Meet The Federico Mahora

Meski sudah paham bahwa diriku ini nggak berbau badan *plak*, sehari-harinya aku selalu semprot-semprot parfum atau oles cologne ke badan atau ke baju. Masalahnya adalah, tiap beli atau dibeliin wewangian badan baik yang sangat ekonomis sampai yang mahal sekalipun (tujuh digit lah), belum ada separuh pakai sudah bosan, kakak! Jadinya ya beli lagi atau make punya mama.

Kalau urusan wewangian, aku paling suka yang sweet-sweet gitchu. Sesuai ya sama orangnya? Aku suka parfum aroma vanilla, suka banget sama parfum melati yang 'murah' itu, cologne yang terakhir aku pakai pun baunya seperti bedak bayi, soft. Kalau bau rempah dan kayu-kayuan aku kurang suka sih. 

Sudah lebih dari tiga minggu ini (dan belum bosan) aku pakainya Federico Mahora. Tepatnya FM 354. Aku suka baunya meski bukan yang sweet banget gitu sih. Tapi aku ngerasanya ada sweet-nya tapi juga fresh dan sexy =)) Menurut situsnya Femmaa, salah satu distributor Federico Mahora ini, FM 354 ini memiliki aroma menenangkan yang berasal dari mawar, bunga kapas, cyclamen, dan bunga iris.

Komplain

Mama saya selalu ngasih tahu untuk tidak mengeluh. Jadi saya berusaha sebisa mungkin untuk tidak mengeluh tentang hidup dan sampai sebel sama orang-orang yang nulis status isinya mengeluh... mulu. Tapi sempat waktu masih muda, saya bingung.

"Kalau misal dapat pelayanan yang buruk lalu kita komplain, bagaimana? Apa itu buruk?"

Jawaban mama waktu itu intinya kalau misalnya kita mengeluh karena dirugikan pihak lain misalnya akibat pelayanan yang buruk itu malah harus dikomplain! Karena itu kan bakal jadi masukan dia juga supaya ke depannya menjadi lebih baik.

Sampai sekarang kalau kecewa karena sebuah produk atau pelayanannya, saya pasti komplain entah lewat telepon atau e-mail. Setelah itu baru deh di media sosial. Seingatku pernah komplain mulai dari bank, penerbangan, sampai di restoran. Rata-rata lumayan lah pelayanan terhadap keluhannya, kalau die-mail pasti membalas dan kalau ditelepon pasti membantu. Meski ada yang tidak diganti kerugianku sih (yang tidak seberapa) tapi ditanggapi keluhannya pun sudah bagus banget.

Hello Kitty Punya Rumah Baru Lho! (+ Giveaway)

Sebenarnya bukan 'rumah' sih. Lebih ke laboratorium.

Pergi ke rumah Hello Kitty di Sanrio Puroland, Jepang masuk dalam salah satu daftar impianku. Sayang, sekarang belum terwujud mimpi itu. Meski begitu, aku kemarin berkesempatan mampir ke rumah Hello Kitty yang ada di Jakarta Utara, alias di Dunia Fantasi Taman Impian Jaya Ancol.

Terima kasih kepada Blogger Reporter Indonesia yang memberikan kesempatan pada membernya datang ke acara Grand Launching wahana baru Dufan, Hello Kitty Adventure. Aku sangat excited karena yes aku salah satu penggemar Hello Kitty. Sangar muka gini sukanya Hello Kitty! Bukan penggemar berat sih tapi tempat minum, payung, bahkan cologne-ku Hello Kitty. ❤ Dan aku abis beli snek dan prune hanya gara-gara packagingnya gambar Hello Kitty! *pemborosan* Saking sukanya, rasanya ingin mengubah namaku di semua media sosial menjadi Kitty Rasuna. Oke. Stop.

Maka hari Jumat lalu (12/12) aku berangkat ke Ancol menggunakan angkutan umum. Sudah menyediakan waktu lebih dari 90 menit dan rupanya masih telat juga 15 menit karena macet. Tapi ternyata acara belum dimulai karena diawali dahulu dengan makan siang.


Mencuci Serasa Pakai Magic!

Judulnya lebay ya? Memang… tapi aku terpukau sama hasil produk sabun cuci satu ini.

Kalau dihitung, mungkin aku menggunakan deterjen hanya lima persen dari 365 hari setahun. Aku jarang mencuci, kecuali pada saat mbak rumahku pulang kampung atau tembus akibat tamu bulanan. Makanya aku ngga terlalu aware dengan perbedaan sabun cuci satu sama lainnya. Rumahku juga bukan konsumen loyal satu merek sabun cuci maupun pelembut, namun aku ingat aku suka dua merek pelembut pakaian. Baunya agak kuat, tapi aku suka sekali.

Tiga minggu yang lalu, aku bersama tiga temanku pergi ke IKEA. Di perjalanan entah bagaimana awalnya kok jadi membahasmesin cuci dan merek-merek deterjen. Waktu itu aku baru tahu kalau ada produk sabun cuci khusus mesin cuci bukaan atas atau bukaan depan. Nggak ngerti aja, kenapa bisa sabunnya beda gitu. Temanku Kartika menjelaskan, tapi aku tetep nggak nangkep.

Ada Macet di Macau! (Day 4)

Hari keempat (28/11) adalah jadwal kami pulang. Jam setengah 10 kami harus ke Macau Ferry Terminal. Zahra dan Sofi ingin sekali melihat A-Ma Temple karena merupakan asal mula Portugis menyebut daratan tersebut adalah Macau. Kami janjian jam 06.30 sudah sarapan. Tapi kenyataannya aku baru bangun jam 06.29, morning call bangun cuma tidur lagi, hahaha. Karena kebetulan aku masih kenyang dari Gosto, makan pada malam sebelumnya, sarapanku cuma dua piring hari itu. *cumaaa?* Jadinya tak lama dan kemudian kami cabut ke seberang hotel.

Kami naik bus nomor 21 ke arah A-Ma Temple. Karena masih pagi jam orang berangkat sekolah dan kerja, bus ramai, dan selalu berhenti di setiap halte. Sampai A-Ma Temple, kami langsung foto-foto. Aku aslinya ingin membeli kertas merah yang bisa dituliskan doa lalu digantung di luar kuil. Tapi karena kepagian, tokonya belum buka. Oh ya, aku tidak tahu kalau pemandangan di atas A-Ma Temple sangat bagus (Ibu Ningsih memberitahuku kemudian), kalau tahu aku pasti naik tangga yang ada di A-Ma Temple itu.

Aw, Aku Terpukau di Macau! (Day 3)

Free Time

Di hari ketiga, kami diberi waktu bebas untuk menikmati Macau. Mengetahui waktunya dari pagi sampai jam setengah satu siang, aku sengaja makan pagi di waktu restorannya buka, alias jam 06.30. Tidak benar-benar tepat jam segitu sih, tapi jam tujuh lebih sedikit aku sudah selesai makan. Eh kok ya teringat, tempat yang ingin kukunjungi baru buka jam 10 pagi. Jadi aku leyeh-leyeh dulu beberapa jam di kamar hotel.

Jam sembilan aku turun kemudian mencari halte bus yang sudah aku cari sebelumnya di Google Maps. Haltenya tidak persis di seberang hotel tapi harus jalan dulu ke arah selatan... jalan... jalan... kok tidak ketemu ya! Waduh! Mana hapeku nggak nyala pula, nggak bisa browsing. Ya sudah akhirnya dalam hati kuputuskan jalan kaki ke arah selatan saja, kalau menemukan halte baru berhenti, kalau tidak ketemu juga gampang lah tinggal naik taksi. Don't like people difficult deh, begitu aku berkata kepada diriku sendiri.

Dari Panda Sampai India (Day 2)

Berkunjung ke Macao Giant Panda Pavilion adalah jadwal pertama kami di hari kedua (26/11) FamTrip ini. Aku sangat excited datang ke sini karena belum pernah melihat langsung panda sebelumnya. Panda Pavilion ini bisa dibilang seperti kebun binatang yang kecil. Meski hewan utamanya adalah panda, namun juga ada hewan lain seperti flamingo dan berbagai jenis burung eksotis.

