tapi nggak beli-beli, akhirnya lupa deh. Sampai akhirnya ada yang ngasih aku Sop Durian Kunyil yang dikirim pakai Go-Food-nya Gojek! ♥

Ada satu mangkok Sop Durian original dan satu porsi batagor-siomay. Terima kasih, kok ya pas banget lagi pengen makan durian.




Sop Durian Original ini berisi durian asli, keju, dan susu. Tak lupa dibubuhi dengan es batu. Makanya Sop Durian ini cocok banget dinikmati pada siang hari yang panas. Sop Durian Kunyil juga menyediakan menu Sop Durian dengan topping lainnya seperti Sop Durian Brownies, Oreo, Coco, Crunch, dan lain-lain. Yang membedakan adalah yang Original lebih banyak volume duriannya! Yummy!

Satu mangkok Sop Durian Original dijual dengan harga Rp 21.999.


Selain sop durian, aku juga dikasih seporsi batagor dan siomay. Ternyata menu ini dinamakan Batasio (Batagor - Siomay). Jadi kalau galau mau beli batagor atau siomay, bisa beli Batasio. Ya kali aja ada yang suka bingung antara dua pilihan itu. 

Satu porsi batasio dijual dengan harga Rp 18.999.

Selain Batasio, Sop Durian Kunyil juga menjual menu nasi, minuman kopi, olahan kripik, dan lain-lain. Menu lebih lengkapnya Sop Durian Kunyil dapat dilihat melalui situs web: sopduriankunyil.com atau bisa cek di menu Go-Food aplikasi Go-Jek.


Saat lihat namanya... Kunyil? Berasa aneh gitu. Pas aku lihat webnya ternyata nama 'kunyil' berarti panggilan sayang untuk anak dan merupakan singkatan dari: Keluarga Unik yang Bahagia dan Lestari. Harapannya si pemilik, Sop Durian Kunyil bisa menjadi kesayangan untuk para pecinta durian.

Mau coba?
Cek alamat di bawah ya.
Atau via Go-Food, Free Delivery loh!

SOP DURIAN KUNYIL
Jalan Anggrek Cendrawasih Blok K No. 39 B, Jakarta Barat
Go-Food ✓
Instagram: @sopduriankunyil
Situs Web: http://bit.ly/sopdurenkunyil

Rasanya Jalan-Jalan Pakai Kruk #2

Kelanjutan dari Rasanya Jalan-Jalan Pakai Kruk #1

PAKAI ACCESSIBLE TOILET

Saat itu, aku hanya bisa menggunakan sepatu/sandal di kaki kanan. Sedangkan kaki kiri menggunakan 'sepatu' buatan dokter yang dibalut dengan kain perban (bandage). Pakai sepatu khusus itu membutuhkan waktu yang lumayan lama. Untuk berjalan aku juga menggunakan tongkat jalan (kruk) supaya lebih mudah.

Keesokan hari setelah memeriksakan diri ke dokter, aku berangkat ke Kuala Lumpur menggunakan maskapai Air Asia dari Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta Cengkareng. Memang tidak enak rasanya berjalan kaki menggunakan kruk tapi rasanya biasa-biasa saja, sampai akhirnya di bandara aku hendak pipis.

Aku pun berjalan menuju toilet dan seorang petugas pun membukakan pintu accessible toilet (biasa juga disebut disabled toilet, toilet khusus yang digunakan untuk orang yang difabel). Aku bahkan sampai lupa ada toilet khusus dan niatnya menuju ke toilet yang 'biasa'. Aku agak terharu karena si petugas toilet begitu perhatian.

Nggak punya foto toilet, fotoku aja ya.

Justika, Ketika Pasar Praktisi Hukum Tak Lagi Menjadi Pasar Bisik-Bisik

Aku baru tahu belakangan ini kalau dokter, pengacara, dan notaris tidak boleh mengiklankan dirinya dalam bentuk apapun. Misalnya notaris, tak hanya iklan, seperti ucapan selamat, belasungkawa, ucapan terima kasih, bahkan papan nama kantor notaris pun tidak boleh ada di luar lingkungan kantor. Kode etik, katanya.

Duh, maafkan keawaman saya ini ya.

Makanya, inilah sebabnya mengapa 'pasar profesi di atas' sering disebut sebagai pasar bisik-bisik. Orang-orang tahu pengacara ini itu dan apakah reputasinya baik buruk dari komunikasi mulut ke mulut. Jadi, biasanya orang memutuskan untuk menggunakan jasa hukum dari pengacara tertentu yaitu berdasarkan dari rekomendasi orang yang dikenalnya.

