Tuan Besar Gratis dari Leksika Kalibata City

Titi kala mangsa, seorang teman, blogger juga, Mas Sigit menyapaku di Y!M, "una..barangkali berminat untuk dapatin buku gratis." Katanya, coba lihat blognya. Oke, aku melihat blognya, ternyata toko buku Leksika di Kalibata City yang tak jauh dari rumahku dan tak jauh dari pabrik tempat kerja Mas Sigit berada sedang melakukan promosi dengan cara memberikan free books tiap harinya.

Aku sendiri mengenal Leksika sejak tiga tahun yang lalu karena kalau beli buku pelajaran, belinya di sana. Yang aku ingat Leksika sering kali memberikan diskon. Jadi dulunya mindsetku tuh Leksika tuh ya toko buku khusus jual buku kuliah gitu, eh ternyata enggak!

Nah, Leksika Kalibata City ini bagi-bagi 40 buku tiap harinya. Dua puluh dibagikan pada pukul 13.00 dan berikutnya pada pukul 19.00. Jangan underestimate, karena buku yang diberikan ialah buku-buku best seller! Aku sendiri awalnya ngiranya, bagi-baginya tuh buku kuliah... *ditoyor*


Pas aku ke sana, buku yang dibagikan ialah novel metropop berjudul Tuan Besar karangan Threes Emir. Aku sendiri meski buka fans metropop, senang-senang saja bacanya. Jam setengah satu sampai di Leksika Kalibata City. Ditemenin Mas Sigit ke Leksikanya, ia sendiri ada agenda perpisahan temannya di Kalibata City.

Aku mendaftarkan diri di kasir mengisi identitas dan memperlihatkan KTP. Kemudian mbaknya mengarahkanku ke arah antrian buku gratisnya. Eh kok sepi? batinku. Tapi Mas Sigit menjelaskan kalau yang pada mau ambil gratis kebanyakan baca-baca buku dulu di sana, pas udah mepet teng jam 13.00 atau sudah melihat antriannya panjang baru mendekat ke antrian, hahaha, jaga imej gitu ya...



Mas Sigit sendiri kemudian cabut ke tempat ia dan teman-temannya merayakan pesta perpisahan temannya. Aku lihat-lihat buku lain yang di dekat antrian. Pas jam satu teng, kami diperbolehkan mengambil bukunya. Entah karena buku ini nggak terlalu waw atau gimana, jadi antriannya pun nggak panjang.

Ke kasir, tunjukkan KTP, dapet deh! Hahaha... *ketawapecintagretongan*

Aku bingung kenapa coba aku motonya nganan nganan, hahaha...
Pas keluar Leksika nggak tahunya Mas Sigit menghampiriku. Katanya tempat makannya antri, kasian amat, hihi! Kami pun berpoto-poto ria di Leksika... karena pas ketemu pertama kali nggak ada satu pun blas fotonya.

Rambut gue oke beudh kan...
Setelah itu kami menemui Mas Kurniawan Riyo, bidang Business Development Toko Buku Leksika dan mengobrol sedikit. Mas Sigit yang sudah sering ke Leksika KC (ambil gratisan hahaha) sering bertemu Mas Riyo ini.

Mas Riyo menuturkan program free books ini disambut dengan sangat antusias. Bahkan pernah ada suatu hari, saat itu free books yang dibagikan ialah bukunya Ippho Santosa. 7 Keajaiban Rezeki, kalau nggak salah. Sejam sebelum jam 13.00 sudah penuh antrian, padahal buku yang diberikan hanya 20 eksemplar. Jadilah banyak yang kecewa karena tak kebagian bukunya.


Pernah pula Leksika Kalibata City menghadirkan Iwan Setiawan, penulis buku 9 Summers 10 Autumns. Aku sendiri belum baca bukunya, tapi sering liat nangkring di rak toko buku. Nah pada saat itu diadakanlah acara bincang-bincang mengenai buku terbarunya yang berjudul Ibuk. Kalau sering ke toko buku pasti tahu deh.

Hari itu dibagikan pula 40 eksemplar free books Ibuk. Eh tak tahunya yang datang lebih dari 50. Akhirnya Iwan Setiawan pun membeli bukunya sendiri untuk dibagikan gratis untuk para tamu acara itu. Aaaah, kenapa gue nggak tahu ada acara itu pas itu hahaha!