Panda Pavilion merupakan rumah bagi dua panda bernama Kai Kai (jantan) dan Xin Xin (betina). Dua panda tersebut merupakan hadiah dari Presiden Tiongkok saat itu, Hu-Jin Tao dalam rangka perayaan 10 tahun kembalinya Macau ke Tiongkok. Kai Kai dan Xin Xin tiba di Macau pada akhir tahun 2010, saat umur mereka sekitar dua tahun. Sayangnya bulan Juni tahun ini, Xin Xin meninggal akibat gagal ginjal. Menjadikan Kai Kai sendirian di Panda Pavilion. Ada yang berminat menemani?

Tiketnya hanya 10 MOP (sekitar 16.000 rupiah), bahkan kalau Anda berumur di bawah 12 tahun atau di atas 65 tahun gratis. Pakai 'Anda' segala, ya kali aja pembaca blog ini ada yang masih kecil atau lansia,
hehehe!

Macau, Here We Come! (Day 1)

Suatu hari ketika sedang di gym, entah kenapa aku ingin sekali membuka telepon genggamku. Jadilah, aku berhenti berjalan di atas treadmill lalu menuju loker tempat menyimpan barangku. Melihat-lihat media sosial Twitter, aku melihat VIVALog bercuit link artikel berjudul: "Inilah 3 Finalis Lomba Blog "Why Macau"". Ternyata namaku masuk menjadi salah satunya dan... girang tak terkira. Kalau bukan di gym, sudah teriak-teriak aku. Akhirnya aku berhenti olahraga dan duduk sambil senyum-senyum sendiri, menunggu ibuku selesai kelas yoga.

Dasar memang nge-gym-nya nggak niat.

Kemudian hingga sampailah hari keberangkatan kami (24/11) ke Macau tiba!

❤❤❤

FamTrip ke Macau ini diikuti tiga finalis lomba blog VIVALog Why Macau yaitu Zahra, Sofi, dan aku, kemudian dari VIVA sendiri ada Kak Puput Utami, dan empat blogger/buzzer lainnya, Kak Alexander Thian, Om Harris Maulana, Kak Barry Kusuma, dan Kak Rijal Fahmi. Kami didampingi oleh PR & Communication Manager MGTO Representative in Indonesia, Ibu Ningsih Chandra.

Perjalanan ke Macau ditempuh dengan menggunakan Garuda Indonesia menuju Hong Kong International Airport selama sekitar 4,5 jam kemudian dilanjutkan dengan kapal feri TurboJet selama 50 menit ke Macau. Kami tiba di HKIA sekitar pukul 06.30 pagi (25/11) dan harus menunggu hingga lebih dari tiga jam karena jadwal feri pertama ke Macau adalah jam 10.15. Untuk transfer via feri, kita tak perlu keluar imigrasi HK dan mengisi kartu kedatangan. Bagasi pun tidak perlu diambil, ditransfer otomatis ke feri.

Ki-ka: Ibu Ningsih, Zahra, aku, Sofi, Kak Puput. 
Charging point.
Tiga jam tidak terasa karena ruang tunggu di HKIA yang nyaman, ada charging point di banyak tempat, plus kami juga jalan-jalan melihat isi toko-toko yang buka. Kemudian kami menuju SkyPier, pelabuhan feri, menggunakan automated people mover (APM).

Tiket TurboJet.

Di kapal TurboJet pun narsis.
Sekitar jam 11.30 kami tiba di Taipa Ferry Terminal, yang letaknya dekat dengan Macau International Airport. Kami dijemput oleh Pak Alan, guide kami selama di Macau. Ibu Ningsih sempat bercerita kalau Pak Alan ini orangnya lucu sekali, dan memang benar, ketika di dalam bus, aku tak bisa menahan tawa kalau Pak Alan lagi ngelucu. Pak Alan ini lahir di Indonesia namun sudah 54 tahun tinggal di Macau. Ia fluent berbahasa Indonesia dan Jawa loh!

Tiba di hotel kami menginap, Sheraton Macao, kemudian kami makan siang di Feast, salah satu restoran buffet-nya dan kemudian free time sampai jam 17.30.

Bersama dua blogger finalis lainnya dan Kak Puput, kami jalan-jalan ke Venetian. Melewati connecting bridge yang mengarah ke Shoppes at Four Seasons, kemudian kami ke arah luar untuk foto-foto Venetian tampak luar. Tampak menjulang Hotel Venetian dan bangunan bawahnya yang dibangun sedemikian rupa mirip dengan Kota Venezia di Italia. Cantik sekali. Kemudian kami ke bawah melihat barisan bunga-bunga yang begitu indah bermekaran berwarna-warni. Rasanya ingin tiduran sambil bilang, "I feel free..."

Venetian.
Oh ya tak lupa narsis dengan bunganya.

Maaf kalau terganggu dengan mukaku.
Jalan lagi kami tiba di jembatan dekat lobi Hotel Venetian. Setelah puas berfoto-foto di luar, kami masuk ke dalam... dan tercengang! Interiornya begitu megah didominasi dengan warna emas dan bergaya renaisans Italia. Langit-langitnya dan ornamennya begitu bagus sampai aku ngomong sendiri... "Kayak di Versailles yaaa!" (Padahal ini kan gaya Italia.) "Kayak di Eropa yaaa!" (Sok tahu, padahal belum pernah ke Eropa, hahaha).

Venetian Macau Hotel Lobby.
Ada yang foto pre-wedding di Venetian.
Setelah itu kami menuju area malnya, yang di dalamnya terdapat kanal buatan dan bisa naik gondola sambil dinyanyikan di sana. Kami tak lama di sana dan kemudian kembali ke hotel untuk berkumpul dengan yang lainnya. Jadwal kami selanjutnya adalah ke Macau Tower!

Area mal Venetian.
Dari titik terbawah sampai titik puncak, Macau Tower memiliki tinggi 338 meter. Sedangkan lantai paling tinggi berada di ketinggian 223 meter. Sementara itu di observation deck-nya memiliki section yang lantainya dari kaca, transparan. Sehingga kita bisa lihat kondisi di bawah. Pas berdiri di kaca tersebut sambil melihat bawah, wah lumayan eneg rasanya. Pemandangan panorama Macau 360 derajat bisa dilihat dari deck ini. Karena malam-malam maka lampu-lampu menyala semua dan asyik banget kalau dilihat dari Macau Tower ini.

Ki-ka: Sofi, aku, Zahra, Ibu Ningsih.


Lalu kami menuju 360° Cafe di lantai 60 untuk makan malam. Uniknya, restoran ini bergerak memutar sehingga pengunjungnya disuguhi 360 derajat panorama keindahan Macau. 360° Cafe berkapasitas 250 orang dan membutuhkan waktu 60 menit untuk sekali berputar. Restorannya berbentuk buffet, yang bikin pengen coba makanannya semua... hahaha.

Tujuan kami selanjutnya adalah Wynn Macau. Di sana kami menonton show Tree of Prosperity yang merupakan karya yang memainkan musik, lampu, dan visual. Ada lampu chandelier yang terdiri dari 21.000 kristal dan pohon yang dibuat berubah warna, menunjukkan perubahan tiap musim. Di akhir show, pengunjung melemparkan uang sebagai harapan agar beruntung. Tree of Prosperity ini ada selang satu jam.

Water fountain show.
Jalan ke arah luar Wynn, ada Performance Lake. Di sana ada Water Fountain Show yang mana kita bisa melihat air mancur menari-nari dengan diiringi lagu dan lampu. Show ini dimulai setiap lima belas menit. Aku tidak tahu lagu yang disetel yang waktu kami nonton, tapi aku sangat senang nontonnya. Keren! Tak jauh dari Performance Lake, kami bisa melihat Governador Nobre de Carvalho Bridge. Salah satu jembatan yang menghubungkan Taipa dan Semenanjung Macau. Beberapa dari kami asyik foto-foto jembatan yang cantik pada malam hari itu, sementara aku duduk-duduk saja sambil nyanyi-nyanyi.

Entah kenapa kemudian aku menyanyikan lagu Yue Liang Dai Biao Wo De Xin-nya Teresa Teng. Eh tak berapa lama Water Fountain Show-nya Wynn menyetel lagu tersebut. Konspirasi alam semesta ini!

Tur hari itu berakhir, kami kembali ke hotel, dan aku tak sabar keliling Macau pada hari kedua!

❤❤❤

Sampai di rumah aku cerita ke ibuku kalau aku amazed sama revolving restaurant di Macau Tower. Kok ternyata restorannya berputarnya nggak cepet toh. Kata ibuku, "Hah? Masa' gitu aja nggak tahu? Ya nggak mungkin lah muternya cepet! Ndeso!" Ish!

