Menabung Itu Mudah!

Mungkin beberapa teman tahu, bahwa sebulan yang lalu aku menulis postingan yang isinya kekesalanku karena membuat akun tabungan baru itu sulitnya minta ampun. Bank meminta salinan dokumen terlalu banyak. Tak hanya KTP saja yang dibutuhkan, tapi juga Kartu Keluarga, NPWP, surat keterangan yang tak boleh hanya sampai RT, tapi juga sampai RW. Rasanya mau nanya ke mbak customer service itu, "Butuh akte lahir sama transkrip nilai juga nggak?". Huft!

Mungkin aku tak akan kesal kalau di situs web mereka ada rincian dokumen yang dibutuhkan (yang tertera di web hanya KTP dan uang minimal setoran pertama saja). Mungkin aku tak akan kesal kalau mereka tidak memaksa-maksa kami di mal hanya untuk membuat kartu kredit bank mereka tapi giliran kita memohon untuk membuat akun tabungan susahnya minta ampun. Hehehehe, curhat!

Tapi semua itu berubah ketika negara api menyerang seorang teman menginformasikan tentang Digital Banking Bank Sinarmas yang mana kita bisa membuat akun tabungan via online, tak perlu keluar rumah, pokoknya mudah deh. Langsung teringat kalau di setiap 7-Eleven 'kan ada ATM Bank Sinarmas. Kebetulan rumahku dekat 7-Eleven, jadi in-case mau ambil uang bakal mudah. Langsung deh bikin, cusss!

Kalau diringkas, proses permohonan akun tabungan baru ini ada empat tahap:

1. Input Data
Pertama yang dilakukan adalah mengisi e-form yang terdapat di situs web Bank Sinarmas

2. Transfer Virtual Account
Setelah mendaftar, kita akan dikirimi notifikasi dan diminta mengirim setoran 50.000 ke akun virtual. Tertera di e-mail nomor rekening sementara. Setoran bisa dikirimkan via kantor cabang Sinarmas atau transfer antarbank. Aku memilih cara transfer antarbank via internet banking. Enak ya jaman sekarang urusan beginian nggak perlu keluar rumah, hihihi.

3. Know Your Customer
Usai transfer ke akun virtual, akan dihubungi via telepon oleh Bank Sinarmas. Yang menelepon aku dari KCP Roxy Square. Si mbaknya menanyakan kapan dan di mana aku bisa ditemui. Setelah aku memilih hari dan jam yang aku di rumah, ia bertanya, "Di rumah atau di kantor bisa kami temui?"
"Hmmm di rumah, saya nggak kerja Mbak." #pengangguran

Kartu ATM dan PIN. Sekarang lagi kerjasama dengan Lion Air dan ada beberapa penawaran menarik kalau membeli tiket Lion Air menggunakan rekening Bank Sinarmas.


Petugas dari Bank Sinarmas datang satu jam lebih cepat dari waktu janjiannya. Ndak apa-apa sih, tapi kan belum mandi gini. Kayak iya biasanya mandi. Ia memberikan bungkusan yang berisi kartu ATM dan pin ATM. Ada beberapa isian form yang harus aku isi dan sudah aja gitu? Nggak perlu surat keterangan RT RW nih Mas, kan KTP-ku beda alamatnya sama tempat tinggalku sekarang? Ini materai saya yang bayar atau gimana?
Jawaban masnya, "Oh tidak perlu Mbak. Memang kami berusaha untuk memudahkan nasabah."

Okeee, tinggal tunggu notifikasi approvalnya deh.

4. Approved
Proses approval ini maksimum lima hari dan notifikasinya via e-mail. Aku sendiri kemarin sehari. Sempat sedikit terganjal karena sumber danaku masih dari orangtua, belum lulus sekolah hiks, dan harus melampirkan KTP orangtua. Tapi setelah itu tidak masalah sih.

Sehari setelah approved, aku pergi ke ATM Bank Sinarmas untuk mengaktifkan M-Banking dan mengubah password ATM. Woo-hoo!

Mudah sekali 'kan?

❤❤❤

Bank Sinarmas didirikan tahun 1989 dan kini statusnya adalah bank devisa. Menjadi perusahaan publik, Bank Sinarmas melakukan IPO pada Desember 2010. Kini kantor cabangnya seluruh Indonesia sudah mencapai 380 di 120 kota dan memiliki 600 ATM dengan jaringan Prima, ATM Bersama, dan Alto. Dalam mengimplementasi Strategi Nasional Keuangan Inklusif (SNKI, Financial Inclusion), Bank Sinarmas memiliki divisi yang relatif baru, yaitu Digital Banking. Eh oiya, financial inclusion itu program nasional dari BI yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap produk dan jasa keuangan sebagai upaya mendorong pertumbuhan ekonomi.

