Capek Ngomong Inggris

Waktu aku tiba di kamarku tempat menginap di Kota Seogwipo, Pulau Jeju, sudah ada seorang bibi setengah baya. Ia mengajakku berbicara menggunakan Bahasa Inggris. Kemampuan Bahasa Inggrisku sebenarnya terbatas, tapi bibi ini lebih terbatas lagi namun ia tetap berusaha. Aku pun mencoba berbincang kepadanya dengan Bahasa Korea yang hanya sedikiiiitttttt aku tahu. Eh, bibinya bilang aku pandai Bahasa Korea trus aja dia ngobrol sama aku full Bahasa Korea tanpa ada Bahasa Inggrisnya sekata pun.

Hah! Nggak ngerti wey, ahjumma! Katanya, ia capek berbahasa Inggris...

K-Star Road. Ya, foto nggak ada hubungannya sihhh...

My 3-Weeks Travel in Korea – Summary

Pernah suatu hari ada yang e-mail aku menanyakan tentang perjalanan ke Sri Lanka. Bagaimana mengurus visanya dan lain-lain. Beberapa kali tukar balas e-mail, ia pun bertanya, “Belum semua ditulis ya?”

Selalu, setiap abis jalan-jalan nggak langsung ditulis, malah nulis yang lain-lain, trus nanti lupa deh abis ke mana aja. Udah mana aku agak-agak short-term memory, waktu berjalan dikit, udah lupa sama yang belum lama terjadi, Makanya di postingan kali ini aku mau merangkum perjalananku di Korea, yang terjadi lima bulan lalu. Detilnya akan kutulis sesempatnya di kemudian hari.



Bear Story, Animasi Pendek Terbaik Oscar 2016

GUEST POST  

Animasi selalu punya cara menyampaikan pesan yang nyaris mustahil disampein lewat film biasa. Toy Story misalnya, seperti kita tau semua, film ini bercerita tentang mainan yang bukan hanya tampak hidup, tapi bener-bener bisa bergerak, bicara, bahkan bertingkah layaknya Andy, pemiliknya, ketika ngga ada manusia di sekitar mereka.

Walaupun kelihatan kurang nyata, film animasi selalu memberi nuansa berbeda buat para penikmatnya. Boleh jadi ketika dibuat live actionnya, Toy Story bisa jadi film yang menarik atau malah sebaliknya. Terlebih teknologi special effect sekarang terbilang udah mendukung, Elijah Wood yang setinggi 168 cm aja bisa terlihat Cuma setinggi 107 cm sewaktu berperan jadi Frodo Baggins. Menariknya proporsi Elijah di film terlihat pas ketika kudu ketika bersanding dengan Legolas yang konon bertinggi 180 cm. Untuk bikin postur Eljah semungil itu aja bisa apalagi boneka semungil Woody yang konon cuma 40 cm. Cuma ketika sebuah animasi diangkat ke layar kaca, unsur kartunnya jadi ilang, kelucuannya, keluwesannya.

Bear Story mungkin nggak seheboh Toy Story dari segi kehalusan animasi, apalagi durasi. Tapi film pendek selalu punya cara untuk nyampein cerita dengan ringkas dan tetep berkesan, bahkan untuk film tanpa suara sekalipun.


Descendant of the Sun: Ulasan

GUEST POST

Kesan pertama kadang menentukan segalanya. Dari posternya keliatan kalo Descendant of the Sun bercerita tentang militer, bukan cuma tentara tapi juga dokter kemiliteran, serasa bukan tema yang main-main, tapi kalau liat yang maen Song Hye Kyo sama Song Joong Ki entah kenapa rasanya nggak seberat kesan yang didapat dari kata militer.

Kesan pertama yang didapet justru sederhana, dua orang tentara yang tengah nggak lagi tugas berhasil menangkap copet yang tengah ngacir pake motor, ngeringkusnya pake pistol maenan lagi, pistol-pistolan yang pelurunya bola-bola kecil. Bisa dibayanginkan gimana copet yang lagi asik ngeloyor malah ditembak dari depan sama dua orang yang secara teori jago tembak? Maka kejengkanglah tuh penjahat. Udah gitu bukannya terus tampil galak, tentaranya malah tampil baik. Gimana tentaranya nggak baik coba, kalo penjahat model kayak gitu di mari mah udah digebukin aja rame-rame. Di sono malah ditolongin, dibebat pulak pake papan supaya tulang yang diduga patah nggak makin parah.


Eits tapi dasar mental copet teteup ajah copet, di saat lagi ditolongin, masih sempat-sempatnya maen rogoh hape tentara (pastilah tuh copet blom tau, orang tentaranya pada pakek pakaian preman) lagipula tongkrongan Jin Go ma terlebih Song Joong Ki kagak mirip tentara, malah lebih mirip artis yang abis ikut wamil #eh.

