Gara-Gara Steik

Abis ngomongin steik beberapa hari lalu sekarang ngomongin dia lagi deh. Nah, baru kali itu ibuku menyuruhku makan-makanan mahal. Biasanya kan kalau aku minta traktir apa gitu, ibu sering bilang, "Ogah, mahal!" Nah pas waktu ibuku malah begini...

"Un, coba steik Hurricanes yang di Bondi deh. Di pinggir pantai gitu. Pokoknya kamu kalau ke sana harus coba. Cari deh. Terkenal banget itu. Orang-orang pada ngomong enak."

Okelah kalau begitu. Sebenarnya aku nggak suka-suka amat ama daging yang banyak gitu. Tapi okelah mumpung masih muda mari mencoba semuanya.

Bondai~
Bondi ialah nama pantai dan suburban di Sydney, Australia. Bondi diambil dari Bahasa Aborigin yang berarti suara air yang menabrak bebatuan. Pada hari itu setelah pergi ke museum-museum dan ke Paddy's Market aku bingung mau ke mana lagi. Tiba-tiba teringat Bondi. Dari stasiun Central naiklah aku kereta turun di Bondi Junction. Kemudian dilanjutkan dengan naik bus bertuliskan jalur Bondi Express.

Pantainya bagus, pasirnya putih, airnya biru, yang lebih penting lagi bersih banget. Ada Bondi Pavilion di tengah pantai yang di sana ada tempat mandi dan santai-santai. Ada wi-fi gratis juga, cuma pelit banget masak maksimal dua jam. Yaiya juga sih ngapain juga ke pantai malah internetan. Ramai sekali waktu itu. Aku pun mencari di mana Hurricanes, eh baru bentar kok sudah liat restorannya. Duh, tak jalan sik ah, ke pantai dulu biar laper baru makan deh.

Pos lifeguardnya. Ada Pamela Anderson kalik di dalem.
Abis jalan kaki di pantai aku ke Hurricanes. Katanya biasanya rame beud, kok itu enggak ya. Mbak-mbaknya memberikan menu kepadaku. Liat sekeliling, kok aku kayak sedih banget makan sendirian gini. Pas liat menunya, yak yak yak eike syok liat makanannya dan harganya. Steiknya paling kecil ukuran 250gram tapi itu sirloin aku nggak mau. Trus ada yang 300gram, 450gram, 750gram, bahkan sekilo juga ada. Buset ada yak yang beli seporsi sekilo sapi gitu.

Lihat list harganya, kursin ke rupiah, oh mai oh mai. Oke tenang. Sebenarnya sih untuk ukuran steik nggak mahal asal kurs Australian Dollar balik ke jaman dulu yang cuma 1AUD sekitar 5000 rupiah. Akhirnya aku memilih tenderloin steak ukuran 300gram ditambah dengan mushroom sauce dan segelas coke. Eike nyari minum yang paling murah, air putih aja lebih mahal dah.

Dasar gue norak emang, para waiternya tuh nyatetnya nggak pake kertas tapi pakai alat kayak hape gitu. Langsung masuk di komputer di dalem kali ya. Nggak berapa lama, jadi penuh Hurricanesnya. Sampai antre segala cuma buat makan. Nggak berapa lama juga, steiknya dateng.

300gram daging sapi tambah kentang sour cream dan mushroom sauce.
Tampilannya lumayan menarik, cuma yang bikin aku bertanya-tanya: ini gimana ngabisinnya woi? Oke makan pelan-pelan, nikmati, dan rasakan. Baru kali itu aku makan steik dikasih sour cream. Mushroom saucenya enak banget! Pas! Enggak kayak di Holycow yang menurutku keasinan. Steiknya hmmm, enak sih... tapi dasar bukan penggemar steik ya kataku biasa aja. Hehehe, maap yah Hurricanes.

Wah ibuku menipu tenan kok. Tak pikir enaknya enak gimana gitu. Ah ternyata biasa aja. *banyakan protes padahal dibayari ibu*

Sementara itu sedotanku terbang-terbang karena angin kencang, aku berusaha menghabiskannya dengan nikmat. Dan akhirnya habis juga. Nggak kebayang ada bule pesen steak gede banget di sebelahku, gimana ngabisinnya tuh. Abis bayar, cabut langsung balik ke tengah kota Sydney.

Sour cream~
Pantesan mahal, piso aja beli dari Brazil seh.
Sampai stasiun Central, perutku berkontraksi menggelinjang. Uwaaa, oiya perutku rada suka bermasalah kalau berurusan sama susu. Tapi tadi makan apa yak... uwaaa steiknya. Entah karena saus mushroomnya atau sour creamnya nih. Aku berharap mulesnya perutku ini hanya sesaat, eh tapi kok nggak rampung-rampung. Duh langsung deh keringat dingin. Keluar stasiun cari WC umum, jalan sampai ujung kok nggak nemu gambar tanda toilet.

Mau keluar dari subwaynya, hujan deras aku nggak bawa payung. Aduhhh sumpah ya, selama aku jalan di Sydney biasanya sering banget namanya liat toilet umum kecuali pas aku mules doang itu. Ibuuu! Masuk ke stasiun lagi dan jalannya nggak bisa dibilang dekat. Hari itu kereta lagi maintenans, jadi alat tiket di stasiun nggak berfungsi dan bisa masuk keluar dengan bebas. Nanya WC di mana kan ya sama petugasnya, kayak cuma lurus. Tapi jauhnyaaaa... T.T

Pas nemu toilet rasanya lega banget... Dasar steik Hurricanes!

Sampai akhirnya aku balik dan bilang sama ibu kalau itu steik menurutku enaknya biasa aja.
Trus ibuku cuma, "Owalah biasa wae to."
"He em, menurutku sih gitu. Marai mules maneh."
"Jare kancaku enak tenan je."
"Lho lha ibu udah pernah belum sih ke Hurricanes?"
"Belum. Makanya kamu tak suruh coba."

Jiah, jadi kelinci percobaan rupanya. -____-

Menginap di Dorm Campur

Tiga kali aku mencicipi namanya menginap di penginapan dengan kamar jenis dormitory. Ya kayak asrama gitu, satu kamar bisa memiliki tempat tidur tumpuk sebanyak empat hingga 20-an! Sekali di Indonesia dan dua kali di Singapura. Ya kali di Indonesia dormnya campur cewek-cowok, aku menginap di dorm campur di Singapura, tepatnya di ABC Hostel Hamilton Road.

