Gotik Estetik Sajian Katedral Jakarta

Wisata sejarah Jakarta paling populer ialah Kawasan Kota Tua dan sekitarnya. Mungkin, wisata sejarah satu ini juga patut dicoba. Enjoy Jakarta!

Gereja Katedral Jakarta: gotik, estetik, historik, dan tentu saja menarik. Gereja -yang selanjutnya akan kusebut dengan Katedral saja- ini memiliki museum di dalamnya. Mengetahui ternyata ada museum yang dibuka untuk umum, aku pergi ke sana, menghilangkan rasa penasaranku terhadap bangunan agung itu. Disebut-sebut, Museum Katedral ialah satu-satunya museum gereja di Indonesia. Sekalian pergi ke museum, sekalian pula menikmati kemegahan Katedral rancangan Pastor Antonius Dijkmans SJ yang sudah berumur lebih dari seabad itu.

Sayang sekali pas ke sana ada rangka tenda, hehehe...
Sejarah Gereja Katedral Jakarta

Bangunan Katedral yang berdiri sekarang bukanlah bangunan awal gereja ini. Mulanya ialah bekas rumah seorang panglima tentara Belanda yang dibeli murah pada tahun 1828 oleh umat Katolik Belanda saat itu dan dibantu oleh Komisaris-Jenderal Batavia Leonard Pierre Joseph Burggraaf du Bus de Gisignies. Kemudian rumah itu ditetapkan menjadi Gereja Santa Maria Diangkat Ke Surga sejak tahun 1829. Sepuluh tahun kemudian, bangunannya dibenahi hingga tahun 1870 direnovasi kembali.

Tiga hari setelah perayaan Paskah, 9 April 1890, salah satu tiang gereja retak dan menyebabkan gereja itu rusak total. Beruntungnya, sebelum gereja itu runtuh, P.A Dijkmans, seorang pastor yang piawai dalam arsitektur gerejani sedang berada di Jakarta. Beliau pernah membangun dua gereja di Belanda sebelumnya. Bangunan Katedral yang bisa kita liat sekarang itulah yang merupakan karya desainnya. Bergaya neo-gotik dan masih asli hingga sekarang.

Interior Katedral.
Pembangunan gereja ini awalnya hanya berjalan setahun dan berhenti karena kekurangan dana. Sementara itu, Dijkmans pulang ke Belanda karena sakit dan kemudian meninggal di sana pada tahun 1924. Uskup saat itu, Monseigneur E. Luypen SJ dibantu oleh arsitek M.J Hulswit meneruskan kembali pembangunan yang tertunda hingga akhirnya Gereja bernama asli De Kerk van Onze Lieve Vroewe ten Hemelopneming (Gereja Santa Maria Diangkat ke Surga) kembali diresmikan pada 21 April 1901. Setelah itu gereja tersebut biasa disebut Katedral.

Sebenarnya pun sebelum ada gedung baru, sudah berbentuk katedral karena terdapat katedra yang berarti kursi/takhta uskup. Uskup pertama ialah Mgr. Jakobus Grooff yang ditahbiskan dalam misa pontifikal pada tahun 1845. Sebelumnya tidak berbentuk katedral karena tidak ada otoritas keuskupan. Kala itu bentuknya ialah vikariat apostolik yang dipimpin seorang vikaris apostolik yang merupakan wakil dari Paus di Vatikan. Grooff juga bisa dibilang merupakan vikaris apostolik pertama di Batavia karena sebelumnya lagi di Batavia masih berbentuk prefektur yang dipimpin seorang prefek apostolik.

Rozeta dan pipe organ.
Arsitektur Gereja Katedral Jakarta

Jenis arsitekturalnya ialah neo-gotik. Berbeda dengan gotik, neo-gotik lebih simpel, tidak terlalu banyak patung dan ukiran yang ribet. Betapa brilian Dijkmans merancang katedral ini. Bentuk gereja ini dari atas berbentuk salib sepanjang enam puluh meter dengan adanya bagian ruang sayap kiri dan kanan. Altar di bagian belakang serta ruang pengakuan dosa di samping kiri dan kanan.

