Nelen Permen

Tahu nggak sih? Merek peralatan masak asal Jerman yang namanya Silit? Kalau kamu orang Jawa pasti tahu deh artinya. Kalau enggak tahu, artinya lubang pantat. Pernah aku jalan-jalan ke PRJ lihat-lihat pamerannya, syok ada merek itu. Aku sama temanku ya ketawa-ketawa aja. Sambil mikir, laku enggak ya itu panci…

Kayaknya sih nggak ada masalah dengan penjualannya di Indonesia, soalnya setelah beberapa tahun pertama kali aku lihat merek itu, aku masih sering lihat di mal di jalan. Nah, seminggu lalu aku jalan sama temanku dan kami melihat tulisan Silit besar di bangunan gedung yang agak tinggi. Aku tanya temanku, “Lo tahu nggak sih artinya silit?” Temanku yang orangtuanya berbahasa Jawa tentu saja tahu. Kami sedikit membahasnya… meski kayaknya nggak pakai ketawa-ketawa banget deh. Tapi nggak lama…

Asal pasang foto permen...

Permen di dalam mulutku yang masih besar tiba-tiba tertelan. Aku abis makan permen punya temanku. Mereknya Sakuma Drops. Itu permen Jepang rasa buah yang jenisnya hard candy, packaging-nya kaleng dan dijual seharga 29.000 di 7-Eleven. Lengkap kan? Dan ukuran permennya agak gede. Mungkin sepertiganya Chupa Chups dan dua kali ukuran permen Foxs. Belum lama aku makannya, tahu-tahu ketelan.

Langsung panik. Aku merasa dadaku sakit dan kemudian membayangkan kalau-kalau permennya di lambung, kemudian lambungku menghancurkannya, apakah dinding lambungku nggak luka gitu? Kegores pecahan permennya? Hiks.


Tahu-tahu aku berasa aneh di bagian atas pantat. Apa permennya sudah sampai sana kali ya? Tapi kata temanku, “Nggak apa-apa kaleee. Gue dolo pernah nelen koin sampai sekarang masih hidup.” Eh? Koin bukan sih? *ngarang banget ceritanya*

Ya udah hari itu berlalu.

Eh tepat seminggu plus sehari setelah kejadian itu alias kemaren, aku tak sengaja menelan permen lagi. Kali ini permen karet yang manisnya udah hilang dan hampir saja kulepeh. Eh sudah ketelan duluan.

Moga-moga nggak lagi-lagi deh kejadian permen ketelen >,<
Itu nggak apa-apa kan ya >,<

I Love Jakarta

Jadi setelah aku sempat tinggal di Jogja, aku hitung aku sudah hampir delapan tahun tinggal di Jakarta. Total, 16 tahun aku hidup di Jakarta. Aku sendiri tahun ini bakal menginjak umur 18 tahun.

*dilempar domba*

Waktu aku awal-awal kuliah, cita-citaku tinggal di pelosok Indonesia, atau nggak di desa tapi di luar negeri. Kayaknya tenang gitu. Apalagi kalau dibandingkan sama Jakarta, meski aku enggak tiap hari menghadapi macet, tapi tetap saja macet itu enggak enak. Yang jelas, bikin migrain. Aku enggak kebayang saja nantinya pemandanganku sehari-hari itu macet. Lihat orang lalu lalang di business district juga enggak bikin aku kepengen kerja di situ dan berharap bakal tinggal di Jakarta terus.

Tapi akhir-akhir ini, kok aku suka Jakarta ya. Suka bangeeettt!
Kayaknya aku kurang bersyukur dikasih tinggal di Jakarta. Kenapa aku bisa suka banget sama Jakarta yaaa. Di Jakarta, transportasi umum lumayan oke lah, mau cari makanan apa saja gampang, mau cari produk aneh-aneh banyak, sinyal bagus, mal di sana-sini. Well, mungkin kalau enggak beli barang sih tahan ya. Yang paling utama aku suka di Jakarta sih, banyak acara-acara keren diadakan di Jakarta.

Kalau enggak di Jakarta, mungkin enggak akan bisa ke ASEAN Secretariat nonton perkenalan Sumo, nonton kolaborasi Kabuki dan tari ASEAN, lihat Taekwondo Absolute Legend yang keren banget itu hiks, atau nonton guyonannya Cak Kartolo di TIM. Lihat pameran sana sini. Mampir ke beberapa pusat kebudayaan negara-negara. Ke perpustakaan yang oke macam di Freedom Institute, Japan Foundation, dan lain-lain. 