Waktu aku pergi sama temanku Bellita ke beberapa negara, kita sepakat buat nggak booking penginapan. Let's go show! Kalau di negara Asia Tenggara selain Singapur sih kita berani go show tapi buat di Singapuranya, doh nggak yakin. Mana sampai Singapura hari sabtu dan yakin deh, hostel-hostel murah pasti sudah diserbu oleh turis-turis Indonesia. Kita cari beberapa nama hostel dan eh kok ya lagi blogwalking nemu blog Mbak Dini Haiti yang abis menginap di sana. Tanya-tanya, dan katanya lumayan oke.

Depannya.
Booking deh tuh via e-mail dan okenya dia punya rekening BCA, pas banget buat aku yang nggak punya kredit kard. Kamarnya mixed dorm dan double bed dengan tarif per orangnya 18SGD per orang per malam. Atau sekitar 144 ribu. Kesimpulannya? Mahal!

Letaknya tak jauh dari stasiun MRT Lavender, tinggal jalan kaki beberapa ratus meter. Kita harus naik tangga untuk mencapainya. Sampai di resepsionis, check-in dan paspor kami dipinjam oleh bapaknya. Kami pun masuk ke kamar kami. Bentuknya kayak rak-rak gitu, kalau nggak salah hitung jumlah bednya sekitar 12, itu pun double bed. Di bawah ada laci untuk masing-masing bed, gemboknya pakai gembok sendiri. Pas mau simpan tas di locker, eh kok eh kok ada pampers bayi! Si bapak yang entah pemilik atau penjaga hostel itu menyingkirkannya supaya kami bisa taruh tas kami.

Kamarnya nggak begitu lega, tanah di Singapura mahalnya parah banget kali yak. Naruh tas doang dan kami cabut deeehhh!

Kayak lemari apa gitu.
Bayanganku kalau dorm campur begitu kalau malam pasti terdengar orang ngorok, kentut, atau ada laki-laki mabok gitu ya. Setelah keluar kami pun baru sampai hostel sekitar jam setengah 12 malam. Dan kamar sunyi senyap... tirai sudah pada ditutup semua... sudah pada tidur semua. Lampu sudah mati kecuali lampu tiap-tiap bed. Jadi kami yang pulang paling malem. Nggak terdengar suara ngorok keras atau turis yang baru balik jam empat pagi. Hening...

Kami yang mau bersih-bersih badan jadi umek sendiri di dalam kamar. Mau nyalain lampu ya gimana, mau beres-beres kok ya berisik. Ada seorang ibu-ibu yang kayaknya kerja di sana bilang kalau lampunya dinyalakan saja nggak papa, tapi kami nggak mau ah, kasian yang tidur. Terdengar suara anak kecil nangis, oh rupanya pampers tadi punya anak kecil itu. Sedihnya bed kita ada di atas, you tahu lah aku susah naik tangga begitu badan gede. Udah gitu pas udah sampe di atas, bertanya-tanya ini nggak bakal rubuh kan aku di atas, hahaha...

Bed gue sama Bellita...
Kalau dibilang bagus, ya enggak juga, biasa saja sih. Kamar mandinya shared dan nggak bersih-bersih amat tapi lumayan sih sama WC sekolahku bersihan kamar mandi ABC Hostel. Toiletnya pesing pas itu. Yang aku suka, dia menyediakan handuk tanpa plus plus biaya. Selain itu ada colokan universal di dalam kotak bed, ada empat colokan kalau nggak salah. Nggak perlu steker pasangan deh. Sama ada lampu juga, kali-kali takut gelap dan mau baca. Ada locker juga nilai plus dan dia juga menyediakan sarapan gratis. Ya sarapannya roti doang seh, sama bisa minum teh atau kopi. Catatannya sih kalau menginap di hostel gitu ya nyuci dewe piring karo gelase...

Ada dua toilet dua kamar mandi.
Toaster, microwave, dan dispenser air panas.
Harapannya ketemu banyak bule, eh kok ya bed samping persis sepasang laki-laki dan perempuan orang Spanyol kayaknya tapi nggak begitu ramah. Dan yeaaah, ketemunya orang Indonesia. Yang anak kecil yang punya pampers itu ternyata orang Indonesia. Keluarga kecil asal Medan yang berlibur di Singapura selama enam hari, lama banget sumprit. Kalau aku sih udah stres, Singapur apa-apa mahal bok. Tadinya mereka menginap di private room ABC Hostel cabang lain, namun ternyata di malam terakhir mereka nggak bisa eksten ya udah deh pindah ke situ.

Pas sarapan ada bapak-bapak asal Batam yang mengajak ngobrol kami. Rupanya dia kerja di Singapura, aku nggak ngerti sih kenapa milih tinggal di hostel. Lebih murah apa yak... Menginap di dorm campur kali itu nggak sesuai bayanganku, ya kapan-kapan dicoba lagi di tempat lain, wehehehe!

Tiga Cita-Cita Una

Ngomong-ngomong angka tiga, aku suka sekali dengan dia. Aku lahir di tanggal tiga dan angka umur aku kalau ditambah juga tiga. Selain itu aku suka dengan kelipatan tiga, misalnya 27 kalau ditambah per angkanya 2+7=9, dan 9 juga kelipatan tiga. Beda dengan kelipatan lima atau kelipatan tujuh. Dan tentang tiga, aku mau tuliskan tiga impian aku... ^^ Maaf ya kalau kebanyakan kata aku-nya. Wehehehe!

1. Mati khusnul khatimah dan sehat selalu sepanjang hayat
Aku masih takut mati tapi kalau aku mati nanti aku mau melaluinya tanpa sakit dan dengan tenang. Kalau bisa matinya dengan tersenyum. Mau kayak gitu, fufufu. Selain itu aku ingin sehat selalu sepanjang hari. Aku mau gigiku utuh sampai tua, aku mau aku masih bisa beraktivitas dengan baik pas tua, masih lincah, energik, aktif setiap saat waktu renta, masih bisa melihat dengan jelas, dan yang paling penting aku masih bisa jalan kaki hingga nanti tua.

