Happy ❤

Terlepas katanya tahun ini merupakan tahun keberuntungan bagi shio yang aku miliki, aku benar-benar merasa beruntung. Dan happy. Happy banget. Abis ulang tahun ya enggak, jatuh cinta juga enggak, tapi rasanya girang dan bawaannya pengen senyum terus.

Well, ada banyak yang terjadi sih. Baik yang diusahakan maupun yang tak diduga-duga.

Aku happy karena tetiba ibuku membelikan jam tangan, katanya sih hadiah karena abis sidang skripsi. Sudah beberapa waktu aku pengen pakai jam tangan, niat mau pasang baterai baru di toko jam. Jam tanganku yang duluuuuuuuuu abis baterainya. Ehhh dikasih jam sama ibuku. Sudah kupakai 3 hari berturut-turut hehehe. Enak pakai jam tangan, nggak perlu buka hape mulu buat lihat jam.

Aku happy karena abis nonton Cinderella. Itu loh dress birunya cakep banget. Sepatu kacanya juga. Tapi entah, aku lebih suka Cinderella-nya Brandy yang Rodgers and Hammerstein’s. Karena lebih musikal dan ball party-nya lebih keren. Ngomong-ngomong, karena nonton Frozen Fever, short sequel-nya Frozen yang diputar sebelum Cinderella dimulai, aku jadi pengen nonton Frozen. Suer lah aku nggak ngerti kenapa anak kecil dan orang-orang pada suka Elsa, Anna, dll itu hahaha *kudet*

Blogwalking

Sebelum aku bikin blog ini, aku lebih dulu suka membaca blog orang. Blog yang paling aku suka adalah blog bertema fesyen dan beauty (kosmetik). Meski sebenarnya aku anaknya nggak dandan samsek, boleh ditanyakan ke teman-teman dunia nyataku, diriku sekucel dan seberantakan apa hahaha!

Tapi kok seneng yaaa baca-baca ulasan kosmetik mulai dari masker wajah, lip tattoo sampai curler ajaib yang bisa nyedot rambut trus nggak lama berubah jadi keriting rambutnya. Tutorial dandan aku juga suka. Lihat doang tapi.

Pokoknya aku suka blog yang kualitas fotonya bagus-bagus. Mungkin aku orangnya visual banget kali ya, jadi seneng dimanjakan sama foto-foto cakep. Betah rasanya, meski blognya kadang berat…

Beberapa blog yang aku baca sebelum punya blog ini kayak blognya Xiaxue, Qiuting, Miyake Wong, Diana Rikasari, Sonia Eryka, Evita Nuh, Yutaki James, dan lain-lain.

Oh ya sama blog masak dan makan aku juga suka. Biasanya fotonya macam profesional abiz, keren! Kalau blog yang buat baca-baca, aku lebih suka blog curhat, personal, atau cerita tentang anak kecil yang konyol-konyol gitu. Seruuuu bacanyaaa…

Tentang Oleh-Oleh #2

Belum lama ini, santer banget kan pada bahas katanya kalau ada teman pergi hendaknya mikir-mikir kalau minta oleh-oleh. Kebiasaan minta oleh-oleh itu merepotkan teman yang hendak bepergian. Meskipun katanya basa-basi. Well, aku bohong kalau aku nggak setuju sama hal ini. Kadang-kadang belum berangkat tapi ini hati udah berasa ada beban. Serius.

Paling parah pernah kualami beberapa tahun silam. Ceritanya waktu itu aku pertama kali pergi ke luar negeri sendiri tanpa orang tua. Ada seseorang nitip beliin kaos. Aku mah cuma jawab, ya kalau sempet. Nggak mau mikirin banyak. Eh, rupanya di sana aku nggak beli apa-apa. Pas pulang ditelepon sama orangnya, dan aku nggak beliin dia kaos trus dia bicara dengan keras di kuping gue (yaiyalah di telepon) yang intinya ngatain aku pelit.

Hm… dalam hati gue, situ juga nggak ngasih uang saku kok. Siapa yang pelit zzz!!