Nah, kalau deket bisa tuh ke Leksika Kalibata City.
Infonya ada di Twitternya: @leksika_kc
Atau Facebooknya: Leksika Kalibata City

❤❤❤

Yang Saya Suka dari Suka Sama Kamu

Oh, sudah barang tentu aku tidak menceritakan sukanya aku sama seseorang. Toh lagian kan aku nggak suka sama seseorang, melainkan suka sama banyak orang. Muehehehe... Nah, di sini aku akan mengulas apa yang saya lihat dari videoklip SUKA SAMA KAMU, yang diluncurkan oleh sebuah band sohor dari Malang, D'Bagindas.

Sebelum lagu Suka Sama Kamu, aku hanya tahu lagu D'Bagindas yang berjudul C.I.N.T.A dan Empat Mata. Itu pun karena mbak rumahku, Mbak Lis, sangat menggemari band yang satu ini hingga ia kerap menyetel musik D'Bagindas dengan amplifier dan volume yang besar dan sambil bernyanyi-nyanyilah ia. Dan mbakku ini yang juga membuat aku bisa foto dengan vokalis band ini. Ia memintakan Bian untuk foto denganku, hihi. Nanti aku tunjukkan ^^

Sekarang, mari kita lihat videonya dulu...


Sekilas Tentang Lagu Suka Sama Kamu

Pertama kali aku mem-play videoklip Suka Sama Kamu di Youtube, itu pun sekaligus pula pertama kali aku mendengar lagunya. Suara dentingan keyboard yang dimainkan oleh Mike dan ditambah sedikit gitar dari Tile di awal lagu, membuatku meramal lagu ini berjenis easy listening yang jazzy, eh tapi ternyata tidak. Lagu ini jenis khas D'Bagindas, pop melayu. Mendengarkan lagu yang masuk di album Yang No. 1 produksi Trinity Optima ini sampai habis, aku menghakimi bahwa lagu ini... kalau kata orang Sunda... enakeun. Enak lagunya.
Hatiku berkata ingin katakan cinta
Namun aku malu untuk mengawalinya
Jantungku berdebar saat kau menatapku
Jadi salah tingkah bicara sama kamu 
Bibirku terbungkam melihat senyummu
Aku tak kuasa saat di depanmu
Sebenarnya aku ingin mengungkapkan rasa
Tapi mengapa aku s'lalu tak bisa
Bagaimana caranya agar dirimu
Bisa tau kalau aku suka... suka... suka...
Suka sama kamu
Jantungku berdebar saat kau menatapku
Jadi salah tingkah bicara sama kamu
Bibirku terbungkam melihat senyummu
Aku tak kuasa saat di depanmu
Begitulah lirik lagu Suka Sama Kamu. Bagaimana ya interpretasi lagu Suka Sama Kamu dalam videoklipnya?

Tak Sekedar Suka Sama Kamu

Siapa yang muncul pertama dalam videoklip Suka Sama Kamu? Ialah tangan milik Mike sang kibordis yang juga pengarang lagu Suka Sama Kamu. Kemudian Tile sang gitaris hingga kemudian muncullah adegan Ratna Galih, model videoklip yang berperan sebagai pembantu rumah tangga, berjalan kaki menuntun anjing dan membawa belanjaan dari pasar. Udin Sedunia yang juga model klip ini melihat kagum si Ratna Galih. Udin yang juga pembantu rumah tangga (dalam cerita di videoklip) naksir dengan Ratna Galih.


Seolah-olah lagu ini seperti dinyanyikan Udin Sedunia dan ditujukan kepada Ratna Galih. Adegan demi adegan memperlihatkan bahwa Udin sangat menyukai Ratna Galih, namun ada saja yang menghambatnya. Misalnya ada adegan ia sedang asik melihat Ratna Galih, tahu-tahu bos si Udin menyuruhnya mencuci piring.

Scene paling menggelikan ketika Ratna Galih di ayunan sedang bersama Udin memegang bahu si Udin. Si Udin pun jongkok di ayunan. Rupanya itu 'hanya' lamunan Udin, karena aslinya Ratna Galih sedang bermain dengan anjing bosnya. Suatu saat ketika bos Udin pergi, Udin mempunyai kesempatan untuk menyatakan sukanya pada Ratna Galih. Sudah dandan necis, tak tahunya ada anak-anak menghampiri Ratna Galih dan ternyata ia sudah punya suami.