Una umur 67, 87, dan 107 tahun. Hidung gue makin gedeeee!
2. Keliling Indonesia dan dunia!
Cita-citaku yang kedua aku ingin bisa menginjakkan kakiku ke minimal 1000 pulau di Indonesia dan 200 negara. Wahahaha, terlalu ambisius yak? Biarin dah... Cita-cita kan harus setinggi-tingginya. Aku pengennya pergi entah sendiri atau pun dengan teman perjalanan yang enggak nyebahi (nyebelin), njelehi (nyebelin), dan nggapleki (nyebelin). Trus trus trus, pengennya nggak traveling gaya kere atau backpacking-an, maunya jetset traveling~ lalalala... 

Mau ke Mesir~
3. Bisa menyekolahkan banyak orang
Gimana ya, aku aja sekolah males-malesan, wehehehe. Tapi lumayan termotivasi sih gara-gara omongan ibuku setelah aku bilang aku pengen bisa dapet beasiswa gitu. Kata ibuk, "Daripada mikirin pengen dapet beasiswa, lebih bagus mikir gimana cara kamu nanti bisa ngasih beasiswa ke orang." Hm, iya juga ya. Mikirinnya dapet mulu, kan lebih baik memberi. Dan kata Aa Gym pun jadi orang itu jangan ingin kaya tapi harus kaya kan ya. Dan harus kaya buat bisa mewujudkan impian yang ketiga ini. Kaya, amiin.

Sebenarnya aku rada takut memaparkan cita-citaku. Apalagi biasanya rencana yang digembor-gemborkan eh tahu-tahu nggak jadi. Tapi postingan ini adalah doaku, semoga cepat terwujud. Oh ya, aku tuh nggak suka kata semoga aslinya hehehe. Pasti cepat terwujud, syalalalala~ Cemungudh! (Udah cek, diperbolehkan menggunakan bahasa alay kok.)

Anyway, selamat ulang tahun buat Pascal, Alvin, Dija, dan Om Mas Bro ya!


"POSTINGAN PENUH RASA SYUKUR INI UNTUK MEMERIAHKAN SYUKURAN RAME RAME MAMA CALVIN, LITTLE DIJA, DAN ACACICU"

We're Carnivores!

Teman aku, Sarah kepengen makan yang namanya wagyu plus pengen tahu yang namanya Holycow. Bagi para pecinta steak di Jakarta, aku rasa pasti tahu lah yang namanya Holycow. Aku sendiri juga penasaran, soalnya katanya enak sekali. Cuma pernah aku ke sana sekali di cabang Kebayoran, musti ngantre dulu, masuk waiting list. Ogah ah, cuma mau makan aja pake nunggu lama segala.

Akhirnya bertiga, aku, Sarah, dan Aji ke Holycow deh yang di Sabang. Mengajak teman yang lain, Nita, eh lembur, si Kartika, sibuk pacaran. Yo uwis. So kami ketemuan di Mekdonal Sarinah dan sebelum ke Holycow pun, ngemil mekdi dolo. Jalan kakilah kami dari Sarinah ke Jalan Agus Salim, Sabang. Letak Holycow Sabang sendiri di Seremanis di lantai lima yang juga lantai rooftop. Dengan pedenya kami duduk di luar, padahal Jakarta panas banget siang itu...

Hmmm... 
Ciyus amat jeng liat menunya.
Kertas menu sudah di tangan, kami nggak tahu mau makan apa. Eh, kok wagyunya mahal yak... Semua semua kami tanyakan sama masnya sampai masnya kayaknya bete. "Green tea-nya tawar apa gimana mas? Blue island itu isinya apa aja? Bedanya sirloin sama tenderloin apa?" Pokoknya kita banyak tanya deh. Yang aku kecewa sih, masak mau beli prime sirloin atau tenderloin enggak ada barangnya... Rrrr. Akhirnya si Sarah dan Aji pesan wagyu tenderloin dengan masing-masih saus barbekiu dan mushroom. Kalau aku pilih Buddy's Special Steak yang kata masnya daging paha sapi.

Sembari nunggu, kami dikasih cheese stick untuk dicemil. Yang pertama keluar punyaku dongs.

Buddy's Special Steak sama saus mushroom.
Steak disajikan dengan kentang goreng dan tumis bayam dan juga bendera. Selama ini aku lihat steak biasanya pendamping sayurnya enggak bayam. Mushroom saucenya enak cuma menurutku agak keasinan, apa karena aku nggak gitu suka asin. Kata temanku sih pas. Steaknya... hmmm... ya enak sih, tapi nggak WOW ahhh kataku mah.

Sementara itu wagyunya...

Belom dipoto sebelum dirusakinnn~
Wagyunya dagingnya lebih tebal. Dua temanku pesannya yang wagyu tenderloin, seharusnya tidak ada lemaknya dan mas-masnya pun bilang begitu. Eh kok ya ada juga pating glawir gitu lemaknya. Ngapusi. Aku nyobain dong punya si Aji dong ya. Biasa aja, hahaha... Padahal katanya daging wagyu tuh melt di mulut gitu. Mananya sih?! Kalau kata Aji sendiri sih melting.

Kesimpulan dari ke Holycow kemarin, aku dan Sarah bukan gemar-gemar banget sama daging jadi menurut kami sih biasa aja. Cuma si Aji, dia kan karnivor banget, bahkan katanya si wagyu ampe kebawa mimpi dan pengen lagi makan ke sana. Jadi judul blognya salah, bukan we tapi Aji doang yang karnivor. Aku dan Sarah kan omnivor~ lalalala...

Aji dan Sarah dengan wagyunya. 
Aku maunya mekbukkk!
Aku pribadi sih nggak akan coba lagi kecuali ditraktir atau dibayarin. Mungkin kalau suka steik, oke kali ya Holycow.

Suka makan steik?

Foxy & Adele

Mbak Hima-Rain lagi ngadain giveaway nih dan caranya tinggal mengaplut foto kucing yang paling ekspresif. Temanya sendiri yaitu cat's emotions. Gilak ya baru ngeuh, hampir separuh postingan di bulan ini postingan kontes kabeh. *curhat selingan*

Nah, foto yang aku pasang ya foto kucing di rumahku. Namanya Foxy dan Adele. Foxy yang warnanya kuning dan Adele yang berwarna abu-abu.


