Bingung Sama Isu Satu Ini

Isu apa? Yakni isu pencurian budaya.

Waktu tes pertukaran pemuda beberapa minggu lalu, aku ditanya oleh kakak seniornya. Andaikan ada peserta dari Malaysia bercerita kepadaku, "Hey, pembantu di rumahku orang Indonesia lho. Kerjanya nggak bener, susah diajak komunikasi" dan lain-lain, aku bakal menjawab apa. Aku bilang aku biasa saja, nggak bisa dipungkiri memang banyak TKI di Malaysia dan kalau masalah kerja nggak benar, kan nggak semuanya gitu. Paling bakal kujawab, "Wow, really? Emang asalnya dari mana dia?"

Kemudian si kakak senior mengganti kasus. Pertukaran pemuda Kapal ASEAN akan berhenti di beberapa negara ASEAN dan Jepang. Biasanya berhenti di Indonesia setelah berhenti di Malaysia. Kemudian ada satu peserta dari negara ASEAN yang bilang, "Ah ngapain beli batik di Indonesia, toh di Malaysia juga udah beli batik. Sama saja." Apa yang bakal aku lakukan. Lagi-lagi sebenarnya perasaanku biasa saja. Tapi seolah-olah kakak senior itu bilang kalau batik kan punya Indonesia, jadi ya harus dikomentari dan diluruskan.

Ada cerita lagi dari kakak senior lain. Waktu kontingen Indonesia turun di Viet Nam, mereka disambut dengan Halo Halo Bandung. Sedangkan kontingen Malaysia yang turun, mereka disambut dengan lagu Rasa Sayange. Apa pendapatku? Lagi-lagi sebenarnya biasa saja. Toh lagu Rasa Sayange juga sering diperdengarkan di Singapura. Case terakhir nih. Ketika di kapal, ada sesi makan-makanan tradisional masing-masing negara. Dan yang mewakili makanan khas Malaysia adalah rendang. Apa pendapatku? Biasa saja.

Tebak ini siapa.
Apa yang bisa kubilang?

Menurutku masalah budaya tuh nggak bisa dilihat dari batas negara. Yes, Malaysia punya batik. Sejarahnya pengaruh batik ini dibawa dari Indonesia melalui perdagangan. Selain itu memang sejarahnya banyak jejak orang Jawa di Malaysia. Seingatku aku baca artikel bahwa di Selangor ada pelatihan batik dan memang diakui oleh sana kalau batik itu dibawa dari orang Jawa yang migrasi ke sana. Andai peserta kapal ASEAN ada yang udah beli batik di Malaysia dan ogah lagi beli batik di Indonesia... so?

Kalau Rasa Sayange aku masih bingung. Sejak kecil aku tahunya itu lagu Maluku. Tapi setiap ke Singapura pasti sering banget lagu itu diperdengarkan, meski ada bagian dari lirik berbeda. Indonesia mengklaim itu lagu asli Maluku, sementara itu lirik yang bergaya pantun katanya asing kalau itu budaya Maluku. Budaya pantun itu budaya Melayu. Aku belum ngerti sejarahnya piye sih lagu ini, ada yang tahu?

Sedangkan rendang... rendang merupakan makanan yang terlezat sedunia. Nek kataku sih enggak, hihihi. Kita tahu sendiri rendang asalnya dari Minang. Kalau katanya Malaysia punya salah satu makanan khas yaitu rendang, ya emang kenapa. Toh kenyataannya memang banyak orang Minang dulu-dulunya pindah ke Johor Bahru dan Negeri Sembilan. Seperti di awal, budaya tuh bukan masalah negara dan lagipula suatu daerah kan bisa berakulturasi dengan budaya pendatangnya.

Aku berkhayal saja, misal makanan khas Jepang salah satunya adalah kare. Bagaimana dengan perasaan India? Pernah aku baca katanya kare ya memang asli India tapi ya orang Jepang suka makanya ada kare Jepang. Atau lagi ada la mian yaitu mie khas Cina yang ditarik-tarik. Kalau Jepang punya ramen dan Korea punya ramyeon yang asal katanya sama dan andai masing-masing Jepang dan Korea berkata ramen dan ramyeon adalah makanan khas mereka, apakah Cina bakal sakit hati?

Gimana ya... hati nuraniku berkata nggak masalah Malaysia punya batik atau Malaysia punya Rasa Sayange dan rendang juga. Tapi kok seolah-olah seperti seringnya didoktrin kalau batik, Rasa Sayange, dan rendang itu punya Indonesia saja! Trus seandainya Malaysia ngeklaim ya kudu emosi. Aduh, aku jadi bingung deh.

Gimana menurut teman-teman tentang masalah ini? Tolong bantu aku. ^^




NOTE: Aku juga sempat ditanya tentang Pendet yang ada di dalam iklan turisme Malaysia, tapi setelah kugugling memang ada kesalahan pembuatan iklan, karena yang membuat adalah pihak ketiga. Yang jelas Malaysia sendiri jelas mengakui Pendet itu asli Bali.

Yang Tak Pernah Membosankan #2

Baru-baru ini aku merasa terkucilkan dari pergaulan selain memang dasarnya mengucilkan diri. Temanku kapan itu mengajakku buat karaokean. Mereka menyanyikan lagu Abdul and The Coffee Theory, Lady Gaga-Just Dance, dan lagu-lagu galau Indonesia lain. Aku nggak ngerti sama sekali. Sampai temanku bertanya, "Lo sukanya lagu-lagu jadul doang ye?" Hm, nggak juga sih.

Lagu di iTunesku isinya cuma beralbum-album Shiina Ringo dan Sujiwo Tejo dan beberapa lagu jadul lain. Setiap main komputer yang didengerin ya lagu mereka-mereka doang. Akunya sih nggak bosen, ibukku yang bosen. "Nggak ada lagu lain apaaa?" Nggak. Makanya pengetahuan laguku nggak maju-maju. Pernah suatu saat Mbak Ely Meyer bilang dia lagi suka lagunya Sammy Simorangkir. Hm, aku nggak tahu tuh yang mana lagunya. Yang tinggal di Jerman ajah lebih apdet, hihihi.

Setelah kupikir-pikir penting juga apdet lagu-lagu terbaru, terlebih lagi biar nyambung kalau diajak karaokean. Aku akhirnya memutuskan untuk rajin mendengarkan streaming radio. Aku mendengarkan Gen FM, stasiun radio favorit adekku dulu pas masih di Jakarta. Hari berganti hari, aku bosen. Abis yang disetel kalau nggak Malaikat Juga Tahu-nya Glenn Fredly, Pupus/Kasih Tak Sampai-nya Vidi Aldiano, sama Tahu Diri-nya Maudy.

Di Kartolo Mbalelo, Juni 2011.
Akhirnya ya denger Shiina Ringo dan Sujiwo Tejo lagi...
Lagi beberes postingan, eh ketemu aku pernah menulis My 9 Today Favorite Songs pada Juli 2011 dan kutulis kalau aku menyanyikan lagu Anyam-Anyaman Nyaman-nya Sujiwo Tejo nggak bosan-bosan dari April 2011. Dan sampai sekarang masih kudengar lagunya tiap hari. Setia amat yak gue. Kalau Shiina Ringo saking sukanya aku bikin rekaman suaraku nyanyi lagu dia, berasa suaranya bagus apah yak gue.



Di postinganku Yang Tak Pernah Membosankan setahun yang lalu, aku menyebutkan salah satu yang belum pernah membosankan untukku adalah rasa ceri. Mungkin yang aku bisa tambahkan lagi mendengarkan lagu-lagunya Shiina Ringo dan Sujiwo Tejo.

