Menginap di Jjimjilbang

Kalau berwisata ke Jepang, salah satu penginapan alternatif yang unik ialah internet café. Sedangkan di Korea, maka jjimjilbang adalah jawabannya.

Secara literal, jjimjilbang (찜질방) berarti ruang ‘memanaskan’ atau tempat sauna. Di jjimjilbang biasanya terdapat pemandian umum berupa beberapa kolam dengan suhu yang berbeda-beda, barisan shower, layanan pijat, area sauna beraneka tingkat kepanasan, kios yang menjual minum dan makanan ringan, restoran, bahkan layanan internet dengan PC. Sebagian besar jjimjilbang buka 24 jam dan kita dapat tidur di ruang yang tersedia.

Kolam pemandian jjimjilbang, tiap kolam beda suhunya. Tentu saja terpisah laki-laki dan perempuan. Foto: blog.thearrivalstore.com

Jjimjilbang biasa dikunjungi para keluarga untuk bersantai-santai dan menjadi tempat menginap bagi para pekerja yang pulang larut malam maupun para turis frugal karena tarifnya yang lumayan murah. Tapi sebenarnya tidak jauh dari harga semalam menginap di shared room. Beberapa jjimjilbang lebih mahal malah.

Di Korea, aku menginap di jjimjilbang tiga kali. Pertama, saat di terminal bus ekspres Seoul karena busku berangkat pukul 06.30 pagi dan kereta metro baru ada pukul enam pagi dan bus tak mungkin terkejar. Jadilah aku menginap di jjimjilbang terminal. Semalam 13.000 won. Lebih mahal dari ongkos menginapku di hostel di Seoul yang hanya 10.000 won. Kedua kalinya aku menginap di jjimjilbang di kota Mokpo dengan tarif 8.500 won. Karena kota kecil, aku tidak bisa menemukan hostel di situs web. Terakhir, di Pulau Jeju karena awalnya niatku menginap di bandara –karena pesawatku pagi hari dan nggak mau rugi booking hostel-- eh, tapi bandara nggak 24 jam. Yang kali ini, ongkos jjimjilbang 9000 won.

2015 Instagram Best Moments Video

Bagi para pengguna Instagram, akhir tahun 2015 ini sebagian besar membuat #2015bestnine-nya deh. #2015bestnine kan bentuknya kolase yang disusun dengan sembilan foto yang memiliki like terbanyak tahun 2015. Ternyata ada lagi 2015 Instagram Best Moments, namun bentuknya video dan ada lima foto yang di-like terbanyak yang terlihat. Awalnya aku melihat di akun instagram seorang teman blog Mbak Bebe, sampai aku gugling loh karena kan aku anaknya labil dan suka ikut-ikutan kekinian. Guglingnya pakai kata kunci: “2015 Instagram Best Moments video” tapi engga nemu. Malah nemu kalimat ini di web Iconosquare:

“Unfortunately the Best Moments video will not be available this year.”

Sebagai anak kepo, akhirnya aku tanya bagaimana caranya, di komentar video instagram temanku. Terima kasih Mbak Be infonya. Ternyata gampang! Caranya:

1. Install app InsTrack dari AppStore
2. Login akun Instagram-mu di app InsTrack
3. Akan muncul pop-up message tawaran untuk men-download fitur video 2015 Instagram Best Moments ini
4. Masukkan alamat e-mail
5. Video 2015 Instagram Best Moments dikirimkan via e-mail dalam bentuk mp4 dan siap diunduh. Ukuran video sekitar 2 MB.

Keliling Tokyo dengan Teman Baru dari Tokyo

Memang ya, kalau jalan-jalan itu sebaiknya bersama teman yang aslinya dari daerah itu. Karena biasanya bakal dapat informasi, sedikit atau banyak, yang bahkan nggak akan ditemukan dengan mudahnya di mesin pencarian. Seperti halnya, saat teman baruku dari Tokyo, Keiko-san, memanduku berjalan-jalan di Tokyo.