Nah sekarang tebak, berapa persen dari penduduk Indonesia yang belum menabung? Menurut survei World Bank tahun 2012, ada 32% penduduk yang belum menabung. Namun yang punya rekening tabungan di bank hanya 20% saja.


Saat DiBi Blogger Gathering Sabtu lalu (25/10) Bapak Hendrawan Revianto dari Digital Banking Bank Sinarmas menyampaikan strategi-strategi divisi Digital Banking termasuk di dalamnya yang terkait implementasi financial inclusion. Ini dia strateginya:

1. Branchless Banking, bisa buka rekening via online, tanpa harus ke cabang.
2. Cost Optimization, minimalisasi investasi bank dalam penggunaan kantor cabang.
3. Internet Marketing, pemasaran digital menyasar pengguna smartphone yang kian meningkat.
4. Transactional Bank, tak hanya menabung, nasabah bisa melakukan banyak transaksi dengan Bank Sinarmas.

Kenapa gitu ya harus di Bank Sinarmas? Kenapa nggak di bank lain? Beuh, kalau aku sebutin keuntungannya pasti langsung kepengen buka rekening online Sinarmas. Beberapa di antaranya:

1. Biaya administrasi gratis. (Khusus rekening online Sinarmas Statement).
2. Gratis biaya penarikan tunai di lebih dari 70.000 ATM berlogo ATM Bersama, Prima, dan Alto.
3. Gratis biaya transaksi di jaringan Debit BCA dan Prima.
4. Simobi, aplikasi mobile-banking Bank Sinarmas di smartphone.
dan masih banyak lainnya.

Selain itu, menariknya lagi, Bapak Iman Budiman dari divisi Payment System & E-Channel Business Development, memaparkan bahwa kini Bank Sinarmas bekerja sama dengan jaringan Union Pay yang berpusat di Shanghai, Tiongkok. Jaringannya berada di seluruh dunia dan terutama di Tiongkok, tingkat akseptasinya tinggi. Lebih dari 2 juta merchant dan 300 ribu ATM terhubung Union Pay.

Waktu DiBi Blogger Gathering Sabtu lalu, cakep yah aku tangannya kayak ubi.

Pentingnya Investasi

Tingkat inflasi Indonesia sekarang-sekarang ini 6-7% per tahun. Kalau menabung di bank, bunga per tahunnya ya paling 2%. Kan jadinya nggak nambah ya. Deposito juga sama aja. Mulai dari 8 juta, bunga yang didapat 7.75% p.a. Kalau tingkat inflasinya segitu yaaa cuma dapet seumprit. Eh kecuali depositonya bermiliar-miliar sihhh. Eh tetep aja deng, mending pilih yang returnnya lebih tinggi kan? Ya meski tentu saja, high return mah high risk juga ^^

Mbak Cynthia Tjandrawinata, Kepala Departemen Bancassurance Bank Sinarmas menjelaskan jenis-jenis produk investasi. Ada deposito, emas, valas, saham, properti, obligasi, dan lain-lain. Sangat penting untuk memulai investasi dari sekarang karena kita tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan kan?

Salah satu produk investasi yang dimiliki oleh Bank Sinarmas adalah produk reksadana. Secara singkat, reksadana itu seperti nasabah menitipkan uang sekian rupiah untuk diinvestasikan dalam saham, obligasi, dan lain-lain kepada manajer investasi yang profesional.

Return yang didapat dari reksadana lebih tinggi dari tabungan. Sehingga tingkat inflasi bakal tertutup sama return yang didapat. Tapi tentu saja bukan tanpa risiko. Berbagai tipe produk reksadana di Bank Sinarmas disesuaikan dengan profil risiko nasabah. Bank Sinarmas sendiri merupakan bank umum yang mendapatkan persetujuan sebagai bank kustodian (bank yang menjadi tempat penitipan investasi) dan produk reksadana juga diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Nama produk reksadana Bank Sinarmas antara lain: Simas Satu dan Danamas Stabil.

Belum punya asuransi dan investasi lainnya?
Kalau kata Mbak Cynthia, "It's never too late to get started..."

Pulang gathering aku langsung mikir tabungan dan investasi... hihihi!

❤❤❤ 

Photo session after blogger gathering. Thank you DB Bank Sinarmas!
❤❤❤

Digital Banking Bank Sinarmas
Twitter: @DB_Sinarmas
Instagram: DB_Sinarmas

Referensi:
Follow me on:

Martabak Kitkat Matcha by Bazinga!