§§§

Apa yang kamu pikirkan apabila mendengar kata hukum? Kalau aku sih saat ini yang terbayangkan adalah polisi, penjara, hukuman mati, Dimas Kanjeng, dan Jessica.


Rasanya Jalan-Jalan Pakai Kruk #1

Sudah sepuluh bulan silam sih...

Barangkali ada yang ingat, kalau aku jatuh dari trotoar bulan Desember lalu. Saat itu, aku sedang jalan kaki di trotoar tak jauh dari rumah untuk berangkat ke kampus. Karena di trotoar terdapat warung dan ada mobil terparkir di pinggir trotoar, aku sedikit kesusahan untuk jalan. Akhirnya aku terpeleset dan posisi kaki kiriku menekuk di aspal. Aku nggak main hape, nggak ngelamun, tapi sepertinya memang takdirnya begitu...

Sakit. Aku kira hanya keseleo biasa. Aku berusaha jalan pulang ke rumah. Dipegang-pegang sakit banget, sampai aku akhirnya tidur, kali aja kakinya membaik. Hahaha... Eh beberapa jam setelahnya tetap sakit sampai akhirnya memutuskan untuk ke rumah sakit. Setelah di-rontgen, ternyata patah tulang lah. *nangis*

Pakai kursi roda. Sebenarnya bisa jalan, tapi iseng pakai kursi roda.

Ngomong Campur-Campur

Pukul sepuluh pagi, saya naik ojek dari tempat les Bahasa Jepang saya menuju rumah. Hari itu, saya ke sana cuma ingin membayar uang piknik.

O: "Dari mana, Bu?" Cedih deh dipanggil ibu.
U: "Dari tempat kursus tadi Bang..."
O: "Nganterin anaknya ya?"

*jorokin abangnya dari jok penumpang*
*maunya sih gitu*
*waktu pun berlalu*

O: "Asalnya mana Bu?"
U: "Hmmm, bapak ibuku sih dari Jogja, Bang."
O: "Tapi kalau ngomong Bahasa Inggris nggak keliatan Bu kalau dari Jawa."
U: "Hah? Kapan aku ngomong Inggris?"
O: "Barusan."

Hah? Masak? Kapan? Ngomong apa gua?

❤❤❤

Menyanyi Lagu Kebangsaan Israel

Menyanyikan lagu kebangsaan Israel
... berdua dengan orang Israel, di Tokyo.

Salah satu kejadian yang mengesankan bagiku saat di Tokyo bulan lalu. Tapi yang bikin lebih berkesan adalah, ketika Yoav, orang Israel itu, berkata bahwa menyanyi Hatikvah denganku adalah salah satu fenomena surealis dalam hidupnya!


Surealis artinya apa sih?


♫♫♫

Saat di Tokyo, aku dan temanku menginap di Inno Hostel tak jauh dari daerah Ueno. Di hostel milik orang Korea ini terdapat lounge dan bar yang digunakan para tamu untuk bersantai-santai. Barnya pun melayani untuk orang yang tidak menginap di hostelnya.

Asiknya di hostel, adalah bisa mengobrol dengan sesama tamu yang menginap. Aku sempat mengobrol dengan beberapa orang asing di sana tapi ternyata sebagian bukan tamu, melainkan volunteer yang bekerja di hostel. Rata-rata, mereka sedang internship di Tokyo, dan untuk menghemat ongkos ngekos, mereka memilih untuk bekerja di Inno Hostel dengan imbalan penginapan gratis.

Saat itu, aku duduk di bar sambil menikmati sesloki gelas air kran (ya di Jepang kan minum air putih dari kran), aku berkenalan dengan seorang perempuan dari Italia, yang sedang dalam studi S2 terkait Bahasa Jepang di universitas di Italia, namun sedang magang di Jepang untuk beberapa bulan. Seorang laki-laki kemudian duduk di kursi sampingku dan menyapa. Mirip Adam Levine tapi dengan brewok sedikit lebih lebat, sedikit saja.

Gombalan Paling Ampuh Untuk Ibu-Ibu

dan perempuan pada umumnya...

Aku lupa mendengar atau membaca tips gombal ini dari mana. Tapi sampai sekarang masih selalu aku gunakan. Apalagi temanku banyak yang sudah ibu-ibu, baik yang mamah muda hingga ibu-ibu bercicit. Dengan gombalan ini, percakapan menjadi lebih lancar.