Tentaranya sendiri baru ngeh kalo hapenya dicomot pas penjahatnya tadi dibawa ke rumah sakit, dan dirawat sama mpok suster sama dr. Kang Mo Yeon eh Song Hye Kyo. Bukannya anteng ditemenin ma Song Hye Kyo yang cakep, penjahatnya malah lari, sebenernya nggak heran sih Kang Mo Yeon emang supel tapi juteknya teteup kentara sodara sekalian.

5 Komik LINE Webtoon Favorit

Favoritnya siapa? Ya favoritku. Hahaha…

Pertemuanku dengan LINE Webtoon bermula ketika salah satu Youtuber favoritku mengumumkan bahwa komiknya terdapat di aplikasi milik LINE tersebut. Youtuber tersebut adalah Grace Buchele Mineta yang memiliki akun Texan in Tokyo. Selain mengunggah video mengenai kehidupannya di Jepang, bersama suaminya, Ryosuke, ia juga menulis blog dan menggambar komik.

Kalau baca komik, aslinya tadinya aku kurang suka. Aku nggak pernah tuh baca komik yang banyak dibaca teman-teman sebaya seperti One Piece atau Naruto. Nggak menarik! Satu-satunya komik yang kubaca dengan suka cita adalah 'Hai, Miiko.' Ada yang baca juga? Nah, setelah menginstal aplikasi komik digital LINE Webtoon, aku jadi sering membaca komik!

Ini dia lima komik favoritku di LINE Webtoon:

Summer Nude: Nostalgia (Ulasan Dorama Jepang Summer Nude)

GUEST POST

Postingan kali ini adalah tulisan dari seorang teman yang menyukai dorama Jepang. Biasanya, kalau aku bingung ingin nonton dorama atau film Jepang, aku bertanya kepada teman satu ini~ Kali ini yang diulas adalah dorama berjudul Summer Nude. Sudah nonton? Aku sendiri belum. Ngomong-ngomong, aku lagi senang nonton Cheese In The Trap.
_________________________________________________

Chemistry kadang membawa sepasang kekasih dipertemukan kembali, minimal di layar kaca. Nggak percaya? Pernah denger pelm Speed (1994) pan, itu loh pelm yang mempertemukan Kak Nunu (Keanu Reeves) sama Sandra Bullock berhasil memikat pemirsa dengan menggondol 350 juta dolar ajah, angka yang relatif gede kalau dibandingin ongkos produksi yang cuma 30 juta dolar aja. Fantastis kan, mengingat acara pembajakan bus yang terkesan mencekam bisa disajiin secara seru (spoiler yo ben). Menariknya lagi, chemistry antara Annie dan Jack bisa kerasa sampe sekarang padahal sama sekali bukan film romantis. Speed 2 yang dibikin dengan budget yang lebih wah malah ga secetar versi ori-nya. Formula yang nggak jauh beda dengan aktor yang utama yang beda bikin filmnya kurang berasa gereget. Nggak heran pemirsah yang budiman ngarepin Mbak Sandra sama Kak Nunu bersatu kembali. Hasilnya mereka reuni lewat Lake House, pelm yang diadaptasi dari drakor berjudul sama. Teorinya, dengan pasangan yang sama, apalagi cerita yang manis, film ini menjanjikan cerita cinta yang gimanaaaaaaaaaaaaaa gitu. Faktanya? Penonton yang lebih paam.

Sejenak Jumpa Ambtenaar di Kerkhoff

Fiksi

Lupa akan haru dan terenyuh yang kurasakan baru saja di Museum Tsunami Aceh, kini rasa penasaran yang hinggap. Kuburan Belanda yang terletak persis di belakang museum ini mengingatkanku dengan Taman Prasasti di Jakarta. Kini aku berdiri di dekat kolam di tengah museum yang dikelilingi bola-bola berpahat nama negara yang menjadi donatur pasca tsunami dahsyat 2004 silam. Aku penasaran dengan kawasan pemakaman militer Belanda terbesar kedua di dunia. 

Jalan masuk ke kuburan Belanda berada tepat di sebelah museum. Di rerumputan terpasang plang 'Kerkhoff Peutjut'. Mulanya, aku hanya mengetahui kalau kerkhoff berarti kuburan. Di kampungku, orang biasa menyebut area yang dekat dengan gereja tua dan kuburan sebagai 'kerkop'. Kerkhoff merupakan kata dari Bahasa Belanda yang secara literal berarti 'halaman gereja'. Sementara Peutjut sama artinya dengan 'Pocut' yaitu panggilan kebangsawanan. Peutjut dalam nama pemakaman ini merujuk salah satu anak Sultan Iskandar Muda yang dimakamkan di sini.

Yang dihukum mati oleh ayahnya sendiri. Ngeri.