Seorang teman SMA memberitahu bawa ada yang jual martabak Kitkat Matcha yang lagi hip. Dia bilang dia pengen banget. Eh, ternyata... cuma selemparan balon saja dari rumahku. Balon tuh susah kan ya dilempar? Aku pernah lewat tempat itu sebelumnya, tapi cuma ngebatin aja, ini tempat apa sih... Jalan kaki tak sampai 500 meter. Setelah tahu tentang tempat itu, esoknya aku pergi ke sana bersama dua teman SMA-ku yang lain. Sebenernya sih nggak penasaran sama martabak Kitkat Matcha itu, tapi pengen coba aja... beda nggak sih?

Nama tempatnya itu Bazinga!.

Aku bertanya kepada mbak rumahku apakah dia tahu warung makan baru sebelah Mirah 2 (nama warung makan juga). Eh dia ternyata tahu dong.

"Oh ngerti aku. Itu ta... sing jenenge Baji**an Baj**gan apaaa gitu?"

*dziiinkkk!*

Agak close sih...

Aku ke sana sore hari sekitar jam 5-an karena memang baru buka jam 4 sore. Kiosnya kecil dibuat dari bekas kontainer yang di atasnya juga ada mejanya. Di bagian depan counter berjejer Ovomaltine, Skippy, Kitkat Matcha, Skippy, Nutella, Silverqueen, dan isian untuk martabak manis lainnya. Bazinga menjual berbagai macam martabak, baik telur dan manis, serta Indomie yang dibuat pedas sekali. Indomie Pedes Bingitz. Bazinga! ini tidak menjual minum, jadi bisa membeli di warung sebelah Bazinga!



Kami memesan Martabak Matcha Madness, martabak dengan base matcha dan taburan Kitkat Green Tea. Tak lupa Indomie Pedes Bingitz level Speechless, alias level yang paling tinggi. Ini buat temenku Retno yang memang hobinya nyemil cabe.

Pas memesan bukan tanpa hambatan. Mbak-mbak kasirnya seperti absent-minded atau sedang memikirkan apa jadi nggak konsen begitu. Waktu kami bilang mau Indomie Speechless, dia masih nanya, "Yang Speechless... mau yang level yang mana?" Padahal Speechless udah nama levelnya yang paling tinggi. Orderan kami ditagih 152.000, kami memberikan uang 170.000, lalu dia nanya apa punya dua ribuan. Kami kasih dua ribu tapi dia belom mbalikin 20 ribunya. Jadi di dia kan 172.000, eh kami dikasih kembalian 1.500. Lah???


Dia bilang katanya habisnya 152.500 pakai 500. Jadinya kami kasih 500 dan kubilang uangku masih 20 ribu di dia, tapi kayak nggak nyambung gitu -,- Tapi akhirnya selesai juga urusan perkasirannya. Eh temanku lupa bilang inginnya mi rebus, tapi ternyata sudah dibikinkan mi goreng. Dan mbak-mbak kasirnya pas di awal juga nggak menawarkan pilihan rebus atau goreng... Huft. Semoga Bazinga! pelayanannya makin baik ya.

Kami naik ke atas duduk dan kata temanku, "Ini nggak akan jebol kita di atas?" Kayaknya sih kalau jejingkrakan jebol juga sih, hahaha! Dua kuintal gini berat kami bertiga. Tak lama Indomie Speechlessnya datang. Aku nyicip satu helai mi goreng. Nyicip apaan ini... Ya karena aku nggak makan pedas. Gile loh satu helai doang, bibirku yang bawah panas banget, 15 menit kali ada kagak ilang-ilang. O em ji. Temanku satunya lagi Pita bilang, kalau itu sih bikin ke rumah sakit saking pedesnya... Akhirnya tak dihabiskan, sisa sepertiga, si Retno sudah menyerah. Mungkin berminat mencoba?

Indomie mahal, hahaha...
Martabaknya lumayan ya nunggunya, sekitar 20 menit. Martabak yang menjadi superstar dalam lima menit karena kami nggak berhenti-berhenti motonya. Pas dicoba... ya sudah tahu lah apa komentar mediocre... "Biasa aja..." Hahahaha! Martabaknya lumayan enak, bukannya buruk, tapi makannya nggak bikin terkesima. Aku lebih menikmati makan martabak manis keju susu special. Dengan harga 130K, satu martabak Matcha Madness, bisa beliin buat tiga tetangga martabak manis keju. Hahaha... Eh tapi menyesal nggak? Ya tidak lah, namanya juga experience.



