Yuk, Tengok Bandara di Dalat, Vietnam!

Bikin judul postingannya nggak gue banget, tapi biarin deh, hehehe.

Tiba-tiba, aku pengen jalan-jalan ke Vietnam lagi, soalnya waktu itu kayak bentar banget, nggak berasa. Well padahal sembilan hari lho aku di sana.

Niat awalnya, aku sama temanku Bellita mau menyusuri Vietnam dari selatan sampai utara menggunakan jalan darat. Pengennya setelah dari Kamboja, kita ke Ho Chi Minh City (HCMC) lalu menggunakan bus, menclok-menclok di beberapa kota, lalu sampai di tujuan akhir di Hanoi.

Dari HCMC, kita naik bus Sinh Tourist menuju kota Dalat. Kalau kamu suka sejarah, Dalat sering disebut-sebut pas bab menjelang kemerdekaan Indonesia. Waktu itu, Soekarno, Hatta, dan Radjiman Wedyodiningrat, ketua BPUPKI, terbang ke Dalat untuk bertemu Marsekal Terauchi dari Jepang.

Kota Dalat punya julukan yaitu Paris of Vietnam. Aku masih nggak ngerti mana miripnya sama Paris kecuali Dalat punya menara telekomunikasi yang seperti replika Menara Eiffel. Dalat ini sejuk, kalau malam-malam dingin banget, karena letaknya di pegunungan. Cantik juga, apalagi kalau pas bunga-bunga lagi mekar.

Untuk menuju Dalat, ada sekitar 300 km jalan yang harus disusuri. Tebak berapa jam bus kita butuh waktu sampai ke Dalat?

Yang Bisa Kamu Lakukan di Hukumpedia

Aku punya seorang teman blogger. Namanya Sofia Zhanzabila. Aku mengenalnya waktu kami pergi bersama ke Macau. Yang aku tahu dia berlatarbelakang sebagai mahasiswi pertanian di IPB, menyukai film India dan negara Turki, dan suka menulis. Dari blognya, sepertinya dia punya proyek untuk menulis novel.

Dua hari lalu, aku posting tentang hukum, Sofi memberi komen, "Eh aku pembaca setia hukum online lho Una... Lantaran novel yang lagi aku edit sekarang ada nyerempet-nyerempet ke hukum juga."

Menarik sekali karena portal berita hukum, selain para pengguna bisa mengakses berita, bisa juga buat riset bikin novel. Wihhh! By the way, buat Sofi, mungkin Sofi bisa posting tulisan di Hukumpedia, layanan user generated content-nya Hukum Online.


Mengirim Kartu Pos dari Macau

Sebelum aku berangkat ke Macau, ada beberapa teman yang minta dikirimi kartu pos. Seingatku ada delapan atau sembilan orang. Aku mah senang-senang saja mengirim kartu pos tapi rupanya menulis delapan kartu pos itu lelah juga ya. Apalagi aku bukan tipe-tipe yang nulisnya pendek kalau kirim kartu pos. Bisa kali nulis satu postingan blog di kartu pos. Nggak deng.

Membeli kartu pos di Macau relatif mudah apalagi di sana banyak ditemukan toko suvenir. Kartu pos biasa di Macau harganya sekitar 3-5 MOP atau 4700-8000 rupiah, tapi bisa juga ditemukan yang premium atau yang memang ambil markup tinggi (overpriced). Karena aku masih mahasiswi, ya aku belinya yang murah-murah saja.

Nggak ada hubungannya sama masih mahasiswi deng, hubungannya sama pelit dan duitnya dikit aja sih.

Aku membeli kartu pos di toko suvenir dekat Ruins of St. Paul’s. Tak jauh dari situ sebenarnya ada kantor pos besar tapi karena waktu itu sudah sore pasti sudah tutup. Dan lagian masih ada delapan kartu pos yang harus aku tulisi alamat dan pesan.

Karena waktu itu menginap di Cotai Strip, yang mana isinya resort-resort mewah semua, di mana nggak ada convenience store dan supermarket, aku nggak yakin ada kotak pos di daerah itu. Jadi aku mikir mungkin aku kirimnya dari Hong Kong International Airport (HKIA) aja lah ya. Kalau nggak bisa kirim pos, ya udah dari Jakarta aja hahaha tapi nggak asik banget.

Misteri Eek Kucing

Catatan: postingan diari ini bersifat menjijikkan karena bahas-bahas eek.