Hari sebelumnya ia bertanya, aku sukanya apa. Aku suka apa saja dan yang gratis atau murah. Ke mana saja, aku serahkan seluruhnya kepada Keiko-san. Manut. Malamnya pun via e-mail ia menanyakan kepadaku apakah aku sudah ke tempat ini atau ini. Tak lupa ia pun memberitahuku di mana tepatnya meeting point lengkap dengan petanya. Ia juga mencantumkan informasi kalau beli tiket kereta 1-day lebih murah. Parah komplit abis dah! Trus karena aku nggak bisa baca banyak kanji, ia selalu menuliskan hiragananya apabila ia menulis kanji di dalam e-mail. Aku terharuuu!

Hari H, Keiko-san bercerita kepadaku, ia benar-benar memutar kepalanya untuk mencari tempat yang gratis dan murah tapi menarik. Kami janjian pada pukul 08.50 pagi dan sebelum 14.00 Keiko-san harus pamit karena sudah ada janji dengan temannya. Lokasi meeting point-nya di Exit 1 Stasiun Tsukiji. Karena aku nggak bisa kira-kira berapa lama perjalanan di kereta, jadi aku datangnya kecepetan 15 menit. Sedangkan Keiko-san datang tepat pukul 08.50, nggak pakai kurang nggak pakai lebih.

Tujuan pertama kami adalah Tsukiji Market, pasar ikan yang paling terkenal di Tokyo. Sayangnya, waktu itu adalah hari libur Obon, sehingga sebagian besar kios yang menjual hasil laut segar pada tutup. Beberapa warung makan pun tetap buka, mungkin memang paham ya kalau musim liburan pasti banyak turis datang. Ada warung yang menjual tamagoyaki dan begitu menarik sampai aku ingin membeli. Pas mau keluarin uang, baru sadar antrenya puluhan meter. Oke, cancel.

Teman Baru dari Tokyo

Sampai di Stasiun Bubaigawara, aku langsung bergegas mencari di mana halte shuttle bus yang disediakan pabrik bir Suntory Musashino. Di tiang depan stasiun terdapat informasi yang ditempel mengenai jadwal shuttle. Jadwal yang terdekat hanya tinggal lima menit saja, dan aku pun langsung berlari. Tapi nggak lama, balik lagi ke tiangnya. Bingung baca peta lokasi haltenya dan memastikan lagi. Keringatan.

Lari-lari lagi deh ke arah pemberhentian busnya dan di sana sudah berbaris puluhan orang yang secara statistik lebih banyak lansianya. Syukurlah busnya belum datang. Tapi dasar namanya Jepang, si bus itu datang persis pas jadwalnya. Di tiang shuttle bus stop ada semacam pengumuman, yang aku nggak bisa baca semuanya. Aku cuma bisa membaca bagian: “untuk pengunjung yang tidak melakukan booking.” Hah? Aduh apa ya itu penjelasannya? Aku takut nggak bisa masuk karena aku nggak reservasi sebelumnya untuk berkunjung ke pabrik bir itu.

Tapi ya sudah lah, kalau nggak boleh ya balik lagi ke stasiun. Kemudian aku masuk ke busnya dan duduk di bangku paling depan. Sebelahku ibu-ibu 30-an tahun yang sepertinya pergi sendiri. Karena aku tetap was-was karena nggak reservasi, aku bertanya kepada ibu itu. Katanya, memang harus booking lewat situs webnya tapi mungkin karena aku pergi sendiri pasti bakal dibolehin masuk. Katanya lagi, kalau nggak boleh masuk, mohon-mohon melas aja sampai dibolehin.