Di gerbang kerkhoff terdapat dinding yang terpahat angka tahun dan nama-nama orang yang dimakamkan di sana. Yang tertulis di dinding adalah yang mangkat sekitar akhir abad 19 dan awal 20 akibat Perang Aceh-Belanda. Tapi jauh sebelum itu dan sesudah itu, juga banyak yang dimakamkan di sini.

I Hate Stuff

Ternyata, aku nggak suka stuff. Barang.

Aku menikmati sekali agenda membersihkan kamar dan buang-buang barang yang tidak terpakai. Lega rasanya. Bahkan sesederhana membuang struk belanjaan yang menumpuk di dompetku. Ada semacam kepuasan tersendiri, gitu.

Yang meski, kalau ibuku baca paragraf sebelum ini pasti komentarnya, “Ngapusi! Kamarnya berantakan begitu!” Hahaha… oke lah.

Inginnya hidup tuh minimalis, nggak usah kebanyakan asesoris dan benda-benda, pating petingsing. Maunya barang yang dimiliki sekarang ya yang dibutuhkan saja. Yang tidak dibutuhkan ya disingkirkan dan bisa dilungsurkan untuk orang yang membutuhkan. Aku juga nggak sayang buat membuang barang yang terpakai karena mikirnya, kan nanti bisa dipakai orang yang lain. Daripada barangnya di aku ngedekem doang, nggak bermanfaat ya kan.

Tapi bukannya aku tidak suka belanja. Aku betah menyusuri shopping street dan mengamati barang di toko-toko serta supermarket. Apalagi kalau jalannya sama yang ditaksir, betahhh banget. Tapi, selain memang budget-ku memiliki constraint, aku tahan tuh lihat-lihat tanpa beli. Apalagi kalau melihat toko Dior atau Bottega Veneta. Belum mampu, euy!

Makanya, ada hari belanja online nasional pun, tidak berpengaruh buatku. Meski banyak e-mail masuk memberitahu adanya diskon di sana-sini, huh, tak pengaruh tuh buatku. Nge-klik pun aku tak bernafsu. Andai nge-klik pun aku juga nggak kepingin memasukkan foto barang yang kulihat ke dalam ‘keranjang’.

Belajar Bahasa di ASUS ZenPad 7.0 Z370CG (+ Unboxing)

Sebulan lebih yang lalu, ada paket dengan packing luar kayu yang kuterima. Harus dengan linggis membukanya, ternyata, isinya adalah ASUS ZenPad 7.0 Z370CG. Woo-hoo~!

Aku nggak pernah punya tablet atau semacamnya secara personal, jadi aku excited banget untuk mencobanya. Di rumah dulu ada tablet, tapi itu pun yang punya mamaku, aku hanya mencoba aplikasi kameranya saja. Yongkru, apalagi kalau bukan buat narsis!

Pertama-tama, mari kita unbox dulu ahhh kardusnya. Tak lupa, tak jlentrek-ke supaya terlihat jelas semua dalamnya, ^^

Unboxing Time!

Di dalam kardusnya, terdapat dua kardus yang terdiri dari kardus tablet dan Audio Cover-nya. ASUS Zenpad 7.0 yang kumiliki berwarna putih.


Apply Visa Turis Jepang 90 Hari

Masih cerita terkait persiapan saya berangkat ke Jepang dalam rangka sekolah jangka pendek tahun lalu. Yang kali ini soal urus-mengurus visa.

Saat aku mencari sekolah bahasa yang membuka program jangka pendek, aku membaca bahwa apabila belajar maksimal tiga bulan hanya membutuhkan visa turis spesial. Di beberapa situs web menyebutkan istilah itu: visa turis spesial. Sedangkan di web Kedutaan Besar Jepang di Indonesia tidak ada kata-kata seperti itu.

Rupanya, bahwa yang sering kita ketahui, visa turis (visitor visa) yang dikeluarkan oleh Kedutaan Besar Jepang untuk pemegang paspor Indonesia kan biasanya maksimal 15 hari ya, ternyata bisa didapat juga sampai maksimal 90 hari. Visitor visa 90 hari bisa didapat dengan tujuan kunjungan keluarga, bisnis, training, dan kegiatan lainnya. Nah kalau lebih 90 hari, sepertinya mensyaratkan Certificate of Eligibility.

Untuk lebih jelasnya, aku menelepon langsung ke Kedubes. Si penerima telepon berkata, aku hanya tinggal ikuti syarat pembuatan business visa ditambahkan dengan bukti penerimaan siswa sekolah yang aku tuju.

Cerita Acak dari Tokyo yang Sibuk

Waktu itu, aku adalah seorang pelajar asing di Jepang yang menghabiskan empat hari libur musim panas di Tokyo.

Sebelumnya, empat hari pula aku menikmati waktuku di Pulau Hokkaido.