Kalau kamu, apa hal yang nggak pernah membosankan untukmu? ^^

Toponimi Jakarta

Beberapa waktu yang lalu aku menghadapi sebuah interviu bertemakan kebudayaan Betawi dalam sebuah seleksi pertukaran pemuda - yang aku nggak lolos. Si bapak penguji ini menanyakanku apa nama asli Patung Pancoran dan mendadak aku nggak ingat saat itu. Kemudian, ia bertanya lagi, apa yang aku ketahui mengenai kebudayaan Jakarta. Ia tambahkan, kebudayaan itu nggak musti seni, tari, alat musik, ras lho ya, apa saja boleh. Budaya itu luas. Kemudian aku menjawab dengan memaparkan mengenai toponimi Jakarta. Setelah menjawab, ia memujiku, "Wah, menarik, jarang sekali anak sekarang mengangkat tema ini. Kamu sebagai pemuda harusnya memperjuangkan mengenai ini."

Padahal, aku baru tahu istilah toponimi semalam sebelum hari itu. Bapakku menjelaskannya kepadaku, mehehehe! *nyolong ide bapak*

Apa sih toponimi itu? Toponimi itu ialah ilmu yang mempelajari mengenai asal-usul nama sebuah tempat. Nama sebuah tempat bisa dari unsur geografinya, demografi, sejarah, dan lain-lain. Sedangkan di Jakarta, sangat menarik. Sebut saja daerah Kampung Melayu, Cawang, Ancol, Angke, Jatinegara, atau Kelapa Gading. Nama-nama daerah itu memiliki asal-usulnya masing-masing.

Do you know? *sok buku banget* Ondel-ondel, salah satu budaya Betawi, dulunya dibuat untuk menolak bala.
Semalam sebelum tes interviu itu aku menelepon bapakku. Menanyakan apa saja yang menarik di Jakarta. Maklum belasan tahun di Jakarta, ternyata aku nggak banyak tahu tentang daerah ini. Bapak mengelaborasi tentang Untung Surapati lah, Ridwan Saidi lah, dan kemudian tentang toponim di Jakarta. Bapakku mengutarakan keprihatinannya mengenai nama-nama unik daerah di Jakarta yang mulai tergusur. Misalnya saja, nama-nama gedung tinggi di Jakarta saja malah sok keminggris. Beberapa di antaranya misal, Equity Tower, Sampoerna Strategic Square, The Plaza, kok ya nggak Jakarta banget gitu. Pembangunan di Jakarta seakan-akan melupakan asal-usul.

Waktu aku menjawab ini kepada Bapak penguji, ternyata ia juga prihatin. Ia menceritakan kepadaku mengenai Jalan Solitude. Letaknya nggak jauh dari Jatinegara dan Matraman. Nama jalan ini berarti kesunyian. Karena dulu banyak pasukan Perancis yang mati diserbu pasukan Inggris di sana dan yang bersisa adalah mayat-mayat yang berserakan. Jadilah suasana di sana hening dan sepi. Itu kenapa jalan itu dinamai Solitude. Sayangnya, jalan itu diganti namanya menjadi Jalan Ahmad Dahlan. Maksudnya baik untuk mengenang pahlawan, sayangnya malah merusak sejarah.

Do you know? Berapa tinggi Monas? Aku sih nggak tahu. Do you know? Ronce melati yang di sanggul ala Betawi melingkar dari kiri ke kanan seperti dari jam 11 sampai jam 5. Filosofinya perempuan Betawi kalau udah sore kudu udah pulang ke rumah. ^^
Kata si bapak itu, ada beberapa kalangan yang protes (mungkin kalangan yang peduli dengan kebudayaan Betawi) tapi ya susah untuk menahan pemerintah daerah untuk tidak mengganti nama jalan itu. Pesan si bapak lagi, sebagai pemuda Jakarta harusnya menjaga sejarah Jakarta ini dan menyerukan betapa pentingnya asal-usul Jakarta.

Banyak daerah di Jakarta dengan toponimi nama tumbuhan seperti Menteng, Grogol, Bintaro, Marunda, dan Bidara Cina. Ada juga yang berasal dari unsur demografi seperti Kampung Melayu karena dulunya banyak orang Melayu, Kampung Bali banyak orang Bali, atau Kampung Bandan karena banyak orang Banda, Maluku yang tinggal di sana. Daerah lain, Jatinegara memiliki nama itu karena pada zaman Pangeran Jayakarta di sana adalah hutan yang penuh dengan pohon jati.

Atau Tebet, yang dulunya merupakan daerah penduduk yang digusur dari Senayan karena pembangunan megaproyek stadion. Tebet berasal dari kata tebat yang berarti tambak. Namun ada yang menyebut Tebet adalah singkatan dari ‘telah betah’ yang berarti orang yang dulunya tinggal di Senayan sudah betah tinggal di sana. Menarik kan? Setiap nama daerah di Jakarta punya asal-usulnya. Dan semua daerah pastinya begitu. Toponimi daerah menurutku menarik untuk dipelajari.

Aku sih cuma ngarep aja, semoga nggak lagi-lagi Pemerintah DKI Jakarta ganti nama daerah atau jalan yang bakal menghilangkan sejarah karena rasa lokalnya bakal hilang dan padahal ini juga salah satu bagian dari Kebudayaan Betawi juga lho…

Si Una Sinau

Baca buku Economics of the Public Sector - Stiglitz.
Sebagai pemuda Indonesia, kontribusi paling mudah ialah: rajin belajar. Belajar tentunya dari mana saja. Membaca buku teks adalah kegiatan rutinku menjelang ujian. Biasanya, aku bakal mengurangi bicara, ngeblog, demi waktu ujian bisa menjawab soal. Hihihi... ^^ Buku di atas mendampingiku di kelas Ekonomi Sektor Publik.

Foto ini diikutsertakan pada Kontes Unggulan: Sehari Menjadi Srikandi.

*sinau = jw. belajar

What Greenfields Can Do

Sejak lahir, aku memiliki sedikit kelainan persendian yang kata dokternya disebabkan pengaruh hormonal ketika masih di dalam perut ibu. Selain itu, aku punya gigi yang buruk! Dua gigiku yang terletak di tengah depan di rahang atas itu berlubang. Ibarat permukaan gigi itu jalanan aspal yang halus, gigiku seperti berlubang karena hujan yang deras. Enggak rata. Dokter gigi yang memeriksaku berapa tahun lalu saja sampai heran, masih muda kok giginya bisa njeglong (berlubang) di depan pula. Efek ini bisa diperbaiki dengan menambah asupan kalsium. Cara yang paling mudah adalah minum susu.

Yap, minum susu! Tapi kenyataannya, meski sudah tahu aku begitu, dulu aku nggak suka minum susu. Mamaku sendiri rajin sekali beli susu. Biasanya membeli dua kotak yang satu literan setiap belanja. Selalunya yang low fat. Aku pernah bertanya kenapa mama selalu membeli yang low fat, ternyata supaya fat intake-nya nggak kebanyakan. Apalagi kita kan juga mengkonsumsi lemak dari makanan yang lain. Merek susu yang biasa mamaku beli adalah susu Greenfields Hi-Calcium Low Fat.

Minum susu Greenfields dulu.
Baru setahun belakangan, aku lumayan agak rajin minum susu. Kadang minum segelas begitu saja, atau aku terkadang suka membuat tea latte (teh susu), atau disajikan dengan sereal.

Produk Lokal dan Sapi yang Gembira

Dulu aku mengira susu Greenfields ini produk luar yang diimpor. Kalaupun bukan, pabriknya di sini tapi lisensi luar negeri. Aku baru tahu belakangan kalau Greenfields ini produk Indonesia. Pabrik dan peternakannya terletak di Desa Babadan, Gunung Kawi, Malang Jawa Timur, sekitar ketinggian 1200 meter di atas permukaan laut. Nah, Greenfields ini sudah diekspor ke mana-mana loh, antara lain Singapura, Hong Kong, dan Filipina.

PT Greenfields Indonesia memiliki 6000 sapi Holstein dengan mutu terbaik. Para sapi betina ini benar-benar dirawat dan dijamin selalu dalam kondisi bahagia. Misalnya, letak peternakan di ketinggian 1200 mdpl memiliki suhu yang sejuk dan itu sangat cocok untuk sapi. Selain itu sapi diberi makan yang semuanya bersifat natural dan tanpa tambahan hormon apapun. Jadi, susu Greenfields dihasilkan dari sapi-sapi yang bahagia dan juga sehat! Oke banget, kan?