Tapi di Jakarta enggak ada operanya Andrew Lloyd Webber sih T.T

Jakarta, 8 April 2014

I Love Jakarta 

Samsung ATIV Book 9 Sekarang Pake PLUS!

Sekitar pertengahan tahun lalu aku pernah cerita tentang hasrat tak terbendungku sama notebook Samsung ATIV Book 9 dan tentang pengalamanku pas dateng ke launchingnya. Nah sekarang aku baru tau bahwa versi terbarunya notebook ini udah ada di Indonesia, namanya Samsung ATIV Book 9 Plus, jadi makin ringan dan makin tipis!

Sama kaya aku yang makin dewasa *wlekkk cuh*, menurutku si notebook Samsung yang satu ini juga makin dewasa, super elegan.

Dilihat dari atas dalam keadaan tertutup.

Tampak samping dalam keadaan tertutup.

Tampangnya saat dibuka.

Material body-nya mayoritas dari bahan metal, terus pinggirannya silver, alhasil jadi keliatan mewah banget. Bahan kaya gini tuh selain tampangnya emang kece, juga nggak akan keliatan baret-baret halusnya, nggak kaya kalau body plastik, hehehe...

Warnanya entah emang cuma ada satu atau baru ada satu, tapi yang ini aja udah keren banget sih, mineral ash black. Kalo aku ngeliatnya semacam solid black doff yang super elegan. Yang jelas bakal nambah kesan profesional.

Awalnya aku kira kata Plus tuh cuma karena tampangnya yang berubah aja, dalemannya sama kaya yang pertama. Ternyata Plus tuh maksudnya QHD+, artinya notebook ini resolusi layarnya bisa sampe 3200 x 1800 pixel kalo pake Windows 8.1, tajem banget display-nya pasti. Kebayang deh, enak banget pasti make layar yang ukurannya pas, touch screen, tajem banget pula, kombinasi fitur yang bikin ngeblog bener-bener bisa di mana aja.

Enaknya notebook ringan macam si Samsung ATIV Book 9 Plus ini, ngga perlu space besar buat bawanya, ngga keluar duit untuk bayar tukang pijit buat mijitin pundak, terus kalo di kampus harus buka laptop tapi ngga ada meja, tetep nyaman buat dipangku. Apalagi notebook ini touchscreen, ngebenerin typo di blog jadi lebih cepet, buat ngedit foto juga pasti enak. ^^

Kalau liat reviewnya di Youtube, buka beberapa program berat sekaligus, performance notebook ini tetap lancar. Kalau mau liat sendiri spesifikasi detailnya bisa di sini. Dan dari kabar terakhir yang aku baca, ada model baru pake processor i7. Woow!

Oiya, fitur SideSync juga tetep ada, jadi kalo udah pake serinya Samsung GALAXY kayak aku *hatchiim*, bisa syncing sama notebook ini, bahkan bisa operasiin Samsung GALAXY-nya pake keyboard atau mouse.

SideSync buat ngehubungin notebook sama HP, ciamik!

Karena aku bukan tipe yang selalu update sama tren gadget, hp, dll, apalagi gonta-ganti ngikutin tren terbaru, makanya aku mending pilih brand yang aman, yang udah jelas bagus dan dipake banyak orang, supaya ada perasaan aman pas beli dan pake. Misalnya ya produknya Samsung, selain service centre-nya banyak, pelayanannya bagus, yang make juga banyak, ada temen, om, tante, bude, pakde... ^^

Setelah liat Samsung ATIV Book 9 Plus ini, hasratku kali ini bukan tak terbendung lagi, udah tumpah-tumpah, lebeee… Pengeeennn!


This article is sponsored by Samsung Electronics Indonesia.

My Religious Views

Sakit apaaa aku nulis tentang agama. Tapi sumpah, aku eneg lihat artikel-artikel tentang agama yang linknya muncul timeline sosmed. Dan teteup aku aku buka linknya, hahaha...