Dengan membawa jumlah pakaian yang minim, aku butuh mencuci! Tapi di mana? Sedangkan aku hanya pelancong frugal yang membiarkan waktu tidur malamnya dilalui di bilik kafe internet.

Tapi bukan Jepang namanya kalau tidak punya tempat bernama coin laundry di mana-mana. Sesegera aku pergi ke coin laundry yang terletak di lantai dasar sebuah gedung apartemen.

Setengah jam masa yang dibutuhkan si mesin cuci untuk memutarbalik-membersihkan pakaianku. Kutitipkan pakaianku kepada mesin cuci dan aku tinggal makan siang di warung makan cepat saji dekat sana.

Kembali mengambil pakaian dan memasukkannya di mesin pengering. Usai pun aku kembali menuju stasiun, yang karena aku terlalu malas berjalan kaki mencari tangga lain menuju stasiun, aku turun menggunakan elevator. Bersama seorang nenek tua.

"Hari ini panas ya," tiba-tiba si nenek berujar. Si nenek kulihat tadi mengembangkan payungnya.

"Ya, tapi tidak terlalu terik hari ini, nek."

"Umurmu berapa?"

Ke Taiwan Tanpa Visa

Sejenis dengan Korea, wisatawan Indonesia membutuhkan visa untuk masuk ke negara Taiwan. Namun terdapat visa exemption program, apabila memenuhi syarat tertentu, pemegang paspor biasa Indonesia dapat masuk ke Taiwan tanpa visa. Sesuai dengan kutipan dari situs web Bureau of Consular Affairs Taiwan sebagai berikut:
“Effective January 1, 2016, the nationals of India, Thailand, Vietnam, the Philippines and Indonesia, who possess a valid resident/visitor visa (including an electronic one) (**) or resident certificate (including a permanent one) issued by the U.S.A., Canada, Japan, the U.K., Schengen Agreement countries, Australia or New Zealand, are eligible for the visa exemption program, which permits a duration of stay up to 30 days. Those who meet the above qualification and have never been employed in Taiwan as blue-collar workers may access to the "Online Application for R.O.C. (Taiwan) Travel Authorization Certificate" of the R.O.C. National Immigration Agency (website: https://niaspeedy.immigration.gov.tw/nia_southeast/) for an "Authorization Certificate" before departure for Taiwan. Upon approved, the printout Certificate can be used by the before said nationals for boarding the airplane and the immigration inspection. However, those who cannot show a valid visa or resident certificate issued by one of the aforementioned countries upon the immigration inspection will not be admitted into the R.O.C.

** A single-entry visa becomes invalid once it has already been used. However, a used single-entry visa might be acceptable for the purpose of immigration inspection to enter Taiwan, if it meets the following conditions:
1. On the same continuing journey, the visa holder uses it to enter the visa issuing country prior to his/her arrival in Taiwan; and
2. The visa holder will arrive in Taiwan before its expiration date.”

Mini Giveaways Announcement!

 *keminggris mode: on*

Thanks to all who participated my mini giveaways event!
I really love to read your comments~ hope our wishes and goals for 2016 will come true this year. Really sorry because I took a long timeee to post the winner announcement. Recently I have been being busy sleeping and gegoleran in my grandma's house.

There are 26 participants and I chose the winners with online randomizer, random.org. Here the winners:


Putri Baiti Hamzah will get:
❤ Line Friends Clear Holder
❤ Travel Tumbler by Trudeau

Jiah Al Jafara will get:
❤ Line Friends Clear Holder
❤ 2016 Schedule Book
❤ Xilix Money Deep Aqua Moisture Mask
❤ Sasatinnie Intensive Sparklink White Mask
❤ Sasatinnie Aqua Boost Moisturizing Eye Mask

Niee will get:
❤ Line Friends Clear Holder
❤ Zipper Tote Bag
❤ Sasatinnie Jelly Fish Lifting Face Mask

Please send me your name + address + phone number to my e-mail: shirleyschaf@yahoo.com or via LINE ID: @jqr0626c (with '@')
Thank youuu :)

FACEBOOK | TWITTER | INSTAGRAM

Antara Pasca Buka Gips dan Kulit Sosis

Seperti yang kuceritakan di beberapa postingan sebelumnya, tulang jari tengah kaki kiriku habis patah tengah Desember lalu. Selanjutnya pun aku harus menggunakan gips menyerupai sepatu klompen Belanda yang sama sekali tak bisa dibuka selama lima minggu. Akhirnya, minggu lalu kubuka juga gipsnya. Hari itu, dokternya sedang ada operasi sehingga tidak mampu menerima banyak pasien. Selain itu, karena gipsku sudah agak melonggar akhirnya aku dapat mencopot sendiri. Bersyukur juaga tak perlu bertemu dengan gergaji si dokter tulang yang mengerikan itu.