Japan vs. Korea vs. Taiwan vs. Hong Kong

Setelah menghabiskan waktu tiga bulan di Jepang, aku menyusuri Korea Selatan, Taiwan, dan Hong Kong sebelum kepulanganku ke Jakarta. Salah satu persamaan tiga negara terakhir adalah sama-sama bekas jajahan Jepang. Luas sekali ya jajahannya. Keempat negara tadi termasuk dalam wilayah Asia Timur, bertetangga, namun sangat berbeda. Di postingan ini, aku ingin bercerita tentang perbandingan keempat negara ini dalam beberapa aspek yang berbeda dan dari sudut pandang turis. Mulai dari mengenai soal wi-fi gratis, PDA, dan populasi orang ganteng. Ingin nulis tentang perbandingan harga dan service/hospitality, tapi banyak sub-aspeknya, kapan-kapan saja lah ah.

Maklumin aja semua foto di post ini nggak nyambung sama tulisannya.

Musholla di Kansai Airport

Siang tadi, telunjukku cukup tergelitik untuk meng-klik tautan video yang diunggah oleh pengguna Youtube: kanadajin3. Video itu berjudul Japan is NOT anti - muslim - Rumours. Dalam video tersebut, Mira, si kanadajin3 itu membantah rumor-rumor mengenai susahnya mendapatkan izin tinggal/visa Jepang bagi muslim. Ia menyebutkan kalau di Jepang terbuka sekali untuk orang Islam karena ada masjid, banyak restoran halal, bahkan penginapan khusus muslim yang dibuka dekat masjid.



Aku nggak ngerti lah bagaimana bisa ada rumor-rumor itu beredar. Tapi ya kalau rumor itu benar, bahwa Jepang tidak terbuka dengan Islam dan orang-orang Jepang anti Islam, kok rasanya enggak mungkin. Abisnya... aku bertemu dengan orang Jepang dan pemilik restoran Indonesia yang mengkhawatirkanku tidak makan makanan halal -karena masakan di restorannya menggunakan daging yang tidak berlabel halal. Sementara padahal aku nggak peduli, hihihi. Aku juga bertemu dengan tante-tante yang penasaran kok aku boleh makan takoyaki (gurita) sedangkan temannya dari Uzbekistan bilang kalau muslim nggak boleh makan gurita. Dan lagi... kalau rumor itu benar... nggak mungkin di Kansai International Airport menyediakan prayer room sampai tiga ruang gitu!

My #2015bestnine on Instagram

Tadi aku menggulir linimasa Instagram kok banyak yang mengunggah kolase sembilan foto ber-hashtag #2015bestnine ya. Karena aku sukanya ikut-ikutan, cari tahu lah bagaimana bikinnya. Ternyata hanya tinggal masukan username di situs web 2015bestnine.com. Username yang dimasukkan terserah, bisa punyamu sendiri atau orang lain yang kamu kepo. Website-nya bukan punya Instagram, jadi yaaa.... muncul pop-up iklan-iklan gitu. Nggak sampai 10 detik, jeng jeng... muncullah sembilan foto Instagram-mu yang paling banyak di-like tahun 2015.

Kalau punyaku begini nih:

#2015bestnine indonesia instagram
@u__n__a__'s #2015bestnine
Memang aku melankolis ya, lihat fotonya, aku kok jadi rindu ingin ke sana lagi. Dari sembilan foto, hanya dua yang diambil di kota yang sama. Kalau diberi angka, diurutkan dari kiri ke kanan, lalu ke baris bawahnya, inilah cerita masing-masing dibalik fotonya.

Jangan Menginap di Warnet Akihabara!

Malam kedua di Tokyo, saya belum tahu akan menginap di mana. Namun tiba-tiba teringat Akihabara, salah satu area di Tokyo yang sangat terkenal bagi para otaku. Di sana banyak kios yang menjual game, barang elektronik, dan merchandise girlband Jepang. Tentu saja lah ya, kalau internet café pasti banyak di Akihabara!

Memang tidak susah mencari internet café di Akihabara. Sayangnya, warnet pertama yang aku kunjungi, semua computer dengan kubikelnya penuh! Adanya yang smoking area tanpa kubikel! Ya aku ogah lah, wong niatnya mau tidur, bukan main internet, hahaha… Nggak jauh dari sana, aku menemukan warnet yang ternyata cabangnya warnet yang aku singgahi di Ginza malam sebelumnya. Untungnya, nggak penuh! Dan lagi, aku nggak perlu bikin kartu member lagi.