Dilap dulu tuh mulutnya...

Lalu, what Greenfields can do?

Ada banyak nutrisi yang dimiliki Greenfields Milk. Magnesium dan seng berguna untuk mineral tulang dan menjaga sistem imun tubuh. Protein berguna untuk menyehatkan rambut dan kuku, kalsium untuk menguatkan tulang dan gigi, serta vitamin D, E, K, B1, dan B2 untuk fungsi sistem enzim, antibodi, dan juga anti-oksidan.

Yang aku rasakan sejak rajin minum susu sih aku jadi merasa lebih segar dan pastinya lebih sehat. Aku juga berharap asupan kalsium yang kian rutin bagiku membuat tulangku lebih baik dan gigiku agak tidak gampang keropos lagi. Ada temanku yang merasa tidak gampang lelah dan pegal-pegal cepat hilang karena rajin minum susu.

Kenapa Greenfields?

Temanku pun pilih Greenfields. :)
Selain karena nutrisi yang diperlukan tuh ada banyak, Greenfields itu rasanya nggak enek. Greenfields menjamin di dalam susunya enggak ada tuh yang namanya tambahan hormon pada sapi-sapinya, nggak ada zat tambahan, atau antibiotik. Biasanya, lokasi processing susu agak jauh dari lokasi pengambilan susu. Namun, Greenfields memiliki peternakan dan pabrik di area yang sama. Jadi kebayang kan bagaimana Greenfields itu fresh banget?

Greenfields juga ada beberapa varian, Fresh Milk, Low Fat, Skimmed Milk, dan Choco Malt. Meski di rumahku selalu minum yang Low Fat, kadang-kadang aku kepengen minum yang rasa cokelat, ya sudah deh aku sesekali beli yang Choco Malt. Oh ya dan yang nggak berhubungan dengan susu dan kandungannya, desain kardus Greenfields itu paling keren daripada susu merek lainnya. Asli! Kata Kartika, temanku yang percakapannya ku-capture dalam foto di samping kiri, kalau membeli susu Greenfields itu efek psikologisnya dapet banget. Kenapa? Soalnya senang aja setiap ke supermarket beli susu dan desain packaging-nya keren punya.

Greenfields milk.
Buat tahu lebih banyak mengenai Greenfields bisa buka webnya di www.greenfieldsmilk.com. Dan lagi ada lombanya loh, info komplitnya bisa ditengok di Facebook Page-nya.

Teman-teman blogger, pada rajin minum susu nggak?

Belanja Asik Baju Branded Anak Murah


Sekarang, sudah banyak sekali toko-toko online yang menjual baju anak murah. Tinggal pilih, klik, bayar, sampai deh di rumah. Dari toko online yang hanya membuka lapak di akun sosial media semacam Facebook dan Twitter, yang nebeng lapak di situs khusus jual beli, maupun yang punya situs sendiri. Kenapa? Karena peluang usaha bisnis baju anak murah ini sangat besar. Buat para ibu yang sudah punya anak, siapa yang nggak tergoda dengan tampilan warna-warni baju anak-anak?

Ada banyak situs yang menjual baju anak murah. Kebanyakan situs itu sangat cocok untuk ibu-ibu yang sedang mencari baju untuk anak tercintanya. Ada toko online menjual baju branded anak murah yang merupakan baju anak sisa ekspor. Kadang, meski kita bisa beli eceran, harganya sama seperti baju grosir anak. Menarik, bukan? Sudah online, lebih murah pulak!

Nah, menurut teman-teman terutama yang ibu-ibu dan suka belanja, belanja untuk baju anak yang asik itu yang bagaimana sih?

Baju anak murah.
Aku sendiri belum pernah yang namanya beli baju anak melalui internet. Tapi aku berandai, seandainya nih ya aku membeli baju anak via online shop maka yang kucari setelah baju yang oke adalah bagaimana toko itu melayani customer dengan baik. Misalnya saja, cara pemesanan yang mudah. Aku pernah melihat ada situs online shop yang dia melayani pembelian dengan berbagai cara pemesanan.

Pemesanannya bisa via e-mail, telepon langsung, tinggal kirim pesan via SMS, lewat Blackberry Messenger (BBM), melalui webnya, dan bahkan ada banyak online shop yang bisa kita membeli dengan nyamperin langsung ke tempatnya. Asik banget kan tuh? Ada offline shopnya juga yak berarti. Selain itu kalau bisa toko online itu menyediakan cara pembayaran yang mudah. Kebanyakan sih tinggal transfer aja ya, tapi asik juga kalau dilinkkan dengan internet banking jadi kita nggak perlu buka web bank kita atau ke ATM.

Sering beli baju anak lewat internet, teman?

Kutukan Kaya

Di dalam ekonomi ada istilah natural resources curse. Kutukan sumber daya alam. Jadi gini, negara yang punya sumber daya alam yang berlimpah biasanya terkutuk. Biasanya negara itu negara yang miskin, suasana politiknya nggak stabil, banyak korupsi, dan lain-lain. Penduduk sudah terlena akan kaya negaranya, jadinya begitu deh. Tentu saja nggak semua negara yang punya SDA banyak begini semua loh. Tapi satu contoh negara yang dapat kutukan ini adalah negaraku, negaramu, negara kita semua.

Indonesia.

Indonesia punya banyak pulau, tambang yang banyak, kaya alam banget lah. Sayangnya negara kita nggak oke dalam mengelolanya. Yang terjadi adalah ekstraksi berlebihan yang tidak melihat perspektif masa depan. Banyak pihak yang mencari celah untuk memburu rente dan juga korupsi. Kayanya Indonesia dimanfaatkan perorangan untuk meraih kayanya sendiri-sendiri. Nah, sebenarnya aku mau membahas sesuatu yang aku kira berhubungan dengan natural resources curse. Kok tak pikir-pikir enggak nyambung ya...

Oke, jadi aku merasa mendapat kutukan kaya. Lebih tepatnya kutukan voucher. Aku belum kaya lah ya pastinya. Dan aku suka sekali namanya pergi ke Foodhall, nama supermarket karena aku bisa lihat makanan aneh, barang-barang lucu, aku senang saja melihatnya. Tapi apa daya, aku selalu punya budget constraint. Jadi ya cuma lihat doang, enggak kubeli. Ceritanya aku sekarang mendapat voucher MAP senilai satu juta.

Contoh natural resource. Foto gak nyambung yo ben...
MAP itu merupakan perusahaan ritel yang punya hak menjual merek di Indonesia seperti Starbucks, Kinokuniya, Sogo, Travelogue, dan termasuk juga supermarket Foodhall. Pergilah aku dan temanku ke Sogo, Plaza Senayan. Di bayanganku sih belanja-belanji banyak barang dengan mengangkat belanjaan di pergelangan tangan dua tangan sambil haha-hihi bersama temanku. Realitanya, sudah sampai Foodhall semua barang jadi nggak menarik blas!

Sandal lucu dan tempat minum oke yang aku taksir biasanya menjadi nggak menarik di mataku. Cokelat yang belum pernah aku coba pun mendadak aku nggak kepengen. Aku menawari temanku untuk membeli sesuatu di sana, dia juga bilang nggak tertarik apa-apa. Kata temanku, yang bikin kepengen beli macem-macem adalah adanya budget constraint. Ketika nggak punya uang, bawaannya pengen macem-macem. "Kalau nggak ada budget constraint gini emang bikin nggak pengen beli apa-apa."

Memang, aku jadi nggak kepengen beli apa-apa di Foodhall, tapi aku jadi naksir tas Thule yang harganya 1,9 juta. Padahal jarang-jarang aku naksir tas. Aku tanyalah ke temanku, "Jadi kalau orang kaya itu udah nggak kepengen beli-beli kali ya?" Jawab temanku, "Ya misalnya Ciputra, kalau barang gini-ginian sih udah nggak kepengen, tapi kepengennya yang lebih lagi dari yang dia udah achieve. Misal ndiriin gedung di seluruh dunia?" Jadi teringat, aku punya budget constraint satu juta tapi jadi kepengen beli tas yang lebih mahal lagi.