Dalam videoklipnya, tidak sekedar 'Suka Sama Kamu' karena si Udin pun harus patah hati melihat yang disukainya sudah memiliki anak. Tak sekedar 'Suka Sama Kamu' tapi juga ada cinta bertepuk sebelah tangan. Di dalam lagunya, tidak ada mengenai ini. Tapi itu bukan big deal lah, toh dengan cerita yang lucu, videoklip ini sangat menarik. Dan meskipun lucunya tak membuatku tertawa lepas, tapi aku nyengir melihat Udin yang kasian itu. ^^


Adegan Udin-Ratna Galih berselang-seling dengan tampilan D'Bagindas yang ngeband dalam sebuah ruangan. Itupun menurutku biasa karena banyak adegan videoklip seperti itu. Namun setelah kulihat lagi sangat menarik ketika Bian (vokalis) membentuk tangannya menyerupai hati (love-love) ketika ia menyanyikan bagian kalimat 'sebenarnya aku ingin mengungkapkan rasa'. Pas banget lah! ❤❤

Meski bagian adegan D'Bagindas biasa, namun tone warna videonya yang bagus (aku nggak tahu apakah tone videonya agak-agak vintage?) plus kadang ada frame yang dipartisi menjadi dua atau tiga, itu membuat videoklip ini oke punya.

Oya, aku mau menunjukkan fotoku dengan Bian.

Mbakku minta foto sama Bian. Aku juga ikutan foto. Nggak lagi-lagi deh foto. Keliatan kucelnya aku. T.T

Judul postingan di blogku kan: Yang Saya Suka dari Suka Sama Kamu.
Nah, trus yang saya nggak suka, ada nggak?
Ada, kenyataan bahwa anggota band D'Bagindas dalam videoklip tak setampan aslinya. Maksudku, lebih ganteng liat langsung ketimbang di videoklipnya, hihihi. ^^

❤❤❤

Surat Suara Voodoo

Sudahkah Anda memilih satu dari dua calon pasangan gubernur-wakil gubernur DKI?
(Aku tanya sama yang punya KTP Jakarta ajah ya...)
Aku sudah dong. *gakditanya*

Dan yeah, sekarang kayaknya pemilu kayaknya nggak ada asas rahasia kan ya... Jadi aku mau cerita, kalau tadi aku nyoblos yang mukanya unyu-unyu. Bahkan aku nyoblosin pakunya persis di pipinya bapaknya... maksudnya di gambar di surat suaranya... aaa semoga menang ya Pak! Siapa coba yang mukanya unyu-unyu?


Setelah pemilihan gubernur putaran pertama nggak ikut nyoblos, yang kedua harus ikut dong. Kemarin nggak nyoblos karena malas keluar. Karena TPS tempatku memilih berbeda dengan tempat tinggalku sekarang. Kecamatannya sebelahan tapi sudah beda kotamadya. Deket sih, tapi namanya males dan nggak tahu juga mau pilih siapa. Ibuku juga waktu itu nggak milih, tambah males, nggak ada temennya. *banyakan alesan*


Yang putaran kedua karena tinggal dua calon kan jadi berasa greget gimana getoohh. So, nyoblos ahhh... dan ibuku ternyata juga mau nyoblos. Jadi lebih semangat pergi ke TPSnya. Heleh... Dianter Mbak Lis ke TPS rumahku yang dulu. Laluuu kasih surat suara ke bagian pendaftaran. Duduk bentar. Dipanggil. Mana manggilnya pake 'ibuk' lagi! Sembunyi di kotak pencoblosan. Pilih satu. Masukin ke kotak suara. Nyelup kelingking, kelingking kaki nggak tau boleh apa enggak. Sudah!

Menurutku sih dipanggilnya terlalu lama. Di kotak pencoblosan nggak ada orang tapi nggak dipanggil-panggil. Rupanya mbak-mbak bagian pendaftaran kayak ribet gitu kerjanya, karena dia harus meng-cross check ulang siapa-siapa yang datang. Dan kayak dia mencatat macam-macam. Sendiri pula dia... kasian...



Trus maksudnya judule opoh Un? Nah, aku cuma berkhayal aja. Andai tuh surat kertas tuh macam boneka voodoo yang bisa memantrai orang, kasian kali tuh para calon gubernur-wakil gubernur. Dicoblos lehernya, ujug-ujug lehernya sakit. Dicoblos jidatnya, jidatnya langsung berdarah. Kan aku coblos pipinya ya, aaa kalo beneran, pipi dia bakal sakit dong dan memerah! Heleh!


Aku penasaran euy siapa yang menang. Pengen cepat-cepat tahu yang menang, cepet dong penghitungan surat suaranya! Prediksiku sih itu bakal menang. Itu tuh siapa pula... Ah, siapa pun yang menang harus bisa bikin Jakarta makin keren deh!

Menurutmu siapa yang menang?

❤❤❤

Jeprat Jeprut: Casas-Museu da Taipa

Nggak jauh dari Venetian, kasino terkenal di Macau, berdiri lima rumah yang hampir identik bergaya kolonial Portugis. Ada museumnya di sana. Setelah, aku main kasino (ngok!), aku berjalan kaki ke sana. Sekitar dua kilo kali.


