Sisa Ekspor? Trus?

Sering kali aku mendengar cerita teman sana sini membeli barang branded dengan harga murah. Dulu eike nggak gitu ngerti, maklum aku kan bukan orang yang suka syoping. Batinku, ah tenannya? Palsu yak? Eh jebul itu dikenal dengan istilah barang sisa ekspor. Barang-barang yang kadang ada sedikit defect dan tak lolos dari quality control pabrik. Tapi sih ya, kok tak perhatiin kalau di semacam factory outlet atau toko baju gitu, kelihatannya sempurna-sempurna aja tuh. Atau kadang ada defect-nya, tapi dikiiit banget sampai-sampai nggak ketok tuh.

Dulu pernah ada seorang teman pas aku masih kecil, dia punya banyak boneka Barbie. Kutanya harganya ternyata kok jauh beud sama yang di pusat perbelanjaan. Kurang dari seperempat harganya. Asli, sih asli. Tapi ya gitu deh ternyata, sisa ekspor dan ternyata ada defectnya. Yaitu kaki boneka kanan kirinya nggak sama panjangnya. Jadi emang harus teliti sebelum membeli...

Baju anak. Branded lagi. Mauuu ibuk T.T
Dan yeah nggak cuma di toko ‘beneran’ saja, di dunia maya juga banyak toko-toko online yang menjual barang branded dengan harga murah. Dari jual baju dewasa, jual baju anak, sepatu, mainan, woh macam-macam deh. Nggak cuma bisa beli eceran saja, bahkan aku pernah melihat semacam online shop yang melayani pembelian grosir baju anak supaya bisa dijual lagi. Reseller kan yak istilahnya? Nah, dan baju anaknya tuh mereknya oke beud, branded, semacam OshKosh B’Gosh, Baby GAP, Hello Kitty, dan masih banyak yang lainnya.

Yang aku ingat, aku pernah membeli sweater sisa ekspor kan ya. Nggak merek-merek se-oke Za** atau yang lain sih, tapi hitungannya udah murah banget. Tak perhatiin jahitannya oke-oke aja tuh, jadi ya uwis. Eike sendiri nggak anti sama yang namanya barang sisa ekspor tapi emang aku dasarnya jarang beli-beli kayak gitu sih, hehehe.

Sekarang aku tanya teman-teman ya, menurut kalian barang sisa ekspor itu gimana? Pernah membeli barang sisa ekspor? Share ceritanya dong di kolom komentar ^^

Yang Mempesonakanku... (The Winners)

Suer klewer-ewer maaf baru bisa umumin sekarang. Abisnya, bingung milih yang mana, kedua, dan ternyata kuliah cuma 15 sks tuh nggak bikin jadi santai ya. *defensif* Banyak banget entri yang masuk. Terharu eike, plus girang, banyak juga yang terperdaya dan mau-maunya dikerjain, hahaha... nggak laki nggak perempuan, muda sampai tua, jadi keliatan semua narsisnya. Muahahaha *ketawa setan*

So, ini hadiah updated-nya ^^

Klik untuk perbesar ^^

Dan juga semua yang menang mendapat ^^
Mousepad dan gantungan kunci dari Mbak Hima-Rain, AirinHandicrabby


Dan ini foto-foto yang berhasil mempesonakanku. ^^

1. Mira Sahid

Aku dalam siluet senja.
Aku hanya... suka sekali liat fotonya dan Mbak Mira memadukannya dengan puisi yang berpautan dengan gaya dan bentukan tangan Mbak Mira di foto. ^^

2. Erry Andriyati

Captured my happiness.
Nggak tahu ya. Setiap liat foto Mbak Erry ini, aku kok seneng. Meski katanya selca-nya gagal, tapi lagi-lagi katanya, foto itu captured her happiness. Dan keliatan emang iya. Hihihi ^^

3. Ndutyke

Memtyke.
Simpel, foto telepon genggam ber-wallpaper foto narsis. Tapi aku suka aja liatnya...

4. Dani Rachmat


Narsiseeee... hihihi.
Amazed liat ni orang narsisnya total abis. Muahahaha...

Dan that's all. Terimakasih buat ibuk, terimakasih buat Mbak Hima dan AirinHandicrabby dan terimakasih semua ya yang udah ikutan. ^^

Buat yang menang, kirim nama, alamat lengkap, dan no. HP ke sittirasunawibawa [at] ymail.com atau klik Contact di header blog ini. Yang kirim alamat paling cepat, boleh milih duluan hadiah yang nomor berapa. Tengkyuuu ^^

Hidup Dari Komisi

Pertama kalinya aku melintasi negara lewat darat ialah ke Kamboja, dari Thailand. Dari Bangkok, aku dan teman perjalananku Bellita naik travel ke Aranyaprathet, sebuah kota kecil di Thailand dekat perbatasan. Kira-kira tiga setengah jam waktu tempuhnya. Sampai di sana terlalu malam, tak mungkin kami langsung ke Kamboja karena imigrasi border sudah tutup jam delapan malam.

Menginap di Aran semalam, hingga paginya kami naik tuktuk untuk menuju perbatasan. Supir tuktuknya perempuan bo', sedikit heran aja mengingat eike belum pernah lihat supir bajaj perempuan di sini. Di border, sedikit bingung karena signage-nya tidak banyak. Waktu itu masih pagi, ternyata banyak sekali manusia yang melintasi perbatasan. Bahasa di perbatasan kebanyakan sudah nggak Thai gitu, mungkin banyak orang Kamboja yang mengadu nasib di Thailand kali ye.

On the way to border.
Senyum dan salam ramah ibu-ibu petugas imigrasi Thailand sedikit menambah semangatku pagi itu. Masih ngantuk euy. Selanjutnya aku berjalan menuju area netral batas negara hingga ke pos imigrasi Kamboja. Banyak kasino berjajar di sana, tapi ya nggak kayak di Macau gitu. Yaiyalah... Banyak sekali yang menawarkan ojek atau taksi. Sudah ditolak, masih dikejar pula. Karena kami sudah kebiasa digituin di Indonesia, ya tinggal dicuekin aja deh.

Di depan persis kantor pengurusan visa, tiba-tiba ada seorang laki-laki menghampiri kami. Jeng jeng. Pesan dari sepupu, kisah di internet, cerita Bellita, tiba-tiba semua teringat di otakku. Kamboja itu negara miskin, sudah pasti banyak scam. Banyak penipuan. Huweee ibuk, aku takut ditipu sama orang ini! Deg deg. Ia pun bertanya kami dari mana dan bilang bahwa ada bus gratis yang mengantar ke terminal bus dari perbatasan. Kami cuma jawab, ya oke oke.

Kemudian, orang itu jalan terus ke arah Kamboja. Aku bilang sama Bellita kalau aku takut sama orang itu. Takut diapa-apain. Tunggu orang itu hilang dari pandangan dulu deh, baru teruskan jalan ke imigrasi kedatangan Kamboja. Setelah orangnya sudah nggak keliatan, kami pun jalan lagi.

Kiri: check point imigrasi Aranyaprathet, Thailand. Kanan: gapura masuk Poipet, Kamboja.
Thailand dan Kamboja, dua negara yang bertetangga, tapi kontras sekali bahkan dilihat dari daerah dekat perbatasannya. Di Aran, imigrasinya lumayan bagus. Di sebuah bangunan kecil, yang temboknya putih, dalamnya pun bersih. Di Poipet, kota perbatasannya Kamboja, pos imigrasinya jelek banget. Semacam loket karcis bus di Terminal Cicaheum kali ya, kecil banget pula. Lantainya hanya semen tak diubin. Loket kedatangan yang buka pun cuma dua.