❤❤❤

Macau Government Tourist Office Representative in Indonesia
Twitter: @macauindonesia
Facebook: MGTO Indonesia
Website: http://id.macautourism.gov.mo/


Males

Kemarin aku merasa beruntung sekali.

Ceritanya begini. Aku hendak pergi les pada sore hari. Usai berurusan dengan ATM, aku keluar dari convenience store dekat rumahku. Tadinya aku mau pergi naik bus, tapi eh ada ojek lewat nawarin. Mana dia nawarinnya murah pula, 15 ribu sampai Kampung Melayu. Tergolong murah karena bahkan sebelum BBM naik pun banyak yang memberi penawaran pertamanya dengan tarif 25 ribu. Huft. Ceritanya, naiklah aku ojek itu...

Dari arah rumahku untuk ke Kampung Melayu, kalau dengan jalan yang benar, harus mutar balik di kolong yang arahnya agak ngalang. Jadi agak menjauh dulu buat U-turn. Sebenarnya mah nggak jauh. Tapi, paham lah, ojek-ojek tuh suka males, nggak cuma ojek sih, jadi kebanyakan pada jalan lawan arah di rel stasiun Tebet. Biar nggak pakai muter balik, lebih irit jarak dan waktu.

Pas nyebrang lawan arah, palang pintu kereta sudah nutup dong. Sama abangnya dinaikin. Ehhh, penjaganya marah, ngamuk. Palang yang sudah agak dinaikkan didorong ke bawah dengan keras. Pas itu, aku sudah deg-degan parah. Aku sudah takut sekali kalau palangnya tiba di kepalaku. Namun ternyata palangnya mengenai helm tukang ojek lumayan keras dan berhenti di antara tukang ojek dan badanku. Palangnya kena tanganku sedikit, lumayan sakit sih. Badanku sampai seperti hendak kayang. Ke belakang.

Waktu itu posisiku aku lagi ngerogoh tas memastikan apakah aku membawa hape atau nggak. Tapi tanganku di dalem aja nggak berniat kukeluarin hapenya. Hapeku masih nancep di charger. Sampai colokan chargernya penyok aja dong. Aku akhirnya turun. Si tukang ojek sama penjaga palangnya berantem deh tuh. Aku no komen wong jelas tukang ojeknya salah. Aku cuma dengar tukang ojeknya teriak ke penjaganya, "Kira-kira kali!" Abis itu aku menjauh ngga denger lagi...

Tadinya mau kutinggal kabur aja tuh tukang ojek. Eh dia liat aku, dan berantemnya nggak lama mereka... hehehe...

Kemarin aku merasa beruntung sekali. Ngebayangin telat sedetik aja, palang yang didorong ke bawah dengan keras oleh penjaganya itu pasti sudah tiba di kepalaku... *langsung inget dosa* Next time seandainya aku naik ojek aku harus bilang nggak mau jalan lawan arah lagi. Bahayaaa... serem!

Kadang-kadang suka liat juga sih, orang turun dari halte busway nggak lewat jembatan tapi langsung lompat dari halte. Nggak tahu males apa gimana tapi kan bahaya ya... Aku sendiri juga sering males naik jembatan penyeberangan depan Kota Kasablanka, pilih nyeberang di bawah. Abis capek sih naik jembatan penyeberangan, hahaha... Padahal itu bahaya ya. Nggak lagi-lagi deh males yang membahayakan. Emang ada gitu males yang tidak membahayakan?

Wisata Bea Cukai

Membaca info kesempatan untuk mengikuti blogger tour ke yang dishare oleh Mbak Shinta Ries, aku langsung tertarik mendaftar. Penasaran bagaimana 'dalamnya' pihak yang membuatku terpaksa mengisi satu form kalau pulang dari wisata ke luar negeri. Alhamdulillah, pada hari Selasa lalu (18-11) aku berkesempatan buat wisata ke Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai (KPPBC) Tipe Madya Pabean Soekarno Hatta bersama 34 blogger lainnya. Blogger tour yang diadakan kali ini dalam rangka memperingati Hari Anti Korupsi.

Karena harus kumpul jam setengah tujuh pagi, aku bangun jam setengah lima pagi aja dong (rekor!). Kemudian telepon Tari, teman blogger yang tinggal di gang sebelah, yang ngakunya adalah putri tidur. Oh gitu, kalau aku Rapunzel yaaa, hahaha. Berdua kami berangkat ke ITC Cempaka Mas, tempat kumpul peserta blogger tour kali ini. Kami tiba sekitar jam setengah tujuh pagi dan kemudian berkumpul dengan blogger yang lain. Senang sekali aku karena berkenalan dengan banyak teman blogger!

Sekitar jam delapan, berangkatlah bus kami. Tapi sebelumnya, let us take a selfie. Nggak 'a' deng, tapi many.

Gue yang mencet shutter gue yang nggak madep kamera... ada sih foto yang aku madep kamera. Tapi pasang ini aja ya, biar lebih berkesan. Ki-ka: Mbak Prima Sagita, Mbak Seneng Utami, Mbak Nurul Musyafirah, Nicole Kidman eike.

Tiba ke KPPBC Soekarno Hatta, kemudian kami dibawa ke aula. Acara dimulai dengan lagu yang dibawakan oleh band yang digawangi pegawai kantor bea cukai sendiri. Kemudian dilanjutkan dengan sambutan dan sharing dari beberapa pejabat KPPBC Soekarno-Hatta.

Bapak Okto Irianto, Kepala KPPBC.

Pasti tidak asing bukan dengan bea cukai? Selama ini sih aku tahunya bea cukai pokoknya ada urusannya sama bandara, rokok, dan minuman keras. Kalau cukai yang dikenakan di rokok atau minuman keras, di dalam ilmu ekonomi juga disebut 'pajak dosa'. Ternyata, yang namanya bea cukai ini luas, bahkan masuk dalam institusi dunia, World Customs Organization. Mirip dengan imigrasi, bedanya imigrasi adalah gerbang mengurusi orang yang masuk-keluar suatu negara, sedangkan bea cukai (customs) merupakan pintu terdepan bagi pergerakan barang masuk dan keluar.

Kan kalau di bandara ada petugas imigrasi ada juga bea cukai. Semuanya pakai seragam, yang diakui sering dikira seragam security. Nah, untuk mengidentifikasi mana yang petugas bea cukai ada empat ciri-ciri seragamnya:

1. Seragam berwarna biru tua dengan logo bea cukai berwarna merah di lengan kiri.
2. Terdapat nama di bagian dada kanan yang terlihat dari jarak 10 m. Untuk seragam terbitan lama, tulisan namanya masih kecil. Seragam Pak Okto memiliki nama di bagian kanan OKTO saja, tidak nama lengkap.
3. Ada tulisan CUSTOMS.
4. Lengan pendek untuk pegawai yang bekerja di kantor dan lengan panjang untuk yang bekerja di bandara.


Seperti cerita yang semua orang tahu, seringkali kita mendengar kalau pegawai pajak atau pun bea cukai (duane) itu lingkungan kerjanya... ya gitu deh. Paham lah ya. Tapi makin ke sini makin bersih pastinya. Bahkan berani dijamin kalau kepala kantor bea cukai semuanya bersih. Meskipun tidak dipungkiri masih ada oknum-oknum yang masih nakal. Makin bersihnya bea cukai di Indonesia ditunjukkan dengan lounge bea cukai di bandara yang memiliki pintu dan dinding kaca, sehingga tak memungkinkan ada 'main' petugas bea cukai dan pembawa barang.

Selain itu, kita punya sistem kepabeanan yang disebut Indonesia National Single Window (INSW), yaitu portal sistem dokumentasi pengurusan ekspor-impor secara tunggal, serta keputusan pemberian ijin kepabeanan yang tunggal dan kesemuanya via online. NSW kita ini pertama di ASEAN. Di negara kita nggak perlu hardcopy buat urus bea ini. Kalau di Singapura, masih perlu hardcopy. Kalau di sini pakai hardcopy, lebih jago malsunya, hahaha... Intinya sih sekarang hidup lebih mudah ya.

Kalau misal kenapa-kenapa, ada keluhan atau ada petugas nakal, bisa laporin keluhanmu atau laporin nama petugasnya ke alamat e-mail:
pengaduan.beacukai@customs.go.id

Dan semoga KPPBC makin bersih, kece, dan terbebas dari korupsi yaaa!! 