'Oleh-oleh' alias belanjaanku waktu ke Phuket tahun lalu.

Jas Hujan dari Nagoya

Waktu itu sedang hujan rintik-rintik. Aku pun membuka payung. Begitu pula dengan teman-temanku yang lain. Tapi ada satu teman dari Singapura, dia mengeluarkan jas hujan berbentuk poncho dengan motif kembang-kembang vintage macam Cath Kidston punya. Gue langsung naksir! So cuteee...!!! Dan langsung pengen.

Teringat ketika aku masih SD-SMP, aku prefer memakai jas hujan. Dulu jas hujanku yang gambar-gambar, macam Winnie The Pooh. Jaman gede, jas hujanku polos dan ngga menarik. Sampai suatu ketika, aku menemukan toko yang menjual barang dekor vintage dan kawaii. Tepatnya di mal Aeon di Nagoya, Jepang. Di toko itu menjual dari shopping bag lucu-lucu, dompet, hiasan, sampai jas hujan. Semacam 100 yen shop gitu, tapi toko ini harganya rata-rata 315 yen kecuali yang ada tulisannya. Sekitar 30000 rupiah (kurs waktu itu hahaha).

Jadilah aku kalap, beli beberapa foldable shopping bag buat oleh-oleh dan dua jas hujan polkadot. Jas hujannya tuh bisa dilipat kecil gitu. Tapi bukan yang sekali pakai loh ya. Karena motifnya ngga semenarik yang punya temanku, jadi cuma beli dua.

Satunya kukasih sodaraku, warnanya putih polkadot pink. Sedangkan yang buat aku berwarna pink polkadot cokelat hm atau hitam. Waktu itu bulan Mei 2013 dan tidak ada kesempatan untuk makainya. Didiamkan begitu saja di dalam tas belanja terpalku. Si kucingku mencakar-cakar jas hujannya sampai agak sedikit tercabik-cabik tapi nggak parah. Aku ngga gitu peduli, ahhh cuma 30 ribu ini...

What I Love From Goody Bags

Zaman saya masih duduk di semester awal, datang ke seminar rasanya nggak semangat. Ketika teman-teman yang lain mengejar ilmu via seminar sekaligus sertifikatnya, saya tidak tertarik. Tapi makin ke sini, saya semakin suka belajar *ngapusi banget* Saya senang datang seminar, belajar, bahkan meski temanya bukan minat utama saya.

Tiap seminar, hampir selalu para peserta diberi seminar kit. Kadang-kadang ditaruh dalam sebuah tas kertas, kadang-kadang di dalam map plastik saja. Tak cuma acara seminar, workshop, talkshow, liputan, juga selalu diberikan goody bag. Kalau ditanya perasaan terhadap goody bag… ya antara senang dan biasa saja. Senang karena dapat ‘sesuatu’ yang mungkin berguna dan biasa saja kalau isi goodie bag masuk ke tipe barang yang tidak akan dipakai dan cenderung akan menuh-menuhin rumah.

Tentu saja kalau goody bag-nya isinya iPhone saya akan senang sekali. Siapa yang nggak senang? Tapi kan nggak pernah ya. Biasanya kalau ada kaosnya, sampai rumah saya berikan kepada mbak rumah. Kemudian dia akan memberikannya kepada tukang yang lewat di depan rumah atau pada saudaranya. Cuma kaos gratisan tapi itu aja bisa bikin senang. Notes pun ‘tidak terlalu berguna’ untuk saya karena sudah ada banyak di rumah. Even dalam goody bag ada paket kosmetik lengkap pun biasanya ujung-ujungnya dibagi-bagi.

Tapi ada beberapa isi goody bag yang saya senang sekali kalau saya dapat dan pasti berguna.

Buang-Buang Barang

Beberapa waktu lalu, Mbak Tiananda menuliskan bahwa ia berusaha menerapkan gaya hidup minimalis. Intinya, minimalis itu meminimalisasi punya dan memakai barang.

Well, aku juga berusaha seperti itu!