Kartu kedatangan yang harus diisi tidak ditaruh dalam rak atau meja, tapi harus kita minta dari petugas. Sempat petugasnya keliaran dan tidak duduk di tempat, sehingga ada bule kebingungan di mana harus mendapatkan kartu itu. Setelah mengisi, kemudian kami pun antre. Waktu itu baru satu loket yang buka. Jadilah antrenya panjang. Sambil antre, aku melihat praktik korupsi. Seorang petugas imigrasi membuka sebuah paspor yang di dalamnya terselip uang dan kemudian memasukkannya dalam saku.

Ngerti sih, mengingat praktik gituan di sini juga banyak. Hihihi... Kemudian loket lain dibuka, kami pun pindah loket. Sempat menawari turis Korea yang berdiri di depan kami di antrean sebelumnya untuk antre di depan kami, tapi nggak mau. Yo uwis, malahane kami jadi agak depan antrenya. Keluar dari loket imigrasi itu...

Cambodia arrival card.
Jeng jeng. Ketemu laki-laki yang tadi lagi dan dia menunjukkan kami shuttle gratisnya. Tak jauh, terlihat sebuah bus besar, inti tulisan di badannya shuttle gratis ke terminal. Tapi kenapa dia menunjukkan ke arah sebuah mobil biasa? Apa bedanya? Kami bilang, kami naik bus besar saja. Tapi dia bilang, yang mobil juga free kok. Yang bus harus nunggu sampai penuh. Sumpah ya, di pikiranku cuma, "Scam nggak ya, scam nggak ya..." Eh, ada bule juga masuk ke mobil itu, jadilah akhirnya kami naik shuttle yang mobil biasa.

Terminal bus antarkota lumayan jauh kalau jalan kaki, naik kendaraan sekitar 5 menitan. Dan terminalnya... sepi banget broooww. Kami sampai terminal jam setengah sembilan, sedangkan bus ke arah Siem Reap baru ada jam tiga sore. Bus bertarif 9USD, taksi 48USD bisa diisi empat orang. Mau nunggu sampai jam tiga, di Poipet nggak ada apa-apa. Naik taksi... *itung-itung* Eh kok ya rata-rata bule yang datang ke terminal itu, bertiga, atau berdua tapi bukan arah Siem Reap. Nggak ada yang bisa diajak share taksi, mamiiiiiiii!

Si mas-mas yang ngikutin kami, juga ikut ke terminal. Masih saja di sana. Sepertinya, dia tidak akan bergerak pindah tempat sampai kami cabut dari terminal. Karena kalau tidak begitu, dia nggak akan dapat komisi dari si 'perusahaan taksi' ini. Kami lumayan lama di tempat tunggu, sekitar 15 menit. Sepertinya dia gemas dengan kami yang tak segera angkat pantat dari sana. Akhirnya, teman si mas-mas yang lain bicara kepada kami dan bilang kami bisa naik taksi dengan 36USD saja yang berarti 18USD seorang. Tapi nanti di jalan supir taksi bisa mengangkut satu lagi orang.

Akhirnya deal, 36USD. Belum ditawar udah nurunin harga sendiri. Kami menyerahkan uang dalam 33USD dan 200THB (which is kita sebenarnya rugi sekitar 100THB). Waktu kami serahkan uangnya, para 'si pengambil komisi' seperti menghitung dan berebutan komisinya. Buset dah, oh gini tho...

Udah lama eike gak naik Camry...
Taksinya jangan dipikir ada judulnya macam di sini seperti burung biru atau pusaka-pusaka. Plus taksinya Camry bo', ciyus. Tapi Camry 1999 -___- Perjalanannya sekitar 140 kilometer dan ditempuh dua setengah jam. Di jalan, bapaknya nyari penumpang tapi nggak dapat-dapat, horeee! Kami pun minta diantar di sebuah jalan, eh tapi berhentinya di tempat lain. Oke, oke, ini ada apa lagi?

Si supir nggak bisa Bahasa Inggris jadi hampir nggak komunikasi sama kami. Kemudian ada orang memasukkan kepalanya dalam mobil dan berbicara kepada kita kalau dia menyediakan tuktuk gratis untuk diantar sampai penginapan. Salahnya, kami bilang kalau kami go show, nggak booking hotel. Ia bilang ia akan mengantar kami ke penginapan, dan kami diminta mengecek kamarnya, kalau nggak oke, dia akan mengantarkan ke tempat lain.

Dua tas lima kilo aku dan Bellita.
Oke, ini nggak nipu. Cuma lagi-lagi, dia mengantarkan kami demi komisi dari hotel. Sepertinya, perusahaan taksi dengan tuktuk tadi pun seperti ada kerjasama. Kalau si taksi bawa tamu dari perbatasan, maka dibawa ke sana. Dan tuktuk pun akan mengantarkan ke penginapan yang lagi-lagi sudah bekerjasama dengan mereka. Seperti kok kebanyakan dari mereka tuh hidup dari komisi.

Aku jadi ingat di Jogja. Kalau di Malioboro banyak yang menawarkan becak ke Patuk dengan tarif cuma 3000-5000. Si tukang becak yang berhasil mengantar ke sana akan dapat komisi dari si punya toko bakpia. Hmmm... sama aja yak? ^^

Ngayogjazz dan Desa Wisata

Jogja punya satu event jazz yang oke bernama Ngayogjazz. Lokasi diadakannya pun nggak pernah di tengah kota Jogja. Pernah di Desa Wisata Tembi, Kotagede, dan yang terakhir tahun 2012 lalu di Desa Wisata Brayut. Musik jazz yang seakan-akan menjadi musik elit membuat Djaduk Ferianto bersama rekan-rekannya menyelenggarakan festival jazz yang lebih merakyat dan luwes, Ngayogjazz.

Tahun 2012 lalu aku datang ke Ngayogjazz 2012 bersama bapak, ibu, teman ibuku, dan tanteku. Meski aku lama tinggal di Jogja, suer deh baru kali itu aku mendengar nama Desa Wisata: Brayut, yang menjadi lokasi acaranya. Lokasinya tak jauh dari Jalan Magelang dekat J*jamu*anKarena hujan deras, pembukaannya diundur. Dengan mendukung kearifan lokal, ada bagian pembukaan yang dilakukan oleh warga Desa Brayut.


Proklamasi Ngayogjazz.
Rangkaian pembukaan Ngayogjazz 2012.
Waktu itu, dalam hatiku, aku bertanya-tanya. Desa biasa kayak gini ini dijadiin desa wisata? Aku cuma melihat papan peta Desa Wisata yang berdiri di sana. Mungkin karena aku kerap lihat suasana desa kayak gitu di Jogja, jadi ya biasa wae. Eh, rupanya ada banyak yang bisa dilakukan di Desa Wisata Brayut itu. Desa wisata yang diresmikan pada 14 Agustus 1999 itu menawarkan kehidupan desa dan pengalaman seperti bertani, bermain gamelan, menari, membatik, dan masih banyak lainnya. Juga ada beberapa joglo, limasan, dan pendopo.

Ternyata di sana rumah penduduk dijadikan homestay bagi wisatawan yang ingin merasakan Brayut. Ada sanggar tari, sanggar batik, dan pusat kerajinan juga di sana. Dijual di sana hasil karya kerajinan warga desa yang menjadi ciri khas produk Desa Brayut.

Tak jauh dari sana juga ada Desa Wisata Pentingsari. Sejenis, menawarkan suasana desa. Aku pribadi nggak tertarik blas ngeliatnya pas ke sana. Tapi ya, liat jadwal rombongan yang bakal datang ke Pentingsari, wah padat sekali. Kulihat beberapa rombongan sekolah elit dari Jakarta pun berlibur di Desa Pentingsari, Sleman!

