Telaga Warna, Kawah Putihnya Dieng

Salah satu yang menarik dari Dataran Tinggi Dieng ialah Telaga Warnanya. Objek wisata ini bernama lengkap Taman Wisata Alam Telaga Warna dan Telaga Pengilon. Telaga yang kedua merupakan telaga yang tak jauh dari Telaga Warna, bedanya ia tak memiliki warna seindah Telaga Warna. Terletak di Kecamatan Kejajar Wonosobo, taman wisata ini memiliki luas 39,6 hektar dan dikelola oleh Balai Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Tengah dari Kementerian Kehutanan.

Tiketnya seharga 6000 rupiah per kepala untuk sepuasnya keliling taman wisata luas sekali itu sampai pegaaaalll! Nggak cuma Telaga Warna dan Pengilon saja, namun ada beberapa gua yang biasa digunakan untuk semedi, seperti Gua Semar dan Gua Jaran. Katanya sih banyak pejabat cari wangsit di sana. Katanya pula ada tempat yang dipercaya dulunya pernah Gajah Mada napak tilas di sana, sampai-sampai ada patung Patih Gajah Mada berwarna emas.

Tiketnya.
Telaga Warna.
Kering.
Telaga Warna memiliki warna yang cantik. Itu disebabkan karena kandungan sulfur di dalamnya sehingga bisa menghasilkan rona yang elok. Waktu aku ke sana warnanya putih kebiru-birumudaan, hijau turqoise, dan makin ke tengah warnanya makin hijau, hijau toska. Sayang waktu itu, telaga sedang surut sehingga area yang biasanya ada airnya pun kering karena meskipun sudah masuk musim penghujan, kala itu hujannya belum hujan-hujan amat. *maksude piye iki*

Satu yang teringat dari melihat Telaga Warna ialah Kawah Putih. Kawah Putih yang terletak di selatan Bandung merupakan telaga yang terbentuk dari ledakan Gunung Patuha. Tingkat belerang yang tinggi menyebabkannya berwarna putih. Mirip dengan Telaga Warna. Bedanya sih Kawah Putih lebih bau belerang, itu karena kandungan sulfurnya lebih banyak kah? Aku nggak ngerti.

Mirip kan...?
November lalu, aku pergi ke Dieng bersama tiga tante-tante teman bloggerku: Jeng Alaika, Jeng Ririe, dan Jeng Idah Ceris. Seusai berfoto-foto ria berlatar Telaga Warna, kami pun berjalan menyusuri tepi Telaga Warna. Ada penjual kue pancong di sana, dua ribu dapat banyak sekali. Makan kue pancong/gandos/gandosrangin/rangin/you name it lah yang masih hangat dikombinasi dengan panas panas sejuknya Telaga Warna, weh kok jadi enak banget yak... Padahal di Jakarta aku nggak pati doyan rek.

Mbok aku ae jeng sing difoto...
Jalan kaki lagi, kami pun bertemu dengan Gua Semar, arca Gajah Mada, dan Telaga Pengilon. Nggak tahu ya, tapi aku merasanya di daerah sana tuh horor-horor piye. Andaikan aku nggak bareng sama teman-temanku ini, aku ogah deh sampai bagian yang dekat dengan Telaga Pengilon. Sayangnya kami udah pada capai dan jalan nggak begitu jauh. Foto-foto di area itu pun ternyata aku nggak punya banyak. Udah capai jadi males moto kali ye.

Fotogenik sekali...
Nah, tahun 2013 besok itu tahunnya VJT. Apa tuh? VJT atau Visit Jawa Tengah 2013 menawarkan empat destinasi unggulan. Nah Dieng termasuk dalam program kawasan Borobudur-Dieng-Jogjakarta.  Lainnya ialah, Semarang-Karimunjawa, Solo-Sangiran, dan Cilacap-Pangandaran serta kawasan sekitar lainnya. Semua basis wisata ditawarkan, dari wisata sejarah, budaya, bahari, alam, semua ada.

Kapal parkir. @Tanjung Gelam, Karimun Jawa
Para pekerja membatik. @Museum Batik Danar Hadi, Solo
Sam Po Kong, Semarang


Logonya yang cantik dipadu dengan program-program unggulannya serta 150 event yang akan dihadirkan tahun depan membuat aku berharap semoga program Visit Jawa Tengah 2013, sukses!

❤❤❤

*Postingan ini diikutkan dalam Liga Blogger Indonesia oleh dotsemarang.