Katedral memiliki tiga menara. Dua di depan setinggi 60 meter bernama Menara Daud dan Menara Gading. Satu di tengah setinggi 45 meter yang dinamai Menara Angelus Dei. Sementara itu, langit-langitnya bertinggi 17 meter. Kalau dilihat dari depan terdapat jendela kaca yang berbentuk lingkaran. Itu disebut rozet atau rozeta yang menggambarkan Rosa mystica, simbol Bunda Maria.

Lantai dua

Lonceng di Katedral berumur lebih tua dari gedungnya sendiri. Wilhelmus, lonceng terbesarnya, ada sejak tahun 1834. Isi interior Katedral pun hampir semua didatangkan dari Belanda. Seperti mimbar yang dibuat oleh Te Poel dari Den Haag atau altar yang didatangkan dari Groningen tahun 1956 meski dibuat sejak abad 19. Beberapa benda gerejani yang sudah tidak terpakai atau disimpan, dipajang di Museum Katedral.

Museum Katedral

Tujuan pertama aku ke Katedral ialah menilik museumnya. Aku masuk dari samping kiri gereja karena tentu saja, pintu utama tidak dibuka di hari-hari biasa. Di luarnya sudah ada penunjuk arah bertuliskan MUSEUM. Aku memasuki Katedral. Sungguh, aku merinding dibuatnya mengingat jarang sekali aku yang namanya masuk ke bangunan gereja. Plus sepertinya ada sihir yang dibuai dari kokohnya Katedral.

Aku berjalan melipir di pinggir ruang utama berisi bangku-bangku. Kutengok di kanan ialah ruang pengakuan dosa, lurus terus hingga aku bertemu dengan tangga naik ke atas. Kalau naik tangga sampai atas sepertinya akan bertemu dengan lonceng. Seorang ibu-ibu penjaga museum menyapaku dengan akrab. Ia menyarankan untuk mengambil leaflet Museum Katedral dan beberapa kartu pos.

Kasula di Museum Katedral.
Ialah balkon gereja yang dimodifikasi menjadi sebuah museum. Di balkon bagian kiri (kalau melihat dari depan) terdapat alat-alat peribadatan seperti ampul, monstrans, tongkat gembala, dan kasula atau kostum misa para imam gereja. Terlihat juga buku catatan perkawinan, buku catatan baptis, dan relikui-relikui. Sedangkan di dinding, berjejer gambar para vikaris apostolik dan para uskup yang pernah bertugas di Batavia atau Jakarta.

Di balkon bagian tengah terdapat pipe organ dan etalase berisi buku-buku sejarah dan ilmiah, serta foto-foto. Di balkon bagian kanan terdapat meja dan kursi untuk ruang duduk di Pastoran. Terdapat pula sebuah lemari yang berisi patung-patung kecil, kaleng misi, dan benda-benda kecil lainnya. Salah satu patungnya ialah patung Bunda Maria berkonde yang di belakangnya terdapat sepasang perempuan lelaki Jawa bergaya menyembah. Patung itu merupakan karya Romo Reksaatmadja SJ.

Bunda Maria berkonde.
Ada juga replika perahu dayung yang digunakan salah seorang Imam Jesuit untuk mencapai Flores. Sama seperti di balkon kiri, di dindingnya terdapat gambar para uskup. Museumnya tidak terlalu besar tapi sungguh dapat menambah pengetahuan mengenai sejarah Katedral Jakarta sekaligus dapat melihat bagaimana bangunan yang dipuji-puji oleh pejabat zeni jaman Belanda dulu sebagai 'gedung yang terlampau kuat' dan yeah, memang terbukti benar-benar kuat hingga masih utuh sampai umurnya sekarang yang ke-111.

Kanan, Mgr. Willekens yang jabatannya mulai dari 1934-1953 kemudan digantikan A. Djajasapoetra, uskup pribumi pertama yang ditahbiskan di Katedral. Tahun 1962, beliau diangkat menjadi Uskup Agung.

Kanan, pintu utama.
 Jam buka Museum Katedral:
Senin, Rabu, Jum'at, jam 10.00-12.00 (ya, jamnya pas hari kerja begitu, tapi kan sesuai tema: waktunya lupa waktu!)
 Tarif tiket masuk:
Free
 Transportasi umum ke Katedral:
Naik Transjakarta turun shelter Istiqlal atau Juanda.
 Yang bisa kamu dapatkan:
Masuk museum, melihat arsitektur Katedral, bisa foto-foto, tambah wawasan.