Nah, aku merasa gombalan ini selalu kena! Setidaknya reaksi paling buruk adalah 'biasa aja'. Setiap gombalan ini dilontarkan ke ibu-ibu, pasti raut mukanya langsung berbeda, langsung berefek senyum mengulum dan pipi tersipu. Geer. Serius.

Mau tahu nggak gombalan yang pastinya sebenarnya semua orang tahu?

Intinya, kalau ingin bikin ibu-ibu kenalan baru Anda senang, di awal-awal percakapan ungkapkanlah bahwa beliau awet mudah atau terlihat muda dibandingkan umurnya!

Ah serius udah segitu umurnya?
Eh, tapi mbak kayak masih 20-an lho!
Lho, kirain kita seumur?
Anaknya udah empat? Kayak masih kuliah lho...
Eh? Udah punya tiga cucu? Kirain masih SMA lho... (Yang ini lebay banget sih maaf).

Yang semacam itulah.

Meskipun gombal bisa berarti bohong, tapi kalau aku memuji dengan gombalan ini biasanya aku jujur. Tapi seringnya agak lebay juga sih akunya.

Misalnya pernah nih, nimbrung ke ibu-ibu blogger yang sedang mengobrol. Ada salah satu ibu blogger yang bercerita tentang anaknya, eh tahunya sudah besar. Lalu aku nanya berapa umurnya si ibu itu, ternyata sudah 35 tahun. Kalau dari wajah, kalau dia bilang masih 28 tahun pun orang nggak akan mengira dia muka boros.

Lalu kubilang saja, "Eh yang bener Mbak? Tapi kelihatan kayak 21 lhooo..."

Oke ini lebay dikit.

Mau Kasih Hadiah Untuk Teman. Enaknya Apa Ya?

Advertorial

Beberapa tahun lalu, saya punya dua teman dekat. Sekarang sih sudah tidak terlalu dekat karena sudah jarang bertemu.

Tak hanya saat ulang tahun, tanpa 'dalam rangka-dalam rangka' pun, kami bertiga sering saling memberikan hadiah kecil. Kadang-kadang hanya makanan kecil oleh-oleh dari kampung, namun pernah juga tas cantik, boneka, kosmetik, dan lain-lain.

Senang kalau hadiah kecil itu bermanfaat, tapi seringnya kami membeli hadiah dan sama sekali tidak melihat kesukaan atau kebutuhan teman yang dikasih. Seringnya kami membeli hadiah ya yang... suka-sukanya kami! Preferensi yang memberi hadiah tanpa melihat preferensi yang dikasih hadiah.

Pernah suatu waktu, salah satu teman saya tadi memberi penghapus bentuk bebek. Senang sih senang. Lucu banget kan. Tapi ya nggak kepakai. Akhirnya masih ada di rumah, sudah hampir tujuh tahun sepertinya, nggak dibuka juga bungkusnya. Waktu lain lagi, teman saya memberikan kaos warna putih oleh-oleh dari kota kampung halaman ibunya. Desainnya 'nggak banget'. Dan teman saya sadar kalau memang 'nggak banget'. Tapi dia bilang... sengaja! Biar bikin kami pake kaos itu... ya akhirnya cuma sekali-dua kali dipakai di rumah aja.

Tapi selain hadiah yang 'tidak penting-tidak penting', yang penting dan berguna sekali juga banyak kok.

Sekarang... sejak saya semakin dewasa, ya kalau memberi hadiah untuk teman atau siapapun pasti melihat banget preferensi si orang yang akan diberikan hadiah. Kira-kira kepakai nggak ya? Bermanfaat nggak ya?

Ketika Tweet Dicopas

Lagi-lagi postingan dari hasil copas timeline LINE (punya sendiri) dengan penyuntingan. Udah nge-draft curhat nggak penting tapi belum kelar juga. Padahal cuma mau bahas kulit ayam. Kali ini mau curhat saat beberapa waktu lalu tweet-ku di-copas. Nggak gimana-gimana sih. Cuma kasian aja sama orangnya yang copas. 

❤❤❤

Kali ini mau cerita.
tentang pengalaman pertama tweet di-copas.
Iya, tweet doang.

Dua akhir pekan lalu, aku pergi ke acara #JakJapanMatsuri2016 dan 'melaporkannya' secara live di Twitter-ku. Acara tersebut dilaksanakan dalam dua hari dan aku datang dua hari berturut-turut. Di hari pertama, sebelum hendak pulang, aku bertemu dengan teman blogger, dan dia memberitahukanku sesuatu.