Salah satu risiko memelihara kucing adalah harus rajin membersihkan eeknya dari bak pasir. Kucing peliharaan nggak perlu dikasih tahu, juga tahu di mana toilet mereka. Sayangnya tetep aja suka ada kecelakaan mereka pipis dan eek nggak di bak pasir. Alias sembarangan.

Dulu aku tidak terlalu mengkhawatirkan ini. Sekalinya kucingku si Adele pipis sembarangan adalah waktu dia sakit panas. Tetiba dengan santainya duduk di kasur ibuku dan pipis deh. Waktu itu maklum lah wong sakit. Abis itu hampir nggak ada kejadian pipis dan eek sembarangan lagi sampai beberapa bulan lalu.

Misal nih orang rumah pada lagi di lantai bawah semua, ntar tahu-tahu pas ke atas, salah satu kamar dieekin. Sepertinya kamar tidur di rumahku sudah pernah dipipisin dan dieekin kucing-kucingku. Yang parah sih kasur baruku yang baru beberapa minggu udah dipipisin ajaaa. Jadinya sekarang kalau ke luar kamar, pintu selalu ditutup. Meski agak susah buatku soalnya jarang nutup pintu, pake baju juga jarang nutup pintu… ekshibisionis.

Punggung Foxy lagi tidur.

Mampir Ke Hotel Milik Jackie Chan

Saat MGTO 3rd FamTrip, ada jadwal untuk makan siang di Grand Emperor Hotel. Aku ingat sekali hotel ini karena letaknya dekat dengan penginapanku saat aku ke Macau pertama kali, dan aku turun dari shuttle bus persis di depan hotel ini pas abis dari bandara. Baru di kesempatan keduaku ke Macau, aku bisa masuk ke hotel bergaya Kerajaan Inggris ini.

Pak Alan, guide kami di Macau menceritakan bahwa salah satu pemegang minoritas saham Grand Emperor Hotel adalah Jackie Chan. Lanjut cerita Pak Alan, di hotel tersebut sebenarnya ada kamar ‘Jackie Chan’ yang dulunya dapat dikunjungi pengunjung umum. Akan tetapi, sekarang sudah ditutup.

Belum masuk pun, Grand Emperor Hotel sudah membuat terkesima. Di luarnya terdapat dua kereta kencana ala ala Kerajaan Inggris yang kayak ngajak foto bareng. Nggak cuma itu, ada dua ‘penjaga istana’ atau Queen’s Guard lengkap dengan seragamnya yang menjaga Grand Emperor Hotel. Mereka juga foto bareng-able banget.


Apa yang Terngiang Saat Mendengar Kata 'Hukum'?

Apa yang pertama kali kamu pikirkan saat mendengar kata hukum?

Kalau aku, yang terbayang adalah ruang sidang, dengan berbaris bangku kayu panjang untuk para penonton, mimbar tengah untuk para terdakwa dan saksi, dan meja samping kiri, kanan, dan depan untuk hakim, penuntut, pengacara, dan terdakwa. Trus suasanya mencekam, menakutkan. Yah, kepikirannya itu deh. Padahal itu kan cuma seuprit dari yang namanya hukum.

Hukum yang sebenarnya kan ada di mana-mana, di segala kegiatan sehari-hari, dan nggak semuanya menakutkan. Mas Anggara, Community Manager HukumOnline, menjelaskan bahwa peristiwa semacam membuang sampah sembarangan atau naik motor di trotoar adalah aktivitas sederhana yang terkait dengan hukum. Kebetulan dua contoh tadi pelanggaran hukum juga.

Manusia, dari lahir sampai setelah mati pun berurusan dengan hukum. Baru lahir, harus membuat akta lahir dan setelah mati, soal waris pun harus diselesaikan secara hukum. Mungkin kalau teman-teman blogger, masalah copy paste artikel dan foto juga ada urusannya dengan hukum kan? Jadi ya sebenarnya… hukum itu seperti sahabat dalam kehidupan kita, di mana-mana selalu ada.

Pasang foto nggak pakai sumber tanpa melanggar hukum nih hihihi XD Karena licensenya Public Domain, no need attribution.

3rd Time to Tanaya

Perdana aku liburan berdua sama adikku ya dua tahun lalu, waktu itu kita ke Bali. Belum lama ini aku juga liburan yang hanya berdua sama adikku…… ke Bali juga.

Adikku kan tinggal di Jogja dan aku di Jakarta, jadinya kita berangkatnya nggak bareng. Jadwal sampainya pun aku sengaja pilih biar nggak perlu nunggu-nungguan lama. Trus dari berangkat sampai tiba di Bali kita kirim-kirim chat bohong.

