My Dream Wedding

Even in my-this-age, I've never had a boyfriend but I ever dreamed about my dream wedding. In my imagination, I would wear simple white dress with some laces and also my curly hair downed. I would have simple party with just a few guests of my friends and closest families. Maybe just 20-30 guests. Also, the party would be held in one of the world's beautiful beaches or in a beautiful cliff such as Uluwatu. I don't care whether it would be in Indonesia, Italy, Spain, Japan, I don't know. But I also dreamed a 'bule' husband, hahaha. Or asian husband, hehehe.
One of Uluwatu's Product. I picked from uluwatu.co.id
I went to Bali in previous December and saw Uluwatu, handmade balinese lace shop there. The products are quite expensive, since they are handmade. There was a dress that made me love it in first impression, but I can't find the pictures in internet. :( I just want to wear those-like dresses in my wedding, hehehe. :) In the left, there is a dress product of Uluwatu, nice dress but I think it is expensive, approximately US$150. I'm sorry, this is not an advertising blog hahaha. Uluwatu, you should pay meee!

I'm very grateful to be raised by my parents who are simple and don't like big ceremonies, luxurious wedding with thousands guests. So I don't want to hold wedding like that. I just want a simple wedding with intimate atmosphere. :) Even, if I couldn't afford it, I just want to register my marriage in Kantor Urusan Agama (Office of Religious Affairs) with no wedding ceremony. Just keep it simple, right?

Please 'Like' Me

Baru saja saya menge-pos, tulisan untuk submisi Travel Writing Scholarship yang diadakan oleh World Nomads.
Minta like-nya ya. Caranya, log-in ke Facebookmu, buka situs entry-ku dan klik 'like'.

Alamat entry-ku: http://journals.worldnomads.com/sittirasuna/story/68389/Worldwide/My-Travel-Writing-Scholarship-2011-entry
Terimakasih!

Salam Una, travel differently!

Six Hours in Solo


Stasiun Balapan
"Mbak, mau tiket prameks yang paling cepat jam berapa?" Una.
"Sekarang, mbak, cepetan sudah mau berangkat, 18000."

GYAAA! Lari-lari mengejar kereta prameks mengawali perjalanan kami ke Solo. Dasar Indonesia, jadwal tidak sesuai dengan keberangkatan. Maksudku, kali ini kami yang salah. Kami berekspektasi dan berdo'a semoga kereta akan telat (di jadwal 10.20) dan ternyata memang telat (kami beli tiket 10.40). Fiuh, akhirnya dapat tempat duduk juga meskipun bau gerbong agak menyengat. Dan kami rasa akan terjadi sensori adaptasi sehingga kami akan habiturasi dengan bau tersebut. Belum ada lima menit kami duduk, kereta berjalan. Legaaaa!

Sekitar jam 12 kami sampai stasiun Solo Balapan. Mau ke mana kita? Benar-benar no idea. Setelah berunding dengan Affi, kami memutuskan untuk ke Pasar Klewer, yang katanya pasarnya tradisional banget. Wee laah, ternyata pasar ya tetap pasar. Cuma gitu-gitu doang, ya tapi di sana banyak batiknya. Sesudah ke Pasar Klewer, aku mengantar partner perjalananku ke Masjid Agung Surakarta untuk shalat. Sementara dia shalat, aku berkeliling di luar masjid. Menurutku nama Masjid Agung kok rasanya tidak cocok, wong masjidnya itu jelek banget, menurutku loh :p Setelah shalat, kami menyantap kupat tahu ala gerobak di depan masjid + dawet Banjarnegara yang semua itu kami dapatkan dengan 7500 rupiah saja, mustahil lah kalo di Jakarta -_____-"