Mencicipi Indonesia di Hong Kong

Beberapa waktu lalu, ketika di Hong Kong, aku dan ibuku kebingungan mau makan apa. Malam sebelumnya sudah makan Mekdonal, masak iya makan Mekdonal lagi. Ya nggak apa sih sebenarnya. Yaudah deh, Mekdonal lagi. Jalan ke arah Mekdonal, pas udah di depannya aku bilang sama ibu, bagaimana kalau makan makanan Indonesia aja. Kata ibu, yo wis ayo! Padahal kukira ibu bakal bilang, "Wis adoh-adoh mangane og podo wae." (Udah jauh-jauh makannya sama aja.) *suuzon yak eike*

Waktu itu kami di daerah Causeway Bay, area yang padat sekali, yang merupakan salah satu shopping district utama di Hong Kong. Katanya, biaya sewa toko di sini hampir dua kali lipat dari Ginza di Tokyo dan lebih murah sedikit dari Fifth Avenue di New York. Selain itu yang terkenal di sana itu Victoria Park-nya, yang sering buat nongkrong para BMI (buruh migran Indonesia). Nggak bermaksud rasis, tapi kayaknya ras terbesar kedua di sana selain orang Cina sendiri itu orang Indonesia, hehehe abis di mana-mana banyak orang Indonesianya, sih.

Nah, maka dari itu, so pastilah banyak tempat makan Indonesia. Tempat yang kami datangi bernama Sedap Gurih. Di seberangnya juga ada warung Indonesia bernama Warung Chandra.

Hmmm, sedap dan gurih beneran gak ya @.@

Mau gulai kambing? 
Ada tumis kangkung, urap, bihun goreng, nasi kuning.
Pas masuk, wah... banyak bertuliskan Bahasa Indonesia, ada peta Indonesia, ada berjejer teh botol kotak yang enak banget itu, yang makan di sana pun hampir semuanya mbak-mbak BMI yang fashionable abeeesss. Aku nggak yakin yang punya restoran itu orang mana, sepertinya sih orang Hong Kong tapi pandai juga berbahasa Indonesia.

Buku menunya tebal sekali booo', malah jadi bingung mau makan apa. Geli juga rasanya liat nama masakan Indonesia di luar negeri. Dari urap, rawon, nasi goreng, komplit bok. Tapi kurasa empal gentong nggak ada deh. Liat menunya duh, nasi kuning kayaknya menarik, ayam bakar kayaknya boleh juga. Apa gule aja yak... bingung dewe. Ibuku memesan lontong cap go meh dan teh sedangkan aku akhirnya pesan ayam panggang dan es kelengkeng.

Untung ibuku nggak komentar, "Haaa, jauh-jauh makan ayam panggang."
Kalau iya aku juga bakal bales, "Haaa, jauh-jauh makan lontong cap go meh!"

Mbak yang melayani kami nggak tahu juga orang mana tuh, tapi bisa Bahasa Indonesia. Setelah dia catat, nggak berapa lama billnya dikasih ke meja kita. Menunggu makanannya nggak gitu lama itungannya.

Bagiii donggg Buuu kerupuknyooo... 
Ayam panggang dan sambel kecap~ lalalala~
Es kelengkeng.
Karena punya ibu datang lebih dulu, aku mencoba lontong cap go mehnya dulu dong ya. Kuahnya agak lebih kental dari yang biasanya, tapi lumayan enak, tapi lagi terlalu pedes buatku. Nek ayam panggangnya biasa aja, ya lumayan enak juga sih *aku bingung opo seh sing gak enak*, cuma bumbunya kurang greng aja gitu. Es kelengkengnya sepertinya longan kalengan, fufufu, kecewa deh eike. Rasanya rada wagu gitu, rasa sintetis, tapi lumayan enak juga... Dari tadi lumayan enak mulu.

Harganya? Mahilll... Kalau ditotal, trus ditukar sama paket BigMac Mekdonal yang udah ada coke plus kentang, dapat tujuh biji paket. (Fact nggak penting: harga paket BigMac di HK cuma 20HKD, equal to 25 ribu rupiah. Harga aslinya 33,3HKD tapi diskon gitu. Yang aku bingung dari aku ke sana Januari, sampe ke sana lagi pas Oktober, masih diskon mulu. Curiga eike.) Kalau ditukarnya sama Sop Buntut Hotel Borobudur yaaa dapet dua mangkok yang medium.

Eike malah gak duwe peta Indonesia...
Kayaknya kartu telepon termurah tuh di KRL deh... hehe itu kartu perdana ding ya :P
Secara keseluruhan ya lumayan lah. Rasanya lumayan. Harganya mahal tapi nggak menyesal, sekali-sekali doang ini, malah jadi tahu, oh gini tho rasanya makan masakan Indonesia tapi nggak di Indonesia. Mungkin kalau ke Hong Kong lagi (amiin) nggak akan mampir lagi sih. Ngapain, hihihi!

