Konspirasi Alam Semesta

Aku lagi nonton televisi di common area tempat aku menginap di Taipei. Seingatku, saat itu aku nonton Channel News Asia dan berita saat itu ada hubungannya tentang sepeda.

Om-om dari Kanada yang pernah sekamar denganku (minggu pertama beliau tidur di bawah bed-ku, minggu selanjutnya aku pindah female room), lewat dan menyapaku. Dia sudah hampir membuka pintu kamarnya tapi terhenti melihat televisi.

"Kamu tahu? Beberapa turis yang menginap di sini ada lho yang naik sepeda. Mereka keliling Taiwan, bersepeda, bahkan ada yang datang juga dari Cina Daratan. Kamu lihat kan di lobi, ada sepeda di atas resepsionis? Katanya itu punya salah satu tamu di sini."

"Hu um?"

"Engga, aku hanya tetiba terpikir itu dan kok beritanya sedang tentang sepeda. Mungkin bagian dari konspirasi,” lanjut beliau dan kemudian benar-benar membuka pintu dan masuk kamar.

Hah? Otakku nggak mampu mencerna perkataan random si om peneliti bidang farmakologi itu. Pas aja kan dia lagi kepikiran sepeda, eh berita kok muncul tentang sepeda. Bagian konspirasi mananya? Tapi sih ya… memang alam semesta berkonspirasi sih kalau kita mikir sesuatu.

Aku paling sebel kalau gini…

Nyinyir-Menyinyir

nyinyir/nyi·nyir/ a mengulang-ulang perintah atau permintaan; nyenyeh; cerewet: nenekku kadang-kadang -- , bosan aku mendengarkannya;

Masa terus bergulir, semua hal berubah, berevolusi, berkonversi. Yang dulu pernah ada sekarang tiada, yang dulu tiada sekarang teramat sohor. Ngomong apaan sih gue.

Ya intinya semua berubah seiring waktu, warna rambutmu, penampilanmu, kondisi negaramu, tak terkecuali penggunaan kata-katamu, kata-kata kita. Mungkin dulu kata ‘ogut’ sering digunakan para anak gawl Jakarta, tapi sekarang tak pernah dengar lagi tuh. Seperti pula, lima tahun lalu sepertinya aku belum pernah mendengar orang bilang ‘baper’, yang sekarang, andai percakapan lisan ada daftar trending topic-nya, ‘baper’ dah tuh salah satunya.

Juga… kata ‘nyinyir’.

Mungkin 10 tahun lalu, aku sudah tahu ada kata nyinyir dalam perbendaharaan kata Bahasa Indonesia, tapi mendengarnya jarang-jarang. Tapi tidak untuk hari-hari ini. Rasanya kalau buka linimasa jejaring sosial, scroll scroll, biasanya nemu kata nyinyir. Kalau nguping orang ngomongin orang pun, suka mendengar terselip kata ‘nyinyir’ dalam kalimat.

Tadinya aku nggak mengerti betul apa arti kata 'nyinyir'. Tapi imej dalam otakku tuh kayak begini.

Syok Harga (Pembalut)

Syok harga yang gue maksud bukan terjemahan betulan dari price shock, yang kita tahu adalah harga yang ujug-ujug berubah karena ada kondisi tertentu. Syok harga yang gue maksud… maksudnya ya gue syok sama harga-harga!

Jadi gini… yah maklum, karena mental masih mental miskin, waktu tiba di Jepang lima bulan lalu, aku merasa semuanya mahal banget di sana. Kayak misalnya, paket burger L***otteria yang harganya di atas 100.000, ongkos buka pintu taksi sekitar 60.000, atau tiket masuk museum kecil aja 70.000. Semua mahal!

Secara keseluruhan memang harga barang-barang di Jepang jauh lebih mahal dari di Indonesia, tapi tentu saja ada yang lebih murah, seperti, barang toko 100 yen, cat rambut, dan Kitkat Green Tea *pastinya* Seorang teman bercerita, saat ia tinggal di Jepang selama dua bulan, ia bawa persediaan pembalut wanita dari Indonesia, soalnya mahal. Saat mendekati waktu mens, aku pun mencari pembalut di drugstore, ternyata ada juga tuh pembalut 240 yen (± 26000) sebungkus isi 14. Nggak mahal-mahal banget kan? Temanku lebay~~~ tapi memang yang lebih mahal juga banyak.

Setelah visa Jepangku habis, aku cabut ke Korea. Harga-harga di Korea Selatan secara garis besar lebih murah daripada di Jepang. Dari segi penginapan misalnya, sangat mudah menemukan dorm bed kisaran 10.000 won (± 120.000), layanan laundry di hostel sangat murah, mulai gratis sampai 2.000 won (± 24.000), ongkos naik subway pun setengahnya Jepang. Makanan, tiket masuk museum, kosmetik apalagi, lebih murah di Korea deh. Yang mahal tuh… pembalut!

LINE FRIENDS Cafe & Store Seoul

Via LINE Messenger, my friend messaged me that I should pay a visit to Line Friends Store in Gangnam, Seoul. I didn't know about this Line Store before and I guessed yeah... should visit lah since I love cute stuffs and Line characters.

When I was in Korea, it was chuseok days, one of biggest Korean holiday. Thailand girl who was staying in the same room with me also planned to visit Line Store, but unluckily, the store was closed that day. I went to Gangnam Area on the next day, and the store was open... hm but wait, what line is that? Need to queue or what to enter the store?

They were queueing...