Referensi:
Adolf Heuken SJ. Gereja-gereja tua di Jakarta.
www.katedraljakarta.or.id

Thaaat's Not Cantik...!!!

Note: postingan sewot dewek.

“Makeup is a way for a woman to look and feel like herself, only prettier and more confident” - Bobbi Brown

Jarang-jarang mukaku ditempel full makeup. Di suatu occasion beberapa tahun lalu, ketika wajahku dalam kondisi seperti itu, banyak yang memujiku. Ada yang bilang, "Waah, emang ya orang Jawa tuh cantiknya keluar kalau didandani." Sok tahu, orang aku orang Amerika Latin. Banyak deh yang bilang aku cantik, intinya. Tapi aku nggak senang. Mengarah ke sebal lah. Bukannya aku jago menghadapi pujian. Oh tentu saja aku suka dipuji dan suka digombali. Tapi kok nggak ada yang nggituin ya.

Halah, mbleber. Kenapa aku sebel dipuji seperti itu, karena aku merasa nggak kayak aku. Aku bahkan liat di kaca, itu nggak kayak aku banget ya. Banyak orang pada pangling liat aku dan bilang aku cantik. Sooo, dia tidak memujiku. Tapi memuji aku yang palsu. Aku nggak sukaaaa... *nesu nesu dewe* Nggak suka bukan karena secara langsung mereka mengatakan aku aslinya jelek. Tapi lebih nggak suka karena aku nggak nyaman memakai tempelan meblak-meblok yang penuh kepalsuan. Gayamu pret.

Beberapa waktu lalu, lagi-lagi aku didandani full meblak-meblok menor. Aku bawa powder sendiri yang berwarna deep yang warnanya hampir sama kayak kulitku. Aku pesan sama yang ndandani, plis jangan bikin aku putih. Kata dia, "Ah nggak putih-putih amat kok mbak." Ia pun meratakan foundation di bagian jidatku. "Nggak putih kan mbak?" Iya, putihan tembok rumahku. Aku protes, aku nggak mau putih. Akhirnya touch upnya pake bedakku yang gelap. Aku nggak mau tar hidungku berminyak abis itu nek di foto hidungnya sama area lain jadi kayak yinyang. Abis itu mataku entah digambar kek apa. Dipasangi bulu mata palsu. Dan voilaaa...

Rupaku dadi elek. Menurutku. Tapi do muni aku ayu. Langsung aja tak jawab, "Ngapusi." Aku nggak pede lah waktu itu. Nggak lagi-lagi deh didandani macem gituan. Kalau kata ibuku sih karena yang ndandani tuh ndeso, apa-apa dibikin putih -_-"

Makanya aku suka banget sama konsep Bobbi Brown (woo lah kok kayak promosi). Dia tuh makeup artist yang percaya bahwa setiap wanita itu cantik. Jadi, konsep dia tuh meng-enhance kecantikan tiap wanita. Liat-liat before after didandaninya pun, si model mukanya tetep sama nggak manglingi tapi cantiknya jadi keluar gitu...


Dari Bobbi Brown.
Aku nggak tau ni postingan kesimpulannya apa. Tapi tanpa makeup pun sakjane senyum pun bisa bikin perempuan jadi cakepan kok. And yeah... a smile is the best make up any girl could wear...

Ketika Wisata Budaya Menjadi Wisata Latihan Fisik

Karena kami tidak membawa kendaraan sendiri, aku dan Mbak Fera pun mencari abang-abang ojek untuk mengantarkan kami ke Kawasan Candi Gedong Songo dari jalan besarnya. Bisa saja sih jalan kaki, tapi emoh ah... lumayan tiga setengah kilometer dan jalannya naik. Akhirnya pun ada yang menawarkan ojek, dan kami pun cenglu alias bonceng telu (tiga). Sungguh kasian si abang ojek plus motornya harus berusaha ekstra di jalan menanjak. Apalagi aku yang paling berat ada di paling belakang. Jadi lebih berat lagi tuh... kasian deh lo bang...