Desa wisata di Jogjakarta yang populer lainnya ialah Bejiharjo. Sudah pernah kutulis dalam blog ini sebelumnya. Bejiharjo merupakan nama desa lokasi Gua Pindul yang lagi nge-hip itu berada. Desa wisata yang menurutku sukses karena gerak kehidupan di sana jadi lebih hidup karena potensi yang dimilikinya. Sebaliknya, aku juga pernah melihat banyak desa wisata di daerah Bantul, tapi sepinya boooo'. Apa karena kurang promosi ya...

Dan balik lagi ke Ngayogjazz... aku penasaran tahun ini bakal dilaksanakan di desa mana lagi ya... Anw, pernah ke desa wisata?

Hanoi or Ho Chi Minh City?

Aku mencari-cari mana yang lebih oke, Hanoi atau Ho Chi Minh City. Ibukota Vietnam memang di Hanoi, tapi kota terbesarnya di Ho Chi Minh City. Kalau tanya ibu, katanya sih bagusan Hanoi. Hmmm, percaya nggak percaya sih kalau pendapatnya ibuk. Sedangkan cari di google, hasilnya 50-50. Ada yang bilang okean Hanoi, ada yang bilang okean HCMC. Bingung eike, tapi nggak masalah sih, wong nyamperin dua-duanya, wehehehe!

Ho Chi Minh City

Saat aku dan temanku Bellita pergi ke Vietnam, kota pertama yang kami singgahi ialah Ho Chi Minh City. Panas banget sumprit, kayak Jakarta gitu sih. Jadi sepanjang tahun ya musim panas terus. Motor banyak sekali, sedang lampu lalu lintas bahkan di jalan besar sering tidak ada. Nggak model-model mengalah kalau di sana, jadilah susah sekali nyeberang jalan di HCMC. Kami menginap di sekitaran Jalan Pham Ngu Lao, jalan paling hip untuk para traveler irit. Semacam Legian di Bali atau Khao San Road di Bangkok kali ya.

Ho Chi Minh City Hall
Bertebaran penginapan, beraneka restoran, ada ajep-ajepnya, dan yang paling penting banyak Circle-K dan minimarket sejenis. Gampang gitu kalau buat beli cemilan. Nggak jauh dari sana, ada Ben Thanh Market, pasar yang katanya murah banget kalo belanja di sana. Dan tentunya, karton harga-harga gitu, ada Bahasa Indonesia-nya! Banyak pula atraksi wisata macam Reunification Palace, Saigon Skydeck, War Remnants Museum yang bisa ditempuh dengan jalan kaki.

Sedang di Hanoi...

Pas kami ke sana, Hanoi pas dingin banget. At least menurutku. Suhu waktu itu kisaran 10°-17° celsius lah kira-kira. Berbeda dengan HCMC, Hanoi ini punya empat musim, jadi sebelum pergi cek dulu suhu di sana. Meski ibukota negara, Hanoi jauh lebih ndeso dibanding Ho Chi Minh City. Dititipi ibu beli teh sama kopi Vietnam yang terkenal enak banget aja, karena di HCMC masih males belanja, males bawanya karena tasku kecil, eh pas di Hanoi, nggak nemuuuu! Jarang banget liat toko atau dipasar yang jual teh atau kopi kiloan gitu.

Tepi Danau Hoan Kiem, Old Quarter, Hanoi
Jarang banget juga liat semacam Circle-K. Highlands Coffee, semacam Starbucks asli Vietnam juga jarang. Tapi sering banget liat KFC bertebaran. Kami menginap di daerah bernama Old Quarter, tengah kotanya lah. Ada kompleks Ho Chi Minh yang berisi bekas rumah dan kantor, museum, dan musoleumnya. Ada danau Hoan Kiem yang ditengah-tengahnya terdapat Ngoc Son Temple. Mau ke Halong Bay, yang jadi Seven Wonders of Nature juga tidak jauh dari Hanoi.

So, Hanoi atau HCMC?

Well, kalau mau yang rame-rame, mau belanja, kota metropolitan, yang apa-apa ada, HCMC sih lebih enak. Tapi... Hanoi lebih sepi, tenang dan sepertinya kehidupan berjalan begitu lambat. Dan kalo suka bangunan-bangunan kuno, Hanoi oke beud lah. Selera sih, tapi kalo aku milih HCMC... Soalnya lebih rame, nyari apa-apa gampang, yuhuuu!

Update (ternyata banyak yang mampir ke page ini euy!)
Aku list plus minusnya Hanoi dan HCMC, menurut pendapatku, hihihi.

Hanoi
+ Ibukota pemerintahan Vietnam
+ Lebih tenang dan kesannya kayak kehidupan tuh selowww.
+ Ada musoleum Ho Chi Minh yang-must-visit!
+/- Ada empat musim, jadi harus cek cuaca supaya nggak saltum
- Lebih jauh dari Jakarta
- Jarang ada gedung bertingkat
- Lebih ndeso dari HCMC

Ho Chi Minh
+ Ibukota ekonomi Vietnam
+ Lebih ngehip dari Hanoi
+ Lebih dekat dari Jakarta, banyak penerbangan direct, tiket lebih murah.
+ Banyak bangunan bersejarah, museum.
+ Gampang nemuin Highlands Coffee! *Starbucksnya Vietnam!
- Lebih ramai
- Sepanjang tahun selalu panas, kayak Jakarta!

Leher Kalung Usus

Sekarang aku lagi ngabisin novel Gadis Kretek. Di salah satu bagiannya, ada tokoh bernama Mak Iti' berkata, "Walah... kelilit usus, Nduk, bayimu. Ra po-po, mengko dadi bocah sing pantes nganggo klambi opo wae." Intinya dia memberitahukan bahwa bayi lawan bicaranya terlilit usus dan tidak apa-apa karena bakal jadi anak yang pantas memakai baju apa saja. Nggak ada unsur lucunya di situ, tapi aku nyengir sendiri.

Soalnya, leherku juga kalung usus. Kalau gambar yang di header sih, sengaja sama yang nggambar dioperasi plastik, jadilah leherku bebas kalung usus, wehehehe! Ya pokoke ada lekukannya gitu deh leherku. Awalnya kukira itu turunan, soalnya ibuku pernah bilang, simbah dari bapakku lehernya juga begitu. Ternyata belakangan kutanya lagi ibuku, itu bukan turunan, ya memang karena terlilit usus beneran.

Woh, kirain kalung usus tuh konotasi doang. Karena ngebaca bagian di novel itu, aku keingetan waktu ikut sebuah organisasi di Cilandak, ibu-ibu yang biasa jaga administrasi pernah bilang ke aku, "Wah jarang loh yang kalung usus. Asik dong kalo pake baju apa aja pantes." Meh, hooh po? Lha aku selama ini make bajunya, celana kaosan atau daster, ya pantes-pantes aja sih selama ini.

Mau sate usussss T.T
Berarti mau pake Versace, Dior, Prada, Gucci, Victoria's Secret, Chanel, wah semua cocok dong. Aseeekkk...

Nah, aku penasaran dong nek punya leher kalung usus tuh kepiye. Dan ternyata banyak mitos-mitos yang mewarnainya. Aseeekkk...
  • Bakal pantes dan luwes pake baju apa saja. Mbuh ya.
  • Istilah bayi yang lehernya terlilit usus Bahasa Jawanya: bayi tiba sampir.
  • Dan katanya harus diruwat T.T
  • Nek berkalung usus, jare disukai banyak orang. Ah, boong nih kalo ini.
  • Mitosnya lagi, kalau perempuan jadinya cakep dan mudah memperoleh pasangan. Wah, boong lagi ini!
  • Katanya, selalu berkecukupan karena mendapat kalung dari langit. Ah, mbuh. Tak amini aja deh. Hehehe... ^^
Punya leher kalung usus juga? ^^

Negara Maju Itu Membosankan?