Voucher MAP.
Kalau dihubung-hubungin, negara yang nggak banyak sumber daya alam, alias constraintnya kecil, kecenderungannya lebih maju. Ya karena memang mereka kepengen maju. Sedangkan negara yang sudah kaya alamnya, sudah enak dengan kondisinya, dan yeah kayak Indonesia gitu deh. Dan satu yang pasti, aku kok tiba-tiba bingung mau menyimpulkan apa dan kemudian apa hubungannya SDA sama voucher ini. Kayak nggak nyambung. Hm, ya sudah lah ya.

Segelas Kawista Punch Untuk Una

Terakhir ke Solo hampir tiga bulan lalu, aku ke sana bersama salah satu teman tercintaku, si Aji. Pagi-pagi, dengan muka kucel habis berjemur, belum mandi pula, kami pergi ke Museum Danar Hadi. Aku sendiri sudah pernah ke sana, sedangkan Aji belum. Sedikit kecewa karena guide Museumnya adalah guide baru dan kurang oke menjelaskannya, tapi buatku nggak masalah. Toh tujuan utamaku ke Museum Danar Hadi waktu itu adalah minum Kawista Punch.


Di House of Danar Hadi ada satu fine-dining restaurant bernama Soga. Mungkin waktu itu kami pengunjung pertama hari itu. Padahal ya katanya kan fine-dining restaurant itu, visitornya harus berpakaian dengan baik. Atau biasanya ditujukan untuk small meeting bisnis. Tapi aku ke sana celana pendekan, rambut gondrong nggak dikucir rapi, kusam lagi mukanya, mantap. Ini namanya usaha mengeliminasi disparitas antar kasta manusia.

Aku dan Aji hanya memesan Kawista Punch.

Aku pernah menulis di dalam blog kalau aku suka banget yang namanya sirup kawista. Kawista itu nama buah yang dibawa dari Cina. Katanya ketika masa Putri Ong Tien datang ke sini yang kemudian dinikahkan dengan Sunan Gunung Jati. Uniknya, kawista ini hanya ditemukan tumbuh di kawasan pantura. Kawista banyak dikembangkan di Rembang dan sirup-sirup kawista yang aku biasa temukan selalu made in Rembang. Sirupnya rasanya kayak rum, enak deh... tapi banyak yang nggak doyan sih.


Kawista Punch-nya Soga Danar Hadi ini sebenarnya gampang sekali membuatnya, cuma lagi pengen aja aku minum itu di sana. Meski sebenarnya harga segelas bisa buat beli sebotol sirup kawista. Kawista Punch ini isinya:
  • Sirup Kawista
  • Soda
  • Nata de coco
  • Jelly
  • Selasih
  • Garnish strawberry
Gampang banget kan? Harga yang premium mungkin memang untuk membeli suasana Soga itu.


Kami juga diberi komplimen keripik singkong yang biasa aja sih rasanya tapi adiktif, bawaannya pengen nyemil mulu. Aku senang sekali bisa minum Kawista Punch lagi. Si Aji pun bilang katanya enak rasanya. Aku jadi kepengen minum kawistaaa...

Di Jakarta bisa dijumpai sirup kawista di Kemchicks Pacific Place seharga 50 ribu sebotol atau di Toko Nusa Indah Jalan Ahmad Dahlan Kebayoran dengan harga sekitar 26 ribu. Di Solo sendiri harganya 28 ribu sebotolnya. Di Rembang nggak tau deh.

Pernah minum sirup kawista? Suka?

Selingan Semusim - Alaika Abdullah

"Judulnya, alurnya, ceritanya, benar-benar menggairahkan! Memikat! Dan tak hanya itu, ada pesan yang disematkan oleh Mbak Alaika dalam novel ini. Hukum tabur-tuai, ketika manusia mendapatkan balasan dari perbuatannya, baik yang baik maupun yang buruk. 
Semua tentu bisa diubah, tergantung bagaimana manusianya dapat mengubah dirinya sendiri. Sebuah novel yang layak dibaca dan dimiliki." - Sitti Rasuna, mahasiswi.
Mbak Alaika Abdullah ialah seorang blogger yang berasal dari Aceh. Baru-baru ini ia meluncurkan novelnya yang berjudul Selingan Semusim. Novel ini dimulai ketika Mbak Alaika Abdullah menjawab tantangan temannya untuk menulis fiksi.

Suatu saat di bulan Desember, Mbak Al, begitu aku menyapanya, memintaku untuk memberikan endorsement untuk novelnya. Sebenarnya aku rada gimana gitu kalau dimintai endorsement, aku sendiri nggak punya pengalaman menulis fiksi. Tapi aku mencobanya dengan membaca draft novelnya. Sedikit bagian depannya aku sudah pernah membaca karena beberapa bagian pernah diposting di blog. Tentu aku penasaran bagaimana perjalanan akhir ceritanya.


Berikut ialah sinopsisnya:

Perang batin berkecamuk, terutama dalam diri Novita, antara mempertahankan kesetiaannya terhadap Arief, sang suami, atau menuruti sisi kelam sanubari, yang terus memancingnya untuk larut dalam hubungan terlarang dengan Fajar, sang fasilitator yang juga memendam ribuan ketertarikan terhadap dirinya.

Campur tangan Tuhan adalah jawaban atas doa yang dipanjatkan sisi baik hatinya. Walau tak sesuai pinta, namun wanita ini dengan tanggap beraksi. Kecelakaan yang menimpa dirinya, disambutnya sebagai peringatan Tuhan untuk segera membersihkan noktah merah pernikahannya.

Namun agaknya, Tuhan masih memberinya ujian. Tragedi tsunami, justru terjadi saat dirinya bersama anak dan suami berkunjung ke Aceh. Gelombang maut itu dengan kejam merampas kehidupan Arief dan Niken, dan membuatnya kehilangan dua orang terkasih sekaligus. Dan sejak itu, kisah sendu hidupnya pun dimulai.

Pengembaraannya bertahun di tanah rencong, bergelut dalam pekerjaan kemanusiaan sambil terus berupaya mencari keberadaan Arief dan Niken [walau hanya dalam bentuk pusara], akhirnya mempertemukannya kembali dengan Fajar, yang secara tiba-tiba menyapanya dari belakang di sebuah rapat koordinasi. Akankah asmara terselebung itu bersemi kembali? Akankah Novita menerima Fajar atau mengembalikannya secara terhormat kepada Shenny, istri Fajar? Akankah Novita menerima cinta dr. Ridge?

Band kertas buku Selingan Semusim.

Membaca novel Mbak Alaika seakan-akan dihinggapi rasa penasaran. Setiap membuka lembaran baru, kian penasaran bagaimana isi lembaran-lembaran berikutnya. Tulisan Mbak Alaika menggunakan bahasa yang mudah dicerna, namun tetap renyah, dan membuat pembaca terjatuh dalam tiap alur-alurnya.

Pengalaman Mbak Al di bidang waste management membuatnya untuk berpikir bagaimana bungkus buku Selingan Semusim ini menjadi lebih environment-friendly. Mbak Al tidak menggunakan pembungkus plastik untuk bukunya, melainkan band kertas yang bisa digunakan untuk pembatas buku.

Selingan Semusim.
Nah, penasaran kan bagaimana bukunya? Order yuk!
Silahkan hubungi via SMS ke:
0857 1064 8065
Bisa COD area Jakarta Pusat, Pancoran, Kebayoran, dan sekitarnya. ^^

Bikin Battala'


Setelah 125 tahun National Geographic berdiri, sebuah tema baru dicetuskan, yakni Era Baru Eksplorasi. Didefinisikan eksplorasi itu tak hanya melulu perjalanan ke luar daerah, ke luar angkasa, penemuan obat, pembuatan mesin, bahkan melihat sekeliling rumah pun juga disebut dengan eksplorasi. Melihat halaman rumah, memperhatikan kucing lewat, atau mempelajari nama pohon di sekitar. Seringnya, kadang yang di sekitar rumah sering diabaikan. Yongkru, tetangga jarak dua rumah dari rumahku aja aku nggak kenal. Tralalala...