Katanya, tweet seorang blogger + buzzer bernama Fauzi sama persis sama tweet-ku setitik komanya sefoto-fotonya. Tapi udah aja, akhirnya kita malah jalan-jalan, dan abis itu aku ngga inget dan ngga nanya lagi lebih detilnya.

Sampai keesokan paginya, aku klik hashtag #JakJapanMatsuri2016 buat lihat tweet orang-orang. Di tab top tweets ada tweet orang bernama Fauzi yang kalimatnya setanda serunya sama banget sama tweet-ku. Tweet-nya masuk ke Top Tweets karena di-retweet ada 14 kali.


From Japan to Korea with Peach Airlines

Selain hanya menulis bahasan yang remeh di blog, aku juga sukanya menuliskan hal yang sudah lama lewat. Hahaha... Kayak cerita ini, aku alami hampir setahun yang lalu. Ya sudah lah ya, mohon maklum.

(ノ^ヮ^)ノ*:・゚✧

September tahun lalu, saat aku mencari penerbangan termurah apakah dari Kansai ke Seoul, aku menemukan Peach Airlines. Mendadak teringat cerita teman yang pernah pergi dari Jepang ke Korea dengan Peach Airlines, ia membeli tiket hanya dengan harga sekitar 400 ribu rupiah saja.

(Note: Harusnya namanya Peach Aviation, tapi orang-orang lebih sering menyebutnya dengan Peach Airlines).

Peach merupakan maskapai penerbangan low-cost asal Jepang yang kepemilikan terbesarnya dikuasai oleh All Nippon Airways (ANA). Peach punya rute ke Hong Kong, Korea, dan domestik Jepang. Tarifnya yang murah bikin orang-orang suka naik Peach. Karena aku langganan newsletter-nya, sering dikirimi info promo tarif Peach. Misal Osaka ke Sapporo bahkan bisa cuma 2490 yen (300 ribuan). Kalau naik Shinkansen bisa jutaan! Belum bisa juga sih naik Shinkansen sampai Sapporo...

Waktu aku mau memesan tiket Peach, tidak semurah yang temanku dapatkan. Ada dua pilihan harga, yang pertama Happy Peach Fare, sekitar 5800 yen dan Happy Peach Plus Fare, dengan tarif 8280 yen (belum pajak). Perbedaannya kalau Happy Peach Fare yang benar-benar fasilitas seadanya, hanya cabin baggage 10 kg tanpa checked-in baggage. Kalau mau pilih kursi pun harus bayar. Sedangkan Happy Peach Plus Fare sudah termasuk checked-in baggage dan bisa milih kursi sesukanya. Kalau mau ganti tanggal penerbangan pun free.

Bukti pembayaran tiket Peach Airlines di Lawson.

Milo Indonesia vs. Milo Malaysia. Enak Mana?

Sepertinya sudah lama mendengar kalau Milo hasil produksi di Indonesia dan Malaysia rasanya berbeda.

Dulu saat tinggal di Jogja, aku tinggal serumah sama tante yang hanya mau minum Milo hasil kilang (pabrik) Malaysia. Sepertinya pernah sekali dua kali mencoba, tapi karena tidak pernah langsung membandingkannya dengan Milo buatan pabrik sini, nggak tahu persis di mana bedanya.

Bisa dibilang, aku cukup jarang minum Milo. Waktu adik kandungku masih di Jakarta, biasanya nyetok Milo, tapi aku pun jarang ikut minum. Sekarang kalau kepengen ya paling beli yang dalam bentuk kaleng atau kardus.

Beberapa kali mampir Malaysia, tiap makan di warung nasi kandar, selalunya minum Milo Ais, kadang-kadang Milo-O (Milo tanpa susu kental manis). Kok kayak enak ya... tapi apa benar rasanya sebegitunya berbeda?

Sampai akhirnya, aku membeli Milo bubuk ukuran 400 gram di Jaya Grocer, Gateway@KLIA2, di Kuala Lumpur International Airport (KLIA) 2, Sepang, Malaysia, saat transit hendak pulang ke Jakarta. Nanti sampai Jakarta, aku mau membeli Milo bubuk produksi Indonesia, dan membandingkannya! Begitu niatku saat itu.

Akhirnya ya, baru seminggu kemudian membeli Milo bubuk sachetan di warung dekat rumah.

