Meet The Federico Mahora

Meski sudah paham bahwa diriku ini nggak berbau badan *plak*, sehari-harinya aku selalu semprot-semprot parfum atau oles cologne ke badan atau ke baju. Masalahnya adalah, tiap beli atau dibeliin wewangian badan baik yang sangat ekonomis sampai yang mahal sekalipun (tujuh digit lah), belum ada separuh pakai sudah bosan, kakak! Jadinya ya beli lagi atau make punya mama.

Kalau urusan wewangian, aku paling suka yang sweet-sweet gitchu. Sesuai ya sama orangnya? Aku suka parfum aroma vanilla, suka banget sama parfum melati yang 'murah' itu, cologne yang terakhir aku pakai pun baunya seperti bedak bayi, soft. Kalau bau rempah dan kayu-kayuan aku kurang suka sih. 

Sudah lebih dari tiga minggu ini (dan belum bosan) aku pakainya Federico Mahora. Tepatnya FM 354. Aku suka baunya meski bukan yang sweet banget gitu sih. Tapi aku ngerasanya ada sweet-nya tapi juga fresh dan sexy =)) Menurut situsnya Femmaa, salah satu distributor Federico Mahora ini, FM 354 ini memiliki aroma menenangkan yang berasal dari mawar, bunga kapas, cyclamen, dan bunga iris.

Komplain

Mama saya selalu ngasih tahu untuk tidak mengeluh. Jadi saya berusaha sebisa mungkin untuk tidak mengeluh tentang hidup dan sampai sebel sama orang-orang yang nulis status isinya mengeluh... mulu. Tapi sempat waktu masih muda, saya bingung.

"Kalau misal dapat pelayanan yang buruk lalu kita komplain, bagaimana? Apa itu buruk?"

Jawaban mama waktu itu intinya kalau misalnya kita mengeluh karena dirugikan pihak lain misalnya akibat pelayanan yang buruk itu malah harus dikomplain! Karena itu kan bakal jadi masukan dia juga supaya ke depannya menjadi lebih baik.

Sampai sekarang kalau kecewa karena sebuah produk atau pelayanannya, saya pasti komplain entah lewat telepon atau e-mail. Setelah itu baru deh di media sosial. Seingatku pernah komplain mulai dari bank, penerbangan, sampai di restoran. Rata-rata lumayan lah pelayanan terhadap keluhannya, kalau die-mail pasti membalas dan kalau ditelepon pasti membantu. Meski ada yang tidak diganti kerugianku sih (yang tidak seberapa) tapi ditanggapi keluhannya pun sudah bagus banget.

Hello Kitty Punya Rumah Baru Lho! (+ Giveaway)

Sebenarnya bukan 'rumah' sih. Lebih ke laboratorium.

Pergi ke rumah Hello Kitty di Sanrio Puroland, Jepang masuk dalam salah satu daftar impianku. Sayang, sekarang belum terwujud mimpi itu. Meski begitu, aku kemarin berkesempatan mampir ke rumah Hello Kitty yang ada di Jakarta Utara, alias di Dunia Fantasi Taman Impian Jaya Ancol.

Terima kasih kepada Blogger Reporter Indonesia yang memberikan kesempatan pada membernya datang ke acara Grand Launching wahana baru Dufan, Hello Kitty Adventure. Aku sangat excited karena yes aku salah satu penggemar Hello Kitty. Sangar muka gini sukanya Hello Kitty! Bukan penggemar berat sih tapi tempat minum, payung, bahkan cologne-ku Hello Kitty. ❤ Dan aku abis beli snek dan prune hanya gara-gara packagingnya gambar Hello Kitty! *pemborosan* Saking sukanya, rasanya ingin mengubah namaku di semua media sosial menjadi Kitty Rasuna. Oke. Stop.

Maka hari Jumat lalu (12/12) aku berangkat ke Ancol menggunakan angkutan umum. Sudah menyediakan waktu lebih dari 90 menit dan rupanya masih telat juga 15 menit karena macet. Tapi ternyata acara belum dimulai karena diawali dahulu dengan makan siang.


Mencuci Serasa Pakai Magic!