Nah, tema pertama lomba 8 Minggu Ngeblog Bersama Anging Mammiri ini adalah “Sekitar Rumahmu.” Aku jadi berpikir apa saja ya yang menarik dari sekitar rumahku selain bahwa di depan rumahku adalah markas band besar dan bahwa ada studio band dekat rumah yang penjaganya mirip Ahmad Dhani. Lalu, aku pun teringat sesuatu bahwa ada banyak sekali hal di sekitar rumahku yang ma’ bikin battala’ yang dalam Bahasa Indonesianya ialah, membuat gemuk! Apa ya itu…Tebak hayo! Eh tapi bentar dulu, aku mau cerita sedikit tentang lokasi rumahku.

Ahmad Dhani KW 4.
Letaknya rumahku kalau di peta Jakarta ya sekitaran tengah-tengah lah ya. Rahasia kotamadyanya apaan. Sebelum tinggal di rumah sekarang, aku tinggal di daerah Jatinegara, Jakarta Timur. Di sana aku tinggal dari kecil sampai kelas 3 SD. Suatu saat ternyata kami harus pindah rumah yang jaraknya sekitar dua kilometer dari rumah lama. Nggak jauh memang, tapi awalnya aku ogah banget pindah rumah. Kenapa? Karena di rumah lama aku sudah kenal banyak orang serta ke mana-mana dekat. Mau ke toko buku yang besar, mau ke pusat perbelanjaan, dekat semua. Intinya sih… kalau bahasa sekarang, aku sudah pewe banget di rumah dulu.

Sudah mana di rumah baru lingkungannya sepi, tetangga juga nggak saling dekat, fiuh… Tapi, lama kelamaan di sekitar rumah baru perkembangannya maju dengan pesat. Sekarang sudah menjadi area tempat nongkrong yang nge-hip di Jakarta, meski nggak se-hip Kemang sih. Sebut saja, kedai cepat saji McDonald’s, KFC, Hoka Hoka Bento, atau tempat makan steik populer di Jakarta Abuba, Cheese Cake Factory, Seven-Eleven, tempat makan dari Sunda, Jawa, Aceh, seafood, sushi, bakmi, semua bisa dicapai dengan jalan kaki saja dari rumah.

Seven Eleven, tempat nongkrong yang lagi nge-hip di Jakarta, kotaku indah dan megah~ di situlah aku dilahirkan~ tapi boong~
Mau ke supermarket juga jalan kaki, mau karaokean tinggal ngojek bentar. Bahkan sekarang ada mall besar cuma jarak 3 kilometer. Seneng sih, seneng dong ya. Apalagi ini kan era baru eksplorasi, mencoba kuliner satu tempat ke tempat lain kan juga disebut eksplorasi. Mana baru sebentar, biasanya sudah muncul satu tempat makan baru pulak. Coba ah… Memang sih jajannya jarang, tapi kalau tiap ada baru dicoba ya lama-lama bikin battala’ lah yaw. Eh. Udah gendut sih aku mah. Mana ada bangunan yang sedang dibangun dan mau dibuka menjadi rumah makan Arab pulak. Duh, kudu coba ini!

Ngomong-ngomong eksplorasi sekitar rumah, mungkin sebaiknya aku mengurangi eksplorasi kuliner. Berhubung aku nggak banyak kenal tetangga, mungkin sebaiknya aku sering-sering ketemu tetangga kali ya. Atau memperbanyak kunjungan ke perpustakaan daerah. Atau eksplorasi perosotan dan pohon sawo dekat rumah. Atau lagi mungkin kudunya lari-lari di hutan kota yang tak jauh dari rumahku juga. Biar seimbang gitu sama eksplorasi kulinernya.

Aku tentunya pewe tinggal di rumah sekarang. Ternyata malah letaknya lebih strategis dibanding rumah lama, hehehe… Kalau teman-teman, apa yang menarik di sekitar rumahmu?

Berburu Hantu di Goa Jepang

Jalan-jalan yang seru buat Keke dan Nai?!

Nah, aku, panggil saja aku Una, mau ajak Keke dan Nai berburu hantu!
Yap, berburu hantu di Goa Jepang, tepatnya di Taman Hutan Raya (Tahura) Djuanda Dago Pakar, Bandung.


Goa Jepang itu merupakan salah satu goa yang dibangun saat penjajahan Jepang tahun 1942-1945. Goa ini dipakai buat markas Kantor Besar mereka. Goa ini dahulu difungsikan buat menyimpan amunisi, logistik, dan alat komunikasi radio pada masa perang.

Baru-baru aja aku pergi ke sana dengan kakakku Kak Idah. Kakak beda ibu beda bapak sih. Nah, goanya tuh gelap banget kan ya. Kalau nggak bawa senter, ada rental senter. Tapi sih nyebelinnya, mereka yang menyewakan senter suka maksa-maksa!

Kak Idah si ghosthunter.
Tadinya aku sama Kak Idah nggak mau pinjam senter. Kita kan mau gelap-gelapan di dalem goa. Eh! Ibunya malah bilang, "Hati-hati Neng, di dalem ada penunggunya... namanya Nyi Denok, ibu bukannya nakut-nakutin, beneran, ibu udah 20 tahun di sini." Hmmm... Nyi Denok? Sounds interesting!

Ada titik terang di tengah? Ini ventilasi goanya... Biar gak kepanasan!
Akhirnya malah ibu yang menyewakan senter menjadi guide untuk kami. Ia menjelaskan ruangan-ruangan di dalam goa, kemudian menunjukkan ventilasinya, ruang logistik dan lain-lain. Setelah menelusuri guanya... eh sayang... nggak ketemu si Nyi Denok.

Dan entah ya, aku nggak bisa menemukan cerita tentang Nyi Denok bahkan di google. Atau ibu Sukaesih yang menyewakan senter itu bikin cerita sendiri yak? Keke, Naima, kalau ke sana, kalau ketemu Nyi Denok, titip salam yak. ^^

Sayang, ada yang coret-coret dalam goa...
Kenapa aku pilih Goa Jepang karena terletak di dalam taman hutan yang luas sekali yang luasnya 590 hektar. Menjelajahnya bisa jalan kaki atau kalau capek bisa naik ojek. Ayahnya Keke dan Naima pecinta alam kan ya, pasti kalian suka alam juga kan. Nah, Taman Hutan Raya Djuanda tuh seger banget, rindang, enak deh! Ya meski agak kotor gitu deh. Eh atau kalian sudah pernah ke sana?

Selain Goa Jepang, di sana ada Goa Belanda, Curug Omas Maribaya, pemandian air panas, dan hutan yang luasss...

Aku dan Kak Idah kayak dipenjara. Ini di dalem Goa Belanda. 
Curug Omas Maribaya, sayang nggak bisa main air di sana.
Curug Omas juga.
Tahura Djuanda dengan jalan setapaknya.
Masuk Tahura Djuanda ini cuma 8000 per orang. Murah banget kan! Aku sih kecewanya ada banyak curug dan ada kali, tapi nggak bersih. Jadi nggak bisa main ciprat-cipratan air sama Kak Idah deh. Tapi aku seneng sih ke sana. Melihat hijau-hijau yang banyak rasanya adeeeem banget. ^^

Ah, udah ya segini dulu. Una mau belajar dulu... *masih bisa April Mop nggak sih nih?!


Jailolo, Aku Datang!

Pertama kali aku mendengar kata Jailolo ialah ketika duduk di bangku kelas 4 sekolah dasar. Waktu itu dalam pelajaran Sejarah sedang membahas mengenai kerajaan-kerajaan Islam di Maluku. Jailolo ialah nama salah satu kesultanan di sana dan di dunia modern pun masih ada Sultan Jailolo di bawah Kesultanan Ternate.