Di rumahku tadinya ada satu ruangan yang mana ada lemari buku yang memanjang (eh? meninggi?) dari langit-langit sampai lantai. Ceritanya ruangan itu semacam perpustakaan kecil. Tapi beberapa tahun yang lalu diserang oleh para rayap dan sebagian besar buku dimakan rayap. Buku yang selamat akhirnya disumbangkan ke perpustakaan salah satu universitas dan lemarinya dihancurkan.

Dampaknya berasa banget sampai sekarang. Masalahnya, rumahku tidak besar. Kamarku juga hanya 3,5 m x 3 m. Biasanya kalau aku beli buku dan selesai membacanya, aku taruh dalam lemari ruangan tadi. Sekarang tidak bisa, jadilah buku-buku berada di meja dan lemari semua kamar sebagai pengganti lemari buku besar tadi.

Kalau udah lihat buku-buku banyak gitu, rasanya pengen kusingkirkan. Biasanya tiap berapa bulan aku lihat buku mana yang aku nggak suka, lalu kujual atau kukasihkan orang. Pokoknya bawaannya pengen ‘buang-buang’ tuh buku biar nggak menuh-menuhin rumah. Rasanya puas kalau pas bersih-bersih dan sortir barang.

Current Favorite Youtube Channels

Kira-kira pemakaian internetku itu 50% bertujuan untuk akademis, 30% untuk nonton video, 10% untuk isi blog dan baca-baca blog, dan 10%-nya lagi buat main Cafeland. Mbel banget… kenyataannya mungkin 50% buat nonton drama Jepang dan video-video di Youtube. Kalau untuk nonton drama, situs favoritku adalah Gooddrama. Kalau di Youtube, channel favoritku… wah banyak!!

Di Youtube, aku suka nonton video tutorial dandan, nonton video yang lucu-lucu, tutorial bahasa, ulasan produk, dan yang berkaitan dengan Jepang gitu deh. Entah yaaa… kayak berobsesi pengen kawin sama orang Jepang, jadi seneng banget liat channel-channel milik orang yang nikah sama orang Jepang (interracial marriage). Di bawah ini aku sebutin lima channel favoritku saat ini, tiga di antaranya tentang kehidupan di Jepang para pasangan mixed itu.

1. Texan in Tokyo



Pemilik channel ini adalah Grace Buchele, seorang wanita yang berasal dari Texas dan menikah dengan pria Jepang bernama Mineta Ryosuke. Di channel ini berisi tentang kehidupan mereka dan segala tentang Jepang. Pasangan ini sangat cute, apalagi si Ryosuke. Grace juga punya blog di howibecametexan.com di mana ia mengunggah komik buatannya. Kocak!

Cerita Tongsis dan Surfers Paradise

Pergi ke Gold Coast Agustus tahun lalu itu adalah pertama kalinya aku jalan-jalan bawa tongkat narsis (tongsis). Aku sengaja beli beberapa minggu sebelum berangkat, selain karena emang pengen punya tongsis plus kepikiran pas liburan sebelumnya yang jalan-jalan sendiri, foto jalan-jalan yang ada mukakunya bisa dihitung pakai jari (jarinya 50 orang). Kan sedih. Hiks.

Kayaknya juga jadi jalan-jalan terakhir di mana tongsis berguna untukku. Karena pergi-pergi selanjutnya, nggak kupakai. Kalaupun dibawa, nggak dipakai. Teronggok begitu saja deh sekarang tongsisnya. Mana punya dua pula, karena nggak lama aku beli, ada yang memberiku tongsis.

Waktu di Gold Coast, aku kan jalan-jalan sendiri ya. Pengen punya foto diri banyak gitu kan, jadi lah berkali-kali mengangkat tongsis. Somehow aku merasa sedih dan terlihat menyedihkan. Udah jalan-jalan sendiri, foto-foto sendiri………………

❤❤❤

Punya Sampah Elektronik? Buang, Jadi Uang!