Istana Pakubuwono menjadi tujuan kita selanjutnya.  Zonk sekali zonk, kami datang ke Solo hari Jumat, which means istana tutup. Hiks... Mau lanjut ke istananya pacarku (Mangkunegaran) kok kayaknya juga pasti tutup. Langsung cao ke Museum Batik Danar Hadi! Letaknya di Jalan Slamet Riyadi, yang merupakan salah satu jalan utama di Solo. Kami harus membayar tiket museum sebesar 15000 rupiah, yang kalau tidak memakai kartu mahasiswa bisa jadi 25000 rupiah. Digaeti oleh Mas Najib Nugroho, kami diberi banyak pengetahuan mengenai koleksi batik si pemilik Danar Hadi dalam 11 ruangan. Kami jadi tahu banyak hal mengenai fakta-fakta batik yang tadinya sama sekali tidak kami ketahui, dan saya rasa 15000 rupiah itu tidak ada artinya untuk pengetahuan sebanyak yang Mas Najib berikan. Kami jadi tahu beda batik Jogja, dan batik Solo. Kemudian ada lagi batik Lasem, batik Indonesia, batik Pekalongan. Macam-macam lah! Di akhir tur, kami diperlihatkan pabrik batik Danar Hadi. Proses pembuatan batik bahkan bisa sampai tiga bulan. Jadi wajar aja, kalau mahal.
Batik di Pabrik Danar Hadi
Kemudian, mampir dulu ke Soga. Resto yang juga terletak di Museum Batik Danar Hadi itu. Begini nih yang bikin boros di sebuah perjalanan: kebanyakan jajan! Dalihku, yaaa mumpung di sini, kenapa ngga dicoba? Ya kan ya kan? Daripada menyesal kemudian, hehehe. Aku memesan Kawista Punch dan Pisang Goreng Soga. OMG, enaaak bangeeet! KawistaPunch itu kalo ga salah terdiri dari soda yang diberi sirup buah kawista dan sedikit jus leciditambah nata de coco, agar-agar, dan selasih. Seger gilaaa, ga nyesel lah ngeluarin 20 ribu, hihihi. Pisang gorengnya juga enaaak, dikasih bubuk kayu manis ditambah cokelat dan eskrim vanilla, yummyyy. Si Affi pesen apa gitu, tapi lupa namanya. Bentuknya kayak kapal, dibuat dengan bahan dominan kentang trus pake garlic bread. Enaaaak! Berlama-lama di Soga, akhirnya kami memutuskan untuk pulang ke Jogja dan akan melanjutkan perjalanan ke Semarang. Ye ye ye!

"Ih masa' sekarang pulang sih? Ngga asik banget. Maleees ke Jogja..."

"Ho-oh, ke Semarang aja yuk."
"Ah beneran?"
"Ayooo!"
"Asiiik!"

Extreme Traveler



Cita-cita saya selain mati khusnul khotimah adalah melakukan perjalanan yang ekstrim ke tempat-tempat dunia. Bapak saya seringkali mengucapkan kata ‘wisata ekstrim’ kalau beliau mengajak saya ke kuburan Imogiri, makan tongseng bajing atau burung pipit goreng, atau untuk merasakan gurah. Namun sampai sekarang, saya belum pernah kembenan, jongkok di kuburan Hanyokrokusumo (karena pas ke sana ternyata tutup, damn!), belum pernah pula makan bajing dan pipit karena belum siap mental (kasian hewannya lucu...), belum juga pernah gurah. Liat aja udah serem, katanya kayak sakaratul maut.

Saya ngga suka istilah backpacker, lha wong saya ngga suka kalo backpack saya penuh. Berat, bikin bungkuk. Kalau saya pake istilah shoestring juga ngga pas, wong saya ngga punya sepatu. Kalau jalan ya pake sandal crocs atau sandal jepit biasa. Kalau mau jetset traveler kok ya males buang-buang duit naik Singapore Airlines atau menginap di hotel bintang lima (ini mah bilang aja ngga punya duit). Saya sih inginnya jadi extreme traveler aja deh.

Kalau kata bapak, “dadi wong ki harus berpikir alternatif, berpikir beda.” Waktu itu bapak ngoceh mengenai tumor dan manusia. Kalau manusia kena tumor, musti gimana? Kata bapak saya, ya biarin aja, kan tumor punya hak untuk hidup. Tapi kita terlalu antroposentris, jadi menganggap bahwa tumor harus dimatikan. Yaaah intinya, semua itu tergantung bagaimana kita memandangnya. Belum lagi masalah gulma. Kita selalu diceramahi kalau gulma itu tumbuhan pengganggu tanaman. Kalau di dekat padi, gulma dianggap perusak dan musti dibasmi? Apa iya? Padahal kan bisa saja sebenarnya si padi itu yang mengganggu gulma. Hahaha, tau ah. Back to the topic!