Jailolo berlokasi di Kabupaten Halmahera Barat, Maluku Utara. Tiap tahunnya Dinas Pariwisata Halmahera Barat mengadakan acara Festival Teluk Jailolo (FTJ) dalam rangka promosi potensi wisata, budaya, sumber daya alam yang dimiliki oleh Jailolo. Tahun 2013, FTJ akan berlangsung pada tanggal 16-18 Mei dengan banyak rangkaian acara, antara lain ritual laut Sigofi Ngono, pertunjukan musikal dan tari Sasadu by the Sea, dan juga ada konser NOAH.

Melihat-lihat indahnya Jailolo hanya lewat situs resmi FTJ 2013 membuatku bertanya-tanya, siapa sih yang nggak kepengen ke tempat sekeren Jailolo ini? Aku? Aku jelas kepengen!

Namto Hui Roba, Bupati Halmahera Barat. Foto diambil dari situs Festival Teluk Jailolo 2013.
Foto diambil dari situs Festival Teluk Jailolo 2013.
Aku belum pernah sampai ke Indonesia bagian Timur dan selama ini hanya tahu dari koran dan internet. Maluku sering disebut-sebut dalam buku sejarah sebagai penghasil rempah-rempah, aku penasaran saja bagaimana asli bentuk rupanya. Mencicipi makanannya, bermain dengan pesisirnya, beramah-tamah dengan masyarakatnya, dan tentu saja aku kepo banget dengan seberapa spektakulernya Festival Teluk Jailolo mendatang!

Seandainya melalui blog contest yang diadakan oleh Wego Indonesia dan FTJ ini aku bisa pergi ke Jailolo, tentu banyak yang bisa dilakukan untuk mempromosikan Jailolo ke publik. Aku yakin masih banyak yang belum mengetahui, bahkan di mana lokasi Jailolo. Aku percaya cerita melalui mulut-ke-mulut ialah media promosi paling yahud, aku akan bercerita kepada teman-teman mengenai Jailolo. Selanjutnya, aku akan mengunggah tulisan mengenai Jailolo di blog pribadiku dan tak hanya satu tulisan. Selain itu akan kupasang foto-foto yang cantik sehingga bikin orang lain kepengen, hihihi!

Tak lupa di-share melalui akun-akun jejaring sosial dan berharap ada word-of-mouth marketing dari pembaca blogku kepada rekan-rekannya serta pastinya ada multiplier effect dan yang tahu Jailolo jadi banyak deh. Duh, berkhayalkah aku?

Tentu aku berharap judul postingan ini tak hanya sekadar judul, namun juga menjadi kenyataan. ^^

Hujan-Hujanan di Kawah Putih

Guyuran hujan sore ini mengingatkanku persis seminggu lalu (30/3) aku hujan-hujanan di Kawah Putih. Waktu itu, Mbak Alaika, Mbak Ama, Mbak Idah, dan aku menuju Ciwidey sekitar jam satu dari Bandung. Sampai Kawah Putih sekitar jam empat kurang dan waktu itu hujan. Kawah Putih ialah danau kecil bekas letusan Gunung Patuha yang berwarna putih kehijauan karena sulfurnya. Tiket masuk per orangnya 15.000. Dari loket menuju lokasi kira-kira berjarak 4,5 kilometer.

Ada dua pilihan. Jika menggunakan ontang-anting, semacam angkutan yang disediakan oleh pihak pengelola diharuskan membayar biaya 10.000 sedangkan jika ingin membawa mobil sendiri ke atas, tarif parkirnya 150.000. Karena mahal sekali, akhirnya parkir di bawah saja. Kebetulan kan hujan ya, dan hanya aku yang membawa payung (beuh, well-prepared banget kan eike) dan tak bisa kami temui ojek payung di sana. Mbak Ama, teman Mbak Alaika sudah pernah ke Kawah Putih sebelumnya jadi ia memilih untuk tidak naik. Sedangkan Mbak Alaika karena tinggal di Bandung, bisa lain kali ke Kawah Putih dengan mudah.

The pretty driver kalau kata Pakde Cholik.
Nah yang kepengin sekali melihat Kawah Putih adalah temanku Mbak Idah ini. Ya masak udah jauh-jauh sampai sana, nggak jadi karena kalah sama hujan. Akhirnya aku berdua saja dengan Mbak Idah naik ke atas menggunakan ontang-anting. Kata orang-orang yang kami temui dan mbak-mbak tiket kalau hujan pasti ada kabut, tapi kami nggak peduli euy!

Sampai ke atas, tahunya banyak rental payung. Namun kayaknya Mbak Idah ini tipe-tipe orang romantis, sudah tahu payungku kecil sekali tetap saja sepayung berdua. Nah, aku jadi teringat ketiga tiga tahun lalu aku ke Kawah Putih bersama sepupuku, Affi. Ada banyak hal baru di sana. Ada tulisan KAWAH PUTIH, ada kantor information yang bagus, tangga masuknya pun juga sedikit berubah. Jalan menyusuri tangga, dan voila... Kawah Putih ada di depan mataku!

Dan seperti biasa, kalau lihat sesuatu yang cantik, entah pegunungan, hutan, danau yang indah, atau diriku sendiri (pret!) bawaannya aku nyengir-nyengir sendiri. Aku senang! Meski hari itu ramai sekali, nggak masalah lah. Bau belerang tidak begitu menyengat dan tidak ada kabut di sana. Diprovokasi sama orang-orang di bawah tadi nih. Namun sepertinya air di danaunya di berapa bagian menjadi lebih butek. Entah karena hujan atau bagaimana deh. Selanjutnya ya, foto-foto...

Umbrella girl. Tuh celana sama sandal jepit sudah dibawa jalan berapa kilometer yak @.@
Ketok banget sensornya kotor.
Kami bergantian foto-fotonya. Sudah bisa ditebak banyakan foto Mbak Idah dibanding fotoku. Rasionya 5:1 kalik. Kemudian dia kepengen banget namanya foto berdua sama aku, hmmm... gitu ya. Akhirnya kami minta tolong dengan mas-mas yang juga datang berdua dan nantinya minta difoto berdua juga, sip.

Rame beud. 
Sok iye.
Sekitar 20 menit kami berada di Kawah Putih. Padahal tulisan di luar maksimal 15 menit, dikarenakan takut kenapa-kenapa kalau menghirup belerang terlalu lama. Foto-foto di tulisan KAWAH PUTIH, kemudian naik angkot ontang-anting untuk kembali di bawah. Di perjalanan turun, kami pun mewawancarai si supir ontang-anting supaya mendapat pengetahuan lebih banyak. Tak lupa Mbak Idah mendekati supirnya untuk foto bareng, jiahhh! Kami bertanya banyak hal mulai uang yang didapat dari ontang-anting perharinya dan mitos-mitos di Kawah Putih.

Jika tiket ontang-anting di loket bertarif 10.000, delapan ribunya akan masuk kantong pemilik ontang-anting dan sisanya untuk pihak pengelola. Ada semacam lisensi supaya bisa ontang-anting bertugas di Kawah Putih. Jumat-Sabtu minggu lalu si bapak supir berhasil narik 55rit pulang pergi. Sedangkan 1 rit ia akan mendapatkan uang 104.000. Hitung saja penghasilan bapak itu dua hari itu. Tapi itu di akhir pekan, kalau di hari biasa ya sepi.

Ia juga bercerita bahwa ada makam leluhur yang dikeramatkan dan juga dulunya ada sebuah pabrik belerang di Jaman Belanda. Anyway, andai Junghuhn masih hidup, pengen sekali aku bertemu dengannya. Junghuhn ialah peneliti geologi yang menemukan Kawah Putih...

Pegang-pegang paha eike. @Ontang Anting
Sampai di bawah, Mbak Idah dan Mbak Alaika belanja-belanja dulu, hihihi. Karena Mbak Alaika dan Mbak Ama belum foto-foto, jadi kami berempat foto di depan tulisan Wisata Kawah Putih. Minta fotoin orang yang kebetulan juga foto-foto di sana.