Ketika ibu akan ikut pelatihan di Sydney, tahu-tahu ibu mengajakku. Jarang-jarang ibu mengajak pergi jauh pas aku udah gede, so tanpa ba-bi-bu aku bilang: mauuu! Very excited lah diajak mengunjungi lagi tempat yang hampir 20 tahun lalu aku pernah ke sana. Eh, ketahuan deh udah nggak belasan.

Keluar dari stasiun Circular Quay, yang tak jauh dari Opera House itu, ibuku nggak berhenti bilang, "Dari dulu ya kayak gini ini." Kemudian ada McDonald's tak jauh dari sana dan seketika ibu bercerita kalau dulu pas kita ke sana, setiap hari kita selalu ke Mekdi yang itu. Soalnya aku emoh kalau nggak makan Mekdi. Sori Buk, nggak inget tuh, lalalalalala!

McDonald's Circular Quay
Lalu kami jalan kaki menyusuri dekat Museum of Contemporary Art, kemudian terminal kapal pesiar, dan The Rocks. Lagi-lagi ibuku sering banget bilang, "Dari dulu ya kayak gini ini." Atau nggak, "Iki tokone dari dulu udah ada." Dilanjutkan ibu bertutur, "Makanya aku males kalau suruh jalan-jalan ke sini. Negara maju soale. Sekali, ya udah. Wis bosen. Karena udah maju, jadi ya nggak banyak berkembang."

Membosankannya bukan karena kehidupannya terlalu teratur sampe-sampe jalan kaki nyeberang kagak ada yang nabrak atau nggak rame nggak ada yang misuh-misuh di jalan. Tapi karena nggak banyak perubahan. Lanjut ibuku, "Ya mungkin negara maju tuh enak. Tapi ya nggak banyak bedanya dari berapa tahun lalu sama sekarang. Ya mungkin kamu ke Angkor Wat kotanya elek gitu, tapi mungkin nggak lama lagi udah beda. Soalnya Kamboja tuh negara berkembang. Ya berubahnya cepet. Ngono lho."

Opera House
Aku pun mikir sebentar. Wehehehe tumben-tumbenan. Kalau ngeliat ke Indonesia, eh iya juga ya. Baru nggak naik KRL sebulan aja, sekarang beberapa kereta sudah ada TV-nya. Baru sebulan berselang, signage-signage di Bandara Soekarno-Hatta sudah diganti jadi bagus. At least, fonting-nya nggak ndeso lagi. Loket imigrasinya juga bagusan. Sudah ada autogate pulak. Kayaknya ke Kota Tua baru-baru aja, eh halte buswaynya dah diganti sama Jokowi.

Iya juga sih, cuma kalau aku... diajak ngulang lagi ke Sydney, ya nggak bosen, nggak nolak! Wehehehe!

This Is It!

Jadi ini postingan terlama yang kubikin...
Karena kemarin nggak nge-draft, baru sempet masukin satu-satu. Gilak ya banyaknya bikin pegel euyyy~
Hehehehe!
So, ini entri-entri yang ikut Narsisis-Artistik Giveaway!
Silahkan dilihat-lihat ^^

1. Arga Litha - Narsis? Wajib!
2. Dey Fikri - Narsisis-Artistik Ala Una
3. Deby Putra Bahrodin - Narsis Di Berbagai Tempat
4. Angelina Jolie - Narsis-Artistik
5. Titi Esti - Narsis Di Padang Rumput
6. Ana Falestein Tahta Alfina - Narsisnya Tukang Foto Keliling Amatir. hihihi
7. Olivia Mimin Trisnawati - Narsis Artistik buat Kan Una :D
8. Asri - Narsis Membahana
9. VJ Lie - Narsis Artistik ala VJ
10. Wong Cilik - Hitamku
11. Budi Arnaya - Berani Narsis Bersama Una
12. Putra Nathan - Narsisis Artistik Giveaway
13. Mega - Aku Gak Narsiiissss...!!! *tereak*
14. Jaswan - Metamor-Phose Jaswan
15. Akhmad Muhaimin Azzet - Narsisis-Artistik Giveaway: Bertahan dalam Gelombang
16. Pakde Cholik - Deep Observation
17. Alaika - Special Post for Una GiveAway
18. Ami - Loncat bareng di Pangalengan
19. Hanna HM Zwan - Narsisis-Artistik Giveaway: Spontanitas Itu Indah
20. Orin - (Semacam) Foto Narsisis-Artistik
21. Sarah - Narsis - Artistik Giveaway
22. Aisyah As-Salafiyah - Begini Santri..
23. Dian Fernanda - Narsis-Artistik Giveaway : Dari Belakang
24. Nur Muhammad Faradis - Narsisis-Artistik de Kroyokanz
25. Nchie Hanie - Narsisis Artistik de Jendela de la Una
26. Binta Elmamba - Narsis artistik : Bermain bersama matahari pagi.
27. Syafi'i - Ikutan Narsis walau gak senarsis Untje van Wiebs
28. Noorma FMZ - GiveAway: Narsisis-Artistik
29. Ila Rizky Nidiana - Narsistik Artistik Giveaway
30. Helina - Narsisis-Artistik
31. Sri Izawati - Narsis di Rel Kereta Api
32. Nurruu Haniefah - Narsisis-Artistik Giveaway 
33. Ririe Khayan - Me Narsisis Artistik Mode ON
34. Hadi Prayitno - Narsis dan Artistik, siapa takut?
35. Adhita Prakarsa - Narsisis Artistik Giveaway Sittirasuna.Com
36. Rina - Narsisis Artistik
37. Nurul - The Lamp and Me: Narsis Artistik Katanya
38. Idah Ceris - Ikut Menempelkan Foto Narsisis Artistik
39. Jiah Al Jafara - Narsis is Pede
40. Nia Haryanto - Narsis Nan Kronis
41. Dwi Ayu Kartika - Narsis juga menyimpan nilai artistik
42. Nuel Lubis - The Mellow Narcissistic
43. Intan - Narsisus Gilafotomus!
44. Fauzul Andim - Giveaway Narsisis Artistik
45. Tarry - Narsisis Artistik - Tomboy Yang [Sok] Feminin
46. Yuniari Nukti - Padmasana
47. Ika Lyta - Mencoba Ber-Narsis Artistik
48. Arif Khumaidi - Narsisis Artistik.. Wow....
49. Lies Hadie - Rinduku PadaMu
50. Iprih Covalimawati - [Narsisis-Artistik] Menatap Senja
51. Septi Muji Rahayu - Narsisis-Artistik
52. Dihas - Ikutan Narsis Gara-gara Mbak Una
53. niccaniez - Mencoba Narsisis-Artistik
54. Ni'matut Tamimah - Ngungklik ke Kenjeran Park
55. Nunu El-Fasa - Narsisis Sangat! Artistik Sangat!
56. Ika Ratna Sari - Setelah Sekian Lama.....Narsis- Artistik!!
57. Reni - Narsisis-Artistik
58. Niar Ningrum - Niarsis Fotofotoan di Makam Peneleh Surabaya
59. Monda - Narsis Puitis Narcissus poeticus
60. miss rochma - Hobi Travelling Yang Sekarang Terbengkalai
61. Mira Sahid - Aku dalam Siluet Senja
62. Miscbachudin Dink - Narsisis Artistik My Style
63. Diah - #02: [anggap saja] Narsis Artistik
64. Myra Anastasia - Narsisis-Artistik : Face Painting
65. Ruri - Narsislah sebelum narsis itu dilarang!
66. Vizon - narsistique antique
67. Widya Pratiwi - Narsisis-Artistik Giveaway Contest
68. Evi - Narsisis, Ijinkan Saya Bicara
69. Denny Setiawan - Narsisis-Artistik Giveaway
70. Om NH - MOTRET
71. Dani Rachmat - Narsis-is nan (tak) Artistik
72. Amri Evianti - Mengenang Moment Dengan Narsis-Artistik
73. Ayuni Adesty - NARSIS ARTISTIK in Taman Buah Mekar Sari
74. Anak Rantau - Meh Melu GA ne Una tapi Gak Ndue Foto sing Narsisis Opo Maneh sing Artistik... Pie Jal???
75. Titik - Biar sedih tetep narsis!!
76. rinibee - Janji ya?
77. Mel Ara - Narsisis-Artistik Giveaway-nya Mbak Una
78. Dewi Indrasta - Narsis Artistik
79. Nyi Penengah Dewanti - Gerbang Kenangan : Narsisis-Artistik Giveaway
80. Melly - Narsis di Kawah Putih
81. Elsa - dirayu ombak
82. Ardi - Keseimbangan
83. Hilsya - Bidadari tanpa sayap
84. Kartika - Kompakan Narsis
85. Ayu - kita
86. Dian Ryan - Narsisis Artistik :D
87. Yati Rachmat - Narsisis - Artistik : Photogenic-kah Aku?
88. MEO^^NK - Narsisme si Tanggal Merah
89. Rahmat - Ekspresi Menjernihkan Jiwa
90. Tita Okti - {Wordless Wednesday} Under The Sun
91. Sulung - Narsis di Gunung Padang
92. Vera Astanti - Narsis, Kenapa nggak?
93. Tyka Ndutyke - UNA’S NARSISIS-ARTISTIK GIVEAWAY
94. Erry Andriyati - (Terpaksa) Narsisis Artistik
95. Annisa Apriliani - Siluet Pelataran Teja
96. Niee - Narsis itu Bukan Saya (NBS)
97. MF Abdullah - ARTIS PALING NARSIS 2012 PILIHAN MAJALAH "VIDA ESCRITA DE LA UNA"
98. Naya - me, myself and i
99. Zuhana AZ - Narsisis Artistik : Aku + Kamu = Kita
100. Bebe - Capturing Me
101. Rahmi Aziza - Narsisis-Artistik di Pantai
102. Esti Sulistyawan - Narsis Artistik Di Pulau Menjangan Karimunjawa
103. Helda Fera - Narsisis-Artistik Ala Emak Helda
104. Dyah Hapsari Fajarini - Narsis-Artistik
105. Lozz Akbar - Kata Saya Ini Narsisis Artistik
106. kaka rani - Rhunnie Run Art
107. Elisa Koraag - NARSIS ITU PERLU!
108. Yunda Hamasah - Narsis Artistik Tralala