Dari aula, kami ditunjukkan CCTV room atau Control Room, di mana di dalam ruangan tersebut petugas bea cukai bisa melihat layar dari ratusan CCTV yang terpasang di Bandara Soekarno-Hatta. Dari monitor, bisa dianalisis mana-mana yang tingkah lakunya mencurigakan. Ruangannya keren abis, sayang ngga boleh difoto, hihihi... Ruangan tersebut juga tergolong baru karena baru sekitar sebulan.

Kemudian turun ke bawah, sedang ada press conference. Ada lima pelaku yang membawa narkoba dan tertangkap di bandara. Mereka adalah Warga Negara Iran, Vietnam, Tiongkok, dan Indonesia. Cara-cara menyembunyikan kece abis. Yang dibawa oleh WN Iran dibuat dalam bentuk lilin. Ada lagi yang dibawa pelaku dari Tiongkok dibuat dalam bentuk cair dan dimasukkan dalam guci. Nantinya cairan itu dikeringkan dan bisa menjadi bubuk. Gaol banget lah. Memang ya, kalau kata temanku, pelaku kriminal itu selalu selangkah lebih maju.

Jadi penasaran bagaimana cara yang lainnya ke depannya.


Meski muka pelaku ditutup oleh kupluk hitam, oh tapi si WN Iran ini tetap ketok kegantengannya. Padahal bisa saja ya, pas dibuka, pipinya korengan gede, hahaha. Waktu berdiri sambil mendengarkan pihak kepolisian dan bea cukai di press conference, beberapa ibu-ibu di sampingku...

"Ganteng!"
"Ganteng..."
"Buka dong itu topinya... satu aja yang pelaku dua dari kiri."
"Ya ampun... cakep-cakep kok pelaku."

Ternyata bertambahnya umur tak menurunkan kepekaan terhadap adanya orang ganteng. Stop.

Kemudian acara tour dilanjutkan dengan berkunjung ke dua penyedia jasa titipan barang ekspor impor, yaitu Kantor Pos Indonesia dan DHL.

Kantor Tukar Pos Udara

Salah satu cara barang masuk ke dalam negara adalah melalui kantor pos. Setelah keluar dari pesawat, barang akan tiba di Kantor Pos Bandara Soekarno-Hatta. Semua barang akan dicek satu-satu dimasukkan dalam gudang. Setelah itu ada pemeriksaan bea cukai, kalau sudah clear akan dikeluarkan dari gudang dan dikirimkan kepada kantor pos transit. Tapi kalau belum clear, ada waktu 30 hari untuk mengurus dokumen yang terkait bea masuk ini. Setelah 30 hari, maka barang akan berubah status menjadi barang dikuasai negara. Setelah 60 hari, akan menjadi barang milik negara.


Kalau masuk ke dalam Kantor Pos ini, ada dua pintu besar yang di atasnya ada tulisan Incoming dan Outgoing. Paket-paket outgoing akan dimasukkan dalam karung berwarna oranye untuk kemudian menuju ke pesawat.

Karung paket dan dokumen yang akan dikirim ke luar negeri. Ada kartupos yang kutulis ngga ya di situ?

 Wahai kardus-kardus paket yang datang dari luar negeri, mari kita selfie!

Kalau soal tarif pengiriman antara Kantor Pos maupun jasa titipan lainnya sebenarnya tak jauh beda karena memang kompetitif. Kalau masalah lama paket tertahan biasanya karena ada urusannya sama bea cukai. Kalau izinnya lengkap atau memang tidak perlu ada izin kepada instansi terkait, biasanya mah cepat-cepat saja...

DHL di Terminal Kargo

Jalan kaki dari Kantor Pos, ada terminal kargo yang berjejer penyedia jasa kargo. DHL terletak di paling kiri terminal kargo.

Ada dua bagian, inbound dan outbound. Kalau teman-teman lihat foto di bawah, di dalam pagar itu bagian inbound-nya, yaitu berisi paket-paket yang datang dari luar negeri. Sedangkan bagian outbound adalah yang akan dikirim ke luar negeri. Ada berjejer karung yang ditandai dengan kode tujuan untuk dokumen atau paket-paket kecil. Kalau paket yang besar ya tidak dikarungin tapi tidak masalah karena semua ada barcode-nya. Sistem barcode dalam urusan perpaketan ini katanya pionirnya adalah DHL, lho.


Di bagian outbound tertempel jadwal pesawat yang membawa kiriman-kiriman keluar DHL. Sebagian besar pesawatnya adalah Singapore Airlines, ada juga Emirates maupun Korean Air. Sirik aku sama paket-paket DHL, naiknya aja SQ! Di bagian ujung, ada pintu langsung menuju apron, atau parkiran pesawat.

Bagian inbound terminal kargo DHL.

Setelah dari DHL, kembalilah kita menuju KPPBC Soekarno Hatta untuk makan siang. Setelah itu, semestinya kami berkunjung ke salah satu terminal bandara. Namun karena suatu sebab, rombongan di bus yang aku tumpangi tidak bisa masuk. Jadilah kami kemudian kembali ke Jakarta. Kecewa pastinya tapi rasa kecewa ini pasti dibalas oleh Tuhan kebaikan yang sangat banyak! Meski begitu, aku senang sekali bisa mengikuti acara ini! Oh ya, sebagai penutup postingan ini, silakan memandang kolase foto-foto selfie di bawah ini, hahaha! Bye!


KPPBC Tipe Madya Pabean Soekarno Hatta
pli.sh@yahoo.co.id
www.beacukai.go.id
www.bcsoetta.net

Nggak Bersyukur

Mau cerita tentang hari ini. Tadi kan aku datang ke sebuah acara ya, seminar gitu deh. Rahasia seminar apaan. Tapi aku mau bahas sneknya. Tiket seminar tadi sudah termasuk morning snack, lunch, dan coffee break. Registrasi pagi, setiap peserta diberi satu dus snek dan satu kotak jus. Isi dus sneknya berisi akua gelas 240ml, Vit deng, kue sus, dan lontong/arem-arem.

Wuaaah, aku kan lapar tuh ya. Jadi aku langsung membuka kotak sneknya dong ya. Eh pas susnya aku gigit, rasanya menyedihkan. Kayak rasa tepung gitu. Ya emang sih dari tepung pastinya... tapi gitu banget rasanya. Baru satu gigit, tak taruh lagi ke dusnya. Kemudian aku mencoba lontongnya, juga maaf, aku kurang suka. Isi lontongnya dikit banget dan baru bisa ditemukan setelah beberapa gigit sepertinya. Akhirnya nggak kuselesaikan makan lontongnya.

Kalau dipikir-pikir, kok rasanya aku nggak bersyukur banget ya... ada makanan kok nggak dihabiskan. Kan masih banyak orang yang kelaparan nggak bisa makan sesuka hati. Tapi aku juga mikirnya... aku nggak mau kasih ke perutku yang merupakan pemberian oleh Tuhan ini makanan yang nggak enak. Sudah nggak enak, nambah-nambahin karbo lagi, apalagi aku sudah overweight gini. Kan aku harus sayang badan... T.T

Memang aku tuh hobinya galau-galau nggak penting begini...


Memberi

Jaman-jaman kuliah semester awal, ada jadwal kuliahku satu hari hanya satu mata kuliah. Sialnya pelajarannya waktu sore hari. Kampusku yang di Depok, sedangkan rumahku di Jakarta. Jadinya, aku harus naik kereta ke arah Depok barengan jam pulang kerja. Ada yang pernah atau setiap hari mengalami pulang naik kereta di jam-jam menyebalkan?

Mana dulu tuh ya, masih ada kereta ekonomi. Lumayan buat irit, lha dulu kereta AC 5.500 kalau naik ekonomi 1.500. Kan lumayan banget bisa buat jajan gorengan 4.000-nya. Pernah suatu hari aku naik kereta penuhnya nggak nahan. Bener-bener berasa udah nggak ada spasi buat kaki. Padahal kan spasi buat badan lebih besar ya. Jadi kalau di bawah kaki aja udah ngepas banget berdiri, gimana pas bagian badan? Miring-miring lah senggol-senggol badan orang. Aku nulis apa sih, ada yang ngerti ngga maksud kalimatku? Hahahaha!