Sok ikrib amat eike sama Mbak Idah pake rangkul-rangkul. Padahal di luar foto, kukata-katain mulu, hihihi pisss mbak!
Loket Kawah Putih tutup pukul 17.00 dan kami turun sekitar jam segitu. Sudah sore sekali dan kami tidak sempat ke Situ Patenggang. Padahal eike mau nunjukin tukang perahu nu kasep lah... hihihi.

Akang-akang parahu.
Sore itu... kami langsung menuju ke Nasi Kalong. Sudah pernah coba?!
Terimakasih buat Mbak Alaika dan Mbak Ama yang mengantarkan ke Kawah Putih, hihihi ^^

Blogger Look-Alike #2

Postingan ngomongin orang lagi, wuhuyyy! (Post pertama di: Blogger Look-Alike).

Maafkan aku kalau aku pasang foto beberapa dari teman blogger ya, duanya udah izin, yang satu belum, tapi udah pernah bilang langsung kalau dia mirip *tiiittt*! Ini cuma for fun aja kok... ^^ Lagi-lagi, ketika lihat beberapa teman blog, kok kayak tokoh yang kerap kulihat di tivi ya. Nah, ini dia...

1. Idah Ceris vs. Adrie Subono


Mbak Idah Ceris merupakan seorang blogger perempuan asal Banjarnegara. Jalan beberapa hari dengan Mbak Idah akhir pekan lalu, membuat intensitas melihat dia lebih banyak. Sudah gitu, isi kameraku foto dia semua lagi. Gimana jadi nggak sering liat. Nah, tak perhatiin nih, Mbak Idah tuh kayak mirip siapa gitu. Setelah kuingat-ingat, kok menurutku Mbak Idah mirip Adrie Subono yak.

Mirip nggak sih? Kok pas aku gugling foto Adrie Subono nggak begitu mirip ya. Hihihi, tapi kayaknya sih kubilang mirip karena jidatnya sama-sama lebar. Kalau kata Mbak Idah, istilahnya cenong.

2. Rivai vs. Eliza Thornberry


Mbuh, pokoknya menurutku pemilik blog Kempor.Com ini mirip sama Eliza Thornberry, hihihi. Eliza ini salah satu tokoh di kartun Nickelodeon yang berjudul The Wild Thornberrys. Cuma kurang kepang sama kawat gigi aja! Peace, bro!

3. Mas Arie Goiq vs. Gayus Tambunan


Si empunya blog goiq.blogspot.com ini mirip banget sama Gayus. Beberapa kali aku memanggil Mas Arie ini dengan sebutan Mas Gayus, peace mas! Pas postingan Blogger Look-Alike pertama dulu, dia komen begini kalimatnya, "untung ga ada fotoku sebelahan sama om om yang suka ngabur dari bui itu.. wakakakakaka." Ah, belum aja, itu kan di post yang pertama, sekarang udah ada fotomu, hihihi ^^

Udah gitu, pas lagi obrak-abrik iPhoto dan googling foto Gayus di google. Loh, loh, kok rambutnya mirip ya... Bagian depannya itu loh. Hahaha...

Kalau aku sih ya, kalau dulu mirip Beyonce, sekarang mirip sama Victoria Beckham dan Rihanna. Katanya sih, gitu.


Mirip kan mirip?
Wis bilang iya aja deh ya!

Hidung Besar Itu Hoki?!

It's all about luck.

Masih jelas teringat dalam benakku ketika Chairul Tanjung di dalam sebuah talkshow berucap kira-kira begini, "Orang bodoh akan kalah sama orang pintar. Sedangkan orang pintar kalah dengan orang licik. Namun orang licik akan kalah oleh orang yang beruntung." Tentu penting menjadi orang yang beruntung dan keberuntungan tak sekonyong-konyong didapat begitu saja. Keberuntungan berasal dari Tuhan dan butuh usaha untuk mendapatkannya.

Ngomong-ngomong keberuntungan, ada mitos bahwa jika memiliki hidung yang besar maka besar pula hoki yang dipunyai. Di batang hidung terdapat titik Yin Tang yang menggambarkan kemakmuran. Hidung besar merepresentasikan kekayaan dan kemampuan mendapatkan uang. Aku sendiri berhidung besar. Dulu, aku tidak suka dengan hidungku karena berbentuk seperti jambu. Tapi setelah mama bilang kalau hidung besar itu hoki, aku malah senang. Beberapa teman juga pernah ada yang berpendapat bahwa aku adalah orang yang beruntung. Dan tentu saja aku merasa begitu. ^^

Fokus dari mukaku ialah hidung yang besar, hihihi!
Ketika masuk SMA, aku membuat tabel daftar target nilai tiap-tiap mata pelajaran. Aku sendiri tidak ngoyo dalam belajar, malah kata temanku, aku sukanya malas-malasan di kelas, eh tahu-tahu seorang guru memberitahuku kalau aku mendapatkan ranking 1 seangkatan. Sebelum lulus SMA, dengan nilai rapor saja, aku bisa mendapat bangku kuliah di fakultas ekonomi yang katanya terbaik di Indonesia. Tanpa harus belajar untuk ujian masuk universitas. Toh meski nilaiku tak bagus di bangku kuliah, aku tetap merasa beruntung memiliki teman-teman yang baik.

Dalam dunia blogging, aku mulai aktif saat akhir 2011. Aku nggak tahu kalau dalam dunia blog ternyata ramai sekali. Aku mencoba mengisi kolom komentar blog yang aku kunjungi, mengikuti lomba-lomba yang ada, dan bertemu darat dengan teman-teman blog. And yes, aku merasa beruntung aku bisa bertemu teman-teman baru dan mendapatkan banyak pengalaman dan hadiah. Hasilnya, blogku pernah menjadi finalis di The Bobs Best Blog Indonesian 2012 dan Lomba Blog Majalah Sekar. Aku mendapat dua iPad dan banyak stuffs lainnya.

Grand Palace, Bangkok.
Di awal tahun ini aku berkesempatan menginjakkan kaki ke lima negara dan menambah dua negara baru dalam daftar negara yang pernah kudatangi. I just feel so lucky!

Beberapa teman berkata aku beruntung, tapi kupikir semua orang pasti punya keberuntungan masing-masing tergantung bagaimana melihatnya. Mau secantik apa, mau sekaya apa, kalau tidak merasa beruntung ya bagaimana ya. Padahal, merasa beruntung itu bikin keberuntungan makin mendekat. Singkatnya, sama saja seperti law of attraction, hukum tarik menarik, jika berpikir positif, merasa beruntung pasti akan beruntung juga.

Kalau dilihat sialnya, tentu saja banyak. Aku pernah hanya mendapat IP sebesar 2,00 dalam suatu semester, aku hanya mahasiswi kupu-kupu (kuliah pulang kuliah pulang), aku susah dekat dengan orang baru, banyak. Tapi kupikir-pikir, aku masih beruntung punya keluarga dan teman yang baik dan hal-hal baik lain yang harusnya kusyukuri.

Ada beberapa hal yang bisa menjadikan kita lebih beruntung:
1. Selalu berpikir positif dan selalu merasa beruntung
Selalu berharap hal baik akan datang tentu akan mendatangkan hal baik 'kan ya?!

2. Sering bertemu dengan teman
Aku sendiri bukan orang yang punya banyak teman. Namun ketika bertemu teman rasanya aku senang sekali. Selain itu aku berusaha untuk tak takut lagi bertemu dengan orang baru. Datang ke acara-acara, bisa menambah teman, memperluas link. Meski tidak ada rencana membangun bisnis, bertemu orang-orang itu pasti menambah rezeki. Apapun bentuknya.

3. Segera temui peluang yang ada
Kalau ada kesempatan lewat, jangan sampai hanya dibiarkan begitu saja. Contohnya untukku, tahu ada lomba blog dari Chic Magazine, aku nggak mau sampai kelewatan!