Kondisi meja komputerku malam itu.
Kalau dibandingkan dengan cabang Ginza, Manga Net Kan Akihabara ini lebih sempit, dan jumlah kubikelnya lebih sedikit. Kalau ukuran dan layout kubikelnya kurang lebih sama. Kamar mandi dan fasilitasnya juga serupa. Karena hari itu lelah sekali, aku sudah sampai warnet sebelum pukul 7 malam. Aku ‘membeli’ paket 12 jam dengan harga 2000 yen saja. Bandingkan dengan cabang Ginza yang 10 jam 2570 yen. Jauh lebih murah kan?

Amankah Cewek Menginap di Warnet Jepang?

Empat bulan lalu, aku menulis postingan dari kubikel warnet yang kuinapi di daerah Ginza, kawasan elite dan mahal di Tokyo, Jepang. Sayangnya, pengalaman pertama menginap di warnet agak kurang beruntung karena malam itu aku menghabiskan sekitar 5000 yen (1 yen = 113 rupiah). Mau irit malah boros. Boros yang disebabkan sok-sok irit.

Jadi begini,

mengapa menginap di warnet begitu populer di Jepang, ya karena jauh lebih murah daripada menginap di hotel, bahkan bila dibandingkan hotel kapsul yang punya fasilitas terbatas pun. Satu malam di hotel kapsul atau satu bed di shared room di penginapan di Jepang, paling murah rata-rata 3000-4000 yen. Sedangkan 12 jam di warnet bisa hanya 2000 yen saja. Fasilitasnya? Nanti aku jelaskan di belakang.

Nah, malam itu, aku baru tiba di Stasiun Tokyo dari Hakodate. Karena awalnya berniat di Tokyo hanya semalam, kuputuskan hari itu menginap di warnet saja. Dari hasil telusur Google, aku menemukan ada warnet di daerah Ginza, yang kalau jalan dari Stasiun Tokyo hanya sekitar satu kilometer. Sambil jalan kaki, aku berharap menemukan penginapan murah di sekitar situ, yah daripada nginep di warnet kan ya. Di situs booking aku tidak menemukan yang murah dan pas jalan hanya menemukan hotel ‘murah’ single bed semalam 7000 yen. Nggak deh ah! Mari lanjutkan jalan ke warnet…

Warnet pertama yang kutemukan… papan iklannya di depan gedungnya agak tidak meyakinkan. Lanjut jalan lagi deh, ada warnet lain nggak jauh dari situ. Jalan sebentar, akhirnya ketemu sebuah warnet namanya Manga Net-kan (マンガ.ネット館). Warnet ini terletak di lantai 8-10 Leisure Building, Ginza. Oya, warnet ini nggak sekadar warnet dan tempat baca manga saja, tapi juga ada tempat biliar, bar, dan main darts.

First World Problems: Visa and Passport

Sebagai pemegang paspor biasa Republik Indonesia, untuk jalan-jalan ke sebagian besar negara di dunia harus membutuhkan visa. Paham lah, kalau untuk mendapatkan visa, terkadang harus menunjukkan sejumlah dokumen, bahkan dari kartu keluarga sampai ke fotokopi buku tabungan. Sudah gitu, kita harus membayar biaya visa yang tidak menjamin kita bisa mengantongi izin masuk negara tersebut atau tidak. Kasus ribet daftar visa dan ditolak, rasanya adalah kisah 'biasa' bagi kalangan warga Indonesia.

Tapi tidak bagi teman-teman yang berasal dari negara dunia pertama (termasuk Eropa Barat, Amerika Serikat, Jepang, Kanada, Australia, New Zealand, Singapura, yang maju-maju lah). Mereka nggak ngerti... wkwkwk.