Tebak, kira-kira itu kucing ngapain? Si Foxy dan Adele mendongakkan kepala mereka dan melihat ke arah yang sama. Wajah mereka menyiratkan rasa keingintahuan. Kalau pagi-pagi, suka ada burung lewat rumah. Di depan rumahkupun ada pohon besar, jadi mungkin si burung suka mampir. Burung kan suka nyanyi-nyanyi tuh. Nah, si kucing ini suka dengar dan biasanya mendekat ke pintu atau jendela dan kemudian melihat ke arah atas.

Kebetulan pas di foto mereka melihat burung berbarengan bahkan seakan Foxy memeluk Adele. Seringnya kalau Foxy lihat burung, dia akan mangap-mangap dengan suara tersendat-sendat. Manggil burung kalik maksudnya... Coba fotonya bisa kubikin gif si kucing tuh mangap-mangap.

Pada suka kucing nggak?

❤❤❤

"Miaw-miaw ini diikutkan di Cat's Giveaway by AirinHandicrabby."

Hidup Tanpa Musik

Bisa nggak ya?
Nggak kebayang!

Dari bayi sudah dinyanyi-nyanyiin sama ibuk, Balonku, Pelangi, Naik-Naik Ke Puncak Gunung, macam-macam. Belum masuk TK, kerjaannya nyanyi-nyanyi terus. Sampai gede, mau seneng, mau sedih, mau galau, tetep deh dengerin lagu atau nggak nyanyi-nyanyi. Bahkan masing-masing episode kehidupan kita seakan ada soundtracknya. Misalnya aja, kalau denger lagu Fly Me To The Moon aku keingetan waktu pergi bareng sama sepupuku soalnya waktu itu nyanyiin lagu itu muluk ampe bosen. 

Ngomong-ngomong musik, aku bisa main alat apa ya... pianika sih jago, hehehe... Piano bisa dikit. Mama aku sendiri lumayan jago main piano, jadi sejak kecil aku sudah diperdengarkan musik-musiknya Andrew Lloyd Webber, Rodgers & Hammerstein, Chopin, dan lain-lain. Kalau sekarang ditanya suka musik jenis apa, aku bingung. Soalnya yang aku suka random banget. Aku mungkin suka lagu Love You Like A Love Song-nya Selena Gomez, tapi lagu dia yang lain nggak ada yang tahu. Atau aku juga suka lagunya Anggun yang Kembali, tapi lagu dia lain, nggak ada yang kusuka.

Secara umum sih aku suka dengerin musik jenis jazz, bossanova, ethnic music, keroncong, apa lagi ya. Dan kalau sudah suka satu lagu, bakal kuputar terus sampai bosan. Liat aja di bawah ini ada lagu yang kuputar hampir 500 kali, belum kalau nyetelnya nggak komplit nggak kehitung. ^^

Domba gue jadi artist, hihihi. Ada yang suka lagu yang sama? :D
Ah nggak ngertilah gimana kalau hidup nggak ada musik...
Ternyata juga, baru-baru ini ditetapkan kalau 9 Maret itu ialah hari musik nasional. Dan hari yang dipilih hari ulang tahunnya WR Supratman.

Kalau temans, suka musik jenis apa?

The Old VS The New: Aku dan Agus

Hore, akhirnya bisa ikut juga giveaway-nya Bunda Yati Rachmat dalam rangka ulang tahun blognya yang keempat April mendatang. Temanya sendiri oke punya, tinggal aplut foto diri jaman baheula dan jaman sekarang. Di postingan ini aku pasang fotoku bersama Agus. Dua foto di bawah berjarak 6417 hari umurnya... atau sekitar 17 tahun enam bulan 23 hari.


Agus ialah salah satu temanku berbentuk boneka gajah. Aku sendiri bingung kenapa kok ya kunamai Agus, kayak nggak ada nama keren lain aja. Agus sendiri tentu saja umurnya lebih dari 18 tahun, sudah tua ya. Di foto di atas aku masih cakep yak dan nggak sehitam sekarang. Waktu aku protes sama mama kenapa kok aku sekarang bisa hitam sekali, sedangkan dulu nggak hitam-hitam amat, jawabannya, "Ah, kamu kan makin item setelah bisa mandi sendiri..." Ah...

Tujuh belas tahun waktu berlalu, aku sudah dua kali pindah rumah, si Agus pun masih hidup loh. Di blog ini, dia pernah muncul di postingan Plushstories: Birthday Girl. Tadi aku barusan foto sama dia.


Kayaknya si Agus makin menciut ya. Dulu bisa kupeluk, sekarang kalau kupeluk yang ada kagak keliatan tuh si Agus. Aku di foto kedua, aku yang udah kenal sama Bunda Yati Rachmat, hehehe...

Tentang Bunda Yati ya? Aku pernah bertemu dengan beliau waktu gathering Komunitas Emak2 Blogger. Hehehe, kamu kira aku masih muda ya? Aku udah emak-emak loh! *eh* Nggak lah! Pertemuan aku sama Bunda Yati ya tanpa direncanakan. Mungkin memang takdirnya bertemu di situ. Waktu liat beliau, ya jelas lah langsung tahu beliau siapa! Lagian, bagaimana bisa nggak ingat, ada blogger yang di umurnya lebih dari 72 tahun masih aktif ngeblog?

Tebak ini siapa!
Waktu itu Bunda Yati menggunakan kerudung warna pink, orangnya ceria sekali! Meski sudah tua, beliau ini bersemangat sekali. Terlihat ia mencatat poin penting dari sesi talkshow waktu itu. Ketika ada sesi bertanya, yang ngacung pertama kali ya Bunda Yati, hehehe... Saat ada tur gedung IDC, kita dipandu oleh pegawai IDC dan Bunda Yati selalu siap dengan catatannya. Tuh fotonya di atas. ^^ Pengennya sih ketika tua nanti aku masih bersemangat, lincah, energik dan aktif seperti beliau. Kritik sarannya apa ya... hmmm, templatenya ganti dong Bun!

Disyut nih yey...
"Foto dan tulisan diikut-sertakan pada GiveAway - Pertamaku untuk Ultah Blog MISCELLANEOUS."