Bukti cenglu.
Candi Gedong Songo ini diperkirakan berdiri abad 8 masehi dan konon digunakan untuk tempat persembahan nenek moyang dan para dewa. Awalnya ditemukan tujuh kompleks, kemudian sembilan hingga namanya berubah dari Gedong Pitoe menjadi Gedong Songo. Sekarang pun tinggal lima kompleks, karena empat lainnya hanya tinggal reruntuhan. Apalagi kalau tidak salah, ketentuannya ialah, ketika candi sudah rusak lebih dari 60% maka tidak harus dipugar/renovasi.

Beberapa hari sebelumnya Mbak Fera mewanti-wanti kalau Kompleks Gedong Songo ini sangat luas. Jarak antar candi pun lumayan jauh ditambah jalannya yang menanjak. Dia tahu kalau aku agak susah jalan mendaki. Perhatian sekali ya, hihihi! Waktu itu sih aku menjawabnya, okelah kalau begitu, nggak masalah. Kalau nggak kuat ya tinggal balik. Memang dasar tipikal golongan darah B, diajak ke mana pun mau-mau aja. Dan ternyata jeng jeng, luas Gedong Songo ini melebihi imajinasiku.

Candi dua.
Kami membayar 6000 rupiah untuk tiap kepala agar dapat masuk ke kompleks candi. Areanya bagus banyak taman dan tanaman warna-warni di sana-sini. Karena candinya ada lima, masing-masing candi disebut candi satu hingga candi lima. Nah, meraih candi satu saja kami harus berjalan 200 meter dari gerbang masuk. Belum candi dua candi tiga yang masih terlihat jauh di mata dan bahkan candi lima belum terlihat dari bawah. Ternyata besar sekali.

Toh, lagipula kami nggak punya target untuk dipenuhi. Nggak ada target untuk mencapai puncak, nggak ada keinginan mengejar sunrise, jadi kami pun jalan kakinya ya benar-benar sesantai-santainya seselow-selownya saja. Eh, tapi tetap ada ding, misi kami, sampai ke semua kompleks candinya, kelima-limanya. Dasar teteuuuppp aja ada pemenuhan ego.

Arca ganeshavati.
Berlatar Gunung Ungaran. 
"Wisata Budaya adalah sarana peningkatan rasa bangga terhadap Bangsa Indonesia."
Yang aku nggak paham, sepertinya pembuatan trek untuk jalan kaki disengaja dibuat jauh. Jadi, bisa saja dari candi satu ke candi dua dibuat trek lurus, tapi tidak, treknya berputar-putar naik turun pula. Baru sebentar jalan ke arah candi dua, nafasku pun sudah berbunyi keras alias tersengal-sengal. Memang, aku ini tidak ada apa-apanya dibanding area Candi Gedong Songo yang seluas 17,724 hektar dan panjang trek yang cuma sekitar 4 kilometer itu. Apalagi dibanding isi dunia ini? T.T

Di kiri kanan trek jalan kaki banyak terdapat plang-plang. Salah satunya bertuliskan, "Wisata Budaya adalah sarana peningkatan rasa bangga terhadap Bangsa Indonesia." Mbak Fera pun berceletuk, "Wisata budaya apanya, ini mah latihan fisik!" Kayaknya itu saja keluhan Mbak Fera, dan ia pun tetap saja meneruskan jalan kakinya. Beda denganku yang mengeluh setiap saat, hahaha!

Jalan-jalan di Kompleks Gedong Songo itu seperti wisata alam, budaya, dan olahraga melebur menjadi satu. Di sana bisa melihat peninggalan budaya Hindu jaman dahulu tapi juga bisa menikmati pemandangan Kota Ungaran dari atas, panorama Gunung Ungaran, dan bisa berteman dengan kesejukan kaki Gunung Ungaran. Sementara itu, kaki bisa pegal-pegal dibuat oleh trek Candi Gedong Songo.

Nenek nenek.
Di sana aku sesekali menghirup bau adas yang mirip eukaliptus tapi kok ya aku nggak tau yang mana pohonnya. Pas pulang-pulang aku lihat di google, ternyata pohon adas itu aku ternyata sempat melihatnya banyak sekali di Gedong Songo. Wuuu!