Kan flight berangkat adikku jam setengah sembilan, trus dia jam setengah delapan kirim chat aku: “Baru bangun tidur.” Padahal di Path udah check in di Adisucipto.

Aku juga. Kan pesawatku baru tiba trus aku lihat ada kiriman chat kalau dia sudah sampai. Aku membalas, “Sik, masih di ketinggian 30 ribu kaki nih.” Yang jelas enggak mungkin banget.

Trus dia bales lagi, “Aku di Starbucks.”

Aku jalan ke arah keluar kedatangan, sambil foto-foto karena kagum bandaranya makin bagus. Eh di dekat conveyor belt, aku lihat adikku cengar-cengir. Bohong dia di Starbucks, wong paling nggak punya duit. Trus pas ketemu malah ketawa-ketawa berdua tanpa kata, hahaha…

Nggak jelas.

3 Tips Sehat Sampai Tua Dari Bunda Yati Rachmat

Salah satu hobiku adalah mengobrol dengan orang tua. Makanya, aku senang banget tuh ngewawancarai anggota keluargaku yang sudah sepuh-sepuh. Apalagi kalau soal topik cinta-cintaan. Suka penasaran gitu, siapa cinta pertamanya simbah-simbahku. Trus aku tuh seneng denger orang tua cerita gitu, dulunya gimana, atau cerita kejadian menarik apa, seru lah. Kalau denger cerita temen galau aku nggak seneng-seneng amat.

Dosen pun aku senang kalau dapat dosen tua. Meski sebagian kalau menjelaskan teori, cenderung membosankan, mereka suka cerita-cerita pengalaman hidup mereka dan menurutku asik banget. Aku seneng belajar dari orang-orang tua. 

Makanya, waktu acara mini seminar Hypnotic Writing Viral bersama Reza Gardino, Fun Blogging, dan Excite Indonesia, saat aku lihat ada Bunda Yati Rachmat, aku langsung terpikir… ah tanya-tanya ah!

Bunda Yati Rachmat. Kuambil tanpa izin.

How to Turn Your e-Trash with iSiaga ECOCASH

Belum lama ini aku posting tentang peluncuran fitur baru iSiaga yaitu ECOCASH, di mana para pengguna bisa menjual barang elektronik bekasnya baik masih nyala maupun rusak. Bahkan barangnya dijemput ke rumah oleh pihak iSiaga, jadi kita ngga repot.

Nah kali ini, aku mau menunjukkan bagaimana cara menggunakan fitur iSiaga ECOCASH ini.

Aku menjual ponselku Samsung Star yang udah usang banget. Aku membeli ponsel ini lima tahun lalu dan kepengen banget gara-gara nonton drama Korea dan para pemerannya punya ponsel touch screen. Wakktu itu aku menganggap ponsel Star-ku ini lumayan canggih. Sekarang? Setelah pakai Samsung S4, Samsung Star mah apa atuh, cuma butiran debu... kayak pembalut tebal tanpa sayap lah, ngga enak banget dipakenya!

My beloved Samsung Star.
Selain Samsung Star, tadinya aku mau menjual DVD playerku juga yang sudah mati, tapi kok tidak ada di list, jadi kuurungkan niatku. Padahal bisa aja ya, minta tolong buangin, hahaha sekalian. Abis menuh-menuhin rumah banget rasanya.

Oke lah back to Macbook Pro layar retina. *kayak punya aja*

Setelah aku coba, rupanya menjual barang elektronik bekas di iSiaga sangatlah mudah. Yang pertama harus dilakukan adalah membuka halaman iSiaga.com dan di halaman utama terdapat menu Recycle yang berwarna hijau. Kenapa ya Recycle identik dengan hijau?

Menunya ada di paling kanan.

Selanjutnya akan muncul halaman seperti di bawah ini yang mana terdapat pula beberapa subhalaman. Di salah satu subhalaman terdapat gambar beberapa barang elektronik yang bisa dijual. Kemudian ada ikon Start Recycling, klik deh.



Dan voila, maka keluar form yang berisi jenis barang elektronik yang dijual. Tinggal di check list barang apa yang akan dijual, nyala atau rusak, dan atur berapa jumlahnya. Aku menjual satu barang saja yaitu ponsel GSM dengan kondisi barang not working. Dengan iSiaga, ponselku dinilai Rp 50.000.