Bazinga! juga menyediakan martabak manis lainnya yang menarik dan ada juga Create Your Own Martabak. Bisa pilih base dari rasa original, durian, pandan, dan matcha. Toppingnya ada dari Silverqueen, Skippy, Nutella, dan lain-lain. Mungkin seandainya aku beli martabak lain di Bazinga! aku akan pilih topping yang lain. Nggak beli yang matcha lagi deh! Hihihi... Oiya, aku pasang foto menunya juga di bawah ini barangkali teman-teman ingin coba nongkrong di Bazinga!.


Bazinga! #jakartastreetfood
Jalan Tebet Barat Dalam Raya No. 57 Jakarta Selatan
Seberang Bank DKI

❤❤❤

Follow me on:


Bersiul

Akhir-akhir ini, aku jarang menengok dasbor blog. Biasanya sih, tiada hari tanpa buka dasbor atau nggak baca-baca blog orang deh. Nah ini bisa seharian nggak buka sama sekali... Padahal enggak sibuk, cuma sibuk streaming drama Jepang di internet! A~ha!

Jadi, aku tuh semacam kagum lihat orang yang bisa bersiul. Di rumah, aku sering lihat ibuku bersiul, atau si mbak rumah juga kadang-kadang bersiul. Kalau ada lagu apa, mereka bisa menyanyikannya dengan siul. Aku sirik.

Kalau sekadar mengeluarkan bunyi dari bibir yang agak dimajukan ke depan mah aku sudah bisa dari SD. Yang aku nggak bisa, bagaimana membuatnya bernada. Sejak bulan Mei lalu, aku mengingat ketidakbisaanku dalam bersiul dan mulai berlatih. Gila ya, bahasan curhat kali ini pentingnya nggak nahan! Hahaha!

Aku nanya-nanya ke ibu bagaimana cara bersiul yang pakai nada. "Ah, masak gitu aja nggak bisa? Intinya ya kayak kamu nyanyi biasa aja tapi nggak pake mangap," begitu kata ibuku, yang tipsnya tidak bisa aku cerna. "Kayaknya keluar nadanya ada urusannya sama letak lidahnya deh. Eh, enggak deng," begitu katanya lagi, yang menunjukkan dia aja nggak yakin sama teori bersiul.

Yaaa akhirnya, aku siul-siul mulu. Di kamar mandi, di ojek, di commuter line, sampai akhirnya bisa bernadaaa... horeee! Sekarang sudah lumayan lah bersiulnya, bisa ngikutin lagu macam-macam. Tapi ya even aku nggak tone deaf, kadang-kadang kalau siul suka keseleo dan bunyiin nada suka susah...

Memang benar kata orang-orang, bersiul itu seperti naik sepeda. Kalau latihan, abis itu bisa, nggak akan lupa bagaimana caranya. Tapi kalau menjelaskan bagaimana caranya naik sepeda bisa seimbang, bagaimana bersiul bisa bernada, hmmm... coba aja sendiri deh!

Sekarang ya yang terjadi adalah kebalikannya...

Belum lama ini, aku mengikuti sebuah ujian. Ujiannya menggunakan lembar ujian komputer, isiannya dibuletin pakai pensil gitu. Aku beberapa kali menghapus lalu kan keluar daki dari karet penghapusnya tuh. Nah aku memindahkan daki dari kertas dengan ditiup, ehhh nggak cuma angin yang keluar dari mulutku, tapi ada suaranya juga. Dan aku susah buat nahan nggak ada suaranyaaa...

Sama halnya waktu mau meniup makanan yang masih panas. Nggak baik sih tapi namanya lapar bawaannya pengen cepet-cepet masukin tuh makanan 'kan. Lagi-lagi pas niup, yang keluar siulan... ah! Hahaha!

Eh oiya, padahal katanya kalau bersiul itu mengundang setan ya? Beneran nggak sih?

❤❤❤

Follow me on:

Let's Drink UP!

Aku suka minum cokelat.

Sayangnya, ngga semua cokelat yang dijual di pasaran itu enak, bahkan yang desain bungkusnya bagus. Sepertinya juga jarang merek minuman cokelat bubuk yang ditawarkan di supermarket. Atau akunya saja yang nggak tahu ya? Sementara ini, minuman cokelat kesukaanku adalah yang dimiliki salah satu jaringan warung kopi internasional. Yang itu tuh... you-know-what lah. Bahkan aku lebih suka cokelatnya ketimbang kopinya.