Awal minggu ini di acara iSiaga ECOCASH, aku senang sekali karena bisa bertemu dengan teman-teman Warung Blogger, baik yang sudah beberapa kali ketemu, maupun yang pertama kali ketemu. Tak lupa, selfie! Ini aku kasih lihat ya.

Untung fotonya kecil-kecil. Soalnya untuku ada cabenya oh syit.
Hari itu (16/3), bertempat di Pong Me! Lounge, Gunawarman, Jakarta Selatan, diluncurkan fitur baru dari iSiaga, yaitu ECOCASH.

Well, sepertinya aku harus memperkenalkan iSiaga dulu ya.

iSiaga ini merupakan sebuah usaha one stop digital assistant yang beralamat di Bendungan Hilir dan www.isiaga.com. iSiaga menawarkan berbagai layanan bantuan digital seperti technical support lingkup rumah dan kantor, jasa desain, pembuatan website, percetakan, jual beli dan servis gadget, serta yang terbaru, yaitu recycle (ECOCASH). iSiaga ini berada di bawah Lighthouse Indonesia, perusahaan yang menggabungkan teknologi dan kreativitas, yang punya produk kece-kece abiz.

Pasar Carrara

Liburan kali itu, aku menghabiskan lima malam di Gold Coast, dengan empat hari yang 24 jam penuh. Maksudku, penerbangan aku tiba, sampainya sudah sore, sedangkan penerbangan pulang, pagi sekali. Jadinya ya seperti empat hari saja.

Aku nggak bikin itinerary kalau jalan sendiri tapi riset sedikit lah. Yang kucatat dengan lengkap hanyalah beberapa supermarket Jepang dan Asia yang ingin aku datangi. Aku menyerahkan semua kepada leaflet dan peta wisata yang kutemukan di tempat menginap dan bandara. Ke mananya… pikir ntar lah.

Keesokan hari setelah aku tiba di Gold Coast, aku membaca kembali leaflet-leaflet yang aku ambil dan memutuskan untuk pergi ke Carrara Markets.

Aku memutuskan untuk membeli tiket bus di bandara yang hanya sekitar 1,1 kilometer dari tempat menginap. Ternyata cuma butuh 20 menit jalan kaki dan kemarinnya aku naik taksi tarifnya 15 AUD (150 ribu), najong… kalau di Jakarta, dari rumahku ke Soetta yang 30 kilometer aja masih kembalian. *price sensitive*

Dari bandara aku naik bus, turun di Broadbeach South bus station. Tempat pemberhentian bus sekaligus tram ini merupakan semacam terminal pusat gitu lah. Jadi banyak bus berhenti di sini dan sekaligus jadi interchange G:link light rail (trem). Pengen banget Halte Harmoni kayak gini!

Gara-Gara Kucing

Kiri: Foxy, Kanan: Adele. Waktu masih cute.
Sudah dua tahun ini, rumahku disertai keberadaan kucing. Seneng nggak punya kucing? Ya senenglah… jadi ada yang bisa dipeluk-peluk (selain bantal guling) dan dicium-cium (selain sendok dan gelas). Selain itu, bisa diajak curhat tanpa dikomentari. Love you kucing-kucingku…

Tapi ya namanya lika-liku kehidupan, kadang suka kadang duka. Ini lebay banget sumpah. Seseneng-senengnya sama orang aja kadang ada sebelnya kan, yah sama kucing juga lah. Kayak di bawah ini nih yang bikin sebel…

Kelahiran Ketiga

Alhamdulillah, sebulan yang lalu telah lahir ke dunia lima bayi cantik dari kelahiran ketiga. Bukan bayi ibuku yang jelas tapi bayi kucing cantikku, Adele.

Lahir bulan November 2012, Adele telah melahirkan tiga kali sebanyak 16 bayi, tiga di antaranya meninggal. Sembilan lainnya telah migrasi ke rumah orang lain dan ke luar kota. Kelahiran ketiga, Adele dianugerahi lima bayi, namun satu meninggal saat berumur satu minggu.