Di Busan dua bulan lalu, aku sehostel dengan seorang bule Belgia yang pernah kuceritakan makan darah bersamaku di beberapa postingan lalu. Ia berhenti bekerja dan memulai jalan-jalan keliling dunia. Ia datang dari Fukuoka, Jepang sebelum ke Korea, dan selanjutnya akan bertualang ke Vietnam dan negara Indochina lainnya. Mulanya, ia hendak ke Tiongkok, namun syarat-syarat untuk apply visa-nya menahan dia untuk pergi ke sana. Salah satu syarat dokumennya adalah salinan rekening, dan temanku nggak habis pikir kenapa untuk berkunjung ke sebuah negara dan cuma untuk jalan-jalan harus perlu menunjukkan dokumen yang sangat privat.

Dari Bukit Kingkong Ke Pasir Berbisik

Gunung Bromo, merupakan salah satu yang paling diminati para wisatawan dalam melancong ke wilayah Jawa Timur. Yang paling terkenal adalah panorama Gunung Bromo dari beberapa viewpoint dan keindahan matahari terbitnya. Untuk melihat matahari terbit, terdapat beberapa viewpoint di antaranya Penanjakan, Bukit Kingkong, dan Bukit Cinta.

Jadwal partisipan Social Media Trip and Gathering bersama Kementerian Pariwisata ‘berangkat ke Bromo’ alias berangkat ke viewpoint terbagi menjadi dua. Sebagian berangkat jam 12 tengah malam, bagi yang hendak ‘berburu bintang’, sebagian lagi berangkat jam tiga pagi. Aku berangkat jam tiga pagi. Viewpoint yang akan kami tuju adalah Bukit Kingkong.

Viewpoint yang paling ramai adalah Penanjakan, letaknya paling tinggi di ketinggian sekitar 2700 mdpl. Sedangkan Bukit Kingkong berada 100 meter di bawah Penanjakan. Di mana saja, pemandangan matahari terbit di Gunung Bromo tetap fantastis, hanya saja yang membedakan adalah angle-nya.

Perjalanan dari penginapan menuju Bukit Kingkong menggunakan jip yang mampu diisi lima orang penumpang dan supir. Sekitar 30 menit, kami tiba di parkiran jip dan harus berjalan kaki untuk menuju Bukit Kingkong. Tenang saja, jalan kakinya tidak terlalu jauh dan tak sampai membuat nafas tersengal-sengal. Di sana terdapat beberapa kios kecil yang menjual mi dalam gelas, pisang goreng, maupun minuman panas. Pisang goreng yang kalau biasanya mahhh gitu aja enaknya, tapi kalau ditambah dengan dinginnya Bromo, jadi berasa enak banget! *laper*

Siluet para manusia yang menanti-nantikan matahari terbit di Bukit Kingkong.

Kecak Berlatar Senja di Uluwatu

Sudah lama aku ingin sekali melihat matahari terbenam dari desa paling ujung selatan Pulau Bali ini, Desa Pecatu. Akhirnya kesampaian juga… dan tak hanya menikmati senja, namun juga menyaksikan riuh pertunjukan Tari Kecak di sana.

Tepatnya di sebelah Pura Uluwatu, terdapat panggung terbuka yang mampu menampung sampai 1400 orang. Setiap hari, kecuali Hari Raya Nyepi dan Pengerupukan (H-1 Nyepi), pukul 18.00 digelar pertunjukan tari kecak dengan durasi tepat satu jam. Tempat pertunjukan menghadap ke laut dan menyajikan panorama indah yang berasal dari rona matahari terbenam dan senja.

Aku sempat was-was, karena lokasi tari Kecak masih searea dengan Pura Uluwatu dan saat itu aku sedang berhalangan. Syukurlah, ternyata tidak masalah melewati tangga sebelah pura, asal tidak masuk pura. Oya, seperti masuk pura di Bali lainnya, harus menggunakan baju sopan dan selendang yang diikatkan di pinggang. Kami juga diingatkan untuk berhati-hati karena di area pura banyak sekali kera yang lebih bandel daripada kera di Monkey Forest Ubud. Sehingga disarankan untuk melepas kacamata, anting-anting, dan ikat rambut. Aku tidak melepas kacamata~ hihi dan untungnya tidak apa-apa.