Nah, kayak gitu deh suasana kereta ekonomi di jam-jam sibuk. Belum lagi ada yang duduk di atas gerbong. Pengen juga sih buat pengalaman, tapi udah ngga boleh ya. Pernah nih aku mau kuliah, pas di stasiun aku naik aku masih dapat tempat duduk. Eh pas beberapa stasiun berikutnya, bener-bener gile deh rasanya udara aja nggak bisa masuk. Di depanku banyak orang yang pegangan badannya menjorok ke arah yang duduk saking penuhnya.

Aku duduk nih ya. Eh ada ibu-ibu berdiri. Nggak pas depan aku persis sih, agak jauhan. Ibu-ibunya menurutku udah agak tua 50-an tapi yang masih kuat berdiri gitu. Trus aku galau. Kasih nggak ya kursiku, kasih nggak ya. Lha yang di depannya persis nggak ngasih tempat duduknya. Trus ibunya juga kelihatan sehat dan kuat. Tapi udah tua ibunya, aduh kasih nggak ya kasih nggak ya. Tapi kalau aku kasih, ya aku bakal berdiri kepayahan miring-miring, panas lagi nggak ada AC.

Aku kirim pesan dong ke ibuku.

"Buk di depanku ada ibuk-ibuk sebenernya sih kayaknya masih kuat tapi udah tua, meski nggak tua-tua banget. Hm... tapi kalau aku kasih, ini kereta penuhnya nggak nahan, huft." Waktu itu memang baru kali itu aku naik kereta yang sepenuh itu. Nggak penting kan kegalauan gue?

Jawaban ibuku cuma, "Ya yang mana aja yang bikin kamu tenang."

Akhirnya aku kasih tempat duduk ke ibunya. Ya aku harus berdiri sedikit kepayahan dan badannya didorong-dorong tapi emang lebih tenang sih. Toh 'tersiksanya' nggak sampai 10 menit. Masih 17 tahun ini... dulu...

Tapi emang ya memberi itu bikin tenang... 

Kalau di bus misalnya ada pengamen yang menyanyikan lagu yang aku tahu plus suaranya bagus, ya sebisa mungkin dikasih. Barang 500 atau 1000 atau lebih. Tapi kadang-kadang suka ada tuh yang minta-minta nggak pakai nyanyi, jujur aja kadang males ya ngasihnya tapi kadang-kadang pengen ngasih aja. Lagian dia minta-minta atau nanti duitnya bakal diapain bukan urusan kita lagi kan. Yang pentingnya kita memberi...

Di samping memang pasti banyak keuntungannya, makin banyak rezeki, balasan yang baik dari Tuhan. Tapi rasanya tenang aja gitu... Semoga kita jadi orang yang senang memberi yaaa...

❤❤❤

Dua Cerita Dari Bandara

Memang ya, kehidupan itu penuh dengan kejutan.

Rabu minggu lalu (5/11) ceritanya aku pergi ke Jogja untuk menjenguk nenekku yang masuk rumah sakit. Katanya, nenekku kangen sama aku yang sudah lama banget nggak ke Jogja. Aku naik pesawat dari Halim. Aku suka sekali, karena dari rumah sampai ke Halim hanya 10 menit aja dong. Sayangnya, aku nggak lihat jet pribadi yang suka dipakai Syahrini untuk foto. Ya abis, pesawat di Halim teng tlecek akeh banget, nggak tahu yang mana deh tuh ya.

Hahaha, nulis paragraf kok kalimatnya sumbang semua.

Ruang tunggu Bandara Halim Perdanakusuma menurutku nyaman, meski kecil. Kalau dibandingkan dengan Adisucipto, masih nyaman Halim. Lagi asik foto-foto ruang tunggu, eh ada yang manggil aku dong.

"Una... Una!"

Hm, siapa ya itu... Wuah, ternyata bulik tanteku, Lik Tante Anna, yang lebih jelasnya adalah sepupu dari ibuku. Lik-nya di-strikethrough soalnya pas di bandara aku manggil Lik Anna katanya jangan keras-keras kok ketok ndesa banget kalau pakai Lik, wahahaha! Beberapa minggu sebelumnya kami juga bertemu di Rumah Sakit Fatmawati waktu menjenguk tanteku yang lain yang sedang sakit.

Ternyata tanteku ini bersama suaminya hendak pergi ke Wonosobo. Ngobrol dan nggosip lumayan banyak, mulai dari ngomongin berita terbaru keluarga, pekerjaan tanteku, sekolahku, sampai tentang ibuku yang belum pernah aku dengar sebelumnya, wahahaha... Oiya, aku ditraktir Iced Chocolate Starbucks sama Tante Anna. Katanya sih ini investasi. Jadi menurut Tante Anna dan suaminya, nraktir ponakan itu investasi. Jadi kalau ponakannya udah pada sukses-sukses, nggak lupa sama tante-omnya, hahaha!

Oke lah Lik! Selfie dulu kitaaa!
Still have to learn how to get best selfies hah! Udah tahu muka gede, di depan gitu, hahaha... salah banget.
Eh, kejutan waktu perjalanan ke Jogja nggak berhenti sampai di situ. Waktu di pesawat, bapak-bapak depanku persis ngeyel banget. Udah mau take off ya, masih telepon lho. Udah ditegor sama pramugarinya, malah nggak langsung dimatiin. Sabar aja deh ya Mbak Pram. Ibu sebelahku ikutan ngedumel jadinya. "Ngeyel banget sih... kalau kenapa-kenapa kan yang celaka kan bukan cuma dia."

Aku juga ikutan nyaut deh, "Ho oh Buk, ck ck ck... nyebelin."

Sudah ngedumelnya, aku mengambil buku kamus kanjiku. Eh belum ada lihat berapa kanji, ibu sebelahku menanyakan apakah belajar kanji itu susah. Rupanya, anaknya juga belajar Bahasa Jepang. Juga belajar Bahasa Prancis dulu di CCF. Juga sekarang belajar Bahasa Italia. Intinya anaknya suka banget belajar bahasa. Ibunya sampai heran kenapa.

Ibunya tanya aku kelas berapa, aku bilang aku kuliah, di FEUI. Semester sebelas, tahun keenam. HAHAHA DIE.

Eh ibunya bilang, "Eh? Saya kira Mbak masih kelas 2 SMA." LALALALALA SO HAPPY! BECAUSE I'M CLAP ALONG...... "Anak saya dosen di FEUI lho. Menantu saya."

"Eh? Namanya siapa Bu?

"Firmanzah."

Firmanzah ini mantan dekan fakultasku. Masih umur 32 tahun sudah jadi dekan dan merupakan profesor termuda di Indonesia. Jadi dekan hanya tiga tahun kemudian dijadikan Staf Khusus Presiden Bidang Ekonomi. Ibu mertuanya bercerita banyak tentang bapak yang biasa disapa Pak Fiz ini. Salah satunya, ia bercerita pernah ada murid S3 yang akan sidang. Eh Pak Fiz bangunnya telat aja dong. Bukannya buru-buru malah mainan kucing dulu. Beliau juga bercerita bahwa Pak Fiz ini memang cita-citanya menjadi dosen dan selalu memikirkan mau dibawa ke mana rakyat Indonesia ini... 

Balik ke ibu sebelahku yang bernama Ibu Ruri ini. Beliau bekerja di bidang medis, lebih tepatnya anestesi. Hobinya menonton live jazz music. Setiap tahun dia pasti nonton Java Jazz dan sampai 2010 ia selalu menonton festival jazz di Belanda (aku lupa namanya). Aku sirik pengen juga tiap tahun ke Belanda, hahaha. Ibu Ruri pergi ke Jogja untuk menengok ibunya yang berumur 98 tahun. Masih kuat jalan katanya, semoga aku juga panjang umur!

Selfie dulu kita Buk!

Ra fotogenik yo ben. Dengan peace yang terpotong.
Aku lagi rajin selfie, eh dikomentarin katanya kalau suka selfie tuh kayak orang lagi jatuh cinta. Hm, jatuh cintanya sih iya tapi dari dulu jatuh cinta ngga serajin ini tuh selfie-nya. Bukan karena apa-apa sih, tapi karena kamera baru, hehehe!

❤❤❤


Hoyu Colored My Hair... and Heart

Percakapan model begini seringkali terjadi antara aku dan mamaku ketika... kami 'mengkonsumsi' barang Jepang. Baik itu saat makan kue dari bakery Jepang, makan pasta by Japanese chef, coba pembersih daki paling hits dari Jepang, atau make up remover berbentuk facial wash merek Jepang. Begini.