Milo yang aku bandingkan adalah varian Milo original alias bukan yang Milo 3 in 1. Jadi lebih apple to apple kan ya? Ngomong-ngomong, di Malaysia, Milo 3-in-1 memiliki komposisi Milo, gula, dan krimer. Sedangkan di Indonesia, Milo 3-in-1 adalah Milo yang ditambahkan dengan Dancow. Bagian satunya lagi mungkin gula (CMIIW).

Yuhu~ mari kita mulai! Let's get started!

Percakapan dengan Supir Taksi Jepang

Perjalanan kemarin ke Jepang, kami banyak menggunakan taksi. Aku senang naik taksi karena jadi kesempatan buat ngecengin supir taksinya (ya kali, kebanyakan tua-tua!) ngobrol sama si supir taksi sambil latihan percakapan.

Dari belasan kali naik taksi, semuanya berkesan. Salah satunya saat perjalanan dari penginapan ke Stasiun Shin-Osaka untuk naik Shinkansen.

Supir taksi kali itu relatif muda, tidak ganteng namun terlihat keren, ditambah kulitnya yang rada kecokelatan. Dari hasil wawancara, ternyata hobinya surfing. Hmmm... pantes saja.

Mulanya dia bertanya, asal kami dari mana. Begitu kubilang, Indonesia, dia sumringah. Ternyata ia sudah beberapa kali ke Indonesia, tapi hanya ke Bali untuk surfing. Dia juga sudah pernah ke Lembongan -- dan aku belum pernah (╥_╥) 

"Saya iri dengan Indonesia. Makanannya enak, lautnya bagus, orangnya baik-baik..."

Ekspresiku langsung menunjukkan seolah-olah aku berujar, "Apaan!" Begitu pula tamu yang kuantar setelah ucapan si supir taksi kuterjemahkan. Iya sih lautnya bagus tapi orangnya baik-baik? Ya yang ngga baik juga banyak #realistis #maafindonesia

Sementara dia iri dengan Indonesia, sini iri sama Jepang. Memang rumput tetangga lebih hijau ya. Ya Indonesia sama Jepang ngga tetangga-tetanggaan amat sih.

Terima Kasih JR-West! ありがとうJR西日本!

Akhir-akhir ini, mau posting tapi tiap menulis seringnya nggak dikelarin. Daripada blogku nggak update-update, aku pindahkan postinganku sendiri di timeline LINE@ ke blogpost ini. Sebelumnya aku menulis di timeline LINE@ untuk menghilangkan rasa bosan di pesawat. Dicopas dengan penyuntingan. Oh ya, kalau mau add LINE@-ku monggo di @jqr0626c (pakai '@' ya).

♫♫♫

Barang hilang (ketinggalan) di Jepang pasti akan ketemu! Terima kasih JR-West!

Jadi ke Jepang kemarin ini, saya nggak liburan! melainkan mengantar satu keluarga yang terdiri dari kakek-nenek 80-71 tahun, ibu berumur 44 tahun, dan anak-anak berumur 17, 15, dan 12 tahun (yang terakhir keponakan si ibu).

Malam terakhir, mereka menginap di Hotel Nikko yang berlokasi di area Kansai International Airport. Setelah membantu check-in dan lain-lain, saya pulang ke arah kota. Sekitar jam 10 malam, saya turun dari kereta jalur bandara di Stasiun Tennoji dan harus transit. Berasa ponsel saya getar-getar tapi ngga saya pedulikan karena lagi sibuk lari-lari transit line. Pas sampai kereta, baru saya buka, ternyata si anak yang berumur 12 tahun -sebut saja Adik M menelepon saya. Pas saya angkat, dia nanya apakah saya lihat tas ranselnya.

Swiss – Belhotel Cirebon dengan 2 Keraton di Sekitarnya

Advertorial

Swiss-Belhotel Cirebon
Sumber: swiss-belhotel.com
Swiss – Belhotel Cirebon merupakan salah satu hotel berbintang 4 di bilangan kota Cirebon. Hotel yang berlokasi di Jalan Cipto Mangunkusumo No 26, Cirebon, ini memiliki akses mudah ke beberapa destinasi bersejarah di Pulau Jawa, yang tentunya dapat menambah wawasan Anda tentang sejarah perkembangan pulau Jawa.

Sumber: disejarah-perkembangan.blogspot.co.id
Membicarakan sejarah pulau Jawa pasti tidak akan terlewatkan pembahasan bagaimana adat istiadat orang – orang Jawa. Salah satunya adalah sejarah mereka dengan berbagai macam kerajaan yang memiliki adat istiadat berciri khaskan masing – masing daerah, termasuk Kota Cirebon.