Karena sudah dekat pukul 18.00, kami langsung menuju ke panggung tari kecak untuk mencari tempat duduk yang kosong, karena sudah ramai sekali.

Ngomongin Budaya Sasak, Yuk!

Diambil di Pantai Mawun, Lombok. Cantik ya warna lautnya...
Keragaman alam dan budaya merupakan salah satu Pesona Indonesia. Setelah sebelumnya postinganku tentang alam Indonesia, tepatnya Pantai Merah atau yang biasa dikenal dengan Pink Beach di Taman Nasional Komodo, kali ini mari diskusi tentang salah satu budaya Indonesia, yuk!

Saya sebagai orang Jawa, jujur saja tak banyak mengenai budaya Jawa yang saya pahami. Sebut saja soal Batik. Motif selain parang dan kawung, saya sudah tak mengenalinya. Belum soal yang lainnya. Belum budaya suku-suku lain di Indonesia. Ya, memang Indonesia itu benar-benar kaya soal budaya.

Indahnya Pantai Merah (Pink Beach Komodo)

Keragaman alam dan budaya merupakan salah satu Pesona Indonesia. Dan kali ini, tentang salah satu pesona alamnya: Pink Beach.

Sudah sering mendengar cerita orang pergi ke Pink Beach, tapi baru tahu kalau pantai yang biasa disebut Pantai Merah oleh masyarakat local ini, ternyata terletak di pulau yang sama dengan tempat melihat komodo, Pulau Komodo.

Trip Taman Nasional Komodo hari itu dimulai dengan susur jalur medium trek di Loh Liang, dan kemudian dilanjutkan dengan perjalanan ke Pink Beach. Horeee… Aku penasaran sekali dengan pantai yang punya pasir berwarna merah ini.

Siang itu, hampir jam 12 siang, benar-benar panas. Bodohnya, aku tidak membawa sandal jepit, dan aku pun menyeker di pantai Pink Beach. Aku hanya bawa sepatu, dan turun dari perahu kan tidak benar-benar sampai di area yang berpasir, jadi bakalan basah. #curhat. Garis Pantai Pink Beach tidak terlalu panjang, di pantai pun tidak ada apa-apa, maksudnya bangunan apaaa kek gitu, hanya ada sebuah gazebo kecil.

Jalan menanjak ke atas bukit.

One of the Best Private Museums in Indonesia

Saya sering melihat di linimasa jejaring sosial, teman-teman check-in di Antonio Blanco Renaissance Museum. Saya sama sekali tidak tahu mengenai museum tersebut kecuali tentang Antonio Blanco yang merupakan seorang pelukis. Sampai akhirnya saya sendiri terkagum-kagum dengan museumnya… dan memang, museum ini menurut saya salah satu yang terbaik di negeri ini!

Museum Antonio Blanco terletak di kawasan Campuhan, Ubud. Dari Ni Rondji, restoran dalam area museum yang dinamai dengan nama istri mendiang Antonio Blanco, kita dapat melihat pemandangan rumah-rumah dan bukit yang sangat indah. Memasuki gerbang kecil ke arah bangunan utama museum, kemudian di sebelah kanan terdapat beberapa ekor burung cantik yang sedang bertengger. Jenis burungnya antara lain Makaw/Makau, Kakaktua, dan Jalak Bali. Harganya di pasaran pun bukan main-main, kisaran 100 hingga 250 juta rupiah per ekornya. Museum Antonio Blanco tak sekadar ‘mengkoleksi’ burung-burung cantik itu, melainkan juga menjadi konservator karena rupanya dahulu hanya memiliki tiga pasang Jalak Bali, hingga kini menjadi 250 ekor.