"Gila yaaa... Jepang itu, semua hal itu memang diusahakan supaya sempurna."

"Ho oh, made for perfection banget..."

Sampai sekarang selalu terkesima kalau mengkonsumsi produk Jepang. Jarang sekali dibuat kecewa. Tapi bagaimana ya kalau produk cat rambut? Aku belum pernah sebelumnya. Makanya pas datang ke acara Free Hair Coloring dan Talkshow dari Hoyu, aku penasaran ingin mencobanya. Kalau belum pernah dengar Hoyu, Hoyu ini yang memproduksi cat rambut paling hip bermerek Bigen. Tahu kan?

Kemarin (2/11) aku datang ke acara Hoyu di Blok M Plaza. Ada section untuk free coloring dan ada section talkshow, ada stage dan beberapa tempat duduk di depannya. Agak ragu-ragu mau dicat sekarang atau nanti yaaa... soalnya kan mau nonton talkshow-nya dulu. Padahal mah banyak yang nonton sambil pakai shower cap gitu. Ah tapi aku ntaran aja deh abis talkshow... *galau sendiri*

Talkshownya terdiri dari dua segmen. Segmen pertama mengulas mengenai produk Hoyu. Pembicaranya Ibu Andriani dan Bapak Otto Hermansyah dari Product Development PT Hoyu Indonesia. Salah satu produk Hoyu, Bigen Powder Hair Dye sudah ada di Indonesia hampir 30 tahun lamanya. Produk tersebut sangat mudah ditemukan di supermarket bahkan di warung terdekat. Namun kala itu produknya impor dari Jepang, jadi di Indonesia hanya distributor saja. Namun sejak 2004, berdirilah PT Hoyu Indonesia dan memiliki pabrik di Karawang.

Produk Bigen yang dijual di Indonesia ada lima macam. Nah, secara keseluruhan produk pewarna rambut dibagi dua fungsi yaitu penutup uban dan warna fashion. Tentu saja kelimanya mampu menutupi uban. Namun produk Hoyu utama untuk penutup uban ada tiga:

1. Bigen Powder Hair Dye.
Ini yang paling hits. Produk ini tidak mengandung amonia dan tidak perlu dicampurkan ke hidrogen peroksida, hanya dengan air saja. Dioleskan di rambut hingga merata, tunggu 20-30 menit, dan kemudian bilas dengan air. Pilihan warnanya ada dua, black dan brown black.


2. Bigen Speedy Hair Color Conditioner
Sesuai namanya, Speedy. Pemakaian pewarna rambut jenis ini hanya lima menit, teman-teman! Jadi kapan saja bisa digunakan. Buru-buru ke pesta, tapi ubanmu banyak? Tinggal pakai Bigen Speedy satu ini. Untuk aplikasinya, Bigen menyediakan sisir aplikator. Tinggal taruh pewarna dan developer 1:1 di sisir aplikator tersebut, lalu sisirkan ke rambut deh. Untuk pria karena biasanya butuh lebih sedikit, satu boks bisa digunakan untuk beberapa kali pemakaian. Pilihan warnanya ada natural black, brownish black, dark brown, dan natural brown.

3. Bigen Speedy Conditioning Color
Bigen yang satu ini lebih sering dikenal sebagai Bigen Ladies Speedy karena lebih diminati konsumen ibu-ibu. Memiliki enam ekstrak tumbuhan dan juga melembutkan rambut. Pemakaiannya 10 menit saja. Ada empat pilihan warna deep chestnut, medium brown, brownish black, dan natural black.


Untuk fashion ada dua jenis, yaitu:

1. Bigen Prominous Color Milky
Bigen ini dikhususkan bagi perempuan yang ingin tampil gaya. Ada easy comb-in applicator-nya sehingga aplikasi pewarna rambut menjadi lebih muda. Ada tujuh pilihan warna dari natural black sampai yang paling terang, light copper blonde. Kalau rambutnya panjang dan tebal, biasanya butuh dua boks.

2. Bigen Silk Touch
Produk ini mengandung silk protein dan ginseng ekstrak yang membuat rambut menjadi lembut. Wanginya pun wangi bunga... penasaran deh. Pemakaiannya sekitar 25 menit dan memiliki lima pilihan warna: natural black, chocolate brown, apricot copper, mystic violet, dan passion mahogany.


Di acara tersebut, aku melihat produk dari Kracie. Ternyata, Kracie ini kalau di Jepang merupakan sister company-nya Hoyu. Kracie ini dulunya adalah Kanebo Home Products. Tapi tidak ada pabriknya di Indonesia, jadi produk Kracie yang dijual di Indonesia adalah produk impor dari Jepang. Produk Kracie yang paling aku suka adalah, produk mainannya! Yang bisa dimakan itu lho. Sekitar sebulan lalu, aku bermain Kracie Soda Nerunerunerune Candy bersama sepupuku. Btw, aku berumur 23 tahun, sepupuku 22 tahun.

Beberapa produk Kracie yang dijual di Indonesia antara lain Ichikami, rangkaian produk perawatan rambut, Hadabisei, produk perawatan wajah, dan Naive, produk pembersih wajah. Aku sendiri pernah membeli kondisionernya Ichikami. Saat di acara, aku tertarik produk Ichikami Hair Treatment Water. Kata mbak-mbak Hoyu-nya, produk yang itu memang tidak semua store ada. Tidak seperti sampo dan kondisionernya yang dapat ditemukan dengan mudah di supermarket.

Ichikami by Kracie.
Naive by Kracie.
Di segmen kedua, masih ditemani Ibu Andriani, ada juga Ibu Devina, seorang dokter muda dan Nola, personal B3. Nola menceritakan mengenai pengalamannya yang mengenal cat rambut baru ketika sebelum punya anak. Selain itu ternyata dengan mewarnai rambutnya, menjadikan lebih bervolume. Ini disebabkan rambutnya yang dasarnya lepek. Sedangkan Ibu Devina menjelaskan mengenai kesehatan rambut dan kegiatan mewarnai rambut dari sisi medis.

Kegiatan mewarnai rambut sebenarnya adalah menyiksa rambut. Makanya harus ditanyakan ke diri masing-masing, sanggup nggak maintenans rambutnya masing-masing setelah mewarnai rambut? Karena setelah diwarnai jika tidak melakukan perawatan., rambut akan semakin kering dan bisa-bisa juga bercabang dan kusam. Ibu Devina menyarankan sebaiknya kalau mewarnai rambut harus masker seminggu kemudian dan tiap dua minggu. Tak lupa menggunakan kondisioner, creambath, dan leave on treatment.

Ibu Devina juga menjelaskan kalau keramas itu nggak baik lho kalau diusek-usek di rambut. Sebaiknya diusek-usek di tangan sebelum ditaruh di rambut. Kemudian meratakannya dengan sisir atau pelan-pelan. Karena usek-usek di atas kulit kepala itu menyebabkan friksi dan menjadikan kulit kepala tersiksa. Sama halnya dengan mengeringkan rambut dengan handuk. Sebaiknya ditepuk-tepuk.


Usai talkshow aku mendaftar untuk free coloring. Setelah mengisi formulir, aku mendapat nomor undian dan nomor antrean 160. Rambutku dipegang oleh mbak penjaga meja registrasi dan karena rambutku agak panjang dan tebal, membutuhkan dua boks!

Aku dicattt. Maap yah Mbak rambut saya penuh ketombe.
Gue nggak pernah pasang foto diri sebanyak ini sebelum ini suer.
Aku harus menunggu satu jam sampai rambutku matang. Kemudian aku duduk lagi sambil melihat Nola mendendangkan lagu. Aku nggak ada yang tahu lagunya. Maaf Mbak Nola, hehehe. Usai Mbak Nola menyanyi ada undian doorprize. Lima nomor yang diambil. Eh, banyak nomor yang hangus karena pastinya pemilik nomor awal sudah pada pulang. Empat nomor sudah didapat... kurang satu hadiah utama. Mbak Nola menyanyi satu lagu lagi sebelum undian hadiah utama. Ehhh...

Keluar nomorku 160! HAHAHAHAHAHA! Aku dapat LED TV 32". Woo-hoo! Tapi tapi, iki nggowone piye TV-ne?