Di antara candi tiga dan candi empat kami melewati pemandian air panas. Ada asap keluar dari sumber belerang. Aku kira mulanya Gunung Ungaran itu bukan gunung api. Eh ada nggak sih gunung yang bukan gunung api di Jawa? *ora mudeng aku. Anyway, sepertinya menarik mandi di sana apalagi kalau lagi ada penyakit kulit, hehehe...

Sampai di candi empat, kemudian candi lima rasanya puas banget. Duduk duduk dulu sambil menunggu suara si nafas menjadi lebih baik. Selanjutnya kami akan bertemu dengan jalan turunan, yang menurut Mbak Fera ialah combo tapi menurutku combo pegalnya. Kalau kata Esra, gravitasi emang nggak bisa bohong. Terlebih lagi jalannya tuh berasa sepanjang Tembok Cina, nggak ada abis-abisnya.

Asap sulfur.
Titik putih tanda batu baru di candi.

Tuuu sepanjang tembok cinaaa kaaan... padahal tembok Cina mah puluhan ribu kilometer.

Aku nggak tahu itu pohon apa. Keknya yang kanan tembakau. Mbuh ding.
Emang ya, namanya perjalanan kalau perginya sama orang lain kita jadi tahu sifat sebenarnya teman perjalanan kita kan ya. Nah, kalau Mbak Fera ini tipe-tipe setia kawan. Aku kan nggak kuat jalan turun ya, aku persilahkan dia jalan duluan. Dia jalan dulu lah ya, di suatu titik dia menunggu aku dulu sampai di situ baru dia melanjutkan jalan. Atau sebenarnya dia sekalian istirahat aja tuh ya? *suuzon. Kalau aku sifatnya... hmmm... rahasia!

Dengan jalan santai, akhirnya kami mencapai kelima area candi selama dua jam. Yang kalau kata temanku udah bisa bolak-balik naik turun Gunung Ungaran beberapa kali. Seneng juga ternyata kuat juga aku jalan naik turun begono, bisa menaklukkan kawasan Candi Gedong Songo. Eittts, menyunting kutipan Edmund Hillary: "Bukan Gedong Songo yang aku taklukkan, tapi diriku sendiri."

Wehehehe!


Catatan Perjalanan: Popcorn’s 2nd Anniversary

Makam Peneleh, Taman Prasasti-nya Surabaya

Kalau di Jakarta punya Museum Taman Prasasti, maka di Surabaya punya Makam Peneleh. Sama-sama makam kuno yang berdiri sejak jaman Belanda. Karena pengen tahu bagaimana bentuk rupanya, aku pun pergi ke sana. Tempatnya luas, kontra dengan ucapan seorang mas-mas yang kutanya, "kecil mbak kuburannya." Aku juga tahu kalau dalam kuburan tuh kecil. Makam Peneleh jauh lebih luas ketimbang Taman Prasasti yang sisa kuburannya menyusut tinggal sedikit.

Tidak ada tiket resmi di sana, tapi diharuskan membayar 5000 per kepala dan dibayarkan kepada bapak-bapak yang kurasa tinggal di makam itu. Yes, Makam Peneleh juga merupakan tempat tinggal untuk beberapa keluarga yang merupakan penghuni liar. Waktu masuk saja, sudah disuguhi pemandangan jemuran di atas nisan. Wow... Nggak cuma jadi tempat tinggal manusia, tapi juga kambing. Banyak banget kambing di sana suerrr... Mungkin bukan tempat tinggal sih, tempat hangout mereka aja kali ya.

Kesan pertama sih aku menganggap Taman Prasasti lebih oke. Karena tiketnya resmi, plus sedikit lebih terawat. Meskipun sama-sama tidak terawat sih. *piye thooo* Aku pernah ke Taman Prasasti pun liat jemuran juga, tapi kayaknya nggak separah di Peneleh. Ketoke... Nah, nisan pertama yang menarik ialah nisan seorang Skotlandia bernama belakang Halliburton. Sebab namanya sama dengan nama  salah satu perusahaan minyak terbesar di dunia, Halliburton.