Well well well, aku bukan orang yang rajin beribadah ya, sampai-sampai sudah sebesar ini salat aja diteriakin ibu baru salat. Aku juga enggak pakai kerudung, jadi pertanyaan 'Kamu natalan atau lebaran?' sering kuterima. Aku enggak tersinggung sih. Biasa saja. Dulu waktu SD-SMA, kalau ke sekolah pakai kerudung tapi di luar sekolah enggak pernah pakai. Waktu SD aku sekolah di SD Islam, jadi pakai kerudungnya keterusan sampai SMA. Pernah ada guru yang tahu foto di akun sosmedku nggak pakai kerudung, pas ujian aku didatangi dan ditanya, "Kok fotonya nggak pakai kerudung?" Di lain kesempatan, ada yang pernah menyarankan untuk memakai kerudung supaya identitas agamanya terlihat. Zzz, menurut aku, orang lain nggak perlu tahu agamaku apa kok.

Waktu SMA, aku juga enggak suka sama pelajaran agama. Kalau hari Jum'at, yang laki-laki shalat Jum'at yang perempuan kan keputrian, apa ya, semacam mentoring agama gitu. Yang aku enggak suka, sesekali membahas agama lain, sering membahas tentang Yahudi-Yahudi, bukannya fokus ke pembangunan moral dan akhlak. Sungguh, aku merasa kok pelajaran agamanya malah negatif begini ya, hiks.

Ya trus suka baca artikel-artikel di internet yang menjelekkan agama lain lah. Kalau agamanya sendiri dijelek-jelekkan tersinggung lah. Atau tentang wakil gubernur atau cawapres yang bakalan non-Islam lah. Apa banget sih sumpah deh... wkwkwk...

Buat aku, ngapain tersinggung, ngapain emosi, kalau agamanya dijelek-jelekkan. Tuhan 'kan Maha Besar... Entah ya, aku merasa kalau ada orang tersinggung agamanya dijelekkan seperti orang itu nggak percaya kalau Tuhan itu Maha Besar. Hmmm...

Trus banyak juga 'kan yang ngebahas hukum mengucapkan selamat hari raya ke orang agama lain. Aku jadi teringat waktu masih SD, ada pertanyaan di soal PPKn, intinya kalau ada teman yang beragama lain merayakan hari besarnya apa yang sebaiknya kita lakukan. Aku menjawabnya, mengucapkan selamat hari rayanya. Tapi kata guruku salah, karena enggak boleh mengucapkan selamat hari raya agama lain tapi kita tetap harus menghormati. Waktu itu aku merasa guruku jahat. Sampai sekarang aku enggak tahu di mana salahnya mengucapkan selamat hari raya agama lain... 

Segitu dulu aja deh unek-unekku... Mau nggak ditulis, tapi aku enek sumpah, hahaha...
Kebetulan juga tadi malam di bus aku mengobrol dengan ibu-ibu yang aku tahu seminggu yang lalu kita naik di bus yang sama juga. Rupanya ia pulang malam karena menjadi pemimpin persekutuan, semacam pengajian. Dia tanya agamaku apa, kemudian si ibu itu membahas sedikit tentang perbedaan agama... dan dia membahasnya dengan very positive... Somehow aku suka lihat ibunya, yes ibunya beraura very positive...

Anyway, selamat paskah buat teman-teman yang merayakan yaaa... ^^
Happy Good Friday!

Staple-Less Stapler

Pernah dengar tentang staples tanpa isi nggak sih?

Aku lupa pertama kalinya aku tahu tentang barang ini. Tapi mencobanya dan melihatnya langsung, sekitar tahun lalu waktu mata kuliah Analisis Teknik Demografi. Waktu itu kita diberikan tugas oleh sang dosen, menghitung apaaa gitu deh. Mengerjakannya di kertas file dan lebih dari selembar. Langsung deh sekelas bingung staples.

Rupanya, ada satu anak yang membawa staples. Adik angkatan di bawah setahun. Aku pun mau minta distaplesin. Dia pun bersiap-siap nytaplesin kertasku… dan, eh kok nggak ada staples logamnya di kertasnya? Eh? Di kertasku terlihat ada lubang yang dibuat staples tadi. Eh? Dan nggak lepas aja itu dua kertasku. Eh? Kok cool… *norakse*

Aku kan demen ya lihat-lihat stationery di toko buku, nah aku lihat staples itu (eco-stapler) di Kinokuniya Plaza Senayan, harganya 150-200 ribu. Buset dah, gitu doang mahal banget. Ya udah cukup tahu aja. Oke.