Bean Boozling with Pita and Retno

Ini jaman SMA, lima tahun lalu.
Dua teman SMAku datang ke rumah. Namanya Pita dan Retno. Jaman SMA dulu, mereka berdua yang paling sering main ke rumah dan seringnya sampai malam. Mereka ini sangat narsis, sampai-sampai laptopku dulu isi fotonya lebih banyak foto mereka ketimbang fotoku. Tapi karena laptopku rusak, ilang semua fotonyaaa. Horeee! Mereka ini sangat nyablak dan sedikit kasar, kontras denganku yang kalem dan kul. Waktu mereka mau ke rumah, aku jadi keingat sama permen Jelly Belly Bean Boozled!

Jadi, aku kepengen tuh makan jelly bean Bertie Bott-nya Harry Potter. Tapi kok ya nggak pernah liat gitu loh, eh malah lihat Jelly Belly's Bean Boozled Jelly Beans. Tulisan yang tertera pada dusnya, 'Dare to compare. Contains weird & wild flavors.' Aku penasaran dong ya, aku balik lah tuh dusnya. Jeng jeng jeng!

Tampak depan.
Rasa-rasanya.
What? Rasa jelly beans-nya aneh-aneh banget. Jadi ada sepuluh pilihan warna dan tiap warna memiliki dua kemungkinan rasa: enak dan tidak enak. Semisal warna merah, rasanya bisa selai stroberi atau rasa centipede. Yang kuning kecokelatan bisa rasa pisang atau rautan pensil. Aku jadi tambah penasaran dan aku pun membeli tiga buah untuk aku dan dua teman kampusku.

Aku sendiri lumayan tergolong risk lover untuk masalah makanan. Kayaknya. Etapi liat kardus Bean Boozled teronggok di atas meja komputer, tiba-tiba kok aku jadi takut makannya ya. Nggak ada temennya lagi, kalau ada Aziz kan bisa makan bareng. Masak sama Mbak Lis? Nggak seruuu. Sampai-sampai kubiarkan aja tuh permen sekitar sebulan. Sampai beberapa hari lalu Retno dan Pita bilang mau ke rumah dan aku jadi kepengen merekam mereka makan tuh permen upil...

Pertama dia mencoba yang warna putih dan ini videonya!


Kasian amat si Retno dapet rasa tisu basah.

Mereka juga mencoba warna merah dan dua-duanya dapet rasa centipede, hahaha! Aku mencoba yang warna oranye, gigit sedikit, rasanya sih manis... tapi kok gak kayak peach, apa ini rasa muntah? Huwaaa *lepeh* Rasa pisang, buttered popcorn, licorice aku juga dapat. Kalau kata banyak review, meski licorice itu rasa 'enak'-nya tapi kebanyakan nggak suka. Aku sih lumayan suka. Lalu aku juga makan yang hijau, aku nggak tahu bagaimana rasa upil, tapi yang aku makan nggak enak!

Aku penasaran yang rasa puding cokelat, sayang sekali di dus Bean Boozled-ku bahkan nggak ada jelly bean warna cokelat.

Dare to try?
Setidaknya rasa penasaranku sudah terbayar. Oh, gini to rasanya. Bean Boozled juga tersedia dalam dus yang lebih besar dan ada permainannya kalau-kalau makan dengan banyak teman biar makin seru. Hampir aku membeli yang besar, tak pikir-pikir siapa yang mau ngabisin! Yang kecil aja nggak yakin bakal abis. Dan bener belum abis juga.

Berpikir untuk beli lagi? Mungkin tidak. Tapi kali-kali ada yang menawariku Jelly Belly's Bean Boozled, nggak masalah.

Kartunet Kampanye Aksesibilitas Tanpa Batas

Ramahkah fasilitas publik di Indonesia terhadap penyandang disabilitas?

Sebentar kuingat-ingat apa saja fasilitas publik yang biasa aku gunakan. Wah! Banyak sekali! Antara lain, kereta rel listrik (KRL), stasiunnya, halte bus, bus kota, TransJakarta, shelternya, jembatan penyeberangan, trotoar, jalan raya, banyak banget deh ya.

Mendadak aku teringat bagian dari buku berjudul Indonesia: Archipelago of Fear karya Andre Vltchek. Disindirnya bahwa pemerintah Indonesia ialah pemerintah yang tidak memiliki anggaran untuk membangun jalan raya dan trotoar untuk pedestrian. Bayangkan saja, banyak dijumpai jalanan tanpa bahu untuk pejalan kaki dan lebih memilih ramah kepada pemilik kendaraan bermotor yang menggunakan jalan raya. Eh kok rupanya tidak juga karena jalanan di Jakarta pun hanya 6,2% luas area seluruhnya. Tidak sebanding dengan jumlah kendaraan yang keluar pada hari kerja. Sehingga yang terjadi setiap hari ialah kemacetan. Bikin migrain bok liat macet tuh!

Jembatan penyeberangan dan jalan raya, fasilitas umum bagi warga negara. Lokasi: Semanggi, Jakarta.
Antrian khusus ibu hamil, ibu dengan anak, orang tua, dan penyandang disabilitas. Lokasi: Shelter TransJakarta KotaTua Jakarta.
Kadang-kadang ada trotoar dengan jalur tunanetra. Biasanya jalurnya berwarna kuning dan agak grenjel-grenjel, ada juga yang ada logamnya supaya penyandang tunanetra bisa merasakannya dengan menggunakan tongkat mereka. Namun kesannya, jalur itu hanya berkesan basa-basi dan formalitas. Banyak jalur tunanetra yang tertutup gerobak kaki lima atau kadang trotoar belum habis, signing block-nya sudah berujung. Pernah aku lihat ada jalurnya, mengarah ke elevator supaya tidak usah menaiki tangga, namun elevatornya mati! Lha trus?

Pernah suatu saat aku pergi ke luar negeri dan amazed sekali dengan fasilitas publiknya. Bukan karena fasilitasnya lengkap dan memadai, namun juga menyediakan aksesibilitas bagi para penyandang disabilitas. Di dalam kereta terdapat reserved seating bagi mereka, di stasiun ada elevator yang di depannya lengkap dengan signing block, di jadwal bus tertera tanda mana bus yang ramah terhadap penyandang disabilitas. Semua toilet umum, gedung, transportasi publik, semuanya ramah.