Bingung aku, banyak yang bagus-bagus euy! T.T

Surat Cinta

Ai.
Katanya, kalau udah dewasa tuh, enggak menyatakan cinta aja, sananya udah kerasa. Kalau aku kok nggak ngerasa apa-apa ya, apa nggak ada yang seneng sama aku kali yak. Wkwkwk... Cuma, aku bisa ngerasain kalau orang yang jadi tujuan surat cintaku kali ini seneng banget sama aku. Aku tahu abis pasti di sana dia kangen sama aku. Geer men yo aku rek...

So, ini surat cintaku. Semoga orangnya nggak baca.

Metu ta gambare?
Hi bro,
Apa kabar kamu?
Aku mau sedikit meruntuhkan gengsi karena lomba Liga Blogger memaksakan untuk itu. Jadilah surat cinta ini kutulis untukmu. Kalau ditanya apakah cinta, biasanya aku jawab 'enggak, biasa aja'.

Tapi... ada suatu hal yang belum kuceritakan padamu. Aku kapan hari pergi ke semacam psikolog, dia bertanya apakah aku sayang padamu. Sudah tentu aku menjawabnya, "enggak, biasa saja." Dan setelah dites, ternyata terbukti berbohong. Yang aku ucapkan ternyata tak sesuai dengan yang dijawab oleh raga tanpa sadarku.

Sebenarnya, aku pun bingung kalau ditanya sayang atau tidak. Tapi kurasa memang cinta ini sudah cinta level di atas kepala, bukan cinta dari leher ke bawah.

Oiya! Ingatkah kamu, waktu kita berdebat dan berantem via Facetime karena saling jual mahal dan gengsi tidak mau mengirim pesan di WhatsApp duluan? Dan gengsi untuk bertanya nomor telepon? Waktu itu aku yang menang lomba jual mahalnya sehingga kamu yang bertanya, menyimpan nomor teleponku duluan dan juga menyapaku di WhatsApp? Rupanya, aku baru sadar, aku sudah punya nomormu di kontakku. Maaf ya.

Udah ya, segini dulu aja. Kalau kita ketemu lagi, let me kiss you ya!

14/2/2013
Una

Sayang sekali aku jarang ketemu. Delapan bulan terakhir aja, cuma ketemu tiga atau empat kali. Tapi tiap ketemu, pasti dia ngesuni aku. Ketemu terakhir, aku ngambek, tak suruh ngesun, mau aja, hahaha! Dia juga nggak malu meluk aku dengan erat di depan banyak orang. Keplepekan tahu nggak sih! Kalau udah kangen, biasanya dia call di Facetime. Kalau aku emoh ngobrol, aku dipanggil muluk.

Entah sampe kapan, dia nggak kemesun (bawaannya pengen nyium muluk) lagi...
Karena orangnya jauh, aku pasang foto berdua aja yak ^^

Aku sama Az.
Bayangin aja udah segede ini masih suka meluk-meluk?
Yep yep, jauh, soalnya adikku sekolah di kota lain beda ama aku tinggal...

Kemarin valentine, bikin surat cinta juga enggak?
Anw, happy valentine ya!

Baju Anak-Anak

Nggak tahu ya, kok aku nggak gitu suka sama anak-anak. Ya kalau ketemu sebentar atau liat fotonya ya suka-suka saja, tapi kalau tinggal lama bersama anak-anak, rrr! Suara nangis lah, ngerengek-rengek, teriak-teriak, nyebelin! Ya sebenarnya nggak nggak suka banget sih, kadang-kadang suka, kadang-kadang nggak suka. Ahahaha, labil! Kadang-kadang aku seneng ndolani (ngajak main), tapi tak jarang pula mendeliki (melototin??) ampe nangis... lalalala!

Tapi sih aku pengen euy punya anak. Tapi nggak pengen nikah. *digaplok. Kayaknya gimana gitu punya anak, kayak punya mainan tapi bisa gerak-gerak. Kadang pun kalau liat baju-baju anak di mal rasanya kok seneng gitu ya. Unyu unyu banget. Kadang-kadang berharap coba aku cukup pakai baju gituan. Ada yang gambar hewan lah, warna pink, trus rok yang smoke lah, atau yang sok-sokan kayak princess gitu. Apalagi kalau liat kaos kaki, topi, atau baju ukuran di bawah 1 tahun, ya tuhan imutnyaaaa! Cute banget bajunya!

Baju-Baju Anak.
Pernah suatu waktu ibuku menyuruhku membeli baju bayi untuk keponakanku yang masih dalam hitungan bulan. Waktu itu aku pergi sama Aji, temanku. Ternyata beli baju bayi tuh lumayan lama. Abisnya, bingung milihnya! Sudah gitu belum liat-liat ke baju anak yang sudah bukan bayi lagi, kan lebih banyak variannya. Dan menarik semua. Ah, sebel eike… Padahal, kalau di section bagian baju wanita dewasa, aku nggak pernah setertarik ini.