Buto rewo rewo. Nek aku isih cilik, takut kali liatnya.
Selain itu, di sana sedang ada pemotretan gitu. Beberapa anak SMK dari... dari mana lali... berpakaian gaya Jepang-Jepang gitu, entah cosu atau harajuku aku ra mudheng. Ada photoshoot lainnya, modelnya seorang perempuan cantik menggunakan seragam dengan rok mini. Mas Vai ngeliatin mulu. Kakakaka *digaplok*

Hantu Jepang...
Hai kambing, me he he he...
"Manaaa kepalaaa kamiii?" "Mbuh."
Sebagian kuburannya dirindangi pohon, tapi sebagiannya lagi enggak blas. Jadilah berpadu dengan panasnya Suroboyo, muter-muter liat nisannya. Dan kok nggak ada yang aku kenal ya. Yaiyalah! Maksudku, kalau di Taman Prasasti ada Soe Hok Gie atau istrinya Raffles yang terkenal gitu. Oke, mungkin ada yang terkenal cuma akunya aja yang nggak tahu. Ngok.

Nisannya wis podo elek.
Mati 124 tahun lalu... 
Jemuran jemuran lalalala!
Kesan pertamaku jebul salah. Sekarang Taman Prasasti jadi wagu gitu karena dibikin jadi taman yang bagus plus pohonnya banyak ditebang. Jadinya kesan horornya ilaaannggg... Kapan-kapan tak post ah...

Anw, ngomong-ngomong kuburan, aku masih kepengen ke Makam Gunung Sempu di Bantul, Makam kuno di Onrust, sama San Diego Hills... lalalalala...

❤❤❤

Aji dan Mari Elka Pangestu

Lagi males nulis, posting foto aja deh.

Masih di acara PPKI, yang mana aku mengisi definisi kreatif yang aku cerita kemarin. Nah, saat itu aku dan Aji mendatangi semacam kuliah memorial Bapak Panglaykim, yang merupakan bapaknya Ibu Mari Elka Pangestu yang merupakan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. Setelah acara selesai tentu saja, kami dan teman-teman sekelas Internasional Lanjutan kepengen foto sama Bu Mari apalagi dosen kami, Bu Kiki, menjanjikan itu.

Sebelum foto bareng sama Bu Mari Elka, si Aji Jayanti udah nyolong start.

Foto bareng Bu Mari yang ilegal. Kiri, menteri kini. Kanan, menteri masa depan.

Foto bareng ilegal lagi.
Giliran foto bareng, muka Aji malah cuma separuh. Jangan tanya gue di mana. Gue di kiri dan gue krop.
Aji sama Dalton Tanonaka. Orangnya kocaaaakkk.. Di acara apa sih di Metro TV yang ada dianya?
Setelah itu, Aji foto lagi sama Bu Mari Elka.

Di layar TV...

Sama Bu Mari versi gambar engravur karya Mujirun.

❤❤❤

How Do You Define "Creative"?

Jum'at lalu (23/11), aku dan temanku Aji Jayanti mengunjungi Pekan Produk Kreatif Indonesia (PPKI) yang berlangsung di Epicentrum Walk, Kuningan. Di tulisan kali ini, nggak akan mengulas mengenai acaranya tapi ada satu hal yang menarik untukku. Ketika masuk di tenda stan PPKI, seorang panitia menghampiri kami, meminta kami mengisi daftar isian identitas. Setelah itu kami diminta menuliskan definisi kreatif versi kami di sebuah penjepit bergambar orang-orangan.


Aji menulis, "Dari bernilai menjadi lebih bernilai."
Sedang aku menulis, "Cipta suatu yang baru."
Waton njeplak ae lah...

Dan yeah aku nggak kreatif karena aku ikut-ikut menanyakan definisi kreatif kepada beberapa temanku. Ini dia kata mereka.