Sedap Gurih Indonesian Restaurant
Shop 1B, Lok Sing Centre, 19-31 Yee Wo Street
Causeway Bay, Hong Kong
Kalau dari Sogo, jalan ke arah timur sebelah kiri jalan. Masih baratnya Victoria Park.

Plushstories: Hi, Stephie!

Suatu hari yang cerah, Shirley dan Shirloy melihat hapeku.


"Wih, itu foto kita yak," kata Shirley.

"Hmmm, tapi kayak enggak deh Shir. Mirip, tapi bukan ah. Nggak tau deh," sangkal Shirloy.



"Apa seh, umyek dewe lho," aku menghampiri mereka.

"Ini bukan kita yak?" tanya Shirley.

"Mana mana, sini kulihat."


"Wah, ini sih domba-dombanya Mbak Stephie, Shir. Cakep-cakep yak."

"Lho Mbak Stephie itu siapa?"

"Mbak Stephie ini temanku di blog. Suatu hari dia mengirimkanku e-mail, katanya suka sekali dengan Shirley dan Shaun. Mbak Stephie ini meski dokter, suka banget sama boneka loh. Beberapa saat kemudian dia pun beli boneka domba, dan tampangnya mirip ya ama kalian. Trus dia bilang gini, katanya dia kalau liat boneka dombanya, jadi pengen ketawa sendiri. Meh meh meh, padahal kan aku dibilang agak miring sama ibuk sama Mbak Lis yak suka ketawa sendiri kalau ngeliat kalian. Sekarang aku ada temennya. Berarti mah aku nggak miring!!

Dan telisik punya telisik, rumah Mbak Stephie ini dekat sama rumahku. Selisih 5 gang kali ya. Tapi kami belum pernah ketemu langsung. Dia penulis juga lho, punya novel yang berjudul My Beautiful Best Friend. Beautiful? Wah kayak aku banget ya... Ngok. Alamat blognya ini nih: http://stephiedaydream.blogspot.com/"

"Eh kita dipotoin juga dong, ntar kirim fotonya ke Mbak Stephie ya," kata Shirley.

"Oke oke."


"Jepret."

"Ah, kalian kucel-kucel, belom mandi, gak kirim ah."

"Huuuuu..." sorak mereka.

Hi Stephie! kata Shirloy.

"Selangor Nggak Ada Apa-Apanya"

Eits, jangan berpikir negatif dulu sama judulnya. Baca dulu ceritaku. ^^

Ini pertama kali aku mengikuti kompetisi blog yang berhadiah wisata. Mengetahui info kontesnya My Selangor Story (MSS) 2013 yang diadakan oleh Tourism Selangor, tentu saja aku sangat tertarik mengikutinya. Selain karena hadiahnya ialah wisata gratis ke Selangor, aku juga punya beberapa alasan lain. So, aku ekspos satu demi satu kenapa aku ingin sekali bergabung dalam MSS 2013 sekaligus kenapa aku patut dipilih untuk mengikutinya. ^^

❤ Aku belum pernah sekalipun ke Malaysia, yang merupakan salah satu negara tetangga terdekat Indonesia. Dari dulu ingin, kok ya belum ada kesempatan. Kali-kali mungkin di MSS 2013 ini. Salah satu hobiku ialah jalan dan aku ingin mendatangi berbagai tempat di sana. Kalau di Selangor, aku penasaran bagaimana sih I-City di Shah Alam, Masjid Birunya, atau Batu Caves di Distrik Gombak. Belakangan kuketahui, rupanya Genting Highlands yang tersohor itu sebagiannya terletak di Selangor, sementara sebagian lain masuk ke wilayah Pahang.

Batu Caves. Source: AsiaWebDirect 
Indoor Park City of Digital Lights, I-City, Shah Alam, Selangor. Ambil dari sini.
❤ Aku aktif ngeblog dengan postingan paling banyak bertema cerita perjalanan dan cerita sehari-hari, serta jarang melewatkan postingan tanpa foto-foto. Subscriber blogku mencapai 586 (513 via Google Friend Connect) dan setiap postingan memiliki kotak komentar yang aktif-interaktif.

❤ Ingin ekspansi pengalaman. Seperti alasan yang biasa dilontarkan, tapi tentu saja ini benar sekali. Jika lolos dalam MSS 2013, selain pengalaman jalan-jalan ke tempat baru, bisa mendapatkan teman-teman baru juga, dan akan menjadi pengalaman pertamaku melakukan sponsored trip.