Bus yang aksesibel bagi pengguna kursi roda. Lokasi: Sydney.
Double decker, salah satu fasilitas umum ibu kota jaman duluuu... Lokasi: Taman Mini, Jakarta.
Batinku pun berkata, wah, hebat sekali! Karena sebuah negara yang memberikan aksesibilitas mudah terhadap penyandang disabilitas berarti menghargai semua warganya. Penyandang disabilitas pun tentu berhak akan fasilitas yang nyaman supaya tetap bisa berkegiatan aktif seperti warga tanpa disabilitas lainnya. Namun bagaimana di negara kita, Indonesia, ramahkah fasilitas publik pada mereka?

Tidak! Oke, lebih tepatnya belum. Jangankan bagi warga disabilitas, untuk warga tanpa disabilitas pun fasilitas umum yang ada sekarang masih sangat kurang memadai. Kereta yang kumuh, halte yang penuh dengan vandalisme, jembatan penyeberangan TransJakarta yang sebegitu ringkih, dan banyak  lain lagi yang dikeluhkan. Padahal tentunya kita ingin fasilitas publik sangat aksesibel bagi kita semua. Tiba-tiba aku teringat pajak yang selalu aku bayar ketika jajan di minimarket. Ke mana yak tuh duit?

Sementara itu, di masa dengan kemajuan kecepatan informasi ini terdapat sebuah komunitas Kartunet Kampanye Aksesibilitas tanpa Batas. Komunitas ini merupakan media warga yang membahas mengenai isu-isu disabilitas. Kartunet-News berguna sebagai media informasi mengenai disabilitas bagi masyarakat umum dan penyandang disabilitas pada khususnya. Kartunet sedang mengadakan kontes blogging dengan tema Kartunet Kampanye Aksesibilitas Tanpa Batas serta didukung oleh XL Axiata dan Asean Blogger Community dan mengajak teman-teman untuk menceritakan mengenai keadaan fasilitas publik di Indonesia. Menurutku kampanye ini dengan salah satunya kontes blog ini ialah cara  yang tepat untuk mensosialisasikan betapa pentingnya kenyamanan fasilitas publik di sekitar kita.

Selanjutnya, aku cuma berharap negara kita lebih menghargai warganya, salah satunya dengan menjadikan fasilitas publiknya ramah bagi siapapun.


Kuis Seven Days by. Rhein Fathia

Eh, ada kuis kok menarik sekali. Ikutan ah... Mbak Rhein Fathia, yang menang dalam Lomba Novel Romance Qanita, mengadakan kuis yang satu ini. Caranya mudah sekali. Cuma tinggal menjawab pertanyaan ini:
"Anggap ada yang mau bayarin kamu jalan-jalan ke mana aja, nggak peduli berapa biayanya. Kamu diberi waktu selama TUJUH HARI dan harus mengajak SATU orang saja. Ke mana kamu akan pergi traveling, sama siapa, dan apa alasannya?"
Membaca pertanyaan ini aku langsung teringat satu pulau di Teluk Tomini, Sulawesi nun jauh di sana. Cita-citaku dari SMA kali ya, sudah pernah kutulis dalam blog dua kali malah, dan belum kesampaian dari sekarang. Sebuah pulau yang namanya sama dengan nama panggilanku. Yaitu, Pulau Una-Una. Narsis pol yak aku!

Apalagi waktu kutelusuri di google Pulau Una-Una ini ternyata sangat cantik. Memang ya, yang namanya Una itu memang cantik-cantik. Tapi, bagaimana menempuh ke sana bikin perutku mulas-mulas. Pulau Una-Una sendiri terletak di Provinsi Sulawesi Tengah dan cara ke sana ialah: naik pesawat dari Cengkareng ke Palu dengan menempuh waktu sekitar 90 menit plus perbedaan waktu 1 jam. Kemudian dilanjutkan perjalanan darat ke Ampana via Poso sekitar 10 jam. Naik kapal deh ke Kepulauan Togean, di mana letak Pulau Una-Una, nggak tahu deh berapa jam.

Poso, Ampana, dan Pulau Una-Una.
Ngebayanginnya saja aku sudah eneg. Tapi kalau ada kesempatan, mauuu!
Pun karena di kuis ini diminta menganggap ada yang mau bayarin, aku berimajinasi ada yang mau menyewakan jet lux pribadi untukku dan seorang teman perjalananku. Jadi nggak perlu deh tuh ke Palu dulu. Satu orang yang ingin kuajak yaitu bapakku! Soalnya soalnya, bapakku itu penyuka jalan juga, suka gojeg (bercanda), dan poin paling penting adalah foto aku yang dijepret bapakku hasilnya bagus bagus. Wehehe, masak jauh-jauh fotonya nggak bagus? Motto bapakku sendiri: "Foto yang bagus itu foto yang layak jadi postcard."

Pulau Una-Una sangat subur apalagi di tengah pulau terdapat Gunung Colo yang masih aktif hingga sekarang. Terakhir meletus tahun 1983 dan ia pula yang menyebabkan warna pasir di Una-Una adalah hitam. Kontras dengan pulau-pulau dekatnya yang memiliki pasir putih. Pulau Una-Una ini dulunya disebut Pulau Ringgit karena dulu pulaunya sangat kaya. Sayang semua berubah ketika Colo meletus, penduduknya pada kabur! Sekarang sudah ada penduduk lagi, tapi ya nggak banyak.

Masjid Una-Una. Sumber: Abdee Mari, Kompasiana
Hari pertama akan kulewati dengan perjalanan dari Jakarta ke Una-Una menggunakan jet pribadi. *hahaha, enak banget ya namanya imajinasi tuh* Selanjutnya, aku dan bapakku akan mengelilingi Pulau Una-Una, bertemu dengan penduduk setempat, melihat Gunung Colo dari kejauhan, dan main-main air di pantai! Hingga hari kedua, kami akan pergi ke Masjid Jami, masjid kuno di sana dan melihat makam-makam tua di belakangnya. Sekalian belajar sejarah karena masjid itu sudah berdiri sejak 1804 dan konon belum pernah ada renovasi.