Ririe: "Kreatif itu selalu punya ide-ide yang baru yang fresh dan beda."
Vai: "Kreatif itu dimana kalian bosen dengan sesuatu hal yang sudah ada, tapi nggak bosen dengan kondisi disaat kalian bosen."
Affan: "Kreatif, sebuah pekerjaan yang menghasilkan sesuatu baik produk maupun jasa yang tidak pernah ada sebelumnya..."
Monyet: "Satu, nggak diem aja. Dua, berpola pikir maju. Tiga, nggak nungguin ditanya. Empat, berani bertindak. Lima, nggak malu salah."
Ila: "Unik, beda sama yang lain."
Mimi: "Kreatif itu kalau kita bisa bikin sesuatu dari alat dan bahan yang ada menjadi sesuatu yang buat inspirasi bagi orang lain."
Affi: "Berpikir mengenai suatu gagasan atau ide-ide baru, yang orisinil, namun tetap realistis."

Renteng definisi kreatif. 
Kreatif itu di antara surga dan neraka. Maksude piye tho hihihi...

Kreatif itu koma, tak kan ada titik.

So, menurutmu, apa definisi kreatif?

Getok Tular Promosi Wisata dan Budaya ASEAN Via Blog

Misalnya, kita mau membeli sebuah barang dan masih agak ragu bagus atau tidaknya barang itu. Terkadang, meski sudah ada yang namanya google search, tetap lebih enak kalau nanya pendapat teman yang sudah pernah membeli barang itu.

Sama saja dengan wisata. Meski kita bisa membaca informasi sebuah tempat wisata yang sangat jelas di website resminya, lagi-lagi tetap lebih mengena kalau bertanya langsung ke orang yang sudah pernah ke sana. Ini disebut getok tular, yaitu word-of-mouth. Cerita langsung dari mulut ke mulut lebih berkesan 'terpercaya' meskipun pendapat personal masing-masing orang berbeda-beda. Medium getok tular jaman sekarang nggak cuma mulut betulan, tapi sudah bergeser ke jejaring sosial seperti forum, Twitter, Facebook, dan blog.

Masjid Raya Al-Mashun, Medan.
Gunung Batok, Jawa Timur.
Saya sendiri ketika merencanakan sebuah perjalanan, meski sudah pegang buku Lonely Planet-nya, tetap saja masih butuh internet untuk menambah informasi lagi. Dan saya lebih prefer menuju ke situs-situs forum atau blog personal. Ini dikarenakan informasi yang bisa diambil lebih 'hidup' karena diceritakan langsung dan dibumbui pengalaman personal meskipun hanya lewat tulisan. Sering, yang kita tak bisa dapatkan dari situs resmi sebuah obyek wisata, ada di sebuah postingan blog personal.

Membaca beberapa ulasan acara Diskusi Wisata dan Budaya ASEAN Blogger Community yang ditulis beberapa teman blogger, sangat menarik. Meskipun saya bukan anggota komunitas ABC, banyak yang bisa didapat dari acara diskusi tersebut. Hal terpenting ialah bahwa kebebasan berekspresi di Indonesia sudah begitu bebas sehingga sudah semestinya media sosial, terutama blog dimanfaatkan untuk sosialisasi dan promosi wisata Indonesia secara khusus dan wisata daerah ASEAN lainnya dalam lingkup luasnya.

Ujung Gelam, Karimun Jawa.
Sumur Gemuling, Taman Sari, Jogjakarta
Apalagi sebagian besar orang Indonesia ialah internet savvy plus selalu terkoneksi dengan media sosial. Dan kebanyakan, apa-apa ditulis di status, apa-apa ditulis di blog (bukan gue), apa-apa ditweet. Bisa banget dong ya, tulisan-tulisan simpel kita di jejaring sosial mengenai suatu tempat menjadi ajang promosi wisata. Bahkan seringkali kita temukan, lebih khususnya di dunia blog, blogger menulis mengenai daerah apaaa gitu yang kita nggak pernah tahu sebelumnya. Seperti ada yang nulis mengenai Takabonerate, Pulau Kemaro, Gua Kalisuci, dan lainnya. Awalnya kita bertanya, "di manaaa tuh?", kemudian jadi tahu hanya karena baca tulisan itu dan akhirnya kepengen dan nantinya mengunjungi tempat itu.