Ada penunjuk Ticket Booth di sana, dan mengarah ke sebuah kios kecil. Kiosnya jualan minuman ama cemilan. Eh, orangnya ditanya mau beli tiket malah kayak nggak paham gitu. Tanya orang yang lain, bilangnya beli tiket di situ... tapi kok yang jual begitu. Rrr... jadi nggak jadi beli tiket deh. Dan juga agak mbingungi, di antara lima rumah, hanya dua yang buka. Satunya semacam kantornya gitu, dan satu lagi ada pameran.

Eh barusan aku buka situsnya ada museum yang berisi display tentang Macau jaman Portugis dulu. Hmmm... kok nggak liat ya... Kenapa gak sebelum ke sana ya buka webnya, hihihi...


Terletak di Avenida da Praia, Taipa-Houses yang semuanya berwarna hijau ini dulunya villa orang Portugis yang menghadap ke laut. Tapi karena ada pembukaan daratan (reklamasi), jadi sekarang hanya menghadap danau kecil gitu... Bisa lihat gedung Venetian juga dari kejauhan.


Tempat ini juga kayaknya sering buat foto-foto. Pas aku ke sana pas ada foto pre-wedding. Yang aku suka lagi, pas ke sana kembangnya pada mekar. Bagus banget... Apalagi aku jarang liat kembang yang banyakan gitu di sini, hihi *norak*




Di dekat Taipa-Houses ada taman... ya itu tadi, pas lagi mekar-mekarnya kan... jadi apik pol... Waktu ke bagian tamannya, berasa kayak ada secret garden gitu.





Jadi pengen punya taman bunga di halaman rumah, haha kayak rumahku ada halamannya aja... xD
Yaudah deh, dadah... *edisi bingung nulis apaan*

❤❤❤

Diskriminasi Turis

Beberapa waktu lalu, aku pergi ke Candi Borobudur. Masuk lewat pintu bagian Borobudur International Visitors, beli tiket di sana. Bukan karena aku jujur aku dari Venezuela, toh lagipula aku kan sudah pandai Bahasa Indonesia. #ngok Melainkan karena menemani mengikuti teman-teman camp dari Jepang.


Pasti sudah pada tahu dong ya, kalau kebanyakan tiket masuk di objek wisata massal di Indonesia dibedakan antara tiket masuk turis luar negeri dan turis domestik. Bahkan ding ya, di objek wisata special interest yang nggak massal pun juga dibedain. Tapi kalau contoh yang kedua, biasanya turis bulenya diboongin. Bukan tiket resmi. Nah, balik lagi ke Borobudur.

Di Borobudur, tiket masuk untuk orang lokal Indonesia dikenakan sebesar 30.000 rupiah. Sedangkan para international visitors sebesar 20USD atau pas aku ke sana kemarin, itu equal to 188.000 rupiah. Wow, enam kali lipat dari tiket lokal kan ya... Dan aku wonder bagaimana dengan WNI yang bule, atau WNI bertampang Indo banget atau orang melayu Malaysia/Brunei atau orang Indonesia yang berlogat Melayu, dikenakan tarif yang mana tuh ya...


Kalau yang terjadi begitu itu, masing-masing orang bisa dikenakan harga yang berbeda dibedakan dari domestik atau tidak, maka situasi itu ada diskriminasi harga. Nahhh, namanya diskriminasi harga itu ada tiga jenis:

1. Diskriminasi harga derajat pertama (first degree price discrimination) terjadi ketika... contoh, aku jualan gado-gado nih. Tapi aku mengenakan harga gado-gado yang kujual ke Aji harganya 20.000, aku jual ke Mbak Ririe harganya 100.000, aku jual ke Mbak Alaika 89.000. Jadi aku membedakan harga per tiap konsumen.

2. Diskriminasi harga derajat kedua (second degree price discrimination) terjadi ketika... contoh, aku jualan iPhone nih. Kalau you beli ke aku satu biji, aku kasih you harga tujuh juta. Tapi kalau you beli selusin, aku kasih you harga satu iPhone cukup satu juta saja. Hahaha, andai ada yang jual kayak begini... Maap ya contohnya nggak masuk akal, dosenku di kelas juga kadang kasih contoh yang nggak masuk akal sih.

3. Diskriminasi harga derajat ketiga (third degree price discrimination) terjadi ketika... si penjual nggak lagi membedakan harga tiap konsumen tapi per kelompok konsumen. Misalnya aja tiket Kidzania, anak kecil bayar 110.000, untuk lansia gratisss...