Kota ini memiliki dua tempat yang mempunyai sejarah atas perkembangan adat istiadatnya yaitu Keraton Kasepuhan dan Keraton Kanoman. Bangunan yang merupakan barang bukti atas segala perkembangan kehidupan sosial bermasyarakat di Pulau Jawa pada masa lampau dan untungnya posisinya berdekatan dengan Swiss – Belhotel Cirebon.

Sebelum kita membahas tentang Swiss Belhotel Cirebon, mari kita bahas terlebih dahulu destinasi bersejarah yang berada di sekitarnya. Mungkin ini bisa menjadi referensi untuk Anda dalam memilih destinasi liburan selanjutnya. Mari kita lihat pembahasan singkat tentang dua destinasi tersebut!

Una Merindu?


Gini banget naksir orang?

Mau mengajak ketemuan saja, setelah mengetik pesannya, klik sent-nya 10 menit kemudian. Sudah gitu pakai deg-degan. Mana sudah sebelas bulan tidak bertemu.

Setelah aku memutuskan ikut acara giveaway-nya Pakde Cholik dengan menyanyikan lagu Wulan Merindu-nya Cici Paramida, baru sadar kok liriknya pas banget.

Tak tahan rasanya gelora di jiwa
Ingin segera bertemu...

Duh… baper!

♥♥♥

Perdana menyanyi depan video nih demi Pakde Abdul Cholik yang mau ulang tahun. Selamat ulang tahun ya Pakdeee... sukses terus dan lancar segalanya!


“Artikel ini diikutsertakan pada Giveaway 66: Dangdut Cerdas On the Blog.

Ke Aceh Harus Pakai Jilbab?

Suatu hari, tiba-tiba teman saya mengajak ke Banda Aceh.

Hari itu hari Minggu.

Senin beli tiket.

Selasa berangkat.

Yang mendadak kayak gini biasanya pasti jadi. Nggak kayak yang direncanain dari beberapa bulan sebelumnya.

Sebelum berangkat, hal yang paling aku bingungkan adalah: ke Aceh harus pakai jilbab mulu ngga sih? Apa harus bawa? Apa benar kalau ketahuan nggak pakai tiba-tiba ada polisi syariah ngedatengin? Aku juga ingat ada teman mamah orang Amerika yang waktu kerja di Aceh kalau pergi pakai kerudung.

Udah mana selembar kerudung pun saya tak punya. Cuma punya mukena buat sembahyang. Yang kebayang sebelum berangkat tuh hukum cambuk di Aceh. #lebay 

Saya tanya teman saya dong yang tinggal di Banda Aceh. Katanya selaw aja nggak bakal kenapa-kenapa kalau nggak pakai kerudung. Di Banda Aceh juga banyak yang nggak pakai kerudung. 

Nyang bener nih?

Makan Enak vs. Kebebasan

Cerita tentang kucingku lagi.

Aku punya kucing namanya Foxy, kucing jantan yang diberi nama Foxy karena menurut yang memberi nama mukanya kayak rubah. Foxy mempunyai ibu yang bernama Cecil dan ayah bernama Moza. Saat periode ASI eksklusifnya belum selesai, ia sudah diadopsi dan dibawa ke rumahku. Bulan November nanti, ia akan merayakan ulang tahunnya yang ke empat.

Beda dengan Adele atau anak-anaknya, Foxy ini sangat adventurous. Ia nggak betah yang namanya santai-santai males-malesan di rumah. Sukanya jalan-jalan keluar, hangout sama kucing lain. Perginya sampai gang lain dan gedung bank dekat rumah. Selain itu, seringnya ia tidur di bawah mobil tetangga dan pulang kalau lapar saja. Lapar makan dan lapar nindihin Adele.

Foxy lagi ngajak duel sama kucing jalanan. 

Saking seringnya muter-muter lingkungan rumah, Foxy ini terkenal banget. Segang rumahku nih ya, yang kenal Foxy sama yang kenal aku kayaknya banyakan yang kenal Foxy. Tetangga-tetangga kalau lihat Foxy jalan pasti pada nyapa, "Foxy... Foxy!" Foxy pun juga ramah lho. Suka mampir rumah depan trus kalau bapaknya keluar pasti Foxy ngeong-ngeong kayak ngajak ngomong. Tapi sudah dipastikan bapaknya nggak paham maksudnya Foxy.