Kemudian di hari ketiga, mau ke Gunung Colo! Oh tentu saja tidak pakai mendaki, melainkan naik heli. Muahahaha, ngimpi beud ya. Gunung Colo yang berarti korek api dalam Bahasa Bugis punya cerita banyak. Apalagi Pulau Una-Una sendiri katanya terbentuknya ya dari letusan si Colo itu. Katanya lagi, gunung tersebut berada di luar garis ring of fire-nya Indonesia makanya jadi unik. Memang ya yang namanya Una itu unik-unik. Kawahnya sendiri ada tiga, dengan kawah tertua berdiameter sekitar 2000 meter.

Sungai di Gunung Colo. Sumber: Anton Joo's blog.
Hari keempat sampai keenam, kayaknya island hopping asyik nih ke pulau sekitar Una-Una. Ada Pulau Togean, Pulau Batudaka, Pulau Kadidiri, dan pulau-pulau lainnya. Berhubung aku nggak bisa diving, snorkeling di sana pasti seru mengingat keanekaragaman lautnya oke punya. Ada banyak titik diving di dekat Pulau Kadidiri seperti Jack's Point, Fishomania, Kololio, dan Tanjung Apollo. Leyeh-leyeh di pantai bergaya like a boss juga boleh tuh... Tapi kapan yak?! Hehehe...

Hari terakhirnya ya pulang deh. Tak lupa berpamitan dengan rusa-rusa di Pulau Una-Una. Jumlah rusa di sana sangat banyak apalagi setelah terjadi letusan Colo, predator rusa banyak yang mati sehingga populasi rusa meningkat. Tapi kok rusanya tetap bertahan ya meski ada letusan... *garuk-garuk*

Aaaaah, andai beneran yaaa... mauuu... Tapi aku yakin aku pasti bisa ke Una-Una!


"Posting ini ikutan kuis berhadiah novel Seven Days by Rhein Fathia nih! Pada ikutan, yuk."

Referensi:
http://www.indonesia.travel/id/destination/321/taman-nasional-kepulauan-togean/article/161/pulau-una-una-menjelajah-keindahan-alam-nan-subur-di-teluk-tomini
http://orajoo.wordpress.com/2012/03/24/colo-colo-volcano/
http://wisata.kompasiana.com/jalan-jalan/2011/10/04/masjid-kuno-buatan-1804-di-una-una-yang-masih-kokoh-berdiri-398699.html

Latihan Machu Picchu

Mama saya, kalau ditanya apa salah satu cita-citanya yang belum tercapai, maka mama akan menjawab: ke Machu Picchu. Sok iye banget, sejak kapan aku manggil mama. Machu Picchu ialah situs peninggalan suku Inca yang letaknya di Peru. Machu Picchu ada di ketinggian sekitar 2400 meter di atas permukaan laut. Bisa ditempuh naik kereta atau jalan kaki. Dan mama maunya pakai opsi kedua. Lalalala...

Pernah suatu saat ibu dites. Setelah ibu menjawab, salah satu cita-citanya ialah ke Machu Picchu, seseorang mengujinya. Yang dilihat adalah ototnya. Jadi, kalau kita atau tubuh kita yakin dengan apa yang kita mau atau kita jujur pada diri sendiri, otot tuh lebih berkontraksi ketimbang kalau kita enggak yakin atau bohong. Dan dengan Machu Picchu itu, ternyata dari otot, raga ibu seperti berkata kalau ibuku sanggup. Padahal kan ibuku wis tuwek.

Machu Picchu. Source: nationalgeographic.fr
Anehnya, setelah kejadian itu, seakan-akan semesta berkonspirasi. Nggak berapa lama, pas antre imigrasi di depan aku dan ibuku ada dua orang tua laki-laki dan perempuan. Yang perempuan berkepang panjang dan mirip-mirip wanita suku Indian, suku yang ada di Pegunungan Andes, ya gitu-gitu deh. Eh nggak tahunya, ngintip paspornya... ternyata orang Peru (where is Machu Picchu located in).

Beberapa menit kemudian kami masuk toko buku dan buku yang pertama menarik perhatian ibu ialah buku berjudul Turn Right At Machu Picchu. Langsung dah dituku. Karena ibuku lagi suka gitu-gituan, kemarin ceritanya aku dan ibuku pergi ke situs megalitik Gunung Padang yang disebut-sebut Machu Picchu-nya Indonesia. Situs ini terletak di Kabupaten Cianjur, berbentuk punden berundak dan konon sudah ada sejak 2000SM. Kalau Machu Picchu di Peru sih lumayan baru, sekitar abad 15M.

Situs Gunung Padang berjarak sektar 160 kilometer dari Jakarta. Namun, karena kami ke sana pas tanggal merah ibu takut kalau lewat Puncak macet. Jadilah lewat Padalarang trus trus trus aku nggak tahu. Wong aku turu terus. Tahu-tahu sudah sampai Cianjur dan bingung lewat mana, aku mbok ada kalik turun lima kali buat nanya arah Gunung Padang. Kata Pak Polisi yang kutanya, intinya, sampailah dulu ke Warungkondang, nanti di sana gampang.

Sampai di Warungkondang, ada sign belok kiri arah si situs. Tulisannya sih 20 kilometer, tapi rasanya 100 kilometer. Jalannya jelek banget berasa arung jeram. Oke kali ya kalau naik 4WD lha enggak je. Di kanan kiri banyak kebun teh yang luas, asik pemandangannya, cuma panas bro!

Parkir di sana bayar 10 ribu. Dari parkiran mobil, diperlukan jalan kaki sekitar 300 meter menuju tangganya. Bisa jalan kaki atau naik ojek. Kami pilih jalan kaki dong, wong deket. Tapi eh tapi... panas yang menyerang siang itu gilak ya... bikin kami rasanya capek banget. Baru jalan dikit udah berhenti dan selalu bilang, "Gimana mau ke Machu Picchu ini!" Hingga akhirnya sampai dekat tangga menuju situs.

Tangga yang landai.
Wihiw Dora the Explorer.
Ada loket di depannya dan tarif masuknya 2000 per orang. Rupanya ada praktik korupsi. Jadi tiket yang sudah kita dapatkan diminta oleh bapak-bapak di bawah tangga, lalu dibawa lagi ke loket untuk kejual lagi. Payah... Nah tangga pun ada pilihannya, mau tangga batu yang terjal dengan jarak 180 meter atau tangga baru yang landai dengan jarak 350 meter. Ya kami milih yang landai, cuma 350 meter ini...