Saya juga inginnya sih alternatif, kalau jalan ngga musti mengikuti Lonely Planet. Makan makanan aneh. Tidur tanpa rasa takut di sarana umum. Bertemu dengan berbagai jenis orang. Inginnya keliling dunia naik sepeda gunung. Tapi saya juga mikir, wong ngegowes dua kilometer aja udah tersengal-sengal gimana beribu-ribu mil? Aduh, saya musti mikir harus seberapa ekstrim perjalanan yang ingin saya lakukan. Saya ingin bisa mencoba pengalaman ekstrim, kuliner ekstrim, dan yang ekstrim-ekstrim lainnya di berbagai tempat.  :)

Salam Una :)

Rafting di Telagawaja

Affi & Una - Telagawaja

Rafting di Telagawaja

Partner perjalanan saya (alias sepupu saya) sangat menyukai permainan air. Saya sih ngga terlalu suka, tapi untuk pengalaman saya tentu mau-mau saja. Dia sudah mencari-cari tempat permainan air yang bagus lengkap dengan harganya di internet. Pertama, water sports di Benoa, yang kedua rafting. Rafting? WHAT? Nggak tau kenapa di otakku kok hal itu terdengar mengerikan. Bagaimana kalau nabrak batu? Kapalnya njempalik? Ketemu ular di sungai? Atau buaya?

Di Bali, untuk arung jeram paling terkenal adalah Sungai Ayung dan Telagawaja. Menurut observasi saudara saya, Sungai Ayung ngga terlalu seru. Nggak tahu atas dasar apa, saya pun juga malas cari di google wong saya juga sibuk sama ujian akhir (tapi bo’ong). Akhirnya, dalam pelaksanaannya, kami melakukan kegiatan arung jeram itu di hari keempat kami di Bali. Kami mendaftar di tourist information stall -yang banyak ditemukan di Kuta-Legian- di depan McDonald’s Kuta Square. Nama orangnya yang jaga, Pak Berlin (nggak penting, plak).

Rafting dikenai harga 300.000 per orang termasuk antarjemput. Yah termasuk mahal *nangis*. Tapi mengingat operator rafting yang kami pakai adalah orang asli Bali dan bukan orang asing, saya mengusap air mata saya. Paling nggak, saya nggak ngasih uang sama orang asing. (sok nasionalis)

Telagawaja adalah sungai level 4 yang terletak di Karangasem, Gianyar, sekitar 90 menit ditempuh dari Kuta. Beruntungnya kami, supir yang menjemput adalah orang yang menyenangkan. Namanya Pak Ketut (saya lupa sudah bertemu berapa orang yang bernama Ketut). Di perjalanan sih saya banyakan tidur :p Sesampainya di sana kami dipakaikan pakaian rafting yaaa dengan stuff-stuffnya begitulah. Kami sekapal dengan orang Cina yang sepertinya pasangan baru.

Rafting menempuh jarak 14 km, dalam waktu 2 jam. Lama juga, mengingat saya hanya pernah lihat teman saya main arung jeram di Taman Matahari yang mungkin jaraknya cuma 2 km :p Kami dipandu oleh Mas Ketut (lagi-lagi namanya Ketut), dan ternyata di arung jeram terdapat banyak instruksi:

Aku dan Mas Ketut

forward paddle: dayung maju
backward paddle: dayung mundur
boom-boom: loncat-loncat di kapal, kalau terkena hambatan
stop: berhenti dayung, dan pegang tali.
leanback: tidur ke belakang, kali aja ada pohon yang rendah.

Saat rafting, barang-barang berharga seperti handphone dan kamera disimpan dalam tas anti air yang diikat di kapal bagianbelakang. Perempuan asal Cina yang sekapal dengan kami dengan berani membawa I-Phone-nya untuk merekam. Saya juga ada lho di videonya, dia juga minta foto sama kami lho (jadi malu).  Dia sangat beruntung, waktu dia jatuh di sungai dia digendong sama suaminya (unyuuu). Nah aku jatuh kebelakang, ga ada yang mau narik. Mas Ketut juga ga mau bantuin, si Affi malah menertawakan -______-“

Saya sangat bersyukur saya masih diberi hidup sehingga dapat menyicipi rasanya arung jeram. Dan main ciprat-cipratan, sama kapal lain. Sayang, kebahagiaan itu selesai ketika kami telah mencapai finish point. Eh bukan-bukan, tetapi ketika kami mesti menaiki 200 anak tangga dari sungai untuk mencapai finish point. Salah satu mas-mas staf operatornya malah bilang begini, pas kita sudah terengah-engah, “Ada eskalator kok, tapi maksimal beratnya 50 kg.” KAMPREET!