Judulnya lebay ya? Memang… tapi aku terpukau sama hasil produk sabun cuci satu ini.

Kalau dihitung, mungkin aku menggunakan deterjen hanya lima persen dari 365 hari setahun. Aku jarang mencuci, kecuali pada saat mbak rumahku pulang kampung atau tembus akibat tamu bulanan. Makanya aku ngga terlalu aware dengan perbedaan sabun cuci satu sama lainnya. Rumahku juga bukan konsumen loyal satu merek sabun cuci maupun pelembut, namun aku ingat aku suka dua merek pelembut pakaian. Baunya agak kuat, tapi aku suka sekali.

Tiga minggu yang lalu, aku bersama tiga temanku pergi ke IKEA. Di perjalanan entah bagaimana awalnya kok jadi membahasmesin cuci dan merek-merek deterjen. Waktu itu aku baru tahu kalau ada produk sabun cuci khusus mesin cuci bukaan atas atau bukaan depan. Nggak ngerti aja, kenapa bisa sabunnya beda gitu. Temanku Kartika menjelaskan, tapi aku tetep nggak nangkep.

Ada Macet di Macau! (Day 4)

Hari keempat (28/11) adalah jadwal kami pulang. Jam setengah 10 kami harus ke Macau Ferry Terminal. Zahra dan Sofi ingin sekali melihat A-Ma Temple karena merupakan asal mula Portugis menyebut daratan tersebut adalah Macau. Kami janjian jam 06.30 sudah sarapan. Tapi kenyataannya aku baru bangun jam 06.29, morning call bangun cuma tidur lagi, hahaha. Karena kebetulan aku masih kenyang dari Gosto, makan pada malam sebelumnya, sarapanku cuma dua piring hari itu. *cumaaa?* Jadinya tak lama dan kemudian kami cabut ke seberang hotel.

Kami naik bus nomor 21 ke arah A-Ma Temple. Karena masih pagi jam orang berangkat sekolah dan kerja, bus ramai, dan selalu berhenti di setiap halte. Sampai A-Ma Temple, kami langsung foto-foto. Aku aslinya ingin membeli kertas merah yang bisa dituliskan doa lalu digantung di luar kuil. Tapi karena kepagian, tokonya belum buka. Oh ya, aku tidak tahu kalau pemandangan di atas A-Ma Temple sangat bagus (Ibu Ningsih memberitahuku kemudian), kalau tahu aku pasti naik tangga yang ada di A-Ma Temple itu.

Aw, Aku Terpukau di Macau! (Day 3)

Free Time

Di hari ketiga, kami diberi waktu bebas untuk menikmati Macau. Mengetahui waktunya dari pagi sampai jam setengah satu siang, aku sengaja makan pagi di waktu restorannya buka, alias jam 06.30. Tidak benar-benar tepat jam segitu sih, tapi jam tujuh lebih sedikit aku sudah selesai makan. Eh kok ya teringat, tempat yang ingin kukunjungi baru buka jam 10 pagi. Jadi aku leyeh-leyeh dulu beberapa jam di kamar hotel.

Jam sembilan aku turun kemudian mencari halte bus yang sudah aku cari sebelumnya di Google Maps. Haltenya tidak persis di seberang hotel tapi harus jalan dulu ke arah selatan... jalan... jalan... kok tidak ketemu ya! Waduh! Mana hapeku nggak nyala pula, nggak bisa browsing. Ya sudah akhirnya dalam hati kuputuskan jalan kaki ke arah selatan saja, kalau menemukan halte baru berhenti, kalau tidak ketemu juga gampang lah tinggal naik taksi. Don't like people difficult deh, begitu aku berkata kepada diriku sendiri.

Dari Panda Sampai India (Day 2)

Berkunjung ke Macao Giant Panda Pavilion adalah jadwal pertama kami di hari kedua (26/11) FamTrip ini. Aku sangat excited datang ke sini karena belum pernah melihat langsung panda sebelumnya. Panda Pavilion ini bisa dibilang seperti kebun binatang yang kecil. Meski hewan utamanya adalah panda, namun juga ada hewan lain seperti flamingo dan berbagai jenis burung eksotis.