Waktu workshop #qfunblogging bersama Mbak Ani Berta, Haya Aliya Zaki, dan Shinta Ries, peserta mendapatkan sampel UP, produk minuman dari CNI. Salah satunya adalah Hot Dark Chocolate.

Kalau ingat CNI ya, dulu jaman SMP setiap hari aku minum Sun-Chlorella, salah satu produk suplemen dari CNI yang terbuat dari ganggang hijau chlorella. Itu satu-satunya produk CNI yang pernah kukonsumsi sampai aku bertemu UP ini. Kemarin yang aku dapat ada dua macam, selain Hot Dark Chocolate, ada juga Ginseng White Coffee. Karena aku lebih suka cokelat, tentu saja yang aku coba si Hot Dark Chocolate ini dulu.


Let me see how this UP can lift UP my mood...
Tuang bubuknya ke gelas, siram dengan air panas 150 ml, aduk, dan nikmati...


Voilaaa!

Tanpa mengetahui fakta mengenai cokelat yang katanya mengandung phenylethylamine yang mampu membuat perasaan senang dan memperbaiki suasana hati, minum cokelat UP ini berasa banget membuat mood makin baik. Berasa tenang dan rileks apalagi dikonsumsinya hangat-hangat 'kan? Selain itu UP Hot Dark Chocolate ini tidak terlalu manis namun tetap nikmat. Manisnya, pas saja gitu...

Lalu bagaimana dengan Ginseng White Coffee-nya ya?


UP Ginseng White Coffee merupakan kopi instan yang dipadukan dari kopi putih, kopi instan, gula, krimer, dan ekstrak ginseng. Yang spesial dari UP Ginseng White Coffee ini adalah tingkat keasamannya yang rendah dikarenakan proses produksi dengan cold drying. Sehingga tidak akan ada masalah dengan asam lambung bagi yang mengonsumsinya. Apalagi ekstrak ginseng juga mampu menjaga selaput lendir lambung.

Rasanya? Tentu saja nikmat... dan mampu memperbaiki mood-ku. Eh sama dong kayak efek minum UP Hot Dark Chocolate? Hmmm, kayaknya aku memang mudah memperbaiki suasana hati dengan minum yang enak-enak sih, hahaha...


Aku masih penasaran varian UP yang lain karena ternyata ada delapan loh! Dua yang tadi sudah aku coba, UP Green Tea, UP Soya, UP Sugar Free, UP Ginseng Coffee, UP Ginseng Tea, dan UP Honey Lemon Tea. Penasaran nggak sih lo? Tiap-tiap varian memiliki kandungan khususnya yang memberikan manfaat bagi tubuh baik kenikmatan karena enak! dan kesehatan. Kalau teman-teman ingin cek lebih lengkapnya bisa buka web GeraiCNI, di sana bisa lihat semua produk UP dan produk CNI lainnya loh.

Let's drink UP!

❤❤❤

Follow me on:


Ketika Manusia Lebih Murah Daripada Sebuah Mobil

Ada yang pernah bilang kalau di Afghanistan, harga kepala kambing bahkan lebih mahal dibanding kepala manusia. Karena kondisi negaranya perang, kepala kambing diperjualbelikan dan ada harganya, nah kalau kepala manusia bahkan bisa ditemukan di sudut-sudut daerah.

Kalau di kotaku, mungkin negaraku juga... Yaaa harga manusia lebih mahal lah... tapi tidak lebih mahal dari mobil atau bahkan sebuah motor bebek. Menurut gua.

Membaca timeline Twitter salah satu teman blog, Ibu Enny Mamito (sekarang aku kok lebih suka manggil yang lebih senior dengan Ibu, peace!) mengeluhkan kondisi lalu lintas di kotanya, Kediri. Tentang kurang menghargainya sebagian pengendara kendaraan bermotor terharap pengendara lainnya dan pejalan kaki.


Minta diajak high-five banget deh ini Ibu Enny!

Toss!

Ceritanya, di jalan besar dekat rumahku ada lampu lalu lintas yang tidak ada pertigaan atau perempatan di sana. Jadi lampu lalu lintas itu memang untuk pejalan kaki yang menyeberang, terlebih lagi ada sebuah kampus di sana. Para pejalan kaki harus memencet tombol supaya diberi lampu hijau untuk menyeberang. Tapi mah, agak percuma sebenarnya. Karena saat lampu merah (bagi pengendara kendaraan bermotor), jarang loh yang seperti niat berhenti, kasih jalan (bukan kasih juga wong ini haknya pejalan kaki!!!) untuk pejalan kaki.