❤ Seorang teman yang tinggal di Selangor kutanya apa saja di sana (objek wisata) yang menarik. Ia menjawabnya, "Selangor nggak ada apa-apanya Na. Paling ya strategis karena tidak jauh dari Kuala Lumpur dan Pinang (Penang). Di sana lebih menarik Na." Dan alasan terakhirku kenapa aku ingin ikut  MSS 2013 ialah aku ingin membuktikan pernyataan temanku, yang entah apakah benar atau salah, dalam ajang ini.

Penutupnya, aku ingin menuliskan harapanku, semoga aku bisa masuk 20 besar dalam My Selangor Story 2013 ini. Yeay!

Woo-hoo, Blog Baru!

Punya satu blog aja aku kadang ngisinya males-malesan, eh bikin lagi aja. Aku sengaja membuatnya karena sekalian mau coba-coba nulis Bahasa Inggris. Itung-itung latihan juga, mengingat jarang sekali aku pakai bahasa itu makanya jadi gak bisa-bisa. And yeah, Bahasa Inggrisnya simpel sekali dan sering banget salah tenses. Biarin deh ya, sinau juga, hehehe...

So, ini linknya: http://en.sittirasuna.com
Mampir yaaa!

Isinya meh sama lah kayak blog ini. Templatenya aja kukopi, belum edit-edit lagi. Kadang isi postnya sama kayak di blog ini, kadang enggak. Isinya baru tujuh postingan, isinya makanan, curhat, jalan-jalan. ama cerita-cerita hehehe. Yah daripada udah foto-foto makanan nggak diapa-apain. Sekalian dokumentasi kan. Yowis udah ya. *ini postingan penting amat*

Jakarta Nggak Cuma Wisata Bersabar Kok!

Belasan hari yang lalu, malam-malam ada yang meneleponku. Katanya dari Mbak Putri dari Viva.co.id. Dia bilang aku masuk finalis pemenang lomba blog Enjoy Jakarta. Pesannya lagi, jangan dipublish dulu. Publish sih enggak, cuma aku cerita ke ibuku sama ke temenku yang itu. Abis itu cerita ke temenku yang itu, yang itu dan yang itu. Nggak dipublish, tapi tak ceritain semua, hahaha!

Pemenangnya pun diumumkan berbarengan dengan acara Workshop Blogger Enjoy Jakarta, bertempat di Planet Hollywood tanggal 11 Desember lalu. Kelasku yang harusnya usai jam 13.30, waktu itu selesai jam 12.30, langsung cao deh ke sana, sampai-sampai jam dua kurang dikit. Horeee nggak telat. Masuk-masuk, mihihihihi nggak ada yang kenal. Nggak lama kemudian ada Mbak Nunik Isnuansa trus ada satu lagi blogger... dia tahu namaku... bilang juga user kok Tebak Ini Siapa... trus tau kalau aku sering ke Jogja...

Tapi aku nggak tahu beliau itu siapa. Muahahaha~ Tak eling-eling sopo to yo... kok nggak tahu. Suer pikun abis aku yak. Huweee aku masih muda masih muda. Tapi tetep nggak inget juga. Eh beliau gak kasi tau clue atau namanya dong. Etapi abis beliau ambil makanan, beliau kasi kartu nama. Ealah! Ternyata Pak Indra Kusuma Sejati Ejawantah. Padahal aku temenan di Gplus dan suer klewer klewer beberapa hari sebelumnya pas baca blog beliau aku klik fotonya biar keliatan muka beliau jelas. Eya kok nggak nyadar -_-"

Cheesecake, muffin, and cheese sandwiches.
Acara yang jadwalnya mulai jam dua, terlambat 50 menit. Tari Lenggang Nyai membuka acara hari itu dilanjutkan sambutan oleh Bapak Karaniya Dharmasaputra. Yang menarik ialah info bahwa online travel (hotel booking, travel booking, dll) di Indonesia mencapai 2 Trilyun dan pemain Indonesia, tak sampai 20%. Enam puluh persennya masih dikuasai oleh Agoda, makanya Viva.co.id, memiliki situs booking gonla.com. Ada Tio Pakusadewo yang bercerita tentang teater yang di Jakarta nggak terlalu populer. Ia bilang di TIM ada Teater Kecil dan Teater Besar (Teater Jakarta).

Setelah itu acara workshop yang dimoderasi oleh Suwarjono, Managing Editor Viva, menampilkan lima narasumber: Barry Kusuma, travel blogger, Risanto Darmawan dan Agnes Agastia, dari Opera Mini, Arief Budiman, Kepala Dinas Pariwisata DKI Jakarta, dan Riyanni Djangkaru, Editor-in-chief Divemag Indonesia.