Panda Pavilion merupakan rumah bagi dua panda bernama Kai Kai (jantan) dan Xin Xin (betina). Dua panda tersebut merupakan hadiah dari Presiden Tiongkok saat itu, Hu-Jin Tao dalam rangka perayaan 10 tahun kembalinya Macau ke Tiongkok. Kai Kai dan Xin Xin tiba di Macau pada akhir tahun 2010, saat umur mereka sekitar dua tahun. Sayangnya bulan Juni tahun ini, Xin Xin meninggal akibat gagal ginjal. Menjadikan Kai Kai sendirian di Panda Pavilion. Ada yang berminat menemani?

Tiketnya hanya 10 MOP (sekitar 16.000 rupiah), bahkan kalau Anda berumur di bawah 12 tahun atau di atas 65 tahun gratis. Pakai 'Anda' segala, ya kali aja pembaca blog ini ada yang masih kecil atau lansia,
hehehe!

Macau, Here We Come! (Day 1)

Suatu hari ketika sedang di gym, entah kenapa aku ingin sekali membuka telepon genggamku. Jadilah, aku berhenti berjalan di atas treadmill lalu menuju loker tempat menyimpan barangku. Melihat-lihat media sosial Twitter, aku melihat VIVALog bercuit link artikel berjudul: "Inilah 3 Finalis Lomba Blog "Why Macau"". Ternyata namaku masuk menjadi salah satunya dan... girang tak terkira. Kalau bukan di gym, sudah teriak-teriak aku. Akhirnya aku berhenti olahraga dan duduk sambil senyum-senyum sendiri, menunggu ibuku selesai kelas yoga.

Dasar memang nge-gym-nya nggak niat.

Kemudian hingga sampailah hari keberangkatan kami (24/11) ke Macau tiba!

❤❤❤

FamTrip ke Macau ini diikuti tiga finalis lomba blog VIVALog Why Macau yaitu Zahra, Sofi, dan aku, kemudian dari VIVA sendiri ada Kak Puput Utami, dan empat blogger/buzzer lainnya, Kak Alexander Thian, Om Harris Maulana, Kak Barry Kusuma, dan Kak Rijal Fahmi. Kami didampingi oleh PR & Communication Manager MGTO Representative in Indonesia, Ibu Ningsih Chandra.

Perjalanan ke Macau ditempuh dengan menggunakan Garuda Indonesia menuju Hong Kong International Airport selama sekitar 4,5 jam kemudian dilanjutkan dengan kapal feri TurboJet selama 50 menit ke Macau. Kami tiba di HKIA sekitar pukul 06.30 pagi (25/11) dan harus menunggu hingga lebih dari tiga jam karena jadwal feri pertama ke Macau adalah jam 10.15. Untuk transfer via feri, kita tak perlu keluar imigrasi HK dan mengisi kartu kedatangan. Bagasi pun tidak perlu diambil, ditransfer otomatis ke feri.

Ki-ka: Ibu Ningsih, Zahra, aku, Sofi, Kak Puput. 
Charging point.
Tiga jam tidak terasa karena ruang tunggu di HKIA yang nyaman, ada charging point di banyak tempat, plus kami juga jalan-jalan melihat isi toko-toko yang buka. Kemudian kami menuju SkyPier, pelabuhan feri, menggunakan automated people mover (APM).

Tiket TurboJet.

Di kapal TurboJet pun narsis.
Sekitar jam 11.30 kami tiba di Taipa Ferry Terminal, yang letaknya dekat dengan Macau International Airport. Kami dijemput oleh Pak Alan, guide kami selama di Macau. Ibu Ningsih sempat bercerita kalau Pak Alan ini orangnya lucu sekali, dan memang benar, ketika di dalam bus, aku tak bisa menahan tawa kalau Pak Alan lagi ngelucu. Pak Alan ini lahir di Indonesia namun sudah 54 tahun tinggal di Macau. Ia fluent berbahasa Indonesia dan Jawa loh!

Tiba di hotel kami menginap, Sheraton Macao, kemudian kami makan siang di Feast, salah satu restoran buffet-nya dan kemudian free time sampai jam 17.30.