#PesonaIndonesia: Kelagian Lunik, Cantik… Cantik…

“Risiko punya pacar cantik… cantik… cantik…” lirik lagu Syahrini seringkali terdengung di kepalak saat perjalanan waktu itu. Padahal aku bukan fansnya loh. Well~ entah menurutmu beliau cantik atau tidak, tapi salah satu pulau kecil di Lampung ini, menurut semua orang pasti… cantik deh! Paragraf pembuka sumbang banget biarin lah ya, hihihi!

Salah satu destinasi wisata andalan Provinsi Lampung yang lagi heitz-heitz-nya adalah Pulau Pahawang. Sering banget deh lihat info open trip tujuan ke pulau satu ini. Nah, salah satu pulau utamanya memang Pahawang, tapi di sekitarnya banyak pulau-pulau kecil yang juga cantik. Salah satunya, Kelagian Lunik.

Perjalanan ke Pulau Pahawang dan pulau-pulau sekitarnya dapat ditempuh menggunakan perahu dari Pelabuhan Ketapang. Trip kami kali itu, destinasi pertamanya adalah Pulau Kelagian Lunik dan perjalanannya memakan waktu satu jam. Seperti namanya, pulaunya memang cilik – 'Lunik' berarti kecil. Meskipun aku tak berkeliling pulau secara penuh, yakin deh, tak sampai sejam udah bisa buat tawaf pinggir pulau Kelagian Lunik beberapa kali.

#PesonaIndonesia: Lagi Mens Ke Komodo, Boleh Nggak?

“Kak, ke komodo kan katanya nggak boleh kalau lagi mens. Ntar lo dikejar loh sama komodonya.”

Yang bener? Esoknya ialah jadwal kami pergi ke Pulau Komodo, dan hari itu aku masih visitor langganan bulananku. Masa’ jauh-jauh sampai Taman Nasional Komodo aku nggak bisa bertemu dengan si ora –nama lokal makhluk yang kerap disapa Komodo ini-? Aku pun mencari informasi di mesin pencarian. Ternyata hasilnya… sebagian bilang tidak boleh, sebagian bilang tidak masalah. Jadi boleh nggak sih?

♥♥♥

Nyaman Perjalanan Wisata Ke Luar Negeri Bersama Cathay Pacific

Kamu suka menjelajah tempat wisata di luar negeri? Bagaimana memilih perjalanan yang nyaman dan aman untuk sampai di tempat wisata yang diinginkan? Salah satu cara yang mudah dan cepat untuk berlibur di luar negeri adalah dengan pesawat. Jika kamu ingin pergi ke Hongkong untuk berlibur saat ini, memilih maskapai Cathay Pacific adalah pilihan yang tepat. Selain tiketnya yang mudah didapat melalui website Traveloka. Cathay Pacific adalah maskapai penerbangan internasional yang berada di Hongkong dan didirikan tahun 1946. Maskapai ini merupakan maskapai penerbangan internasional yang memiliki pelayanan sangat memuaskan. Cathay Pacific menawarkan jasa kargo dan juga penumpang untuk 162 destinasi yang ada di 42 negara di dunia.

Maskapai penerbangan Cathay Pacific ini merupakan maskapai penerbangan besar di dunia. Untuk mendapatkan layanan terbaik dari maskapai ini maka kamu bisa melakukan check-in dengan sangat mudah. Saat ini kamu bisa check-in dengan maskapai Cathay Pacific secara online maupun dengan mobile check-in. Layanan check-in ini bisa dilakukan kapan saja dan dimana saja namun kamu bisa melakukan check-in secara online 48 jam hingg 1,5 jam sebelum waktu keberangkatan. Cara online ini tentu sangat memudahkan penumpang yang tidak memiliki waktu untuk datang ke counter Cathay Pacific. Kamu bisa juga check-in dengan datang langsung pada counter Cathay Pacific setidaknya 2 jam sebelum keberangkatan.

Armada Cathay Pacific. source: thedrinksbusiness.com