Barry menuturkan bahwa kunci sharing ialah menulis dan travel photography dalam blogging itu penting sekali karena kalau bagus jadi mengen-mengeni (marai mupeng ngono) dan akhirnya pada tertarik ke tempat itu. Risanto mempresentasikan mengenai software Opera dan tentang ngeblog via hape. Menurutnya yang penting ialah mendokumentasikan foto dulu, mau nulis apanya, bisa belakangan. Dan moto Opera sangat menarik: access to the web is universal right.

Mbak Riyanni Djangkaru menyatakan bahwa bloghopping (blogwalking) itu penting banget, karena bisa menambah informasi. Menurut dia, kesalahan blogger ialah udah menulis tapi lupa men-share. Aku rodo ra paham sing iki, wkwkwk. Dan yang menarik dia bercerita, ketika temannya dari luar negeri bertanya kalau di Jakarta enaknya wisata ke mana, dia menjawab bahwa di Jakarta ialah wisata bersabar! Ahahaha, setujuuu abisss!

Sementara itu, Arief Budiman mengatakan bahwa sebuah destinasi pasti memiliki kelebihan dan kekurangan. Dan Jakarta menjual wisata gaya hidup, dari banyaknya pusat belanja hingga banyaknya event-event (wisata MICE).

Jeng jeng jeng jeng!
Yang bikin deg-degan dimulai... alias pengumuman pemenang lomba blog Enjoy Jakarta.
Juara ketiga didapat oleh Pak Eri Kasman, yang rupanya kemarin pas lomba review Viva.co.id, dia menang juga. Langganan euyyy...
Juara duanya akuuuu, horeee! Ahahahaha girang girang ada mukaku di layar.
Juara pertamanya Pak Indra, hihihihi asikkk mupeng ama mekbuknyaaa euyyy!

Bingung bawanya saking banyaknya xD
Eike manyun-manyun cakep juga yak... Yang kanan ama Mbak Widi dan Mbak Nova.
Nggak cuma dapet iPad tapi juga ada suvenir dari KidZania, sertifikat yang sudah apik-apik dibingkai, sama dua tiket gratis KidZania. Pas balik ke meja, diselametin sama teman-teman semeja yang baru kenalan hari itu. Ada Mbak Widi dan Mbak Nova dan tiga mas-mas yang juga semeja. Kata Mbak Widi dan Mbak Nova, pantesan aku dari tadi bolak-balik ke WC muluk, ternyata karena mau menang, hahaha. Beneran deh, padahal di tempat itu gak kedinginan, minum juga gak banyak, tapi gak nyampe dua jam, dah pipis dua kali, wehehehe!

Pulang-pulang, foto-foto dulu di backdrop Viva-nya. Eh dapet goodie bag lagi isi agenda Enjoy Jakarta ama kaos, mayan hehehe. Tapi abot jadinya bawaanku, wkwkwk. Besoknya sikuku sakit. Trus keluarnya barengan ama Om Indra dan Mbak Isnuansa. Om Indra naik baswei, aku sama Mbak Isnuansa naik Kopaja 66. Ahahaha sebis sama seleb blog euy. Dulu, sebelum eike rajin ngeblog, gugling kan siapa blogger perempuan terkenal di Indonesia, dan yang kutemukan ya blognya Mbak Isnuansa ini, wehehehe...

Item amat ya gue, tapi complexion wajah gue oke juga yak... 
Girang, sms semuanya huehehehe... Thanks teh botol dari Aji Jayanti.
Anyway, thanks buat Mbak Widik untuk fotonya!

Mental Rebutan

Suatu hari, aku pulang sekolah barengan sama seorang teman, anak fakultas sebelah, yang IPnya di atas  batas cumlaude, intinya dia pinter banget lah. Kami kan sama-sama naik kereta dengan tempat pemberhentian yang sama ya. Seingatku waktu itu masih pagi-pagi sekitar jam setengah sebelas, hehehe pagi-pagi dah pulang.

Kereta saat itu nggak ada tempat duduk kosong, jadilah kami berdiri kan ya. Ngobrol-ngobrol lalalala macem-macem, eh ada seorang bapak-bapak yang kayaknya hendak turun. Trus kayak temenku ini dah nginceng tempat duduk si bapak. Eh sayang sekali, tempat duduknya dipakai orang lain. Trus tampang temenku kayak agak kesel gimana gitu deh. Baru kemudian ada lagi seorang mbak-mbak yang mau turun, berhasil dia dapatkan tempat duduknya. Tampang dia kayak bahagia banget.