Eh kok ya ikutan kuisnya Mbak Imelda Coutrier (April tahun lalu! Waktu begitu cepat hiks.) hadiahnya eco-stapler. Konspirasi alam semesta ini, hihihi. Sebenarnya bulan Mei, aku juga membeli satu eco-stapler warna pink waktu di Jepang. Di sana harganya HANYA 575JPY, sekitar 60 ribu. Ya kalau dibandingkan dengan yang di Kinokuniya kan HANYA ya. Namun aku berikan ke temanku.

Ini dia eco-stapler dari Mbak Imelda ^^
Namanya Harinacs by Kokuyo.


 Tampak depan. Kokuyo.

Belum bisa baca kanjinya, tapi yang di bagian hitam artinya cara pemakaian. Hahaha...
Sepertinya yang atas tentang cara kerja stapler ini.
Di samping juga tertulis bisa sampai 8 lembar.
Harinacs tidak membutuhkan isi staples. Nggak ada deh tuh acara kehabisan isi staples. Lebih mirip perforator yang untuk melubangi kertas tapi Harinacs bisa 'mengikat', sehingga kertas-kertasnya terikat menjadi satu. 


 Caranya: 1. Masukkan beberapa lembar kertas yang akan distaples.

 2. Dijegrek deh.
Tadaaa...

Aku tadi mencoba dengan enam helai kertas.. Beginilah hasilnya.



Terlihat kan? Cara kerja Harinacs memotong kertas sehingga berbentuk humm mirip tanda panah dan kemudian semacam garis, nah nantinya kertas tanda panah itu terikat di garis itu. Yaaa gitu deh, aku pun bingung, hahaha.

Aku mencoba memisahkan kertas-kertas itu dengan cara ditarik, ternyata kuat juga. Meski tentu saja, dengan logam staples masih kalah kuatnya. Staple-less stapler cocok buat tugas yang ditulis tangan lalu dikumpulkan ke guru. Kayak ceritaku di awal, apalagi kalau sekelas yang bawa hanya satu muridnya banyak dan pada pinjam semua, nggak akan kehabisan isi staples kan? Tapi kalau tugas yang makalah gitu yaaa harus pakai staples isi.

Serius. Bikin pengen beli barang aneh-aneh, hiks. Pengen Don Quijote... >,<

Summary:

+ Tidak membutuhkan isi staples.
+ Tidak berbahaya. (Tidak akan ada kejadian jari terstaples atau isi staples terinjak, kecuali eco-staplernya buat nimpuk orang).
+ Lumayan kuat.

- Mahal.
- Lebih kuat menggunakan staples isi.
- Jika kertas akan dipisahkan, jadinya kurang bagus.

Kata yang Tak Pernah Dipakai

Tetiba, aku dan saudaraku membahas tentang bahasa. Berawal dari membicarakan pengucapan Bahasa Korea yang ada bagian susahnya, kemudian membahas pengucapan kata dalam Bahasa Indonesia yang tidak sesuai dengan tulisannya. Seperti kata 'delapan', aku selalu mengucapnya dengan 'lapan', tapi saudaraku mengucapnya 'dlapan'. Contoh lagi kata 'belum', kami tidak pernah mengucapnya dengan 'u' sempurna. Belom. Membahas tentang pengucapan kata 'peta' dan 'pegang' yang benar. Apakah e taling atau e pepet.

Tahu-tahu kami membahas kata yang tidak pernah dipakai dalam percakapan. Seperti kata 'tidak', kayaknya aku hampir tidak pernah menyebutkannya! Aku tidak mau makan! Aku hanya menulisnya saja. 'Hanya' pun juga tidak pernah kusebutkan. Biasanya ya 'cuma'. Bagaimana bila kita pergi ke Puncak? Baiklah. 'Bagaimana', 'bila', dan 'baiklah', aku juga tak pernah menyebutkannya secara lisan. Kata 'tak' juga... Mengapa ya? 'Mengapa' aku juga tak pernah ucapkan.

Kemarin aku pergi dengan dia saja. 'Dengan', 'saja', juga tak lazim diucapkan dalam percakapan. Setidaknya dalam kasus aku dan saudaraku. Yang ada 'sama' dan 'aja'. Kalimat salam, 'selamat pagi' dan teman-temannya, aku pun tak pernah pakai. Perasaan sih.