Jika teman-teman menjual lebih dari satu barang, bisa diatur di sebelah kanan atas. Selain itu, muncul ringkasan dan berapa total harga barang 'jualan' teman-teman. Setelah klik SUBMIT akan muncul isian Nama, Alamat, No. HP dan pilihan apakah hasil penjualan akan dikirim ke rekening atau disumbangkan ke Yayasan Cinta Anak Bangsa. Isi dengan lengkap, lalu klik CALL ME BACK. Pihak iSiaga akan segera menghubungi teman-teman.


Aku sendiri melakukan transaksi tanggal 2 April 2015 sekitar jam setengah delapan pagi. Aku memilih untuk menerima hasil penjualan (tidak menyumbangkan) karena aku penasaran berapa hari iSiaga butuhkan untuk menransfer uangnya, hehehe. Jam 12 pihak iSiaga meneleponku tapi tidak kuangkat karena sedang mandi. *penting* Akhirnya aku telepon balik dan pihak iSiaga menanyakanku kapan bisa barangnya dijemput, dan terjadi kesepakatan iSiaga akan datang sekitar jam dua siang ke rumahku.

Setengah tiga, Mas Cepi dari iSiaga datang ke rumah untuk mengambil Samsung Star-ku. Beliau mengecek kondisinya dan memberiku tanda terima. Mas Cepi juga minta foto bareng sama aku hahaha harusnya harganya ditambahin tuh minta fotoku segala.

Tanggal 5 April aku mendapat notifikasi e-mail bahwa transaksi sudah difinalisasi dan pembayaran akan dilakukan maksimum 3-7 hari kerja. Tanggal 10 April aku mendapat e-mail lagi kalau pembayaran sudah dilakukan. Wah tepat waktu iSiaga!

Nahhh, begitulah pengalaman pertamaku menjual barang elektronik bekas via iSiaga. Mudah kaaan?

Teman-teman punya barang elektronik yang udah usaaaaang tapi masih utuh? Boleh tuh jual di iSiaga! Bahkan bisa sambil beramal juga dengan menyumbangkan hasil penjualan ke Yayasan Cinta Anak Bangsa lhooo... ^^

My Travel (Most) Essential

Belum lama ini, seorang teman blogger, Mbak Myra Anastasia (dua menit mengingat namanya, karena ingatnya Mbak Keke Naima, hahaha) mengadakan giveaways di blognya mengenai barang yang wajib dibawa saat bepergian. Waktu itu, rasanya pengen ikut… tapi kok sepertinya tidak ada banget wajib dibawa banget, selain uang, ponsel, dan kamera tentunya. Jadinya nggak ikut deh.

Sempat kepikiran bantal leher… tapi rupanya bantal leher tidak selalu berfungsi. Karena pernah suatu ketika jalan darat dengan kondisi jalanan yang grenjel-grenjel, tapi bisa tidur nyenyak akibat pakai bantal leher tapi suatu saat yang berbeda, bantal leher ngga bisa bikin aku tidur di tujuh jam penerbangan + kursi ekonomi. Barang lainnya… ngga kepikiran.

Tapi tetiba aku ingat satu barang yang kalau aku bawa, yang sebenarnya nggak wajib-wajib amat, tapi kehadirannya sangat berguna sekali untukku. Kalau tidak aku bawa, tidak masalah karena pasti banyak dijual tapiii tidak akan mudah menemukan yang se-cute ini, hehehe… cobaaa…

Yaituuu…

Tipping Culture di Indonesia

Seorang teman mama dari Argentina bercerita bagaimana urusan tip-pertipan di berbagai negara dan menurutnya yang paling menyebalkan adalah di Amerika Serikat. Ketika booking sebuah tur via internet pun ada kolom mau kasih tip berapa. Ketika cuma minta tolong pegawai hotel untuk memanggilkan taksi saja harus kasih satu-dua dolar. Segalanya harus kasih tip dan jangan sampai kurang.

Kemudian dia pun bertanya bagaimana budaya tip di Indonesia. Mamaku pun menjawab bahwa pada dasarnya di Indonesia tidak ada kewajiban untuk memberi tip, tapi kalau mau kasih ya tidak apa-apa. Dan jumlahnya terserah, nggak pakai aturan misalnya, tip harus berapa persen dari total harga. Bahkan juga ada banyak tempat toh yang melarang memberi tip.

Well, kalau aku yang ditanya… jujur saja aku nggak tahu dan nggak yakin.