Maksudku, itu cuma tempat duduk gitu loh. Toh berdiri di kereta maksimal cuma 25 menit untuk sampai di stasiun tujuan. Toh lagi, dia masih muda even lebih muda dari eike dan juga masih pagi, masak segitunya banget mau duduk sih ah elaaah! Setelah berkali-kali pulang bareng dia, sepertinya sih dia selalu ngarepin tempat duduk gitu, tau ada kosong, langsunggg deh dikejar. Ternyata sekolah nggak jaminan ya.

Sori buat ngebanding-bandingin Indonesia lagi. Tapi seperhatianku ya, waktu naik MTR di Hong Kong, meski banyak yang berdiri trus ada satu tempat duduk kosong, nggak ada yang rebutan gitu. Mau duduk ya duduk aja, nggak ada yang grusah-grusuh kepengen dapetin tempat duduk. Ibu-ibu yang gendong anak pun juga gak ngarepin dikasih tempat duduk, wong ditawarin juga malah ditolak.

Katanya sih karena orang Indonesia itu apa-apa kebiasa dijatah. Jadi sukanya rebutan. Dan ini nggak cuma yang berhak zakat trus ke mesjid bisa ampe rebutan zakat gitu. Di semua lapisan, nggak ngeliat pinter atau enggak, nggak ngeliat statusnya gimana, ya ada aja yang mental rebutan gitu.

Menurutmu gimana? Apa ini termasuk mental inlander?

Pipis di Lantai 100

Mau ke mana lagi, begitu tanya ibuku. Jam empat aku sudah harus balik ke Jakarta, sedangkan saat itu sudah pukul sebelas. Ke Sky 100, jawabku. Setelah itu, kami yang sedang berada di Causeway Bay, segera masuk ke MTR Station dan nantinya turun di halte Kowloon untuk mencapai gedung ICC, gedung kelima tertinggi di dunia, tempat Sky 100 berada.

Sky 100 merupakan observation deck yang dibuka sejak April 2011 untuk umum. Terletak di lantai 100 gedung International Commerce Centre (ICC), di sana kita bisa melihat Hong Kong secara 360 derajat. Terlihat bagian utara Pulau Hong Kong dan bagian dari Kowloon. Tiketnya 150HKD, sekitar 180 ribu tapi kemarin aku dapat diskon jadinya 120HKD. Sebelum masuk ke tempat membeli tiket, ada tampilan di dinding bagaimana dulunya gedung itu dibangun dan fakta-fakta mengenainya. Di tempat beli tiket ada jam yang menunjukkan kapan sunsetnya, kayak seru tuh liat sunset di lantai 100.

Karcis Sky 100
Gedung ICC sendiri paling atas ialah lantai 118. Lantai 102-118 digunakan untuk hotel Ritz-Carlton.  Di lantai 118 ada kolam renang yang katanya terletak paling tinggi sedunia. Ibuku sendiri kalau pas kerja, kantornya di lantai 88. Sky 100 tentu saja di lantai 100. Gedung ICC memiliki ketinggian 484 meter, sedang Sky 100 di ketinggian 393 meter.

Monitor di lift. Tadaaa sampeee!
Ada beberapa lift khusus yang memang langsung menuju Sky 100. Kalau masuk lampunya langsung kelap-kelip, kalau sudah sampai lantai 100 kelap-kelipnya berhenti. Kata ibu, "Kok cepet, kata masnya tadi bilang empat menit. Four minutes." Meh... for a minute kali.

Pas udah sampe, aku mikir, kok cuma liat kota dari atas begini aja mahal amat ya, hahaha... Seru sih bisa liat Hong Kong dari atas. Dan tempatnya oke punya, soalnya nggak cuma kita bisa liat Hong Kong, tapi juga banyak pajangan misalnya mengenai pengetahuan umum Hong Kong, tempat wisatanya, makanannya, lalu ada patung-patung yang kayaknya karakter-karakter maskotnya Sky 100 gitu. Ada teropong juga yang pakai koin. Mau internetan ada free wifi, mau makan ada restoran, kalau mau beli suvenir juga ada tokonya.

Lalalala...
Pengen kumakan eggtart atas tuh patung. 
Kowloon. 
West Kowloon. 
Ada cruise gua gak ya...
Trus, hubungannya sama judulnya apa...
Hm, jadi ibuku kan kebelet pipis, pipis deh di sana. Keluar-keluar ibu bilang, "Oh gini ya rasanya pipis di lantai 100." Jiah... sayangnya aku nggak nyobain, wehehehe!