Lagi-lagi... ibuk berhenti-berhenti mulu, hihihi. Ibuku sendiri kemarinnya habis sakit tapi teteup... entah kepengen banget atau obsesi, dijabanin juga ke Gunung Padang. Ibuku sering berkunang-kunang padahal kalau olahraga kalau berkunang-kunang tuh harus berhenti. Ibuku nyuruh aku duluan, tapi nggak ah, aku kan anak baik. Padahal sih ya kalau aku jalannya ama temenku yang nggak kuat, wis tak tinggal, me he he he~

Gunung Padang
Tas eike. 
Putri raja duduk di Batu Kursi.
Mulih mulih...
Ada mas-mas lewat dan ibuku pun berbisik, "Mas gendong mas..." Sayangnya masnya nggak dengar, ahahaha! Ternyata 350 meter emang nggak jauh tapi dasar ibuku aja gak kuat dan panasnya emang kagak nahan!

Pas udah sampai ke situsnya, tentu saja komentarnya basi kayak komentar biasa, "Halah, mung kayak gini aja we..." Wkwkwkwk! Tapi nggak kebayang sih, 2000SM ada peradaban. Trus ngangkut batu-batu kalinya piye ke atasnya. Ada yang bilang situsnya ada ketika masa Prabu Siliwangi abad 15M tapi diduga bahkan batunya sudah berumur 4000-9000SM. Dugaannya sih, situs itu baru sebagian kecil dari luas area aslinya. Sedikit rada nyesel nggak minta di-guide-in karena banyak banget cerita di situs Gunung Padang itu. Ada batu kursi, tapak harimau, dolmen, batu Pandaringan, dan lain-lain.

Aku dan ibuku sekitar 1 jam-an berada di atas. Hingga kemudian kami pun turun lagi. Tapi panas sudah hilang, jadi nggak capek turunnya. Trus trus akhirnya aku makan setelah dua hari nggak makan... T.T

Sudah pernah ke Situs Gunung Padang?

Nggak Menarik Lagi

Waktu aku mengubah warna rambutku menjadi hitam (dari oranye merah alay alay cokelat gitu), aku liat wajahku... Kok jelekkk! Tapi kalau tetep oren, kok ya malas maintenansnya. Ngecat muluk.

Temanku Kartika dan Aji, setelah rambutku menjadi hitam, mbok lebih dari tiga kali kalik ngatain aku nggak menarik lagi. "Kenapa sih pake diitemin segala, bagusan merah tauk Na... lo jadi nggak menarik lagi deh." Ihiw, jadi selama ini gue menarik to? Sudah lama berselang rambutku hitam, masih aja si Aji ngatain. Inget aku pas aku berdua sama dia ke Blitar naik kereta. "Gara-gara rambut lo item, gak menarik lagi tauk Na. Kecuali buat Fariz." Fariz tuh anak kecil duduk di depan kursi kita yang selama perjalanan sering ngeliatin aku. Ihiw ihiw.

Rambut siapa kenapa mereka yang sewot. Hehehe.
Nggak tau deh besok ketemu ama Aji ama Kartika komentarnya gimana.
Rambut yang kuingu 25 bulan barusan saja hilang, lalalala~

Huhuhu.
Dan iya sih, jadi nggak oke lagi T.T

Sakit

Hari ini aku sakit, tidak enak badan, pokoknya lemas sekali badanku. Setiap orang mengajakku bicara, aku diamkan saja. Menoleh ke arah lain, peduli setan! Tapi aku nggak peduli sama setan, sih. Semua orang tidak kupedulikan, termasuk si mas tampan satu ini. Ia terus memelukku dari belakang tapi toh aku tak peduli. Aku hanya tengkurap tak membalikkan badan.

"Cantik, kamu sakit ya?"

Ah, apaan sih ini orang. Dasar gombal mukiyo. Aku lagi malas sama siapapun. Kulihat dia sedang mengambilkan makan untukku. Ditaruhnya piring di hadapanku toh dia tahu aku tidak akan menyentuhnya. Lagi malas makan tauk! Aku sedikit kasihan sih sama mas yang sudah peduli denganku ini tapi kan aku lagi nggak mood. Nggak ada senyum untuknya hari ini. Mataku kucegah tak bertemu matanya. Aku malas.

Sampai-sampai dia gemas dan menyuapkan makanan untukku. Aku tetap keukeuh untuk tak membuka mulut tapi aku nggak sampai hati. Ternyata aku agak nggak tegaan. Kuterimalah suapannya meski aku sebenarnya tak ingin makan. Akhirnya kutatap dia dengan mata ngantukku.

"Manjanyaaaa..."

Memang manja tuh. Trus? Ia masih saja berusaha memelukku dan mencoba menciumku dengan muka riang. Ia seperti tak tahu yang aku rasakan. Bukannya senang, aku hanya lagi malas saja untuk komplain dan mencegahnya. Tentu saja, muka jutek yang aku perlihatkan.

"Adele, ayo pulang." Kali ini suara majikanku Kakak U yang berbicara. Ia menggendongku. Akhirnya aku keluar juga dari ruang dokter hewan ini.

❤❤❤
Fiksi.

Garfield abu~

Mozaik Ririe Khayan

Note: Full of pics!




... lanjutan dari postingan Mbak Alaika Abdullah

Yap yap, selain Mas Monyet dan Mbak Al aku juga mau kasih kado dong. Kado postingan sih... Enggak modal beud ya? Lebih tepatnya postingan berisi foto-foto Mbak Ribut yang ditemplekke sak postingan ini!

Hari ini Mbak Ribut mau menikah. Dan inget-inget biasanya kan dia sering nelpon aku ya, ngakunya sih, ngabisin pulsa, padahal mah emang kangen aja tuh orang. Pulsanya 300ribu, terang aja nggak abis-abis. Setelah dia nikah, nelpon lagi nggak ya dia... Padahal kan yang suka nelponin aku cuma Mbak Ribut, huweee! Trus trus, bakal ngirimin aku tiket nonton Blitz lagi gak ya? Huweee...

Apa sih nih aku? Ya, pokoknya selamat ya mbak... Cie cie, ihiw, prikitiw! Cie yang sudah nggak single... Kalau udah di Jogja, main bareng yoow mbak!

Kiss kiss, kecups basah.
Una.

Mau mengucapkan selamat buat Mbak Ririe? Sila mampir blognya.