Aku maju ke depan pakai shower cap gitu. Ibu-ibu dua dari kanan tadinya pakai tapi karena tahu naik panggung dicopot. Pas lihat fotonya, nyesel sih nggak copot shower cap. Tapi rambutku panjang gini, ribet yaaa. Ya sudah lah ya, kayak punya malu aja... ke kantor ASEAN aja dulu oblongan.

Gaul banget kan gue maju di panggung pakai showercap. Itu mbak paling kanan juga gaul! Toss! Terimakasih Tari, sudah moto aku, hehehehe.
Pulang-pulang bawaanku banyak, dua goodie bag sama LED TV 32". Niatku, usai acara talkshownya aku hendak makan sus di supermarket Papaya di Blok-M. Eh dapat banyak hadiah begini, next time lah makan susnya. Saking girangnya dapat TV, naik taksi cuma 35 ribu kubayar 50 ribu, hahahahaha *tumben* Eh eh, pada penasaran rambutku warnanya kayak apa nggak? Penasaran dooong... Ini kutunjukin!



Jadi loh warnanya keluar. Sama sekali nggak kecewa. Padahal rambut hitam bagian pangkalku sudah lumayan panjang. Hoyu yang punya motto Color Your Heart ini memang benar mewarnai hatiku. Aku suka karena berhasil pewarnaannya. Selain itu tingkat amonianya sangat rendah, yaitu dua persen. Biasanya aku kalau pakai cat rambut, tiga-empat kali keramas masih suka kebau amonianya. Ini baru sekali keramas di rumah sudah tidak tercium baunya.

Mbak-mbak dan bapak dari Hoyu-nya juga sempat terkesima *pret* karena di rambutku warnanya jadi. Tahu nggak aku pakai Bigen varian yang mana? Varian penutup uban? Enak ajaaa! Hihihi, aku pakai ini nih, Bigen Prominous. Eh tapi yang foto sama aku bukan warna yang kupakai. Aku pakainya Light Copper Blonde 8-34 sedangkan yang di foto Golden Copper Blonde.

Biasa aja kali mukamu Un...


Foto di atas, isi dua goodie bag yang aku dapatkan. Lima jenis produk Bigen, Naive Facial Cleansing Foam Rose Extract, Hadabisei Eye mask, kondisioner Ichikami, handuk, dan pouch. Serta hadiah yang tak terfoto, Toshiba LED TV 32". Hihihi, terima kasih Hoyu!

Pernah pakai produk Bigen, guys?



Website Hoyu: www.hoyu.co.id
❤❤❤

Menabung Itu Mudah!

Mungkin beberapa teman tahu, bahwa sebulan yang lalu aku menulis postingan yang isinya kekesalanku karena membuat akun tabungan baru itu sulitnya minta ampun. Bank meminta salinan dokumen terlalu banyak. Tak hanya KTP saja yang dibutuhkan, tapi juga Kartu Keluarga, NPWP, surat keterangan yang tak boleh hanya sampai RT, tapi juga sampai RW. Rasanya mau nanya ke mbak customer service itu, "Butuh akte lahir sama transkrip nilai juga nggak?". Huft!

Mungkin aku tak akan kesal kalau di situs web mereka ada rincian dokumen yang dibutuhkan (yang tertera di web hanya KTP dan uang minimal setoran pertama saja). Mungkin aku tak akan kesal kalau mereka tidak memaksa-maksa kami di mal hanya untuk membuat kartu kredit bank mereka tapi giliran kita memohon untuk membuat akun tabungan susahnya minta ampun. Hehehehe, curhat!

Tapi semua itu berubah ketika negara api menyerang seorang teman menginformasikan tentang Digital Banking Bank Sinarmas yang mana kita bisa membuat akun tabungan via online, tak perlu keluar rumah, pokoknya mudah deh. Langsung teringat kalau di setiap 7-Eleven 'kan ada ATM Bank Sinarmas. Kebetulan rumahku dekat 7-Eleven, jadi in-case mau ambil uang bakal mudah. Langsung deh bikin, cusss!

Kalau diringkas, proses permohonan akun tabungan baru ini ada empat tahap:

1. Input Data
Pertama yang dilakukan adalah mengisi e-form yang terdapat di situs web Bank Sinarmas

2. Transfer Virtual Account
Setelah mendaftar, kita akan dikirimi notifikasi dan diminta mengirim setoran 50.000 ke akun virtual. Tertera di e-mail nomor rekening sementara. Setoran bisa dikirimkan via kantor cabang Sinarmas atau transfer antarbank. Aku memilih cara transfer antarbank via internet banking. Enak ya jaman sekarang urusan beginian nggak perlu keluar rumah, hihihi.

3. Know Your Customer
Usai transfer ke akun virtual, akan dihubungi via telepon oleh Bank Sinarmas. Yang menelepon aku dari KCP Roxy Square. Si mbaknya menanyakan kapan dan di mana aku bisa ditemui. Setelah aku memilih hari dan jam yang aku di rumah, ia bertanya, "Di rumah atau di kantor bisa kami temui?"
"Hmmm di rumah, saya nggak kerja Mbak." #pengangguran

Kartu ATM dan PIN. Sekarang lagi kerjasama dengan Lion Air dan ada beberapa penawaran menarik kalau membeli tiket Lion Air menggunakan rekening Bank Sinarmas.


Petugas dari Bank Sinarmas datang satu jam lebih cepat dari waktu janjiannya. Ndak apa-apa sih, tapi kan belum mandi gini. Kayak iya biasanya mandi. Ia memberikan bungkusan yang berisi kartu ATM dan pin ATM. Ada beberapa isian form yang harus aku isi dan sudah aja gitu? Nggak perlu surat keterangan RT RW nih Mas, kan KTP-ku beda alamatnya sama tempat tinggalku sekarang? Ini materai saya yang bayar atau gimana?
Jawaban masnya, "Oh tidak perlu Mbak. Memang kami berusaha untuk memudahkan nasabah."

Okeee, tinggal tunggu notifikasi approvalnya deh.

4. Approved
Proses approval ini maksimum lima hari dan notifikasinya via e-mail. Aku sendiri kemarin sehari. Sempat sedikit terganjal karena sumber danaku masih dari orangtua, belum lulus sekolah hiks, dan harus melampirkan KTP orangtua. Tapi setelah itu tidak masalah sih.

Sehari setelah approved, aku pergi ke ATM Bank Sinarmas untuk mengaktifkan M-Banking dan mengubah password ATM. Woo-hoo!

Mudah sekali 'kan?

❤❤❤

Bank Sinarmas didirikan tahun 1989 dan kini statusnya adalah bank devisa. Menjadi perusahaan publik, Bank Sinarmas melakukan IPO pada Desember 2010. Kini kantor cabangnya seluruh Indonesia sudah mencapai 380 di 120 kota dan memiliki 600 ATM dengan jaringan Prima, ATM Bersama, dan Alto. Dalam mengimplementasi Strategi Nasional Keuangan Inklusif (SNKI, Financial Inclusion), Bank Sinarmas memiliki divisi yang relatif baru, yaitu Digital Banking. Eh oiya, financial inclusion itu program nasional dari BI yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap produk dan jasa keuangan sebagai upaya mendorong pertumbuhan ekonomi.

Nah sekarang tebak, berapa persen dari penduduk Indonesia yang belum menabung? Menurut survei World Bank tahun 2012, ada 32% penduduk yang belum menabung. Namun yang punya rekening tabungan di bank hanya 20% saja.


Saat DiBi Blogger Gathering Sabtu lalu (25/10) Bapak Hendrawan Revianto dari Digital Banking Bank Sinarmas menyampaikan strategi-strategi divisi Digital Banking termasuk di dalamnya yang terkait implementasi financial inclusion. Ini dia strateginya:

1. Branchless Banking, bisa buka rekening via online, tanpa harus ke cabang.
2. Cost Optimization, minimalisasi investasi bank dalam penggunaan kantor cabang.
3. Internet Marketing, pemasaran digital menyasar pengguna smartphone yang kian meningkat.
4. Transactional Bank, tak hanya menabung, nasabah bisa melakukan banyak transaksi dengan Bank Sinarmas.