Bersama dua blogger finalis lainnya dan Kak Puput, kami jalan-jalan ke Venetian. Melewati connecting bridge yang mengarah ke Shoppes at Four Seasons, kemudian kami ke arah luar untuk foto-foto Venetian tampak luar. Tampak menjulang Hotel Venetian dan bangunan bawahnya yang dibangun sedemikian rupa mirip dengan Kota Venezia di Italia. Cantik sekali. Kemudian kami ke bawah melihat barisan bunga-bunga yang begitu indah bermekaran berwarna-warni. Rasanya ingin tiduran sambil bilang, "I feel free..."

Venetian.
Oh ya tak lupa narsis dengan bunganya.

Maaf kalau terganggu dengan mukaku.
Jalan lagi kami tiba di jembatan dekat lobi Hotel Venetian. Setelah puas berfoto-foto di luar, kami masuk ke dalam... dan tercengang! Interiornya begitu megah didominasi dengan warna emas dan bergaya renaisans Italia. Langit-langitnya dan ornamennya begitu bagus sampai aku ngomong sendiri... "Kayak di Versailles yaaa!" (Padahal ini kan gaya Italia.) "Kayak di Eropa yaaa!" (Sok tahu, padahal belum pernah ke Eropa, hahaha).

Venetian Macau Hotel Lobby.
Ada yang foto pre-wedding di Venetian.
Setelah itu kami menuju area malnya, yang di dalamnya terdapat kanal buatan dan bisa naik gondola sambil dinyanyikan di sana. Kami tak lama di sana dan kemudian kembali ke hotel untuk berkumpul dengan yang lainnya. Jadwal kami selanjutnya adalah ke Macau Tower!

Area mal Venetian.
Dari titik terbawah sampai titik puncak, Macau Tower memiliki tinggi 338 meter. Sedangkan lantai paling tinggi berada di ketinggian 223 meter. Sementara itu di observation deck-nya memiliki section yang lantainya dari kaca, transparan. Sehingga kita bisa lihat kondisi di bawah. Pas berdiri di kaca tersebut sambil melihat bawah, wah lumayan eneg rasanya. Pemandangan panorama Macau 360 derajat bisa dilihat dari deck ini. Karena malam-malam maka lampu-lampu menyala semua dan asyik banget kalau dilihat dari Macau Tower ini.

Ki-ka: Sofi, aku, Zahra, Ibu Ningsih.


Lalu kami menuju 360° Cafe di lantai 60 untuk makan malam. Uniknya, restoran ini bergerak memutar sehingga pengunjungnya disuguhi 360 derajat panorama keindahan Macau. 360° Cafe berkapasitas 250 orang dan membutuhkan waktu 60 menit untuk sekali berputar. Restorannya berbentuk buffet, yang bikin pengen coba makanannya semua... hahaha.

Tujuan kami selanjutnya adalah Wynn Macau. Di sana kami menonton show Tree of Prosperity yang merupakan karya yang memainkan musik, lampu, dan visual. Ada lampu chandelier yang terdiri dari 21.000 kristal dan pohon yang dibuat berubah warna, menunjukkan perubahan tiap musim. Di akhir show, pengunjung melemparkan uang sebagai harapan agar beruntung. Tree of Prosperity ini ada selang satu jam.

Water fountain show.
Jalan ke arah luar Wynn, ada Performance Lake. Di sana ada Water Fountain Show yang mana kita bisa melihat air mancur menari-nari dengan diiringi lagu dan lampu. Show ini dimulai setiap lima belas menit. Aku tidak tahu lagu yang disetel yang waktu kami nonton, tapi aku sangat senang nontonnya. Keren! Tak jauh dari Performance Lake, kami bisa melihat Governador Nobre de Carvalho Bridge. Salah satu jembatan yang menghubungkan Taipa dan Semenanjung Macau. Beberapa dari kami asyik foto-foto jembatan yang cantik pada malam hari itu, sementara aku duduk-duduk saja sambil nyanyi-nyanyi.