Saat hari melahirkannya, Adele dibantu oleh mbak rumahku, Mbak Lis. Waktu itu aku lagi pergi. Saat aku pulang, Adele sedang ada di wadah kotak plastik sedang mangap-mangap tersengal-sengal. Rupanya dia sudah melahirkan dua bayi. Tapi waktu itu kita nggak tahu ada berapa lagi yang masih di perutnya.

Dia menggeh-menggeh kayak kecapekan gitu. Kasian ya.

Selfie Terakhir

Wah, tentu saja saya narsis. Tapi boleh jadi, saya tidak pandai dalam bidang selfie.

Waktu itu, perdana sekali saya membawa tongsis saat jalan-jalan. Karena bakal jalan-jalan sendiri, hanya dengan meminta tolong orang yang lewat untuk memfoto saya, rasanya kurang puas. Kan kalau hasilnya (mukanya) kurang cakep, masa iya minta tolong mulu. Yang ada ngga pulang-pulang, soalnya susah bikin muka cakep kalau difoto.

Ini buktinya saya tidak jago selfie.

Ceritanya mau selfie dengan background pantai. Eh double fail. Backgroundnya apartemen dan muka tertutup bayangan tongsis. Huh. Tongsis nubitol.

Review SARIAYU Tissue Make Up Removal

Setelah rangkaian make up cosmetics tren warna 2015 Inspirasi Papua, Sariayu kembali mengirimkanku produk Tissue Make Up Removal. Dalam postingan ini, aku akan mengulasnya sesuai pengalamanku.

Meskipun aku jarang dandan, paham lah, membersihkan riasan itu PR banget. Apalagi kalau sampai rumah sudah capek, rasanya mau langsung bobok aja kan, males bersihin make up. Padahal kalau sampai tidak bersihkan make up, kasihan kulitnyaaa, sudah disiksa barang kimia, eh waktu tidur si kulit nggak bisa bernafas juga karena ketutupan riasan.

Make up remover sendiri bentuknya macam-macam. Aku punya di rumah basisnya minyak, jadi harus dikocok dulu, lalu diaplikasikan menggunakan kapas, lalu usap ke wajah deh. Ada yang basisnya air. Ada lagi yang berbentuk sabun muka, jadi sabunnya sekaligus make up remover gitu. Kalau sabun biasa kan tetap nggak hilang to make up-nya. Nah yang paling oke, dan bikin membersihkan riasan nggak jadi PR besar ya yang berbentuk tisu.

Tissue Make Up Remover-nya Sariayu ini merek kedua yang aku coba.

My Favorite Skincare Brand

Sudah lebih dari setahun, aku termakan omongan mas-mas sales promotion boy (SPB) Laneige Indonesia. Dia menceritakan produk Laneige dengan begitu bersemangat sampai berhasil membuatku membeli berapa produknya. Padahal mulanya aku cuma penasaran produk Laneige yang Blackhead Melting Gel, yang bisa ngilangin komedo hitam itu loh. Akhirnya sampai sekarang produk skincare yang paling banyak kupunya ya Laneige ini. Sampai sekarang belum pernah kecewa... cinta deh!

Laneige berarti salju, yang bisa dilihat gambarnya dari semua packaging Laneige. Produk Laneige tidak berbasis krim atau minyak, tapi berbasis air yang sangat penting buat hidrasi kulit wajah. Selain itu karena produksi Korea, pastinya formulanya cocok sama kulit Asia kita. Harganya sedikit mahal tapi bisa digunakan dalam jangka waktu lama dan sebanding sama hasilnya lah.

Dari pengalamanku pakai Laneige, bener-bener berasa efeknya. Seperti Blackhead Melting Gel itu, ketika diaplikasi ke hidung dan area berkomedo lain, rasanya agak panas, kemudian setelah beberapa menit diusap dibersihkan dengan tisu, keluar loh minyaknya kuning-kuning tanpa dipencet. Mau mencet hidung pun, jadi berasa lebih lunak. Lainnya lagi, seperti Water Sleeping Pack, yang aku pakai seminggu dua-tiga kali. Setiap kali tidur aku pakai, bangun-bangun berasa kulitnya lebih chewy...