WCnya biasa ajah... Bagusan di Senci, wkwkwk...
Sementara ini di Jakarta kalau mau ke observation deck macam gini ya paling di Monas, itu aja hari kerja aja antrinyaaaaa... Buset dah. Kalau gedung tertingginya masih Wisma BNI 46 yang kayak pensil tuh, atau mungkin Menara BCA kalau antena si BNI kagak diitung. Kapan Jakarta punya pencakar langit yang tinggiiiiii sekaliiiiii @.@

❤❤❤

Jakarta Nggak Macet, Dulu...

Kemaren, tumben-tumbenan aku ikut jemput ibu di kantor. Kata ibu, jalanan lumayan lega tapi entah kenapa taksi nggak ada. Biasanya ibu pulang naik taksi. Nah, di perjalanan jemput ibu, lewat Casablanca kan, ternyata macet, nggak kayak ibu bilang sebelumnya. Nggak tahu deh kenapa sebelumnya jalanan lowong. Jemput ibu di bilangan Sudirman, baliknya lewat jalan yang sama, macet pol...

Belom setelah terowongan Casablanca, kuburan Menteng Pulo juga macetnya buset. Eike jadi inget-inget jaman dolo waktu masih kecil. Sering banget ikut bapak jemput ibu. Kalau nggak lewat Casablanca ya lewat Gatsu, abis Polda belok kiri... gilak kayaknya nggak pernah deh dolo tuh macet kek sekarang. Yang eike bingung, padahal kan dulu dah ada lagu Komo. Macet lagi, jalanan macet, gara-gara si Komo lewat. Macet di mana tu yak...


Sekarang macet di mana-mana tapi bukan gara-gara Komo lagi kayaknya. Eike pun menguji nostalgia eike sama ibu, kemarin itu.

U: "Bu, keknya jaman dolo aku kecil, jemput ibu lancar jaya deh, gak ada macet-macet."
I: "YAIYALAH, kuwi kan wis 20 taun kepungkur." (Yaiyalah, itu kan 20 taun yang lalu.)
U: "Umurku aja belom segitu Bu, 15 taun kalik." *uhuk*
I: "Podo wae, yaiyalah 15 taun ki wis berubah akeh."
U: "Tapi bener kan ya dulu gak macet di Sudirman?"
I: "Hooh, dulu..."

Eike sendiri kalo liat macet tuh langsung nyut-nyutan. Sekarang sih kalo sekolah, meski jauh, tapi lawan arus sama orang kerja, jadi ya nggak pusing. Kadang kalo lagi gak masuk, pergi ke arah Sudirman, pulangnya sore, langsung deh, migren... macet abesss... Semoga jembatan non-tol Tanah Abang-Kampung Melayu cepat jadi dan bisa ngurangin macet.

Kapan eike keluar dari Jakartaaa @.@

Culinary Shock: Gado-Gado vs Lotek

Waktu hari pertama aku sekolah di Jogja, duluuu... balik sekolah ditawarin mau makan apa. Aku bilang aku mau gado-gado. Tante yang menjemputku pun mengajakku ke tempat jualan gado-gado. Sampai piringnya disajikan ke depan mukaku, ewh kok beda ya. Aku coba, huweeee bedaaaa, ini bukan gado-gadoooo... Karena dulu masih kecil dan nggak paham arti penting makanan, ya akhirnya nggak kuhabiskan.

Sejak itu aku baru tahu kalau gado-gado di Jakarta beda dengan gado-gado di Jogja. Ingatanku kembali ketika sepupuku dari Jogja datang ke rumah ke Jakarta. Dia bilang dia mau beli 'lote' dan yang kubayangin adalah permen karet. Aku udah berniat mau minta beliin aja. Eh ternyata maksud dia lotek itu ialah gado-gado. Berarti istilah lotek di Jogja means gado-gado kalau di Jakarta, tapi sama sekali gak kepikiran kalau gado-gado di Jogja tuh juga beda... wew...

Lotek di Wirogunan, Jogja, lupa nama tempatnya.
Gado-gado Jakarta dan lotek di Jogja hampir sama, ada bayam, tomat, timun, tauge, tahu, tempe dan lain-lainnya dicampur dengan ulekan bumbu kacang langsung dari cobeknya. Di gado-gado, ada pare, labu siam, dan jagung. Kalau di lotek Jogja kadang bisa ditambah bakwan. Kalau gado-gado di Jogja, bumbu kacangnya terpisah, dan nggak diulek dan dicampur saat itu juga. Sayurannya ada selada, kentang, kubis, dan nggak ada bayam, kangkung, dan sayuran hijau lainnya. Jaman kecil sih aku nggak suka gado-gado versi Jogja, jadi ya tukune selalu lotek. Tapi makin gede aku, ya enak juga tuh...