Yang terjadi di Borobudur itu diskriminasi harga derajat ketiga. Tapi kenapa sih, mesthi dibedain kayak gitu... Kok kayak jahat gitu sih ya... Aku juga nggak tahu tuh kenapa, hahaha. Tapi sih ya, kayaknya karena pemerintah dan pengelola kompleks objek wisata itu sadar kalau Indonesia itu negara berkembang, dan bukan negara kaya, jadi ya untuk orang lokal mesthi dikasih harga murah. Selain itu kalau murah kan lebih memotivasi orang Indonesia buat masuk dan sinau di objek wisata itu. Bener nggak sih? Hihihi...

Hmmm... lagi-lagi tapi sih ya, mau dikata tiket lokal masuk Borobudur jauh lebih murah dari tiket turis internasionalnya, kok menurutku masih mahal ya??? Hahaha... Keinget masuk museum cuma dua ribu perak juga udah bisa masuk. Kayak kemarin aku ke Ratu Boko tiketnya 25.000, aku agak kaget ampe nawar ke satpamnya, nggak boleh ditawar huks huks... mahal... hihihi!

Kalau 30.000 aja masih dirasa mahal gimana ya kalau pengelola kompleks itu menyamakan tiket turis lokal sama internasional ya? Dan... aku penasaran aja, apa ada objek wisata di negara maju yang mendiskriminasi harga antara turis lokal dan turis internasional?


❤❤❤

Toko Buku dan Jokowi

Aku mau cerita tentang kemarin (14/09) ajah...

Usai dari kampus, si Aji, teman sekelasku, rencananya mau menraktirku. Dia abis ulang tahun yang ke-27. Tapi kayak bingung sendiri gitu mau nraktir apaan. Mau makan pizza katanya nggak seru kalau makan pizza nggak di rumah, tapi kubilang aku mau ke rumahnya, kaga dibolehin. Mau makan burger, tapi kayak nggak oke. Akhirnya diputuskan makan sushi.

Ekok ya, nggak ada tempat duduk yang di dalam. Aku yang ogah duduk di luar, sumuuuuk, bilang 'nggak mauuu' deh ke mas sushi-nya. Hihihi, I could be so manja lah... Akhirnya nggak jadi ditraktir sushi.

Ujung-ujungnya malah ke Gramedia. Ceritanya si Aji mau cari buku untuk bahan esainya tentang lingkungan hidup. Pas di Gramedia keingetan ada seorang blogger, Mbak Nur Shine Fikri, yang menulis sebuah buku dan memasukkan namaku dalam kata pengantarnya. Cari ah...

Setelah mumet liatin judul-judul buku komputer, akhirnya ketemu, woo hoo!



Maap ya Gram, aku buka plastik bukunya cuma buat moto dalemnya, hahaha...

Ndilalahnya pas ke sana ada launching buku Jokowi, Spirit Bantaran Kali Anyar. Katanya sih si Jokowi mau datang. Kepingin sih... etapi kok ya mulainya baru jam 14.30, padahal pas kami liat bannernya baru jam 12.30. Hmmm... Dan kayaknya, si Aji mana mau diajakin nonton begituan.

Kami muter-muter toko buku, aku beli buku Jiwo J#ncuk-nya Sujiwo Tejo, lalu ditraktir Aji makan crepes. Dan tahu nggak sih, crepes yang kita pesen plus minumnya samaan dong... fufufu, kita emang sehati... Nggak tahunya, nggak kerasa udah jam 14.00. Aji kutanya mau nggak liat launching buku Jokowi, eee dia mau, asik asik!


Berharap dapat snek, ternyata kaga dapet. Isi buku tamu, duduk deh. Dan di sana sudah dipenuhi manusia berbaju kotak-kotak euy. Becanda-becanda sama Aji. Foto-foto nggak jelas. SMS-an sama Aji. Iya, SMS-an... padahal di sebelah persis orangnya.

"Una, do you know what heaven is? Heaven is earth with you," begitu pesan teks dari Aji.

Aku yang Bahasa Inggris pas-pasan, kaga ngarti maksud persis kalimatnya. Kata si Aji itu gombalan, maksudnya 'Lo tau gak surga itu apa? Surga itu di dunia bersama elo.'

Oh gitu... Dia langsung ngelanjutin, "Aaah gak asik lo Na." Si Aji kasian amat ya nggombalnya ke aku, kali dia nggak ada objek buat kasih gombalan, hahaha!

Acaranya ngaret, lebih dari jam tiga baru mulai. Acaranya berupa ngobrol-ngobrol sama tim penulis bukunya, Domu Ambarita, dkk. Ia menjelaskan bahwa awalnya proyek buku ini harus jadi dalam 10 hari. Tapi agak molor jadinya.