4. Rajin bangun pagi
Sering dengar perkataan jangan bangun siang-siang nanti rezekinya dipatok ayam kan? Ini sepertinya benar. Memang bangun pagi itu bikin tubuh lebih segar dan lebih bahagia pastinya.

5. Terus berusaha dan berdo'a
Kalau ini sih jelas. Bukankah keberuntungan itu dari Tuhan? Maka meraihnya harus dengan ikhtiar kuat dan berdo'a.

6. Masih banyak yang lainnya!
Banyak memberi, banyak belajar, mencoba hal-hal baru, merupakan beberapa yang membuat kita menjadi lebih beruntung.

Hidung besar.
Lalu, bagaimana dengan hidung besar yang hoki itu?

Rupanya menurut studi, pemilik hidung besar memang beruntung. Hidung besar memberikan proteksi terhadap bakteri dan infeksi untuk badan dengan lebih baik. Soalnya ternyata, hidung besar menghirup debu yang buruk lebih sedikit ketimbang hidung kecil karena alat filtrasinya lebih baik. Karena itu pemilik hidung besar lebih kuat terhadap penyakit, contohnya flu.

Kalau masalah hoki yang berkenaan dengan kekayaan dan kemakmuran, aku sih percaya-percaya saja. Kenapa enggak? Lagipula itu membuatku lebih termotivasi, hehehe... Tapi mau bentuk hidungnya bagaimana, aku yakin semuanya beruntung. ^^

Chic Magz
Dan untuk Chic Magz, selamat ulang tahun yang ke delapan ya. Meski delapan adalah angka keberuntungan, aku yakin keberuntungan Chic akan ada terus di tahun-tahun selanjutnya. Makin sukses ya, Chic!

❤❤❤

Referensi:
http://www.tabloidnova.com/Nova/News/Peristiwa/Wajah-Menurut-Fengsui-Hidung-Besar-Justru-Makmur
http://www.cracked.com/article_19964_5-scientific-reasons-youre-better-off-being-unattractive.html

Paket BB? simPATI BBSosialita Aja!

Hari gini, pasti banyak dong yang pakai Blackberry? Dan hari gini, pasti punya blog dong ya? Aku rasa juga banyak blogger-blogger yang demen ikut kontes blog. simPATI sekarang punya fitur terbaru yang namanya paket Blackberry Sosialita. Selain itu, simPATI juga mengadakan blog writing competition Simpati BBSosialita lho!

Nah, apa sih paket Blackberry Sosialita ini?
Buat para pengguna simPATI, dengan tarif hanya Rp 60 ribu untuk 30 hari bisa mengaktifkan paket ini yang memiliki kelebihan dibanding paket Sosialita sebelumnya.

Cuma 60 ribu loh sebulan!
Fitur New BlackBerry® Sosialita:
  1. BlackBerry® Messenger Chat (BBMTM)
  2. Unlimited Internet Browsing melalui BlackBerry® Browser
  3. Social Networking (Facebook, Twitter, My Space)
  4. 1 E-mail Account user@Telkomsel.blackberry.com

BONUS Paket New BlackBerry® Sosialita:
  1. Bonus 500MB (jaringan 3G) + 100 MB (jaringan 2G& 3G) untuk streaming & download
  2. Download lagu sepuasnya di LangitMusik selama 30 hari
  3. Bonus 100 menit ke seluruh pelanggan Telkomsel (berlaku pukul 00.00-17.00)
  4. Bonus 100 SMS ke seluruh pelanggan Telkomsel (berlaku pukul 00.00-17.00)

Cara mengaktifkan paket BB Sosialita:
Unreg paket Blackberry yang sekarang dipakai: Ketik BB(spasi)UNREG kirim ke 333 lalu lakukan langkah berikut:
  1. Hubungi *999#
  2. Pilih menu "New BlackBerry Sosialita".
  3. Pilih "Ya".
Tunggu 2 SMS notifikasi bahwa paket New BB Sosialita & Bonus paket telah aktif

Oiya, tadi kan udah kubilang kalau ada blog writing competition. Tentu saja tentang pengalaman menggunakan simPATI dan Blackberry. Nah di bawah ini serba-serbi mengenai kontes blognya:

1. Kompetisi Blog #BacaCeritaku dengan tema: “Pengalaman Seru Berbagi Pakai simPATI & Blackberry” yaitu tentang seputar pengalaman berbagi cerita di social media menggunakan paket Blackberry Internet Service (BIS) dari simPATI.
Misalnya: pengalaman saat PDKT dengan gebetan menggunakan twitter, ikut group BBM yang super seru, dsb.

2. Peserta harus klik link youtube berisi iklan TV simPATI Blackberry Socialita yang diberikan oleh akun twitter simPATI (https://twitter.com/simpati) dan lihat description di video tersebut untuk mekanisme dan syarat/ketentuannya.

3. Hadiah dari kompetisi:
- 10 blog paling keren akan masing-masing mendapat pulsa simPATI Rp.200 ribu.
- Dari 10 finalis akan dipilih pemenang dengan hadiah utama: 1 buah smartphone BBZ10.

BlackBerry Z10
Hadiahnya oke banget kan? Blackberry Z10 gitu loh. Mupeng deh eike… Buat yang pakai Blackberry dan simPATI wajib ikutan deh. Siapa tahu, BBZ10-nya bisa jatuh di tanganmu! Wehehehe… Ayo ikutan lombanya!

Tutut Tutut... Begitu Namanya

Sering tiap pergi ke Bogor melihat kiri kanan jalan berbaris orang berjualan tutut. Tutut ialah keong sawah yang katanya enak beud plus berprotein tinggi dan rendah lemak. Sayangnya di Jakarta, aku nggak pernah lihat orang jual tutut, setidaknya dekat rumahku. Jadilah aku belum pernah mencobanya. Padahal penasaran euy.

Hingga akhir pekan lalu di Floating Market Lembang melihat salah satu 'perahu' menjual tutut. Coba nggak ya coba nggak ya. Aku takut rasanya nggak enak. Tapi karena waktu itu sama Mbak Idah aku menjadi lebih termotivasi untuk mencobanya. Kuminta dia nyobain tutut juga karena dia juga belum pernah. Kalau ada temennya kan menghadapi segala hal jadi lebih bersemangat. Menghadapi makan tutut???

Tutut, tutut.
Sementara gojag-gajeg mau beli tutut, tanya deh ke Pakde Cholik. Katanya enak, beliau suka makan tutut jaman kecil mancing dewe di sawah. Kalau sama kupang Pakde enak mana? Beliau rupanya nggak suka kupang. Jarang-jarang nemu orang Surabaya nggak suka kupang. Jawaban pakde memantapkan aku untuk membeli tutut. Arep mangan we ndadak mantep-mantepan... -_-

Banyak pilihan yang ditawarkan, ada tutut dengan rasa original (kuahnya sayur ala kampung), direndang, balado, saus Singapore, dan lain-lain. Tadinya aku pengen coba yang saus Singapore, eh teu aya katanya. Jadinya aku pilih yang original. Nggak berapa lama, jadi deh tututnya!

Mau coba.
Kuah tututnya rasanya kayak besengek. Duh, besengek ki opo yo. Karena aku belum pernah makan tutut, Pakdhe dan Budhe Cholik dan Mbak Alaika memberikan tutorial makan tutut. Bisa dicutik pakai tusuk gigi untuk mengambil daging tututnya, atau disedot. Kata Mbak Dey, istilah nyedot dalam Bahasa Sundanya ialah nyocrok. Seru kalau disedot, langsung masuk mulut. Slurrrppp... Tapi dasar nggak ahli, kadang susahhh, ya uwis pake tusuk gigi deh.

Kataku sih tutut enak, mungkin tergantung yang masak juga kali ya. Tapi makannya susah banget bok.  Enak makan nasi jelas nyendokinnya gampang. Jadi untuk beli lagi, mungkin enggak, hihihi. Kecuali kalau kepengen banget deh!

Menang Pakde euyy~
Lomba makan tutut. Itu aku liatin apa cobak >_< Pic by: Fitri Rosdiani
Suka makan tutut, teman?