Entah kenapa kemudian aku menyanyikan lagu Yue Liang Dai Biao Wo De Xin-nya Teresa Teng. Eh tak berapa lama Water Fountain Show-nya Wynn menyetel lagu tersebut. Konspirasi alam semesta ini!

Tur hari itu berakhir, kami kembali ke hotel, dan aku tak sabar keliling Macau pada hari kedua!

❤❤❤

Sampai di rumah aku cerita ke ibuku kalau aku amazed sama revolving restaurant di Macau Tower. Kok ternyata restorannya berputarnya nggak cepet toh. Kata ibuku, "Hah? Masa' gitu aja nggak tahu? Ya nggak mungkin lah muternya cepet! Ndeso!" Ish!

❤❤❤

Macau Government Tourist Office Representative in Indonesia
Twitter: @macauindonesia
Facebook: MGTO Indonesia
Website: http://id.macautourism.gov.mo/


Males

Kemarin aku merasa beruntung sekali.

Ceritanya begini. Aku hendak pergi les pada sore hari. Usai berurusan dengan ATM, aku keluar dari convenience store dekat rumahku. Tadinya aku mau pergi naik bus, tapi eh ada ojek lewat nawarin. Mana dia nawarinnya murah pula, 15 ribu sampai Kampung Melayu. Tergolong murah karena bahkan sebelum BBM naik pun banyak yang memberi penawaran pertamanya dengan tarif 25 ribu. Huft. Ceritanya, naiklah aku ojek itu...

Dari arah rumahku untuk ke Kampung Melayu, kalau dengan jalan yang benar, harus mutar balik di kolong yang arahnya agak ngalang. Jadi agak menjauh dulu buat U-turn. Sebenarnya mah nggak jauh. Tapi, paham lah, ojek-ojek tuh suka males, nggak cuma ojek sih, jadi kebanyakan pada jalan lawan arah di rel stasiun Tebet. Biar nggak pakai muter balik, lebih irit jarak dan waktu.

Pas nyebrang lawan arah, palang pintu kereta sudah nutup dong. Sama abangnya dinaikin. Ehhh, penjaganya marah, ngamuk. Palang yang sudah agak dinaikkan didorong ke bawah dengan keras. Pas itu, aku sudah deg-degan parah. Aku sudah takut sekali kalau palangnya tiba di kepalaku. Namun ternyata palangnya mengenai helm tukang ojek lumayan keras dan berhenti di antara tukang ojek dan badanku. Palangnya kena tanganku sedikit, lumayan sakit sih. Badanku sampai seperti hendak kayang. Ke belakang.

Waktu itu posisiku aku lagi ngerogoh tas memastikan apakah aku membawa hape atau nggak. Tapi tanganku di dalem aja nggak berniat kukeluarin hapenya. Hapeku masih nancep di charger. Sampai colokan chargernya penyok aja dong. Aku akhirnya turun. Si tukang ojek sama penjaga palangnya berantem deh tuh. Aku no komen wong jelas tukang ojeknya salah. Aku cuma dengar tukang ojeknya teriak ke penjaganya, "Kira-kira kali!" Abis itu aku menjauh ngga denger lagi...

Tadinya mau kutinggal kabur aja tuh tukang ojek. Eh dia liat aku, dan berantemnya nggak lama mereka... hehehe...

Kemarin aku merasa beruntung sekali. Ngebayangin telat sedetik aja, palang yang didorong ke bawah dengan keras oleh penjaganya itu pasti sudah tiba di kepalaku... *langsung inget dosa* Next time seandainya aku naik ojek aku harus bilang nggak mau jalan lawan arah lagi. Bahayaaa... serem!

Kadang-kadang suka liat juga sih, orang turun dari halte busway nggak lewat jembatan tapi langsung lompat dari halte. Nggak tahu males apa gimana tapi kan bahaya ya... Aku sendiri juga sering males naik jembatan penyeberangan depan Kota Kasablanka, pilih nyeberang di bawah. Abis capek sih naik jembatan penyeberangan, hahaha... Padahal itu bahaya ya. Nggak lagi-lagi deh males yang membahayakan. Emang ada gitu males yang tidak membahayakan?