Si penulis bercerita banyak. Misalnya situasi yang fenomenal ketika Jokowi mengambil gajinya tidak untuk dirinya sendiri melainkan disumbangkan. Katanya sih gajinya 30 juta perbulan. Beliau sering membagi-bagikan beras tiga kiloan kepada orang yang tidak mampu. Dan itu bukan pencitraan karena sudah ia lakukan sejak lama, bukannya satu dua bulan menjelang pemilihan walikota yang kedua kalinya (waktu itu).

Juga bercerita lagi ketika Jokowi bekerja di perusahaan pamannya. Sekitar tahun 1988. Ia melihat banyak pegawai yang malas-malasan. Ia gemes akan kayak gituan. Yang ia lakukan bukan menegurnya langsung, melainkan mengajak pegawai-pegawai itu makan siang yang enak. Kala itu ia membayar dengan uang sendiri yang kala itu mencapai 200ribu rupiah (kata si penulisnya). Para pegawai itu kemudian sadar dan bekerja dengan lebih baik.

Kalau eike yang jadi pegawainya sih, males-malesan terus aja biar diajak makan enak mulu, hahaha!

Mbak mbak pemain biola...
Mas Ade Rizal Avianto, yang juga tim penulis, yang kesehariannya ialah wartawan Tribun Jogja yang bertugas di Solo bercerita bahwa balaikota di sana sangat terbuka. Tak memandang bagaimana orang yang datang berpakaian bagus atau lusuh, semua bisa masuk. Ia pernah dimintai tolong menulis surat tulis tangan permohonan seorang warga untuk supaya dapat membayar sekolah anaknya.

Si Aji yang dulu pernah tinggal di Solo pun bercerita kalau ia pernah muterin mobilnya di dalam balaikota. Trus maksudnya apaan, Ji? "Ya maksud gue... balaikotanya tu terbuka gitu. Buat muterin mobil aja boleh. Kaga pake ditanya-tanya lagi..." Oh...

I hateeeee... kameraku baterainya habis dan terpaksa pakai hape yang lemotsss pas ngejepret ibunya gak madep ke kameraaa ngookk
Sayang seribu sayang, Jokowi yang rencananya akan hadir mendadak nggak bisa datang, fufufu... yang datang hanya ibunya Jokowi. Ia bercerita kalau dulunya Jokowi pernah main apaan gitu, ampe ngebakar alisnya. Ia ditanya doa rahasia apa yang dilantunkannya untuk mendoakan anaknya, katanya kaga ada... paling plus shalat tahajud tiap malam saja.

Dan rupanya ibu Jokowi ini orangnya selowww... ada yang nanya, seandainya Jokowi kaga kepilih jadi gubernur DKI piye... katanya, "ya nggak apa-apa, ya pulang saja ke kampung halaman." Ada yang nanya juga, bagaimana saat dia dibilang beragama kristen oleh seseorang... jawabnya, "nggak apa-apa, saya biasa saja." Cool lah ibunya, selowww...

Sayang seribu sayang juga, baik aku maupun Aji nggak ada yang berhasil ngedapetin hadiah goodie bag-nya, wkwkwk... Aku penasaran sih sama bukunya... tapi ntaran aja dah, kali di Perpustakaan Daerah ntar ada bukunya, hihihi *gakmodal*

Teman gue paling anti-mainstream. Dia doang kayaknya yang minta poto ama Mbak Lisa, ketika yang lain pengen poto ama ibuknya Jokowi.
Sinting.
Ke Gramed terlamaku, dari jam 12 siang, sampai di sana jam enam sore. Yaudah dehhh balik... naik busway ternyata buswaynya kacau, nggak berhenti di halte dekat Gramed... penuh pulak, baru ampe rumah jam tujuh malam. Langsung tek sekkk tidooorrr...

❤❤❤

Nama Jepangku

Masih cerita tentang camp kemarin nih. Sewaktu di camp, ada kesepakatan yang mana para volunteer Jepang akan memberikan nama untuk partisipan Indonesia, dan juga sebaliknya. Tentu saja, nama yang diberikan ya nama-nama khas negara masing-masing. Karena kemarin itu pertama kalinya aku ikut begituan, ya aku agak 'WOW' gitu... bakal dapat nama euy dari partisipan Jepang!

Para partisipan Jepang rupanya sudah menyiapkan nama untuk kami ketika agenda Cultural Night. Sedangkan partisipan Indonesia, beluman siap nama untuk mereka. Hihihi... Indonesia banget ya? Tapi memang di kesepakatan sebelumnya tidak ada perjanjian tukeran namanya pas cultural night sih... *membela diri*


Waktu kami selesai tampil di cultural night, si Hana, pendamping para partisipan Jepang bilang, "we already have names for you..." Mereka sudah siap beberapa kertas untuk beberapa nama. Setiap kertas ada tulisan kanjinya dan hiragananya. Karena nggak ada latinnya, mereka menjelaskan cara bacanya dan artinya.