Alhasil, meski lampu hijau untuk menyeberang, tangan untuk melambai-lambai masih diperlukan. Sedih sumpah deh rasanya, nyeberang jalan, tapi mobil motor masih melaju kencang. Berasa nggak dihargai. Berasa nyawa kita lebih murah dari motor mereka. Atau mungkin mereka yang tetap jalan di lampu merah pada kebelet eek semua kali ya, makanya buru-buru. Tapi kok yang kebelet banyak ya...

Sering dengar kan kalau katanya orang kita, tiap lampu kuning bukannya memperlambat malah makin mempercepat biar nggak keburu lampu merah? Bener banget sih. Berasanya kemarin waktu liburan di Gold Coast, aku naik bus. Kalau ada perempatan, lampu sudah kuning, eh si bus memperlambat jalannya dan berhenti. Gemes juga, kok nggak ngebut aja wakwakwakwak. Lagian merahnya masih agak beberapa detik lagi. *sama aja ternyata gue ama yang suka ngebut pas lampu kuning*

Di kawasan SCBD (Sudirman Central Business District) tidak lebih beradab juga urusan perlampumerahan ini. Masih banyak juga yang kalau lampu merah masih jalan. Sempat aku menyeberang jalan dengan teman di kawasan SCBD, lampu untuk pejalan kaki masih merah sebenarnya, tapi kami menyeberang. Sedang sepi mobil melintas, paling dekat hanya satu yang pas saat akan sampai melewati zebra cross, mobilnya dengan tenangnya berhenti memberi jalan kepada kami. Padahal hak dia buat jalan wong lampu hijau...

Eh kok ya kami langsung berceletuk,
"Mesti bule tadi tuh yang nyetir..."
"Bule tuh pasti... Bule."

Padahal mah belum tentu ya. Kami berpikir seperti itu karena jarang yang kasih jalan menyeberang untuk pejalan kaki. Padahal mah bisa saja itu memang orang Indonesia yang punya rasa respek dan menghargai orang lain 'kan?

Sampai sekarang... aku masih suka terharu kalau menyeberang dan dikasih jalan sama kendaraan bermotor. Hiks!

Di samping aku mengkritik, aku pun masih harus belajar menghargai orang lain seperti misalnya datang tidak telat tanpa ada urusan penting, janjian tidak ngaret, antre yang benar, dan lain-lain. Yah gitu deh.

❤❤❤

Blog Ibu Enny Mamito: www.ennymamito.com


Follow me on:

Masakan

Kira-kira paragraf pertama ini adalah ringkasan cerita tentang ongkos makanku saat liburan ke Gold Coast beberapa waktu lalu. Paket cheeseburgernya Mekdi harganya AUD5,45. Pernah makan bento isi komplit beli di restoran Jepang ada ikan, karaage, salad, harganya AUD10. Beli Pad Thai di warung makan Thailand yang tempatnya kecil dan biasa aja harganya AUD15. Sempat juga ke sushi bar tapi makan donburi ditambah natto sushi dan kue matcha ditagih bill AUD19. Kalau dirupiahin tinggal dikali saja sama 11.000 rupiah. Berapa tuh? MAHAL!

Enggak deng, enggak mahal.

Murah kok...

*mental kaya* *mental kaya* *mental kaya*

Makan bento cuma 10 perak! Apalagi Mekdi cuma 5 perak!

Ngomongnya sambil nangis......

Dari lima hari di sana, bisa aku perkirakan sekali makan di luar per orang rata-rata menghabiskan AUD15, sekitar 165 ribu rupiah. Salahkan nilai mata uang rupiah ya. Relatif untuk orang Indonesia mahal beud, tapi untuk orang Australia ya standarnya segitu. Dari hasil pengamatan pula, kebanyakan orang yang makan di luar, tidak membeli minum. Hanya minum air putih yang gratis disediakan oleh si warung.

Dari lima hari di sana pula, ongkos makan termahalku adalah ketika aku makan makanan... Indonesia! Hahaha iseng emang makan makanan Indonesia! Kurang kerjaan ya? Biarin!

Saat liburan kemarin, aku menginap di Coolangatta, pinggiran yang letaknya di selatan Gold Coast. Kira-kira kalau Gold Coast itu Jakarta, Coolangatta mah Depok lah. Jaraknya juga hampir sama, sekitar 20 kilometer. Bedanya sih di Gold Coast nggak pakai macet. Jadinya, tiap hari aku naik bus Coolangatta-Gold Coast-Coolangatta. Di sepanjang jalan, aku banyak melihat restoran Tiongkok, Thailand, Persia, Turki, Vietnam, dan lain-lain. Tapi yang menarikku ada satu restoran yang kulihat kalau arah Gold Coast ada di kanan jalan, di lantai bawah sebuah apartemen, yaitu restoran Indonesia yang bernama: MASAKAN INDONESIA.