Nananana~
Jaman aku tinggal sama tanteku, dia sering ngasih kado buat anak temannya, aku sering diajak sama tanteku ke toko perlengkapan anak. Di sana juga ada baju anak murah karena belinya harus grosiran. Kalau jaman sekarang, toko online beli eceran pun juga bisa dapat murah yak.

Sekarang sih aku cuma bisa liat-liat aja tuh baju anak. Mau ngasih siapa, wong berhubung aku masih belasan *ngapusi beud*, teman-temanku kan juga pada belum punya anak. Kapan ya bisa beliin buat anak sendiri, huahahaha sok iye banget nih pertanyaannya T.T

Suka anak-anak?

Nggak Bisa Antre

I just... nggak bisa toleransi sama orang yang nggak bisa antre.

Beberapa waktu lalu, aku keluar untuk nge-scan sesuatu. Di tempat itu kulihat petugasnya cuma satu yang bekerja, dan orang yang dia lagi layani permintaannya macem-macem. Jadilah aku harus menunggu sebentar, oke. Kemudian datanglah seorang anak, bapaknya, dan adiknya. Kayaknya sih dia mau ngeprint tugas sekolah gitu.

Sepuluh menit berselang, orang yang dilayani si petugasnya masih tak kunjung rampung. Tak berapa lama datanglah mas-mas yang ternyata petugas lain tempat itu. Anak perempuan tadi pun menghampiri mas-masnya untuk ngeprint tugasnya. Hmmm, padahal kan yang datang aku duluan. Harusnya kan aku lebih berhak dilayani lebih dulu ketimbang dia. Aku nggak bisa menyalahkan masnya, wong dia kan nggak lihat siapa yang datang duluan. Tapi anak itu kan kudunya, ahhh... auk ah gemes. Lagipula dia bawa BB. Kan katanya kalau punya BB, jadi lebih betah antre. Aku sendiri nggak punya dan nggak bawa HP.

Biasanya, kalau aku diserobot, aku bakal langsung komplain sama orangnya. Nggak perlu marah-marah, cuma bilangin aja dengan halus. Cuma kok aku lagi nggak mood aja waktu itu. Sabar wae deh. Cuma bisa ngarep semoga anak perempuan yang kayaknya masih SMP itu bisa belajar antre di kemudian hari.

Antre dolooo...
Apa ini di negara berkembang aja? Kayaknya aku melulu mengkambinghitamkan negara berkembang.

Di Bandara Noi Bai, Ha Noi, pas kapan aku ke sana itu, antrean scanningnya mbok panjang banget kayak uler melingker di atas pager. Pasalnya, jumlah scanner dan metal detector nggak sebanding sama penumpang yang hendak keluar dari Vietnam. Kalau orang tua, orang yang bawa bayi, penumpang business class, atau kru pesawat wajar lah ya nggak perlu antre. Nah ini, mbak-mbak masih muda tinggi semampai lumayan cantik tapi masih cakepan aku, dia tahu-tahu nyela antrean. Rupanya ada staf bandara yang ia kenal dan staf itu 'menitipkan'-nya ke petugas scanning.

Kok aku tahu dia nyela tapi nggak berhak? Iya dong, wong abis dia masuk ke bagian scanning itu, kepalanya belok ke arah staf bandara itu yang padahal jaraknya jauh dari dia dan mengucapkan: thank you tanpa suara sambil kedip-kedip cantik plus kayaknya lebih oke kalau ada angin yang mengibarkan rambut panjangnya. Thaaankkkk yooouuu... Gembel!

Malah, di tempat yang sering aku kata-katain sebagai negara jahiliyah lebih tegas menangani orang yang nggak bisa antre itu. Di sini, ada orang nyela antrean loket, yang jaga loket mah selow-selow aja, kagak ngurus. Di antrean imigrasi di sana tebak-saja-di-mana-itu selain petugasnya kalau ngeliat orang tua suruh maju duluan, orang yang ketahuan nyela, disuruh balik lagi ke belakang. Sudah bisa dibayangkan ekspresiku melihat orang-orang yang sudah mohon-mohon ke orang depannya buat nyela, eh petugasnya tahu, disuruh balik ke belakang, aku? Nyengir setan, wkwkwkwk...

I just... nggak bisa toleransi sama orang yang nggak bisa antre. Menurutku nyela antrean tuh sama aja makan yang bukan haknya...

Jadi... selain aku sebel sama orang yang buang sampah sembarangan, juga orang yang nggak bisa antre. >__<

Kebalikan Ketinggalan

Biasanya kalau nginep di rumah orang, teman, atau saudara, siapapun, trus abis itu cabut dari situ biasanya kan dikasih tahu, "Jangan sampai ada yang ketinggalan ya!" Sebisa mungkin kalau ninggalin suatu tempat jangan sampe ada barang ketinggalan. Kalau barang penting yang ketinggalan, ribet. Iya kalau rumahnya deket, kalau enggak? Tinggal dipaketin, sih.

Tapi... ternyata aku lebih sering kebalikannya ketinggalan daripada ketinggalan barang. Maksud loh? Maksud gueh, jadi aku baru sadar... bahwa dua kali terakhir aku ke rumah nenekku, aku nggak sengaja ngebawa barang yang ada di rumah nenekku. Tahun lalu, aku ngebawa lipstik punya tanteku. Yang padahal aku nggak make tuh lipstik. Yang kemarin ini, aku ngebawa eyeliner sama celana pendeknya tanteku. T.T

Fotone ra nyambung? Luweh.
Tertanam selalu di otak, kalau jangan sampai ketinggalan, memang... barangku nggak ada yang ketinggalan. Liat barangku, langsung plung plung masukin ke tas. Eh kok ya, malah barang orang lain juga tak cemplungin ke tasku. Ngeuhnya pas udah sampai rumah pulak, wew wew...

Pernah kayak gini?

Disemprit Tentara Vietnam

Hujan makin deras, aku dan temanku Bellita melintasi jalan di tengah kota Ha Noi untuk menuju ke musoleum mantan pemimpin Vietnam, Ho Chi Minh. Jasad beliau diawetkan dan dipajang di sana. Sudah terlihat bangunan musoleumnya, meski hujan membuat pandangan kami menjadi abu-abu alias nggak cetho. Ada banyak orang berjalan antre masuk ke sana. Kemudian, kami pun menyeberang melewati sela taman di depan musoleum.

Di gang sela taman rumput itu aku jalannya...

"Priiiittt... priiiittt..."
Duh, kaget. Ada apa yak kok ada tentara Vietnam nyemprit-nyemprit. Kami pun jalan bergegas supaya sampai ke depan musoleum.

"Priiittt... priiittt..."
Hm, curiga nih eike. Pas nengok ke sekeliling, ternyata seorang tentara di dalam sebuah pos melihat kami dan menyuruh kami minggir dari area situ. Tangannya mengarahkan seperti berkata, "lewat sini neng, kagak boleh lewat situ."

Oalah, ternyata nggak boleh lewat situ. Salahnya papan 'dilarang lewat sini'-nya cuma ada di pinggir, kan nggak ketok. Kami pun menghampiri tentara itu dan bertanya bagaimana cara masuk ke dalam musoleum. Ternyata lewat dari samping.

Penjagaannya ketat sekali, pos tentara di sana-sini. Masuk pun tidak diperbolehkan membawa tas yang besar. Tulisannya sih telepon genggam, kamera, dan barang elektronik lainnya nggak boleh masuk juga. Tapi nggak seketat itu sih, asal nggak dikeluarin aja pas di gedung musoleumnya. Di depan ada penitipan barang, dan tasku ransel. Namun sama petugasnya dilolosin soalnya ora ono isine.