Nah, jadi yang bisa kita lakukan untuk memperkenalkan wisata dan budaya ialah mempostingnya dalam blog. Tak harus postingan runut penuh panduan dan tips, bisa juga hanya cerita pendek mengenai perjalanan penulis, atau bahkan hanya membuat postingan dengan full foto saja. Tak masalah menulis hal-hal yang negatif seperti buruknya infrastruktur atau banyaknya premanisme karena kenyataannya banyak yang menganggap hal itu akan membuat perjalanan lebih menantang dan bisa dijadikan kritik yang membangun.

Merlion Park, Singapura
Nggak hanya pembaca setia blog yang akan melihat postingan-postingan tadi, tapi juga pemburu informasi yang mencari via google search. Ini berarti blog bisa menjadi medium getok tular promosi wisata dan budaya ASEAN. Peran blogger tak hanya aktor sosialisasi promosi tapi juga sutradara yang mampu mengarahkan mata dunia kepada wisata dan budaya ASEAN...


❤❤❤

"Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Blog Wisata dan Budaya yang diadakan oleh Asean Blogger Community."

Sunset & Siluet

Omku mengajakku ke Pantai Depok. Acaranya sih menunggu dan berburu gambar matahari terbenam. Okelah kalau begitu aku ikut ah. Eh, kok ya aku mengantuk. Nggak jadi ah, males, tak turu wae. Eh sepupu-sepupuku malah sok-sokan nangis nggak mau ikutan kalau aku nggak ikut. Jadilah aku dipaksa-paksa. Okelah kalau begitu aku ikut.

Pantai Depok ini terletak di Kabupaten Bantul, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Sama Pantai Parangtritis, sederetan lah ya. Pantainya berpasir hitam dan menurutku lumayan kotor karena banyaknya sampah. Di pinggir pantainya banyak tempat makan ikan yang letheg-letheg ngono, ada pasar ikan, juga perahu-perahu nelayan. Letaknya sekitar 24 kilometer dari rumah nenekku. Rumah nenekku di mana ya rahasia dong. Nggak begitu jauh, ya setengah jam-an sampai.

Mendung booo'...
Kami sampai di sana jam 4-an dan membutuhkan satu setengah jam untuk menanti matahari balik ke kandangnya. Di antara kami nggak ada yang berminat mainan air, dan mungkin kalau aku nggak ngantuk aku udah renang-renang kali. Eh kok lhadalah, aku pakai kaos warna hijau. Katanya kan, kalau pakai baju warna hijau atau warna yang terang-terang bakal dimakan ombak dan diculik Nyi Roro Kidul. Pas aku sadar pakai hijau, aku takut dong. Eh tanteku, "Halah geer, dia juga milih-milih kali Un ngambil orangnya..." Maksud loh? Gue kan high quality... pret.

Pas lihat ada nelayan pakai baju hijau lebih nyeter dari kaosku, aku pun lega. Paling nggak nek diculik ada kancanya gitu loh. Kami duduk leyeh-leyeh menunggu sang giwangkaranya tidur. Tak lupa pula teriakin omku supaya difotoin gituuuh. Narsis dong... Hasilnya gini nih.

Waaa cakep ya gue... hooh soalnya diblur. Rambut gue keren yaaaa... Ya kaaan? 
Lalalalala...
Tebak mana bekas kaki gue...
Karena mataharinya nggak terbenam-terbenam, kami pun mengeluh. Aaaah kepagian ini kita sampeeenyaaa... Beberapa saat kemudian ternyata kami malah nggak bisa melihat matahari terbenam. Karena ketutupan awan... huehehehe nggak beruntung. Ya kapan-kapan diulangi lagi ke sana. Depok ini, dekat.

Awannya disuruh minggir nggak mauuu...
Ya sudah lah, bali bali...
Setelah itu awannya entah gimana, jadi nggak keliatan terus mataharinya. Srengenge tertelan ke horizontal cakrawala juga tak kelihatan. Ndilalahnya kok ya abis itu ujan. Buru-buru lah kami ke parkiran dan melanjutkan destinasi kami: mengisi perut.

Jangan tanya gue itu siapa...
Lagi liat-liat hasil foto di kameraku kok kayak ada siluet keren. Siluet orang entah siapa yang sepertinya lagi hamil. Kutengarai begitu karena perutnya lebih maju ketimbang payudaranya. Eh tapi rambut orang itu keren juga ya...

❤❤❤