Yang terlintas pertama adalah... nama restoran kok nggak catchy, hahaha. Maaf Bu...


Malam hari terakhir liburanku, aku sempatkan mampir ke sana. Aku naik bus dari Gold Coast dan turun di halte persis depan apartemen Palm Beach, lokasi restoran itu. Belanjaanku banyak banget, lupa berapa tas... eh sudah turun bus dan jalan cepet karena kedinginan, dipanggil-panggil dan disamperin bapak-bapak bule, ternyata ada tas kresekku ketinggalan satu di bus! Terima kasih Sir! My precious snacks, ohhh come to Mama! Hahahaha... belanjaannya cemilan waks!

Masuk ke restorannya, banyak ornamen-ornamen dan lukisan khas Bali dan Indonesia. Bangkunya juga terbuat dari bambu. Tapi aku nggak merasa ada Indonesia feel gitu deh. Nggak berasa aja. Selain itu menurutku tempatnya terlalu gelap. Buku menunya juga sudah tidak enak dipandang, mungkin harus dicetak ulang yang didesain bagus?




Ternyata yang memberikan menu kepadaku adalah si pemiliknya sendiri. Ia sangat ramah. Kami mengobrol tentang banyak hal dan lucunya ia kadang-kadang tidak mengetahui kosakata Bahasa Indonesia. Seperti saat dia tanya, kenapa aku bela-belain pergi ke restorannya. Aku bilang, aku penasaran. Eh dia tanya, "Penyasaran? Apa? Penasaran? Apa itu dalam English?" Meski begitu, logat Bahasa Inggris dia sangat Indonesia... nggak kayak orang Australia blas. Kalau logat Australia mungkin aku nggak mudeng, hahaha.

Ibu Doris, yang namanya aku tahu setelah googling, gaya tingkah dan berbicaranya mirip oma-oma yang tumbuh di jaman Belanda. Dan emang iya sih. Soalnya, dia bilang dia pindah ke Australia tahun 1954 saat umurnya 17 tahun, lulus SMA. Jadi tahun ini umur dia sudah 77 tahun. Serius? Aku kira awalnya dia berumur 50-an akhir atau 60-an.

"Yeah, I'm serious. Di sini, bos tetap bekerja tidak hanya di belakang meja saja. Jadi orang di sini lebih active, physically active, and brain juga lebih active. Jadi lebih young."

Aku yakin kalau kamu lihat beliau nggak percaya dia sudah hampir 80 tahun.

Ya nggak?

Hastaga! Muka kucel pakai baju berantakan, wakwakwakwak. Maklum dah malem, capek... Ibu Doris bilang kalau aku adventurous sekali. Kata dia, waktu dia seumurku mana pernah jalan-jalan sendirian naik bus di tempat yang asing, hahaha.
Ibu Doris ini rupanya seorang radiografer. Waktu masih kecil, ia tinggal di Jalan Maluku, Menteng. Wis mesti anak orang sugih ini, hahaha... Dia membangun bisnis warung makannya, yang dia sebut sebagai hobi, sejak tahun 1984. Gile ini sih gue aja belom lahir. Sudah 30 tahun loh restorannya! Rupanya dia menyesal memberikan nama 'Masakan' bagi restorannya. Tapi terlanjur sudah lama begitu, masak diganti 'kan.

Masakan menawarkan beberapa menu Indonesia seperti sate, gado-gado, bihun goreng, bakwan udang, rendang, dan lain-lain. Pilihan menunya tidak terlalu banyak. Aku memilih nasi campur. Nasi campur Masakan ini porsinya besar sekali, tiga kali kalau di Indonesia kali ya. Isinya nasi putih, rendang daging, ayam opor, mi goreng, pecel, dan kerupuk. Tampilannya ada di bawah ini:


Rasanya? Kurang Indonesia, hahaha... Nasi campurnya disajikan sudah agak anyep. Bumbu pecelnya diblender jadi tampilan halusnya berasa aneh. Rendangnya juga kurang nendang tapi somehow aku suka karena tidak pedas sama sekali! Ayam opornya juga biasa, potongan ayamnya besar sekali. Tapi aku nggak kecewa dan menyesal hanya karena rasanya. Aku suka mampir ke sana, bertemu yang punya, ramah sekali, orangnya juga sangat positif, jadi kebawa happy saja...