Gedung Musoleum. 
Masuk bareng anak piyik piyik.
Hmmm...
Kemudian baris, antre buat masuk melewati metal detector. Selanjutnya, aku dan Bellita masuk ke dalam barisan anak-anak kecil yang sepertinya tur dari sekolahan gitu. Berisik banget, ndesel-ndesel. Dan yang baris jumlahnya banyak banget. Heran, cuma liat mayat saja ramai gini. Jumlah visitor Borobudur yang rata-rata lima ribu per hari kalah jauhhh...

Masuk ke dalam musoleum, kirinya ada tentara. Kemudian terlihatlah jasad Ho Chi Minh tidur dalam peti kaca. Nggak kayak orang, kayak patung lilin gitu, wehehehe... Jalan di sekeliling peti itu, kepalaku nggak berpaling dari melihat mayatnya. Di bawah petinya berjagalah empat orang tentara. Cuma sebentar, ya abis itu keluar...

Wealah, cuma liat mayat gitu aja ribet ya wehehehe. Tapi aku masih terkagum-kagum sih sama Ho Chi Minh. Sudah meninggal lama, tapi masih dielu-elukan dan dicintai rakyatnya. Beliau merupakan tokoh revolusioner yang mendirikan Partai Komunis Indo-China dan kemudian membuat Vietnam mendeklarasikan diri sebagai negara komunis pada tahun 1945. Kalau ngeliat dari foto-fotonya di museum sih, dia pemimpin yang down to earth gitu... Sayang, ketika puncak keganasan Amerika di Vietnam (Perang Vietnam-Amerika) dia sudah mati T.T

Sekompleks dengan musoleumnya, terdapat rumah tinggal, tempat kerjanya jaman dulu, serta museumnya.

Ngguyu-Ngguyu Dewe #2

Ternyata ngguyu-ngguyu dewe alias ketawa-ketawa sendiri nggak cuma pas tidur, ngebayangin atau nginget sesuatu, atau lagi baca atau ngobrol lewat monitor komputer. Lagi-lagi aku suka ketawa-ketawa sendiri. Jauh lebih sering dari biasanya malah.

Setelah beberapa bulan anjing rumah diberikan ke orang lain, aku sekarang punya kucing! Punya ibuku ding. Yang melihara sehari-harinya sih Mbak Lis. Jadi aku cuma ngaku-ngaku itu punyaku. Kucingnya merupakan anak kucing milik sepupuku. Karena anaknya banyak, ibuku berniat ngepek (minta) kucingnya. Diberikanlah dua kucing Persia campur-campur auk rasnya apaan berwarna kuning dan abu-abu.

Namanya Foxy dan Adele. Dinamai Foxy oleh tanteku karena mukanya mirip rubah. Yang Adele nggak tahu karena apa, ibuku yang kasih nama. Someone like youuu... Karena masih dua bulan, kucingnya bego banget. Sama bola kertas aja seneng, buntut sendiri aja buat mainan. Trus tampang mereka tuh unyu banget T.T

Aku sendiri baru ketemu sama mereka dua hari. Padahal sih mereka dah dua minggu di rumah. Soalnya sih aku abis kabur dari rumah lumayan lama, wehehehe. Pas aku balik, kucingnya ngikutin aku mulu bahkan tidur di kamarku. Baru merem bentar, eh kucingnya naik ke badanku masuk-masuk ke selimut. Sebel tapi geli juga, ngapain sih ni kucing!

Sleeping Like A Boss
Meh...
Dasar kucing nyari temen, hari ini kalau aku di depan komputer ya pada ngikutin. Tak gendong taruh bawah, eh naik lagi. Dasar kucing! Mereka suka banget duduk di meja komputer trus kriyep-kriyep, merem deh. Kalau ditaruh di lantai, ngak ngik ngak ngik minta ditaruh di atas meja apalagi dia nggak bisa lompat kalau kursi sudah full dengan pantatku. Kan dia jadi gak bisa bertengger gitu buat lompat ke meja...

Sebelnya, kalau Foxy dah di atas meja. Aku pegang mouse dia nyakar tanganku. Aku geser mouse, dia ikutan megang. Oh ya, kucing tuh kalau mainan sama sodaranya sadis. Masak nendang-nendang bagian muka, cokot-cokotan buntut, mengerikan. Sadis... Aku sih ketawa-ketawa aja liatnya. Ngeliat kucing terus, aku jadi hobi ketawa-ketawa sendiri.

Aku nggak kebayang aja, kalo udah gedean dikit, mereka ntar kan bisa kawin. Foxy cowok, Adele cewek. Masak dua makhluk dari satu bapak kawin, itu kan inses... hmmm... Intinya sih, 'ketawa-ketawa sendiri'-ku makin intens gara-gara dua kucing itu~

Suka kucing?

Aceh, Lon Meuheut Jak Keunan, Jak Kalon Droe Neuh!

*Aceh, Lon Meuheut Jak Keunan, Jak Kalon Droe Neuh! = Aceh, Aku Ingin Ke Sana, Ingin Menemuimu!

Dua hari lalu, aku membaca artikel wisata Aceh dalam inflight magazine sebuah maskapai penerbangan Indonesia. Informasi baru untukku yang aku dapatkan dari artikel itu ialah bahwa ternyata Pulau Weh bukanlah pulau paling barat-utara Indonesia. Kalau dilihat baratnya, ada yang lebih Barat yaitu Pulau Breueh dan Pulau Benggala. Sedangkan, kalau ditilik barat-utaranya ada sebuah pulau yang bernama Pulau Rondo. Jadi, disebut-sebut Pulau Rondo-lah yang merupakan pulau terluar Indonesia di sisi barat. Pulau Rondo sendiri masih termasuk dalam administrasi kota Sabang.

Salah satu keinginanku ya pengen bisa sampai tugu nol kilometer Indonesia di Pulau Weh sana. Eh tapi kok nol kilometernya di Pulau Rondo, yo wis pengen dua-duanya aja deh. Tapi nggak tahu kapan ke sananya, wehehehe! Jangankan ke tugu nol kilometer, ke Aceh pun aku belum pernah.

Aceh? Dulu waktu SMA, seorang teman beberapa kali mengajakku pergi ke Aceh. Sayang sekali, dulu aku terlalu banyak pertimbangan dan nggak jadi. Nyeselnya sampe sekarang bo'. Aku jadi masih penasaran bagaimana Aceh itu ^^ Apalagi Tari Saman dan Mie Aceh lumayan ngehits di sini. Belum lagi kopi Aceh itu enak sekali. Membaca ulasan teman bloggerku Mbak Alaika Abdullah mengenai Museum Tsunami juga menarik hatiku. Teman bloggerku yang lain, Jeng Millati Indah yang merantau ke Aceh juga pernah menyebutkan bahwa pantai-pantai di sana sangat eksotis.
Tsunami Museum. Foto milik alaikaabdullah.com
Aceh memiliki sebuah komunitas independen @iloveaceh yang juga sebuah akun Twitter. Akun tersebut merupakan media informasi termutakhir mengenai Aceh dan komunitasnya sudah malang melintang menyelenggarakan dan menyukseskan banyak event yang berkenaan dengan Aceh. @iloveaceh akan merayakan ulang tahun ketiganya dalam waktu dekat.

Ngomong-ngomong, tahun 2013 ini juga merupakan Visit Aceh Year 2013. Semoga sukses ya! Dan semoga aku bisa ke Aceh juga, hihihi ^^



Rebutan Nicholas Saputra

Saya membaca tulisan teman saya, seorang blogger yang juga drummer, Mbak Idah Ceris, beberapa hari lalu. Ia menuliskan keinginannya pergi ke Menara Eiffel dan juga ia menyisipkan potongan lirik serta video lagu Bulan Kedua, salah satu soundtrack dari film Eiffel I'm in Love. Kebetulan, saya suka sekali lagu itu. Filmnya mungkin saya sudah agak lupa, tapi soundtrack-nya yang diciptakan oleh Melly Goeslaw dan Anto Hoed itu rata-rata saya tahu dan sedikit banyak hafal.