Ada juga orang sekitar rumah (yang aku nggak tahu di mana persis rumahnya) melaporkan katanya waktu lebaran si Foxy sempat mampir rumah. Wah, tahu silaturahmi juga dia. Kalah deh aku yang pas lebaran sama sekali nggak ke rumah tetangga.

Playing Hard to Get

Uwaaah... udah lama banget ngga buka komputer...
*peluk peluk monitor*
*kesetrum*

Kali ini aku mau nulis tentang playing hard to get. Kalau secara literal sih artinya 'bergaya susah didapat' tapi padanan kata yang cocok apa ya. Aku nggak tahu, kalau kamu tahu kasih tahu ya. Playing hard to get itu kalau dijelaskan dengan kutipannya Sudjiwo Tedjo tuh...

"Jangan sengaja pergi agar dicari. Jangan sengaja lari biar dikejar."

Intinya sih ya misalnya nih cowok sama cewek. Si ceweknya pura-pura nggak mau, bales chat lama, sok-sok misterius, padahal aslinya suka-suka juga. Gara-gara mau bahas ini, aku sampai googling playing hard to get itu gimana sih. Menurut survey kalau yang playing hard to get yang cewek banyak nggak berhasilnya karena kecenderungan cowok sukanya cewek yang friendly, nggak misterius. Sedangkan cewek sukanya sama yang cool rada-rada misterius gitu.

Katanya!

Aku sendiri kagak tahu!

Soalnya aku mau bahas kucing... bukan manusia...

Awalnya aku punya dua kucing, namanya Foxy dan Adele. Mereka ini saudara tiri beda ibu. Mereka sudah menghasilkan sekitar 30 anak dan yang masih di rumah ada dua ekor. Aku nggak ngerti siklus mereka kawin tapi jarang sekali. Sebulan belum tentu sekali.

Kemarin, si Foxy lagi birahi. Yang biasanya Foxy tuh kelayapan jalan-jalan di luar pulang kalau laper doang, kemarin di rumah aja seharian. Dibuka pintu rumah blak-blakan juga ngga tertarik buat keluar rumah. Karena doski lagi suka ngikutin Adele. Minta jatah.

Adele tiduran nyelip di pot-pot. Foxy ngikutin di pot sebelahnya.

Adele di bawah piano. Foxy nungguin di deketnya jarak 30 cm.

Adele tiduran di balik kloset. Foxy ikut-ikutan tiduran di pintu kamar mandi. Kan jadi bikin susah aku mau ee.

Kucing aja kelonan mesra. Masa kamu engga? Eh kamu juga suka kelonan deng yaaaa......
 sama guling.

Lucunya si Adele ini kayak nggak mau digituin sama Foxy. Tiap Foxy berusaha nindihin, Adele mukul-mukul Foxy. (Aku ngga tahu dalam kehidupan kucing itu termasuk mukul kasar atau mukul manja). Pokoknya kayak nggak mau... malah jadinya kejar-kejaran.

Udah tahu Adele ditungguin Foxy, Adele malah kayak pura-pura pingsan, tidur nggak gerak. Ya udah deh, Foxy nungguin aja berjam-jam sampai Adele gerak. Serius berjam-jam.

Sampai akhirnya kayaknya Foxy menyerah (atau udah males), Foxy jalan lah menjauhi Adele dan tiduran di bawah kursi kayu di ruang tamu. Eh si Adele yang tadinya jauh di mana nyamperin ke bawah kursi juga. Bah! Genit! Nggak tahan lama-lama playing hard to get kayaknya...

Emang natural kali ya playing hard to get tuh...
Nggak cuma manusia yang kayak gitu...

Dibeliin Mama Emas 100 Gram

Sore-sore, Mama pulang kerja. Kebiasaannya manggil "Un, Un!" Tapi kali ini ngga cuma manggil doang, tapi ditambahi... "Nih, tadi aku ke Antam beli LM (logam mulia -red) 100 gram. Buat kamu nih."

Mama aku memang suka mendadak ngasih sesuatu. Tapi emas 100 gram yaaa... hmm berarti kira-kira ya sekitar 50 juta. Pertama kali nih dibeliin benda segitu mahalnya. Ngga usah ditanya (ngga ada yang mau nanya juga sih), wajahku udah bahagia sebahagia-bahagianya.

Ini nih wadahnya.