Aku membayar AUD22 untuk satu piring nasi campur besar ini. Kalau dirupiahkan yaaa sekitar 250 ribu rupiah. *die*

Ini aja didiskon, tadinya AUD22.90, hahahaha... diskon splewuuu (sepuluh ribu)...

Terlepas dari kekurangannya, aku senang ada yang membuat warung makan Indonesia di luar negeri. Ada rasa bangga, ada yang memperkenalkan masakan Indonesia ke bangsa lain. Jadi teringat, aku punya satu keinginan untuk membuat warung makan Indonesia dengan seorang teman yang konsepnya masih rahasia (tidak tahu pun kapan bakal diwujudkan hahaha). Ingin seperti Ibu Doris juga, bisa bertahan lama seperti itu...

❤❤❤

Ibu Doris juga sempat menanyakanku,

"What do you think about Gold Coast?"

"Bagus Bu, aku suka banget. Lebih bagus dari Jakarta!"

"Off course! Anywhere better than Jakarta! Penuh sekali, macet, tidak bagus itu. Except you pergi ke mall."

Hahaha... tapi aku juga cinta Jakarta sih.

❤❤❤

Follow me on:

Terkapar

Sakit itu nggak enak yaaa... kata siapa juga enak?

Sudah hari kelima aku terkapar di rumah. Sudah empat hari tidur lebih 12 jam sehari. Produktif banget gilak, hahaha. Ya tapi mau gimana lagi, sakit gini nggak enak mau ngapa-ngapain. Main komputer nggak tahan, baca buku baru berapa halaman udah males, tidur aja sebenernya juga nggak nyenyak! Huah maunya apa sih?

Rash hari pertama. Hari kedua lebih parah -,-
Hari Sabtu (27/9) lalu, aku ikutan blogger gathering yang diadakan oleh Graha Raya, milik Jaya Property. Pagi-pagi hendak berangkat masih biasa saja rasanya, cuma mataku agak sakit kalau dibuat nengok yang ekstrim. Misalnya mata melihat ke atas atau melirik kiri kanan gitu. Gatheringnya diadakan di Graha Raya Serpong dan Bintaro XChange. Hari itu panas sekali, tapi ya aku nggak migrain karena minum banyak banget.

Sorenya setelah usai gathering, aku dan seorang teman blog, Mas Arie Goiq pergi ke Nike Warehouse di JCC. Lagi ada sale up to 80% di sana. Antreeenya panjang, aku bisa masuk sekitar 40 menit setelah antre. Eh, taunya yang kuingini diskonnya sedikit dari before-nya. Pas di dalam juga penuh manusia dan kemudian aku migrain lalu aku pulang.

Setelah pulang, cuci kaki, bilas badan sedikit, aku menggigil dong keluar dari kamar mandi. Biasanya begini karena capek. Aku bawa tidur eh susah tidur dan hanya tidur berapa jam nglilir muluuu. Biasanya langsung ilang kalau tidur. Eh, tetep menggigil dan migrain sampai pagi!

Besoknya aku seharian di rumah, aku ya cuma merasa agak anget, pusing, batuk, pilek. Tisu di mana-mana di kamar, hahaha. Siang-siang keluar teras baru ngeuh badan merah-merah semua! Tangan, paha, semuka juga merah! Nggak gatel sih, tapi kan tapi kan... udah ngira aneh-aneh macam DB, campak, dll.

Minggu malam, eh tambah sakitnyaaa... susah nelen. Pahit banget kalau nelen, bikin susah tidur aja -,-

Hari Senin, akhirnya ke dokter. Ternyata kena virus biasa yang ditularkan via udara. Istilah sakitnya rash viral infection. Bukan campak. Aku sendiri lupa udah pernah campak apa belum. Bedanya kalau viral rash yang aku alami ini munculnya langsung seluruh tubuh, kalau campak katanya perlahan munculnya. Oiya, sama ditambah flu dan radang tenggorokan. Kata dokternya sudah stadium penyembuhan, jadi nggak apa-apa.

Sekarang sih aku sudah nggak pusing, nggak panas, sakit nelennya dan merah-merahnya sudah berkurang. Merah-merah (rash)-nya tinggal banyak di dada sekarang dan baru berasa gatel aja dong! Sama pilek aja yang masih nih...

Udah dooong sakitnyaaa... Mau makan-makan nih hari Jumat besokkk. Kalau masih pilek, nggak puas makannya, soalnya buffet hahaha...!!

❤❤❤