Kenapa gitu ya harus di Bank Sinarmas? Kenapa nggak di bank lain? Beuh, kalau aku sebutin keuntungannya pasti langsung kepengen buka rekening online Sinarmas. Beberapa di antaranya:

1. Biaya administrasi gratis. (Khusus rekening online Sinarmas Statement).
2. Gratis biaya penarikan tunai di lebih dari 70.000 ATM berlogo ATM Bersama, Prima, dan Alto.
3. Gratis biaya transaksi di jaringan Debit BCA dan Prima.
4. Simobi, aplikasi mobile-banking Bank Sinarmas di smartphone.
dan masih banyak lainnya.

Selain itu, menariknya lagi, Bapak Iman Budiman dari divisi Payment System & E-Channel Business Development, memaparkan bahwa kini Bank Sinarmas bekerja sama dengan jaringan Union Pay yang berpusat di Shanghai, Tiongkok. Jaringannya berada di seluruh dunia dan terutama di Tiongkok, tingkat akseptasinya tinggi. Lebih dari 2 juta merchant dan 300 ribu ATM terhubung Union Pay.

Waktu DiBi Blogger Gathering Sabtu lalu, cakep yah aku tangannya kayak ubi.

Pentingnya Investasi

Tingkat inflasi Indonesia sekarang-sekarang ini 6-7% per tahun. Kalau menabung di bank, bunga per tahunnya ya paling 2%. Kan jadinya nggak nambah ya. Deposito juga sama aja. Mulai dari 8 juta, bunga yang didapat 7.75% p.a. Kalau tingkat inflasinya segitu yaaa cuma dapet seumprit. Eh kecuali depositonya bermiliar-miliar sihhh. Eh tetep aja deng, mending pilih yang returnnya lebih tinggi kan? Ya meski tentu saja, high return mah high risk juga ^^

Mbak Cynthia Tjandrawinata, Kepala Departemen Bancassurance Bank Sinarmas menjelaskan jenis-jenis produk investasi. Ada deposito, emas, valas, saham, properti, obligasi, dan lain-lain. Sangat penting untuk memulai investasi dari sekarang karena kita tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan kan?

Salah satu produk investasi yang dimiliki oleh Bank Sinarmas adalah produk reksadana. Secara singkat, reksadana itu seperti nasabah menitipkan uang sekian rupiah untuk diinvestasikan dalam saham, obligasi, dan lain-lain kepada manajer investasi yang profesional.

Return yang didapat dari reksadana lebih tinggi dari tabungan. Sehingga tingkat inflasi bakal tertutup sama return yang didapat. Tapi tentu saja bukan tanpa risiko. Berbagai tipe produk reksadana di Bank Sinarmas disesuaikan dengan profil risiko nasabah. Bank Sinarmas sendiri merupakan bank umum yang mendapatkan persetujuan sebagai bank kustodian (bank yang menjadi tempat penitipan investasi) dan produk reksadana juga diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Nama produk reksadana Bank Sinarmas antara lain: Simas Satu dan Danamas Stabil.

Belum punya asuransi dan investasi lainnya?
Kalau kata Mbak Cynthia, "It's never too late to get started..."

Pulang gathering aku langsung mikir tabungan dan investasi... hihihi!

❤❤❤ 

Photo session after blogger gathering. Thank you DB Bank Sinarmas!
❤❤❤

Digital Banking Bank Sinarmas
Twitter: @DB_Sinarmas
Instagram: DB_Sinarmas

Referensi:
Follow me on:

Martabak Kitkat Matcha by Bazinga!

Seorang teman SMA memberitahu bawa ada yang jual martabak Kitkat Matcha yang lagi hip. Dia bilang dia pengen banget. Eh, ternyata... cuma selemparan balon saja dari rumahku. Balon tuh susah kan ya dilempar? Aku pernah lewat tempat itu sebelumnya, tapi cuma ngebatin aja, ini tempat apa sih... Jalan kaki tak sampai 500 meter. Setelah tahu tentang tempat itu, esoknya aku pergi ke sana bersama dua teman SMA-ku yang lain. Sebenernya sih nggak penasaran sama martabak Kitkat Matcha itu, tapi pengen coba aja... beda nggak sih?

Nama tempatnya itu Bazinga!.

Aku bertanya kepada mbak rumahku apakah dia tahu warung makan baru sebelah Mirah 2 (nama warung makan juga). Eh dia ternyata tahu dong.

"Oh ngerti aku. Itu ta... sing jenenge Baji**an Baj**gan apaaa gitu?"

*dziiinkkk!*

Agak close sih...

Aku ke sana sore hari sekitar jam 5-an karena memang baru buka jam 4 sore. Kiosnya kecil dibuat dari bekas kontainer yang di atasnya juga ada mejanya. Di bagian depan counter berjejer Ovomaltine, Skippy, Kitkat Matcha, Skippy, Nutella, Silverqueen, dan isian untuk martabak manis lainnya. Bazinga menjual berbagai macam martabak, baik telur dan manis, serta Indomie yang dibuat pedas sekali. Indomie Pedes Bingitz. Bazinga! ini tidak menjual minum, jadi bisa membeli di warung sebelah Bazinga!



Kami memesan Martabak Matcha Madness, martabak dengan base matcha dan taburan Kitkat Green Tea. Tak lupa Indomie Pedes Bingitz level Speechless, alias level yang paling tinggi. Ini buat temenku Retno yang memang hobinya nyemil cabe.

Pas memesan bukan tanpa hambatan. Mbak-mbak kasirnya seperti absent-minded atau sedang memikirkan apa jadi nggak konsen begitu. Waktu kami bilang mau Indomie Speechless, dia masih nanya, "Yang Speechless... mau yang level yang mana?" Padahal Speechless udah nama levelnya yang paling tinggi. Orderan kami ditagih 152.000, kami memberikan uang 170.000, lalu dia nanya apa punya dua ribuan. Kami kasih dua ribu tapi dia belom mbalikin 20 ribunya. Jadi di dia kan 172.000, eh kami dikasih kembalian 1.500. Lah???


Dia bilang katanya habisnya 152.500 pakai 500. Jadinya kami kasih 500 dan kubilang uangku masih 20 ribu di dia, tapi kayak nggak nyambung gitu -,- Tapi akhirnya selesai juga urusan perkasirannya. Eh temanku lupa bilang inginnya mi rebus, tapi ternyata sudah dibikinkan mi goreng. Dan mbak-mbak kasirnya pas di awal juga nggak menawarkan pilihan rebus atau goreng... Huft. Semoga Bazinga! pelayanannya makin baik ya.

Kami naik ke atas duduk dan kata temanku, "Ini nggak akan jebol kita di atas?" Kayaknya sih kalau jejingkrakan jebol juga sih, hahaha! Dua kuintal gini berat kami bertiga. Tak lama Indomie Speechlessnya datang. Aku nyicip satu helai mi goreng. Nyicip apaan ini... Ya karena aku nggak makan pedas. Gile loh satu helai doang, bibirku yang bawah panas banget, 15 menit kali ada kagak ilang-ilang. O em ji. Temanku satunya lagi Pita bilang, kalau itu sih bikin ke rumah sakit saking pedesnya... Akhirnya tak dihabiskan, sisa sepertiga, si Retno sudah menyerah. Mungkin berminat mencoba?

Indomie mahal, hahaha...
Martabaknya lumayan ya nunggunya, sekitar 20 menit. Martabak yang menjadi superstar dalam lima menit karena kami nggak berhenti-berhenti motonya. Pas dicoba... ya sudah tahu lah apa komentar mediocre... "Biasa aja..." Hahahaha! Martabaknya lumayan enak, bukannya buruk, tapi makannya nggak bikin terkesima. Aku lebih menikmati makan martabak manis keju susu special. Dengan harga 130K, satu martabak Matcha Madness, bisa beliin buat tiga tetangga martabak manis keju. Hahaha... Eh tapi menyesal nggak? Ya tidak lah, namanya juga experience.



Bazinga! juga menyediakan martabak manis lainnya yang menarik dan ada juga Create Your Own Martabak. Bisa pilih base dari rasa original, durian, pandan, dan matcha. Toppingnya ada dari Silverqueen, Skippy, Nutella, dan lain-lain. Mungkin seandainya aku beli martabak lain di Bazinga! aku akan pilih topping yang lain. Nggak beli yang matcha lagi deh! Hihihi... Oiya, aku pasang foto menunya juga di bawah ini barangkali teman-teman ingin coba nongkrong di Bazinga!.


Bazinga! #jakartastreetfood
Jalan Tebet Barat Dalam Raya No. 57 Jakarta Selatan
Seberang Bank DKI

❤❤❤

Follow me on: