Paris dari Atas Bukit

Maunya sih Paris yang di Perancis, sayangnya ini Parangtritis yang ada di Jogja. Uwo uwooo...

"Un, sekarang kita ke Pantai Parangtritis ya," begitu katanya. Aku sih manut-manut saja, tapi Parangtritis? Udah pernah... Gitu-gitu aja lagi pantainya. Lanjutnya, "... tapi ini Parangtritis yang berbeda karena nanti kita bisa lihat muara pantai dari atas bukit. Apik." Oke lah, cuma tinggal duduk manis aja og aku.

Dari rumah nenekku di Jalan Parangtritis, perjalanan dilaju ke arah selatan. Sekitar kilometer 20 setelah jembatan Kali Opak, belok ke kiri arah timur. Seandainya mau ke pantai, masih ke arah selatan sekitar lima kilometer lagi. Jalan ke arah bukit, jalannya nggak bagus. Gronjal-gronjal kayak kulit mukaku. Serasa masuk ke hutan kecil yang di kiri kanan ada pohon kelapa, bambu, ketapang, dan lain-lain.

Lihat orang di tower kah? Motor di depan itu motornya. Piye tu nyeberang ke towernya...
Nggak berapa lama, sampai titik pandangnya. Ada beberapa motor parkir di sana, rupanya petugas yang sedang memperbaiki tower. Dan untuk menuju tower harus menyeberang turun ke jurang. Bapak-bapak itu melihatku menjepret-jepret sekitar dan salah satu dari mereka berteriak, "Wahhh kita difoto, bakal masuk koran iki." Ngok! Nggak masuk koran, masuk blog aja lah yaw.

Pantai Parangtritis dari atas...
Dari atas terlihat Pantai Parangtritis dan Depok serta jalur Sungai Opak yang bermuara di Laut Selatan. Banyak tower-tower provider di sana. Ada bangunan berbentuk kerucut berwarna biru yang rupanya merupakan Museum Alam dan Ekologi Pesisir (dan kayak nggak terawat gitu). Dan kotak-kotak sawah yang kayak karpet. Baguuusss...

Jalannya...

Gunung kapur.
Setelah memandang alam dari atas bukit sebentar, dilanjutkan deh perjalanannya. Karena jalanan jelek sekali, aku ada kalik tiga kali turun motor. Kali ini terlihat bukit-bukit kapur menjulang tinggi. Bayangkan saja itu karstnya jutaan tahun lalu ada di bawah laut dan sekarang terlihat di darat. Hm, nggak kebayang.

Makin terus, jalanan makin bagus. Terlihat jelas Pantai Parangtritis dari atas. Kanan kiri pun sudah bukan hutan lagi melainkan wisma-wisma dan pondokan kecil yang bisa disewa buat pacaran. Aku sempat iseng masuk villa orang. Lha ditawarin yang punya buat liat kok. Liat-liat sekaligus mengendorkan otot pantat, capek bok duduk berpuluh-puluh kilometer. *lebe.


Selanjutnya, aku meneruskan perjalanan sampai ke gumuk (sand dune) Parangtritis...

Nggak Diperhatiin

Katanya, menjaga dan melepas anak perempuan apalagi yang sudah gadis itu susah puol. Jarene sih. Ada seorang teman bercerita, waktu ia masih SD, ia dibiarkan begitu saja ke sekolah naik bis, pergi ke rumah temannya, sleepover (keminggris to the max) juga, pokoknya seakan-akan bapaknya tuh kagak peduli gitu loh. Tapi makin tua ia, menginjak SMA, kemudian jadi mahasiswi, ia baru pergi bentar ditanya-tanya via SMS atau telepon. Izin mau pergi ke sana ke mari seringnya nggak dibolehin. Apa kayak gitu ya?

Cerita temanku itu aku ingat ketika... Jadi belum lama ini aku pergi ke Makassar hampir semingguan lah. Anggap saja ke Makassar karena menginapnya di Maros, itu pun nggak full di sana karena aku dan sepupuku, Affi keliling-liling ke Toraja dan juga Tanjung Bira. Di Maros, kami transit dan sempat menginap di rumah temannya teman sepupuku. Selama keliling-keliling, tas besar kami dititipkan di sana. Temannya teman sepupuku ini sudah bapak-bapak berumur sekitar 40 dan sudah punya anak gadis yang duduk di bangku kelas 3 SMA.

Putu cangkir.
Pantai Bira pagi hari...

Ketika kami pergi, si bapak itu rajin sekali mengirim pesan ke sepupuku menanyakan kami lagi di mana, lagi ngapain, pokoknya sering banget. Sesekali menelpon juga. Sampai kami kembali ke rumahnya, dia bilang, pas kami pergi katanya dia berdoa mulu takut kita kenapa-kenapa trus dia bilang katanya susah rasanya tahu anak gadis-gadis gini pergi jauh-jauh. Trus kita bilang aja, "Ibu kita aja nggak khawatir. Nggak pernah SMS, nggak pernah nelpon."

Si bapak itu, "Serius?"
Kami ngangguk-ngangguk ae.
Si bapak itu, "Sekalipun? Udah berapa hari ini di Makassar?"
"He eh."

Aku merasa biasa aja nggak ditelpon ibuku, wong biasanya juga gak pernah nelpon. Pergi ampe malem atau jauh-jauh asal udah tahu ke mana ya gak akan banyak ditanya-tanya. Kalaupun ditanya, "Saiki neng ndi?" Aku jawabnya, "Mta apa mtb?" (Mau tau aja apa mau tau banget, hahaha rese emang eike yak.) Tapi bapak itu membuatku kok ngerasa kasian amat yak eike kagak diperhatiin orang tua, hahahaha...

Nggak ding. Biasa aja ding.

Konbini

Kalau ditanya tempat belanja favorit, aku bakal menjawab supermarket. Selain supermarket, aku juga demen namanya ke convenience store. Tapi kalau Indomaret sama Alfamart aku nggak gitu seneng, aku lebih suka 7-Eleven atau Family Mart. Memang sukanya merek asing je, ngok. Aku suka sekali melihat jejeran makanan-makanan dan bumbu-bumbu masak meskipun sejatinya aku nggak suka-suka amat makan banyak. Lihat barang kimia semacam sampo, sabun, aku juga senang.

Tapi kalau disuruh ke Marks & Spencer atau Uniqlo aku juga suka sih liat-liat.


Convenience store kalau di-'bahasa Jepang'-in jadinya 'konbiniensu sutoa' dan makanya disingkat menjadi konbini. Minimart lah istilahnya. Waktu kemarin ke Narita, tentu saja aku girang waktu tahu di hotel ada Lawson dan di sebelah hotel ada 7-Eleven. Di sana, banyak snek, minuman, es krim, kosmetik, barang-barang lucu yang belum pernah aku lihat sebelumnya. Sering juga di dalam konbini terdapat fasilitas mesin fotokopi. Selama di Jepang, karena nonton tivi males, sementara teman sekamarku sibuk video call-an dengan pacarnya aku memilih jalan-jalan ke sekeliling hotel dan main-main ke konbini.

Kepadatan konbini di Jepang sangatlah tinggi. Perasaan ya, jalan kaki belum ada 300 langkah sudah ada konbini lagi. Tapi menurutku, masih kalah dengan kepadatan konbini di Jalan Legian, Bali. Di mana dengan lebar jalan nggak sampai lima meter dan panjang jalan gak sampai dua kilo, bisa ada dua konbini berseberangan dan jejeran.

Beli yang mana yak...
Kalau sudah liat cokelat atau makanan yang aneh rasanya pengen beli, tapi aku tahu diri juga sih, kayak bakal dibeli semuanya aja, dan kayak iya aja kuat makannya, hehehe. Waktu itu aku sempat beli Pringles rasa Wasabi Mayo, enak bangetttt... Dan gara-gara ke convenience store pula, aku berhasil beli PopTart yang selama ini kalau di Jakarta ibuku nggak ngebolehin beli karena larang pol... Dan ternyata gak enak, asem.


Di Jakarta, aku pun penggemar konbini. Gimana enggak, salah sendiri bangun 7-Eleven jaraknya cuma 100 meter dari rumah. T.T Kalau beli cemilan buat di kampus, beli pulsa, beli teh botol ya belinya di situ. Wondering oke kali ya kalau di 7-Eleven sini bisa fotokopi, jualan tiket kereta dan pesawat, atau tiket konser juga, ^^

Indomie Mi Goreng di convenience store, Sydney. Mahal -,-

Seleksi Pemuda Jakarta Sister City 2013

Not gonna nulis cerita-cerita, cuma mau share informasi mengenai pertukaran pemuda khusus penduduk DKI Jakarta. Karena program pertukaran kali ini, tujuannya ke sister city-nya Jakarta yang ada di China (Beijing dan Shanghai) dan juga di ROK (Korea Selatan).

Sungguh, I wish aku bisa daftar ini... huweee ^^

Persyaratan umum:

1. Warga Negara Indonesia
2. Memiliki akses yang kuat dalam bidang Pemberdayaan Pemuda
3. Sehat jasmani dan rohani
4. Memiliki KTP DKI Jakarta
5. Minimal Lulus SLTA
6. Belum Menikah
7. Aktif dan berminat dalam bidang pemberdayaan masyarakat ( Community Empowerment )
8. Usia : 18 – 25 Tahun
9. Mampu berkomunikasi dalam bahasa Inggris baik Lisan maupun Tulisan
10. Belum pernah mengikuti program pertukaran pemuda dengan luar negeri yang diselenggarakan oleh Kementerian Pemuda dan Olahraga , Kementerian Luar Negeri , Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif , Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia atau lembaga struktural dibawah koordinasi lembaga lembaga tersebut.
11.Menguasai satu atau lebih jenis keterampilan atau kesenian
12.Belum pernah terlibat dalam tindakan kriminal dan dijatuhi hukuman berdasarkan keputusan pengadilan dibuktikan dengan surat keterangan catatan kepolisian
13.Bebas dari Narkoba

Persyaratan Administrasi:

❤ Mengisi Formulir yang sudah di sediakan. Form aplikasi dapat di download DISINI
❤ Mengirimkan scan KTP
❤ Mengirimkan Pas Foto 4×6 (warna) sebanyak 2 lembar
❤ Mengirimkan scan Ijasah Terakhir ( Minimal SMA ) atau Transkrip Nilai yang sudah di legalisir.
❤ Semua Persyaratan administrasi dikirimkan melalui email ke pcmidpddkijakarta@gmail.com dengan subject : [JSC2013]_[Nama Lengkap] atau dapat langsung mengantarkan hardcopynya ke Kantor Dinas Olahraga dan Pemuda Provinsi DKI Jakarta. Form aplikasi dikirimkan paling lambat tanggal 20 Juli 2013 Pukul 23.59 WIB.

Jadwal Seleksi
Pendaftaran : 12 – 20 Juli 2013
Jadwal Seleksi : 22 Juli 2013
Pre-Departure Training : 17 – 18 Oktober 2013
Kegiatan JSC : 19 Oktober 2013 – 29 Oktober 2013
Re-entry : 30 – 31 Oktober 2013
Tempat Seleksi : Masih Tentative

Contact Person : Munawir – 081342337729

Dresscode:

Putri :
- Rok Hitam
- Baju Kemeja Putih Lengan Panjang
- Sepatu Hak Hitam

Putra :
- Celana Bahan Hitam (No Jeans)
- Pakai Dasi
- Baju Kemeja Putih Lengan Panjang
- Sepatu Pantovel
*untuk seluruh dresscode wajib dipenuhi sesuai standar di atas.

Seleksi akan di mulai pukul 08.00, sangat di harapkan hadir 30 menit sebelum acara seleksi di mulai.

NB:
- Diharapkan pada saat seleksi membawa hardcopynya plus perlengkapan alat tulis dan yang mendaftar langsung lewat Disorda hanya membawa alat tulis.


Silakan dishare untuk teman-teman atau sodaranya yang masuk persyaratan dan termotivasi untuk ikutan pertukaran pemuda ^^

Update tempat seleksi dan info selengkapnya bisa dilihat di: http://pcmidkijakarta.wordpress.com/

I Hate Japanese Dorama!

Setelah ujian akhir semester, kerjaan aku adalah nonton sinetron Jepang sambil ketawa horor sendiri di depan komputer. Secara nggak sengaja aku doyan nonton dorama. Waktu SMA, aku membeli beberapa film Jepang dengan asal untuk mempelajari cara orang Jepang ngomong. Soalnya dulu ada kelas Bahasa Jepang. Eh ternyata di sekolah ada golongan penyuka film dan dorama Jepang dan ketularan deh.

Aku sendiri suka banget sama dorama Jepang karena kadang temanya simpel tapi jadinya seruuu. Atau sering juga, adegan-adegan dibuat dengan lucu yang lebay tapi entah kenapa dorama bisa sekaligus mengharukan. Fufufu... Beberapa dorama kutonton akhir-akhir ini, tiga di antaranya adalah:

1. At Home Dad


Bercerita tentang Yamamura Kazuyuki (Hiroshi Abe), seorang bapak yang punya karir bagus namun akhirnya terpaksa keluar dari perusahaan. Sementara itu, tetangganya adalah keluarga dengan ibu bekerja dan bapak rumah tangga. Selanjutnya, Kazuyuki mengizinkan istrinya bekerja dan ia sendiri belajar menjadi bapak rumah tangga dan belajar dari tetangganya.

Dorama ini termasuk udah lama, karena disiarkan pada tahun 2004. Tapi ceritanya oke dan kocakkk... apalagi part laki-laki yang nggak bisa mengerjakan pekerjaan rumah, tahu-tahu dihadapkan dengan mencuci, nganterin anak sekolah, masak, dan lain-lain.

2. My Boss My Hero


Waktu itu aku lagi kepengen nonton dorama lucu, gugling deh 'funniest dorama' dan kebanyakan menjawab My Boss My Hero. Ceritanya tentang Makio, seorang yakuza yang akan dijadikan boss namun bodohnya nggak ketulungan. Ia menggagalkan deal dengan nilai tinggi karena ia nggak bisa menghitung. Oleh ayahnya dia disuruh masuk SMA lagi dengan jalur belakang. Ayahnya kenal dengan kepala sekolah SMA sehingga dengan mulus ia masuk sekolah itu.

Masalahnya adalah ia sudah berusia 27 dan harus menjadi siswa berumur 17 tahun dan harus menjaga rahasia bahwa ia adalah seorang yakuza. Dorama ini lucu banget tapi bikin nangis juga, sial... dan bikin naksir juga sama pemeran utamanya, Nagase Tomoya, huehehehe...

3. Yasuko to Kenji


Yasuko dan Kenji adalah kakak beradik. Kenji merupakan shoujo manga (komik wanita) artist yang padahal dulunya adalah dia ketua geng motor. Yasuko adalah adiknya yang masih SMA. Kenji merupakan kakak yang galak tapi semata-mata ia lakukan buat adiknya, cieee... Sementara itu Yasuko naksir sama Jun, anak baru di sekolahnya. Dan kakaknya Jun, Erika juga ketua geng motor yang memendam cinta sama si Kenji selama 10 tahun.

Entah kenapa ya, kalau dibanding sinetron Korea aku lebih memilih sinetron Jepang. Selain nggak cinta-cintaan menye-menye, episodenya lebih sedikit dan durasi lebih singkat. Jadi penasarannya nggak nunggu-nunggu sampai 20 episode abis gitu. Karena biasanya cuma 10-12 episode. Trus yaitu, aku sebel juga sama dorama Jepang karena ceritanya bagus-bagus bikin kepengen nonton judul lain juga, bisa bikin ketawa-ketawa tapi bisa bikin nangis juga. Asem...

Kalau sudah nonton dorama depan komputer, biasanya aku duduk tenang sambil ketawa-ketawa sendiri. Yang sebel ibuku sama Mbak Lis, bingung aku ngopo ngguyu-ngguyu dewe, fufufu...

Nonton apa lagi yak...
Aku kok kepengen coca cola dingin...

Nostalgia Mainan Kuno di Mint Museum of Toys

Tahu ada museum mainan di Singapura, aku langsung tertarik. Kata 'mainan' itu terdengar menyenangkan. Sayangnya, saat ke Singapura bersama temanku Bellita, kami tidak sempat ke sini karena waktu yang terbatas. Beberapa waktu kemudian, akhirnya aku ke museum mainan itu bersama Mbak Lis, mbak rumahku yang pernah kutampilkan fotonya dalam postingan 'I Am Old Scout (Praja Tua Karana'.

Bodohnya adalah aku tidak mencatat alamat lengkap Mint Museum of Toys. Yang aku ingat hanyalah untuk menuju ke sana turun di stasiun MRT City Hall. Sudah. Aku berekspektasi tinggi bahwa di dalam stasiun pasti tertera di peta dan penunjuk arah pintu keluarnya. Ternyata tidak disebutkan barang sekata pun Museum of Toys itu, entah karena museum itu relatif baru. Nanya ke beberapa orang, juga dia nggak tahuuu uwo uwoooo. Aku akhirnya cari wi-fi dulu buat gugling alamatnya dan untuk jaga-jaga, SMS ibuku minta tolong dicarikan alamat lengkap museumnya.

Akhirnya ketemu, dan kami pun keluar dari Raffles City Shopping Center, kemudian berjalan melewati Raffles Hotel -tak lupa foto-foto dulu depan hotel mahal itu-, tak berapa lama kami bertemu dengan plang Mint Museum of Toys.


Bayangannya, kalau museum itu kan luas kadang-kadang bangunannya kuno gitu. Kebetulan aku juga nggak cari tahu bagaimana tampak depan museum ini. Ternyata bentuknya seperti ruko yang terdiri dari lima lantai.

Mint Museum of Toys.
Mint Museum of Toys ini merupakan museum milik perseorangan, milik orang Singapura yang bernama Chang Yang Fa yang diresmikan pada tahun 2007. Mint merupakan kepanjangan dari Moment of Imagination and Nostalgia with Toys. Isinya mainan-mainan kuno, mainan langka yang berasal dari abad 19 dan 20 dan jumlahnya mencapai 50.000 item. Mainan-mainannya berasal dari lebih dari 40 negara, kebanyakan dari Jepang, Jerman, dan US.

Untuk menikmati pajangan mainan-mainan ini, diperlukan tiket seharga 15SGD untuk satu orang dewasa. Mahal sekitar 120 ribu. Aku nggak ngasih tahu konversi rupiahnya ke Mbak Lis, nanti bikin dia stres, hehehe.

Recommended routenya adalah, ke lantai paling atas dulu menggunakan elevator dan kemudian turun ke masing-masing lantai menggunakan tangga.

Koleksi mainannya.
  • Di lantai lima, mainan-mainannya bertemakan Outerspace. Dan karakter-karakternya aku gak paham semua, wahahaha. Yang aku tahu cuma Star Wars dan ada Astroboy.
  • Di lantai empat, ada karakter-karakter seperti Batman (liat gambar kiri bawah, aneh Batmannya), dan Popeye.
  • Di lantai tiga, temanya adalah Childhood Favourites. Ada Teddy Bear, boneka Mickey Mouse (lihat gambar tengah atas, aneh Mickey Mouse-nya, Barbie jadul, dan boneka patung kurcacinya Snow White juga boneka porselen.
  • Di lantai dua, judulnya adalah Collectables. Yang paling menarik menurutku sih merchandisenya The Beatles, mulai dari patungnya, gelas, pin, sisir, sneakers ada. Selain itu ada set piring dan benda koleksi lain yang dibuat dalam rangka penobatan Ratu Elizabeth 2 tahun 1953.
  • Di lantai satu sih cuma konter pembelian tiket dan toko suvenir serta tempat makan.
Untukku mungkin bukan nostalgia kali ya liat mainan kuno-kuno gitu, apalagi mainanku kan boneka Shaun The Sheep. Selain itu, mainannya bukan 'mainan Indonesia' gitu. Tapi seru-seru aja sih liat mainan kuno yang karakternya pun kita kenal sampai sekarang, kayak Tintin, Popeye, Superman, dan lain-lain. Kekurangannya adalah menurutku kemahalan tiketnya, kurang luas spasinya, dan kurang penjelasan pajangannya. Cuma ada asal negara doang.


Mint Museum of Toys
26 Seah Street, Singapore
Opening hours: Daily 9.30am to 6.30pm
Admission Charge
Adult SGD15
Child 2 to 12 years old SGD7.50

Tentang Impian-Impian

Lagi-lagi postinganku tentang impian. ^^

Waktu masih kecil, aku punya atlas yang ada bonus bola dunia tiupnya. Setelah ditiup, bisa ditempelkan stiker nama negara yang tersedia. Dulu aku suka sekali menghafalkan nama ibukota negara. Ethiopia, Addis Ababa. Saudi, Riyadh. Norway, Oslo. Aku menikmati sekali mempelajari  peta negara-negara. Dari situ, aku ingin sekali bisa mengunjungi tempat-tempat yang aku lihat di peta dunia.

Beruntung (bukannya songong nih), aku pernah dibawa mama ke Amman, Connecticut, Bethlehem, Cancun, dan lain-lain, namun sayangnya pas aku masih kecil. Setelah aku pindah ke Jogja, orang tuaku nggak pernah mengajakku ke luar negeri. Palingan ngajak main di sungai di Kulon Progo atau main di kebon adas di Tawangmangu, hehehe. Aku baru pergi ke luar Indonesia tanpa orang tua, tahun 2009. Seorang teman SMA, Anne, mengajakku ke Singapura. Dan sumpah aku norak banget di sana, hahaha... Tapi sejak saat itu, aku jadi kepengen ke mana-mana lagi! Aku jadi melanjutkan impianku waktu kecil.

Tebak yang kutunjuk itu mana. ^^
Dua tahun terakhir, sebagian liburan bulan Januari aku habiskan bersama seorang teman SMA lainnya, Bellita, untuk menjelajah ke beberapa negara. Tahun ini aku sudah menginjakkan enam negara, tiga di antaranya baru untukku. Salah satunya Jepang, berkat program JENESYS. Aku senang sekali! Sementara itu, aku punya kakak sepupu. Jaman kecil aku sama dia suka tebak-tebakan nama ibukota negara. Dan dia sudah berkelana ke mana-mana, mengingat dia mahasiswa berprestasi yang rajin sekolah. Nah gue......... kebalikannya. Wkwkwk, sirik deh aku pokoknya.

Masih banyak tempat yang ingin kusambangi dan aku sangat berharap aku bisa pergi ke mana-mana lagi secepatnya. ^^

Aku dan Bellita, jaman eike masih gondrong keren.
Namun entah kenapa, dari kecil kalau ditanya cita-citanya apa, aku seringnya bilang nggak tahu.  Kalau jadi dokter, insinyur, polisi, suster, kok rasanya nggak pernah ada di bayanganku. Pernah kepengen jadi fotografer, pernah juga kepengen jadi seksolog (jaman SMP aku suka ngomong jorok hahaha, sampe sekarang ding), tapi ketika tahu seksolog itu dokter, enggak jadi deh.

Waktu SMA, aku kebingungan menentukan jurusan yang aku inginkan. Sekali-kalinya aku diundang ke ruang BP, adalah karena gurunya ingin bertanya kepadaku cita-citaku apa dan apa jurusan yang aku inginkan. Waktu ditanya cita-citaku apa, aku jawabnya, "keliling dunia, Buk." Eh, kata ibuknya, "Itu kan impian, bukan cita-cita." Batinku, opo bedane... Jurusan kuliah yang aku akhirnya pilih dan dapatkan memang rasanya seperti bukan bidangku, tapi aku nggak menyesal karena di sana aku bertemu dengan teman-teman yang keren, dan bertemu mereka rasanya bikin hidup lebih semangat.

Real Arc de Triomphe, pleaseeee. T.T
Seiring berjalannya waktu, impianku makin banyak. Daya khayalku makin tinggi dan improvisasi impian makin kece. Beberapa di antaranya pernah kusebutkan dalam beberapa postingan, di antaranya pengen punya hotel, pengen dinikahin sama Tamaki Hiroshi (wkwkwk), pengen sehat sampai mati dan mati khusnul khatimah, pengen bisa bantu orang banyak, dan yang paling terbaru adalah pengen ketemu Shiina Ringo, pengen ke Sanrio Puroland, pengen naik Eva Air Hello Kitty, pengen punya rumah makan Indonesia di luar negeri dan punya museum sendiri. Dan pastinya harus kaya, baik mentalnya dan benerannya.

Tamaki Hiroshi dan Eva Air Hello Kitty. Diambil dari designboom.com dan japanflix.com. 
Kok rasanya rada mustahil, banyak banget, dan muluk-muluk gitu yak impiannya. Itu pun yang kutulis belum seberapa. Ah tapi gak apa kan ya, namanya juga impian. Kalau nggak ada impian, nggak ada arah yang ingin dicapai dong ya. Yang jelas aku bingung impian pengen dinikahin Tamaki Hiroshi, apa yang harus aku lakukan, hahaha… Tapi anyway, dengan menuliskan impian, rasanya seneng aja gitu, dan berharap semua pasti tercapai. Secepatnyaaaaa! Kalau masalah keinginan aku senang sekali menyebut kata 'pasti' dan 'secepatnya'... Hehehe.

Yap, dan karena… katanya kan hidup berawal dari mimpi to?