Kata apalagi ya yang sering muncul dalam teks apapun maupun pelajaran Bahasa Indonesia tapi kenyataannya hampir tidak dipakai?

Foxy... mengapa kamu menjilat tanganmu?

Namaku Una...
Senang berkenalan denganmu...

Mata, Atarashii Tengoku

*Mata, Atarashii Tengoku = Lagi, Surga Baru

Teringat belum lama ini, aku membahas mengenai makanan enak dengan saudaraku. Dasar tukang makan ya emang, nah kali itu tentang bakpia yang kami bahas. Aku bercerita kalau menurutku Pia Legong itu enak binggit. Yang rasa cokelat, ya Tuhan cokelatnya tuh gimana ya… Aduh, enaknya tuh mirip seperti Bakpia Kurniasari-nya Jogja. Saudara aku cinta banget sama yang namanya Bakpia Kurniasari.

Dia pun jadi makin penasaran dan bilang, “Aduhhh… Bakpia Kurniasari kan rasanya heavenly banget.” Heavenly tuh apa coba! Lebay banget deh.

Tapi ini aku udah dua kali pakai istilah ‘atarashii tengoku’ atau ‘surga baru’. Ini aku istilahkan buat tempat yang kalau masuk ke situ rasanya senaaaang gitu. Heavenlyyy… Yang pertama waktu itu adalah perpustakaan Japan Foundation. Aku girang sekali lihat perpustakaan bagus dan koleksinya oke-oke. Yang sekarang mau kubahas pun, perpustakaan juga. Perpus mana yaaa kali ini?

Perpustakaan Korean Cultural Center

Seperti halnya Jepang punya Japan Foundation, Korea Selatan (Republic of Korea) juga punya Korean Cultural Center (KCC). KCC ini letaknya di lantai 17 Gedung Equity Tower, Sudirman Central Business District (SCBD) Jakarta. Sejak kursus di sana September lalu, aku cuma tahu ada ruangan yang di dekat pintunya ada tulisan LIBRARY.

Tapi enggak pernah masuk dan pinjam. Nyesel sih… Ternyata asyik juga perpustakaannya. Kategori bukunya bermacam-macam. Bahasa, sastra, politik, pariwisata, dan masih banyak yang lainnya. Kita juga bisa baca majalah serta pinjam DVD drama dan CD K-Pop. Baru seminggu lalu akhirnya aku meminjam buku dan DVD di sana. Mau lihat seperti apa perpustakaannya?









Menarik banget buat dipinjam, tapi nggak tahu bakal kapan nontonnya... 

 Salah satu corner yang aku suka. Sering ada majalah dan brosur di meja ini dan bebas diambil. Kalau tourist map atau brosur aku enggak tertarik sih. Tapi kalau majalah Koreana atau majalah lain aku suka ambil.

Cara pinjamnya mudah kok.
1. Merupakan anggota KCC. Kalau belum jadi anggota, bisa dilihat cara pendaftarannya di sini.
2. Membayar deposit sebesar Rp200.000 (dikembalikan jika sudah tidak akan meminjam lagi.)
3. Mengisi tanda terima deposit.
4. Tinggal bawa buku atau CD yang ingin kita pinjam ke petugasnya.

Kita diperbolehkan meminjam maksimal 5 buku dan CD/DVD. Kecuali kalau pinjamnya DVD drama atau documenter yang satu judul ada banyak disc, hanya dibolehkan satu judul. Waktu peminjaman adalah sepuluh hari. Kalau terlambat tidak ada denda yang dikenakan, namun tidak diperbolehkan meminjam dalam range hari sesuai keterlambatannya. Jadi anggota KCC gratis, pinjam buku di perpus juga gratis, enak kan? ^^


Aku nggak gemar film Korea tetapi berhubung listening dan vocabulary Korea-ku parah maksimum, aku tadi pinjam film deh. Dan semua DVD film dan drama di perpustakaan KCC tidak ada judul Inggrisnya, semua judul berhurufkan Korea. Karena nggak paham arti judulnya, tagline, maupun sinopsisnya, aku asal ambil. Cap cip cup. Pilih yang kovernya paling menarik... Hahaha...

Korean Cultural Center
Gedung Equity Tower 17th Floor
Jalan Jendral Sudirman
Jakarta 12190
+62 21 29035650