❤ Matsu si campleader mendapat nama 'Akio' yang artinya orang yang aktif.
❤ Fera si nggapleki camper mendapat nama 'Sachie' artinya happy gitu... soalnya Mbak Fera kan hobi mringis senyum...
❤ Ifan si campleader mendapat nama 'Manabu' yang artinya 'belajar' karena Ifan ini kepingin jadi guru.
❤ Vivi mendapat nama 'Emi', aku lupa artinya apaan.
❤ Aku mendapat nama 'Satoko' 聡子, artinya anak perempuan yang pintar. Hahaha... aku cuma bisa mengamini, mengingat aku kan orangnya rada-rada hmm... apa ya...


Selanjutnya kami pun memberi nama Indonesia kepada mereka. Kami baru membuat nama ya saat itu juga, hihihi! Kami tak menyiapkan nama di kertas khusus melainkan hanya ditulis di kertas buram yang besarrr...

❤ Hana, mendapat nama Melati. Karena... mbuh ya. Seingatku karena arti lain namanya (arti nama Hana) itu 'bunga' jadi dikasih nama 'Melati'.
❤ Taka-san, si guru biologi mendapat nama 'Karno'. Artinya nggak tahu. Tapi beliau diberi nama itu karena mengingatkan pada Soekarno, nggak tau deh, hahaha...
❤ Chabo mendapat nama 'Kabul' yang maksudnya supaya keinginannya come true...
❤ Ryo dapet nama 'Bagus' karena... ya... karena ganteng! Hahaha!
❤ Tomo diberi nama 'Indah' karena cantik orangnya... hobi senyum lagi... ditanya "kok senyum mulu?" Dia bahkan jawabnya, "Hobby." Wow!
❤ Rumi dikasih nama 'Arum' sebenarnya karena mirip-mirip kata namanya. Artinya 'wangiiii...'


Seru ternyata tukeran nama gitu.
Ada yang punya nama lain atau alias?
Aku juga punya yang lain lagi... nama lainku 'Cantik', hahaha jadi boleh lah panggil aku itu.
Etapi sih ya... biasanya yang menyatakan kalimat sebelum ini kayak aku gitu tadi, suka bicara kebalikan fakta, wkwkwk!

❤❤❤

Nyevel Bareng Baha dan Roe

Janjiannya abis maghrib di 7-Eleven tak jauh dari rumahku. Pulang dari kampus jam lima kurang, leyeh-leyeh dulu lah ya. Lumayan 1,5 jam-an, main komputer. Lebih santai lagi aku, mengingat kebiasaan ngaretnya orang Indonesia. Ah paling, 'abis maghrib' tuh deket-deket isya.

Nggak tahunya aku salah! Duh, underestimate aku. Ternyata si Baha dah sampai 7-Eleven jam 17.30. Ini aslinya janjiannya ba'da maghrib waktu mana sih? Cepat-cepat deh aku matikan komputer dan bergegas ke 7-Eleven. Dasar aku emang halus hatinya, enggak tega mbiarin si Baha sendirian di sana nunggu abis maghrib. Ngok...


Aku melihat Baha duduk di pinggir Sevel. Tak susah mengenal mukanya. Foto dia di hapeku aja wis tak pelototin dua jam. Karena pun sudah beberapa kali dengar suaranya, jadi nggak asing-asing banget sih. Orangnya kurus dan tingginya gak jauh dari aku, muahahaha.

Kami mengobrol, oh tentu saja dengan menyebut beberapa nama blogger. Maksudnya, ngomongin orang... Dan ia pun memberi suatu pesan rahasia kepadaku. Katanya, jangan bilang Bang Roe kalau ia dekat dengan xxx. Kami juga musti menunggu Roe, blogger asal Ambon yang tinggal di Jakarta. Sebelumnya aku tak kenal Roe, namun semalamnya aku sudah buka blognya dan rasanya pun aku sudah pernah mampir, tapi nggak tahu kapan.

Setengah tujuh pas ia pun muncul. Baha dan Roe sama-sama bukan tipe ngaret ternyata. Roe tepat waktu dan Baha malah kerajinan. Hahaha... Dan yeah dua-duanya merokok. Nyampe aku mbatin, wah mulih-mulih kudu mandi ki. Bau rokok. Padahal kan ya, aku kan malesan mandi.