Pas nyetel videonya, eh saya kok kepengen nonton filmnya. Pas internet lemot, beruntung, ternyata di youtube ada filmnya, wehehehe... Dari nonton film itu, saya keingetan sama Ada Apa Dengan Cinta? Apalagi soundtrack-nya enakeun semua lah! Melly juga yang menggubahnya. Saya juga jadi nonton AADC? juga deh. Ah... unyu banget ceritanya! Nah, pas chatting sama Mbak Idah, ternyata dia juga penggemar lagu Melly di dua film tadi. Katanya sih, ia hafal semua. Kemudian saya bilang, saya naksir Nicholas Saputra yang jadi Rangga di AADC?. Eh kok ya, dia tiru-tiru T.T

Percakapannya ababil banget yeuh. Yang muda ngalah deh. Nicholas pek en ae mbak :P
Eiffel I'm In Love (2003) dan Ada Apa Dengan Cinta? (2002) merupakan dua film Indonesia yang sampai sekarang masih berkesan di hatiku. Film lainnya paling Petualangan Sherina (2000). Padahal, pertama kali saya nonton film itu saya masih duduk di bangku SD. Saya sendiri nggak gemar-gemar banget nonton film. Nonton ya pas kepengen aja. Tahun 2012, saya beberapa kali menonton film Indonesia, misalnya saja: Perahu Kertas, Test Pack, dan 5 CM. Habibie dan Ainun, yang penontonnya lebih dari 4 juta, saya belum nonton. T.T

Poster Eiffel I'm in Love dan AADC?
Yang saya perhatiin, tiga dari empat film yang saya sebut sebelumnya, Reza Rahadian ikut main di dalamnya. Harapan saya sih, di tahun ini ada bintang film yang bakal menggantikan kepopulerannya Reza ini dan bukan tren mengangkat buku ke film yang bakal ngehits.

Ah, tapi sakjane, saya nggak peduli-peduli amat. Yang penting tahun ini dan ke depannya, makin banyak film Indonesia yang keren-keren. Yang saya peduliin sih, saya nunggu filmnya Nicholas Saputra yang berjudul Tidak Bicara Cinta yang bakal rilis April nanti... ah, masih lama...

Film Indonesia paling kamu sukai apa, friends? ^^

❤❤❤

*tema LBI minggu ini lumayan susah buatku T.T

Detak Dada Bung Karno

Salah satu atraksi yang menarik dari Blitar ialah lukisan Bung Karno yang berdetak di bagian dadanya. Teman saya Kartika, mbok cerita sudah 100 kali, ada kalik. Yang aku bayangkan dari cerita dia, ditambah aku nggak pernah googling mengenai lukisan itu, ialah lukisannya berada dalam ruang galeri atau museum yang gelap dan suram. Ternyata jauh dari bayangan, lukisannya ada di dalam galeri foto yang satu area dengan Perpustakaan Bung Karno yang bangunannya oke banget. Minimalis dan agak futuristik.

Perpustakaan Bung Karno, Blitar.
Perpustakaan Bung Karno. Aji, bajunya matching abis :P
Masih satu area juga, terdapat Makam Bung Karno yang selalu ramai didatangi peziarah. Masuk dari depan terlihat jelas patung Bung Karno sedang duduk. Di sisi sebelah kiri terdapat galerinya, sedangkan di sebelah kanan ialah perpustakaannya. Tentu saja depan patungnya, foto-foto dulu. Kami pun masuk ke dalam area galerinya. Gratis, hanya mengisi isian nama di buku tamu.

Lukisan Bung Karno yang di bagian dadanya bisa berdetak ternyata ditaruh dekat dengan counter pengisian buku tamu. Lukisan Bung Karno tersebut berukuran 1,5 meter x 1,75 meter. Jika kita perhatikan dengan seksama, di bagian dadanya berdetak seperti degupan jantung manusia. Kalau dari depan tak terlihat, coba lihat dari arah samping lukisan. Pantas saja banyak orang yang penasaran dengan lukisan ini.

Yang kiri, lukisan yang berdetak.
Foto Pak Karno dari kecil ampe dewasa. Ganteng yak, pantes banyak cewek yang mau. 
Galeri Bung Karno.
Ada yang bilang fenomena degupan dada pada Bung Karno ini tidak bisa dijelaskan dengan ilmu pengetahuan. Maksudnya, detak itu muncul tanpa sebab dari yang lain. Horor horor gitu deh ya. Namun, aku baca dari sini, salah satu staf galeri menyatakan bahwa bentuk lukisan menyebabkan adanya 'detak' itu. Gambar dada Soekarno ada di tengah-tengah lukisan sedangkan lukisan berbentuk persegi panjang. Jika ada angin sedikit mendorong, maka bagian tengah pun berdetak. Aku perhatikan di belakangnya ada kayak terali besi kotak-kotak kecil, jadi nek ada angin dari belakang kan dorongannya jadi lebih kuat menggerakkan kanvasnya.

Etapi-tapi, anehnya, katanya sih jumlah degupannya tuh ya kayak jantung manusia. Sekitar 60-70 detakan per menit. Nggak tauk ah bingung.

mBoncengin istrinya numpak pit di India. Mau jugaaa ke India. Mau jugaaa diboncengin kek gitu sama Nicolas Saputra T.T
Di dalam galeri, nggak cuma ada lukisan Bung Karno saja. Tapi ada pajangan uang yang bergambar foto Bung Karno serta foto-foto beliau. Dari foto beliau ketika kecil, foto keluarganya, hingga foto dinas beliau. Seru sih liat foto-fotonya, cuma sayangnya satu. Tidak ada Bahasa Inggrisnya. Yah, berasa nggak siap ajah go international untuk didatangi turis asing saja itu galerinya. Malahan ada yang penjelasannya pake Boso Londo, hihihi! Ada juga koleksi filateli yang gambarnya foto Soekarno, sama sulam kristik gambar beliau. Tapi menurutku kagak mirip, wehehehe!

Kemudian, kami pun melanjutkan pergi ke Makam Bung Karno...

Luweh

Aku lagi seneng sama kata dalam Bahasa Jawa: luweh. Aku sebenarnya juga nggak paham-paham amat arti benerannya. Tapi kira-kira luweh tuh artinya 'terserah', 'peduli amat', atau 'biarin dah.' Kalau disejajarkan mungkin mirip 'mbuh', 'ben', atau 'jarno ae'. Tapi entah kenapa, menurutku penggunaan luweh tuh lebih berasa gimanaaa gitu...

Kemarin sodaraku cerita kalau ada tetangga yang rada nyinyir dan membicarakan tentang keburukan dia yang padahal nggak dia lakuin. Setelah dia panjang lebar, di akhir cerita dia bilang, "Ah yo wis, luweh." Luweh berarti 'peduli amat' tapi lebih berkesan penuh penyerahan, ikhlas, dan lebih lega hatinya. Mbuh ya.

Fotone ra nyambung? Luweh.
Maunya sih kalau ada sesuatu yang bikin pikiran, tinggal 'luweh' aja.
Banyak yang nanya kapan lulus. Ah, luweh.
Banyak yang nanya apakah aku lagi skripsi. Ah, luweh.
Teh botolku direbut sama adikku. Ah, luweh.
Ada komentar nggapleki di blog. Ah, luweh.

Tapi og, ngomong nulis memang lebih gampang dari kenyataan. Kenyataannya aku belum bisa 'luweh-luweh' amat ngadepin contoh empat di atas, hehehe...