Setelah kuperhatikan dan kuingat-ingat, aku jarang memberi tip. Kalau makan di restoran, kalau misalnya di bill-nya sudah ada service fee ya nggak tak tambahin, tapi kalau nggak ada pun juga nggak selalu ngasih tip. Paling goceng-ceban. Pelit. Sektor lain mungkin hmmm… taksi pertaksian! Kalau misal argo menunjukkan angka 32.500 ya dikasih 35.000, sekadar pembulatan, tapi itu pun juga nggak banyak kasihnya.

Atau lagi mungkin sektor perojekan. Kan aku pakai aplikasi order ojek itu ya, kan waktu booking udah ketahuan tarifnya, tapi di akhir aku suka nambahin kalau tukang ojeknya ramah, helmnya ngga bau, atau nyetirnya nggak reckless. Sama paling salon. Kalau potong rambut, manicure pedicure, atau creambath di salon ya suka kasih tip dikit.

Itu doang kayaknya.

Aku bertanya kepada teman kampusku, bagaimana menurut dia budaya tip di Indonesia. Dia bercerita katanya ayahnya selaluuu kasih tip. Alasannya, upah minimum di sini itu kecil sekali, jadi pasti tip itu membantu sekali. Setelah kuperhatikan, banyak temanku yang lain yang ngasih tip banyak untuk supir taksi, ada yang kasih ke staf cleaning service WC mal (aku belum pernah kalo ini), ada juga yang selalu itung berapa dia harus kasih tip tiap terima bill makan di restoran.

Hmmmpht…

Lalu, apakah pegawai atau pemberi jasa yang kita gunakan itu mengharapkan tip?

Dengan perasaanku (tidak cocok jadi peneliti banget lah gue pakenya perasaan), aku bisa merasakan bahwa sebagian mereka memang mengharapkan tip tapi banyak juga yang tidak.

Ada supir ojek yang aku order via aplikasi dan aku tambahi tip dia malah bingung, dan bertanya, “Ini apa Mbak?” Dalem atiku aku mau bilang, “Itu DUIT.” Wkwkwk… Ada juga yang mencari kerja, dengan pertimbangan meski gajinya tidak besar tapi tipnya besar. Ini berarti mengharapkan kan?

Aku tidak tahu bagaimana kalau pekerja di bidang perhotelan dan pariwisata gitu. Apalagi kayak di Bali gitu. Mengharapkan ngga? Kalau ngga dikasih gimana? Penasaran

Tapi sih kesimpulanku…
Budaya tip di Indonesia itu tidak ada… opsional lah...
Kalau mau kasih ya silakan…
Jumlahnya berapa ya terserah..
Jadi intinya budaya tip di Indonesia itu bebas dan terserah XD XD

Eh tapi gitu ngga sih? Monggo di-share pendapat kalian dan sebenarnya gimana tipping culture di sini. Share tipping culture di negara tempat kalian tinggal juga monggooo…

Musholla di Hong Kong Airport

Ibu Ningsih, PR & Communication Manager Macau Government Tourist Office (MGTO) Indonesia berbagi cerita kalau ia suka sekali dengan tempat shalat di Hong Kong International Airport (HKIA). Katanya luas, bersih, dan nyaman untuk leyeh-leyeh.

Aku pun penasaran dengan musholla di HKIA. Waktu itu, aku dan peserta MGTO 3rd Fam Trip lain tiba di HKIA untuk pulang ke Indonesia. Kami harus menunggu sekitar tiga jam untuk jadwal penerbangan ke Cengkareng. Karena waktu lumayan panjang, kami pun berpisah. Setelah bertanya bagian informasi di mana lokasi tempat shalatnya, aku pun jalan-jalan sendiri liat toko-toko di HKIA.

Setelah lapar, akhirnya aku ke foodcourt dan bertemu dua teman sesama peserta Fam Trip dan blogger, Zahra Rabbiradlia dan Puput Utami. Usai mengisi lambung dengan makanan cepat saji, kami pun menuju tempat shalat HKIA.

Letaknya di dekat Gate 42, begitu aku mengingat jawaban mbak-mbak informasi. Kami turun satu lantai untuk naik Automated People Mover (APM), kereta tanpa supir yang berfungsi buat membawa penumpang antargedung. Kemudian jalan lah kami sebentar sampai tempat shalat.

Dan kemudian aku sadar…

Ngapain naik APM, wong ternyata cuma lurus doang dan nggak begitu jauh dari foodcourt, tempat awal kami tadi, zzz.

Bagian depan prayer room.