Speako - Slip of the Tongue

Akhir-akhir ini, aku menyadari kalau ternyata aku punya sedikit sifat perfeksionis. Nggak dalam semua hal sih. Misalnya, waktu SMA aku suka banget pelajaran bahasa asing (Jepang dan Jerman), jadi kalau ujian ya targetku nggak cuma 80! Tapi 100! Anaknya ambi banget ya. Sayangnya ngga berlaku pas kuliah. Ngga ada pelajaran yang disuka. Alhasil, udah bisa keluar dari kampus meski nilai tidak memuaskan aja udah bahagia banget.

Kalau dalam ngeblog ya, ngga tahu ada hubungannya sama perfeksionisitas (ngarang banget ini vocab), pokoknya aku tuh sebel banget sama yang namanya typo! Wuoh, kalau lagi blogwalking trus baca tulisan ada typo-nya... rasanya ini mata sensitif banget menyorot typo... rasanya pengen kuedit langsung kalau bisa! Dulu sering suka komen: yang itu typo tuh, mbak! mas! Tapi sekarang kutahan komen koreksi typo. Selama sejarah baca-bacain blog orangnya, paling parah typo itu ada yang cerita ponakannya lagi sendawa mulu tapi nulis semua kata sendawa di postingan itu jadi: senggama.

Meski aku gemas sekali namanya typo -yang kalau baca ulang postingan sendiri abis dipublish kalau lihat typo langsung buru-buru buka blogger editor- aku ini sering salah ngomong. A.k.a speako. Memang aku lemah dan nggak banyak bicara #boong, jadi mungkin nggak terlatih ngomong. Atau di lidahku ada kulit pisang jatoh, jadi kepleset deh.

Baru kemarin, aku ikutan buka bersama di rumah temen. Yak bukannya pada itikaf, malah pada pengen karaokean. Tapi kan ya, karaoke di bulan Ramadhan bukanya malam dan antar perusahaan + cabang jam bukanya beda-beda, jadilah temanku menelepon beberapa cabang tempat karaoke. Kalau karaokean paling kalau nggak Diva-nya Rossa ya Inul Vizta-nya Adam (Suseno). Trus aku ingat~

Hiroshima di Musim Panas: 7 Hal yang Bisa Kamu Lakukan

Mungkin aku salah, tapi rasanya anak-anak Indonesia lebih dulu mengenal Hiroshima ketimbang Tokyo, ibukota Jepang. Terang saja, Hiroshima dan Nagasaki sering disebut dalam pelajaran sejarah mengenai Perang Dunia II. Pada bulan Agustus 1945, sebuah bom atom berkekuatan 16 kiloton dijatuhkan di Hiroshima dan membunuh 140.000 jiwa.

Kini Hiroshima telah lahir kembali, namun tentu saja masih meninggalkan sisa-sisa pada masa itu. Makanya, kalau teman-teman suka sejarah, wah musti liburan ke Hiroshima. Tapi nggak cuma itu, Hiroshima menawarkan beraneka kuliner, wisata budaya, dan atraksi wisata lain yang bisa kamu jelajahi.

Eh, tapi di mana ya Hiroshima itu?

Peta Jepang. Sumber: kids.britannica.com

5 Favorite Things from Convenience Store

Katanya, di Indonesia setiap sudut jalan ada rumah makan Padang. Tapi kalau sekarang ditambah lagi dengan keberadaan convenience store alias mini market. Seperti Indomaret atau Alfamart (www.alfamartku.com). Meskipun lebih memilih untuk belanja keperluan sehari-hari di warung tetangga misalnya, tapi rasanya kehidupan ini tak bisa lepas dari mini market. Apalagi di kehidupan urban masa kini #apeu

Aku nggak konsumtif ya. Anaknya nggak jajanan #boongbanget. Tapi seminggu ada lah ya 2-3 kali ke convenience store. Meski cuma sekadar beli chiki atau minuman kemasan. Beberapa hal yang kusuka dari convenience store, ini nih.

1. Kulkas Besar

Biasanya, aku ke convenience store kalau lagi jalan ke mana trus tiba-tiba haus. Atau ngga mau mecahin duit buat bayar ojek sih… Nah, pastilah tuh di convenience store ada kulkas besar berisi berbagai minuman. Favoritku banget deh tuh melihat-lihat minuman dan mencari mana yang belum dicoba ☺

Sayangnya kulkas bagian minuman keras udah nggak ada, hihihi... Fotonya Jepang ya, soalnya di sini nggak pernah foto dalamnya convenience store, wkwkwk