Si Bang Roe ini orangnya peramah. Dan rasa-rasanya aku nggak kenal orang ambon sebelumnya, jadi ya senang aja dengar logatnya. Roe sekarang tidak aktif ngeblog, update terakhirnya pas November 2011. Tapi tahun 2007-08 dia aktif. Blogger senior deh.

Kalau Baha itu blogger asal Cilacap yang tinggal di Malaysia. Kemarin ia sedang berada di Jakarta. Mas Baha juga logatnya lucu. Og ngapake kaga keluar tapi. Ngomong bus aja bas. Aku nanya dia mau minum apa dia jawab 'yang tin aja'. Tin apa coba, ternyata kaleng. Ngomong kek fanta kaleng, atau coca-cola kaleng gitu, hahaha.

Cerita-cerita gitu lah ya. Banyak deh. Dari ngomongin asal, berat badan (and you know aku sama Roe beratan aku dong!!!), ngomongin blogger, ngomongin pacaran ama blogger (Bang Roe nih dulu wkwkwk), program hibah buku, umur... Ternyata umur aku dan mereka jaraknya jauh bener, lebih dari satu dekade, hahaha!

Oiya teori Bang Roe. Hampir semua blogger cewek tuh nggak modis. Gue yang cuma nggak modis pas ketemu kemarin ya tersinggung dong!! Gak tau aja kalo aku sehari-harinya bajunya harajuku style. Hahaha, berkhayal eike. Btw, bener nggak tuh teori?


Di sela-sela pembicaraan pun, mereka bilang ke gue yang perempuan supaya gak usah pacaran lama-lama, langsung nikah aja. Karena kalo udah tua, cewe tuh lebi milih-milih. Lah, pacar aja gak punya... Mas Baha dan Bang Roe sendiri, kapan nikah? Hahaha!

Pembicaraan pun berakhir jam 9-an. Narsis2 dulu tuh yaaa! Roe balik ke kosnya, Baha ke Pondok Bambu, aku pun ke rumah. XD Semogaaa bisa bertemu lagi yaaa... Doh maap kalimat postinganku  kali ini acakadut, wkwkwk!

❤❤❤

Message buat Bang Roe: Penasaran kan si Baha lagi dekat sama siapa? Aku tahuuuu... japri aja deh ya, hahaha! :P

*Nyevel = nge-Seven Eleven

Plushstories: Angry Sheep

Plushstories lagi ah... wis suwi nggak bikin ginian.
Padahal sih aslinya males nulis...

❤❤❤


The Shirleys bisik-bisik. Siapa sih itu, hewan ungu itu, tanya mereka. Jutek amat tampangnya, marah kali ya, pikir mereka.


Si hewan ungu itu pun bertanya dalam hati, siapa sih kambing tiga di belakang sana. Kayak ngomongin aku gitu...
Sementara itu, The Shirleys berencana untuk menyerang si hewan ungu.


"Itu ngapain sih tiga hewan bertumpuk kayak gitu," tanya hewan ungu dalam hati.


"Ayo Shirley, kamu dulu, kamu kan paling kecil," suruh Shirley dan Big Shirley.
"Oke oke, me he he he... nguing nguinggggg..." jawab Shirley.


"Bruk!"
"Wooo payah kamu Shirley, masa' gak kena si hewan ungu itu," protes dua domba lainnya.
"Hahahaha, payah banget dombanya, nggak bisa kena aku," kata si hewan ungu.


"Sekarang giliranku," kata Big Shirley.
"Nguing nguing..."
"Me he he he..."



"Bruk!"
"Nggak kena jugaaaa, aaaahh..." sesal Big Shirley.



"Giliranku," kata Shirloy, "me he he he..."


"Nguing nguingggg.."
"Bruk!"
"Ahhhh sedikit lagi!!!" kata Shirloy.
"Gimana sih kamu badan gede juga," kata Shirley.
"Hahahaha, domba domba itu tak mampu merubuhkanku," batin si hewan ungu.


"YIPPIIIIIII!!!" teriak si hewan ungu sambil melompat-lompat.

Sikil sopo ituh bro, item bener...

❤❤❤


Boneka Angry Birds di atas dapat dibeli ke Ifan Rikhza, lokasi Semarang.
Ada juga boneka Patrick dan Shaun the Sheep.
Penjualan akan digunakan untuk mendukung Ifan sebagai delegasi untuk mengikuti konferensi temu ilmiah di London.
Ifan bisa dihubungi melalui Facebook-nya: https://www.facebook.com/ifanauladi

❤❤❤

Wiw, aku cuma bisa berdoa dan berharap semoga Mas Ifan sukses selalu. Oleh-oleh yeee kalau sudah sampai London. :)