Gado-gado Bumbu Desa, Bekasi
Pernah baca bahwa asal lotek itu dari Jawa Barat, tapi aku malah nggak pernah coba/perhatiin ya apa beda lotek di sana dan di sini. Beli gado-gado atau lotek ini bisa rikues mau pakai kupat/lontong atau enggak. Dan... menurutku, tanpa kerupuk, gado-gado dan lotek ini, rasanya kurang gimanaaa gituuuu...

Ah... jadi kepengen gado-gado.

Semua Berjamur di Jejamuran

Kayaknya emang nggak cocok aku jadi guide. Lagi-lagi ditanya sarapan di Jogja, enaknya makan apa, yo ora ngerti. Di rumah nenek, biasanya sarapan paling gudangan, jenang endhog, endhog ceplok nganggo kecap, liyane mbuh. Nawarin gudeg, aku sendiri nggak pati suka. Naik taksi, pokoke arah Malioboro aja, eh pas tanya-tanya supirnya, ia merekomendasikan Jejamuran. Jaraknya enam kilo dari tempat mereka menginap, Jalan Magelang. Akhirnya, "Jejamuran mau nggak, Mbak?", begitu pertanyaanku kepada mbak-mbak sing ayu kuwi, Mbak Ribut dan Mbak Al. Yowis deh, sarapan og ndadak adoh-adoh enem kilo...

So, itu kedua kalinya aku ke Jejamuran. Yang pertama kali, aku ke sana tanggal 29 Desember 2010, wow masih ingat kan... Rumangsatiku nggak banyak yang berubah dari rumah makannya, yang berbeda cuma kertas menunya aja. Harganya kemungkinan besar juga. Lokasinya di Jalan Magelang KM 10, abis itu belok kanan, di Pandowoharjo, tak jauh dari lokasi Ngayogjazz tahun ini.

Jejamuran...
Sesuai nama tempat makannya, semua makanannya menggunakan jamur. Ada sate jamur, tongseng jamur, rendang jamur, sop jamur, lumpia jamur, jamur goreng tepung, semuanya berjamur. Aku yang makan di sana juga berjamur (baca: panuan dan ketombean, njijiki polll. Ben kan gak dibayar bikin reviunya wkwkwk.) Mbak Alaika memesan rendang jamur, aku pilih sate jamur, Mbak Ribut pilih sop jamur. Aku sendiri pilih sate, karena aku sukaaa ituuu... rasanya kayak sate ayam yang dijual mbak-mbak asal Madura yang seliweran di Kota Jogja gitu, cuma bedanya ya ini jamur.

Anehnya adalah bahwa pesanan yang sampai duluan ialah makanannya, biasanya yang keluar duluan kan minumnya. Pas liat makanannya dateng, ahhh dikit. Nambah kayaknya ini... Sate jamurnya rasanya masih sama kayak dulu, ahahaha, cuma rodo anyep gitu menurutku... rendang jamurnya lumayan enak, tapi nek suruh makan banyak aku nggak kuat, pedes banget menurutku. Sop jamurnya... lali, aku nyicipi gak sih, mbuh...

Difoto sik...
Yang kanan ombenanku, mayan enak, Geronimo judulnya kalau gak salah. 
Satenya, bumbu kacangnya diblender yak...
Overall, lumayan enak. Harganya juga nggak gitu-gitu mahal, standar. Tempatnya bersih, WCnya juga bersih. Di halaman tengah sebelum sampai ke hall tempat makan yang belakang berjejer-jejer media yang ditumbuhi banyak jenis jamur. Dipajang gitu. Jenis jamur yang ada di situ ialah yang digunakan untuk bahan masakan di sana. Jenis jamurnya ada jamur tiram, jamur shitake, jamur kuping, jamur merang, dan lain-lainnya.

Coba tebak di bawah ini jamur apaan aja...

Dag, jamur... 
Hiiii...
Eiya, kan kita duduk tuh ya... Di seberang meja kami ada sepasang wanita dan pria gitu kan. Prianya mengarah ke meja kami, sebaliknya si wanita. Si Mbak Ribut entah kenapa ngeliatin si pria mulu... eh beberapa saat kemudian, mereka tukaran tempat, hahahaha... jadi si wanita yang mengarah ke meja kami. Ceweknya insecure kali cowoknya diliatin Mbak Ribut muluk *ditoyor Mbak Ribut

Mereka udah tukeran tempat...
Suka jamur?

❤❤❤